Anda di halaman 1dari 7

Faktor Risiko Pembentukan Batu Empedu

Beberapa faktor resiko multifaktorial diidentifikasikan berhubungan dengan


pembentukan batu empedu. Antaranya faktor resiko yang dapat tidak dapat diubah
seperti etnis, genetika, usia lanjut dan jenis kelamin perempuan; dan faktor yang
dapat dimodifikasi antaranya diet, aktivitas fisik, penurunan berat badan yang cepat
dan obesitas, seperti di bawah:EE

Gambar 2.4. Faktor resiko pembentukan batu empedu

1. Etnisitas
Prevalensi adalah luarbiasa tinggi pada etnis India Amerika dan pencampuran
mereka yaitu 64.1% wanita and 29.5% pria, dan juga Eropa Utara; sedikit lebih
rendah dalam Eropa dan Amerika yaitu 16.6% wanita dan 8.6% pria; menengah
di Asia dan black American yaitu 13.9% wanita dan 5.3% pria, dan cukup rendah
di black Afrikans yaitu <5%.
2. Riwayat Keluarga dan Genetik
Kerentanan genetik merupakan faktor kunci dalam pembentukan batu empedu.
Dalam sebuah studi kembar Swedia, efek genetik menyumbang 25%
pembentukan batu empedu. Bahkan, pembentukan batu adalah interaksi yang
kompleks dari gen dan faktor lingkungan. Beberapa gen telah dikaitkan dengan
batu empedu apolipoprotein E (APOE) dan B (apoB), kolesterol protein ester
pengangkutan (CETP), kolesterol 7 -hidroksilase, cholecystokinin reseptor A

(CCKAR), LDL reseptor (LDLR) dan asosiasi CETP. Analisis genom


mengungkapkan bahwa varian untuk sekresi kolesterol hepatik (ABCG8 19h dan
ABCB4) merupakan faktor kerentanan untuk batu empedu. Oleh itu,
cholelithiasis mungkin adalah entitas penyakit polygenetic.
3. Usia
Frekuensi batu empedu meningkat dengan usia, meningkat nyata setelah usia 40
sehingga 4 sampai 10 kali ganda lebih sering pada individu lebih tua.
4. Jenis kelamin dan hormone sex wanita
Wanita hormon mempengaruhi sekresi empedu hati dan fungsi kantong empedu.
Estrogen meningkatkan sekresi kolesterol dan mengurangi sekresi garam empedu,
sementara progestin bertindak dengan mengurangi sekresi garam empedu dan
mengganggu pengosongan kantong empedu lalu menyebabkan stasis. Beberapa
kontrasepsi oral generasi ke-4 baru yaitu drospirenone dan progestin digunakan
dalam beberapa kontrasepsi oral dapat meningkatkan risiko penyakit batu
empedu.
Selama kehamilan ketika hormon seks endogen perempuan meningkat, biliar
sludge (partikulat yang terdiri kolesterol, kalsium bilirubinat, dan musin) muncul
dalam 5% sampai 30% wanita. Resolusi berlaku selama periode post-partum:
sludge menghilang dalam dua-pertiga kasus; batu empedu kecil (microlithiasis)
(<1 cm) lenyap dalam sepertiga, tetapi batu empedu definitif menetap pada ~ 5% .
Tambahan faktor risiko pembentukan batu selama kehamilan termasuk obesitas
(sebelum kehamilan), mengurangi high density lipoprotein (HDL) kolesterol dan
sindroma metabolik.
5. Obesitas
Obesitas dikaitkan dengan peningkatan aktivitas rate-limitting step sintesis
kolesterol, enzim hati, 3-hidroksil-3-metil-glutaryl co-enzim A (HMG-CoA)
reduktase, yang menyebabkan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati dan
sekresi yang meningkat ke dalam empedu.

6. Dislipidemia, Diabetes mellitus


Resistensi insulin merupakan predisposisi pembentukan batu empedu kolesterol
yang menyebabkan perobahan metabolisme kolesterol dan garam empedu.
Resistensi insulin di hepar dapat bertindak dengan meningkatkan sekresi
kolesterol hati dan menekan sintesis garam empedu dan / atau merusak motilitas
kandung empedu.
7. Penurunan berat badan cepat
Penurunan berat badan yang melebihi 1,5 kg/ minggu diikuti operasi bariatric
meningkatkan risiko pembentukan batu; batu-batu ini yang paling mungkin untuk
menjadi nyata selama 6 minggu pertama setelah operasi.
8. Diet dan Total Parenteral Nutrition (TPN)
Diet tinggi kolesterol, asam lemak, legumes dan karbohidrat tampaknya
meningkatkan risiko cholelithiasis. Sebaliknya, lemak tak jenuh, kopi, serat, asam
askorbat (vitamin C), calcium dan mengurangi risiko. Tentu saja, peralihan ke
diet yang lebih Barat, tinggi karbohidrat olahan dan lemak (trigliserida), dan diet
rendah serat merupakan penyebab peningkatan pembentukan batu empedu
kolesterol antara Indian Amerika (unmasking beban genetik mereka dianggap)
dan di negara Eropa.
9. Gaya hidup
Kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko penyakit batu empedu sedangkan
peningkatan aktivitas fisik membantu mencegah cholelithiasis. Peningkatan
olahraga daya tahan (untuk 30 menit 5 kali seminggu) bisa mencegah
perkembangan batu empedu pada pria.
10. Penyakit lain
1) Penyakit hepar
Sirosis lanjut adalah sebuah faktor risiko pembentukan batu empedu, dengan
prevalensi secara keseluruhan antara 25 hingga 30 persen.

2) Penyakit Crohn
Resiko penyakit batu empedu meningkat 2 hingga 3 kali lipat pada pasien
dengan penyakit Chron. Penyakit atau gagguan ileum menyebabkan
malabsorpsi dan deplesi asam empedu, mengurangi sekresi hati asam empedu
dan empedu yang jenuh dengan kolesterol, menyebabkan pembentukan batu
kolesterol. Kegagalan transportasi ileum terminal pada penyakit Crohn
memungkinkan asam empedu berlebih untuk lolos ke dalam usus besar, di
mana deterjen biologis ini melarutkan bilirubin tak terkonjugasi dan
memfasilitasi penyerapan mereka dan kembali ke hati. Hati kemudian
mengeluarkan pigmen yang berlebihan yang kemudian mengendap
sebagai batu empedu.
3) Fibrosis kistik
Mirip dengan ileum penyakit Crohn, cystic fibrosis berhubungan
dengan malabsorpsi asam empedu karena terikat dengan nutrisi makanan tidak
tercerna. Prevalensi batu empedu pada cystic fibrosis meningkat
10% sampai 30%
11. Obat-obatan
(i) Octreotide
Octreotide, analog long-acting dari somatostatin yang menghambat pelepasan
cholecystokinin, menghasilkan penurunan motilitas kandung empedu dan stasis.
Inhibition dari cholecystokinin juga menekan motilitas usus kecil; hasilnya stasis
usus meningkatkan pembentukan asam empedu sekunder seperti asam
deoxycholic.

Asam

Deoxycholic

mempengaruhi

pembentukan

empedu

(meningkatkan sekresi kolesterol) dan menambah sintesis musin kandung empedu


(penting untuk

pengendapan

mikrokristal

kolesterol

dari

empedu

dan

pertumbuhan batu selanjutnya. Lebih dari 50% dari pasien yang menerima
octreotide akan berisiko cholelithiasis, meskipun sebagian besar adalah
asimtomatik.

(ii) Ceftriaxone
Ceftriaxone adalah antibiotik sefalosporin generasi ketiga, disekresikan
unmetabolized ke empedu, mencapai konsentrasi tinggi. Hal ini dapat
mengakibatkan biliary sludge dan "pseudolithiasis" di pasien, terutama anak-anak
yang mendapat ceftriaxone. Kebanyakannya tetap asimtomatik. Kebaiasaannya,
resolusi biliary sludge terjadi setelah pengobatan dihentikan
(iii) Diuretik thiazide
Pengobatan

thiazide

dapat

meningkatkan

saturasi

kolesterol

empedu

menyebabkan pembentukan batu empedu.


(iv) Statin
Obat yang menghambat HMG-CoA reduktase tampaknya mencegah penyakit
batu empedu kolesterol dengan mengurangi sintesis kolesterol dalam hati dan
mengurangi sekresi ke dalam empedu.

Faktor Resiko dan Etiologi Pembentukan Batu Empedu pada Anak-anak


Cholelithiasis pada anak-anak memiliki berbagai penyebab yang berkaitan dengan
faktor predisposisi. Hampir 20% hingga 30% dari semua batu empedu pada anakanak disebabkan penyakit hemolitik seperti penyakit Sickle Cell, sferositosis
herediter, elliptositosis herediter dan thalassemia. Dalam sekitar 40% menjadi 50%
dari kasus, kolelitiasis disebabkan oleh etiologi lain seperti penyakit hepatobilier,
obesitas, nutrisi parenteral berkepanjangan, operasi perut, trauma, reseksi ileum, dan
penyakit Crohn dapat menyebabkan peningkatan insiden batu empedu pada populasi
pediatrik. Antara 30% sampai 40% etiologi dari kasus adalah idiopatik.GG, M

Tabel 2.1 Etiologi pembentukan batu empedu pada anak-anak.GG

Sumber:
EE :
Stinton LM, Shaffer EA. Epidemiology of Gallbladder Disease: Cholelithiasis and
Cancer. Gut and Liver Journal; 6:(2), 2012, pp. 172-187
GG:
Poddar U. Gallstone Disease in Children. Indian Pediatrics Journal, 47;2012

Elliptosistosis herediter merupakan kondisi autosomal dominan yang ditandai oleh


bentuk dari sel darah merah elips. Hal ini biasanya asimtomatik, menyebabkan
hemolisis minimal.Kadang-kadang dapat menyebabkan hemolisis berat.w Sebagian

besar bilirubin, yang merupakan produk pemecahan hemoglobin, akan terkonjugasi


dalam hati untuk menjadi bilirubin monoglucuronide dan selanjutnya menjadi
bilirubin diglucuronida yang larut air. Bilirubin tak terkonjugasi tidak larut dalam air.
Dalam kasus hemolisis, ekskresi empedu bilirubin mungkin meningkat 10 kali lipat
dengan peningkatan risiko presipitasi kalsium bilirubinat. Kalsium bilirubinat dapat
berpresipitasi dan membentuk batu pigmen hitam bersama materi lain seperti kalsium
karbonat dan kalsium fosfat.P, W
P: Venneman NG, Erpecum KJ. Pathogenesis of Gallstones. Gastroenterol Clin N
Am 2010,39:171183.
W: Mahmood S, Reece D. Diagnosis and Management of Congenital Haemolytic
Anaemia. CME Haematology. Clinical Medicine 2007;7:6259