Anda di halaman 1dari 19

TINJAUAN PUSTAKA

Defenisi Fraktur
Batasan yang dikemukakan oleh para ahli tentang fraktur. Fraktur menurut
Smeltzer (2002) adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya. Menurut Sjamsuhidayat (2005), fraktur atau patah tulang adalah
terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya
disebabkan oleh rudapaksa. Doengoes (2000) memberikan batasan, fraktur adalah
pemisahan atau patahnya tulang. Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan
oleh trauma atau tenaga fisik (Price, 1995). Fraktur menurut Reeves (2001),
adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. Fraktur adalah hilangnya
kontinuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian
(Chairudin Rasjad, 1998).
Fraktur dikenal dengan istilah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau
tenaga fisik. Kekuatan, sudut, tenaga, keadaan tulang, dan jaringan lunak di
sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi disebut lengkap atau
tidak lengkap. Fraktur lengkap terjadi apabila seluruh tulang patah, sedangkan
fraktur tidak lengkap tidak melibatkan seluruh ketebalan tulang (Sylvia A. price,
1999). Pada beberapa keadaan trauma muskuloskeletal, sering fraktur dan
dislokasi terjadi bersamaan. Dislokasi atau luksasio adalah kehilangan hubungan
yang normal antara kedua permukaan sendi secara komplet/lengkap (Jeffrey M.
spivak et al.,1999). Fraktur dislokasi diartikan dengan kehilangan hubungan yang
normal antara kedua permukaan sendi disertai fraktur tulang persendian tersebut
(Jeffrey M. Spivak et al., 1999).
Disimpulkan bahwa, fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau
patahnya tulang yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma/rudapaksa atau
tenaga fisik yang ditentukan jenis dan luasnya trauma.

Etiologi
Fraktur dapat terjadi akibat adanya tekanan yang melebihi kemampuan tulang
dalam menahan tekanan. Tekanan pada tulang dapat berupa tekanan berputar yang
menyebabkan fraktur bersifat spiral atau oblik, tekanan membengkok yang

menyabkan fraktur transversal, tekanan sepanjang aksis tulang yang menyebabkan


fraktur impaksi, dislokasi, atau fraktur dislokasi, kompresi vertical dapat
menyebabkan fraktur kominutif atau memecah, misalnya pada badan vertebra,
talus, atau fraktur buckle pada anak-anak (Arif muttaqin, 2008). Fraktur
disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak, dan
bahkan kontraksi otot ekstrem (Smeltzer, 2002).
Umumnya fraktur disebabkan oleh trauma di mana terdapat tekanan yang
berlebihan pada tulang. Fraktur cenderung terjadi pada laki-laki, biasanya fraktur
terjadi pada umur di bawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga,
pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor.
Pada orang tua, perempuan lebih sering mengalami fraktur daripada laki-laki yang
berhubungan dengan meningkatnya insiden osteoporosis yang terkait dengan
perubahan hormone pada menopause (Reeves, 2001).

Manifestasi klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan
ekstremitas, krepituis, pembekakan lokal, dan perubahan warna (smeltzer, 2002).
Gejala umum fraktur menurut Reeves (2001) adalah rasa sakit, pembengkakan,
dan kelainan bentuk.
a. Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang di
imobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk badai alamiah
yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.
b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian yang tak dapat digunakan dan cendrung
bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya tetap rigid seperti
normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan atau tungkai menyebabkan
deformitas (terlihat maupun teraba) ekstermitas yang bisa diketahui dengan
membandingkan ekstermitas normal.ekstermitas tak dapat berfungsi dengan baik
karena fungsi normal otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya
otot.
c. Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena
kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering
Saling melingkupi satu sama lain sampai 2,5-5 cm (1-2 inchi).

d. Saat ekstermitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang


dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang
lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih
berat.
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat
trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa baru terjadi setelah
beberapa jam atau hari setelah cedera.

Klasifikasi fraktur
Fraktur diklasifikasikan dalam beberapa keadaan berikut.
a. Fraktur traumatik. Terjadi karena trauma yang tiba-tiba mengenai tulang
dengan kekuatan yang besar dan tulang tidak mampu menahan trauma tersebut
sehingga terjadi patah.
b. Fraktur patologis. Terjadi karena kelemahan tulang tulang sebelumnya akibat
kelainan patologis di dalam tulang. Fraktur patologis terjadi pada daerah-daerah
tulang yang menjadi lemah karena tumor atau proses patologis lainnya. Tulang
sering kali menunjukkan penurunan densitas. Penyebab yang paling sering dari
fraktur-fraktur semacam ini adalah tumor, baik tumor primer maupun metastasis.
c. Fraktur stress. Terjadi karena adanya trauma yang terus-menerus pada suatu
tempat tertentu.

Gambar 2.1 gambaran skematis secara klinis dari fraktur

Klasifikasi jenis sangat umum digunakan dalam konsep fraktur pada beberapa
sumber. Jenis-jenis fraktur tersebut adalah simple fraktur (fraktur tertutup),
compound

fracture

(fraktur

terbuka),

transverse

fraktur

(fraktur

transversal/sepanjang garis tengah tulang), spiral fraktur (fraktur yang memuntir


seputar batang tulang), impact fraktur (fragmen tulang terdorong ke fragmen
tulang lain), greenstick fraktur (salah satu tulang patah, sedangkan sisi lainnya
membengkok), comminuted fraktur (tulang pecah menjadi beberapa fragmen).
Secara umum, keadaan fraktur secara klinis dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Fraktur tertutup (simple fraktur). Fraktur tertutup adalah fraktur yang fragmen
tulangnya tidak menembus kulit sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh
lingkungan/tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar.
b. Fraktur terbuka (compound fraktur). Fraktur terbuka adalah fraktur yang
mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan
lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam), atau from without (dari luar).

Komplikasi Fraktur
a. Komplikasi dini
Komplikasi dini adalah kejadian komplikasi dalam satu minggu pasca trauma,
sedangkan apabila kejadiannya sesudah satu minggu pasca trauma disebut
komplikasi lanjut.
1) Pada Tulang
a) Infeksi, terutama pada fraktur terbuka.
b) Osteomielitis dapat diakibatkan oleh fraktur terbuka atau tindakan operasi pada
fraktur tertutup. Keadaan ini dapat menimbulkan delayed union atau bahkan non
union.

Komplikasi sendi dan tulang dapat berupa artritis supuratif yang sering terjadi
pada fraktur terbuka atau pasca operasi yang melibatkan sendi sehingga terjadi
kerusakan kartilago sendi dan berakhir dengan degenerasi.
2) Pada Jaringan lunak
a) Lepuh, Kulit yang melepuh adalah akibat dari elevasi kulit superfisial karena
edema. Terapinya adalah dengan menutup kasa steril kering dan melakukan
pemasangan elastik.
b) Dekubitus, terjadi akibat penekanan jaringan lunak tulang oleh gips. Oleh
karena itu perlu diberikan bantalan yang tebal pada daerah-daerah yang menonjol
3) Pada Otot
Terputusnya serabut otot yang mengakibatkan gerakan aktif otot tersebut
terganggu. Hal ini terjadi karena serabut otot yang robek melekat pada serabut
yang utuh, kapsul sendi dan tulang. Kehancuran otot akibat trauma dan terjepit
dalam waktu cukup lama akan menimbulkan sindroma crush atau trombus (Apley
& Solomon, 1993).
4) Pada pembuluh darah
Pada robekan arteri inkomplit akan terjadi perdarahan terus menerus. Sedangkan
pada robekan yang komplit ujung pembuluh darah mengalami retraksi dan
perdarahan berhenti spontan. Pada jaringan distal dari lesi akan mengalami iskemi
bahkan nekrosis. Trauma atau manipulasi sewaktu melakukan reposisi dapat
menimbulkan tarikan mendadak pada pembuluh darah sehingga dapat
menimbulkan spasme. Lapisan intima pembuluh darah tersebut terlepas dan
terjadi trombus pada kompresi arteri yang lama seperti pemasangan torniquet
dapat terjadi sindrome crush. Pembuluh vena yang putus perlu dilakukan repair
untuk mencegah kongesti bagian distal lesi (Apley & Solomon, 1993)
5) Pada saraf
Berupa kompresi,

neuropraksi,

neurometsis

(saraf putus),

aksonometsis

(kerusakan akson). Setiap trauma terbuka dilakukan eksplorasi dan identifikasi


nervus (Apley & Solomon,1993).
b. Komplikasi lanjut

Pada tulang dapat berupa mal union, delayed union atau non union. Pada
pemeriksaaan terlihat deformitas berupa angulasi, rotasi, perpendekan atau
perpanjang.
1) Delayed union
Proses penyembuhan lambat dari waktu yang dibutuhkan secara normal. Pada
pemeriksaan radiografi, tidak akan terlihat bayangan sklerosis pada ujung-ujung
fraktur, Terapi konservatif selama 6 bulan bila gagal dilakukan Osteotomi. Lebih
20 minggu dilakukan cancellus grafting (12-16 minggu).
2) Non union
Dimana secara klinis dan radiologis tidak terjadi penyambungan. Tipe I
(hypertrophic non union) tidak akan terjadi proses penyembuhan fraktur dan
diantara fragmen fraktur tumbuh jaringan fibrus yang masih mempunyai potensi
untuk union dengan melakukan koreksi fiksasi dan bone grafting. Tipe II (atrophic
non union) disebut juga sendi palsu (pseudoartrosis) terdapat jaringan sinovial
sebagai kapsul sendi beserta rongga sinovial yang berisi cairan, rosesunion tidak
akan dicapai walaupun dilakukan imobilisasi lama.
3) Mal union
Penyambungan fraktur tidak normal sehingga menimbulkan deformitas. Tindakan
refraktur atau osteotomi koreksi.
4) Osteomielitis
Osteomielitis kronis dapat terjadi pada fraktur terbuka atau tindakan operasi pada
fraktur tertutup sehingga dapat menimbulkan delayed union sampai non union
(infected non union). Imobilisasi anggota gerak yang mengalami osteomielitis
mengakibatkan terjadinya atropi tulang berupa osteoporosis dan atropi otot.
5) Kekakuan sendi
Kekakuan sendi baik sementara atau menetap dapat diakibatkan imobilisasi lama,
sehingga terjadi

perlengketan peri artikuler,

perlengketan intraartikuler,

perlengketan antara otot dan tendon. Pencegahannya berupa memperpendek


waktu imobilisasi dan melakukan latihan aktif dan pasif pada sendi. Pembebasan
periengketan secara pembedahan hanya dilakukan pada penderita dengan
kekakuan sendi menetap (Apley & Solomon,1993).

Faktor penyembuhan tulang


Faktor-faktor yang menentukan lama penyembuhan fraktur adalah sebagai
berikut.
a) Usia penderita. Waktu penyembuhan tulang anak-anak jauh lebih cepat
daripada orang dewasa. Hal ini terutama disebabkan aktivitas proses osteogenesis
pada periosteum dan endosteum serta proses pembentukan tulang pada bayi
sangan aktif. Apabila usia bertambah, proses tersebut semakin berkurang.
b) Lokalisasi dan konfigurasi fraktur. Lokalisasi fraktur memegang peranan
penting. Penyembuhan fraktur metafisis lebih cepat daripada fraktur diafisis. Di
samping itu, konfigurasi fraktur seperti fraktur transversal lebih lambat
penyembuhannya dibandingkan dengan fraktur oblik karena kontak yang lebih
banyak.
c) Pergeseran awal fraktur. Pada fraktur yang periosteumnya tidak bergeser,
penyembuhannya dua kali lebih cepat dibandingkan dengan fraktur yang bergeser.
d) Vaskularisasi pada kedua fragmen. Apabila kedua fragmen mempunyai
vaskularisasi yang baik, penyembuhannya tanpa komplikasi. Bila salah satu sisi
fraktur memeiliki vaskularisasi yang jelek sehingga mengalami kematian,
pembentukan union akan terhambat atau mungkin terjadi nonunion.
e) Reduksi serta imoblisasi. Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan
untuk vaskularisasi yang lebih baik dalam bentuk asalnya. Imobilisasi yang
sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan pembuluh darah yang
menggangu penyembuhan fraktur.
f) Waktu imobilisasi. Bila imoblisasi tidak dilakukan sesuai waktu penyembuhan
sebelum terjadi union, kemungkinan terjadinya nonunion sangat besar.
g) Ruangan di antara kedua fragmen serta interposisi jaringan, baik berupa
periosteum maupun otot atau jaringan fibrosa lainnya akan mengahambat
vaskularisasi kedua ujung fraktur.
h) Faktor adanya infeksi dan keganasan lokal.
i) Cairan sinovial. Cairan sinovial yang terdapat pada persendian merupakan
hambatan dalam penyembuhan fraktur.
j) Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak. Gerakan aktif dan pasif pada
anggota gerak akan meningkatkan vaskularisasi daerah fraktur. Akan tetapi,

gerakan yang dilakukan pada daerah fraktur tanpa imobilisasi yang baik juga akan
menggangu vaskularisasi. Penyembuhan fraktur berkisar antara tiga minggu
sampai empat bulan. Secara kasar, waktu penyembuhan pada anak waktu
penyembuhan orang dewasa. Faktor lain yang mempercepat adalah penyembuhan
fraktur adalah nutrisi yang baik, hormone-hormon pertumbuhan, tiroid, kalsitonin,
vitamin D, dan steroid anabolic, seperti kortikosteroid (menghambat kecepatan
perbaikan).
Pemeriksaan Penunjang
a. Radiografi pada dua bidang (cari lusensi dan diskontinuitas pada korteks
tulang).
b. Tomografi, CT Scan, MRI (jarang).
c. Ultrasonografi dan scan tulang dengan radioisotop. (Scan tulang terutama
berguna ketika radiografi/ CT Scan memberikan hasil negatif pada kecurigaan
fraktur secara klinis

Prinsip Dan Metode Pengobatan Fraktur


1. Prinsip Penanganan Fraktur
Prinsip penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalian fungsi
serta kekuatan normal dengan rehabilitasi (smeltzer, 2002). Reduksi fraktur berarti
mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis. Metode
untuk mencapai reduksi fraktur adalah dengan reduksi tertutup, traksi, dan reduksi
terbuka. Metode yang dipilih untuk mereduksi fraktur bergantung pada sifat
frakturnya.
Ada kebanyakan kasus, reproduksi tertutupdilakukan dengan mengembalikan
fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan
manipulasi dan traksi manual. Selanjutnya, traksi dapat dilakukan untuk
mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan
spasme otot yang terjadi. Pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka.
Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam
bentuk pin, kawat, skrup, paku atau batangan logam dapat digunakan untuk
mempertahankan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang
solid terjadi.

Tahapan selanjutnya setelah fraktur direduksi adalah mengimobilisasi dan


mempertahankan fragmen tulang dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai
terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi interna dan eksterna.
Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin, dan
tehnik gips. Sedangkan implant logam digunakan untuk fiksasi interna.
Mempertahankan dan mengembalikan fragmen tulang, dapat dilakukan dengan
mempertahankan reduksi dan imobilisasi. Pantau status neurovaskular, latihan
isometrik, dan memotivasi klien intuk berpartisipasi dalam memperbaiki
kemandirian fungsi dan harga diri.

2. Prinsip-Prinsip Pengobatan Fraktur


1) Penatalaksanaan awal
Sebelum dilakukan pengobatan defenitif pada satu fraktur, maka diperlukan:

a) Pertolongan pertama
Pada penderita fraktur yang penting dilakukan adalah membersihkan jalan napas,
menutup luka dengan verban bersih dan imobilisasi fraktur pada anggota gerak
yang terkena agar penderita merasa nyaman dan mengurangi nyeri sebelum
diangkut dengan ambulans.
b) Penilaian klinis
Sebelum menilai fraktur itu sendiri, perlu dilakukan penilaian klinis, pakah luka
itu tembus tulang, adakah trauma pembuluh darah/saraf ataukah trauma alat-alat
dalam yang lain.
c) Resusitasi
Kebanyakan penderita fraktur multiple tiba di rumah sakit dengan syok, sehingga
diperlukan resusitasi sebelum diberikan terapi pada frakturnya sendiri berupa
pemberian transfuse darah dan cairan lainnya serta obat-obat anti nyeri.

2) Prinsip umum pengobatan fraktur


Ada enam prinsip pengobatan fraktur :
a) Jangan membuat keadaan lebih jelek

Beberapa komplikasi fraktur terjadi akibat trauma yang antara lain disebabkan
karena pengobatan yang diberikan disebut sebagai iatrogenic. Hal ini perlu
diperhatikan oleh karena banyak kasus terjadi akibat penanganan dokter yang
menimbulkan komplikasi atau memperburuk keadaan fraktur yang ada sehingga
merupakan kasus malpraktek yang dapat menjadi kasus di pengadilan. Beberapa
komplikasi yang bersifat iatrogenic, dapat dihindarkan apabila kita dapat
mencegahnya dengan melakukan tindakan yang memadai seperti mencegah
kerusakan jaringan lunak pada saat transportasi penderita, serta luka terbuka
dengan perawatan yang tepat.
b) Pengobatan berdasarkan atas diagnosis dan prognosis yang akurat Dengan
melakukan diagnosis yang tepat pada fraktur, kita dapat menentukan prognosis
trauma yang dialami sehingga dapat dipilih metode pengobatan yang tepat.
Faktor-faktor yang penting dalam penyembuhan fraktur yaitu umur penderita,
lokalisasi dan konfogurasi, pergeseran awal serta vaskularisasi dari fragmen
fraktur. Perlu ditetapkan apakah fraktur ini memerlukan reduksi dan apabila perlu
apakah bersifat tertutup atau terbuka.
c) Seleksi pengobatan dengan tujuan khusus
(1) Menghilangkan nyeri
Nyeri timbul karena trauma pada jaringan lunak termasuk periosteum dan
endosteum. Nyeri bertambah bila ada gerakan pada daerah fraktur disertai spasme
otot serta pembengkakan yang progresif dalam ruang yang tertutup. Nyeri dapat
diatasi dengan imobilisasi fraktur dan pemberian analgetik.
(2) Memperoleh posisi yang baik dari fragmen
Beberapa fraktur tanpa pergeseran fragmen tulang atau dengan pergeseran yang
sedikit saja sehingga tidak diperlukan reduksi. Reduksi tidak perlu akurat secara
radiologic oleh karena kita mengobati penderita dan tidak mengobati gambaran
radiologic.
(3) Mengusahakan terjadinya penyambungan tulang Umumnya fraktur yangtelah
ditangani, dalam waktu singkat dapat terjadi proses penyembuhan. Pada fraktur
tertentu, bila terjadi kerusakan yang hebat pada periosteum/jaringan lunak
sekitarnya, kemungkinan diperlukan usaha agar terjadi union misalnya dengan
bone graft.

(4) Mengembalikan fungsin secara optimal


Penyembuhan fraktur dengan imobilisasi harus dipikirkan pencegahan atrofi pada
anggota gerak, sehingga perlu diberikan latihan yang bersifat aktif dinamik
(isotonik). Dengan latihan dapat pula dipertahankan kekuatan otot
serta sirkulasi darah.
(5) Bersifat realistik dan praktis dalam memilih jenis pengobatan
Dalam memilih pengobatan harus dipertimbangkan pengobatan yang realistik dan
praktis.
(6) Seleksi pengobatan sesuai dengan penderita secara individual
Setiap fraktur memerlukan penilaian pengobatan yang sesuai, yaitu dengan
mempertimbangkan faktor umur, jenis fraktur, komplikasi yang terjadi dan perlu
pula dipertimbangkan keadaan sosial ekonomi penderita secara individual.
Sebelum mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan definitive, prinsip
pengobatan ada empat (4R), yaitu:
1. Recognition; diagnosis dan penilaian fraktur
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur dengan
anamnesis, pemeriksaan klinik dan radioogis. Pada awal pengobatan perlu
diperhatikan:
a. Lokalisasi fraktur
b. Bentuk fraktur
c. Menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan
d. Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan

2. Reduction; reduksi fraktur apabila perlu


Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang dapat
diterima. Pada fraktur intraartikuler diperlukan reduksi anatomis dan sedapat
mungkin mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti
kekakuan, deformitas serta perubahan osteoartritis di kemudian hari. Posisi yang
baik adalah:
a. Alignment yang sempurna
b. Posisi yang sempurna

Fraktur seperti fraktur klavikula, iga dan fraktur impaksi dari humerus tidak
memerlukan reduksi angulasi < 5 pada tulang panjang anggota gerak bawah dan
lengan atas dan angulasi sampai 10 pada humerus dapat diterima. Terdapat
kontak sekurang-kurangnya 50%, dan over-riding tidak melebihi 0,5 inchi pada
fraktur femur. Adanya rotasi tidak dapat diterima dimanapun lokalisasi fraktur.
3. Retention; Imobilisasi fraktur
4. Rehabilitation; mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin.

Metode-Metode Pengobatan Fraktur


1) Fraktur tertutup
Metode pengobatan fraktur pada umumnya dibagi dalam:
a) Konservatif
b) Reduksi tertutup dengan fiksasi eksterna atau fiksasi kutaneus
c) Reduksi terbuka dan fiksasi interna atau fiksasi eksterna tulang
d) Eksisi fragmen tulang dan penggantian proses

a) Konservatif
Terdiri atas
(1) Proteksi semata-semata
Proteksi fraktur terutama untuk mencegah trauma lebih lanjut misalnya dengan
cara memberikan sling (mitela) pada anggota gerak atas atau tongkat pada anggota
gerak bawah.
Indikasi:
Terutama diindikasikan pada fraktur-fraktur tidak bergeser, fraktur iga yang stabil
falangs dan metacarpal atau fraktur klavikula pada anak. Indikasi lain yaitu fraktur
kompresi tulang belakang, impaksi fraktur pada humerus proksimal serta fraktur
yang sudah mengalami union secara klinis, tetapi belum mencapai konsolidasi
radiologik.
(2) Imobilisasi dengan bidai eksterna (tanpa reduksi) Imobilisasi pada fraktur
dengan bidai eksterna hanya memeberikan sedikit imobilisasi, biasanya
mempergunakan plester of paris (gips) atau dengan bermacam-macam bidai dari
plastic atau metal.

Indikasi:
Digunakan pada fraktur yang perlu dipertahankan posisinya dalam proses
penyembuhan.
(3) Reduksi tertutup dengan manipulasi dan imobilisasi
posisinya dalam proses penyembuhan. Reduksi tertutup yang diartikan
manipulasi, dilakukan dengan baik dengan pembiusan umum ataupun lokal.
Reposisi yang dilakukan melawan kekuatan terjadinya fraktur, penggunaan gips
untuk imobilisasi merupakan alat utama pada tekhnik ini.
Indikasi
(a) Sebagai bidai pada fraktur untuk pertolongan pertama
(b) Imobilisasi sebagai pengobatan defenitif pada fraktur
(c) Diperlukan manipulasi pada fraktur yang bergeser dan diharapkan dapat
direduksi dengan cara tertutup dan dapat dipertahankan. Fraktur yang tidak stabil
atau bersifat komunitif akan bergerak di dalam gips sehingga diperlukan
pemeriksaan radiologis berulang-ulang.
(d) Imobilisasi untuk mencegah fraktur patologis
(e) Sebagai alat bantu tambahan pada fiksasi interna yang kurang kuat

(4) Reduksi tertutup dengan traksi berlanjut diikuti dengan imobilisasi


Reduksi tertutup pada fraktur yang diikuti dengan traksi berlanjut dapat dilakukan
dengan beberapa cara, yaitu traksi kulit dan traksi tulang.

(5) Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan counter traksi Dengan
mempergunakan alat-alat mekanik seperti bidai Thomas, bidai Brown Bohler,
bidai Thomas dengan pearson knee flexion attachment.Tindakan ini mempunyai
dua tujuan utama berupa reduksi yang bertahap dan imobilisasi.
Indikasi
(a) Bilamana reduksi tertutup dengan manipulasi dan imoblisasi tidak
memungkinkan serta untuk mencegah tindakan operatif misalnya pada fraktur
batang femur, fraktur vertebra servikalis.

(b) Bilamana terdapat otot yang kuat mengelilingi fraktur pada tulang tungkai
bawah yang menarik fragmen dan menyebabkan angulasi, over-riding dan rotasi
yang dapat menimbulkan malunion atau delayed union.
(c) Bilamana terdapat fraktur yang tidak stabil, oblik, fraktur spiral atau komunitif
pada tulang panjang.
(d) Fraktur vertebra servikalis yang tidak stabil.
(e) Fraktur femur pada anak-anak (traksi Bryant = traksi Gallow).
(f) Fraktur dengan pembengkakan yang sangat hebat disertai dengan pergeseran
yang hebat serta tidak stabil, misalnya pada fraktur suprakondiler humerus.
(g) Jarang pada fraktur metakarpal.
(h) Sekali-kali pada fraktur colles atau fraktur pada orang tua dimana reduksi
tertutup dan imobilisasi eksterna tidak memungkinkan
Ada empat metode traksi kontinu yang digunakan:
(a) Traksi kulit
Traksi kulit dengan mempergunakan leukoplas yang melekat pada kulit disertai
dengan pemakaian bidai Thomas atau bidai brown bohler. Traksi menurut Bryant
(gallow) pada anak-anak di bawah 2 tahun dengan berat badan kurang dari 10 kg.
Traksi juga dapat dilakukan pada fraktur suprakondiler humeri menurut Dunlop.
(b) Traksi menetap
Traksi menetap juga mempergunakan leukoplas yang melekat pada bidai Thomas
dan bidai brown bohler yang difiksasi pada salah satu bagian dari bidai Thomas.
Biasanya dilakukan pada fraktur femur yang tidak bergeser.
(c) Traksi tulang
Traksi tulang dengan kawat Kirschner (K-wire) dan pin Steinmann yang
dimasukkan ke dalam tulang dan juga dilakukan traksi dengan mempergunakan
berat beban dengan bantuan bidai Thomas dan bidai Brown Bohler. Tempat untuk
memasukkan pin, yaitu pada bagian proksimal tibia di bawah tuberositas tibia,
bagian distal tibia, trokanter mayor, bagian distal femur pada kondilus femur,
kalkaneus (jarang dilakukan), prosesus olekranon, bagian distal metakarpal dan
tengkorak.

(d) Traksi berimbang dan traksi sliding


Traksi berimbang dan traksi sliding terutama digunakan pada fraktur femur,
mempergunakan traksi skeletal dengan beberapa katrol dan bantalan khusus,
biasanya dipergunakan bidai Thomas an pearsonattachment.

Gambar 2.3. macam-macam traksi


A. Traksi dengan berat
B. Traksi menetap
C. Traksi Dunlop
D. Traksi Hamilton Russel
E. Traksi berimbang dengan bidai
Thomas dan pegangan pearson

Komplikasi dari traksi kontinu yaitu:


(a) Penyakit trombo-emboli
(b) Infeksi kulit superficial dan reaksi alergi

(c) Leukoplas yang mengalami robekan sehingga fraktur mengalami pergeseran


(d) Infeksi tulang akibat pemasangan pin
(e) Terjadi distraksi diantara kedua fragmen fraktur
(f) Dekubitus pada daerah tekanan bidai Thomas, misalnya pada tuberositas
isiadikus.

b) Reduksi tertutup dengn fiksasi eksterna atau fiksasi perkutaneus dengan KWire
Setelah dilakukan reduksi tertutuppada fraktur yang bersifat tidak stabil, maka
resuksi dapat dipertahankan dengan memasukkan K-wire perkutaneus misalnya
pada fraktur suprakondiler humeri pada anak-anak atau fraktur colles. Juga dapat
dilakukan pada fraktur leher femur dan pertrokanter dengan memasukkan batang
metal, serta pada fraktur batang femur dengan teknik tertutup dan hanya membuat
lubang kecil pada daerah proksimal femur. Teknik ini biasanya memerlukan
bantuan alat rontgen image intensifier (C-arm).
c) Reduksi terbuka dengan fiksasi interna atau fiksasi eksterna tulang Tindakan
operasi harus diputuskan dengan cermat dan dilakukan oleh ahli bedah serta
pembantunya yang berpengalaman dalam ruangan aseptic. Operasi harus
dilakukan secepatnya (dalam satu minggu) kecuali bila ada halangan. Alat-alat
uang dipergunakan dalam operasi yaitu kawat bedah, kawat Kirschner, Screw,
Screw dan plate, pin Kuntscher intrameduler, pin rush, pin Steinmann, pin
Trephine, (pin smith Peterson), plate dan screw smith Peterson, pin plate
telekospik, pin Jewett dan protesis.

Gambar 2.4. Beberapa macam penggunaan implant pada tindakan operasi


A. Kirschner wire
B. Screw
C. Plate dan screw
D. Kuntscher nail
E. Interlock nail
F. Protesis

Selain alat-alat metal, tulang yang mati ataupun hidup dapat pula digunakan bone
graft baik autograft/allograft, untuk mengisi defek tulang atau pada fraktur yang
nounion. Operasi dilakukan dengan cara membuka daerah fraktur dan fragment
direduksi secara akurat dengan penglihatan langsung. Saat ini teknik operasi pada
tulang dikembangkan oleh grup ASIF (metode AO) yang dilakukan di Swiss
dengan menggunakan peralatan yang secara biomekanik telah diteliti.
Prinsip operasi teknik AO berupa reduksi akurat, reduksi rigid dan mobilisasi dini
yang akan memberikan hasil fungsional yang maksimal.
(1) Reduksi terbuka dengan fiksasi interna
Indikasi:
(a) Fraktur intra-artikuler misalnya fraktur
maleolus,kondilus, olekranon, patella.

(b) Reduksi tertutup yang mengalami kegagalan


misalnya fraktur radius dan ulna disertai malposisi yang hebat atau fraktur yang
tidak stabil.
(c) Bila terdapat interposisi jaringan di antara kedua fragmen.
(d) Bila diperlukan fiksasi rigid misalnya pada fraktur leher femur.
(e) Bila terjadi fraktur dislokasi yang tidak dapat direduksi secara baik dengan
reduksi tertutup misalnya fraktur Monteggia dan fraktur Bennett.
(f) Fraktur terbuka.
(g) Bila terdapat kontraindikasi pada imobilisasi eksterna sedangkan diperlukan
mobilisasi yang cepat, misalnya fraktur pada orang tua.
(h) Eksisi fragmen yang kecil.
(i) Eksisi fragmen tulang yang kemungkinan mengalami nekrosis avaskuler
misalnya fraktur leher femur pada orang tua.
(j) Fraktur avulsi misalnya pada kondilus humeri
(k) Fraktur epifisis tertentu pada grade III dan IV (Salter Harris) pada anak-anak
(l) Fraktur multipel misalnya frakturpada tungkai atas dan bawah
(m) Untuk mempermudah perawatan penderita misalnya fraktur vertebra tulang
belakang yang disertai paraplegia.