Anda di halaman 1dari 26

Lisa Prihastari

1406505140

SEJARAH TEMPE
Kata Tempe ditemukan pada tahun 1875,
dalam manuskrip jawa. Tempe makanan
tradisional dalam masyarakat Jawa khususnya
yogyakarta dan Surakarta (History of Tempeh,
William S, 2011)

PENYEBARAN TEMPE
Selain menyebar ke seluruh Indonesia, tempe
juga telah menyebar hingga ke beberapa
Negara di luar indonesia :
dimulai oleh Belanda, tempe populer di Eropa
sejak th 1946, pd th 1984 terdapat 18
perusahaan di eropa, 53 di eropa dan 8
dijepang.
Negara Lain : cina, india, taiwan, sri lanka,
kanada, Australia, Amerika latin dan Afrika

Sumber : History of Tempeh,Soyinfo


center, William S, 2011

Manufacturers Address: P.O. Box 870, Greenfi eld, MA


01301. Phone: 413-772-0991.
Date of Introduction: 1979. September.
Ingredients: Organically grown soybeans, water, Rhizopus
culture.
Wt/Vol., Packaging, Price: 8 oz.
How Stored: Refrigerated.
Nutrition: Per 4 oz.: Calories 182, protein 24 gm,
carbohydrate 9 gm, fat 6 gm, sodium 11 mg, iron 3 gm.
Percentage of RDA: Vitamin B-12 160%, Protein 40%, Iron
20%, calcium 10%.

TEMPE BERASAL DARI KEDELAI YANG


TERKENAL SEBAGAI SALAH SATU SUMBER
NUTRISI TERBAIK DARI ALAM YANG
BERFUNGSI UNTUK MENJAGA KESEHATAN
(Balk et al., 2005)
NAMUN, TEMPE MEMILIKI KEUNGGULAN
DIBANDINGKAN KEDELAI AKIBAT PROSES
FERMENTASI OLEH JAMUR Rhizopus Sp

Selama Fermentasi, meningkatkan mutu


biologi protein (PER) kedelai. Nilai PER Tempe
(2,45) mendekati nilai PER Kasein (2,5) pada
Susu. (Sri Yuniati, 2010)
Secara kimiawi fermentasi meningkatkan
kadar padatan terlarut, nitrogen terlarut,
asam amino bebas, asam lemak bebas (De
Reu et all, 1994), nilai cerna dan nilai efisiensi
protein (Kiers et al, 2000)

Keunggulan Lain, Pada tempe, terdapat


Enzim2 Pencernaan yang dihasilkan oleh
Kapang Tempe selama Fermentasi, yaitu
enzim amilase, protease, dan lipase yang
mendegradasi makronutrien menjadi subtansi
molekuler yg lebih kecil dan cepat larut dalam
air. Berbagai vitamin, fitokimia, anti oksidan
juga dihasilkan selama proses ini (Astuti, 2000;
Nout&kiers, 2005)

Pengolahan Kedelai menjadi tempe akan


menurunkan kadar Raffinosa dan stakiosa,
yaitu senyawa yang dapat menyebabkan
timbulnya gejala flatulensi (perut kembung)
(Egounlety&Aworh, 2003; Mulyowidarso et
al., 1991)
Jamur pada tempe tidak menghasilkan
aflaktosin dan bahkan melindungi kedelai dari
aflatoksin yang dihasilkan jamur infeksius.(Ali,
2008)

Tempe untuk Penderita Gizi buruk dan Anti


Diare telah diteliti sejak Lama.
Di indonesia, suplementasi formula tempe thd
gizi kurang di Sulawesi Utara menunjukkan
stastus gizi secara signifikan (Hadju v dkk,
2004)
Dan pemberian Tempe pada anak diare
menunjukkan penurunan lama diare dan
kenaikan berat badan (Partawihardja,1990;
Soenarto y dkk, 1997)

Menurut Anik puryanti 2010 : pemberian


subtitusi tempe kedelai dapat memberikan
efek yang sama denga suplemen standar WHO
yaitu F100 pada anak dengan malnutrisi. Yang
diukur menggunakan uji klinis saturasi
transferin

1. TEMPE LEBIH MUDAH DICERNA SETELAH MELALUI PROSES


FERMENTASI (Astawan, 2004)
2. NILAI PROTEINYA MENDEKATI SUSU, YANG BIASANYA
DIGUNAKAN UNTUK MEMPERBAIKI STATUS GIZI (Ginna,
2007)
3. KANDUNGAN PREBIOTIK DLM TEMPE MENGUNTUNGKAN
BAKTERI PROBIOTIK DALAM SALURAN PENCERNAAN
SEHINGGA PENYERAPAN MAKANAN DARI USUS HALUS SMP
DENGAN USUS BESAR TERLINDUNGI. SEHINGGA DAYA
TAHAN TUBUH SEMAKIN BAIK DAN BERDAMPAK PADA HARI
KESEMBUHAN SEMAKIN PENDEK (Wahlqvist, 2002)

4. Tempe mengandung senyawa antibakteri/


antibiotik terutama bakteri membunuh gram
positif seperti Bacillus subtilis, Staphylococcus
aureus, Streptococcus dan Clostridium spp
dapat membunuh bakteri dalam saluran
pencernaan ( Kobayasi et al, 1992; Wang et al,
1972; wang et al, 1969)

5. Menyuplai kebutuhan nutrisi seperti asam lemak


tak jenuh majemuk yang tidak dihasilkan oleh tubuh
6.menyuplai kadar besi yang cukup setiap harinya
(26mg) dan keunikannya zat besi tersebut mudah
diikat oleh darah dan diserap oleh tubuh, sehingga
mengurangi kecenderungan mudah pecahnya sel
darah. Vitamin b12 juga membantu perawatan sel
saraf dan pembentukan sel darah merah

DARI BERBAGAI JURNAL ILMIAH FUNGSI


TEMPE SEBAGAI : mencegah penyakit jantung
dengan mengatur kadar kolesterol, mencegah
penuaan dan penyakit syaraf, memperbaiki
struktur tulang, hepatoprotektif, mencegah
kanker saluran pencernaan, anti hipertensi dll.

Astuti, (2000), Tempe, a nutritious and healthy food from Indonesia. Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition 9, pp. 322-325.
Nout, M.J.R., Kiers, J.L., (2005), Tempe fermentation, innovation and functionality: update into the third millenium. Journal
of Applied Microbiology 98, pp. 789-805.
De Reu, J.C., Ramdaras, D., Rombouts, F.M., Nout, M.J.R., (1994), Changes in soya bean lipids during tempe fermentation.
Food Chemistry 50, pp. 171-175.
Egounlety, M., Aworh, O.C., (2003), Effect of soaking, dehulling, cooking and fermentation with Rhizopus oligosporus on the
oligosaccharides, trypsin inhibitor, phytic acid and tannins of soybean (Glycine max Merr.), cowpea (Vigna unguiculata L.
Walp) and groundbean (Macrotyloma geocarpa Harms). Journal of Food Engineering 56, pp. 249-254.
Mulyowidarso, R.K., Fleet, G.H., Buckle, K.A., (1991), Changes in the concentration of carbohydrates during the soaking of
soybeans for tempe production. International Journal of Food Science and Technology 26, pp. 595-606.
Kiers, J.L., Nout, M.J.R., Rombouts, F.M., (2000), In vitro digestibility of processed and fermented soya bean, cowpea and
maize. Journal of the Science of Food and Agriculture 80, pp. 1325-1331
Kobayasi, S.Y., Okazaki, N., Koseki, T., (1992), Purification and characterization of an antibiotic substance produced from
Rhizopus oligosporus IFO 8631. Bioscience, Biotechnology and Biochemistry 56, pp. 94-98.
Wang, H.L., Ellis, J.J., Hesseltine, C.W., (1972), Antibacterial activity produced by molds commonly used in oriental food
fermentations. Mycologia 64, pp. 218-221.
Astawan M, 2004. Potensi Tempe Ditinjau Dari Segi Gizi dan Medis Tetap Sehat Dengan Produk Makanan Olahan, Solo: Tiga
Serangkai
Ginna M, 2007. Jalan Mudah Menjadi Awet Muda. Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI Jakarta: Majalah
Interaksi
Ali, I., 2008. Buat Tempe Yuuuuk. http://iqbalali.com/2008/05/07/buat-tempe-yuuuuk/. Diakses tanggal 18 Juli 2011