Anda di halaman 1dari 19

SIFAT-SIFAT EKOSISTEM DANAU

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Limnologi
Yang Dibina Oleh Bapak Hadi Suwono

Oleh:
Alfiani Rachmawati (110342422037)
Ima Aprillia Hariyanti (110342406478)

The Learning University


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Agustus 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perairan pedalaman (inland water) diistilahkan bagi semua badan air yang berada di
daratan. Ilmu yang mempelajari masalah perairan pedalaman atau perairan umum disebut
Limnologi. Bentuk-bentuk perairan umum tawar alami yang telah dikenal luas ialah sungai
(river atau stream), rawa (swamp) dan danau (lake). Selain alami perairan umum juga dapat
dibentuk oleh manusia misalnya waduk (resevoir) dari sungai (waduk sungai) maupun dari rawa
(waduk rawa). Air perairan pedalaman umumnya tawar meskipun ada beberapa badan air yang
airnya asin; dimana air asin di daratan disebut athalassic saline water. Ilmu limnologi mencakup
perairan tawar sampai dengan perairan estuaria (payau) di muara sungai. Limnologi merupakan
cabang ilmu ekologi yang secara khusus mempelajari perairan daratan (Gumiri dkk, 2006).
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah danau cukup banyak.
Danau tersebut terbentuk dari cekungan yang berisi air, yang diakibatkan oleh gerakan tanah
maupun gunung berapi. Danau terjadi karena dua macam, yaitu danau alami yang terjadi karena
perubahan alam, dan danau buatan yaitu danau yang sengaja dibuat oleh tangan manusia. Akibat
dari aktifitas gunung berapi yang masih aktif salah satunya adalah timbulnya suatu cekungan
yang dalam dan berisi air, dan masyarakat sekitar biasanya menyebut dengan danau, situ, atau
ranu.
Pengumpulan informasi tentang ekologi perairan umum Indonesia khususnya perairan
danau mulai dilakukan sejak tahun 1928-1929 melalui suatu kegiatan ekpedisi yang diberi nama
The Sunda expedition. Dalam expedisi oleh para ahli Jerman ini, dilakukan studi tentang
ekologi air tawar khususnya danau dan waduk di tiga pulau utama Indonesia yaitu Sumatera,
Jawa dan Bali. Setelah expedisi ini masih ada beberapa studi sporadis yang dilakukan antara
tahun 1970 dan 1990 termasuk salah satu yang terbesar adalah Expedition Indodanau yang
mencakup danau-danau dan waduk-waduk utama di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Flores,
Sulawesi dan Irian Jaya (Gumiri dkk, 2006).
Secara teoritis, danau adalah sejumlah air (tawar atau asin) yang terakumulasi di suatu
tempat yang cukup luas, yang dapat terjadi karena mencairnya gletser, aliran sungai, atau karena

adanya mata air. Biasanya danau dapat dipakai sebagai sarana rekreasi, dan olahraga. Danau
adalah cekungan besar di permukaan bumi yang digenangi oleh air bisa tawar ataupun asin yang
seluruh cekungan tersebut dikelilingi oleh daratan. Kebanyakan danau adalah air tawar dan juga
banyak berada di belahan bumi utara pada ketinggian yang lebih atas. Danau memiliki banyak
manfaat yaitu sebagai pengendali keseimbangan air karena dapat berfungsi untuk mengairi
sawah, sumber energy pembangkit tenaga listrik, sebagai sarana transportasi dan rekreasi,
sebagai tempat memancing, tempat budidaya ikan, udang, dan kepiting, sumber air minum bagi
makhluk hidup, sebagai tempat olahraga, tempat riset dan penelitian (Suwono, 2010).
Berdasarkan pentingnya danau dalam ekologi air tawar dan keseimbangan ekosistem
maka hal tersebut melatarbelakangi penulisan makalah yang berjudul Sifat-Sifat Ekosistem
Danau.
B. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menjelaskan proses pembentukan danau


Mengetahui sifat-sifat fisik dan kimia pada danau
Menjelaskan perhitungan anggaran air pada danau
Menjelaskan perbedaan antara macam-macam danau
Mengetahui zonasi yang ada pada danau
Mengetahui kondisi perairan danau Indonesia

C. Batasan Masalah
Penulisan makalah ini dibatasi pada pembahasan mengenai:
1. Proses pembentukan danau secara alami dan buatan
2. Sifat fisik danau yang meliputi morfometri danau, anggaran air danau, TSS dan TDS,
cahaya matahari, suhu, dan warna perairan. Sedangkan sifat kimia danau meliputi ion
terlarut, pH, DO, CO2 bebas, nutrien, dan tingkatan trofik/zat hara
3. Perhitungan anggaran air pada danau menggunakan formulasi tertentu
4. Perbedaan macam-macam danau yang dibedakan berdasarkan produktivitasnya,
berdasarkan derajat dan frekuensi pola sirkulasinya, dan berdasarkan tipe danau khusus
5. Zonasi pada danau yang meliputi daerah litoral, limnetik, profundal, dan bentik
6. Kondisi danau di Indonesia saat ini ditinjau dari tingkat kesuburan dan pencemaran
perairan danau

BAB II
ISI
A. Proses Pembentukan Danau
Danau terbentuk karena perubahan alam dan sengaja dibuat oleh manusia. Perbedaan ini
berpengaruh terhadap sifat-sifat fisik dan biologi danau. Perubahan alam yang membentuk danau
antara lain adalah letusan gunung, penurunan permukaan tanah, gerakan tanah, gerakan gletser,
dsb. Proses pembentukan danau yang terjadi membentuk bermacam-macam jenis danau. Berikut
ini adalah jenis danau menurut proses pembentukannya:
1. Danau Tektonik
Danau tektonik merupakan danau yang terbentuk akibat penurunan muka bumi karena
pergeseran/patahan. Ketika sebagian dari permukaan bumi turun dengan lingkungannya atau
sebaliknya salah satu sisi bumi terangkat, akan membentuk cekungan danau. Danau tektonik
dapat terjadi akibat gempa kemudian terjadi patahan (fault) pada permukaan tanah. Permukaan
tanah yang patah mengalami pemerosotan atau ambles (subsidence) dan menjadi cekung.
Cekungan danau ini kemudian terisi oleh air. Luas area danau dan kedalaman air akan
tergantung pada curah hujan dan ukuran penerunan area danau. Air danau hanya diperoleh dari
curah hujan dan aliran air. Contoh: Danau Tempe, Danau Tondana, Dan Danau Towuti di
Sulawesi.
2. Danau Vulkanik
Danau vulkanik merupakan danau yang terbentuk akibat aktivitas vulkanisme. Danau ini
terbentuk karena letusan gunung berapi. Danau ini terbentuk karena terjadinya letusan gunung
berapi. Danau yang terdapat pada kawah kepunden bekas letusan gunung berapi. Ketika gunung
meletus kawah kepunden rontok dan meninggalkan bekas lubang di sana.
Letusan gunung membentuk cekungan-cekungan yang selanjutnya terisi air, danau-danau
vulkanik yang memiliki bentuk seperti kepundan. Biasanya memiliki kedalaman yang besar.
Danau-danau yang terbentuk akibat letusan gunung berapi biasanya disebut danau kawah.
Contoh: Ranu Pakis, Ranu Klalah (Ranu Lamongan), Ranu Bedali (di Lumajang), Telaga
Sarangan (di Magetan), dan Telaga Ngebel (di Ponorogo).
3. Danau Vulkano-Tektonik
Danau Volkano-tektonik yaitu danau yang terbentuk karena gabungan proses vulkanik dan
tektonik. Pada umumnya terjadi dari patahan atau depresi pada bagian permukaan bumi pasca
letusan gunung berapi. Jadi terjadinya danau ini akibat vulkanik yang dilanjutkan dengan
tektonik. Pasca letusan dapur magma yang kosong menjadi tidak stabil sehingga terjadi

pemerosotan atau patah. Cekungan akibat patahan ini kemudian terisi oleh air. Contoh: Danau
Toba di Sumatera.
4. Danau Karst
Danau karst disebut juga doline yaitu danau yang terbentuk pada daerah batu kapur yang
mengalami pelarutan. Pelarutan kapur tersebut menghasilkan suatu bentuk cekungan yang jika
terisi air hujan akan membentuk danau karst berupa dolina. Jika ukuran suatu danau karst lebih
besar daripada dolina pada umumnya, maka disebut uvala. Danau karst yang lebih besar daripada
uvala adalah polje. Danau ini terbentuk melalui proses pelarutan zat kapur oleh air. Danau karst
berada di bawah rata-rata permukaan tanah setempat.Contohnya adalah dolina di Biak, Papua, di
Pegunungan Seribu (Yogyakarta), dan Danau Lais da Rims di Swiss.
5. Danau Ladam
Danau ladam (oxbow lake) adalah danau yang terbentuk akibat proses pemotongan saluran
sungai yang berbentuk meander secara alami dan ditinggalkan oleh aliran sehingga disebut juga
danau sungai mati. Hal ini terjadi ketika arus air secara tiba-tiba menjadi lambat oleh suatu
penurunan gradien, maka arus air berbelok menjadi suatu rute yang lebih panjang dan mengalir
pada suatu tingkat yang lebih lambat. Sedimen dikikis dari bagian yang paling luar hingga tersisa
bagian dalam sedemikian rupa sehingga saluran menjadi lebih terbelit. Sungai yang terbelit
menyisakan suatu danau.
Danau ladam disebut juga danau bendungan alami yaitu danau yang terbentuk akibat lembah
sungai terbendung oleh aliran lava atau erupsi. Danau ini terbentuk akibat adanaya aliran sungai
yang terbendung dengan proses alami, tanpa campur tangan manusia. Jika sisa aliran ini terisi
lebih lanjut oleh air, maka akan terbentuk danau oxbow atau danau tapal kuda. Danau Oxbow
sering dijumpai di beberapa sungai di Kalimantan.
6. Bendungan
Bendungan merupakan danau buatan manusia yang dibentuk dengan cara membendung
aliran sungai. Pembuatan bendungan biasanya berkaitan dengan kepentingan pengadaan listrik
tenaga air, perikanan, pertanian, dan rekreasi. Bendungan buatan manusia lebih dikenal dengan
istialah waduk. Contoh: Waduk Jatiluhur, Wasuk Cirata, Waduk Saguling, Karangkates, dan
Gajahmungkur.
7. Danau Gletser
Danau gletser adalah danau yang terbentuk karena es mencair. Pada saat gletser mencair dan
meluncur ke bawah, gletser tersebut mengikis batuan yang dilaluinya sehingga membentuk
cekungan. Air mengikis bagian-bagian lembah tersebut hingga terbentuk danau gletser.

Pembentukan danau gletser terjadi di daerah dengan empat musim di belahan bumi utara. Contoh
danau jenis ini terdapat di perbatasan antara Amerika dengan Kanada yaitu Danau Superior,
Danau Michigan, dan Danau Ontario.
8. Danau yang terjadi dengan sendirinya
Danau yang terjadi secara alami adalah danau karena permukaan bumi ada yang rendah.
Contohnya danau-danau di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur terdapat di tengah-tengah
daerah yang berawa-rawa. Contoh: Danau Sentarum. Danau Sentarum sejatinya adalah daerah
hamparan banjir (lebak lebung /floodplain). Dengan letak dan kondisinya yang berada di
tengah-tengah jajaran pegunungan menjadikan kawasan ini sebagai daerah tangkapan hujan.
Pada musim penghujan Komplek Danau Sentarum akan terendam air akibat aliran air dari
pegunungan di sekelilingnya dan dari luapan Sungai Kapuas yang merupakan Sungai terpanjang
di Indonesia. Selama 9-10 bulan dalam setahun, kawasan Danau Sentarum akan terendam
hingga kedalaman 6-14 meter.
(Suwono, 2010).
B. Sifat-sifat Fisik dan Kimia pada Danau
Sifat fisik pada danau meliputi morfometri danau, anggaran air danau, sedimentasi, dan
cahaya. Berikut adalah penjelasannya:
1. Morfometri Danau
Morfometri danau mengacu pada bentuk, ukuran, struktur yang menentukan cekungan
danau. Perbandingan permukaan dan volume menunjuk pada apa yang disebut sebagai rasio
permukaan dengan volume (S/V). Secara umum, danau yang memiliki area permukaan yang
lebih kecil dan memiliki kedalaman yang tinggi (S/V rendah) memiliki kualitas air yang lebih
baik daripada danau yang area permukaannya lebih luas dan dangkal (S/V besar).
Pada danau terdapat daerah litoral yakni bagian dari cekungan danau dimana terdapat
penetrasi cahaya dalam jumlah yang cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan alga.
Kedalaman dan luas daerah litoral tersebut adalah bagian yang penting dalam morfometri danau.
Parameter morfometrik diperlukan untuk mengevaluasi erosi, tingkat beban nutrien, senyawa
kimia, kandungan panas, stabilitas panas, produktivitas biologi, dan efektivitas pertumbuhan
struktur serta fungsi dari komponen ekosistem. Teknik pengelolaan danau seperti beban
masukan, kerusakan komunitas, juga tergantung pada morfometri dan karakteristik arus.
2. Anggaran air danau
Air yang berada di danau merupakan keseimbangan antara karakteristik hidrologi dalam
penyimpanan air yang diatur melalui masukan dari berbagai sumber dikurangi dengan hilangnya
air. Informasi tersebut merupakan anggaran air danau. Masukan air berasal dari aliran permukaan

dan sumber air bawah tanah. Air danau berkurang atau hilang melalui anak sungai, rembesan air
bawah tanah, dan evapotranspirasi. Masuk dan keluarnya air bervariasi secara musiman dan juga
melalui karakteristik cekungan danau, air bawah tanah, cekungan aliran air (drainase), dan iklim.
3. TSS (Total Suspended Solid) dan TDS (Total Dissolved Solid)
Zat padat tersuspensi (TSS) merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang
heterogen, dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat
menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan. TSS terdiri atas lumpur dan
pasir halus serta jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang
terbawa ke dalam badan air. Total Suspended Solid adalah semua zat padat (pasir, lumpur, dan
tanah liat) atau partikel-partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup
(biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik)
seperti detritus dan partikel- partikel anorganik. Total Dissolved Solid merupakan jumlah
kandungan zat padat terlarut dalam air juga mempengaruhi penetrasi cahaya matahari masuk ke
dalam badan perairan. Jika nilai TDS tinggi maka penetrasi cahaya matahari akan berkurang,
akibatnya proses fotosintesis juga akan berkurang yang akhirnya mengurangi tingkat
produktivitas perairan.
Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan dapat menimbulkan kekeruhan air. Hal ini
menyebabkan menurunnya produktivitas primer perairan menurun, yang pada gilirannya
menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makanan. Padatan tersuspensi yang tinggi akan
mempengaruhi biota di perairan melalui dua cara, yaitu dengan cara: 1) menghalangi dan
mengurangi penentrasi cahaya ke dalam badan air, sehingga mengahambat proses fotosintesis
oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Kondisi ini akan mengurangi pasokan oksigen
terlarut dalam badan air. 2) Secara langsung TDS yang tinggi dapat mengganggu biota perairan.
Padatan tersuspensi akan mengurangi penetrasi cahaya ke dalam air, sehingga mempengaruhi
regenerasi oksigen secara fotosisntesis dan kekeruhan air juga semakin meningkat. Peningkatan
kandungan padatan tersuspensi dalam air dapat mengakibatkan penurunan kedalaman eufotik,
sehingga kedalaman perairan produktif menjadi turun. Padatan tersuspensi mempengaruhi
kekeruhan dan kecerahan air. Oleh karena itu pengendapan dan pembusukan bahan-bahan
organik dapat mengurangi nilai guna perairan.
4. Cahaya
Cahaya memegang peranan penting dalam ekologi danau dan menentukan potensi
fotosintesis, yaitu yang mensuplai oksigen terlarut dan makanan dalam air. Radiasi sinar
matahari adalah sumber terbesar panas dan menentukan pola angin pada cekungan danau dan

gerakan air. Pemanfaatan energi cahaya yang diterima di dalam danau menentukan produktivitas
danau. Intensitas cahaya bervariasi terhadap musim dan kedalaman. Semakin dalam penetrasi
cahaya dan semakin banyak cahaya yang masuk ke dalam danau maka produktivitasnya semakin
tinggi. Organisme yang berfotosintesis meliputi fitoplankton (alga), perifiton, dan makrofita.
Tingkat penetrasi cahaya juga dipengaruhi oleh partikel-partikel dalam air, dengan kata lain
kedalaman penetrasi cahaya ditentukan pada turbiditas (kekeruhan) air. Pada danau yang jernih,
penetrasi cahaya meluas ke bagian bawah sampai kedalaman 20 meter atau lebih. Sebaliknya
pada danau yang keruh, cahaya hanya dapat menembus pada zona euphotik yaitu kedalaman 3-5
meter. Ketika cahaya menembus ke dalam air, intensitas cahaya berkurang secara eksponensial,
karena diabsorbsi oleh air.
5. Suhu
Secara umum kedalaman danau terstratifikasi ke dalam 3 lapisan berdasarkan adanya
penetrasi cahaya yang menyebabkan perbedaan suhu, yaitu lapisan epilimnion, metalimnion, dan
hipolimnion. Epilimnion adalah lapisan paling atas dan hangat yang bercampur dengan baik. Di
bawah epilimnion adalah metalimnion atau daerah termoklin, yaitu suatu lapisan air yang
suhunya mengalami penurunan dengan sangat cepat. Hipolimnion adalah lapisan paling bawah
yang sifatnya dingin. Perubahan dalam kerapatan pada metalimnion bertindak sebagai pencegah
bercampurnya epilimnion dan hipolimnion. Termoklin digunakan sebagai istilah untuk
menggantikan metalimnion.

Gambar 1: Stratifikasi termal di suatu ekosistem danau


6. Warna Perairan
Warna sesungguhnya dari perairan adalah warna yang hanya disebabkan oleh bahan-bahan
terlarut, sedangkan warna tampak adalah warna yang tidak hanya disebabkan oleh bahan terlarut,
tetapi juga oleh bahan tersuspensi. Warna perairan timbul disebabkan oleh bahan organik dan
anorganik, keberadaaan plankton, humus, dan ion-ion logam seperti besi dan mangan. Oksidasi
besi dan mangan mengakibatkan perairan bewarna kemerahan dan kecoklatan atau kehitaman,

sedangkan oksidasi kalsium karbonat menimbulkan warna kehijauan. Bahan-bahan organik


seperti tanin, lignin dan asam humus dapat menimbulkan warna kecoklatan di perairan.
Perairan yang berwarna dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air, sehingga proses
fotosintesis menjadi terganggu. Untuk kepentingan estetika dan pariwisata, warna air sebaiknya
tidak melebihi 15 unit PtCo, sedangkan untuk kepentingan air minum warna air yang dianjurkan
adalah 550 unit PtCo. Ciri-ciri penting perairan danau salah satunya ialah warna air. Warna air
danau bermacam-macam tergantung pada jenis dan kuantitas bahan terlarut dan tersuspensi,
kualitas cahaya, dan faktor-faktor lain.
Selain sifat-sifat fisik yang telah dipaparkan di atas, danau juga memiliki sifat-sifat kimia
yaitu ion terlarut, pH, oksigen terlarut, dan nutrien. Sifat -sifat kimia dan biologi danau
tergantung pada pembentukan danau, ukuran dan bentuk danau, topografi, iklim setempat,
komunitas biologik, dan aktivitas manusia di sekitar danau. Aktivitas antropogenik sangat
berpengaruh terhadap kimia danau karena dapat menambah jumlah zat kimia dan mempercepat
hilangnya air. Berikut adalah penjelasan mengenai sifat-sifat kimia danau:
1. Ion terlarut
Beberapa danau memiliki 3 anion utama (HCO3, SO4, dan Cl) dan 4 kation utama (Ca2+,
Mg2+, Na+, dan K+) seperti pada Tabel 1. Danau yang memiliki konsentrasi kalsium dan
magnesium tinggi disebut danau air keras, sedangkan danau yang memiliki konsentrasi Cad dan
Mg rendah disebut danau air ringan.
Tabel 1. Ion-ion di Dalam Air
Anion

Presentase

Kation

Presentase

HCO3

73%

Ca2+

63%

SO4

16%

Mg2+

17%

Cl

10%

Na+

15%

K+

4%

Lain-lain

<1%

Lain-lain

<1%

Ion hydrogen memberikan konstribusi pada keasaman air danau, sedangkan merkuri
merupakan polutan yang secara signifikan dapat berpengaruh terhadap ekosistem perairan dan
mengancam makhluk hidup lainnya. Merkuri dapat diakumulasi melalui jarring-jaring makanan.
Anion dan kation bersifat elektrolit, air yang mengandungnya dapat menghantarkan listrik dan
dapat diukur sebagai konduktivitas atau Total Disolved Solid (TDS = total padatan terlarut).

Ca merupakan ion penting bagi sel tumbuhan dan hewan dan sebagai bahan utama
pembentuk cangkang invertebrate misalnya moluska. Magnesium penting untuk fotosintesis.
Besi merupakan komponen utama pada hemoglobin. Silica penting bagi pertumbuhan diatom.
2. pH
pH sangat penting untuk kehidupan diperairan. pH mengindikasikan karakter keasaman atau
basa suatu larutan dan dikontrol oleh proses kimia dan biokimia yang terjadi dalam larutan.
Keseimbangan asam-basa air dipengaruhi oleh aliran air dari industry, air selokan, dan deposit
pembentukan asam. Tiga proses utama yang yang berpengaruh terhadap pH danau adalah
fotosintesis, respirasi, dan asimilasi nitrogen.
Perairan dengan nilai pH= 7 adalah netral, pH< 7 dikatakan kondisi perairan bersifat asam,
sedangkan pH> 7 dikatakan kondisi perairan bersifat basa. Adanya karbonat, bikarbonat dan
hidroksida akan menaikkan kebasaan air, sementara adanya asam-asam mineral bebas dan asam
karbonat menaikkan keasaman suatu perairan. Limbah buangan industri dan rumah tangga dapat
mempengaruhi nilai pH perairan. Nilai pH dapat mempengaruhi spesiasi senyawa kimia dan
toksisitas dari unsur-unsur renik yang terdapat di perairan, sebagai contoh H2S yang bersifat
toksik banyak ditemui di perairan tercemar dan perairan dengan nilai pH rendah.
3. Oksigen terlarut (Dissolve Oxygen)
Oksigen sangat diperlukan oleh semua organisme untuk aktivitas metabolismenya. Suplai
oksigen dalam perairan danau berasal dari pertukaran atmosfer, fotosintesis flora dan
Cyanobacteria (alga biru). Penentuan konsentrasi oksigen terlarut merupakan salah satu variabel
dalam penilaian kualitas air. Hal ini dikarenakan oksigen penting dalam proses reaksi kimia di
dalam air. Konsentrasi oksigen dibawah 5 ppm dapat mengganggu keseimbangan komunitas
biologi, bahkan pada kadar 2 ppm dapat menyebabkan kematian ikan. Pengukuran oksigen
terlarut dapat digunakan sebagai indicator tingkat polusi senyawa organik.
4. Karbondioksida (CO2) bebas
Karbondioksida bebas merupakan istilah untuk menunjukkan CO_2 yang terlarut di dalam
air. CO_2 yang terdapat dalam perairan alami merupakan hasil proses difusi dari atmosfer, air
hujan, dekomposisi bahan organik dan hasil respirasi organisme akuatik. Tingginya kandungan
CO_2 pada perairan dapat mengakibatkan terganggunya kehidupan biota perairan. Konsentrasi
CO _2bebas 12 mg/l dapat menyebabkan tekanan pada ikan, karena akan menghambat
pernafasan dan pertukaran gas. Kandungan CO_2dalam air yang aman tidak boleh melebihi
25 mg/l, sedangkan konsentrasi CO_2 lebih dari 100 mg/l akan menyebabkan semua organisme
akuatik mengalami kematian.

5. Nutrien
Nutrien merupakan bahan yang sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk pertumbuhannya
selain air dan sinar matahari. Tanaman air dan alga merespons perubahan kecil apapun terkait
ketersediaan nutrien dalam air. Terdapat 2 jenis nutrien yang kontribusinya sangat penting yaitu
nitrogen dan fosfor. Kedua nutrien tersebut tersedia dalam ukuran cukup pada air tawar untuk
menjada kesehatan ekosistem, tetapi aktivitas manusia dapat mengubah kontribusi konsentrasi
nitrogen dan fosfor sehingga terjadi ledakan alga.
Nutrien nitrogen yang penting dalam danau adalah senyawa nitrogen, amonia, nitrat, dan
nitrit. Tanaman dan mikroorganisme mengubah nitrogen inorganik menjadi nitrogen organik.
Amonia dalam air terjadi karena adanya pemecahan nitrogen organik, ekskresi oleh biota,
reduksi gas nitrogen oleh mikroorganisme, dan perubahan gas atmosfer. Konsentrasi amonia
normal dalam air adalah 0,1 mg/L. Nitrat merupakanion umum dalam air, dapat tereduksi
menjadi nitrit melalui denitrifikasi dalam kondisi anaerob. Konsentrasi normal nitrit di alam
adalah 0,3 ppm.
6. Tingkatan Trofik/Zat Hara
Tingkatan trofik mengacu kepada kandungan zat hara yang terdapat dalam suatu ekosistem
danau dan berhubungan dengan nilai produktivitas. Suatu danau yang bersifat oligotrofik (miskin
zat hara) akan mempunyai nilai produktivitas yang rendah. Peningkatan akumulasi zat hara
dalam danau juga pengaruh terhadap aktivitas organism. Aktivitas organisme yang rendah akan
menyebabkan konsumsi oksigen juga berkurang. Demikian juga dengan proses mineralisasi yang
dilakukan oleh bakteri yang jauh menurun intensitasnya pada musim dingin dengan kata lain
temperatur rendah mengurangi aktivitas makhluk hidup
(Suwono, 2010).
C. Anggaran Air di Danau
Parameter dasar anggaran air digolongkan ke dalam dua kelompok yaitu pengisian air dan
pengeluaran air. Perhitungan ini akan menyediakan informasi tentang ketersediaan air di dalam
danau pada setiap waktu. Anggaran air di danau dihitung sebagai berikut:
S = I s + I u + P1 Q s Q u E1
S = peubahan penyimpanan air
Parameter pengisian air meliputi :
I s = aliran air masuk (inflow) dari air permukaan
I u = aliran air masuk (inflow) dari air bawah tanah
P1 = curah hujan yang jatuh ke danau
Parameter pengeluaran air :
Q s = aliran keluar (outflow) permukaan

Q u = aliran keluar (ooutflow) bawah tanah


E1 = evaporasi danau
Anggaran air ditentukan oleh kondisi hujan di area danau dan letak aliran sungai. Di daerah
yang basah turunnya hujan lebih tinggi dibanding penguapan, sebaliknya di daerah kering
penguapan lebih tinggi disbanding turunnya hujan. Anggaran air danau dapat dihitung dengan
penggunaan teknik konvensional. Dengan metode konvensional menghitung anggaran danau
dengan parameter seperti inflow permukaan, air hujan, penguapan danau, outflow permukaan,
dan perubahan inflow dan outflow di bawah permukaan tanah (Sowono, 2010).
D. Perbedaan Macam-Macam Danau
Danau dapat digolongkan berdasarkan produktivitasnya. Produktivitas merupakan laju
produksi yang dihasilkan oleh kelompok orgamisme, yang dinyatakan sebagai laju pertumbuhan
bersih organisme. Perbedaan danau menurut produktivitasnya yaitu meliputi sebagai berikut:
1. Danau Oligotrofik
Danau yang mengandung sedikit nutrien (miskin akan nutrien), biasanya dalam dan
produktivitas primernya rendah. Sedimen pada bagian dasar kebanyakan mengandung senyawa
anorganik dan konsentrasi oksigen pada bagian hipolimnion lebih tinggi daripada epilimnion.
Pada danau ini tanaman di dearah litoral jarang dan kerapatan plankton rendah, plankton
bloom jarang karena makanan jarang tertimbun secara cukup untuk mendukung pertambahan
populasi yang besar dari fitoplankton. Walaupun jumlah organisme pada danau ini rendah tetapi
keanekaragaman spesies tinggi. Secara singkat dapat dikatakan bahwa danau oligotrofik masih
muda secara geologi dan hanya sedikit berubah sejak terbentuknya.
2. Danau Mesotrofik
Merupakan danau transisi dari oligotrofik ke kondisi eutrofik. Konsentrasi oksigen menurun
pada hipolimnion selama musim panas.
3. Danau Eutrofik
Danau eutrofik merupakan danau yang mempunyai konsentrasi nutrient yang tinggi,
produktivitas biomassa juga tinggi, dan transpariansinya rendah. Eutropik merupakan sebutan
untuk danau yang dangkal dan kaya akan kandungan makanan, karena fitoplankton sangat
produktif. Ciri-cirinya adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan oksigen
kadarnya rendah.
4. Danau Hipertrofik
Danau ini merupakan danau yang telah mengalami eutrofikasi. Konsentrasi nutrient tinggi,
produksi biomassa tinggi, dan transparensinya sangat rendah. Di hipolimnion sering terjadi
kekurangan oksigen atau anoxia.
5. Danau Distrofik

Merupakan danau yang sangat kaya bahan organik terutama berasal dari masukan eksternal
danau.
(Suwono, 2010).
Danau juga dapat dikategorikan menurut derajat dan pola frekuensinya. Kecepatan angin
yang terbuka pada sebuah danau dan aliran air dalam danau adalah faktor terbesar yang
menentukan tipe sirkulasi. Berikut adalah perbedaan danau menurut derajat dan frekuensi pola
sirkulasinya:
1. Danau Amiktik: danau yang airnya tidak pernah bercampur, membeku secara permanen
2. Danau Meromiktik: lapisan paling dalam tidak pernah bercampur karena kerapatan air yang
tinggi disebabkan oleh substansi terlarut atau karena dilindungi dari efek angin
3. Danau Holomiktik: danau yang sepenuhnya bercampur
4. Danau Oligomiktik: tidak bercampur setiap tahun, pencampuran tergantung pada kondisi
iklim
5. Danau Monomiktik: mencampur hanya sekali dalam setahun
6. Danau Dimiktik: mencampur dua kali dalam setahun
7. Danau Polimiktik: sering mencampur, biasanya pada danau tropik dengan angin besar
(Suwono, 2010).
Menurut Odum (1993), danau juga dapat dibedakan menjadi tipe danau khusus yaitu sebagai
berikut:
1. Danau dystrophic: airnya coklat, danau humus dan pasir terapung. Biasanya mengandung
humic acid yang tinggi, danau pasir terapung mempunyai tepi yang terdiri dari gambut
(pH biasanya rendah) dan berkembang menjadi pasir terapung gambut.
2. Danau tua yang dalam dan terdapat biota yang endemik. Danau yang paling terkenal di
Rusia adalah Danau Baikal, danau tersebut merupakan danau terdalam di dunia dan
terbentuk karena pergerakan bumi pada zaman mesozaik (zaman reptil). 98% dari 384 jenis
arthropoda merupakan binatang endemik, termasuk 291 amfipoda. 81% dari 36 jenis ikan
merupakan endemik. Danau ini disebut juga juga air tawar Australia, hal ini karena
binatang endemiknya. Belakangan diketahui bahwa danau ini terkena cemaran limbah.
3. Danau asin di gunung pasir, terjadi pada pengairan sedimenter di daerah pada iklim kering
dimana evaporasi lebih besar dari presipitasi, sehingga menghasilkan konsentrasi garam
yang tinggi. Misalnya: Great Salt Lake, Utah. Terdapa beberapa jenis biota yang tahan
terhadap salinitas yang tinggi.
4. Danau alkali digunung pasir. Terjadi pada pengairan igneous di daerah dengan iklim
kering, pH dan konsentrasi karbonat tinggi. Contoh: Pyramid Lake, Nevada.

5. Danau yang asam atau basa berhubungan dengan daerah vulkanik yang masih aktif. Kondisi
kimia sangat ekstrim, dengan biota yang amat berbatas. Contoh: beberapa danau di Jepang
dan Filipina.
6. Danau dengan strtifikasi kimia; meroctic (tercampur sebagian), sangat berbeda dengan
kebanyakan danau, dimana air permukaan dan dasar tercampur secara berkala, beberapa
danau terjadi terstratifikasi secara permanen karena adanya rembesan air asin dan pelepasan
garam dari endapan. Hal ini menghasilkan perbedaan kerapatan yang tetap antara air
permukaan dan air didalam danau. Batas antara lapisan yang tersirkulasi dan tidak
tersirkulasi disebut kemoklin. Oksigen bebas dan organisme aerobik tidak ditemukan dalam
dasar danau tersebut. Contoh: Big soda Lake di Nevada dan Hemmelsdorfersee di Jerman.
7. Danau kutub, suhu permukaan tetap dibawah 4C, atau naik untuk periode yang sangat
pendek pada musim panas yang melelehkan es, sehingga sirkulasi dapat terjadi. Populasi
plankton tumbuh dengan cepat selama periode ini, dan menyimpan lemak untuk musim
dingin yang panjang.
E. Zonasi pada Danau
Salah satu zonasi danau adalah berdasarkan penetrasi cahaya matahari. Daerah yang
ditembus cahaya matahari sehingga terjadi fotosintesis disebut daerah fotik. Daerah yang tidak
tertembus cahaya matahari disebut daerah afotik. Di danau juga mengalami perubahan
temperature yang drastis atau termoklin.
Komunitas tumbuhan dan hewan tersebar di danau sesuai dengan kedalaman dan jaraknya
dari tepi. Penyebaran komunitas organisme di danau dipengaruhi oleh cahaya matahari, nutrient,
suhu, kondisi lingkungan perairan, dan kondisi lingkungan di sekitar perairan, termasuk aktivitas
antropomorfisme. Danau dibagi menjadi 4 daerah sebagai berikut :
1. Daerah litoral
Daerah ini termasuk pada daerah yang dangkal. Cahaya matahari menembus dengan optimal
sampai ke dasar. Tumbuhan yang berada di daerah litoral merupakan tumbuhan air yang berakar
dan daunnya ada yang mencuat ke atas permukaan air. Komunitas organisme sangat beragam
termasuk jenis-jenis ganggang yang melekat (diatom), berbagai siput dan remis, serangga,
crustacean, ikan, amfibi, reptilia air dan semi air seperti ular dan kura-kura, itik, angsa, dan
beberapa mamalia yang sering mencari makan di danau.
Tanaman yang berada di daerah litoral menampilkan suatu gradasi dari tanaman daratan
menuju tanaman air, jadi menunjukkan transisi dari suatu lingkungan ke lingkungan lain. Pada
tanaman daratan pengambilan oksigen dilakukan secara langsung oleh akar dan daun. Pada

tumbuhan air oksigen diambil melalui akar. Jika ini tidak dapat diperoleh dari lingkungan
mereka, mereka harus mengambil dari batang atau bagian tumbuhan lain, yang menuju ke udara.
Pada tumbuhan air, daun-daun dan batang makrofita berisi rongga udara yang besar yang berisi
oksigen yang dapat berperan memberikan pasokan udara pada tumbuhan tersebut apabila
kekurangan. Keseluruhan tumbuhan yang ada pada permukaan air tidak bisa memperoleh
oksigen dari udara bebas dan harus mengambil udara dari air. Mereka mempunyai daun-daun
sangat tipis dan sebagian besar oksigen hasil fotosintesis tidak semua dikeluarkan, untuk
mengurangi kekurangan udara pada akar.
2. Daerah Limnetik
Daerah limnetic (pelagik) adalah kawasan perairan terbuka yang dapat ditembus cahaya.
Daerah ini dihuni oleh berbagai fitoplankton, termasuk ganggang, ganggang biru, dan bakteri.
Ikan merupakan hewan yang paling banyak di danau dan memakan hewan invertebrata. Ada
beberapa ikan yang makan ikan lainnya dan sedikit yang herbivor. Ikan memakan plankton,
tumbuhan, dan invertebrata, dan selanjutnya ikan dimakan oleh karnivor seperti burung-burung,
berang-berang, dan manusia. Proses ini berkaitan dengan pemerolehan energi.
Zona pelagik merupakan tempat utama bagi plankton dan nekton. Plankton terdiri atas
fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton terdiri dari ganggang seperti Chlorella dan Volvox.
Zooplankton adalah pemakan ganggang, tetapi ada juga yang karnivor, komunitas neuston
ditempati oleh ikan-ikan.
3. Daerah Profundal
Daerah afotik danau merupakan daerah yang yang dalam. Mikroba dan organisme lain
menggunakan oksigen untuk respirasi seluler setelah mendekom-posisi detritus yang jatuh dari
daerah limnetik. Daerah ini dihuni oleh cacing dan mikroba.
4. Daerah Bentik
Daerah ini merupakan tempat organisme mati dan bentos (flora dan fauna yang hidup di
dasar danau pada substrat berupa lumpur dan pasir). Produsen utama bentik meliputi
cyanobacteria dan ganggang eukaryotik. Penghuni terbesar zona ini kebanyakan cacing, larva
lalat chironomid, dan moluska. Ada juga banyak binatang lebih kecil seperti cacing nematode
dan ostracoda.
(Suwono, 2010).

Gambar 2: Zonasi pada danau


F. Kondisi Danau di Indonesia Saat Ini terkait Tingkat Kesuburan dan Pencemaran
Danau
Kondisi yang terjadi pada danau saat ini sudah tidak sesuai peruntukannya karena telah
terjadi percepatan penyuburan dan sedimentasi. Hal tersebut tidak terlepas dari aktivitas
masyarakat seperti kegiatan perladangan berpindah yang telah berlangsung lama, misal pada
daerah Gorontalo tepatnya Danau Limboto. Akibatnya terjadi kerusakan lingkungan yang
ditandai adanya erosi, banjir pada musim hujan, dan kekeringan pada musim kemarau. Dampak
langsung yang terjadi pada perairan danau saat ini sudah terlihat seperti pendangkalan dan
eutrofikasi sebagai akibat meningkatnya nutrien dan zat pencemar ke badan perairan danau.
Cepatnya proses penyuburan dan sedimentasi pada danau mengakibatkan fungs utama dari
danau berkurang, seperti sebagai peredam banjir pada musim hujan dan penyedia air pada musim
kemarau, serta sebagai habitat beberapa jenis ikan (Suryono dkk, 2010).
Eutrofikasi dan pencemaran merupakan permasalahan lingkungan yang berpengaruh
terhadap perairan danau secara umum dimana akibat yang ditimbulkannya akan mempengaruhi
kelangsungan hidup manusia. Eutrofikasi atau sering disebut pengkayaan unsur hara dalam
perairan akan mengakibatkan perairan menjadi subur. Proses eutrofikasi sendiri merupakan
proses alami yang akan terjadi pada setiap perairan tergenang namun dalam waktu yang cukup
lama. Seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat seperti rumah tangga, industry, dan
daerah pertanian (pupuk dan limbah ternak), maka akan memberikan masukan berupa unsur hara
ke badan air danau dan jika proses pulih diri (self purification) terlampaui maka akan
mempercepat proses eutrofikasi (Suryono dkk, 2010).
Menurut USEPA dalam HENDERSON-SELLER & MARKLAND (1987) secara umum
suatu badan air yang telah mengalami proses eutrifikasi dapat ditandai adanya penurunan
konsentrasi oksigen terlarut pada lapisan hipolimnion, kenaikan konsentrasi nutrien N dan P,
kenaikan suspended solid (terutama material organik), penurunan penetrasi cahaya (kecerahan
menurun), terjadi blooming alga, dan sedimen tinggi serta keragaman jenis alga rendah namun
kelimpahan dan produktifitasnya tinggi (Suryono dkk, 2010).

Penelitian untuk mengetahui tingkat kesuburan dan pencemaran yang terjadi di perairan
Danau Limboto dilakukan pada bulan September 2006 berdasarkan perhitungan Indek Status
Trofik (Trophic State Index /TSI) dan Indeks Kimia. Lokasi pengambilan sampel meliputi badan
air danau dan di beberapa sungai utama yang bermuara ke Danau Limboto. Nilai TSI Carlsons
menunjukkan tingkat kesuburan perairan danau sudah tergolong eutrofik sampai hipereutrofik
dengan kisaran antara 68,89 - 85,97, sedangkan nilai indeks kimia Kirchoff menunjukkan badan
air danau tergolong tercemar ringan, kecuali di wilayah Dembe (perikanan karamba jaring
apung) termasuk tercemar sedang dengan kisaran 53,49 68,87. Sungai utama yang merupakan
in let danau cenderung tergolong tercemar berat dengan kisaran 26,39 - 27,87 (Suryono dkk,
2010).
Penelitian lain dilakukan oleh Walukow (2010) tentang kajian parameter kimia pospat di
perairan Danau Sentani berwawasan lingkungan. Penelitian dilakukan untuk menganalisis beban
pencemaran Posfat di Danau Sentani dan menganalisis kapasitas asimilasi perairan Danau
Sentani. Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan suatu masukan bagi para pengambil
kebijakan di bidang pengelolaan danau, sehingga dapat mengambil kebijakan secara cepat, tepat
dan akurat dalam menangani pencemaran posfat sehingga tidak terjadi gejala eutrofikasi yang
dapat membawa kematian ikan masal, dari segi ilmu geografi dengan analisis beban pencemaran
dapat diketahui laju pendangkalan perairan yang merubah bentang alam.
Hasil penelitian menunjukkan Tingginya nilai pospat menggambarkan perairan Danau
Sentani sangat dipengaruhi oleh banjir dan erosi. Nilai beban pencemaran Pospat terus
meningkat melebihi nilai kapasitas asimilasi pada periode 2007, kondisi ini dikhwatirkan akan
mengganggu keseimbangan ekologi Danau Sentani. Salah satu upaya pengurangan total sumber
pencemar adalah melalui intervensi fungsional dengan cara penurunan pertumbuhan penduduk
(Walukow, 2010).

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Proses pembentukan danau digologkan menjadi danau tektonik, danau vulkanik, danau
vulkano-tektonik, danau karst, danau ladam, bendungan, danau gletser, dan danau yang
terjadi dengan sendirinya
2. Sifat fisik danau meliputi morfometri danau, anggaran air danau, TSS dan TDS, cahaya
matahari, suhu, dan warna perairan. Sedangkan sifat kimia danau meliputi ion terlarut,
pH, DO, CO2 bebas, nutrien, dan tingkatan trofik/zat hara
3. Anggaran air danau merupakan informasi tentang ketersediaan air dalam danau pada
setiap waktu. Parameter dasar anggaran air digolongkan ke dalam dua kelompok yaitu
pengisian air dan pengeluaran air
4. Danau dapat dibedakan berdasarkan produktivitasnya (danau oligotrofik, mesotrofik,
eutrofik, hipertrofik, distrofik), berdasarkan derajat dan frekuensi pola sirkulasinya
(danau amiktik, meromiktik, holomiktik, oligomiktik, monomiktik, dimiktik, polimiktik),
serta berdasarkan tipe danau khusus
5. Zonasi pada danau dibedakan atas daerah litoral, limnetik, profundal, dan bentik
6. Kondisi perairan danau di Indonesia saat ini telah mengalami banyak pencemaran dan
masalah kesuburan yang mengakibatkan eutrofikasi dan pendangkalan
B. Saran Tindak Lanjut
1. Masyarakat harus berperan aktif dalam menjaga ekosistem danau
2. Pemerintah wajib memfasilitasi segala kegiatan yang berkaitan dengan konservasi dan
pemulihan kondisi danau
3. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai berbagai parameter fisika, kimia, dan biologi
pada danau guna mendukung perlindungan ekosistem danau

DAFTAR PUSTAKA
Gumiri dkk. 2006. Tinjauan Limnologi Perairan Tawar Kalimantan Tengah. Journal of Tropical
Fisheries. 1 (2): 98-110
Odum, P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Suryono dkk. 2010. Tingkat Kesuburan dan Pencemaran Danau Limboto Gorontalo. Jurnal
Oseanologi dan Limnologi Indonesia. 36 (1): 49-61
Suwono, Hadi. 2010. Dasar-Dasar Limnologi. Surabaya: IPB Press
Walukow, Auldry F. 2010. Kajian Parameter Kimia Pospat di Perairan Danau Sentani
Berwawasan Lingkungan. Jurnal Forum Geografi. 24 (2): 183-197