Anda di halaman 1dari 13

AR-RAZI

Metafisika, Etika, dan Kenabian


A.

Pendahuluan
Dalam sejarah pemikiran Islam, filsafat digunakan dalam berbagai
kepentingan. Para teolog rasional (mtakallimn) menggunakan filsafat untuk
membela iman khususnya dari para cendekiawan Yahudi dan Kristiani yang saat
itu sudah lebih maju secara intelektual. Sedangkan para filosof mencoba
membuktikan bahwa kesimpulan-kesimpulan filsafat yang diambil dari gagasan
filsafat Yunani tidak bertentangan dengan iman. 1 Para filosof berusaha
memadukan ketegangan antara dasar-dasar keagamaan Islam (Syariah) dengan
filsafat, atau antara akal dengan wahyu.
Sebagaimana tertera pada berbagai literatur bahwa filsafat yang
berkembang dalam dunia Islam merupakan warisan dari filsafat Yunani. Para
filosof Muslim banyak mengambil pemikiran Aristoteles, Plato, maupun Plotinus,
sehingga banyak teori-teori filosof Yunani diambil oleh filosof Muslim.
Pengaruh filsafat Yunani inilah yang menjadi pangkal kontrafersi sekitar
masalah filsafat dalam Islam. Sejauh mana Islam mengizinkan masukan dari luar,
khususnya jika datang dari kalangan yang bukan saja Ahl al-kitab seperti Yahudi
dan Kristen, tetapi juga dari orang-orang Yunani yang pagan atau musyrik
(penyembah bintang). Inilah yang membuat Ibn Taymiyyah dan Jalal al-Din alSuyuthi menunjuk kemusyrikan orang-orang Yahudi sebagai alasan keberatan
mereka kepada filsafat.2
Harus ditegaskan bahwa para filosof Muslim secara umum hidup dalam
suasana dan lingkungan yang berbeda dengan filosof-filosof lain, dengan
demikian pengaruh lingkungan agama terhadap jalan pikiran filosof Muslim

Budhy Munawar-Rachman, Islam Pluralis, Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Cet I,


(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), hlm. 221
2
Nurcholis Madjid, Islam, Doktrin dan Peradaban, Cet I, (Jakarta: Yayasan Wakaf
Paramadina, 1994), hlm. 219

tidak bisa terabaikan, sehingga dunia Islam berhasil membentuk filsafat yang
sesuai dengan prinsip-prinsip agama dan keadaan masyarakat Islam itu sendiri.3
Pada kesempatan kali ini kami akan mencoba menguraikan pemikiran
salah satu tokoh filsafat Muslim terkemuka tentang Metafisika, Etika, dan
Kenabian yaitu Ar-Razi.
B.

Biografi Ar-Razi
Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria Ibn Yahya al-Razi atau akrab disapa
dengan nama Al-Razi, dilahirkan dan di besarkan di daerah Rayy (suatu daerah
dekat Taheran persia) dan sekaligus tempat dimana dia meninggal. Ia di lahirkan
pada tanggal 1 syaban 251 H/865 M, pada zaman kejayaan Abbasiyah dan
meninggal dunia pada tanggal 5 Syaban 313 H/ 7 Oktober 925 M.4
Pendidikan yang diperolehnya dari Hunayn bin Ishaq, mengantarkannya
menjadi manusia produktif. Kepribadian al-Razi dilukiskan sebagai seorang yang
sangat murah hati, dermawan dan ulet. Oleh karena itu dapat dipahami secara
logis apabila, dari dua disiplin utama (kedokteran dan filsafat) yang ditekuninya,
rentang kehidupannya lebih banyak terkonsentrasi pada bidang medis yang
berkaitan langsung dengan jasa pelayanan sosial, daripada bidang filsafat yang
bertumpu pada kepentingan elit-intelektual/ budaya.
Kejeniusan

dan

repuasinya

yang

baik

di

bidang

kedokteran,

menjadikannya diangkat sebagai direktur rumah sakit di Rayy semasa ia


menjelang usia tigapuluh tahun, kemudian di Baghdad. Bahkan dia berprestasi
sebagai dokter Islam yang tidak ada bandingannya. Di sisi lain, dia dijelaskan
oleh beberapa ahli telah pandai memainkan harpa pada masa mudanya dan pernah
menjadi money changer, sebelum beralih ke filsafat dan kedokteran.5
3

A. Musthofa, Filsafat Islam, Untuk Fakultas Tarbiyah, Syariah, Dakwah, Adab, dan
Ushuluddin, Cet, III, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), hlm. 21
4
Sirajuddin Zar, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya (Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2010), hlm. 113.
5
Ismail Asy-Syarafa,. Ensklopedi Filsafat, Cet I (Jakarta: Khalifa, 1991), hlm. 105.

Sedangkan karirnya di bidang intelektual terbukti pada karya tulisnya


yang tidak kurang dari 200 jilid tentang berbagai pengetahuan fisika dan
metafisika (medis, astronomi, kosmologi, kimia, fisika, dan sebagainya, kecuali
matematika, karena beberapa alasan yang tidak diketahui, benar-benar
dihindarinya. Dalam bidang medis, al-Razi menulis buku sebagai karya terbesar
tentang penyakit cacar dan campak, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris,
Latin dan bahasa-bahasa Eropa lainnya. Bukunya al-Hawi yang lebih terkenal
dengan sebutan al-Jami, terdiri atas 20 jilid, membahas berbagai cabang ilmu
kedokteran, sebagai buku pegangan selama lima abad (abad 13-17) di Eropa dan
salah satu dari kesembilan karangan seluruh perpustakaan Fakultas Kedokteran
Paris di tahun 1395 M. Bahkan, al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan
antara penyakit cacar dan measles.6
Pada masa mudanya ia pernah menjadi tukang intan, penukar uang, dan
pemain kecapi. Kemudian, ia menaruh perhatian yang besar terhadap ilmu kimia
dan meninggalkannya setelah matanya terserang penyakit akibat eksperimeneksperimen yang dilakukannya. Setelah itu ia beralih dan mendalami ilmu
kedokteran dan filsafat.7
Ia belajar ilmu kedokteran dan ilmu hikmah pada pada Al-Balkhi. Ar-Razi
juga banyak menimba ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lainnya dari Abu Al-Husen
Ali bin Rin Ath-Thabari. Ia pindah ke Baghdad dan menjabat sebagai ketua rumah
sakit Al-Adhudi.8
Pada umumnya ia terkenal, seperti yang dikatakan sendiri oleh seorang
ahli, sebagai dokter Islam yang tidak ada bandingannya. 9 Philip Hitti adalah
seorang ilmuan yang pernah memberikan komentar kepada al-Razi dalam
History of The Arab; bahwa al-Razi adalah seorang dokter yang paling besar
dan paling orisinal dari seluruh dokter muslim dan juga seorang penulis yang
6

Ibid.,
Ibid., hlm. 114.
8
Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, (Jakarta:Bumi Aksara, 2004), hlm. 106.
9
Sudarsono, Filsafat Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 54.
7

produktif. Selain sebagai ahli dalam ilmu kedokteran Al-Razi memiliki cara
berfikir dan pendapat yang berlainan dengan filusuf-filusuf Islam lainnya, dan
perbedaaan yang paling ekstrim yang dimiliki Al-Razi adalah tidak mengakui
adanya wahyu dan adanya nabi. Dengan tidak mengakui sumber-sumber
pengetahuan lain seperti wahyu dan adanya nabi maka tidak heran kalau karyakaryanya lebih banyak mendapat kecaman dari pada dipelajari oleh filusuf-filusuf
islam yang lain.10
Ar-Razi terkenal di Barat dengan nama Rhezes dari buku-bukunya tentang
ilmu kedoteran. Bukunya yang terkenal adalah tentang cacar dan campak yang
diterjemahkan dalam bebagai bahasa di Eropa dan pada tahun 1866 masih dicetak
untuk yang keempat puluh kalinya. Al-Hawi merupakan ensiklopedia tentang
ilmu kedokteran, tersusun lebih dari 20 jilid dan mengandung ilmu kedokteran
Yunani, Syria, dan Arab.11
Selain ahli dalam ilmu kedokteran, Ar-Razi adalah seorang mufassirin
(ahli tafsir) dan ahli fiqh, seorang teolog Islam dan filosof. Ar-Razi merupakan
filosof Timur yang pertama pada abad ke 6 H. Ia begitu serius menggeluti filsafat,
mempelajari logika, masalah-masalah alam (kosmologi) dan metafisika. Ia
berguru pada Ibnu Sina, dan mengomentari sebagian buku Ibnu Sina. Ar-Razi
berusaha memadukan agama dengan filsafat, dan mencampur filsafat dengan ilmu
kalam (teologi Islam). Dalam al-Mahsal, ia menempuh langkah tertentu dalam
mengklasifikasikan dan mensisitematiskan problematika teologis, yang kemudian
langkah ini diikuti oleh generasi sesudahnya, khususnya al-Iji dalam buku alMuwaqif.12

10

Miska Muhammad Amien, Epistemologi Islam, Pengantar Filsafat pengetahuan Islam,


(Jakarta: UI Press, 1995), Cet ke 5. hlm. 46.
11
Harun Nasution,, Filsafat dan Mistisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang 1999), hlm.
15.
12
Ibrahim Madkour, Op.cit., hlm. 76.

C.

Karya-karya Ar-Razi
Sebagai seorang filosof, Ar-Razi banyak mengarang buku fisika di bidang
ilmu filsafat dan bidang ilmiah. Karya ilmiah dan filsafat ar-Razi tampaknya
sabgat banyak. Ia sendiri mengaku dalam sebuah karya autobiografis bahwa ia
telah menyusun tidak kurang dari 200 karya.13
Ar-Razi banyak menulis kitab yang temanya sangat bervariatif, meliputi
ilmu logika, metafisika, ketuhanan, psikologi, fisika, geografi, optik, kimia,
kedokteran, anatomi, kedokteran mata, geometri, musik, dan politik.
Diantara kitabnya yang membahas tentang kedokteran diantaranya
adalah:14
1. Al-Hawi, kitab ini merupakan karyanya yang paling agung dan penting di
bidang kedokteran.
2. Al-Manshuri, yaitu kitab ringkas yang memuat sepuluh artikel tentang
kedokteran, pembedahan, pengobatan, makanan, minuman, serta pengobatan
luka-luka.
3. Tibb Al-Fuqara,
4. Al-Falij (Lumpuh),
5. Al-Adwiyah (obat-obatan),
6. Kitab tentang mata, hati, jantung, dan persendian.
Selain kitab-kitab kedokteran, Ar-Razi juga memiliki karya-karya
diberbagai bidang, diantaranya:15
1. Sekumpulan risalah logika berkenaan dengan kategori-kategori, demonstrasi,
isagoge dengan logika, seperti yang dinyatakan dalam ungkapan kalam Islam.
2. Sekumpulan risalah tentang metafisika pada umumnya.
3. Materi mutlak dan particular.
4. Plenum dan vacum, ruang dan waktu.
5. Fisika.
13

Sudarsono, Op.cit., hlm. 54.


Ibrahim Madkour, Op.cit., hlm. 107.
15
Sudarsono, Op.cit., hlm. 55
14

6. Bahwa dunia mempunyai pencipta yang bijaksana.


7. Tentang keabadian dan ketidakabadian Tuhan.
8. Sanggahan terhadap Proclus.
9. Opini fisika Plutarch (Placita Philosophorum).
10. Sebuah komentar tentang Timaeus.
11. Sebuah komentar terhadap komentar Plutarch tentang Timeaus.
12. Sebuah risalah yang menunjukan bahwa benda-benda bergerak dengan
sendirinya dan bahwa gerakan itu pada hakikatnya adalah milik mereka.
13. Obat pencahar rohani.
14. Jalan filosofis.
15. Tentang jiwa.
16. Tentang perkataan imam yang tidak bisa salah.
17. Sebuah sanggahan terhadap kaum Mutazilah.
18. Metafisika menurut ajaran Plato.
19. Metafisika menurut ajaran Skrates.
D.

Pemikiran Ar-Razi
Meskipun beberapa pemikiran Ar-Razi bertentangan dangan kepercayaan
umat Islam, pemikirannya telah memberi warna tersendiri dalam filsafat Islam.
Terutama

tentang

kebesan

berfikir

dan

menemukan

kebenaran

dalam

menggunakan akal. Meskipun al-Razi menulis sejumlah karya monumental dan


memiliki keberanian pemikiran, akan tetapi pamor kreasi kemedisannya lebih
mencuat dibanding dengan buah filsafatnya. Oleh karena itu dapat dipahami,
apabila dalam seleksi unggulan peta kajian filsafat baik di panggung global
maupun di ring filsafat Islam sendiri, ia tidak terekrut di dalamnya.

1. Metafisika
6

Filsafat Ar-Razi terkenal dengan ajarannya Lima yang Kekal, yakni:16


a. Al-Bari Taala, Tuhan Pencipta Yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna.
b.

An-Nafsul- Kulliyah, Jiwa yang Universal yang hidup dari jasad ke jasad
sampai suatu waktu menemukan kebebasan yang hakiki.

c. Al-Hayulal-Ula, materi pertama yang dari padanya Tuhan menciptakan


dunia. Materi ini terdiri dari atom-atom yang mempunyai volume. Atomatom ini mengisi ruang sesuai dengan kepadatannya. Atom tanah adalah
yang paling padat, kemudian menyusul air, hawa dan api.
d. Al-Makanul-Mutlaq ( ruang yang absolute) abadi tanpa awal dan tanpa
akhir.
e.

Az-Zamanul-Mutlaq ( masa yang absolute) abadi tanpa awal dan tanpa


akhir.
Menurut Ar-Razi dua dari Lima yang Kekal itu hidup dan aktif: Allah

dan roh. Satu diantaranya tidak hidup dan pasif, yakni materi. Dua lainnya
tidak hidup, tidak aktif, dan tidak pasif, yakni ruang dan masa.17
a. Allah ( al-Bari taala) Tuhan pencipta yang maha tinggi dan maha
sempurna.
Allahlah yang menciptakan dan mengatur seluruh Alam, Allah
menciptakan Alam bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang telah ada,
karena itu alam semestinya tidak kekal sekalipun materi pertama kekal
sebab penciptaan disini dalam arti disusun dari bahan yang telah ada.18
b. Roh (An-Nafsul kuliyyah)
Roh atau jiwa adalah merupakan sumber kekal yang kedua, hanya
saja ia tidak seMaha dengan Tuhan, karena ia terbatas dan tentu saja
dengan keterbatasannuya itu membutuhkan Tuhan. Hal itu terlihat ketika
jiwa, tertarik dengan materi pertama yang juga kekal. Untuk memenuhi
16

Ibid., hlm. 56.


Sirajuddin Zar, Op.cit., hlm. 117.
18
Atang Abd Hakim dan Jaih Mubarok. Metodologi Studi Islam, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2000), Cet ke 3.hlm. 111.
17

hal itu, Tuhan membantu jiwa dengan membentuk alam ini (termasuk
manusia) melalui materi pertama dengan susunan yang kuat, sehingga
jiwa dapat mencari kesenangan didalamnya. sekaligus melengkapinya
dengan akal agar ia tidak memperturutkan hawa nafsu.19
c. Materi (Al-Hayulal Ula) Apa yang ditangkap panca indra tentang benda.
Ia adalah substansi yang kekal, terdiri dari atom-atom. Ia kekal dan
nantinya akan menjadi bahan terbentuknya alam. Didalam prosesnya
materi yang paling padat akan menjadi substansi bumi, yang lebih
renggang dari pada unsur bumi akan menjadi air, yang lebih renggang
dari air akan menjadi udara, dan berikutnya api.20
d. Ruang (Al-Makanul Mutlaq)
Menurut al-Razi, ruag adalah tempat keberadaan materi, kalau
materi dikatakan kekal maka dia membutuhkan ruang yang kekal pula.
Bagi al-razi ruang terbagi menjadi dua yakni ruang Universal (Mutlak)
adalah ruang yang tidak terbatas dan tidak tergantung kepada dunia dan
segala yang ada didalamnya. Sedangkan ruang tertentu (relatif) adalah
sebaliknya.21
e. Waktu (Az-Zamanul Mutlaq)
Waktu menurut Ar Razi adalah subtansi kekal yang mengalir.
Dimana ia dibagi manjadi dua yaitu waktu relative (terbatas) dan waktu
Universal (mutlak).

Waktu relatif (al mahsur/alwaqt), Ini bersifat

partikular dan tidak kekal karena ia bergantung pada gerak falak, terbit
dan tenggelamnya matahari. Sedangkan Waktu Universal (al-dahr), Inilah
zaman yang tidak memiliki awal dan akhir. Ia terlepas sama sekali dari
ikatan alam semesta dan gerakan falak.22

19

Ibid.,
Ibid.,
21
Ibid.,
22
Ibid.,
20

Harun Nasution dalam bukunya Falsafat dan Mistisme menjelaskan


bahwa menurut al-Razi, dari lima yang kekal itu ada dua yang hidup, dan aktif
atau bergerak yaitu Tuhan dan Jiwa atau Roh, satu darinya tidak hidup dan
pasif yaitu materi, dan dua lagi yang tidak hidup, tidak bergerak dan tidak
pula pasif yakni ruang dan waktu.23
Filsafat al-Razi sebenarnya diwarnai oleh doktrinnya tentang lima
ajaran tentang kekekalan tersebut dan kelima hal inilah yang merupakan
landasan ajaran Filsafat yang dibawa oleh al-Razi. Menurut Dr.T.J. De Beor
bahwa dasar-dasar metafisika ar-razi berasal dari doktrin-doktrin tua
seumpama pemikiran-pemikiran Anaxagoras, Empedokles, Mani dan lainlainnya. Dan puncak dari metafisika itulah Prinsip tentang lima yang Abadi
(Five Coenternal principles)
2. Etika/Moral
Adapun pikiran Ar-Razi tentang moral, sebagaimana tertuang dalam
bukunya Al-Thib al-Ruhani dan al-Sirah al-falsafiyyah, bahwa tingkah laku
pun mesti berdasrkan kepada petunjuk rasio. Hawa nafsu haruslah berada
pada kendali akal dan agama. Ia memperingatkan bahaya minuman khamar
yang dapat merusak akal dan melanggar ajaran agama, bahkan dapat
mengakibatkan menderita penyakit jiwa dan raga yang pada gilirannya akan
menghancurkan manusia.24
3. Kenabian
Al-Razi tidak percaya kepada para Nabi. Sebab, mereka dipandangnya
hanya membawa kehancuran bagi manusia. Kebenaran wahyu yang
didakwahkannya, tidak benar adanya. Oleh karenanya, al-Quran dengan
uslubnya tidak merupakan mujizat bagi Muhammad. Ia hanya sebagai buku
biasa. Nikmat akal lebih kongkret daripada wahyu. Oleh karena itu, kegiatan

23

Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta : Gaya Media Pratama , 1999), hlm. 26.
Ibid.,

24

membaca buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya lebih berarti


daripada membaca buku-buku agama.
Selanjutnya,

dalam

hubungan

kenabian

dan

agama,

al-Razi

menegaskan bahwa para Nabi tidak berhak mengklaim bahwa mereka


memiliki keistimewaan khusus, baik rasional maupun spiritual, karena semua
manusia sama. Padahal keadilan dan kemahahakiman Tuhan memastikan
untuk menolak memberikan keistimewaan kepada seseorang di atas orang
lain.
Sedangkan mukjizat dipandangnya sebagai bagian dari mitos
keagamaan atau rayuan dan keahlian yang dimaksudkan untuk menipu dan
menyesatkan. Ajaran agama saling kontradiktif, karena satu sama lain saling
menghancurkan, dan tidak sesuai dengan pernyataan bahwa ada realitas
permanen.

Hal

itu

dikarenakan

setiap

Nabi

membatalkan

risalah

pendahulunya, akan tetapi menyerukan bahwa apa yang dibawanya adalah


kebenaran, bahkan tidak ada kebenaran lain, dan menusia menjadi bingung
tentang pimpinan dan yang dipimpin, panutan dan yang dianut. Semua agama
merupakan sumber peperangan yang menimpa manusia sejak dulu, di
samping merupakan musuh filsafat dan ilmu pengetahuan.25
Begitu juga dengan wahyu yang didakwahkan oleh para Nabi
kebenarannya tidaklah benar adanya. Al-Quran dengan gaya bahasanya
bukanlah mujizat bagi Nabi Muhammad ia hanya sebagai buku biasa. Nikmat
akal lebihlah konkrit dari wahyu oleh sebab itu membaca buku-buku filsafat
dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya lebih berarti dari pada membaca bukubuku agama. (Yusril Ali, 2002; 36). Keberlangsungan agama hanyalah berasal
dari tradisi, dari kepentingan para ulama yang diperalat oleh negara, dan dari
upacara-upacara yang menyilaukan mata orang bodoh.26 (Hasyimsyah
Nasution, 1999; 27).
25

Ferdi Agustian, Para Filosof Muslim, dan Pemikirannya, (Jakarta: Republika, 2001), hlm.

132.
26

Hasyimsyah Nasution, Op.cit., hlm. 27.

10

Pandangan hidup Ar-Razi membangkitkan banyak perlawanan dalam


lingkaran tradisonal. Keahliannya dalam bidang kedokteran dipuja akan tetapi
filsafatnya pada umumnya dicela disebabkan banyak mengandung kufurat.
Tatkala diakhir hayatnya Ar-Razi mengalami kebutaan maka dikatakan bahwa
itu adalah azab dan murka dari Allah karena anggapan liarnya. Karyanya juga
sudah mendapatkan kecaman semasa dia hidup. Krtikan paling pedas terhadap
karyanya adalah seorang ulama yang sebangsa dengannya juga yakni Abu
Hatim Ar-Razi (933) dalam alam annubuwat. Berkat dari kritikan itu maka
ajaran Ar-Razi dapat diketahui, karena tulisan aslinya telas musnah.27
E.

Kesimpulan
1. Ar-Razi bernama lengkap Abu Bakr Muhammad bin Zakariyya al-Razi. Dia
lahir di Rayy, Propinsi Khurasan, dekat Teheran, pada tahun 856 M./ 251 H,
dan wafat tahun 925 M./ 313 H.
2. Ar-Razi terkenal di Barat dengan nama Rhezes dari buku-bukunya tentang
ilmu kedoteran. Bukunya yang terkenal adalah tentang cacar dan campak yang
diterjemahkan dalam bebagai bahasa di Eropa dan pada tahun 1866 masih
dicetak untuk yang keempat puluh kalinya. Al Hawi merupakan ensiklopedia
tentang ilmu kedokteran, tersusun lebih dari 20 jilid dan mengandung ilmu
kedokteran Yunani, Syria, dan Arab.
3. Melalui karya-karyanya, al-Razi menampilkan dirinya sebagai filosof-platonis,
terutama dalam prinsip lima kekal dan jiwanya. Di samping itu, ia juga
pendukung pandangan naturalis kuno.
4. Selain ulet, ia juga seorang tokoh intelektual yang berani, sehingga ia dijuluki
sebagai tokoh non-kompromis terbesar di sepanjang sejarah intelektual Islam.
Di antara bukti keberaniannya dituangkan dalam pandangannya tentang jiwa
dan kenabian dan agama.
27

JMW Bakker SY, Sejarah Filsafat Dalam Islam, Cet I, (Yogyakarta: Penerbitan Yayasan
Kanisus, 1991), hlm. 43-44.

11

5. Selanjutnya ar-Razi berpendapat bahwa Allah adalah Maha Pencipta dan


Pengatur seluruh alam ini. Alam diciptakan Allah bukan dari tiada, tetapi dari
sesuatu yang telah ada. Karena itu, alam semestinya tidak kekal, sekalipun
materi awal kekal, sebab penciptaan disini dalam arti disusun dari bahan yang
telah ada.
6. Ar-Razi adalah filosof yang berani mengeluarkan pendapat-pendaptnya
meskipun pendapat tersebut bertentangan dengan paham yang dianut umat
Islam yaitu:
a. Tidak percaya pada wahyu
b. Al-Quran bukan mujizat
c. Tidak percaya pada Nabi-Nabi
d. Adanya hal-hal yang kekal dalam arti tidak bermula dan tidak berakhir
selain Tuhan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Agustian, Ferdi Para Filosof Muslim, dan Pemikirannya, Jakarta: Republika,
2001.

12

Amien, Miska Muhammad. Epistemologi Islam, Pengantar Filsafat pengetahuan


Islam, Jakarta: UI Press, 1985, Cet ke 1.
Hakim, Atang Abd dan Jaih Mubarok. Metodologi Studi Islam, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2000, Cet ke 3.
Madkour, Ibrahim. Aliran dan Teori Filsafat Islam, Jakarta:Bumi Aksara, 2004.
Nasution, Harun. Filsafat dan Mistisme Dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang
1999.
Nasution, Hasyimsyah. Filsafat Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama , 1999.
Sudarsono. Filsafat Islam. Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Zar, Sirajuddin. Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2010.

13