Anda di halaman 1dari 17

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia diperkirakan memiliki 40-43 juta ha lahan bermasalah dan 13,2
juta ha dari lahan tersebut terpengaruh salinitas. Lahan-lahan itu pada umumnya
lahan pantai, muara sungai, dan delta yang dipengaruhi oleh intrusi air laut.
Secara geologi, batuan penyusun dataran rendah dan dilihat secara morfologi
umumnya berupa endapan aluvial yang terdiri dari lempung, pasir, dan kerikil
hasil dari pengangkutan dan erosi batuan di bagian hulu sungai. Daerah pantai
yang semula dirasakan kurang menarik dan dianggap tidak memberikan manfaat,
akhir-akhir ini dicoba untuk dikembangkan sebagai alternatif untuk mengatasi
keterbatasan tanah pertanian ( Setiawati dkk, 2007 ).
Salinitas merupakan tingkat kadar garam yang terlarut pada air. Tanah
dikatakan salin apabila mengandung garam-garam yang dapat larut dalam jumlah
yang banyak sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Penyebab lahan salin
terbagi atas dua bagian yaitu penyebab sekunder. Lahan salin primer terjadi secara
alami dan sekitar 7 % dari permukaan bui. Lahan salin sekunder terjadi akibat
aktivitas manusia. Salinitas sekunder saat ini diperkirakan terjadi pada sekitar 80
juta ha yang awalnya cocok untuk pertanian ( Rusd, 2011 ).
Cekaman salinitas menyebabkan penyerapan hara dan pengambilan air terhalang sehingga menyebabkan pertumbuhan abnormal dan terjadi penurunan
hasil. Salinitas tanah atau air dan kekeringan semakin mendapat perhatian dalam
pertanian, karena menyebabkan kondisi tercekam pada tanaman. Kekeringan dan
salinitas merupakan salah satu faktor pembatas produktifitas tanaman di berbagai

wilayah, khususnya pada ta-naman yang dikelola pada lahan kering dan tadah
hujan seperti legume, jagung dan tebu ( Kurusueng, 2009 ).
Salah satu faktor pembatas dalam pemanfaatan lahan salin adalah
kesuburan tanahnya telah menurun, akibatnya akan terkontaminasi garam - garam
yang terbawa oleh air. Garam - garam ini menyebabkan salinitas tanah meningkat
dan ini akan menurunkan laju nitrifikasi. Penurunan laju nitrifikasi biasanya
diikuti dengan meningkatnya potensial tanah sehingga hanya sedikit organisme
dalam tanah yang toleran terhadap salinitas. Kehadiran ion Na+ pada tanah salin
dalam jumlah yang sangat tinggi dapat membuat partikel tanah tersuspensi
sehingga

dapat

menurunkan

porositas

tanaha

dan

aerasi

( Hatta dan Nurhayti, 2006 ).


Pengaruh salinitas pada tanaman sangat kompleks. Salinitas akan
menyebabkan stres osmotik dan stres sekunder. Stres ion yang paling penting
adalaah keracunan ion Na+. Ion Na+ yang berlebihan pada permukaan akar akan
menghambat serapan hara oleh akar. Na pada partikel tanah akan mengakibatkan
pembesaran dan penutupan pori-pori tanah yang memperburuk pertukaran gas
serta dispersi material koloid tanah. Stres osmotik terjadi karena peningkatan
garam terlarut dalam tanah menghambat penyerapan air dan unsur- unsur yang
berlangsung melalui proses osmosis. Stres osmotik ini akan mengakibatikan
tanaman mengalami kekeringan ( Kusmiyati dkk, 2009).
Peningkatan laju nitrifikasi pada tanah salin dapat dilakukan dengan
pemberian bahan organik yang memiliki kandungan unsur hara nitrogen.
Penambahan bahan organik sebagai pupuk organik pada lahan pertanian
diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan dapat dimanfaatkana

sebagai alternatif pengganti penggunaan pupuk organik. Penambahan bahan


organik dapat memperbaiki sifat sifat tanah, baik fisik, kimia, maupun biologi
tanah ( Hatta dan Nurhayati, 2006).
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan organik terhadap
peningkatan

laju

nitrifikasi

pada

tanah

salin.

Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat
untuk memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Pengelolaan Tanah dan
Air,

Program

Studi

Agroekoteknologi,

Fakultas

Pertanian,

Universitas Sumatera Utara, dan sebagai bahan informasi bagi pihak-pihak yang
membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Karakteristik Tanah Salin
Tanah salin merupakan daerah pantai yang mendapat intrusi atau pengaruh
air laut lebih dari empat bulan dalam setahun. Lingkungan alami tanah salin pada
umumnya merupakan lingkungan yang akuatik atau lahan kering seperti lahan
pertanian di sepanjang pantai. Apabila lahan yang dipengaruhi intrusi atau pasang
surut air laut tersebut digunakan untuk lahan pertanian, maka masalah salinitas
harus diatasi ( Setiawan dkk, 2009).
Tanah salin mengandung garam yang mudah larut yang jumlahnya cukup
besar bagi pertumbuhan kebanyakan tanaman seperti klorida atau sulfat.
Kemasaman (pH) tanah salain sekitar 8,5 dan pertukaran kation kurang dari 15 %.
Masalah salinitas timbul apabila konsenterasi garam garam terlarut dalam
jumlah

besar

yang

dapat

mempengaruhi

pertumbuhan

tanaman

( Kusmiyati dkk, 2009).


Horizon -

horizon penciri yang berkaitan dengan salinitas tinggi

umumnya berkaitan dengan tanah tanah salin di daerah arid dan semi arid,
misaknya

horizon

gipsik

(akumulasi

gipsum),

horizon

kalsik

(akumulasi Ca atau Kalsium Karbonat dan Magnesium Karbonat), horizon salik


(akumulasi garam-garam lebih mudah larut daripada gipsum) dan horizon natrik
(ESP atau SAR tinggi). Tanah salin melalui definisi memiliki daya hantar listrik
yang lebih dari 4 mmhos/cm (pada suhu 25 C ). Dalam air, 1 mmhos/cm, daya
hantar listrik mendekati 640 ppm. Pertumbuhan tumbuhan terbaik adalah ketika
DHL tanah kurang dari 1,5 mmhos/cm dalam zona akar (pada kedalaman 3-4

kaki). Pertumbuhan dan panen tumbuhna

berkurang jika daya hantar listrik

mengalami kenaikan diatas 2,5 mmhos/cm ( Simamora, 2010 ).


Penyebab tanah salin antara lain tanah tersebut mempunyai bahan induk
yang mengandung deposit garam, intrusi air laut, akumulasi garam dari irigrasi
yang digunakan atau gerakan air tanah yang direklamasi dari dasar laut, tanah
salin juga terjadi karena iklim mikro dimana tingkat penguapan melebihi tingkat
curah hujan secara tahunan. Tanah salin mempunyai kadar garam (NaCl) netral
yang larut dalam air sehingga dapat mengganggu pertumbuhan kebanyakan
tanaman. Kurang dari 15 % dari kapasitas tukar kation (KTK) tanah ditempati
oleh natrium dan biasanya nilai pH kurang dari 8,5. Hal ini disebabkan garam
yang terdapat dalam tanah adalah netral dan juga karena hanya sedikit natrium
yang dijumpai ( Rusd, 2011).
Tanah salin adalah tanah yang mempunyai sifat-sifat berikut : (a). Daya
hantar listrik tanah jenuh air (DHL) > 4 dS/m, (b) Persen Na dapat ditukar (ESP)
< 15 dan (c). pH < 8,5. Ion-ion yang dominan pada tanah salin ialah : Na+ , Ca2+ ,
Mg2+, Cl-, SO42- . NaCl merupakan penyebab salinitas utama. Pada tanah sulfat
masam muda mengandung Al2(SO4)3 dan FeSO4 yang memenuhi syarat sebagai
tanah salin ( Simamora, 2010 ).
Salinitas Tanah
Salinitas merupakan tingkat kadar garam yang terlarut pada air. Tanah
dikatakan salin apabila mengandung garam-garam yang dapat larut dalam jumlah
banyak sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman. Penyebab lahan salin
terbagi atas dua bagian yaitu penyebab primer dan penyebab sekunder. Lahan
salin primer terjadi secara alami dan sekitar 7 % dari permukaan bumi. Lahan

salin sekunder terjadi akibat aktifitas manusia. Salinitas sekunder saat ini
diperkirakan terjadi pada sekitar 80 juta ha yang awalnya cocok untuk pertanian
( Rusd, 2011).
Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah.
Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan aluran air alami sangat
kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam
sebenarnya pada air ini, secara defenisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air,
dikategorikan sebagai air payau atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai
5% Air laut mengandung 3,5% garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan
organik dan partikel-partikel tak terlarut ( Simamora, 2010 ).
Masalah salinitas timbul apabila konsentrasi garam NaCl, Na2CO3,
Na2SO4 terdapat dalam tanah dalam jumlah yang berlebih. Salinitas adalah
konsentrasi garam-garam terlarut dalam jumlah besar yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan kebanyakan tanaman. Pengaruh salinitas pada tanaman sangat
kompleks. Salinitas akan menyebabkan stres ion, stres osmotik dan stres
sekunder. Stres ion yang paling penting adalah keracunan Na+ . Na pada partikel
tanah akan mengakibatkan pembesaran dan penutupan pori-pori tanah yang
memperburuk

pertukaran

gas

serta

dispersi

material

kolodi

tanah

( Kusmiyati dkk, 2009 ).


Menurut menurut salinitas atas tiga kelompok berdasarkan hasil
pengukuran daya hantar listrik sebagai berikut :
1). Tanah salin dengan daya hantar listrik > 4,0 mmhos/cm, pH < 8,5 dan Na-dd
< 15% dengan kondisi fisik normal. Kandungan garam larutan dalam tanah dapat
menghambat perkecambahan, penyerapan unsur hara dan pertumbuhan tanaman.

2). Tanah sodik dengan daya hantar listrik < 4,0 mmhos/cm, pH > 8,5 dan Na-dd
> 15% dengan kondisi fisik buruk. Garam yang terlarut dalam tanah relatif rendah
dan keadaan tanah cenderung terdispersi dan tidak permeabel terhadap air hujan
dan air irigasi. 3). Tanah salin sodik dengan daya hantar listrik > 4,0 mmhos/cm,
pH < 8,5 dan Na-dd > 15% dengan kondisi fisik normal ( Sipayung, 2010 ).
Pengaruh Salinitas Terhadap Tanah dan Tanaman
Kandungan NaCl yang tinggi pada tanah salin menyebabkan rusaknya
struktur tanah, sehingga aerasi dan permeabilitas tanah tersebut menjadi sangat
rendah. Banyaknya ion Na di dalam tanah menyebabkan berkurangnya ion-ion
Ca, Mg, dan K yang dapat ditukar, yang berarti menurunnya ketersediaan unsur
tersebut bagi tanaman. Pengaruh salinitas terhadap tanaman mencakup tiga hal
yaitu tekanan osmosis, keseimbangan hara dan pengaruh racun. Bertambahnya
konsentrasi garam di dalam suatu larutan tanah, meningkatkan potensial osmotik
larutan tanah tersebut. Oleh sebab itu salinitas dapat menyebabkan tanaman sulit
menyerap air hingga terjadi kekeringan fisiologis ( Simamora, 2010).
Selain itu, NaCl juga dapat mempengaruhi sifat-sifat tanah dan selanjutnya
berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Banyaknya Na+ di dalam tanah
menyebabkan menurunnya ketersediaan unsur Ca2+, Mg2+, dan K+ yang dapat
diserap bagi tanaman. Salinitas juga dapat menurunkan serapan P meskipun tidak
sampai terjadi defisiensi. Meningkatnya kandungan Cl- diikuti pula oleh
berkurangnya kandungan NO3- dalam tajuk ( Rusd, 2011 ).
Berdasarkan kemampuan untuk tumbuh pada keadaan salin, tanaman
digolongkan menjadi yaitu glikofita dan halofita. Tanaman yang digolongkan
sebagai halofita adalah tanaman yang tahan terhadap konsentrasi NaCl yang

tinggi. Tanaman glikofita adalah tanaman yang tidak dapat mentolerir salinitas
yang tinggi. Sebagian besar tanaman pertanian digolongkan sebagai tanaman
glikofita. Mekanisme ketahanan tanaman terhadap salinitas dapat dilihat dalam
dua bentuk adaptasi yaitu mekanisme morfologi dan mekanisme fisiologi.
Mekanisme toleransi yang paling jelas adalah dengan adaptasi morfologi. Bentuk
adaptasi morfologi adalah perubahan struktur mencakup ukuran daun yang lebih
kecil, stomata yang lebih kecil per satuan luas daun, peningkatan sukulensi,
penebalan kutikula dan lapisan lilin pada permukaan daun serta lignifikasi akar.
Mekanisme

fisiologi

terdapat

dalam

beberapa

bentuk

yaitu

osmoregulasi / pengaturan potensial osmosis, kompartmentasi dan sekresi garam


serta integritas membran ( Kusmiyati dkk, 2009 ).
Gejala pertumbuhan tanaman pada tanah dengan tingkat salinitas yang
cukup tinggi adalah pertumbuhan yang tidak normal seperti daun mengering di
bagian ujung dan gejala khlorosis. Gejala ini timbul karena konsentrasi garam
terlarut yang tinggi menyebabkan menurunnya potensial larutan tanah sehingga
tanaman kekurangan air. Sifat fisik tanah juga terpengaruh antara lain bentuk
struktur, daya pegang air dan permeabilitas tanah. Semakin tinggi konsentrasi
NaCl pada tanah, semakin tinggi tekanan osmotik dan daya hantar listrik tanah
( Simamora, 2010 ).
Bahan Organik
Bahan organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu sistem kompleks
dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang terdapat di
dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena
dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia. Bahan organik tanah adalah

semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah,
fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di
dalam

air,

dan

bahan

organik

yang

stabil

atau

humus

( Simamora, 2005 ).
Bahan organik di dalam tanah dapat berperan sumber unsur hara,
memelihara kelembaban tanah, sebagai buffer dengan mengkhelat unsur-unsur
penyebab salinitas sehingga dapat meningkatkan ketersediaan unsur-unsur hara.
Kandungan bahan organik dikebanyakan tanah saat ini terdapat indikasi semakin
merosot. Sekitar 80 % lahan sawah kandungan C organik tanahnya kurang dari
1 %, apalagi pada lahan-lahan kering. Kandungan C organik kurang dari 1 %
menyebabkan tanah tidak mampu menyediakan unsur hara yang cukup, disamping
itu unsur hara yang diberikan melalui pupuk tidak mampu dipegang oleh
komponen tanah sehingga mudah tercuci, kapasitas tukar kation menurun,
agregasi tanah melemah, unsur hara mikro mudah tercuci dan daya mengikat air
menurun.

Pada tanah dengan kandungan C organik rendah menyebabkan

kebutuhan pemupukan makin meningkat dengan efisiensi yang merosot akibat


tingginya tingkat pencucian ( Anwar dan Sunlo, 2005 ).
Pengaruh pemberian bahan organik terhadap struktur tanah sangat
berkaitan dengan tekstur tanah yang diperlakukan. Pada tanah lempung yang
berat, terjadi perubahan struktur gumpal kasar dan kuat menjadi struktur yang
lebih halus tidak kasar, dengan derajat struktur sedang hingga kuat, sehingga lebih
mudah untuk diolah. Komponen organik seperti asam humat dan asam fulvat
dalam hal ini berperan sebagai sementasi partikel lempung dengan membentuk
komplek lempung-logam-humus (Atmojo, 2003).

Bahan organik secara langsung merupakan sumber hara N, P, S, unsur


mikro maupun unsur hara esensial lainnya. Secara tidak langsung bahan organik
membantu menyediakan unsur hara N melalui fiksasi N2 dengan cara
menyediakan energi bagi bakteri penambat N2, membebaskan fosfat yang
difiksasi secara kimiawi maupun biologi dan menyebabkan pengkhelatan unsur
mikro sehingga tidak mudah hilang dari zona perakaran, membentuk agregat
tanah yang lebih baik dan memantapkan agregat yang telah terbentuk sehingga
aerasi, permeabilitas dan infiltrasi menjadi lebih baik. Akibatnya adalah daya
tahan tanah terhadap erosi akan meningkat, meningkatkan retensi air yang
dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman, meningkatkan retensi unsur hara melalui
peningkatan muatan di dalam tanah ( Simamora, 2005).
Pengaruh bahan organik terhadap kesuburan kimia tanah antara lain
terhadap kapasitas pertukaran kation, kapasitas pertukaran anion, pH tanah, daya
sangga tanah dan terhadap keharaan tanah. Penambahan bahan organik akan
meningkatkan muatan negatif sehingga akan meningkatkan kapasitas pertukaran
kation (KPK). Bahan organik memberikan konstribusi yang nyata terhadap KPK
tanah. Sekitar 20 70 % kapasitas pertukaran tanah pada umumnya bersumber
pada koloid humus (contoh: Molisol), sehingga terdapat korelasi antara bahan
organik dengan KPK tanah. Kapasitas pertukaran kation (KPK) menunjukkan
kemampuan tanah untuk menahan kation-kation dan mempertukarkan kationkation tersebut termasuk kation hara tanaman. Kapasitas pertukaran kation
penting untuk kesuburan tanah

( Atmojo, 2003).

Selain memiliki dampak positif, penggunaan bahan organik dapat pula


memberikan dampak yang merugikan. Salah satu dampak negatif yang dapat

muncul akibat dari penggunaan bahan organik yang berasal dari sampah kota
adalah meningkatnya logam berat yang dapat muncul akibat dari penggunaan
bahan sampah yang dapat diasimilasi dan diserap tanaman, kontaminasi dengan
senyawa organik seperti poli khlorat bifenil, fenol, hidrocarburate polisiklik
aromatic dan asam-asam organik ( Sumarsono, 2005 ).

Pengaruh Penambahan Bahan Organik Terhadap Peningkatan Laju


Nitrifikasi Pada Tanah Salin
Nitrogen merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman, yang
pada umumnya sangat diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan
bagian-bagian vegetatif tanaman, seperti daun, batang dan akar. Sekitar 40-50 %
kandungan protoplasma merupakan substansi hidup dari sel tumbuhan yang terdiri
dari senyawa nitrogen. Senyawa nitrogen digunakan oleh tanaman untuk
membentuk asam amino yang akan diubah menjadi protein. Bentuk nitrogen
dalam tanah dapat dibedakan menjadi 2 yaitu: nitrogen dalam bentuk organik
yang terdiri dari protein, asam amino, dan urea, termasuk nitrogen yang
ditemukan dalam makhluk hidup dan dalam tanaman dan hewan. Dan nitrogen
dalam bentuk anorganik, terdiri dari amonium (NH4+), gas amonia (NH3), Nitrit
(NO2), dan nitrat (NO3) ( Anggrahini, 2009 ).
Penambahan unur N dalam tanah dapat meningkatkan KPK serta secara
biologi dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah. Salah satu jenis
pupuk organik yang sering digunakan sebagai penambah bahan organik tanah
adalah pupuk kandang. Pupuk kandang biasanya terdiri dari campuran 0,5 % N;
0, 25 % P2O5; dan 0,5 % K2O. Pupuk kandang padat dengan kadar air 85 %
mengandung 0,40 % N; 0,20 % P2O5 dan 0,1 % K2O dan yang cair dengan kadar
air 95 % mengandung 1 % N; 0,2 % P2O5 dan 1,35 % K2O ( Jamilah, 2003).
Nitrogen sangat dinamik di dalam tanah, selalu berubah atau bergerak.
Tanaman menyerap N dalam 2 bentuk utama yaitu; amonium (NH4+) dan nitrat
(NO3-). Kedua bentuk nitrogen tersebut dapat diserap tanaman, tapi masingmasing bentuk mempunyai keunikan tersendiri. Amonium mempunyai muatan
positif dan berikatan dengan muatan negatif partikel tanah. Sedangkan nitrat

bermuatan negatif dan tidak berikatan dengan partikel tanah. Nitrifikasi


merupakan proses pengubahan nitrogen amonium secara biologis menjadi
nitrogen-nitrat. Proses nitrifikasi berlangsung dalam 2 tahap. Tahap I disebut
nitritasi yang dikerjakan oleh bakteri Nitrosomonas :
55 NH4 + 76 O2 + 109 HCO3 => 5 C5H7O2N + 54 NO2 + 57 H2O + 104H2CO3
Nitrit yang terbentuk akan segera diubah menjadi nitrat oleh bakteri Nitrobacter.
Reaksi tahap ke II ini (nitratasi) berlangsung sebagai berikut :
400 NO2 + NH4 + 195 O2 + HCO3 5 C5H7O2N + 400 NO3 + 3H2O
( Anggrihani, 2009 ).
Habitat tanah salin pada umumnya kekurangan unsur N, oleh karena itu
input N sangat penting pada lingkungan tersebut. Salah satu sumber N pada
habitat salin adalah penambatan N2. Aktivitas penambatan N2 sangat penting pada
habitat salin karena, efek garam yang timbul di habitat tersebut terhadap tanaman
dapat mengganggu penyerapan air dan nutrisi (khususnya N) dari dalam tanah dan
bersifat toksik pada sebagian besar organisme ( Setiawati dkk, 2007 ).
Akibat adanya kontaminasi garam-garam yang terbawa oleh air laut
menyebabkan salinitas tanah

meningkat dan hal ini akan menurunkan laju

nitrifikasi. Penurunan laju nitrifikasi biasanya diikuti dengan meningkatnya


potensial osmotik larutan tanah, sehingga hanya sedikit organisme tanah yang
toleran terhadap salinitas. Kehadiran ion Na+ pada tanah yang salin dalam jumlah
yang tinggi dapat membuat partikel tanah tersuspensi sehingga dapat menurunkan
porositas tanah dan aerasi. Peningkatan laju nitrifikasi pada tanah salin dapat
dilakukan dengan pemberian bahan organik yang memiliki kandungan unsur hara
nitrogen. Penambahan bahan organik sebagai pupuk organik pada lahan pertanian

diharapkan dapat meningkatkan produksi hasil pertanian dan dapat dimanfaatkan


sebagai alternatif penggunaan pupuk anorganik ( Hatta dan Nurhayati, 2006).
Pengaturan

kualitas

masukan

bahan

organik

(seresah)

dapat

mengendalikan laju nitrifikasi sehingga diperkirakan dapat menurunkan pelindian


N dalam tanah, pencemaran NO3-, emisi gas rumah kaca serta meningkatkan
efisiensi pemanfaatan nitrogen. Pengendalian nitrifikasi dapat dilakukan dengan
pemilihan seresah dari berbagai tanaman sumber bahan organik yang bervariasi
kualitasnya. Campuran seresah tersebut diharapkan untuk mempertahankan
kandungan bahan organik tanah dan memberikan N-mineral dengan laju
pelepasan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, untuk menghindari
peningkatan konsentrasi NH4+ yang mendorong nitrifikasi dan kehilangan N
( Purwanto, 2007).
Penambahan bahan organik dapat memperbaiki sifat-sifat tanah baik fisik,
kimia maupun biologi tanah. Disamping dapat menambah unsur hara ke dalam
tanah, bahan organik juga dapat mempertinggi humus, memperbaiki struktur
tanah dan mendorong kehidupan/kegiatan jasad renik di dalam tanah. Bahan
orgaik ini dapat memberikan sumber energi bagi mikroorganisme tanah untuk
membentuk nitrat tanah yang merupakan unsur hara yang sangat diperlukan bagi
tanaman ( Hatta dan Nurhayati, 2006).

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
1. Tanah salin merupakan daerah pantai yang mendapat intrusi atau pengaruh
air laut lebih dari 4 bulan dalam setahun.
2. Sifat-sifat tanah salin : daya hantar listrik tanah jenuh air (DHL) > 4 dS/m
dan memiliki ion-ion yang dominan seperti Na+ , Ca2+ , Mg2+, Cl-, SO423. Penyebab terbentuknya tanah salin

adalah bahan induknya mendapat

akumulasi garam yang tinggi dan pengaruh intrusi air laut.


4. Salinitas tanah menyebabkan terjadinya stres ion, stres osmotik dan stres
sekunder.
5.

Berdasarkan kemampuan untuk tumbuh pada keadaan salin tanaman


digolongkan menjadi halofita dan glikofita.

6. Gejala pertumbuhan tanaman pada tanah sain adalah terjadinya gejala


klorosis
7. Bahan organik adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam
tanah yang mengalami faktor biologi, kimia, dan fisika
8. Bahan organik dapat mempengaruhi kesuburan secara fisik maupun kimia
9. Kontaminasi garam-garam pada tanah mengakibatkan penurunan laju
nitrfikasi
10. Penambahan bahan organik dapat meningkatkan laju nitrifikasi bagi
pertumbuhan tanaman.

Saran
Dalam proses peningkatan laju nitrifikasi, diperlukan pengaturan kualitas
bahan organik untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan nitrogen sehingga
sesuai dengan kebutuhan tanaman.

DAFTAR PUSTAKA
Anggrahini, N. 2009. Dinamika N-NH4+, N-NO3- Dan Potensial Nitrifikasi
Tanah di Alfisols, Jumantono Dengan Berbagai Perlakuan Kualitas
Seresah. Fakultas Pertanian Sebelas Maret, Surakarta.
Anwar, S, dan Sunlo, B. 2005. Aplikasi Pupuk Organik Ternak Pada Tanah Salin
Untuk Pengembangan Tanaman Rumput Pakan Poliploid. Fakultas
Pertanian Universitas Diponegoro, Semarang.