Anda di halaman 1dari 11

KONSEP KUALITAS RUANG DALAM

PERANCANGAN KOTA
Disusun Oleh
Kelompok 4 :
1. Windri Botutihe
2. Rayzaldhy Januar Ibrahim
3. Moh. Fazri Makuraga
4. Andika Ali

1.

Tinjauan Teori Perancangan Ruang


kota
Pada dasarnya masalah ruang kot a produk kota-kota modern
secara morfologis banyak tercipta engan suatu keadaan yang tidak
terstruktur, hiarki yang kurang jelas, kurang memberikan rasa ruang
yang akrab bagi manusia, serta tidak memberikan integritas terhadap
bangunan-bangunan.
Penciptaan bangunan-bangunan yang berarti sendiri dalam
kaplingnya dan tidak ada keharmonisan antar bangunannya sehingga
tidak tercipta rasa ruang, Terbentuknya daerah-daerah yang kurang
disukai manusia, dan tidak aman yang akhirnya akan membuat ruang
kota tersebut tidak terawatt.
Ruang-ruang ini disebut sebagai ruang yang hilang. Pada
kebanyakan kota tradisional terbentuk suatu kesatuan yang baik antar
banguanan maupun ruang kota terhadap arsitekturnya. Morfolog kota
tercipta dalam kesatuan yang utuh antara ruang kota yang disebut void
dan massa bangunan yang disebut solid.

Mengikuti hasil pengamatan sejarah morfologi kota-kota, maka


Roger Trancyk menemukan tiga integrasi antara arsitektur dan ruang kota
yaitu :
Figure Ground Theory
Figure Ground Theory atau juga disebut teori perpetakan,
merupakan suatu integrasi yang kukuh daslam massa dan ruang, sehingga
membentuk kesatuan anatara solid dan void. Disini yang sangat dominant
adalah peranan ruang luar tersebut. Dan kualitas ruang luar sangat
ditentukan oleh figure bangunan-bangunan tersebut. Ruang yang mengurung
merupakan void yang paling dominant, berskala manusia atau Vol. 1, 2003
MODUL ISSN 0853 2877 38 berupa ruang luar berskala interior, yang
artinya bahwa, ruang tersebut seperti ruang yang ada di dalam banguanan.
Sehingga ruang-ruang yang mengurung tersebut terasa seperti ruang dalam
dan oleh kerena itu keakraban antar bangunan sebagai privat dominan dan
ruang luar sebagai public dominan dapat menyatu.
1.

2.

Linkage Theory

Pada dasarnya linkage berarti suatu hubungan antar gerakan. Hal


ini menunjukkan adanya hubungan pergerakkan aktifitas yang terjadi pada
beberapa zona makro maupun mikro dengan atau tanpanberagam fungsi
yang berkaitan dengan aspek-aspek fisik, sejarah, ekonomi, social budaya
dan politik. Dalam pendekatan ini, sirkulasi yang dinamis menjadi
penggerakpenggerak dari bentuk kota. Teori ini merupakan suatu
pendekatan yang dinamis dari system sirkulasi yang menjadi motor
penggerak dari suatu bentuk kota yang berasal dari hubungan garis-garis
yang dibentuk oleh jalan, batasan pejalan kaki, ruang terbuka linier, atau
elemen-elemen lain yang secara fisik menghubungkan bagian-bagian kota.
3.

Place Theory

Kalau figure ground maupun linkage banyak ditekankan oleh


konfigurasi massa fisik, maka dalam linkage theory merupakan teori yang
paling lengkap sehingga tidak hanya terletak pada konfigurasi morfologi
ruang, namun integrasi antara aspek fisik dengan masyarakat atau manusia
yang merupakan hal yang utama dari perancangan kota.

2.

Konsep Pengembangan Ruang


Transisi pada Tata Ruang Kawasan
Perencanaan
Konsep Fungsional sebagai Pengembangan Aktifitas Perancangan
ruang transisi dilakukan dengan melakukan redesain bangunan dengan
fungsi lama berupa ruko dengan penambahan fasilitas-fasilitas lain yang
nantinya akan merupakan bangunan utama kawasan yang bertujuan untuk
menghidupkan kawasan perencanaan selama 24 jam. Bangunan ruko yang
telah ada terbukti mampu untuk menghidupkan kawasan selama siang hari,
walaupun pada malam hari aktifitas hanya berupa aktifitas penghuni ruko
tersebut. Potensi ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan aktifitas
masyarakat tersebut sehingga aktifitas malam lebih hidup. Perencanaan
ruang transisi di kawasan Bubakan dan Jurnatan dengan fasilitas utama
sebagai pusat perdagangan dan jasa dengan sifat komersial ini diharapkan
menjadi kawasan yang mampu menjadi magnet bagi kawasan-kawasan
sekitarnya, terutama kota lama sehingga dalam perkembangan ruang
transisi ini secara aktif meningkatkan taraf hidup kawasan sektiar. Arah dari
tujuan tersebut dapat dicapai dengan memberikan konsep yang
mengoptimalkan penggunaan lahan sebagai lahan perdagangan dan jasa.

3.

Konsep Arsitektur Kawasan


bentuk dan penampilan bangunan padas kawasan diorientasikan
mempertahankan kawasan perencanaan sebagai ruang transisi dari kota
modern dan kota lama. Sehingga bangunan yang ditampilkan
berkarakter bangunan histories Kota Lama berupa bangunan colonial
dan juga mempunyai citra sebagai bangunan modern. Pendekatan
arsitektural yang dilakukak dengan menggunakan arsitektur Aliran
Post- Modern Bangunan yang direncanakan akan mempunyai citra
fungsionalnya sebagai bangunan perdagangan dengan konsep
komersial-rekreatif.

4.

Konsep Ruang Terbuka


Konsep tata ruang luar merupakan penciptaan ruang yang
terbentuk baik akibat penataan massa-massa bangunan maupun karena
sengaja dicipakan untuk keperluan tertentu.

5.

Konsep Tata Hijau


1.
2.

3.
4.

6.

Memberikan nilai tambah pada lingkungan secara estetis, visual,


psikologis
Menjaga dan mempertahankan kelestarian lingkungan, system
ekologi secara klimatologis sebagai pengatur iklim, penyaring
udara kotor, dan sebagai media konservasi tanah.
Sebagai unsur pengarah pada koridor tertentu.
Sebagai elemen pembentuk dan penguat figure ruang terbuka
maupun fasade bangunan.

Konsep Pemetaan (Figure Ground)


1.

2.

3.

Mengarahkan jalur pejalan kaki pada kawasan perencanaan dengan


simpul pada tempat parker dan menciptakan ruangruang terbuka sebagai
wadah kegiatan/ komunitas masyarakat.
Mengarahkan jalur lintas dengan system hubungan antar kota modern
dengan Axis Taman Jurnatan dan Kota Lama dengan axis kawasan depan
Gereja Blenduk.
Menempatkan konfigurasi bangunan dengan menyesuaikan dengan
struktur masa bangunan perencanaan konservasi Kota Lama menurut
RTBL.

7.

Konsep Sirkulasi dan Parkir


1.
2.

3.
4.

Pemecahan sistem sirkulasi kenderaan di kawasan perencanaan


yang tidak mengganggu aktifitas di public open space.
Integrasi sarana pejalan kaki harus dikaitkan atau merupakan
bagian yang integral dengan system transportasi umum,
pemberhentian angkutan kota, ruang terbuka dan sebagainya.
Pedestrian dicviptakan guna menghidupkan dan menigkatkan
potensi kawasan.
Melengkapi jalan bagi pejalan kaki dengan street furniture yang
memadai, serta lampu pedestrian, sitting group, tempat ibadah,
dan gardu telepon.

KESIMPULAN.
Untuk merancang suatu kawasan kota kita selaku arsitek harus
mengikuti 3 integrasi yakni, Teori perpetakan, teori pergerakan
aktifitas, dan teori tempat. Dan harus melihat bentuk atau wajah dari
kota itu sendiri agar penciptaan rang yang terbentuk baik akibat
penataan massa bangunan maupun karena sengaja diciptakan untuk
keprluan tertentu. Untuk menciptakan keharmonisan antara ruang atau
bangunan agar terciptanya rasa ruang yakni dengan menciptakan ruang
yang baik dan mengikuti wajah dari suatu kota tersebut.
Masalah yang tidak di inginkan pada suatu kota yakni adanya
perusakan akibat tangan tangan manusia seperti pembuangan sampah
pada sembarang tempat yang dampakya sangat besar, contohnya
terjadinya bencana alam, banjir di kota besar, adapun kemacetan yang
terjadi pada suatu kota yang dapat menyebabkan wajah kota itu sendiri
menjadi tidak baik lagi.

Pertanyaa
n. Apa yang menyebabkan wajah suatu kota, bisa dengan mudahnya
1.
2.
3.
4.
5.

terjadi kerusakan.
Bagaimanakah menciptakan keharmonisan antar ruang ruang
sehingga terciptanya rasa ruang.

JAWABAN.
1.

2.
3.
4.
5.

Yang menyebabkan wajah suatu kota itu bisa terjadi kerusakan yakni
ulah dari manusia itu sendiri, contohnya seperti di jakarta, hampir tiap
hari terjadi kemacetan yang diakibatkan oleh ulah manusia itu sendiri,
adapula kerusakan yang diakibatkan oleh bencana alam seperti banjir
akibat pembuangan sampah di sembarang tempat, dan penempatan
bangunan yang sudah tidak diberikan celah dengan bangunan yang
lainya.