Anda di halaman 1dari 26

I.

Tujuan Percobaan
a. Mempelajari prinsip kerja transformator dan karakteristiknya
b. Mengetahui rangkaian ekivalen transformator pada beban nol dan hubung
singkat
c. Mengenal hubungan pembebanan trafo baik hubung bintang maupun delta
d. Mengetahui jenis-jenis pembebanan dari R, L, C
e. Mengetahui grafik hubungan dari besaran-besaran yang diukur

II. Teori Dasar


2.1 Pengertian Transformator
Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan
dan mengubah energi listrik dari suatu atau lebih ragkaian listrik ke
rangkaian listrik yang lain melalui suatu gandengan magnet dan
berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik.
Berdasarkan frekuensi trafo dibedakan menjadi :
1. Frekuensi Daya, 50 60 c/s.
2. Frekuensi Pendengaran, 50 c/s 20 kc/s.
3. Frekuensi Radio, diatas 30 kc/s.

Dalam bidang tenaga listrik pemakaian transformator dibedakan menjadi :


1. Transformator Daya.
2. Transformator Distribusi.
3. Transformator pengukuran yang terdiri dari transformator arus dan
transformator tegangan.

N1
V1

N2

E1

E2

V2

Gambar 2.1 Prinsip kerja trafo

Keterangan :
V1

= Tegangan Jepit primer.

V2

= Tegangan Jepit Skunder.

E1

= GGL Primer

E2

= GGL skunder

= Jumlah Lilitan

= Fluksi
Kumparan primer dihubungkan dengan tegangan sumber V1 yang

berbentuk sinus (v1 = v1 sin t). Maka akan mengalirlah arus primer Io
yang juga sinusoida dan dengan menganggap belitan N1 reaktif murni,Io
akan tertingggal 90o dari V1.Arus primer Io menimbulkan fluks yang
sefasa dan juga berbentuk sinusoida,sehingga
F = cos t.
Menurut hukum faraday secara umum : e = -N

d
10-8 Volt.
dt

Maka pada kumparan primer :


e = -N

d
d ( cost )
= -N
= N1 F sin t.
dt
dt

GGL ini akan maksimum bila Sin t = 1, jadi e1 max = e1 = N1 F = N1


F 2f.
Nilai efektif =
Jadi E1 eff =

nilai max
2

N 1 2f
2

= 4,44 N1 f F Volt.

Dengan perhitungan yang sama pada kumparan sekunder didapatkan :


E2 = 4,44 N2 f F Volt.
Sedangkan perbandingannya :
N1
E1
=
E2
N2

Rangkaian trafo ekivalen pada beban nol :


I
Io
Ic
V1

Rc

I1
Xm

Gambar 2.2 Rangkaian ekivalen beban nol

Keterangan :
V1

= Tegangan jepit pada keadaan beban nol.

I1

= Io = Arus beban nol.

Ic

= Arus rugi-rugi inti.

Ij

= Arus magetisasi.
3

Rc

= Tahanan karena adanya rugi-rugi inti.

Xm

= Reaktansi yang menimbulkan fluksi utama.


Pada kaadaan beban nol arus yang mengalir pada kumparan primer

sama dengan arus beban nol, sedangkan arus yang mengalir pada
kumparan sekunder sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Arus yang
mengalir sangat kecil disebabkan oleh rangkaian yang terbuka, dengan
demikian daya yang msuk pada keadaan beban nol hanya cukup untuk
mengatasi rugi-rugi.

Rugi-rugi beban nol : Po =

V 12
Rc

Rangkaian ekivalen trafo hubung singkat :

Re

Xe
Ze

V1

Gambar 2.3 Rangkaian ekivalen hubung singkat

Keterangan :
V1

= Tegangan jepit pada kumparan.

= Arus yang mengalir pada rangkaian hubungan singkat.

Re

= Tahanan ekivalen pada keadaan hubungan singkat.

Xe

= Reaktansi ekivalen pada keadaan hubungan singkat.

Pada keadaan hubung singkat arus yang mengalir pada rangkaian


magnetisasi sangat kecil dibandingkan rangkaian utama, sehingga arus
yang mengalir pada magnetisasi dapat diabaikan.

Rugi-rugi hubungan singkat (Phs) : Phs = I2 Re.


2.2 Bagian bagian Transformator
Bagian utama transformator, terdiri dari:
a) Inti besi
Inti besi berfungsi untuk mempermudah jalan fluks, yang
ditimbulkan oleh arus listrik yang melalui kumparan. Dibuat dari
lempengan-lempengan besi tipis yang berisolasi, untuk mengurangi
panas

(sebagai

rugi-rugi

besi)

yang

ditimbulkan

oleharus

pusar atau arus eddy (eddy current).


b) Kumparan transformator
Beberapa lilitan kawat berisolasi membentuk suatu kumparan, dan
kumparan tersebut diisolasi, baik terhadap inti besi maupun terhadap
kumparan lain dengan menggunakan isolasi padat seperti karton,
pertinax dan lain-lain. Pada transformator terdapat kumparan primer
dan kumparan sekunder. Jika kumparan primer dihubungkan dengan
tegangan/arus bolak-balik maka pada kumparan tersebut timbul fluks
yang menimbulkan induksi tegangan, bila pada rangkaian sekunder
ditutup (rangkaian beban) maka mengalir arus pada kumparan tersebut,
sehingga kumparan ini berfungsi sebagai alat transformasi tegangan dan
arus.
c) Kumparan tertier
Fungsi kumparan tertier diperlukan adalah untuk memperoleh
tegangan tertier atau untuk kebutuhan lain. Untuk kedua keperluan
tersebut, kumparan tertier selalu dihubungkan delta atau segitiga.
Kumparan tertier sering digunakan juga untuk penyambungan peralatan
bantu seperti kondensator synchrone, kapasitor shunt dan reactor shunt,

namun demikian tidak semua transformator daya mempunyai kumparan


tertier.
d) Minyak transformator
Sebagian besar dari transformator tenaga memiliki kumparankumparan yang intinya direndam dalam minyak transformator, terutama
pada transformator-transformator tenaga yang berkapasitas besar,
karena minyak transformator mempunyai sifat sebagai media pemindah
panas (disirkulasi) dan juga berfungsi pula sebagai isolasi (memiliki
daya tegangan tembus tinggi) sehingga berfungsi sebagai media
pendingin dan isolasi.
e) Bushing
Hubungan antara kumparan transformator ke jaringan luar melalui
sebuah bushing, yaitu sebuah konduktor yang diselubungi oleh isolator,
yang sekaligus berfungsi sebagai penyekat antara konduktor tersebut
dengan tangki transformator.
f) Tangki dan konservator
Pada umumnya bagian-bagian dari transformator yang terendam
minyak transformator berada atau (ditempatkan) di dalam tangki. Untuk
menampung pemuaian pada minyak transformator, pada tangki
dilengkapi dengan sebuah konservator.
2.3 Jenis jenis Transformator
a. Step-Up

Gambar 2.4 Lambang transformator step-up

Transformator step-up adalah transformator yang memiliki lilitan


sekunder lebih banyak daripada lilitan primer, sehingga berfungsi
sebagai penaik tegangan. Transformator ini biasa ditemui pada
pembangkit tenaga listrik sebagai penaik tegangan yang dihasilkan
generator menjadi tegangan tinggi yang digunakan dalam transmisi
jarak jauh.
b. Step-down

Gambar 2.5 Skema transformator step-down

Transformator step-down memiliki lilitan sekunder lebih sedikit


daripada lilitan primer, sehingga berfungsi sebagai penurun tegangan.
Transformator jenis ini sangat mudah ditemui, terutama dalam adaptor
AC-DC.

c. Autotransformator

Gambar 2.6 Skema transformator

Transformator jenis ini hanya terdiri dari satu lilitan yang berlanjut
secara listrik, dengan sadapan tengah. Dalam transformator ini,
sebagian lilitan primer juga merupakan lilitan sekunder. Fasa arus
dalam lilitan sekunder selalu berlawanan dengan arus primer, sehingga
untuk tarif daya yang sama lilitan sekunder bisa dibuat dengan kawat
yang lebih tipis dibandingkan transformator biasa. Keuntungan dari
autotransformator adalah ukuran fisiknya yang kecil dan kerugian yang
lebih rendah daripada jenis dua lilitan. Tetapi transformator jenis ini
tidak dapat memberikan isolasi secara listrik antara lilitan primer

dengan lilitan sekunder. Selain itu, autotransformator tidak dapat


digunakan sebagai penaik tegangan lebih dari beberapa kali lipat
(biasanya tidak lebih dari 1,5 kali).

d. Autotransformator Variabel

Gambar 2.7 Skema Autotransformator Variabel

Autotransformator variabel sebenarnya adalah autotransformator


biasa yang sadapan tengahnya bisa diubah-ubah, memberikan
perbandingan lilitan primer-sekunder yang berubah-ubah.
e. Transformator Isolasi
Transformator isolasi memiliki lilitan sekunder yang berjumlah
sama dengan lilitan primer, sehingga tegangan sekunder sama dengan
tegangan primer. Tetapi pada beberapa desain, gulungan sekunder
dibuat sedikit lebih banyak untuk mengkompensasi kerugian.
Transformator seperti ini berfungsi sebagai isolasi antara dua kalang.
Untuk penerapan audio, transformator jenis ini telah banyak digantikan
oleh kopling kapasitor.
f. Transformator Pulsa
Transformator pulsa adalah transformator yang didesain khusus
untuk memberikan keluaran gelombang pulsa. Transformator jenis ini
8

menggunakan material inti yang cepat jenuh sehingga setelah arus


primer mencapai titik tertentu, fluks magnet berhenti berubah. Karena
GGL induksi pada lilitan sekunder hanya terbentuk jika terjadi
perubahan fluks magnet, transformator hanya memberikan keluaran saat
inti tidak jenuh, yaitu saat arus pada lilitan primer berbalik arah.
g. Transformator Tiga Fasa
Transformator tiga fasa sebenarnya adalah tiga transformator yang
dihubungkan secara khusus satu sama lain. Lilitan primer biasanya
dihubungkan secara bintang (Y) dan lilitan sekunder dihubungkan
secara delta ().
2.4 Prinsip kerja Transformator
Transformator adalah suatu alat listrik yang dapat mengubah dan
menyalurkan energi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke
rangkaian ke rangkaian listrik yang lain melalui suatu gandengan megnet
dan berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik. Transformator di
gunakan secara luas baik dalam bidang tenaga listrik maupun elektronika.
Penggunaan transformator dalam sistem tenaga memungkinkan terpilihnya
tegangan yang sesuai dan ekonomis untuk tiap-tiap keperluan misalnya,
kebutuhan akan tegangan tinggi dalam pengiriman daya jarak jauh.
Transformator terdiri atas dua buah kumparan ( primer dan
sekunder ) yang bersifat induktif. Kedua kumparan ini terpisah secara
elektrik namun berhubungan secara magnetis melalui jalur yang memiliki
reluktansi ( reluctance ) rendah. Apabila kumparan primer dihubungkan
dengan sumber tegangan bolak-balik maka fluks bolak-balik akan muncul
di dalam inti yang dilaminasi, karena kumparan tersebut membentuk
jaringan tertutup maka mengalirlah arus primer. Akibat adanya fluks di
kumparan primer maka di kumparan primer terjadi induksi sendiri ( self
induction ) dan terjadi pula induksi di kumparan sekunder karena pengaruh
induksi dari kumparan primer atau disebut sebagai induksi bersama (

mutual induction ) yang menyebabkan timbulnya fluks magnet di


kumparan sekunder, maka mengalirlah arus sekunder jika rangkaian
sekunder di bebani, sehingga energi listrik dapat ditransfer keseluruhan
(secara magnetisasi ).
Pada skema transformator di bawah ini, ketika arus listrik dari
sumber tegangan yang mengalir pada kumparan primer berbalik arah
(berubah polaritasnya) medan magnet yang dihasilkan akan berubah arah
sehingga arus listrik yang dihasilkan pada kumparan sekunder akan
berubah polaritasnya.

Gambar 2.8 Skema transformator kumparan primer dan kumparan sekunder terhadap
medan magnet

Gambar 2.9 Hubungan antara tegangan primer, jumlah lilitan primer, tegangan sekunder,
dan jumlahlilitan sekunder

10

Hubungan antara tegangan primer, jumlah lilitan primer, tegangan


sekunder, dan jumlah lilitan sekunder, dapat dinyatakan dalam persamaan

Vp = tegangan primer (volt)


Vs = tegangan sekunder (volt)
Np = jumlah lilitan primer
Ns = jumlah lilitan sekunder
Pada transformator (trafo) besarnya tegangan yang dikeluarkan oleh
kumparan sekunder adalah:

1. Sebanding dengan banyaknya lilitan sekunder (Vs ~ Ns).


2. Sebanding dengan besarnya tegangan primer ( VS ~ VP).
3. Berbanding terbalik dengan banyaknya lilitan primer,

Sehingga dapat dituliskan:

III. Alat alat yang digunakan


a) Transformator 1 fasa

1 buah

b) Transformator 3 fasa

1 buah

c) Power DC

1 buah

d) Variac

1 buah

e) Rangkaian panel

1 unit

11

f) Voltmeter AC

1 buah

g) Amperemeter AC

1 buah

h) Wattmeter

1 buah

i) Beban lampu

6 buah

j) Jumper

secukupnya

IV. Prosedur percobaan


a. Percobaan Beban Nol
R
Wattmeter

A
Trafo

N
Gambar 4.1 Rangkaian percobaan beban nol

1. Siapkan alat alat yang akan digunakan


2. Periksa alat alat yang akan digunakan
3. Rangkai alat sesuai dengan gambar 4.1
4. Setelah selesai dirangkai tanya asisten, jika sudah benar hidupkan
sumber tegangan
5. Nyalakan pengatur tegangan
6. Amati dan catat nilai arus, tegangan, dan daya.
7. Matikan sumber tegangan

b. Percobaan hubung singkat

R
VARIAC

TRAFO

Gambar 4.2 Rangkaian percobaan hubung singkat

1. Siapkan alat alat yang akan digunakan


2. Periksa alat alat yang akan digunakan

12

3. Rangkai alat sesuai dengan gambar 4.2


4. Setelah selesai dirangkai tanya asisten, jika sudah benar hidupkan
sumber tegangan
5. Nyalakan pengatur tegangan
6. Amati dan catat nilai arus dan tegangan
7. Matikan sumber tegangan

c. Percobaan tahanan dalam transformator


R
SUPPLY DC

TRAFO

Gambar 4.3 Rangkaian percobaan tahanan dalam transformator

1. Siapkan alat alat yang akan digunakan


2. Periksa alat alat yang akan digunakan
3. Rangkai alat sesuai dengan gambar 4.3
4. Setelah selesai dirangkai tanya asisten untuk diperiksa
5. Atur tegangan pada Power Supply
6. Amati dan catat nilai arus dan tegangan yang terdapat pada Power
Supply
7. Matikan sumber tegangan

d. Hubung bintang dengan beban 300 watt

SH1
R
S
T

SH2
A

TRAFO
3 FASA
V

N
Gambar 4.4 Rangkaian percobaan hubung bintang dengan beban 300 watt

13

1. Membuat rangkaian seperti gambar diatas


2. Melaporkan rangkaian percobaan yang telah dibuat ke asisten, tegangan
supply hanya boleh dipasang pada rangkaian bila disetujui asisten.
3. Menyalakan MCB
4. Memindahkan posisi saklar (SH 1) ke O ke I, Selanjutnyasaklar handel
(SH 20 dari posisi O ke I
5. Mencatat masing-masing parameter yang diukur : wattmeter, voltmeter
dan amperemeter

e. Hubung bintang dengan beban 600 watt


1. Membuat rangkaian seperti gambar dibawah ini

SH1
R
S
T

SH2
A

TRAFO
3 FASA
V

N
Gambar 4.5 Rangkaian percobaan hubung bintang dengan beban 600 watt

2. Melaporkan rangkaian percobaan yang telah dibuat ke asisten,


tegangan supply hanya boleh dipasang pada rangkaian bila disetujui
asisten
3. Menyalakan MCB
4. Memindahkan posisi saklar (SH 1) ke O ke I, Selanjutnyasaklar handel
(SH 20 dari posisi O ke I
5. Mencatat masing-masing parameter yang diukur : wattmeter, voltmeter
dan amperemeter

f. Hubung delta dengan beban 300 watt


1. Membuat rangkaian seperti gambar dibawah ini

14

SH1
R
S
T

SH2
A

TRAFO
3 FASA
V

Gambar 4.6 Rangkaian percobaan hubung delta dengan beban 300 watt

2. Melaporkan rangkaian percobaan yang telah dibuat ke asisten,


tegangan suplly hanya boleh dipasang pada rangkaian bila disetujui
asisten
3. Menyalakan MCB
4. Memindahkan posisi saklar (SH 1) ke O ke I, Selanjutnyasaklar handel
(SH 20 dari posisi O ke I
5. Mencatat masing-masing parameter yang diukur : wattmeter, voltmeter
dan amperemeter

g. Hubung delta dengan beban 600 watt


1. Membuat rangkaian seperti gambar dibawah ini
SH1
R
S
T

SH2
A

TRAFO
3 FASA
V

Gambar 4.7 Rangkaian percobaan hubung delta dengan beban 600 watt

2. Melaporkan rangkaian percobaan yang telah dibuat ke asisten,


tegangan suplly hanya boleh dipasang pada rangkaian bila disetujui
asisten
3. Menyalakan MCB
4. Memindahkan posisi saklar (SH 1) ke O ke I, Selanjutnyasaklar handel
(SH 20 dari posisi O ke I
5. Mencatat masing-masing parameter yang diukur : wattmeter, voltmeter
dan amperemeter

15

V. Data dan Hasil Pengamatan Praktikum


Tabel 1 Percobaan Beban Nol
V (volt)

I (ampere)

P (watt)

108

18

Tabel 2 Percobaan Hubung Singkat


V (volt)

I (ampere)

3.2

Tabel 3 Percobaan Tahanan Dalam Transformator


V (volt)

I (ampere)

Pada

0.3

0.59

primer

0.5

1.79

sekunder

Tabel 4 Pembebanan Trafo 3 fasa


Hubung

Load

Kondisi

(watt)

(volt)

(ampere)

Lampu

300

122

0.31

Terang

600

123.2

0.63

Redup

300

216

0.73

Sangat Terang

600

143.7

0.45

Terang

16

VI. Pengolahan Data

17

VII. Analisa
Pada percobaan trafo rangkaian beban nol, kita akan mendapatkan nilai
tahanan dari rangkaian ekivalen sama dengan nol karena rangkaian terbuka
(nilai arus sama dengan nol) dan nilai tegangan keluaran (V1) dari
rangkaian juga sama dengan nilai output dari transformator berdasarkan
teori. Tapi dari percobaan kali ini, hasil yang didapat tidak sesuai dengan
teori.
Hasil dari pengamatan dari rangkaian beban nol adalah tegangan sama
dengan 12,30volt dan tahanan sama dengan 6,30. Hal ini bisa disebabkan
karena:
a. Adanya tahanan dalam dari amperemeter dan voltmeter yang besar
karena amperemeter dan voltmeter dihubung seri sehingga membuat
total nilai tahanan dalam lebih besar membuat nilai tegangan menurun
dari 110v.
b. Untuk nilai Rc jika dilihat dari rumus di pengolahan data tidak
menghasilkan sama dengan nol, tapi misalnya kita menggunakan rumus
P = Ic2R (Ic = 0, karena I = 0 dan I kumparan sekunder = diabaikan)
maka akan menghasilkan sama dengan tak hingga untuk nilai Rc dan
dianggap nol. Atau meggunakan hukum yang menyatakan bahwa
tegangan dari rangkaian paralel sama, jadi V1 = I.Rc (I = 0) jadi Rc
akan bernilai tak hingga dan dianggap nol.

VIII. Kesimpulan
1.

Dari

percobaan

modul

praktikum

transformator,

kita

dapat

mengetahui prinsip kerja transformator dan karakeristiknya serta


mengetahui rangkaian ekivalen pada beban nol.
2.

Kita dapat mengetahui Kegunaan dari trasformator adalah sebagai


penurun atau penaik tegangan, juga sebagai penstabil tegangan, bisa
juga sebagai alat ukur tegangan, terutama pada tegangan tinggi.

18

3. Jadi transformator adalah sebagai alat konversi energi, untuk


menurunkan atau menaikan suatu tegangan.

IX. Saran
1. Berhati hati saat melakukan praktikum percobaan transformator karena
tegangan yang digunakan cukup besar.
2. Kepada praktikan harus lebih teliti dalam pengambilan data karena
kesalahan kecil apapun bisa sangat berpengaruh.
3. Tanyakan kepada asisten apabila sudah selesai merangkai rangkaian
percobaan.
X. DAFTAR PUSTAKA
Tim Assisten, Modul Praktikum IIIA DKEE, ITENAS:Bandung, 2009.
Zuhal, Dasar Tenaga Listrik, ITB: Bandung.
http://dunia-listrik.blogspot.com/2009/01/transformator.html
http://zhagitoloh.blogspot.com/2010/01/jenis-jenis-dan-prinsip-kerja.html

19

LAMPIRAN

20

I.

TUGAS AKHIR DAN PERTANYAAN

a) Beban Nol
1. Tentukan harga Rc dan Xm !
Rc = 496.22 Ohm
Xm = 307.51 Ohm
Note : untuk mengetahui perhitungannya ada dalam pengolahan
data.
2. Gambarkan ekivalen trafo dengan konstantanya ?

Keterangan :
V1 = tegangan jepit pada keadaan beban nol
I1 = I0 = arus beban nol
Ic = arus rugi-rugi inti
Ij = arus magnetisasi
Rc = tahanan karena adanya rugi-rugi inti
Xm = reaktansi yang menimbulakan fluksi utama

b) Hubung Singkat
1. Tentukan harga Rc dan Xm !
Rc = 0.2996 Ohm
Xm = 0.3525 Ohm
Note : untuk mengetahui perhitungannya ada dalam pengolahan
data.

21

2. Gambarkan ekivalen trafo dengan konstantanya ?

Keterangan :
V1 = tegangan jepit pada keadaan hubung singkat
I

= arus hubung singkat

Re = tahanan karena adanya rugi-rugi inti


Xe = reaktansi yang menimbulakan fluksi utama
c) Hitung rugi-rugi total dan efisiensi trafo ?
Note : untuk mengetahuinya ada dalam pengolahan data.

22

II. WIRING DIAGRAM


Wiring Diagram Percobaan Beban Nol

WATT METER
10A

COM

V WATT

TRAFO 1 FASA
220

110

VOLT METER

AMPERE METER
10A

COM

10A

V WATT

COM

V WATT

Wiring Diagram Percobaan Hubung Singkat


T

VARIAC
N

IN

OUT

TRAFO 1 FASA
220

110

VOLT METER
10A

COM

V WATT

AMPERE METER
10A

COM

V WATT

23

Wiring Diagram Percobaan Tahanan Dalam Trafo Primer

TRAFO 1 FASA

Power Supply
DC
+

220

110

SUMBER
PLN

Wiring Diagram Percobaan Tahanan Dalam Trafo Sekunder

TRAFO 1 FASA

Power Supply
DC
+

220

110

SUMBER
PLN

24

Wiring Diagram Percobaan Hubung Bintang dengan Beban 300 Watt


R

SUMBER TEGANGAN
S
T
N

10A COM V Watt

10A COM V Watt

SH 1

SH 2

R S T

X Y Z

IN

BEBAN
HUBUNG Y
300 W

OUT
TRAFO 3 FASA

Wiring Diagram Percobaan Hubung Bintang dengan Beban 600 Watt


R

SUMBER TEGANGAN
S
T
N

10A COM V Watt

10A COM V Watt

+ -

+ SH 1

SH 2
+ -

R S T

X Y Z

IN

OUT

BEBAN
HUBUNG Y
600 W

TRAFO 3 FASA

25

Wiring Diagram Percobaan Hubung Delta dengan Beban 300 Watt


R

SUMBER TEGANGAN
S
T
N

10A COM V Watt

10A COM V Watt

+ -

SH 1

SH 2

R S T

X Y Z

IN

OUT

BEBAN
HUBUNG
300 W

TRAFO 3 FASA

Wiring Diagram Percobaan Hubung Delta dengan Beban 600 Watt


R

SUMBER TEGANGAN
S
T
N

10A COM V Watt

10A COM V Watt

SH 1

+ -

+ -

+ -

+ -

+ -

+ -

SH 2

R S T

X Y Z

IN

OUT

BEBAN
HUBUNG
600 W

TRAFO 3 FASA

26