Anda di halaman 1dari 31

SEORANG WANITA 52 TAHUN DENGAN

KARSINOMA NASOFARING WHO 3 T1N3bMx


DALAM EKSTERNAL RADIASI
1. Ashari
2. Ratna Ayu CKD
3. Rizqi Amelia N

22010113210122
22010113210136
22010113210124

Pembimbing : dr. Dian Nilasari

PENDAHULUAN
Karsinoma
Nasofaring

Tumor ganas daerah kepala


dan leher
Paling banyak di Indonesia

Urutan pertama pada seluruh


keganasan pria
Urutan ke 4 pada seluruh keganasan
wanita setelah tumor ganas mulut
rahim, payudara, dan kulit
Insiden meningkat pada dekade II akhir
dan mencapai puncaknya pada usia 4050 tahun.

Definisi Karsinoma Nasofaring

Karsinoma nasofaring (KNF) adalah tumor


ganas yang berasal dari sel epitel nasofaring.

Tumor ini bermula dari dinding lateral nasofaring (fossa Rosenmuller)


dan dapat menyebar kedalam atau keluar nasofaring menuju dinding
lateral, posterosuperior, dasar tengkorak, palatum, kavum nasi, dan
orofaring serta metastasis ke kelenjar limfe leher

Etiologi karsinoma nasofaring


1.Faktor genetik
2.Infeksi virus
3.Faktor lingkungan

Faktor resiko

Infeksi virus epstein barr


Ikan asin
Tembakau
Pajanan pekerjaan

Patofisiologi karsinoma nasofaring


Faktor pencetus
menstimulasi pembelahan sel abnormal menjadi tidak terkontrol
memicu pertumbuhan sel kanker
pada nasofaring di fosa rossenmuller

Tinitus, otalgia

Penjalaran ke foramen laserum

mengenai saraf
cranialis ke III, IV, VI
dan dapat pula ke V

Diplopia,
neuralgia
trigeminal

Penjalaran ke foramen jugulare

mengenai saraf cranialis IX, X,


XI dan XII

Metastasis
Metastasis ke
kelenjar limfe
leher dalam
bentuk
benjolan di
leher

Cara mendiagnosis kanker nasofaring


Anamnesis dan pemeriksaan fisik ditemukan
5 gejala dan tanda yang khas
1. Gejala dan tanda telinga
2. Gejala dan tanda hidung
3. Gejala dan tanda leher
4. Gejala dan tanda mata
5. Gejala dan tanda intrakranial

Stadium KNF

Berdasarkan WHO :
WHO tipe 1 : KSS berkeratin
WHO tpe 2 : KSS tak berkeratin
WHO tipe 3 : KSS tak berdiferensiasi / undifferentiated ca

WHO Tipe 1

WHO Tipe 2

WHO Tipe 3

Stadium KNF
Berdasarkan UICC:
Nasofaring (T)
T1

Tumor terbatas pada nasofaring,

T2

Tumor dengan perluasan di orofaring, rongga hidung

T2a

Tumor meluas ke orofaring dan/atau rongga hidung tanpa perluasan

T2b

parafaringeal

T3

Tumor meluas ke orofaring dengan perluasan parafaringeal

T4

Tumor invasif terhadap struktur tulang tengkorak dan/atau sinus-sinus


paranasal
Tumor dengan perluasan intracranial dan/ atau keterlibatan saraf
cranial, fossa infratemporal, hipofaring, rongga orbita atau mastikator

Stadium KNF
Kelenjar Limfe Regional (N)
Nx

Metastasis pada kelenjar limfe tidak dapat dinilai.

N0

Tidak ada metastasis pada kelenjar limfe.

N1

Kelenjar servikal unilateral, kelenjar limfe retrofaringeal

N2

unilateral atau bilateral, 6 cm atau kurang pada dimensi

N3

terbesar, di atas fossa supraclavicula.


Kelenjar limfe servikal bilateral, < 6 cm pada dimensi terbesar,
di atas fossa supraklavikula.

Metastasis pada kelenjar limfe, >6cm pada dimensi (N3a) atau


pada fossa supraklavikula.
Metastasis pada kelenjar limfe, >6cm pada dimensi (N3a) atau
pada fossa supraklavikula.

Stadium KNF

Kelenjar Limfe Regional (N)


Nx

Metastasis pada kelenjar limfe tidak dapat dinilai.

N0

Tidak ada metastasis pada kelenjar limfe.

N1

Kelenjar servikal unilateral, kelenjar limfe retrofaringeal

N2

unilateral atau bilateral, 6 cm atau kurang pada dimensi

N3

terbesar, di atas fossa supraclavicula.


Kelenjar limfe servikal bilateral, < 6 cm pada dimensi terbesar,
di atas fossa supraklavikula.
Metastasis pada kelenjar limfe, >6cm pada dimensi (N3a) atau
pada fossa supraklavikula.
Metastasis pada kelenjar limfe, >6cm pada dimensi (N3a) atau
pada fossa supraklavikula.

Stadium KNF
Berdasarkan American Society of Clinical Oncology

Stadium 0

Stadium KNF
Berdasarkan American Society of Clinical Oncology

Stadium 1

Stadium KNF
Berdasarkan American Society of Clinical Oncology

Stadium 2A

Stadium KNF
Berdasarkan American Society of Clinical Oncology

Stadium 2B

Stadium KNF
Berdasarkan American Society of Clinical Oncology

Stadium 3

Stadium KNF
Berdasarkan American Society of Clinical Oncology

Stadium 4A

Stadium KNF
Berdasarkan American Society of Clinical Oncology

Stadium 4B

Stadium KNF
Berdasarkan American Society of Clinical Oncology

Stadium 4C

TERAPI
1.
2.
3.
4.
5.

Radioterapi : pilihan utama.


Kemoterapi : terapi obat, stadium lanjut / keadaan kambuh
Pembedahan : sisa KGB (diseksi leher radikal)
Sitostatika
Imunoterapi : masih dalam penelitian
Pada stadium dini (stadium I dan II) radioterapi definitif.
Stadium lanjut (stadium III dan IV) kemoterapi dikombinasikan
dengan radioterapi

Radioterapi
-Radiasi Externa /

radiasi

teleterapi
-Brachiterapi
-Kombinasi radiasi
dengan kemoterapi

kuratif

paliatif

Radiasi
kuratif

Radiasi eksterna yang mencakup tumor bed


(nasofaring) beserta kelenjar getah bening leher,
dengan dosis 60-66 Gy dan kelenjar supra-klavicula
dengan dosis 50 Gy
Radiasi intrakaviter (brakhiterapi) sebagai dosis
radiasi booster pada tumor primer, setelah
pemberian radiasi eksterna, diberikan dengan dosis
(4x4 Gy), sehari 2x.

Radiasi
paliatif

Radiasi paliatif diberikan bila stadium IV


metastase jauh. Sasaran dan bentuk radiasi
individual, tergantung keluhan yang perlu
mendapat radiasi paliatif. Untuk tumor
primer dosis radiasi 60-66 Gy

Batas-Batas Lapangan Penyinaran


batas atas meliputi seluruh dasar tengkorak termasuk

sella tursika
batas anterior di depan choanae, mencapai setengah
bagian posterior dari palatum durum, atau menyesuaikan
perluasan tumor ke depan
batas posterior di sebelah belakang meatus akustikus

eksternus, seluruh rantai sepanjang m.


Sternocleidomastoideus atau sesuai dengan lesi
metastase ( diberi marker logam )

batas bawah setinggi tepi bawah korpus vertebra C2 atau setinggi tepi atas kartilago tiroidea
Radiasi juga diberikan pada kelenjar getah bening
supraklavikuler dan leher bawah. Arah sinar
diberikan dari arah anterior dengan batas lapangan

ini 0,5 cm di bawah lapangan laterolateral


Blokade diberikan untuk mengamankan medula
spinalis

- Apabila terdapat pembesaran kelenjar limfe dari mastoid


sampai ke supraklavicula maka diberikan radiasi dari depan
ke belakang, batas atas lapangan radiasi harus mencakup
seluruh dasar tengkorak, batas bawah pada tepi bawah
klavicula (kiri dan kanan adalah 2/3 distal klavicula). Bagian

medial leher (trakea, esofagus dan medula spinalis) harus


dihindarkan dari radiasi dengan memasang blok timah
pada daerah tersebut selebar 1 cm dan tinggi minimal 6 cm.

Pengecilan lapangan radiasi dilakukan apabila tumor


jauh mengecil, dosis radiasi mencapai 40 Gy. Batas

posterior menjadi di sebelah depan meatus akustikus


eksterna sehingga medula spinalis terletak di luar
lapangan radiasi. Batas bawah menjadi setinggi
angulus mandibula. Batas anterior tidak mengalami
perubahan

Apabila terdapat infiltrat tumor ke dalam sinus-sinus


paranasal dan atau kavum nasi, maka lapangan radiasi
sesuai dengan lapangan radiasi untuk tumor primer

ditambah dengan lapangan anterior, yang pada


pelaksanaannya menggunakan dua buah penyaringan
pada lapangan lateral kiri-kanan guna mendapatkan dosis
yang homogen pada seluruh tumor. Dosisnya adalah 2
Gy. Bola mata harus ikut serta mendapat radiasi apabila
terbukti didapatkan infiltrasi pada ruang intraorbita, saraf
optikus atau tulang-tulang sekitar mata

Untuk tumor-tumor yang terbatas pada nasofaring


serta tidak ditemukan pembesaran kelenjar leher
T2/T2 No batas batas lapangan diubah maka batas
atas lebih rendah dari dasar tengkorak ( sela tursika di
luar lapangan radiasi)

Dosis Radiasi
Dosis perfraksi adalah 2 Gy diberikan 5 kali /minggu -> tumor
primer & kelenjar->pengecilan lapangan radiasi / blok
medula spinalis->radiasi dilanjutkan untuk tumor primer
sehingga dosis total 60-66 Gy pada tumor
T1 N0 M0, T2 N0 M0 radiasi
eksterna -> 60 Gy, kemudian
setelah mendapatkan dosis 54
Gy, dievaluasi dengan CT-Scan,
T4 radiasi eksternal diberikan
bila hanya tersisa di daerah
66-70 Gy
nasofaring saja, pasien
diterapi dengan brakhiterapi
dengan fraksi 4x4 Gy, pagi dan
sore dengan jarak 6 jam