Anda di halaman 1dari 5

SPIRITUALITAS PADA MASA MODERN

MAKALAH
Guna Memenuhi Tugas : Akhlak Tasawuf
Dosen Pengampu : Dr. H. Abdul Muhayya, M.A

Disusun Oleh :
Mahmudi

(1404016004)

Habib Adnan Rahmatullah (1404016010)


Siti Mahmudah

(1404016011)

SPIRITUALITAS DI ERA MODERN

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG MASALAH


Persoalan besar yang muncul di tengah-tengah umat manusia sekarang ini adalah
krisis spiritualitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi
rasionalisme, empirisisme, dan positivisme ternyata membawa manusia kepada
kehidupan modern di mana sekularisme menjadi mentalitas jaman, dan karena itu
spiritualisme menjadi suatu anatema bagi kehidupan modern.
Seyyed Hosein Nasr menyayangkan lahirnya keadaan ini sebagai the plight of
modern men, nestapa orang-orang modern (Nasr, 1987). Dalam Buku yang dikutip
oleh Jalaludin Rahmat yang berjudul "Psikologi Agama" membicarakan situasi antara
sains dengan agama, dan diantaranya menyebutkan bahwa sains telah menolak
agama. Inilah pendekatan baku dari kaum positivis dan empiris yang menjadi aliran
utama modernitas.

PERUMUSAH MASALAH
Dalam membahas spiritualitas pada masa modern maka kami merumuskan
beberapa rumusan masalah diantaranya :
1.

Apa Pengertian Spiritualitas?

2.

Bagaimana Spiritualitas di era modern?

3.

Bagaimana contoh-contoh spiritual di era modern?

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Spiritual
Arti Kata Spiritual
Menurut Kamus Bahasa Online, kata Spiritual adalah kata sifat (adjective) yang
berhubungan dengan atau bersifat kejiwaan (rohani, batin), dimensi supranatural,
berbeda dengan dimensi fisik, kekudusan, sesuatu yang suci, keagamaan, dll.
Menurut kamus webster (1963) kata spirit berasal dari kata benda bahasalatin
spiritus yang berarti napas dan kata kerja spairare yang berarti untuk bernafas,
dan memiliki nafas berarti memiliki spirit. Menjadi spiritual berartimemiliki sifat
lebih kepada hal yang bersifat kerohanian atau kejiwaandibandingkan hal yang
bersifat fisik atau material. Spiritualitas merupakankebangkitan atau pencerahan
diri dalam mencapai tujuan dan makna hidup (Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A,
Akhlak Tasawuf , (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2011),hlm. 147-148).

Dalam istilah bahasa Indonesia, perubahan kata spiritual bisa menjadi:

spiritualisasi yaitu, pembentukan jiwa

spiritualisme yang memiliki beberapa pengertian seperti: kepercayaan


memanggil roh orang mati, aliran filsafat atau faham yang mengutamakan
kerohanian, spiritisme, dll.

Selain itu, kata spiritual jika dihubungan dengan kata lain akan mengandung
pengertian tertentu, contoh:
Kecerdasan Spiritual

yaitu kecerdasan yg berkenaan dengan hati dan kepedulian antar sesama


manusia, makhluk lain, dan alam sekitar berdasarkan keyakinan akan adanya
Tuhan Yang Maha Esa.

Kecerdasan Spiritual bisa juga digunakan untuk menggambarkan tentang


kebijaksanaan pikiran dan tindakan seseorang.

Selain itu, dapat juga ditujukan sebagai standar kemampuan seseorang


dalam membaca dan memahami berbagai rahasia tuhan, alam dan hal-hal
rumit lain di sekitarnya. Dan ada banyak pengertian lainnya.

Cara berpikir intelektual dan berkualitas.

B. Pengertian Spiritualitas
Spiritualitas adalah hubungannya dengan Yang Maha Kuasa dan Maha pencipta,
tergantung dengan kepercayaan yang dianut oleh individu.
Menurut Burkhardt (1993) spiritualitas meliputi aspek-aspek :
1)
Berhubungan dengan sesuatau yang tidak diketahui atau ketidakpastian
dalam kehidupan,
2)

Menemukan arti dan tujuan hidup,

3)
Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri
sendiri,
4)
Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan yang maha
tinggi.
Mempunyai kepercayaan atau keyakinan berarti mempercayai atau mempunyai
komitmen terhadap sesuatu atau seseorang. Konsep kepercayaan mempunyai dua
pengertian. Pertama kepercayaan didefinisikan sebagai kultur atau budaya dan
lembaga keagamaan seperti Islam, Kristen, Budha, dan lain-lain. Kedua,

kepercayaan didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Ketuhanan,


Kekuatan tertinggi, orang yang mempunyai wewenang atau kuasa, sesuatu
perasaan yang memberikan alasan tentang keyakinan (belief) dan keyakinan
sepenuhnya (action), harapan (hope), harapan merupakan suatu konsep
multidimensi, suatu kelanjutan yang sifatnya berupa kebaikan, dan perkembangan,
dan bisa mengurangi sesuatu yang kurang menyenangkan. Harapan juga
merupakan energi yang bisa memberikan motivasi kepada individu untuk mencapai
suatu prestasi dan berorientasi kedepan. Agama adalah sebagai sistem organisasi
kepercayaan dan peribadatan dimana seseorang bisa mengungkapkan dengan jelas
secara lahiriah mengenai spiritualitasnya. Agama adalah suatu sistem ibadah yang
terorganisir atu teratur.
C. Spiritualitas di Era Modern
Salah satu aktifitas untuk meningkatkan spiritualitas di era modern adalah dengan
jalan bertasawwuf. Dr. H. Abdul Muhaya menukil dari beberapa pendapat bahwa :
Tasawuf mampu berfungsi sebagai terapi krisis spiritual dengan beberapa sebab.
Pertama, tasawuf secara psikologis, merupakan hasil dari berbagai perngalaman
spiritual dan merupakan bentuk dari pengetahuan langsungmengenai realitasrealitas ketuhanan yang cenderung menadi inovator dalamagama. Pengalaman
keagamaan ini memberikan sugesti dan pemuasan(pemenuhan kebutuhan) yang
luar biasa bagi pemeluk agama.
Kedua, kehadiran Tuhan dalam bentuk pengalaman mistis dan dapatmenimbulkan
keyakinann yang sangat kuat. Perasaan-perasaan mistik, seperti marifat, ittihad,
hulul, mahabbah, uns, dan lain sebagainya mampu menjadi moral force bagi amalamal shalih.
Dan selanjutnya amal shalih akan membuahkan pengalaman-pengalaman mistis
yang lain dengan lebih tinggikualitasnya. Nabi Muhammad bersabda bahwa :
Apabila seorang hamba mendekat kepada Allah melalui ibadah sunnah (nawafil),
maka Allah akan mendekatkepadanya. Jika ia mendekat sejengkal, maka Dia akan
mendekat sehasta, bila iamendekat sehasta, maka Dia akan mendekat sedepa. Dan
bila ia mendekat dengan berjalan kaki, maka Dia akan mendekatinya dengan
segera. (Ibn Hajar, 1390, xiii,384).
Ketiga, dalam tasawuf, hubungan seorang dengan Allah dijalin atas rasakecintaan.
Allah bagi sufi, bukanlah Dzat yang menakutkan tetapi Dia adalah Dzatyang
sempurna, Indah, Penyayang, Kekal, Al-Haqq, serta selalu hadir kapan pundan
dimana pun. Oleh karena itu, Dia adalah dzat yang paling patut dicintai danabadi.
Hubungan yang mesra ini akan mendorong seseorang untuk melakukansesuatu
yang baik, lebih baik bahkan yang terbaik, inti dari ajaran tobat (al-Qusyairi, 1957,
47; al-Hujwiri, 1980, 539). Di samping itu hubungan tersebut jugadapat menjadi
moral kontrol atas penyimpangan-penyimpangan dan berbagai perbuatan yang
tercela. Sebab, melakukan hal yan tidak terpuji berarti menodaidan menghianati

makna cinta mistis yang telah terjalin, karena Sang Kekasihhanya menyukai yang
baik saja. Dan manakala seseorang telah berbuat sesuatuyang positif saja, maka ia
telah memelihara, membersihkan, menghias spirit yangada dalam dirinya.Dengan
kata lain, moralitas yang menjadi inti dari ajaran tasawuf dapatmendorong manusia
untuk memelihara dirinya dari menelantarkan kebutuhan-kebutuhan
spiritualitasnya. Sebab, menelantarkan kebutuhan spiritualitas sangat bertentangan
dengan tindakan yang dikehendaki Allah. Di samping itu, hubungan perasaan mistis
dan berbagai pengalaman spiritual yang dirasakan oleh sufi jugadapat menjadi
pengobat, penyegar, dan pembersih jiwa yang ada dalam dirimanusia. (Prof. Dr. H.
Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf, (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2011),hlm. 8688.
Sumber :
"http://www.academia.edu/4824708/AKHLAK_DAN_SPIRITUAL_DI_ERA_MODERN_BAB
_I_PENDAHULUAN_1"
BAB III KESIMPULAN
Dalam bertasawuf perlu adanya kesiapan mental, pikiran yang matang, serta
keadaan hati yang tenang. Sebenarnya jika menganggap bahwa tasawuf adalah
kebutuhan rohani manusia, maka pasti jarang ada manusia di dunia ini mengeluh
tentang hal atau sesuatu apapun. Jiwa spiritual yang tinggi, hati yang sesak karena
asma-asma Allah, membuat siapapun jika menjalani hidup seakan-akan di beri
kemudahan. Maka pada masa ini diperlukan sekali suasana hati yang tenang, agar
tercipta kedamaian yang merata.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Prof. DR. H.M. Amin Syukur, M.A,Tasawuf Kontekstual, (Yogyakarta,Pustaka
Pelajar, Maret 2012, Cetakan 2)
2.
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A, Akhlak Tasawuf, (Jakarta, Raja
GrafindoPersada, 2011).
3.
http://www.academia.edu/4824708/AKHLAK_DAN_SPIRITUAL_DI_ERA_MODERN_BAB_
I_PENDAHULUAN_1