Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH FARMAKOLOGI

OBAT DIABETES
MELETUS

DI SUSUN OLEH :
JONRIANI
MIANA RISFI
YUDI HARYADI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES AL-INSYIRAH PEKANBARU
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
hanya atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai
dengan apa yang kami harapkan.
Makalah Obat Diametes Meletus merupakan bahasan yang akan kami
uraikan selanjutnya. Kegiatan ini merupakan salah satu tugas mata kuliah ilmu
Keperawatan, yang menjadi pembelajaran bagi kami agar bertambahnya wawasan
kami mengenai kesehatan, terutama pada kesehatan manusia.
Semoga apa yang kami persembahkan dapat menjadi motivasi dalam
meningkatkan prestasi belajar para mahasiswa khususnya, dan masyarakat pada
umumnya. Kami mohon maaf bila ada kesalahan, olah karena itu saran yang baik
sangat kami harapkan bagi para mahasiswa guna meningkatkan kualitas makalah
selanjutnya.

Pekanbaru. 7 November 2014

(Penulis)

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

....................................................................................

KATA PENGANTAR

.................................................................................

ii

.................................................................................................

iii

DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
..........................................................................
B. Rumusan Masalah
.....................................................................
C. Tujuan
.......................................................................................
BAB II

1
2
2

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Medis ...................................................................


1. Definisi .................................................................................
2. Etiologi
..............................................................................
3. Klasifikasi ............................................................................
4. Manisfetasi klinis
..............................................................
B. Obat Diabetes Meletus
......................................................

4
4
4
5
5
6

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ......................................................................................
B. Saran
..............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA

..............................................................................

iii

15
15
16

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes mellitus merupakan penyakit menahun yang ditandai dengan
kadar glukosa darah yang melebihi nilai normal. Apabila dibiarkan tidak
terkendali, diabetus mellitus dapat menimbulkan komplikasi yang berakibat
fatal, misalnya terjadi penyakit jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan dan lainlain.
Menurut data stastistik tahun 1995 dari WHO terdapat 135 juta penderita
diabetes mellitus di seluruh dunia. Tahun 2005 jumlah diabetes mellitus
diperkirakan akan melonjak lagi mencapai sekitar 230 juta. Angka mengejutkan
dilansir oleh beberapa Perhimpunan Diabetes Internasional memprediksi jumlah
penderita diabetes mellitus lebih dari 220 juta penderita di tahun 2010 dan lebih
dari 300 juta di tahun 2025.
Dari data WHO di tahun 2002 diperkirakan terdapat lebih dari 20 juta
penderita diabetes mellitus di tahun 2025. tahun 2030 angkanya bisa melejit
mencapai 21 juta penderita. Saat ini penyakit diabetes mellitus banyak dijumpai
penduduk Indonesia. Bahkan WHO menyebutkan, jumlah penderita diabetes
mellitus di Indonesia menduduki ranking empat setelah India, China, dan
Amerika Serikat.
Apoteker, terutama bagi yang bekerja di sektor kefarmasian komunitas,
memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan penatalaksanaan
diabetes. Membantu penderita menyesuaikan pola diet sebagaimana yang
disarankan ahli gizi, mencegah dan mengendalikan komplikasi yang mungkin
timbul, mencegah dan mengendalikan efek samping obat, memberikan
rekombinasi penyesuaian rejimen dan dosis obat yang harus dikonsumsi
penderita bersama-sama dengan dokter yang merawat penderita, yang
kemungkinan dapat berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan kondisi
penderita, merupakan peran yang sangat sesuai dengan kompetensi dan tugas
seorang apoteker. Apoteker dapat juga memberikan tambahan ilmu pengetahuan
kepada penderita tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kondisi dan
pengelolaan diabetes.
Diabetes mellitus sendiri didefinisikan sebagai suatu penyakit dan
gangguan metabolisme kronis dengan multi etilogi yang ditandai dengan

tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat,


lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi
insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau difisiensi produk insulin oleh selsel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang reponsifnya
sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO, 1999).
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari pemuatan makalah ini adalah untuk mengetahui
tentang obat diabetes meletus.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tentang defenisi diabetes meletus
b. Untuk mengetahui tentang etiologi diabetes meletus
c. Untuk mengetahui tentang klasifikasi diabetes meletus
d. Untuk mengetahui tentang manifestasi klinis diabetes meletus
e. Untuk mengetahui tentang pemeriksaan deabetes meletus
f. Untuk mengetahui tentang Obat anti deabetes meletus
C. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan diabetes meletus ?
2. Apa saja etiologi dari diabetes meletus ?
3. Bagaimana klasifikasi diabetes meletus ?
4. Apa saja manifestasi klinis diabetes meletus ?
5. Bagaimana pemeriksaan deabetes meletus ?
6. Apa saja obat anti deabetes meletus?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konep Dasar Medis


1. Definisi
DM adalah
hiperglikemia

gangguan

yang

metabolisme

berhubungan

dengan

yang

ditandai

abnormalitas

dengan

metabolisme

karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh penurunan sekresi


insulin atau penurunan sekresi insulin atau penurunan sensitivitas insulin atau
keduanya dan menyebabkan komplikasi kronis mikrovaskular, makrovaskular
dan neuropati.( Sukandar, 2008 )
DM adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan
metabolic

akibat

gangguan

hormonal,

yang

menimbulkan

berbagai

komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi
pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop electron
( Mansjoer, 2001 )
Diabetes Melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada
seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula atau
glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif
(Soegondo, 2002).
2. Etiologi
a. Genetik
b. Virus Hepatitis B
c. Penyakit Pankreas
d. Gaya Hidup
e. Kelainan Hormon
3. Klasifikasi
a. Tipe IDDM
DM tipe 1 atau yang dulu dikenal dengan nama Insulin Dependent
Diabetes Mellitus (IDDM), terjadi karena kerusakan sel b pankreas (reaksi
autoimun). Bila kerusakan sel beta telah mencapai 80--90% maka gejala
DM mulai muncul. Perusakan sel beta ini lebih cepat terjadi pada anakanak daripada dewasa. Sebagian besar penderita DM tipe 1 mempunyai
antibodi yang menunjukkan adanya proses autoimun, dan sebagian kecil
tidak terjadi proses autoimun. Kondisi ini digolongkan sebagai tipe 1

idiopatik. Sebagian besar (75%) kasus terjadi sebelum usia 30 tahun, tetapi
usia tidak termasuk kriteria untuk klasifikasi.
b. Tipe NIDDM
DM tipe 2 merupakan 90% dari kasus DM yang dulu dikenal
sebagai non insulin dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Pada diabetes
ini terjadi penurunan kemampuan insulin bekerja di jaringan perifer
(insulin resistance) dan disfungsi sel beta. Akibatnya, pankreas tidak
mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mengkompensasi insulin
resistan. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya defisiensi insulin relatif.
Gejala minimal dan kegemukan sering berhubungan dengan kondisi
ini,yang umumnya terjadi pada usia > 40 tahun. Kadar insulin bisa normal,
rendah, maupun tinggi, sehingga penderita tidak tergantung pada
pemberian insulin.
c. Tipe Lain
Subkelas DM di mana individu mengalami hiperglikemia akibat
kelainan spesifik (kelainan genetik fungsi sel beta), endokrinopati
(penyakit Cushings , akromegali), penggunaan obat yang mengganggu
fungsi sel beta (dilantin), penggunaan obat yang mengganggu kerja insulin
(b-adrenergik), dan infeksi/sindroma genetic (Downs, Klinefelters).
d. Gastasional
Suatu intoleransi glukosa yang terjadi pada saat hamil. DM dan
kehamilan (Gestational Diabetes Mellitus - GDM) adalah kehamilan
normal yang disertai dengan peningkatan insulin resistan (ibu hamil
gagal mempertahankan euglycemia). Faktor risiko GDM: riwayat
keluarga DM, kegemukan, dan glikosuria. GDM ini meningkatkan
morbiditas neonatus, misalnya hipoglikemia, ikterus, polisitemia, dan
makrosomia. Hal ini terjadi karena bayi dari ibu GDM mensekresi
insulin lebih besar sehingga merangsang pertumbuhan bayi dan
makrosomia. Frekuensi GDM kira-kira 3--5% dan para ibu tersebut
meningkat risikonya untuk menjadi DM di masa mendatang.
4. Manisfetasi Klinis
a. Polidipsi (rasa haus yang berlebih, walaupun cuaca tidak panas).
b. Poliuria (sering kencing terutama malam hari).
c. Polifagia (cepat lapar).
d. Glukosuria
e. Berat badan menurun secara drastis.
f. Badan lemah dan cepat lelah.
4

g.
h.
i.
j.
k.

Nafas Bau keton


Kesemutan pada jari-jari tangan dan kaki serta gatal-gatal.
Penglihatan kabur.
Luka sulit sembuh.
Gairah sex menurun

5. Pemeriksaan
Pemeriksaan penyaring perlu dilakukan pada kelompok dengan
resiko tinggi DM, yaitu kelompok usia dewasa tua (>40 tahun), obesitas,
tekanan darah tinggi, riwayat keluarga DM , riwayat kehamilan dengan
berat badan bayi lahir >4000g, riwayat DM pada kehamilan, dan
dislipidemia.
Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan dengan pemeriksaan
glukosa darah sewaktu, kadar glukosa darah puasa, kemudian dapat diikuti
dengan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) standar. Untuk kelompok
resiko tinggi yang hasil pemeriksaan penyaringnya negative, perlu
pemeriksaan penyaring ulangan tiap tahun. Bagi pasien berusia >45 tahun
tanpa factor resiko, pemeriksaan penyaring dapat dilakukan setiap 3 tahun.

Tanbel 5.1 Kadar Glukosa Dalam Darah


Kadar glukosa
darah sewaktu
(mg/dl)
Palasma vena
Darah kapiler
Kadar glukosa
darah puasa
(mg/dl)
Plasma vena
Darah kapiler

DM

Bukan DM

Belum Pasti DM

>200 Darah
kapiler

<110

110-199

>200

<90

DM

Bukan DM

90-199

Belum Pasti DM

>126

<110

110-125

>110

<90

90-109

B. Obat Diabetes Meletus


Teori pengobatan pada diabetes melitus didasarkan atas pemberian insulin
dalam jumlah cukup sehingga memungkinkan metabolisme karbohidrat penderita
normal. Terapi optimmum dapat mencegah bagian terbesar efek akut diabetes dan
sangat memperlambat timbulnya efek-efek kroniknya (Guyton, A. C., 1990).
Biasanya, penderita diabetes diberi dosis tunggal salah satu preparat
insulin bermasa kerja lama setiap hari, ia meningkatkan seluruh metabolisme
karbohidratnya sepanjang hari, kemudian insulin regular (suatu preparat bermasa
kerja singkat yang berlangsung hanya beberapa jam) tambahan diberikan pada
setiap saat kadar glukosa darah cenderung meningkat terlalu tinggi, seperti waktu
makan. Jadi, setiap penderita diberi pengobatan rutin secara individual (Guyton,
A. C., 1990).
Diet penderita diabetes. Kebutuhan insulin penderita diabetes ditentukan
oleh diet standar penderita yang mengandung karbohidrat dalam jumlah normal
dan terkontrol baik serta perubahan jumlah masukkan karbohidrat mengubah
kebutuhan akan insulin (Guyton, A. C., 1990).
Pada orang normal, Pankreas mempunyai

kemampuan

untuk

menyesuaikan jumlah insulin yang dihasilkan terhadap masukan karbohidrat;


tetapi pada orang diabetes total, fungsi pengaturan ini hilang sama sekali. Pada
diabetes jenis awitan maturitas yang dengan obesitas, sering penyakit ini dapat
dikontrol dengan mengurangi berat badan saja (Guyton, A. C., 1990).
Hubungan pengobatan dengan arteriosklerosis. Penderita

diabetes

mempunyai kecenderungan besar mengalami aterosklerosis, arteriosklerosis, serta


penyakit jantung koroner berat dan beberapa lesi mikrosirkulasi. Memang, orang
yang menderita diabetes yang pengendaliannya relatif buruk waktu anak-anak
mungkin mati karena penyakit jantung pada usia 20-an tahun (Guyton, A. C.,
1990).
Pada hari-hari permulaan pengobatan diabetes, ada kecenderungan banyak
mengurangi karbohidrat dalam diet sehingga kebutuhan insulin minimum.
Tindakan ini mempertahannkan kadar gula darah turun ke nilai normal dan
mencegah kehilangan glukosa kedalam urina, tetapi hal ini tidak mencegah
kelainan-kelainan metabolisme lemak (Guyton, A. C., 1990).
Akibatnya, saat ini cenderung membiarkan penderita dengan diet
karbohidrat normal dan kemudian secara serentak memebrikan insulin dosis
tingggi untuk memetabolisme karbohidrat. Hal ini menurunkan kecepatan
6

metabolisme lemak dan juga membantu menurunkan kadar kolesterol yang tinggi
yang terjadi pada diabetes sebagai akibat kelainan metabolisme lemak (Guyton, A.
C., 1990).
Karena komplikasi diabetes-seperti arteroskelerosis, peningkatan kepekaan
berlebihan terhadap infeksi, retinopati diabetika, katarak,

hipertensi, dan

penyakit ginjal kronik-lebih berkaitan dengan kadar lipid darah dibandingkan


dengan kadar glukosa darah, maka ia merupakan objek pengobatan klinik diabetes
untuk memberikan glukosa dan insulin dalam jumlah cukup sehingga jumlah lipid
darah menjadi normal. (Guyton, A. C., 1999)
1. Insulin
Pemberian insulin kepada penderita diabetes hanya bisa dilakukan dengan
cara suntikan, jika diberikan melalui oral insulin akan rusak didalam lambung.
Setelah disuntikan, insulin akan diserap kedalam aliran darah dan dibawa ke
seluruh tubuh. Disini insulin akan bekerja menormalkan kadar gula darah (blood
glucose) dan merubah glucose menjadi energi.
a. Insulin Eksogen kerja Singkat.
Bentuknya berupa larutan jernih, mempunyai onset cepat dan
durasi pendek. Yang termasuk di sini adalah insulin regular (Crystal Zinc
Insulin / CZI ). Saat ini dikenal 2 macam insulin CZI, yaitu dalam bentuk
asam dan netral. Preparat yang ada antara lain : Actrapid, Velosulin,
Semilente. Insulin jenis ini diberikan 30 menit sebelum makan, mencapai
puncak setelah 1 3 macam dan efeknya dapat bertahan samapai 8 jam.
b. Insulin Eksogen kerja sedang.
Bentuknya terlihat keruh karena berbentuk hablur-hablur kecil,
dibuat dengan menambahkan bahan yang dapat memperlama kerja obat
dengan cara memperlambat penyerapan insulin kedalam darah.Yang
dipakai saat ini adalah Netral Protamine Hegedorn ( NPH ),Monotard,
Insulatard. Jenis ini awal kerjanya adalah 1.5 2.5 jam. Puncaknya
tercapai dalam 4 15 jam dan efeknya dapat bertahan sampai dengan 24
jam.
c. Insulin Eksogen kerja panjang (lebih dari 24 jam).
Merupakan campuran dari insulin dan protamine, diabsorsi dengan
lambat dari tempat penyuntikan sehingga efek yang dirasakan cukup lam,
yaitu sekitar 24 36 jam. Preparat: Protamine Zinc Insulin ( PZI ),
Ultratard.
7

Tabel 1.1 Insulin Dan Kerjanya


No
1

Insulin

Mulai
Kerja

Deskripsi

Puncak
Kerja

Lama
Kerja

Insulin kerja
singkat
0.5-1 jam

2-4 jam

6-8 jam

Keruh, SK

30 -45 Mnt

6-6 jam

12-16 jam

Lente

Keruh, SK

12 jam

8- 12 jam

18-28 jam

Humulin L

Sama seperti lente

NPH

Keruh, SK

12 jam

6-12 jam

18-24 jam

Humulin N
Insulin kerja

Sama seperti NPH

48 jam

14 20 jam

24-36 jam

Ultralante
Keruh, SK
58 jam
14 20 jam
Kunci : NPH: Neutral Protamin Hagedom, PZI: Protamina Zink Insulin

30-36 jam

Reguler

Jernih, SK, IV

Humulin

Sama seperti Reguler

semilente
Insulin kerja
sedang

panjang
PZI

Keruh, SK

2. OBAT-OBAT ANTI DIABETES


a. Sulfonylurea
Obat Golongan ini digunakan Untuk menurunkan glukosa darah, obat
inimerangsang

sel beta

dari

pankreas

untuk

memproduksi

lebih

banyak insulin. Jadi syarat pemakaian obat ini adalah apabila pankreas masih
baik untuk membentuk insulin, sehingga obat ini hanya bisa dipakai pada
diabetes tipe 2.
Efek Samping

: Sulfonylurea

bisa

menyebabkan

hipoglikemia,

terutama bila dipakai dalam 3 4 bulan pertama pengobatan akibat perubahan


diet dan pasien mulai sadar berolahraga serta minum obat. Apabila ada

gangguan fungsi ginjal atau hati, dosis perlu diperhatikan karena lebih mudah
timbul hipoglikemia. Namun secara umum obat ini baik untuk menurunkan
glukosa darah.
b. Biguanides
Obat biguanides memperbaiki kerja insulin dalam tubuh, dengan cara
mengurangi resistensi insulin. Pada diabetes tipe 2, terjadi pembentukan
glukosa oleh hati yang melebihi normal. Biguanides menghambat proses ini,
sehingga kebutuhan insulin untuk mengangkut glukosa dari darah masuk ke sel
berkurang, dan glukosa darah menjadi turun.
Efek Samping untuk metformin biasanya jarang memberikan efek
samping. Tetapi pada beberapa orang bisa timbul keluhan terutama pada
saluran cerna, misalnya gangguan pengecapan, nafsu makan menurun, mual,
dan muntah.
c. Alpha-Glucosidase Inhibitors
Obat golongan ini bekerja di usus, menghambat enzim di saluran cerna,
sehingga pemecahan karbohidrat menjadi glukosa atau pencernaan karbohidrat
di

usus

menjadi berkurang.

Hasil

akhir

dari

pemakaian

obat

ini

adalah penyerapan glukosa ke darah menjadi lambat, dan glukosa darah


sesudah makan tidak cepat naik.
Efek Samping obat ini umumnya aman dan efektif, namun ada
efek samping yang kadangmengganggu, yaitu perut kembung, terasa banyak
gas, banyak kentut, bahkan diare. Keluhan ini biasanya timbul pada awal
pemakaian obat, yang kemudian berangsur bisa berkurang
d. Meglitinides
Golongan Obat ini menyebabkan pelepasan insulin dari pankreas
secaracepat dan dalam waktu singka.Termasuk golongan obat ini adalah
Repaglinide (Novonorm) dan Nateglinide (Starlix). Efek Samping Meskipun
sama seperti sulfonylurea, efek samping hipoglikemia boleh dikatakan jarang
terjadi, hal ini disebabkan oleh efek rangsangan pelepasan insulin hanya terjadi
pada saat glukosa darah tinggi.
e. Thiazolidinediones
Obat ini baik bagi penderita diabetes tipe 2 dengan resistensi insulin,
karena bekerja dengan merangsang jaringan tubuh menjadi lebih sensitif
terhadap

insulin, sehingga

insulin

bisa

bekerja

dengan

lebih

baik,

glukosa darahpun akan lebih banyak diangkut masuk ke dalam sel, dan kadar

glukosa darah akan turun. Selain itu, obat thiazolidinediones juga menjaga hati
agar tidak banyak memproduksi glukosa. Efekmenguntungkan lainnya adalah
obat ini biasa menurunkan trigliserida darah.
Efek Samping yang merugikan yang mungkin timbul adalah bengkak,
berat badan naik, dan rasa capai. Efek serius yang jarang terjadi adalah
gangguan hati

10

Tabel 3.1 Obat Diabetes Meletus


Golongan

Sulfonylurea

Nama generik

Nama dagang

Dosis

Mekanisme Kerja

Chlorpropamide

Diabenese

250-500 mg

Merangsang

Glibenclamid

Daonil,euglucon

2,5-15 mg

insulin

Gliquidone

Glurenorm

30-120 mg

Gliclazide

Diamicron

20-320 mg

Glipizide

Minidiab

2,5-20 mg

yang

glipmepride

Amaryl

1-8 mg

pankreasnya

hanya

sekresi NIDDM

di

pankreas,

Indikasi

kelenjar -sedang
sehingga

efektif

penderita

Kontra Indikasi

ringan Wanita

Efek Samping

menyusui, Gejala

polifiria,

saluran

dan cerna dan sakit

ketoasidosis

kepala. Gangguan

pada

fungsi hati / ginjal

diabetes

atau pada orang

sel-sel

usia lanjut.

masih

berfungsi dengan baik


Biguanides

Metformin

Glucophage,
diabex

0,5-3 mg

Bekerja langsung pada NIDDM yang gagal Gangguan fungsi Mual,


hati

(hepar), dikendalikan

ginjal atau hati, anoreksia

menurunkan produksi dengan diet

predisposisi

glukosa

asidosis

hati.

merangsang

Tidak
sekresi

insulin oleh kelenjar


pankreas

muntah,

gagal

diare

dan
yang

laktat, selintas, asidosis


jantung, laktat, gangguan

infeksi

atau penyerapan

trauma

berat, vitamin B12

dehidrasi,
alkoholisme,
wanita hamil, dan

wanita menyusui.
Acarbose

Glucobay

50-600 mg

Menghambat

kerja Sebagai

enzim-enzim

tambahan

Anak usia di bawah Diare,

terhadapsulforinurea 12 tahun, wanita kembung

pencenaan

yang

pada DM yang tidak

hamil,

wanita nyeri,

perut
dan
ikterus,

mencerna karbohidrat, dapat dikendalikan menyusui,


hepatitis.
sehinggan
dengan obat dan colitis ulse ratif,
memperlambat
diet.
obstruksi
usus,
absorpsi glukosa ke
gangguan
fungsi

Alpha
Glucosidase
Inhibitor

dalam darah.

hati,

gangguan

fungsi ginjal berat,


hernia,

riwayat

bedah abdominal
Nateglinides

Starlix

180-540 mg

Merangsang

Repaglinides

novonorm

0,5-16 mg

insulin di

sintesis dan sekresi

kelenjar pankreas

insulin oleh kelenjar

Meglitinides

sekresi meningkatkan

Keluhan

saluran

cerna

pancreas. kombinasi
dengan

obat-obat

antidiabetik

oral

lainnya
Tiazolidinediones

Pioglitazone

Actos

15-30 mg

Meningkatkan
kepekaan

12

Tiazolodinion
tubuh meningkatkan

Hipersensitif

Nyeri punggung,

terhadap

sakit

kepala,

Rosiglitazone

avandia

4-8 Mg

terhadap

insulin. sensitivitas

Berikatan

dengan pada

PPAR

otot

activated menghambat

receptor-gamma)

di glukoneogenesis

otot, jaringan lemak,

13

hati

hepatik.

untuk Hiperglikemia
menurunkan resistensi
insulin

dan

(peroxisome jaringan adipose dan

proliferator

dan

insulin rosiglitazon

hiperglikemia,
luka, sinusitis,
anemia

ketika

digunakan
bersamaan
dengan insulin

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Teori pengobatan pada diabetes melitus didasarkan atas pemberian insulin dalam
jumlah cukup sehingga memungkinkan metabolisme karbohidrat penderita normal. Anti
diabetes tedapat lima macam yang di berikan peroran. Yang pertama yaitu Sulfonylurea
yang digunakan Untuk menurunkan glukosa darah, obat inimerangsang sel beta dari
pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin.. Yang kedua biguanides. Yang ketiga
Alpha-Glucosidase Inhibitors. Yang ke empat Meglitinides. Dan yang kelima
Thiazolidinediones, obat ini baik bagi penderita diabetes tipe 2 dengan resistensi insulin,
karena bekerja dengan merangsang jaringan tubuh menjadi lebih sensitif terhadap
insulin, sehingga insulin bisa bekerja dengan lebih baik, glukosa darahpun akan
lebih banyak diangkut masuk ke dalam sel, dan kadar glukosa darah akan turun.

B. Saran
Dalam menulis makalah ini, kelompok sudah berusaha semaksimal
mungkin. Apabila terdapat saran yang bersifat membangun maka kelompok akan
menerima dengan senang hati dan melakukan perbaikan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Obat-Obat Penting Untuk Pelayanan Kefarmasian edisi
Fakultas Farmasi UGM.Yogyakarta.
Anonim.
2010.
Phenformin.
diakses

dari

revisi.

http://www.drugbank.ca

Price, A. S dan Wilson, M. L. 1995. Patofisiologi Konsep Klinik

Proses-

proses Penyakit Edisi IV. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.


Anonim, 2005-2006, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, PT
InfoMaster,

Jakarta, 322-328.
Asdie, Ahmad Husain, 1996, Olahraga/ Latihan Jasmani: Sebagai Terapi
Bagian Kehidupan pada Diabetes Melitus, Dalam Noer,
(Ed.), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid 1, edisi ketiga,

dan

Sjaifoellah
Balai

penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,


Jakarta.
Curtis L. Triplitt, Charles A. Reasner, William L. Isley, 2002, Diabetes
Mellitus, Dalam Talbert, Robert L. (Ed.), Pharmacotherapy A
Pathophysiologic Approach, sixth edition, McGraw-Hill

companies

Depkes, 2000, Informatorium Obat Nasional Indonesia 2000, Depkes RI Dirjen


POM, Jakarta.
Suyono, Slamet, 1996, Diet pada Diabetes, Dalam Noer, Sjaifoellah (Ed.), Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid 1, edisi ketiga, Balai
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

15

penerbit.