Anda di halaman 1dari 29

UJI RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIKA MENGGUNAKAN METODE DIFUSI

Maret 26, 2012


LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

UJI RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIKA MENGGUNAKAN METODE DIFUSI

(Antibiotic Suspectibility Testing)

Disusun Oleh :

Kelompok B1

Riyan Haryadi ( 09613011 )

Dewi Shinta Mandela ( 09613024 )

Nike Fitri Adriaan ( 09613061 )

Dellyna Feranica Manik ( 09613076 )

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FARMASI

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2011

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan

Dapat melakukan uji aktivitas antimikrobia dengan menggunakan metode difusi cara cakram kertas
(disk method).

1.2 Latar Belakang

Resistensi terhadap antibiotika adalah fenomena yang alami. Bila suatu antibiotika digunakan,
bakteri yang mengalami resistensi terhadap antibiotika tersebut memiliki kesempatan yang lebih
besar untuk dapat terus hidup daripada bakteri lain yang lebih rentan. Bakteri yang rentan akan
dapat dibasmi atau dihambat pertumbuhannya oleh suatu antibiotika, menghasilkan suatu tekanan
selektif terhadap bakteri lain yang masih bertahan hidup untuk menciptakan turunan yang resisten
terhadap antibiotika. Namun demikian, bakteri yang mengalami resistensi terhadap antibiotika
dalam jumlah yang sangat tinggi sekarang ini disebabkan karena adanya penyalahgunaan dan
penggunaan antibiotika secara berlebihan. Di beberapa negara dan melalui internet, antibiotik dapat
dibeli tanpa adanya resep dokter. Pasien kadang-kadang minum antibiotik meskipun ia tidak
membutuhkannya, untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti selesma(1).

Bahaya resistensi antibiotika merupakan salah satu masalah yang dapat mengancam kesehatan
masyarakat. Hampir semua jenis bakteri saat ini menjadi lebih kuat dan kurang responsif terhadap
pengobatan antibiotika. Bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotika ini dapat
menyebar ke anggota keluarga, teman ataupun tetangga lain sehingga mengancam masyarakat akan

hadirnya jenis penyakit infeksi baru yang lebih sulit untuk diobati dan lebih mahal juga biaya
pengobatannya(2).

1.3. Tinjauan Pustaka

Antibiotika atau dikenal juga sebagai obat anti bakteri adalah obat yang digunakan untuk mengobati
penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Alexander Fleming pada tahun 1927 menemukan
antibiotika yang pertama yaitu penisilin. Setelah mulai digunakan secara umum pada tahun 1940,
maka antibiotika bisa dibilang merubah dunia pengobatan serta mengurangi angka kesakitan &
kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksi secara dramatis(1).

Resistensi antibiotik adalah kemampuan mikroorganisme untuk mengatasi pengaruh antibiotik.


Dengan kata lain, mikroorganisme yang resisten terhadap antibiotik, misalnya bakteri, akan kebal
dan tidak mati walau diberi antibiotik(2). Resistensi bakteri terhadap obat terdiri atas beberapa jenis,
yaitu (1) resistensi primer yang merupakan resistensi alamiah terhadap kuman, contohnya bakteri
Staphylococcus
yang mengandung enzim penisilinase dapat mengubah penisilin menjadi asam
penisilinoat yang tidak mampu membunuh kuman itu; (2) resistensi sekunder, yaitu karena adanya
muatan-muatan yang berkembang biak menjadi spesies yang resisten; (3) resisten episomal atau
plasmid yang dapat terjadi karena bakteri mentransfer DNA kepada bakteri lain melalui kontak
antarsel bakteri sejenis dan antarbkateri yang berlainan jenis; serta (4) resistensi silang, yaitu
resistensi bakteri terhadap suatu antibiotic dengan semua derivatnya. Sebagai contoh, penisilin
dengan ampisilin, rifampisin dengan rifamisin, dan berbagai jenis sulfonamide. Untuk menghindari
resistensi silang, digunakna dosis antibiotic yang relative lebih tinggi daripada dosis efektif minimum
dalam waktu singkat(3).

Resistensi antibiotik adalah kemampuan dari bakteri atau mikroorganisme lain untuk menahan efek
antibiotic. Resistensi antibiotic terjadi ketika bakteri dapat merubah diri sedemikian rupa hingga
dapat mengurangi efektifitas dari suatu obat, bahan kimia ataupun zat lain yang sebelumnya
dimaksudkan untuk menyembuhkan atau mencegah penyakit infeksi. Akibatnya bakteri tersebut
dapat bertahan hidup dan bereproduksi sehingga makin membahayakan. Bakteri tersebut dapat
membentuk ketahanan khusus terhadap suatu jenis antibiotika tertentu, sehingga membahayakan
orang yang terkena penyakit tersebut. Kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat adanya
anggapan bahwa yang resisiten terhadap obat tertentu adalah tubuh orang, padahal sebenasrnya

bakteri yanag ada di dalam tubuh tersebutlah yang menjadi resisten terhadap pengobatan, bukan
tubuhnya(2).

Antibiotik menghentikan atau mengganggu sejumlah proses seluler sehari-hari yang mengandalkan
bakteri untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup, seperti:

melumpuhkan produksi dinding sel bakteri yang melindungi sel dari lingkungan eksternal
mengganggu sintesis protein dengan mengikat mesin yang membangun protein, asam amino dengan
asam amino
mendatangkan malapetaka dengan proses metabolisme, seperti sintesis asam folat, sebuah vitamin
B yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang
memblokir sintesis DNA dan RNA (1)
Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai indikator pengujian. Dalam hal ini
mikroorganisme digunakan sebagai penentu konsentrasi komponen tertentu pada campuran
kompleks kimia, untuk mendiaknosis penyakit tertentu tertentu, serta untuk menguji bahan kimia
guna menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan. Macam-macam uji yang dapat
dilakukan adalah uji antibiotik/antimikroba, bioautografi, uji vitamin dan asam amino, uji ames, dan
penggunaan mikroorganisme sebagai model metabolisme obat mamalia (4).

Kegunaan uji antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan efesien.
Terdapat bermacam-macam metode uji antimikroba seperti yang dijelaskan berikut ini:

Metode difusi

Metode disc diffusion (tes Kirby dan Bauer) untuk menentukan aktivitas agen antimikroba. Piringan
yang berisi agen antimikroba diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang
akan berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya hambatan
pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba permukaan media agar. (lihat gambar)

E-test

Metode E-test digunakan untuk mengestimasi MIC (minimum inhibitory concentration) atau KHM
(kadar hambat minimum), yaitu konsentrasi minimal suatu agen antimikroba untuk dapat
menghabat pertumbuhan mikroorganisme.

Pada metode ini digunakan strip plastik yang mengandung agen antimikroba dari kadar terendah
hingga tertinggi dan diletakkan permukaan media agar yang telah ditanami mikroorganisme.
Pengamatan dilakukan pada area jernih yang ditimbulkannya yang menunjukkan kadar agen
antimikroba yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar.(lihat gambar)

Ditch-plate technique
Pada metode ini sampel uji berupa agen antimikroba yang diletakkan pada parit yang dibuat dengan
cara memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara membujur dan mikroba
uji ( maksimum 6 macam ) digoreskan kearah parit yang berisi agen antimikroba.

Cup-plate technique
metode ini serupa dengan mitode disc diffusion, dimana dibuat sumur pada media agar yang telah
ditanami dengan mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang akan diuji.

Gradient-plate technique
Pada metode ini konsentrasi agen antimikroba pada media agar secara teoretis bervariasi dari 0
hingga maksimal. Media agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan. Campuran kemudian dituang
kedalam cawan petri dan diletakkan dalam posisi miring. Nutrisi kedua selanjutnya dihitung
diatasnya.

Plate diinkubasi selama 24 jam untuk memungkinkan agen antimikroba berdifusi dan permukaan
media mengering. Mikroba uji (maksimal 6 macam) digoreskan pada arah mulai dari konsentrasi
tinggi ke rendah. Hasil diperhitungkan sebagai panjang total pertumbuhan mikroorganisme
maksimum yang mungkin dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan.

Bila: X = panjang total pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin

Y = panjang pertumbuhan aktual

C = konsentrasi final agen antimikroba pada total volume media mg/mL atau /mL,

Maka konsentrasi hambatan adalah: *(X.Y)+: C mg/mL atau g/mL.

Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat dari lingkungan padat dan cair
faktor difusi agen antimikroba dapat mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat(4).

BAB II

METODE PERCOBAAN

2.1.

ALAT DAN BAHAN

Alat :

Tabung reaksi

Cawan petri

Mikro pipet

Blue & yellow tip

Erlenmeyer

Beaker glass

Autoclave

Laminar Air Flow (LAF)

Lampu spiritus

Bahan :

Nutrient agar

Mikroba uji (feces)

Paper disk yang mengandung : Amoxicillin, Ampicillin, Gentamicin,

Sulfametoksazon

2.2.

CARA KERJA

Disiapkan mikroba uji yang akan digunakan (mikroba uji dari hasil persiapan pada praktikum
sebelumnya)

Disiapkan dan disterilisasi 50 ml media nutriet agar dalam erlenmeyer

Masing-masing kelompok membuat dua media nutrient agar

Media nutrient agar, yellow & blue tip, serta cawan petri di sterilisasi dengan autoclave selama 15
menit dengan suhu 1210C

Setelah agak dingin ditambahkan 200l mikrobia uji dalam LAF, dihomogenkan

Dituang dalam petri steril, ditunggu sampai beku

Pada petri pertama, dipasang paper disk yang mengandung antibiotik Sulfametoksazol dan ampicillin
serta blanko sebagai control negatif

Pada petri kedua, dipasang paper disk yang mengandung antibiotik Amoxicillin dan Gentamicin serta
blanko sebagai control negatif

Diinkubasi 37oC selama 24 jam

Diinterpretasikan hasil dengan antibiogram

Diukur diameter hambatannya untuk masing-masing sampel/antibiotik dengan masing-masing


mikrobia uji

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. HASIL PERCOBAAN

Jenis / jumlah sample

: Feces / 200 l

Hasil pengukuran diameter zona hambat menggunakan electric counter

(Terlampir)

Hasil pengukuran diameter zona hambat menggunakan jangka sorong

Ukuran paper disk = 6mm

Sulfametoksazol = 2,03 cm = 20,3 mm


Zona hambat = 20,3 6 = 14,3 mm

Ampicillin = (tidak bereaksi)


Amoxicillin = 0,61 cm = 6,1 mm
Zona hambat = 6,1 6 = 0,1 mm

Gentamicin = 1,01cm = 10,1 mm

Zona hambat = 10,1 6 = 4,1 mm

3.2 PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan uji resistensi bakteri terhadap antibiotika menggunakan
metode difusi yang bertujuan agar dapat melakukan uji aktivitas mikrobia dengan menggunakan
metode difusi cara sumuran dan cakram kertas (disk method), dapat melakukan uji aktivitas
antimikrobia dengan menggunakan metode dilusi cair maupun dilisi padat.

Siapkan mikroba uji yang akan digunakan yang berasal dari paktikum sebelumnya, kemudian dibuat
media nutrient agar sebanyak 50 ml yang akan di bagi ke dalam 2 erlenmeyer, lalu disterilisasi di
dalam autoklaf. Setelah disterilisasi media yang masih mencair ditambahkan dengan 200 l mikroba
uji, dihomogenkan. Lalu dituangkan kedalam petri steril. Penuangan dilakukan di dalam LAF yang
sudah disterilisasi sebelumnya. Ditunggu sampai beku. Setelah beku pada petri pertama dipasang
paper disk yang mengandung antibiotic sulfametoksazol dan ampisilin, juga paper disk blanko. Pada
petri kedua dipasang paper disk yang mengandung antibiotic amoksisilin dan gentamisin, juga paper
disk blanko. Kemudian kedua petri dimasukkan dalam incubator selama 18-24 jam pada suhu 27o C.
Metode ini dinamakan metode Kirby-Bauer. Pada saat pemasangan paper disk sedikit ditekan agar
tidak jatuh saat dimasukkan kedalam incubator secara terbalik.

Ada beberapa macam metode untuk uji resistensi bakteri, antara lain :

Metode dilusi. Prinsipnya yaitu antibiotic diencerkan hingga diperoleh beberapa konsentrasi.
Dilusi cair. Masing-masing konsentrasi obat ditambahkan suspensi kuman atau bakteri didalam
media.
Dilusi padat. Masing-masing konsentrasi obat ditambahkan media agar, lalu ditanami bakteri.
Metode difusi
Kirby-Bauer. Menggunakan kertas disk yang sudah mengandung antibiotic dan diketahui
konsentrasinya.
Sumuran. Pada media agar ditambahkan suspensi bakteri, kemudian dibuat lubang ditengah dan
ditetesi antibiotic.

Pour plate. Suspensi bakteri diambil menggunakan ose lalu dimasukkan dalam media agar, setelah
beku digunakan disk antibiotik diatasnya.
E-test. Menggunakan plastic strip yang mengandung antibiotic yang sudah diketahui konsentrasinya.
Gradient test. Seperti cara sumuran hanya saja lubang yang dibuat menyerupai garis tengah,
sehingga media pada petri terbelah dua.
Hari berikutnya dilakukan pengukuran diameter hambat dari masing-masing antibiotic menggunakan
jangka sorong dan diperoleh data : zona hambat sulfametoksazol 14,3 mm ; amipisilin 0 mm ;
amoksisilin 0,1 mm ; gentamisin 4,1 mm. Dan juga dilakukan pengukuran zona hambat dengan
menggunakan electric counter dan diperoleh data : zona hambat sulfametoksazol 21,5 mm ;
amipisilin 0 mm ; blanko 1 8,5 mm ; amoksisilin 10,0 mm ; gentamisin 19,3 mm ; blanko 2 8,5 mm.

Pada data terdapat antibiotik yang tidak bisa menghambat pertumbuhan bakteri dikarenakan
antibiotik yang digunakan tidak spesifik terhadap bakteri yang ditanam didalam media, ataupun
terjadi resistensi bakteri terhadap antibiotik tersebut dengan berbagai mekanisme.

Mekanisme kerja antibiotik antara lain :

Menghambat sintesis dinding sel bakteri sehingga menghambat perkembang biakan dan
menimbulkan lisis. Contoh : penisilin dan sefalosforin.
Mengganggu keutuhan membrane sel, mempengaruhi permeabilitas sehingga menimbulkan
kebocoran dan kehilangan cairan intraseluler. Contoh : nistatin.
Menghambat sintesis protein sel bakteri. Contoh : tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin.
Menghambat metabolisme sel bakteri. Contoh : sulfonamide.
Menghambat sintesis asam nukleat. Contoh : rifampisin dan golongan kuinolon. (5)
Sifat antibiotik sebaiknya menghambat atau membunuh mikroorganisme patogen tanpa merusak
inang, bersifat bakterisid, tidak menyebabkan resistensi pada kuman, tidak bersifat alergenik atau
tidak menimbulkan efek samping bila digunakan dalam jangka waktu lama, larut dalam air, serta
stabil (6).

BAB IV

KESIMPULAN

zona hambat sulfametoksazol 14,3 mm ; amipisilin 0 mm ; amoksisilin 0,1 mm ; gentamisin 4,1 mm.
Dan juga dilakukan pengukuran zona hambat dengan menggunakan electric counter dan diperoleh
data : zona hambat sulfametoksazol 21,5 mm ; amipisilin 0 mm ; blanko 1 8,5 mm ; amoksisilin 10,0
mm ; gentamisin 19,3 mm ; blanko 2 8,5 mm.

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

Vorber, auf die eingeschr, Hpber- prfg, Staatl, zugel, Fernlehrgang, 2010, Bahaya Resisitensi
Antibiotika, www.Impulse-Schule.de. Diakses pada tanggal 25 oktober 2011.

Aryulina, Diah, dkk., 2006, Biologi 3, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Syamsuni, H., Drs., 2005, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, Penerbit EGC, Jakarta.
Betina, V., 1983, The chemistry and Biology of Antibiotics, Scientific Publishing Company, New York.
Rostinawati, Tina, 2009, Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Bunga Rosella Terhadap E. Coli, S.Aureus
Dengan Metode Difusi Agar, UNPAD, Bandung.
Syahrurrahman, A.,dkk.,1994, Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.

https://id.scribd.com/doc/134473593/Uji-Kepekaan-bakteri-Terhadap-antibiotika

Tabel Pengamatan Uji Kepekaan Bakteri terhadap AntibiotikaDengan Cara Difusi Agar Nama
Antibiotika :KloramfenikolBakteri uji:
Escherichia coli
GambarDosis Antibiotika (g/mL)R MTR (10 g/mL)M ( 50 g/mL)T (100 g/mL)DDH = 0 cm= 0
mmDDH = 0,9 cm= 9 mmDDH = 1,3 cm= 13 mmBerdasarkan hasil percobaan diatas, maka bakteri uji
Escherichia coli
bersifat
setengahpeka
terhadap antibiotika
Kloramfenikol
Nama Antibiotika :Tetrasiklin HClBakteri uji:
Staphylococus aureus
GambarDosis Antibiotika (g/mL)R MTR (20 g/mL)M ( 50 g/mL)T (60 g/mL)DDH = 0,2333 cm=
2,33 mmDDH = 0,5353 cm= 5,35 mmDDH = 0,6333 cm=6,33 mmBerdasarkan hasil percobaan diatas,
maka bakteri uji
Staphylococus aureus
bersifat
peka
terhadap antibiotika
Tertrasiklin HCl4.2Pembahasan
Resistensi merupakan zona hambat antibiotik yang terjadi terhadap bakteri, sedangkansensitifitas
merupakan zona hambat yang tidak terjadi pada antibiotik terhadap bakteri.Sesuai hasil
pengamatan, dengan menggunakan cara dilusi (pengenceran kaldu pepton), terlihat bahwa
Escherichia coli
bersifat peka terhadap antibiotikakloramfenikol. Hal ini disebabkan dari hasil konsentrasi hambat
minimum (KHM)menunjukkan kategori peka yaitu 5-15 g/mL. Hal ini berbeda dengan yang terlihat
pada bakteri
Staphylococus aureus

besifat sangat peka terhadap antibiotika tetrasiklinHCl. Hal ini disebabkan konsentrasi hambat
minimum (KHM) yang diperoleh < 1 gsehingga dikategorikan sangat peka. Pada pengamatan,
bakteri
Staphylococus aureus
tidak menunjukkan keresistensian terhadap antibiotik tetrasiklin HCl.

Bakteri memilikikemampuasn menjadi resisten karena pertama, suatu faktor yang memang sudah
ada pada mikroorganisme tersebut sebelumnya. Kedua, organisme impermaebel terhadapantibiotik.
Dan Ketiga organisme mempunyai struktur yang menghambat masuknyaantibiotik. Sebagai contoh,
resisten terhadap penicillin pada suatu organisme dapatdisebabkan oleh produksi penicillin yaitu
suatu enzim yang menginaktifkan penicillin.Jika bakteri tidak resisten disebabkan oleh karena tidak
mempunyai gen yang berfungsi melindungi bakteri tersebut dari pengaruh bakterisida suatu obat
/antibiotik.Dari hasil pengamatan uji kepekaan bakteri terhadap antibiotika dengan cara difusi

agar, pada bakteri uji


Escherichia coli
dengan antibiotika kloramfenikol padakonsentrasi rendah 10 g/mL, dosis menengah 50 g/mL, dan
pada dosis tinggi yaitu100 g/mL menunjukkan dalam kategori setengah peka. Sedangkan pada
dosisantibiotika tetrasiklin HCl rendah, yakni 20 g/mL, didapat DDH yang terbentuk 0,2333 cm atau
2,33 mm sedangkan pada dosis antibiotika tetrasiklin HCl konsentrasimenengah yakni 50 g/mL,
terlihat DDH yang terbentuk 0,5353 cm atau 5,35 mm,sedangkan pada konsentrasi tinggi yakni 60
g/mL terlihat DDH yang terbentuk 0,6333 cm atau 6,33 mm. Hal ini menyebabkan bakteri uji
Staphylococus aureus
termasuk dalam kategori peka terhadap antibiotika tetrasiklin HCl.
BAB VKESIMPULAN

1.Dengan menggunakan cara dilusi, konsentrasi hambat minimum (KHM) antibiotikakloramfenikol


dengan bakteri uji
Escherichia coli
adalah 5-15 g/mL2.Dengan menggunakan cara dilusi, bakteri uji
Escherichia coli

bersifat setengah peka terhadap antibiotika Kloramfenikol3.Dengan menggunakan cara dilusi,


konsentrasi hambat minimum (KHM) antibiotikatetrasiklin HCl terhadap bakteri
Staphylococus aureus
adalah < 1 g/mL4.Dengan menggunakan cara dilusi, bakteri
Staphylococus aureus
bersifat sangat peka terhadap antibiotika Tetrasiklin HCl5.Dengan menggunakan cara difusi agar,
bakteri uji
Staphylococus aureus
bersifat peka terhadap antibiotika Tertrasiklin HCl

Daftar Pustaka
E. Indra Pradhika, 2011.Feng, Peter, S. D. Weagant, and M. A. Grant. 2002. Enumeration of
Escherichia coli andthe Coliform Bacteria. BAM (Bacteriological Analytical Manual), Chapter 4. FDA
(Foodand Drug Administration).http://id.wikipedia.orghttp://www.scribd.comTim Penyusun
Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Pancasila. 2012.Penuntun Praktikum
Mikrobiologi. Jakarta: FFUP.

Bakteri penghasil antibiotik


Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya
hambat terhadap kegiatan mikroorganisme lain. Beberapa bakteri yang menghasilkan
antibiotik adalah:
Bacillus brevis, menghasilkan terotrisin
Bacillus subtilis, menghasilkan basitrasin
Bacillus polymyxa, menghasilkan polimixin

Materi BAB III - BIOTEKNOLOGI DALAM BIDANG KEDOKTERAN DAN FARMASI


3.2. Produksi Antibiotik oleh Mikroorganisme

Antibiotik merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Penisilin dihasilkan oleh jamur
Penicillium notatum. Penisilin merupakan antibiotik pertama yang ditemukan oleh Alexander Fleming tahun 1928, d
kemudian dikembangkan oleh Harold Florey pada tahun 1938. Penisilin telah diproduksi dan dipasarkan pada tahun

Antibiotik sepalosporin C dihasilkan oleh jamur Cephalosporium. Sepalosporin C merupakan antibiotik mengunt
yang dapat membunuh bakteri yang tahan terhadap penisilin. Antibiotik Streptomisin dihasilkan oleh jamur Strept
griseus yang dapat membunuh bakteri patogen yang tahan terhadap penisilin atau sepalosporin. Streptomisi
digunakan untuk mengobati penyakit tuberkulosis.

Antibiotik tidak secara langsung dikode oleh gen, tetapi dibuat di dalam sel dengan reaksi katalis enzim. Enzim
berdasarkan instruksi gen spesifik. Dengan teknologi fusi sel akan terjadi kombinasi gen dan sintesis enzim-enzim
sehingga mikroba dapat menghasilkan antibiotik baru. Saat ini telah banyak dihasilkan bermacam-macam antibioti
kemoterapi kanker, anti bakteri, anti amuba, pengawet makanan, dan anti fungi seperti yang tercantum dalam tabel
ini.
Tabel 3.1. Beberapa Antibiotik yang Penting Secara Ekonomi.
Antibiotik

Mikroorganisme Penghasil

Fungsi

Aklasinomisin A

Streptomyces antibioticus

Anti Tumor

Aktinomisin D

Streptomyces antibioticus

Anti Tumor

Basitrasin

Bacillus sp

Anti Bakteri

Bleomisin

Streptomyces verticillium

Anti Kanker

Daurubisin

Streptomyces peucetius

Anti Protozoa

Fumagilin

Aspergillus sp

Pembunuh Amuba

Grisovulvin

Penicillium sp

Anti Fungi

Kloramfenikol

Cephalosporium sp

Anti Bakteri

Mitomisin C

Streptomyces lavendulae

Anti Tumor

Mitramisin

Streptomyces argillaceus

Anti Tumor

Nata

Streptomyces

Pengawet Makanan

Nisin

Streptomyces

Pengawet Makanan

Penisilin G

Penicillium sp

Anti Bakteri

Rifomisin

Nocordia sp

Anti TBC

Sepalosporium

Acremonium sp

Anti Bakteri

Streptomisin

Streptomyces sp

Anti Bakteri

Tetrasiklin

Streptomyces sp

Anti Bakteri

https://sites.google.com/site/emodulbiologi/materi/bab-iii---bioteknologi-dalam-bidangkedokteran-dan-farmasi/3-2-produksi-antibiotik-oleh-mikroorganisme

1.1 Latar Belakang


Mikroorganisme yang berada di sekitar kita bermacam-macam ada yang menguntungkan dan ada
yang merugikan bagi makhluk hidup, khususnya pada manusia. Mikroorganisme misalnya bakteri
ada yang bersifat patogen dan non patogen. Bakteri patogen adalah bakteri yang dapat
menyebabkan penyakit tertentu, sedangkan bakteri non patogen adalah bakteri yang tidak
menyebabkan penyakit. Adanya bakteri patogen membuat peneliti mulai mengembangkan
pengetahuan mengenai resistensi suatu bakteri dan menemukan zat antimikrobia yang kemudian
memudahkan manusia untuk mengendalikan pertumbuhan suatu bakteri.
Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme (khususnya dihasilkan
oleh fungi) atau dihasilkan secara sintetik yang dapat membunuh atau menghambat perkembangan
bakteri dan organisme lain (Chaidir, 1994). Tiap-tiap antibiotik memiliki efektivitas yang berbedabeda terhadap mikroorganisme (bakteri). Beberapa antibiotik dapat bekerja dengan baik pada
bakteri gram negatif dan beberapa antibiotik lainnya ada yang lebih efektif pada bakteri gram positif.
Cara mmengetahui efektivitas suatu antibiotik dengan mengetahui tingkat resistensi bakteri
terhadap antibiotik dapat dilakukan dengan uji Kirby-Bauer. Prinsip dasarnya adalah dengan
meletakkan disk yang telah mengandung antibiotik dengan konsentrasi dan kadar tertentu pada
media agar yang telah ditanam bakteri uji. Zona hambat/ bening yang dihasilkan disekitar disk inilah
yang digunakan sebagai dasar penentuan tingkat resistensi.tingkat resisntensi bakteri dibedakan
menjadi 3 yakni: sensitif, intermediet, dan resisten. Bakteri bersifat sensitif adalah jika terbentuk
zona bening pada saat diuji Kirby-Bauer, resisten adalah jika tidak terbentuk zona bening pada saat
diuji Kirby-Bauer, sedangkan intermediet adalah jika terbentuk zona bening pada saat diuji KirbyBauer dengan diameter yang kecil.
Berdasarkan hal tersebut, untuk mengetahui resistensi bakteri terhadap antibiotik (ampisilin) dan
mengetahui efektifitas antibiotik tersebut, maka dilakukan percobaan uji resistensi pada bakteri
(sampel air selokan) Fakultas MIPA, Universitas Negeri Surabaya.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah dibahas, dapat ditarik rumusan masalah yaitu:
a. Bagaimanakah cara menguji tingkat resistensi suatu bakteri terhadap antibiotik tertentu?
b. Bagaimanakah efektivitas antibiotik (Ampisilin) terhadap bakteri gram negatif berbentuk
monococcus dari sampel air selokan?

1.3 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
a. Mengetahui cara menguji tingkat resistensi suatu bakteri terhadap antibiotik tertentu.
b. Mengetahui efektivitas suatu antibiotik terhadap bakteri uji.

1.4 Manfaat
Manfaat dari praktikum uji resistensi ini adalah :
a. Dapat memberikan pengetahuan cara menguji resistensi suatu bakteri.
b. Dapat memberikan pengetahuan mengenai sifat antibiotik yang memiliki efektivitas berbedabeda terhadap suatu jenis bakteri.
c. Dapat memberikan pengetahuan bahwa konsentrasi antibiotik mempengaruhi besar kecilnya
zona hambat yang dihasilkan.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Mikroorganisme dapat ditemukan hampir di setiap lingkungan, termasuk lingkungan-lingkungan


dimana tidak ada kehidupan lain yang dapat bertahan hidup. Mikroorganisme mampu bertahan
hidup di berbagai kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Mereka juga mampu beradaptasi dengan
perubahan-perubahan lingkungan yang sangat ekstrim. Jenis-jenis mikroorganisme yang ditemukan
di suatu lingkungan mempunyai pertumbuhan yang berbeda-beda pula. Pertumbuhan
mikroorganisme sangat dipengaruhi oleh faktor fisik dan kimiawi. Selayaknya mahluk hidup,
mikroorganisme juga membutuhkan zat-zat tertentu untuk tumbuh dan juga memberikan respon
terhadap zat-zat yang merusak mereka. Bahan- bahan kimia baik organik maupun anorganik bersifat
racun bagi mikroorganisme. Bahan-bahan ini dapat menghambat atau mematikan mikroba yang
bersifat patogen dan merugikan manusia. Senyawa yang dapat menghambat mikroba disebut
senyawa antiseptik, sedangkan senyawa yang bisa mematikan mikroba disebut senayawa
desinfektan.
Salah satu senyawa antiseptik yang dapat menghambat pertumbuhan salah satu jenis mikroba
misalnya bakteri adalah antibiotik. Antibiotik atau dikenal juga sebagai obat anti bakteri merupakan
obat yang digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Alexander
Fleming pada tahun 1927 menemukan antibiotika yang pertama yaitu penisilin. Pada tahun 1940,
antibiotika dapat dikatakan merubah dunia pengobatan serta mengurangi angka kesakitan &
kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksi secara dramatis (Ganiswarna, 1995).
Pengertian dari antibiotika pada awalnya merujuk pada senyawa yang dihasilkan oleh jamur atau
mikroorganisme yang dapat membunuh bakteri penyebab penyakit pada hewan & manusia. Saat ini

beberapa jenis antibiotika merupakan senyawa sintetis (tidak dihasilkan dari mikororganisme) tetapi
juga dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Secara teknis, zat yang dapat
membunuh bakteri baik berupa senyawa sintetis atau alami disebut dengan zat antimikroba, akan
tetapi banyak orang yang menyebutnya dengan antibiotika. Antibiotika mempunyai manfaat yang
sangat banyak, penggunaan antibiotika secara berlebihan juga dapat memicu terjadinya resistensi
antibiotika (Wasitaningrum, 2009).
Resistensi antibiotika ialah kemampuan dari bakteri atau mikroorganisme lain untuk menahan efek
antibiotika. Resistensi antibiotika terjadi ketika bakteri dapat merubah diri sedemikian rupa hingga
dapat mengurangi efektifitas dari suatu obat, bahan kimia ataupun zat lain yang sebelumnya
dimaksudkan untuk menyembuhkan atau mencegah penyakit infeksi sehingga mengakibatkan bakeri
tersebut tetap dapat bertahan hidup. Bakteri dapat membentuk ketahanan khusus terhadap suatu
jenis antibiotika tertentu, sehingga membahayakan orang yang terkena penyakit tersebut.
Kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat yaitu adanya anggapan bahwa yang resisten
terhadap obat tertentu ialah tubuh seseorang, padahal sebenarnya bakteri yang ada di dalam tubuh
itulah yang menjadi resisten terhadap pengobatan, bukan tubuhnya (Stainier, et al., 1986).
Cara pengujian resistensi mikroba terhadap suatu jenis antibiotik dapat dilakukan dengan uji
resistensi. Teknik ini menggunakan zat kimia untuk mengurangi dan membunuh mikroorganisme,
terutama mikroba yang patogen. Metode yang biasa dipakai adalah metode Metode Kirby-Bauer
yang merupakan cara untuk menentukan sensitifitas antibiotik untuk bakteri. Sensitifitas suatu
bakteri terhadap antibiotik ditentukan oleh diameter zona hambat terbentuk. Semakin besar
diameternya maka semakin terhambat pertumbuhannya.
Faktor-faktor yang berpengaruh pada metode Kirby-Bauer adalah:
a. Ketebalan media agar
Dapat mempengaruhi penyebaran dan difusi antibiotik yang digunakan.
b. Umur bakteri
Bakteri yang berumur tua (fase stationer) tidak efektif untuk diuji karena mendekati kematian dan
tidak terjadi pertumbuhan lagi sehingga yang dipakai bekteri berumur sedang (fase eksponential)
karena aktivitas metabolitnya tinggi, pertumbuhan cepat sehingga lebih peka terhadapa daya kerja
obat dan hasilnya lebih akurat.
c. Waktu inkubasi
Waktu yang cukup supaya bakteri dapat berkembang biak dengan optimal dan cepat. Waktunya
minimal 16 jam.
d. pH, temperature
Bakteri memiliki pH dan temperature optimal untuk tumbuh yang berbeda-beda sehingga sebaiknya
dilakukan saat pH dan temperature yang optimal.
e. Konsentrasi antibiotik

Semakin besar konsentrasinya semakin besar diameter hambatannya..


f.

Jenis antibiotik

setiap bakteri memiliki respon yang berbeda-beda terhadap antibiotiknya, tergantung sifat
antibiotik tersebut (berspektrum luas/berspektrum sempit).

Bakteri dapat membentuk ketahanan khusus terhadap suatu jenis antibiotika tertentu, sehingga
membahayakan orang yang terkena penyakit tersebut. Kesalahpahaman yang sering terjadi di
masyarakat yaitu adanya anggapan bahwa yang resisten terhadap obat tertentu ialah tubuh
seseorang, padahal sebenarnya bakteri yang ada di dalam tubuh itulah yang menjadi resisten
terhadap pengobatan, bukan tubuhnya (Sinaga, 2005).
Setiap bakteri memiliki respon yang berbeda-beda terhadap antibiotiknya, tergantung sifat antibiotik
tersebut (berspektrum luas/berspektrum sempit). Ampicillin merupakan salah satu antibiotik yang
termasuk golongan penisilin semi-sintetik yang berasal dari inti penisilin yaitu asam 6-amino
penisilat (6-APA) dan merupakan antibiotik spektrum luas yang bersifat bakterisid. Secara klinis,
ampicillin efektif terhadap bakteri gram-positif seperti S. pneumonia, enterokokus dan stafilokokus
yang tidak menghasilkan penisilinase, sedangkan pada bakteri gram-negatif, diantaranya gonokokus,
H. influenza, beberapa jenis E.coli, Shigella, Salmonella dan P. mirabilis. Seperti golongan penicillin
lainnya, ampicillin bekerja dengan menghambat sintesis dinding sel yaitu dengan menyerang
peptidoglikan dan mampu melakukan penetrasi pada bakteri gram positif dan gram negatif.
Keberadaan gugus amino pada Ampicillin membuatnya mampu menembus membran terluar (outer
membran) pada bakteri (Brander, et al., 1991).
Ampisilin termasuk antibiotik yang bersifat bakterisidal dan memiliki mekanisme kerja yang secara
umum menyebabkan kerusakan dinding sel bakteri. Mekanisme kerja ampicilin antara lain:
1. Penghambatan sintesis dinding sel bakteri dengan menghambat transpeptidasi sintesis
peptidoglikan pada aksi enzim transpeptidase bakteri. Transpeptidase merupakan enzim yang
bekerja dalam proses cross-linking dari rantai peptida dalam membentuk senyawa peptidoglikan
yang terjadi pada tahap akhir pembentukan dinding sel (Essack, 2001; Chamber, 2004). Proses Cross
linking tersebut digunakan dalam integritas struktur dinding sel bakteri.
2. Perlekatan obat pada protein spesifik pengikat penisilin atau Penicillin-Binding Protein (PBP)
yang berlaku sebagai reseptor obat pada bakteri.
3. Aktivasi enzim autolitik pada dinding sel akibat perlekatan obat pada PBP. Aktivasi tersebut
menyebabkan lisis dinding sel bakteri (Jawetz, 1997; Dzen et. al., 2003).

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN


Praktikan melaksanakan praktikum uji resitensi bakteri pada hari kamis tanggal 4 april 2013.
Praktikan melaksanakan praktikum tersebut di Laboratorium Mikrobiologi Dasar, Gedung C9,
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya.

3.2 ALAT DAN BAHAN


A.

Alat

Cawan petri 2 buah

Kertas hisap (paper disc) 12 buah

B.

Bahan

Media taoge agar

Media taoge cair

Bakteri uji 2 ml

Antibiotik amphicillin 500 mg

3.3 PROSEDUR KERJA


a.

Dilakukan peremajaan/ sub culture bakteri uji yang akan digunakan pada media taoge cair.

b.

Diinkubasi pada suhu 28-30C selama 24 jam.

c.
Diambil 1 ml kultur bakteri, kemudian dimasukkan ke dalam cawan petri steril (dilakukan
secara duplo).
d.

Media taoge agar dituangkan ke dalam cawan petri, kemudian dihomogenkan.

e.
Membuat paper disc dari kertas hisap berbentuk lingkaran dengan diameter kurang dari 1 cm,
kemudian direndam dalam antibiotik dengan konsentrasi 50 mg/ml, 25 mg/ml, dan 5 mg/ml (tiap
konsentrasi 3-4 paper disc).
f.
Kertas hisap yang telah direndam diletakkan pada media Taoge Agar yang telah ditanami
bakteri uji (langkah no.4), diberi tanda pada bagian luar cawan supaya tidak tertukar.
g.

Diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 28-30C.

h.

Diamati zona hambat/zona bening yang terbentuk, kemudian diukur diameternya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 4.1. Pengamatan Uji Resistensi Pada Cawan Petri
Identifikasi
Uji Resistensi Cawan A
Uji Resistensi Cawan B
Gambar

25
mg/ml
50
mg/ml
5 mg/ml

25
mg/ml
50

mg/ml
5 mg/ml

Mikroorganisme
Bakteri
(sampel air selokan depan gedung C3- FMIPA)
Bakteri
(sampel air selokan depan gedung C3- FMIPA)
Morfologi
Karakteristik optik: Opaque
Bentuk: punctiform
Elevasi: raised
Bentuk tepian: entire
Karakteristik optik: Opaque
Bentuk: punctiform
Elevasi: raised
Bentuk tepian: entire
Bentuk sel
Coccus (bulat)
Coccus (bulat)
Susunan sel
Monococcus
Monococcus
Gram positif (+) atau negatif (-)
Negatif (-)
Negatif (-)
Diameter zona hambat

Konsentrasi 50 mg/mL: 1,6 cm


Konsentrasi 25 mg/mL: 1,3 cm
Konsentrasi 5 mg/mL: 1,1 cm
Konsentrasi 50 mg/mL: 1,5 cm
Konsentrasi 25 mg/mL: 1,2 cm
Konsentrasi 5 mg/mL: 1,1cm
Keterangan: diameter paper disk = 0,5 cm

Hasil yang kami dapatkan dari uji resistensi berupa reaksi dari bakteri terhadap antibiotik, sensitif
atau resisten, dapat dilihat dari zona inhibitor yang terbentuk. Terdapat perbedaan besar zona
hambat/ zona bening yang terbentuk sebagai respon terhadap perbedaan pengenceran antibiotik.
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa besarnya pengenceran berbanding lurus dengan besarnya zona
hambat/zona yang terbentuk. Semakin besar pengenceran (50 mg/ml) maka semakin besar diameter
zona hambat/ zona bening yang terbentuk.

4.2 Pembahasan
Percobaan ini bertujuan agar mahasiswa dapat melakukan uji sensitifitas mikroba terhadap
antibiotik dengan metode Kirby-Bauer dan menentukan mikroba uji termasuk sensitif atau resisten
terhadap antibiotik yang diujikan.
Pada percobaan ini kadar antibiotik ditentukan dengan metode Kirby-Bauer, yaitu pengukuran
sensitifitas antibiotik dengan metode paper disk yang berisi agen antimikroba pada media yang telah
ditanami mikroba dan akan berdifusi pada media agar. Daerah jernih disekitar paper disk merupakan
hambatan mikroba oleh antibiotik pada permukaan agar. Metode Kirby-Bauer merupakan cara
untuk menentukan sensitifitas antibiotik untuk bakteri. Sensitifitas suatu bakteri terhadap antibiotik
ditentukan oleh diameter zona hambat terbentuk. Semakin besar diameternya maka semakin
terhambat pertumbuhannya.
Dalam percobaan uji resistensi ini, antibiotik yang digunakan adalah ampicillin 500 gram yang
didapatkan zona hambat/zona bening. Hal tersebut menunjukan bahwa bakteri sensitif terhadap
antibiotik ampicilin 500 gram, dapat dilihat dengan adanya zona jernih/zona hambat yang
mengindikasikan bahwa bakteri sensitif terhadap antibiotik ampicilin. Ampicillin bekerja dengan
menghambat sintesis dinding sel yaitu dengan menyerang peptidoglikan dan mampu melakukan
penetrasi pada bakteri gram positif dan gram negatif. Hal ini disebabkan keberadaan gugus amino
pada Ampicillin, sehingga membuatnya mampu menembus membran terluar (outer membran) pada
bakteri. Percobaan yang dilakukan telah sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa semakin

tinggi konsentrasi dari antibiotika maka akan semakin besar zona jernih yang terbentuk
(Dwidjoseputro., 2003).
Ampisilin termasuk antibiotik yang bersifat bakterisidal dan memiliki mekanisme kerja yang secara
umum menyebabkan kerusakan dinding sel bakteri. Mekanisme kerja antibiotik tersebut antara lain:
1. Penghambatan sintesis dinding sel bakteri dengan menghambat transpeptidasi sintesis
peptidoglikan pada aksi enzim transpeptidase bakteri. Transpeptidase merupakan enzim yang
bekerja dalam proses cross-linking dari rantai peptida dalam membentuk senyawa peptidoglikan
yang terjadi pada tahap akhir pembentukan dinding sel (Essack, 2001; Chamber, 2004). Proses Cross
linking tersebut digunakan dalam integritas struktur dinding sel bakteri.
2. Perlekatan obat pada protein spesifik pengikat penisilin atau Penicillin-Binding Protein (PBP)
yang berlaku sebagai reseptor obat pada bakteri.
3. Aktivasi enzim autolitik pada dinding sel akibat perlekatan obat pada PBP. Aktivasi tersebut
menyebabkan lisis dinding sel bakteri (Jawetz, 1997; Dzen et. al., 2003).
Perbedaan luas/lebar diameter zona hambat pada cawan A dengan cawan B disebabkan oleh
beberapa faktor, antara lain kurang halusnya dalam proses penggerusan antibiotik, konsentrasi
antibiotik yang diserap oleh paper disk pada cawan A berbeda dengan paper disk pada cawan B
karena larutan antibiotik pada tiap konsentrasi kurang homogen, volume spet yang disediakan tidak
sesuai dengan volume yang dibutuhkan serta adanya media Taoge Agar (TA) yang menggumpal
ketika di tuangkan pada cawan petri.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan

Bakteri memiliki tingkat resistensi yang berbeda-beda terhadap antibiotik yang diberikan tergantung
dari sifat/karakteristik bakteri uji serta jenis dan konsentrasi antibiotik. Bakteri bersifat sensitif
apabila menghasilkan zona hambat/zona bening ketika diuji dengan antibiotik. Antibiotik semakin
efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri apabila semakin luas/lebar zona hambat yang
terbentuk yang terjadi akibat semakin tinggi konsentrasi antibiotik yang digunakan.

5.2.

Saran

Agar zona hambat yang dihasilkan membentuk struktur yang bulat sempurna (diameter tiap sisinya
sama atau hampir sama) supaya mudah diamati praktikan harus berhati-hati ketika meletakkan
paper disc (yang telah dicelupkan ke larutan antibiotik) dalam suspensi bakteri pada cawan petri.
Pemilihan kertas yang digunakan sebagai disc harus dipilih jenis kertas yang dapat menyerap
sempurna larutan antibiotik, misalnya kertas saring.

DAFTAR PUSTAKA

Brander, G.C., Pugh, D.M., Bywater, R.J. and Jenkins, W.L. 1991. Veterinary Applied Pharmacology
and Therapeutics, 5th ed. The English Language Book Society, Bailliere Tindal, London.

Chaidir J, Munaf S. 1994. Obat antimikroba. In : Munaf S, eds. Farmakologi Unsri. Jakarta : EGC.

Chambers, H. F. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. 8th ed. Jakarta: Salemba Medika.

Dwijaseputro. 1987. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Universitas Brawijaya. Djambatan :


Malang.Hadioetomo, Ratna Siri. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. PT
Gramedia
PustakaUtama : Jakarta

Dzen, Sjoekoer M; Roekistiningsih; Santoso, Sanarto; Winarsih, Sri; Sumarno; Islam,


Samsul, A.S.
Noorhamdani; Murwani, Sri; Santosaningsih, Dewi. 2003. Bakteri
Bentuk Batang. Bakteriologi
Medik. Malang: Bayumedia. Pp 189

Essack, S.Y., 2001. The Development of Beta-Lactam Antibiotics in Response to the


Lactamases. Pharmaceutical Research. 18(10): 1391-99.

Evolution of-

Fleming, Alexander (1980). On the antibacterial action of cultures of a penicillium, with special
reference to their use in the isolation of B. influenza.. Clin Infect Dis 2 (1):129-39.

Jawet, Melnik dan Adelberg. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Jawet E. 1998. Prinsip kerja obat antimikroba. In : Katzung B, eds. Farmakologi dasar dan klinik.
Jakarta : EGC.

Wasitaningrum, I. D. A., 2009. Uji Resistensi Bakteri Staphylococcus Aureus dan Escherichia Coli Dari
Isolat Susu Sapi Segar Terhadap Beberapa Antibiotik. Skripsi. Tidak dipublikasikan. Surakarta:
Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sensitivitas bakteri terhadap antibiotik tergantung kapada kemampuan antibiotik


tersebut untuk menembus dinding sel bakteri. Antibiotik lebih banyak yang efektif bekerja
terhadap bakteri Gram positif karena permeabilitas dinding selnya lebih tinggi dibandingkan
bakteri Gram negatif. Jadi suatu antibiotik dikatakan mempunyai spektrum sempit apabila
mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif, sedangkan antibiotik berspektrum
luas jika pertumbuhan bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif dapat dihambat oleh
antibiotik tersebut (Sumadio, dkk. 1994).