Anda di halaman 1dari 2

Audit Forensik Bangunan Gedung

admin2

Minggu, 19/01/2014

Gazebo

Oleh : Halwan Alfisa S., ST., MT.

Kerusakan pada bangunan gedung merupakan fenomena yang umum dan sering kita jumpai di
lingkungan sekitar kita. Kerusakan tersebut dapat terjadi selama proses konstruksi maupun
setelah bangunan mulai digunakan. Faktor beban, lingkungan, dan kelalaian manusia dapat
memicu terjadinya kerusakan tersebut.
Sistem struktur merupakan bagian terpenting bangunan yang berfungsi memikul beban yang
bekerja. Pada bangunan gedung, sistem struktur ini pada umumnya dapat terdiri dari pelat, balok,
kolom dan pondasi. Kerusakan atau kegagalan pada elemen struktur dapat mengakibatkan
terjadinya keruntuhan lokal maupun global bangunan.

Kerusakan struktur bangunan dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu kerusakan ringan,
kerusakan sedang dan kerusakan berat. Kerusakan ringan merupakan kerusakan yang lebih
didominasi oleh kerusakan pada elemen arsitektural seperti kerusakan pada penutup interior,
penutup atap, kaca, keramik, dinding partisi dll. Kerusakan sedang dapat berupa terlihatnya lebar
retak melebihi 0.3 mm pada elemen struktur beton, korosi pada sebagian elemen struktur baja,
dan keropos pada sebagian elemen kayu di mana semua kerusakan tersebut memiliki potensi
kecil untuk terjadinya keruntuhan struktur. Kerusakan berat dapat berupa terlihatnya keretakan,
korosi, keropos, deformasi lateral dan deformasi vertikal pada sebagian besar elemen struktur
yang memiliki potensi cukup besar untuk terjadinya keruntuhan struktur.

Upaya penanganan terhadap kerusakan struktur bangunan harus disesuaikan dengan jenis dari
kerusakan yang terjadi. Untuk jenis kerusakan berat maka tindakan pembongkaran bangunan
barangkali akan menjadi pilihan yang paling mudah. Akan tetapi untuk bangunan yang hanya
mengalami kerusakan ringan sampai dengan kerusakan sedang, maka tindakan pembongkaran
bangunan tersebut akan menjadi pilihan yang sulit. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan nilai
sejarah dan budaya yang dimiliki oleh suatu bangunan. Upaya perbaikan dan perkuatan struktur
bangunan sering kali dinilai sebagai pilihan yang lebih rasional.
Pemeriksaan atau audit struktur bangunan diperlukan untuk mendapatkan upaya penanganan
yang optimal terhadap kerusakan yang terjadi pada suatu bangunan. Pemeriksaan struktur pada
umumnya dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap pemeriksaan awal dan tahap pemeriksaan
lanjutan. Tahap pemeriksaan awal meliputi pengumpulan data sekunder (spesifikasi teknis,
gambar perencanaan, laporan perhitungan struktur dan data perubahan struktur selama masa
layan); pengukuran geometri dan pembuatan peta situasi bangunan; survei struktur eksisting; dan
pemetaan kerusakan bangunan. Tahap pemeriksaan awal ini akan menentukan jenis pengujian
struktur yang diperlukan dalam tahap pemeriksaan lanjutan.

Teknologi audit forensik bangunan saat ini telah berkembang dengan pesatnya. Seperti halnya
seorang dokter, seorang insinyur saat ini sudah dapat mendeteksi dan mengukur kerusakan pada
struktur bangunan dengan mudah dan akurat . Pengujian menggunakan teknologi audit struktur
bangunan dibagi menjadi dua yaitu pengujian non-destruktif dan pengujian destruktif.
Pengujian non-destruktif struktur bangunan gedung di antaranya menggunakan alat Schmidths
hammer test, ultrasonic pulse velocity, rebar scanner, corrosion meter dan georadar. Alat
Scmidths hammer digunakan untuk mengetahui kualitas permukaan dan potensi pengelupasan
beton yaitu dengan mengukur nilai pantulan beban impak yang dihasilkan oleh alat tersebut. Alat
ultrasonic pulse velocity digunakan untuk mengetahui kualitas beton dan mengukur kedalaman
retak. Alat rebar scanner digunakan untuk mengetahui konfigurasi tulangan tertanam dalam
beton yaitu dengan memanfaatkan sifat perubahan medan magnet yang dihasilkan oleh alat.
Corrosion meter digunakan untuk mengukur kadar korosi pada baja berdasarkan sifat listrik yang
dihantarkan. Kemudian terakhir adalah alat georadar digunakan untuk mendeteksi konfigurasi
dan kedalaman benda-benda yang tertanam di dalam tanah seperti sloof dan pondasi berdasarkan
sifat gelombang yang dipancarkan dan diterima oleh alat.

Pengujian destruktif struktur bangunan gedung di antaranya adalah pengujian core drill,
pengujian laju karbonasi, dan pengujian pull off. Pengujian core drill adalah pengambilan sampel
beton terpasang pada bangunan eksisting di mana sampel tersebut kemudian akan diuji di
laboratorium untuk diketahui parameter kekuatannya. Pengujian laju karbonasi dilakukan dengan
menyemprotkan larutan phenol phetalein pada beton. Potensi kerusakan tulangan terpasang
terjadi jika beton telah terkarbonasi. Kemudian terakhir adalah pengujian pull out digunakan
untuk mengetahui kapasitas kekuatan rekatan antara lapisan baru dan lama pada beton.
Pada beberapa kasus seperti terjadinya penurunan tanah di bawah bangunan dibutuhkan data
penyelidikan tanah untuk melengkapi analisis. Penyelidikan tanah dapat berupa pengujian sondir
dan boring.
Pemeriksaan struktur bangunan dilanjutkan dengan analisis pengecekan kapasitas struktur
berdasarkan semua data yang telah diperoleh. Analisis pengecekan kapasitas elemen struktur
dapat dilakukan secara lokal yaitu hanya pada elemen struktur yang bermasalah maupun secara
global sebagai satu kesatuan sistem struktur bangunan gedung. Analisis pengecekan kapasitas
struktur dapat dilakukan menggunakan bantuan software analisis struktur yang saat ini banyak
beredar di pasaran seperti MIDAS, SAP 2000, ETABS, STAAD Pro, dll. Analisis pengecekan
struktur merupakan verifikasi terhadap fenomena kerusakan yang terjadi pada bangunan
eksisting. Pengecekan kapasitas struktur juga dapat mengindikasikan bagian-bagian mana yang
memiliki potensi kerusakan di kemudian hari. Keseluruhan hasil pemeriksaan bangunan
eksisting dan pengecekan kapasitas struktur digunakan untuk menyimpulkan level dari kerusakan
bangunan dan metode penanganannya.