Anda di halaman 1dari 12

BAB II

ENDAPAN VULKANIKLASTIK
II.1. Definisi dan Klasifikasi
Menurut Lajoie dalam Walker (1984) endapan vulkaniklastik adalah seluruh
partikel batuan vulkanik fragmental yang dihasilkan oleh mekanisme fragmentasi.
Sedangkan, endapan vulkaniklastik menurut Schmincke (2004) adalah endapan yang
tersusun atas partikel-partikel batuan yang terbentuk dari fragmentasi batuan vulkanik
dimana proses fragmentasinya berlangsung secara tidak berurutan. Sedangkan menurut
Fisher (1984) endapan vulkaniklastik merupakan endapan klastika dari material
vulkanik secara keseluruhan yang terbentuk dari proses fragmentasi dan disebarkan oleh
agen transportasi yang diendapkan pada lingkungan yang berbeda sehingga
kemungkinan besar endapannya itu bercampur dengan material non-vulkanik.
Klasifikasi endapan vulkaniklastik berdasarkan pembentukan klastikanya dan
proses pengendapannya dapat dibagi menjadi 4, yaitu :

Autoklastik

Piroklastik

Vulkaniklastik resedimented syn-eruptive

Volkanogenik

Gambar 2.1. : Klasifikasi Genetik Endapan Vulkanik (McPhie, et al., 1993)

2.1.1. Autoklastik

Autoklastik itu sendiri menurut Mc Phie, et al., (1993) adalah endapan


vulkaniklastik yang bersifat primer yang terbentuk dari partikel-pertikel yang
dihasilkan oleh lava yang memiliki sifat fragmentasi yang non-eksplosif dan
sifatnya in situ yaitu tidak mengalami perubahan lokasi dimana ia terlitifikasi.
Faktor yang menyebabkan adalah ledakan gas selama pergerakan lava atau biasa
dikenal dalam istilah geologi adalah friksi mekanik, dan selain itu yang
mempengaruhi adalah penurunan gravitasi pada kubahnya.
Contoh dari produk autoklastik ini adalah Breksi aliran yang terbentuk
karena adanya pendinginan yang sangat cepat ketika mengalir dalam air, selain
itu fragmentasi magma yang disuntikkan ke dalam sedimen sedimen
vulkaniklastik yang telah jenuh dari air adalah factor lain pembentukan breksi
aliran ini. Produk dari autoklastik ini jarang dijumpai pada sekuen batuan asam
dan lebih sering dijumpai pada sekuan batuan basaltik karena magma yang
bersifat basa lebih mudah mengalir daripada magma yang bersifat asam karena
kekentalan magma yang bersifat basa itu lebih rendah.

2.1.2. Piroklastik

Batuan Piroklastik adalah batuan vulkanik klastik yang dihasilkan oleh


serangkaian proses yang berkaitan dengan letusan gunungapi. Material penyusun
tersebut terendapkan dan terbatukan/terkonsolidasikan sebelum mengalami
transportasi (reworked) oleh air atau es (William, 1982). Pada kegiatannya
batuan hasil kegiatan gunungapi dapat berupa aliran lava sebagaimana
diklasifikasikan dalam batuan beku atau berupa produk ledakan/eksplosif dari
material yang bersifat padat, cair ataupun gas yang terdapat dalam perut gunung.
Sedangkan, menurut Mc Phie, et al., (1993) Piroklastik sendiri merupakan
endapan vulkaniklastik primer yang tersusun atas partikel pertikel yang
dihasikan dari erupsi yang bersifat eksplosif dan terendapkan oleh proses
vulkanik primer. Yang mempengaruhi terbentuknya piroklastik sendiri adalah

gaya berat serta kecepatan pengendapan yang didalamnya termasuk ukuran,


bentuk, dan densitas fragmen pada batuan.

Tipe Endapan Piroklastik


Endapan Piroklastik Tak Terkonsolidasi (Unconsolidated)
1. Bom Gunung Api
Bom adalah gumpalan-gumpalan lava yang mempunyai ukuran lebih
besar dari 64mm. Daerah ini sebagian atau semuanya berujud plastic pada waktu
tererupsi. Beberapa bomb mempunyai ukuran yang sangat besar.
2. Block Gunung Api
Block Gunung Api merupakan batuan piroklastik yang dihasilkan oleh
erupsi eksplosive dari fragmen batuan yang sudah memadat lebih dulu dengan
ukuran lebih besar dari 64 mm. Block-block ini selalu menyudut bentuknya atau
equidimensional.
3. Lapili
Lapili berasal bahasa latin lapillus, yaitu nama untuk hasil erupsi
eksplosif gunung api yang berukuruan 2mm 64mm. Selain dari fragmen
batuan , kadang-kadang terdiri dari mineral mineral augti, olivine, plagioklas.
4. Debu Gunung Api
Debu gunung api adalah batuan piroklastik yang berukuran 2mm1/256mm yang dihasilkan oleh pelemparan dari magma akibat erupsi eksplosif.
Namun ada juga debu gunung berapi yang terjadi karena proses penggesekan
pada waktu erupsi gunung api. Debu gunung api masih dalam keadaan belum
terkonsolidasi,
Endapan Piroklastik yang Terkonsolidasi (consolidated)
1. Breksi piroklastik
Breksi piroklastik adalah batuan yang disusun oleh block block gunung
api yang telah mengalami konsolidasi dalam jumlah lebih 50 % serta
mengandung lebih kurang 25 % lapili dan abu.

2. Aglomerat
Aglomerat adalah batuan yang dibentuk oleh konsolidasi material
material dengan kandungan yang didominasi oleh bomb gunung api dimana
kandungan lapili dan abu kurang dari 25 %
3. Batu lapili
Batu lapili adalah batuan yang dominant terdiri dari fragmen lapili
dengan ukuran 2 64 mm
4. Tuff
Tuff adalah endapan dari gunung api yang telah mengalami konsolidasi,
dengan kandungan abu mencapai 75 %.
Macamnya : tuff lapili, tuff aglomerat, tuff breksi piroklastik.

Bicara tentang piroklastik, berarti kita juga bicara tentang ukuran butir
penyusun batuan piroklastik tersebut. Terdapat 4 jenis ukuran butir pada batuan
piroklastik yang berada pada table di bawah ini.

Gambar 2.2. : Pembagian jenis batuan piroklastik menurut ukuran butir peyusunnya.

Piroklastik ini sendiri dikelompokkan menjadi 3 tipe genetic berdasarkan


model transportasi dan juga pengendapannya, yaitu :

Endapan piroklastik jatuhan

Endapan piroklastik aliran

Endapan piroklastik surge

A. Piroklastik Jatuhan

Endapan jatuhan piroklastik terjadi akibat letusan gunungapi yang


eksplosif. Pada erupsi preatik, abu gunungapi tidak sebanyak pada erupsi
magmatis. Ketebalan endapan piroklastik jatuhan relatif seragam dengan
pemilahan yang baik, akibat proses fraksinasi oleh angin saat pengendapannya.
Menurut Cas and Wright (1987), endapan piroklastik akan memperlihatkan
struktur mantle bedding, yang akan mempertahankan ketebalan secara seragam.
Endapan piroklastik jatuhan memiliki sortasi yang secara umum baik. Terkadang
produk piroklastik jatuhan ini memperlihatkan laminasi sejajartergantung pada
sifat kolom stratigrafinya, dan tidak mungkin memperlihatkan stratigrafi
menyilang ataupun erosional. Piroklastik jatuhan ini menandakan bahwa sumber
dari letusan gunung api yang menghasikan endapan ini sangat jauh karena
partikel piroklastik jatuhan yang sangat kecil yang menandakan bahwa partikel
ini tertransportasi sangat jauh dari sumbernya. Makin halus butirannya, makin
jauh juga sumber erupsinya.

Gambar 2.3. : kenampakan Mantle Bedding yang tersortasi baik pada endapan
piroklastik jatuhan (Wright, Smith dan Self, 1980).

2. Endapan Piroklastik Aliran

Menurut Wright and Walker (1981) piroklastik aliran adalah aliran panas
yang berkonsentrasi tinggi yang mudah bergerak dan berada dekat dengan
permukaan. Endapan piroklastik ini terjadi ketika abu panas, fragmen batuan dan
gas yang bergerak ke bawah dari pusat erupsi eksplosif sebagai longsoran
berkecepatan tinggi ketika ada bagian kubah lereng gunungapi yang roboh,
sehingga menghasilkan suatu aliran piroklastik dengan suhu tinggi (sekitar
8000) dan kecepatan 65-100 km/jam. Aliran piroklastik umumnya terdiri dari 3
jenis utama, yaitu: endapan aliran bongkah dan abu, endapan aliran scoria dan
endapan aliran batuapung atau ignimbrite (welded tuff).

Gambar 2.4. : Kenampakan Piroklastik aliran (Wright, Smith dan Self, 1980).

Mekanisme Piroklastik Aliran


Mekanisme yang menghasilkan piroklastik aliran menurut Cas and
Wright (1987) dapat dihasilkan oleh beberapa mekanisme yang berbeda dan
membagi menjadi dua kelompok yang dapat dilihat pada Gambar 2.4.

Yang pertama adalah mekanisme akibat runtuhnya kubah lava atau aliran
lava yang dapat dilihat pada gambar 2.5. a, b, dan c dimana gambar a
merupakan gugurnya kubah lava akibat gaya gravitasi, gambar b

menunjukan gugurnya kubah lava akibat adanya letusan, dan gambar c


menunjukan gugurnya cryptodome akibat adanya longsoran

Yang kedua adalah mekanisme akibat runtuhnya kolom erupsi yang


ditunjukkan oleh gambar 2.5. d, e, dan f. Gambar d menunjukkan
keruntuhaan secara instan yang menyebabkan upwelling di lubang
reruntuhan. Gambar e menunjukkan ciri ciri eklsposi yang diakibatkan
runtuhnya kolom erupsi. Dan gambar f menunjukkan lanjutan erupsi dari
runtuhnya kolom erupsi.

Gambar 2.5. : Mekanisme terjadinya aliran piroklastik (modifikasi dari Cas dan Wright,
1988)

Memahami

mekanisme

pengendapan

sangatlah

penting

untuk

membedakan proses aliran dan endapan yang dihasilkan. Endapan yang


dihasilkan kemungkinan dapat membentuk tekstur dan struktur yang dapat
digunakan untuk menginterpretasikan karakteristik aliran, seperti densitas aliran,
rheology, konsentrasi partikel, dan mekanisme pendukung.

Terdapat 2 proses yang paling penting pada piroklastik aliran yang


terjadi pada saat proses transportasi, yaitu :
1. Agradasi. Pada kasus ini, endapan hamper sama dengan kasus endapan
turbit dengan densitas tinggi yang merupakan bagian parsial dari induk
aliran dan prinsip proses perekaman terjadi pada regime pengendapan
pada dasar aliran.
2. Pendinginan dari sebagian besar aliran secara bersamaan dianggap
sebanding dengan aliran debris yang bersifat kohesif (Wright and
Walker, 1981)

Gambar 2.7. : Kenampakan agradasi progresif dari pengendapan piroklastik aliran (Mc
Phie, et al., 1993)

Tipe Endapan Piroklastik Aliran


Tipe endapan piroklastik aliran menurut Mc Phie (1993) dibagi menjadi
3 bagian berdasarkan endapan vulkaniknya yang berumur kuarter, yaitu :
1. Endapan Aliran Blok dan Ash
Endapan ini menunjukkan sortasi yang buruk sedang. Abu piroklastik
terususun oleh gelas yang mempunyai bentuk angular. Endapan ini
sering berasosiasi dengan intrusi andesit dan dasit ataupun kubah lava
riolotik dalam suatu lingkungan kaldera. Juvenil pada umunya berbentuk
blok dan menyudut. Contoh endapan dapat dilihat pada gambar 2.8 A.
2. Endapan Aliran Skoria dan Ash
Endapan ini didominasi oleh abu dan lapilli skoriaan dengan komposisi
andesit-basaltik. Endapan ini memiliki sortasi yang burukdan bergradasi
terbalik pada umumnya. Struktur welding juga dijumpai di endapan ini.
(Mc Phie, et al., 1993) Contoh endapan dapat dilihat pada gambar 2.8 B.
3. Endapan Ignimbrite
Sebagian besar endapan ini tersusun atas mineral aksesori seperti litik
piroklas dan lain-lain. Endapan ini terdiri atas lapilli pumisan, blok-blok,
dan juga gelas. Endapan ini memiliki sortasi yang buruk dan lapilli serta
blok pumisnya memilki bentuk yang relative membulat. Dapa dijumpai
dengan gradasi terbalik pada saat suatu unit aliran pumisnya relative
besar, sedangkan klastika fragmen memiliki gradasi normal. Contoh
endapan dapat dilihat pada gambar 2.8 C.

Gambar 2.8. : Tiga tipe endapan piroklastik aliran (Mc Phie, et al., 1993)

C. Endapan Piroklastik Surge


Endapan piroklastik surge umumnya terjadi akibat dari suatu letusan
gunungapi, yang temudian teralirkan (mekanisme gabungan antara jatuhan
piroklastik dan aliran piroklastik). Endapan ini berasosiasi dengan erupsi
preatomagmatik dan preatik, aliran piroklastik dan jatuhan piroklastik. Endapan
ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu base surge, graund surge dan ash clound surge.
Dalam Mc Phie (1993), base surge terdapat pada lubang kepundan yang
tergenangi dan yang telat jenuh oleh air bawah permukaan yang biasanya
berasosiasi dengan pusat gunung api kecil yang bersifat basaltic namun untuk
menghasilkan base surge diperlukan lebih banyak magma asam.

Karakteristik Endapan Piroklastik Surge


Endapan piroklastik surge pada umumnya akan mengisi topografi yang
lebih tinggi, kemudian menebal pada topografi yang berbentuk cekungan dan
lapisannya tidak memiliki arah tertentu. Sebagian besar produk endapan ini
memiliki sortasi yang lebih baik dari sortasi yang dimiliki oleh piroklastik aliran
dan lebih buruk dari sortasi yang dimiliki oleh piroklastik jatuhan.
Umumnya endapan piroklastik surge mempunyai pemilahan yang baik,
berbutir halus dan berlapis baik. Endapan ini mempunyai struktur pengendapan
primer seperti laminasi dan perlapisan bergelombang hingga planar. Yang paling
khas dari endapan ini adalah mempunyai struktur silang siur, melensa dan
bersudaut kecil . Endapan surge umumnya kaya akan keratan batuan kristal.

Gambar 2.9. : Geometri endapan piroklastik surge (Wright, Smith dan Self, 1980).

Pada gambar 2.9. terlihat jelas bahwa geometri endapan piroklastik surge
menebal dan mengkasar pada topografi yang lebih rendah dan lebih menipis
pada topografi yang lebih tinggi.

2.1.3. Vulkaniklastik resedimented syn-eruptive


Vulkaniklastik resedimented syn-eruptive menurut Mc Phie, et al.,
(1993) adalah endapan vulkaniklastik yang berasal dari re-sedimentasi yang
cepat dimana tidak mengalam perubahan secara tekstural.