Anda di halaman 1dari 18

BAB III

PUSDIKLAT MIGAS Cepu

3.1. Sejarah Pusdiklat Migas Cepu


Pusdiklat Migas Cepu merupakan instansi Pemerintahan yang menyelenggarakan
tugas dan tujuannya sebagai Pusat Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
Untuk menunjang kegiatan Pusdiklat Migas Cepu dilengkapi sarana pendidikan berupa
kilang pengolahan minyak mentah atau Crude Oil yang dihasilkan oleh Pertamina.
Crude Oil Pertamina yang ditambang dari sumur daerah Kawengan dan Ledok dengan
bantuan pompa dialirkan ke unit Kilang Cepu untuk diolah menjadi produk seperti
Pertasol, Solar dan Residu.

Gambar 3.1.1. Unit Pengolahan Pusdiklat Migas Cepu

Pusdiklat Migas selain sebagai penghasil minyak juga merupakan pelaksana tugas
di bidang pengembangan tenaga perminyakan dan gas bumi. Dalam melaksanakan
tugasnya, Pusdiklat Migas bertanggung jawab kepada Kepala Badan Diklat dan Sumber
Daya Mineral (Surat Keputusan Menteri Sumber Daya dan Mineral No. 150 Tahun
2001) yang diperbaharui dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
No. 18 Tahun 2010.
Fungsi Pusdiklat Migas Cepu:
- Penyiapan penyusunan kebijakan teknis, rencana dan program di bidang Pendidikan
dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
- Pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
- Pemantauan, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas di bidang Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
- Pelaksanaan administrasi Pusat Pelatihan dan Pendidikan Minyak dan Gas Bumi.

Ditinjau dari sejarah berdirinya Pusat Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas
Bumi banyak mengalami pergantian nama sejak ditemukan minyak di Cepu sampai
sekarang. Kilang minyak di daerah Cepu yang terletak antara Jawa Tengah dan Jawa
Timur merupakan tempat berdirinya Kilang minyak kedua di Indonesia setelah
Wonokromo. Berdasarkan sejarah berdirinya, umur Kilang minyak Cepu telah
mencapai 100 tahun lebih dan telah mengalami banyak perubahan nama.
1. Jaman Hindia Belanda (1886 1942)
Pada awal berdirinya, Pusdiklat Migas Cepu bernama Dordtsche Petroleum
Maatschappij (DPM). DPM didirikan oleh Adrian Stoop, anak kelima dari sebelas
bersaudara. Adrian Stoop dilahirkan dari keluarga pengusaha sebuah bank kecil di
kota Dordecht (Holand). Setelah menyelesaikan pendidikan di HBS (SLTA) pada
tahun 1973 melanjutkan pendidikan di bidang Geologi di Fakultas Teknik
Universitas DELFT dan berhasil meraih gelar sarjana pertambangan. Pada tahun
1879 diangkat menjadi teknisi muda pada groundpeilwezen di Jawa yang bertugas
mengebor air minum. Dalam menjalankan tugasnya Adrian menemukan sedikit
kandungan minyak di dalamnya.
Pada tahun 1886 Adrian pergi ke Amerika selama 1 tahun untuk belajar
bagaimana orang Amerika mengebor dan mengelola usaha di bidang perminyakan.
Dalam laporannya yang dipublikasikan di Jaarboek voor het mijnwezen van
nederlandche indie pada 1888, dapat disimpulkan bahwa usaha perminyakan di
Indonesia memiliki prospek yang cukup baik. Dengan modal sebesar F.150.000
didirikan DPM. Peralatan yang digunakan dipesan dari USA dan tiba di Surabaya
dalam waktu 6 bulan melalui Asterdam dan Rotterdam. Pengeboran pertama
dilakukan di Surabaya Selatan pada tahun 1888 dan menghasilkan minyak yang
cukup berkualitas untuk bahan bakar mesin uap. Kemudian dibangun Kilang kecil di
Desa Medang dan di Wonokromo.
Selain di Surabaya Adrian Stoop juga mengadakan pengeboran minyak di
daerah Rembang. Pada bulan januari 1893, dari Ngawi dengan menggunakan alat
rakit, Adrian Stoop menyusuri Bengawan Solo menuju Ngareng dan Cepu (Panolan).
Pengeboran yang dilakukan di Ngareng berhasil memuaskan. Di daerah ini kemudian
didirikan perusahaan minyak yang akhirnya menjadi Pusdik Migas. Organisasinya
berpusat di Jawa Timur yang dikuasai oleh Bataafsche Petroleum Maatschappij
(BPM).
2. Jaman Jepang (1942 - 1945)
Perang Eropa merangsang pemerintah Jepang memperluas kekuasaan di Asia.
Pada tanggal 8 Desember 1941 Pearl Harbour yang terletak di Hawaii di Bom
Jepang. Pengeboman ini menyebabkan meluasnya peperangan di Asia. Pemerintah
Belanda di Indonesia merasa kedudukannya terancam, sehingga untuk menghambat
laju serangan Jepang mereka menghancurkan instalasi atau Kilang minyak yang
menunjang perang, karena pemerintah Jepang sangat memerlukan minyak untuk
diangkut ke negerinya. Perusahaan minyak terakhir yang masih dikuasai Belanda

yang terdapat di Pulau Jawa yaitu Surabaya, Cepu dan Cirebon. Dimana pada waktu
itu produksi di Cepu merupakan produksi yang paling besar dengan total produksi
5,2 juta barrel per tahun.
Jepang menyadari bahwa pengeboman atas daerah minyak akan merugikan diri
sendiri. Sehingga perebutan daerah minyak jangan sampai menghancurkan fasilitas
lapangan dan Kilang minyak. Meskipun sumber-sumber minyak dan Kilang
sebagaian besar rusak akibat taktik bumi hangus Belanda, Jepang berusaha agar
minyak mengalir kembali secepatnya. Tentara Jepang tidak mempunyai kemampuan
di bidang perminyakan sehingga untuk memenuhi kebutuhan tenaga terampil dan
terdidik dalam bidang perminyakan, Jepang mendapat bantuan tenaga sipil yang
pernah bekerja di perusahaan minyak Belanda, kemudian menyelenggarakan
pendidikan di Indonesia.
Kehadiran Lembaga Pendidikan Perminyakan di Cepu diawali oleh Belanda
bernama Midlebare Petroleum School dibawah bendera NV. Bataafsche Petroleum
Maatschappij (BPM). Setelah Belanda menyerah dan Cepu diduduki Jepang maka
lembaga itu dibuka kembali dengan nama Shokko Gakko.
3. Masa Indonesia Merdeka (1945 - sekarang)
Setelah proklamasi kemerdekaan, lahir Perusahaan Tambang Minyak Negara
(PTMN) di Cepu. Daerah operasinya meliputi lapangan minyak Wonocolo, Nglobo,
Kawengan, Ledok dan Semanggi. Administrasi Sumber Minyak (ASM),
menyerahkan pada pemerintah sipil. Untuk itu dibentuk panitia kerja yaitu Badan
Penyelenggara Perusahaan Negara (BPPN) yang kemudian melahirkan Perusahaan
Tambang Rakyat Indonesia. Untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi perusahaan,
maka pada tahun 1957, PTMRI diubah menjadi Perusahaan Tambang Minyak
Nglobo CA. perusahaan ini dikelola oleh pemerintah. Sejak PTMRI sampai
Perusahaan Tambang Minyak Nglobo CA banyak mengalami kemajuan.
Pada tahun 1966 Tambang Minyak Nglobo CA diubah menjadi PERMIGAN,
sedang Kilang minyak Cepu dan lapangan minyak Kawengan dibeli oleh pemerintah
Indonesia dari ASM dan pada tahun 1962 pengolahannya dilimpahkan pada PN
PERMIGAN pada tanggal 4 Januari 1966 PN PERMIGAN dijadikan Pusat
Pendidikan dan Latihan Perindustrian.
Pusat Pendidikan Minyak dan Gas Bumi (PUSDIK MIGAS) yang berkantor
pusat di Cipulir Jakarta. Sejak saat itu kilang beserta lapangan berfungsi sebagai alat
peraga pendidikan. Pada tanggal 7 Februari 1967 diresmikan Akademi Minyak dan
Gas Bumi (AKAMIGAS) angkatan 1.
Berdasarkan pada Surat Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi pada 26
Desember 1977, organisasi LEMIGAS diubah menjadi Pusat Pengembangan
Perminyakan dan Gas Bumi (PPT MGB LEMIGAS). Berdasarkan Kepres Nomor 15
tanggal 6 Maret 1988 semua lapangan minyak di daerah Cepu di usahakan oleh
Pertamina. Sedangkan PPT MIGAS sesuai dengan Kepres No.15 Tahun 1987 hanya
berfungsi sebagai pengilangan dan sebagai pusat pendidikan di bidang minyak dan
gas bumi serta sebagai pusat latihan khusus. Tahun 2001, PPT MIGAS kembali

menjadi PUSDIKLAT MIGAS dengan keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral No. 018 tahun 2010, tanggal 22 November 2010.
Pusdiklat Migas Cepu dikepalai oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Minyak dan Gas Bumi yang mengawasi beberapa Bidang yaitu Bidang Tata Usaha
yang terdiri dari Sub bagian Kepegawaian dan Umum, dan Sub bagian Keuangan;
Bidang Program dan Kerjasama yang terdiri dari Sub bidang Rencana dan Program,
dan Sub bidang Kerjasama dan Informasi; Bidang Penyelenggaraan dan Evaluasi
Pendidikan dan Pelatihan terdiri dari Sub bidang Penyelenggaraan Pendidikan dan
Pelatihan, dan Sub bidang Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan; Bidang Sarana dan
Prasarana Teknis terdiri dari Sub bidang Kilang dan Utilitas, dan Sub bidang
Laboratorium dan Bengkel; dan Kelompok Jabatan Fungsional.
3.2. Lokasi Pusdiklat Migas Cepu
Pusdiklat Migas Cepu mempunyai luas area sekitar 120 ha yang berbatasan antara
provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pusdiklat Migas Cepu terletak di jalan Sorogo
No.1 Kelurahan Karangboyo Kecamatan Cepu Kabupaten Blora yang berjarak 750 km
dari Jakarta, 160 km dari Semarang, 125 km dari Solo dan 160 km dari Surabaya.
3.3. Visi dan Misi Pusdiklat Migas Cepu
- Visi
Visi dari Pusdiklat Migas Cepu adalah Menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Minyak dan Gas Bumi yang unggul dengan mewujudkan tata pemerintahan yang
bersih, baik, transparan dan terbuka.
- Misi
Adapun misi dari Pusdiklat Migas Cepu adalah :
1. Meningkatkan kapasitas aparatur Negara dan Pusdiklat Migas untuk
mewujudkan tata pemerintahan yang baik.
2. Meningkatkan kompetensi tenaga kerja sub sektor migas untuk berkompetensi
melalui mekanisme ekonomi pasar.
3. Meningkatkan kemampuan perusahaan minyak dan gas bumi menjadi lebih
kompetitif melalui program pengembangan Sumber Daya Manusia.
3.4. Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah unit-unit kerja dalam organisasi yang menunjukkan
adanya pembagian kerja dan bagaimana fungsi-fungsi yang berbeda tersebut dapat
dikoordinasi. Pusdiklat Migas Cepu merupakan instansi yang berada di bawah
pengawasan Badan Pendidikan Pelatihan Energi dan Sumber Daya Mineral.
Struktur organisasi yang ada di Pusdiklat Migas Cepu tersusun atas pimpinan
tertinggi sebagai kepala Pusdiklat Migas Cepu. Pimpinan tertinggi membawahi kepala
bagian dan kepala bidang yang bertugas memimpin unit-unit di Pusdiklat Migas Cepu.
Kepala bagian dan kepala bidang membawahi sub bagian dan sub bidang dari unit-unit
yang terkait. Di setiap unit terdapat pengawas unit dan pengelola unit yang dipimpin

oleh sub bagian masing-masing unit yang memiliki karyawan dengan kemampuan dan
keahlian di setiap bidang.
Pusdiklat Migas Cepu memiliki tugas untuk melaksanakan Pendidikan dan
Pelatihan di bidang Migas serta bertanggung jawab langsung kepada Badan Diklat
Energi dan Sumber Daya Mineral sesuai peraturan Mineral Energi dan Sumber Daya
Mineral No. 0030 Tahun 2005 Tanggal 20 Juli 2005 yang diperbaharui Peraturan
Menteri No. 18 Tahun 2010 Tanggal 22 November 2010, dan berdasarkan peraturan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 18 Tahun 2010 tanggal 22 November
2010, Pusdiklat Migas Cepu memiliki beberapa bidang sebagai berikut:
1. Bidang Tata Usaha (BDMU)
Bagian tata usaha bertugas untuk mengatur urusan dan kepegawaian, rumah tangga,
ketatausahaan, serta keuangan Pusdiklat Migas Cepu. Berdasarkan Peraturan Menteri
No. 18 Tahun 2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementrian ESDM Pasal
810, Bidang Tata Usaha memiliki fungsi:
- Pelaksanaan urusan ketatausahaan, kearsipan, perlengkapan, rumah tangga,
kepegawaian, organisasi, tata laksana, hukum, hubungan masyarakat, serta
keprotokolan.
- Pelaksanaan urusan keuangan dan administrasi barang milik Negara
Berdasarkan pasal 812 dan 813 menyebutkan bahwa Bidang Tata Usaha terdiri atas:
- Sub Bagian Kepegawaian dan Umum
- Sub Bagian Keuangan
2. Bidang Program dan Kerjasama (BDMP)
Bidang Program dan Kerjasama bertugas melaksanakan penyiapan penyusunan
kebijakan teknis, rencana, program, anggaran, kerja sama dan pelaporan di bidang
Pendidikan dan Pelatihan Minyak dan Gas Bumi. Berdasarkan Peraturan Menteri No.
18 tahun 2010 tentang organisasi dan Tata Kerja Kementrian ESDM Pasal 814,
Bidang Program dan Kerjasama memiliki fungsi:
- Penyiapan bahan penyusunan pedoman, standar, prosedur, kriteria, rencana,
program dan anggaran, serta penyusunan laporan di bidang Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
- Penyiapan kerja sama dan pengolahan informasi di bidang Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi, serta pelayanan sertifikasi kompetensi tenaga
minyak dan gas bumi.
Berdasarkan pasal 816 dan 817 Bidang Program dan Kerjasama terdiri atas:
- Sub Bidang Rencana dan Program
- Sub Bidang Kerjasama dan Informasi
3. Bidang Penyelenggaraan dan Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan (BDMD)
Bidang Penyelenggaraan dan Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan bertugas
melaksanakan penyelenggaraan. Pemantauan, dan evaluasi di bidang Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi. Menurut Peraturan Menteri No. 18 tahun 2010

tentang organisasi dan Tata Kerja Kementrian ESDM Pasal 818, Bidang
Penyelenggaraan dan Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan berfungsi untuk:
- Penyiapan penyelenggaraan dan pelayanan jasa di bidang Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
- Penyiapan pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Pendidikan dan
Pelatihan Minyak dan Gas Bumi.
Berdasarkan pasal 820 dan 821 Bidang Penyelenggaraan dan Evaluasi Pendidikan
dan Pelatihan terdiri atas:
- Sub Bidang Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan
- Sub Bidang Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan.
4. Bidang Sarana dan Prasarana Teknis (BDMS)
Bidang Sarana dan Prasarana Teknis memiliki tugas untuk melaksanakan
pengolahan sarana dan prasarana teknis di bidang Pendidikan dan Pelatihan Minyak
dan Gas Bumi. Menurut Peraturan Menteri No. 18 tahun 2010 tentang organisasi dan
Tata Kerja Kementrian ESDM Pasal 822, Bidang Sarana dan Prasarana Teknis
memiliki fungsi untuk:
- Pengelolaan dan pelayanan jasa serta tempat uji kompetensi sarana dan prasarana
teknis Kilang dan Utilitas
- Pengelolaan dan pelayanan jasa serta tempat uji kompetensi sarana dan prasarana
teknis uji laboratorium dan bengkel
Berdasarkan Pasal 824 dan 825 Bidang Sarana dan Prasarana Teknis terdiri atas :
- Sub Bidang Kilang dan Utilitas
- Sub Bidang Laboratorium dan Bengkel.
5. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok Jabatan Fungsional berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Sekretaris Badan atau Kepala Pusat yang bersangkutan. Kelompok Jabatan
Fungsional di lingkungan Badan Pendidikan dan Sumber Daya Mineral bertugas
untuk melaksanakan dan memberikan pelayanan jasa Pendidikan dan Pelatihan, serta
tugas lainnya yang berdasarkan pada keahlian atau ketrampilan tertentu sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan yang memiliki 3 Sub Bidang, yaitu:
- Widyaiswara bidang pendidikan
- Widyaiswara bidang teknologi industri
- Widyaiswara bidang manajemen/umum.
3.5. Sistem Produksi
a. Bahan Baku dan Produk
Proses produksi di Pusdiklat Migas Cepu terdapat di unit Kilang dengan bahan
baku berupa minyak mentah (Crude Oil). Pengolahan minyak dilakukan dengan
proses distilasi atmosferik yaitu, pemisahan minyak berdasarkan titik didihnya
dengan tekanan 1 atm.

Unit distilasi atmosferik atau crude distillation unit (CDU) yang berada di
Kilang Pusdiklat Migas Cepu mengolah minyak mentah yang berasal dari sumursumur minyak yang terdapat di Kawengan, Ledok, Ngoblo, dan Semanggi yang
bernaung dibawah PT. Pertamina EP Region Jawa area Cepu serta sumur minyak
di Wonocolo yang merupakan pertambangan rakyat di bawah pengawasan PT.
Pertamina EP Region Jawa area Cepu.
Umpan unit distilasi di Pusdiklat Migas Cepu adalah minyak mentah jenis
HPPO (High Power Point Oil) yang merupakan campuran antara minyak mentah
dari sumur Kawengan yang berjenis LPPO (Light Power Point Oil) dan bersifat
naftanis. Produk-produk yang dihasilkan dari unit distilasi Pusdiklat Migas Cepu
adalah:
- Pertasol CA, CB, dan CC
- Solar
- Residu.
b. Kapasitas Pabrik
Kapasitas operasi di Kilang Pusdiklat Migas Cepu adalah 305 kL/hari,
sedangkan kapasitas maksimal furnace mencapai 330 500 kL/hari dengan
minyak mentah atau crude oil dan kontrak dagang dengan Pertamina. Unit kilang
Pusdiklat Migas Cepu mengolah Crude Oil menjadi Pertasol CA, CB, CC, Solar,
dan Residu.
c. Uraian Proses Produksi
Minyak mentah atau Crude Oil yang akan diolah oleh unit Kilang Pusdiklat
Migas Cepu terlebih dahulu dihilangkan ampuritasnya oleh Pertamina
(Treatment), kemudian diproses dengan tahap-tahap pengolahan selanjutnya,
sebagai berikut ini:
- Pemanasan awal di Heat Exchanger

Minyak mentah dari tangki penampungan T.101/102 yang bersuhu + 46.9C


dialirkan dengan pompa P-3/4/5 menuju ke HE-4,5 kemudian ke HE-1 dan
HE-2,3 untuk pemanasan hingga mencapai suhu 127,7C. media pemanas
yang digunakan pada HE-4,5 adalah residu, sedangkan pada HE-1
menggunakan nafta dan HE-2,3 menggunakan Solar. Pemanasan awal
dilakukan untuk memperingan kerja furnace sehingga menghemat bahan
bakar.
Pembakaran di Furnace
Proses berikutnya setelah pemanasan di HE, Crude Oil dimasukkan ke
stabilizer V-3 kemudian dipanaskan ke furnace F-5 hingga mencapai suhu
330C. Bahan bakar yang digunakan merupakan campuran udara, fuel gas,
fuel oil (residu), dan steam. Steam digunakan untuk proses atomizing
(pengkabutan) fuel oil agar pembakaran berlangsung lebih cepat dan
sempurna. Suhu pada furnace dijaga agar tidak melebihi 370C, karena pada

suhu tersebut Crude Oil akan mengalami cracking dan menghambat


perpindahan panas, sehingga menurunkan efisiensi furnace.
Api dalam furnace tidak mati seluruhnya jika furnace tidak sedang bekerja
karena masih terdapat api yang berasal dari fuel gas. Hal ini bertujuan untuk
mencegah terjadinya flash back (penyalahan api yang mendadak dari furnace
sehingga terjadi perbedaan tekanan antara bagian dalam dan luar furnace
yang terlalu besar). Hasil pembakaran dari funace berupa gas CO2, O2
excess, N2 inert, CO dan uap air yang dialirkan melalui cerobong yang
dilengkapi dengan stack dumper untuk mengatur keluarnya gas buang (fuel
gas).
Penguapan dalam Evaporator

Crude Oil yang keluar dari furnace sekitar 60% berubah menjadi uap
kemudian masuk ke evaporator V-1 untuk memisahkan fase cair dan fase uap.
Fase uap atau fase ringan yang berupa fraksi produk campuran Pertasol dan
Solar akan keluar dari puncak V-1 pada suhu 290,4C dan dialirkan menuju
ke kolom fraksinasi C-1, sedangkan fase cair atau fase berat berupa Residu
keluar dari dasar V-1 pada suhu 281,8C dan dimurnikan ke residu stripper
C-5 dengan bantuan steam injection (steam streapping).
Injeksi steam menggunakan steam kering yang bertujuan untuk memperkecil
tekanan parsial hidrokarbon. Hal ini dikarenakan jika tekanan parsial
hidrokarbon turun maka penguapan hidrokarbon penguapan menjadi lebih
besar sehingga pemisahan uap hidrokarbon dari liquid menjadi lebih
sempurna. Apabila steam mengandung air, sedangkan suhu evaporator lebih
tinggi dari suhu steam maka air yang masuk akan menguap dalam evaporator
dan memperbesar tekanan total. Steam kering diperoleh dari steam yang
dilewatkan akumulator terlebih dahulu sehingga steam yang masih
mengandung air akan dipisahkan menjadi steam kering dan kondensat.
Pemisahan pada Residu Stripper C-5

Fraksi produk dibagian bawah C-5 yang berupa Residu siap pakai diolah
lebih lanjut dan didestilasi (pengolahan residu cracking ). Residu tersebut
digunakan sebagai pemanas pada HE-4,5 kemudian didinginkan dalam box
cooler BC.02 suhu 75C dan ditampung ke tangki T.104,122,123. Fraksi
ringan akan keluar dari puncak residu stripper C-5 kemudian masuk ke kolom
fraksinasi C-1.
Pemisahan pada kolom fraksinasi C-1
Fraksi ringan dikolom C-1 akan naik ke atas kolom dan akan terjadi
perpindahan panas dan massa melalui try yang bertipe buple cup try
(pemisahan fraksi ringan berupa campuran Pertasol CA, CB, CC dari side
stream terdapat produk Pertsol CC langsung bisa dipakai pelarut (tinner).

Pemisahan pada kolom fraksinanasi C-2

Produk atas dari kolom C-1 dipisahkan kekolom C-2 .produk atas yang
keluar dari C-2 merupakan uap yaitu pertasol CA dari side stream C-2
dihasilkan produk nafta yang keluar pada suhu 100-120 C.
Pendinginan dan Pengembunan pada cooler dan kondensor

Produk dari kolom fraksinasi dari kolom stripper didinginkan pada cooler
atau diembunkan dengan kondensor sebelum ditampung di tangki
penampungan.
Produk atas kolom fraksinasi C-2 yang berupa Pertasol CA masuk ke
kondensor CN-1,2,3,4 dan CN -5,6,7,8,9,10,12 sehingga terjadi pengembunan
dan keluar pada suhu 48-50C. Fraksi yang melalui kondensor CN5,6,7,8,9,10,12 didinginkan pada cooler CM.3,4 sedangkkan fraksi yang
melalui kondensor CN-1,2,3,4 didinginkan di box cooler BC. 03,04,05,06.
Pertasol CB dari side stream C-2 masuk ke dalam cooler CL.5 dan CL.9 pada
suhu 98C dan keluar pada suhu 58C. Produk bawah dari kolom C-2
berupa nafta yang keluar pada suhu 117C didinginkan ke cooler CL.13,14
dan keluar pada suhu 48 C. Pertasol CC dari side stream kolom C-1
didinginkan ke cooler CL.1,2. Solar yang merupakan produksi C-4 ,setelah
masuk ke HE-2,3 didinginkan ke cooler CL.6,10,11. Residu yang keluar dari
HE-4,5 didinginkan dengan box cooler BC.02.
Pemisahan dalam separator dan penampungan

Produk yang telah dihasilkan, dipisahkan telah lebih dahulu dengan air yang
menggunakan separator dalam tangki penampungan. Pertasol CA dengan
separator S-1 dan S-2 kemudian disimpan di tangki T.114-116-117. Pertasol
CB menggunkan separator S-4 dan ditampung di tangki T.110. Pertasaol CC
menggunakan separator S-8 dan disimpan di tangki T.112. Solar
menggunakan separator S-6 dan ditampung di tangki T.111,120,127. Residu
ditampung di tangki T.104,122,123.
Selain distilasi atmosferik terdapat proses pengolahan lainya yaitu proses
Treating dan proses Blending.
a. Proses Treating
Proses ini merupakan proses pengurangan atau penghilangan impuritas yang
terdapat di minyak bumi di unit pengolahan Kilang pengolahan Pusdiklat
Migas Cepu. Proses ini dilakukan dengan penambahan NaOH terhadap
Pertasol untuk mengurangi kadar H2S dan RSH. Impuritas dalam produk perlu
dihilangkan karena dapat mengakibatkan:
- Menurunkan stabilitas
- Timbulnya bau yang tidak enak dari pembakaran
- Korosif terhadap peralatan
- Turunnya mutu cat

Proses treating hanya dilakukan pada produk Pertasol CA, Nafta, dan Pertasol
CC yaitu dengan injeksi NH3 pada puncak kolom dan proses pencucian dengan
NaOH. Reaksi yang terjadi sebagai berikut:
RSH + NaOH
RSNa + H2O...................................................(1)
H2S + 2NaOH
Na2S + 2H2O..................................................(2)
b. Proses Blending
Proses Blending dilakukan dengan mencampur dua zat atau lebih yang
mempunyai komposisi berbeda untuk memperoleh hasil yang telah ditentukan.
Fungsi dari proses ini adalah:
- Meningkat mutu produk
- Membuat produk baru
- Menekan biaya
Proses Blending dilakukan untuk menghasilkan minyak BOD yang merupakan
campuran AFO dengan Solar. Kegunaannya adalah untuk meredam goni
supaya tahan lama dan R30 yang merupakan campuran antara Solar dengan
Residu sebagai bahan bakar industri.
3.6. Utilitas
Utilitas merupakan bagian dari suatu pabrik yang berfungsi untuk menyediakan
bahan-bahan pembantu proses sebagai sarana untuk memperlancar proses operasi di
Kilang dan keperluan lainnya. Sebagai proses kegiata ini meliputi:
- Penyedia air industri
- Penyedia air minum
- Penyedia steam atau uap bertekanan
- Penyedia tenaga listrik
- Penyedia bahan bakar
a. Unit Boiler
Boiler merupakan suatu unit yang memproduksi uap bertekanan (steam), air
pendingin kilang dan air lunak. Pada unit boiler terdapat 3 boiler merk Wanson
buatan prancis, dimana 2 boiler beroperasi sedangkan 1 boiler untuk cadangan.
Uap yang dihasilkan merupakan boiler tekanan rendah dengan jenis boiler pipa
api (fire tube) dan satu sumbu api (single burner). Bahan bakar yang digunakan
untuk penyalaan pertama berupa gas LPG dengan ignitor pada busi (nyala busi)
dan diikuti terbukanya control valve bahan bakar solar. Unit boiler memiliki
beberapa fungsi sebagai berikut:
- Penyedia uap bertekanan
Proses penyediaan uap bertekanan (steam) yaitu air umpan yang masuk
kedalam drum dan dipanaskan dari hasil pembakaran bahan bakar menjadi uap
bertekanan (steam) dengan tekanan 6 kg/cm2.
Kebutuhan uap air (steam) digunakan untuk berbagai keperluan antara lain :
proses kilang, pemanas dan media penggerak pompa torak serta turbin uap.

Pada unit boiler tersedia tiga unit ketel uap pipa api Wanson dengan tekanan
kerja normal 7 kg/cm2 dengan suhu operasi superhead steam 170 oC.
Setelah boiler dapat menghasilkan uap bertekanan, maka tangki bahan bakar
Residu dipanaskan sampai temperatur 100 oC, kemudian bahan bakar Solar
diganti Residu denganm tekanan supply (pasok) 16 kg/cm2, sedangkan udara
pembakaran dihasilkan dari blower yang digerakkan oleh motor listrik.
- Penyedia udara bertekanan
Dalam penyedian uap bertekanan diperoleh dari udara atmosfer yang
dimasukkan kedalam kompresor. Udara bertekanan digunakan sebagai:
Penggerak alat-alat kontrol (instrumentasi) yang ada di unit Kilang.
Untuk back wash pada bak penyaringan air di unit water treatment.
Untuk pengadukan dan pembersih filter.
Pada unit boiler terdapat 4 buah kompresor yaitu 2 buah jenis screw (ulir) yang
berkapasitas 174 Nm3/jam dan 2 buah jenis reciprocating (torak) yang
berkapasitas 250 Nm3/jam.
- Penyedia Air Lunak
Air industri yang berasal dari unit water treatment dimasukkan ke dalam
softener agar kesadahan air turun. Air lunak digunakan untuk umpan air ketel
dan air pendingin mesin. Air yang digunakan untuk umpan ketel harus
memenuhi beberapa syarat yang telah ditetapkan diantaranya pH air sekitar
8,5-9,5 dengan kesadahan total mendekati nol.
Persyaratan tersebut dibuat oleh organisasi pembuat boiler di Amerika yaitu
ABMA (American Boiler Manufacturing Association). Hal ini dimaksudkan
agar dalam ketel atau boiler tidak cepat terbentuk karak atau scale sehingga
tidak menurunkan efisiensi ketel uap. Kerak dapat menjadi isolasi sehingga
permukaan perpindahan panas dapat terhalang serta dapat menimbulkan
kerusakan pada pipa.
- Penyedia Air Pendingin
Sistem pendingin di Pusdiklat Migas Cepu menggunakan sistem semi open
circuit. Keadaan normal air pendingin mempunyai pH antara 6-7. Proses
penyediaan air pendingin dengan melewatkan air bekas pemanas dari cooler
dan kondensor pada cooling tower sehingga dapat menghasilkan air pendingin.
Kegunaan dari air pendingin adalah untuk mendinginkan minyak-minyak panas
di dalam cooler maupun di dalam kondensor.
- Penyedia Air Umpan Boiler
Air umpan boiler adalah air yang dimasukkan ke dalam boiler untuk mengganti
kehilangan air karena penguapan atau Blow down (pembuangan air boiler)
selama operasi berjalan. Jika air umpan boiler bermutu rendah maka dapat
menimbulkan kerak pada permukaan pipa atau seluruh sistem boiler.
Air umpan boiler berasal dari bak segaran yang sebagian dipompa dengan
pompa centrifugal single stage menuju unit CPI (Corrugated Plate Interceptor).
Air yang akan masuk ke CPI ditambahkan atau diinjeksi tawas dan kaporit

terlebih dahulu. Dari unit CPI air masuk ke bak air industry (BAI) yang
berkapasitas 100 m3. Dari BAI, air dialirkan menuju ke pressure sand filter
untuk menurunkan turbiditas air menjadi 10 ppm SiO2. Oleh karena kesadahan
air masih tinggi maka air harus dilunakkan dalam softener untuk
menghilangkan atau mengurangi kandungan ion Ca2+ dan Mg2+.
- Penyedia Air Pemadam Kebakaran
Air dari sungai Bengawan Solo yang telah melalui proses screening di pompa
ke bak segaran sehingga terjadi pengendapan secara gravitasi. Air dari bak
segaran dipompa dengan pompa sentrifuge menuju ke unit safety and fire
sebagai air pemadam kebakaran untuk didistribusikan ke hydrant-hydrant yang
ada di pabrik dan perkantoran.
b. Unit Power Plant
Unit penyediaan listrik di Pusdiklat Migas Cepu diperoleh dari generator
pembangkit tenaga listrik yang ada di lokasi pabrik. Pembangkit listrik di
Pusdiklat Migas Cepu menggunakan generator set dengan penggerak mesin
diesel. Pemilihan mesin diesel sebagai penggerak generator ini dikarenakan
beberapa faktor yaitu:
- Perawatannya mudah
- Suku cadangnya mudah didapat
- Bahan bakarnya dapat dipenuhi sendiri yaitu Solar.
Fungsi PLTD yang ada di Pusdiklat Migas Cepu adalah untuk melayani
kebutuhan listrik di unit kilang. PLTD di Pusdiklat Migas Cepu didrikan pada
tahun 1972. Unit power plant memiliki 8 buah generator sebagai mesin untuk
pembangkit listrik yang terdiri dari:
- 3 buah generator dengan kapasitas 820 KVA
- 2 buah generator dengan kapasitas 400 KVA
- 3 buah generator dengan kapasitas 1000 KVA
Kebutuhan bahan bakar Solar
=
9000 - 9500 liter/hari
Kebutuhan pelumas
=
100 - 125 liter/hari
Kebutuhan air pendingin
=
15 m3
c. Unit Water Treatment
Water treatment merupakan unit pengolahan air yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan manusia dan untuk menunjang kebutuhan operasi dan pabrik. Oleh
karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan air yang bersih, jernih
dan bebas dari kuman penyakit. Air mudah didapat dari perukaan bumi, tetapi air
dengan mutu yang sesuai dengan penggunaannya masih sulit untuk diperoleh.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka Pusdiklat Migas Cepu mengambil air
dari sungai Bengawan Solo untuk diolah lebih lanjut sehingga dapat memenuhi
berbagai kebutuhan.
Hasil proses pengolahan air di unit water treatment Pusdiklat Migas Cepu
digunakan untuk:

- Air minum
- Air industri
- Air untuk pemadam kebakaran
3.7. Laboratorium
Laboratorium merupakan salah satu unit penunjang yang penting, terutama untuk
menganalisa hasil maupun feed dari pengolahan Kilang, air minum, dan Wax plant
secara rutin. Di Pusdiklat Migas Cepu terdapat 2 laboratorium kontrol kualitas, yaitu:
- Laboratorium Analisa Minyak
- Laboratorium Analisa Air
Laboratorium ini berfungsi untuk menguji karakteristik bahan baku dan kualitas
produk yang dihasilkan di Pusdiklat Migas Cepu, apakah sesuai dengan standar dan
spesifikasi bahan yang telah ditetapkan.
a. Laboratorium Analisa Minyak
Dalam laboratorium ini menganalisa Crude Oil dan produk yang dihasilkan
dari Kilang dan Wax plant untuk mengendalikan mutu bahan baku dan
produknya. Metode analisa yang digunakan berdasarkan standar ASTM
(American Society for Testing). Metode-metode analisa yang digunakan
adalah:
- Density at 15 oC (ASTM D-1298)
Merupakan suatu perbandingan antara massa cairan pada volume dan suhu
tertentu. Tujuannya untuk menentukan Density at 15 oC dengan menggunakan
alat hydrometer. Hasil ini dikoreksi dengan menambahkan faktor koreksi
sehingga menjadi standar pada temperatur 15 oC.
Metode: sampel dengan volume tertentu dituangkan ke hidrometer silinder
dengan termometer didalamnya. Setelah hidrometer terapung bebas dan
termometer menunjukkan temperatur konstan maka pembacaan pada
hidrometer sebagai densitas observation.
- Penentuan Warna (ASTM D-1500)
Tujuannya untuk mengetahui warna secara visual dari produk minyak.
Metode: sampel dimasukkan ke dalam tabung gelas dan akuades diisikan pada
tabung lain. Cahayakan keduanya pada calorimeter, kemudian di bandingkan
hasilnya dan dicatat skalanya saat kedua warnanya sama.
- Flash Point
Flash point merupakan suhu terendah dimana campuran uap minyak dan udara
akan menyala apabila terkena api pada kondisi tertentu. Tujuannya untuk
menentukan flash point dari produk minyak bumi. Metode yang digunakan
adalah ASTM D-92 untuk Pelumas, Residu dan pH Solar sedangkan ASTM D93 untuk Guel Oil dan Gas Oil.
Metode: sampel dimasukkan dalam cup sebanyak jumlah tertentu tang
dilengkapi dengan termometer dan dipanaskan. Pada temperatur tertentu, api
pengujian diarahkan pada permukaan sampel karena sampel menguap maka

uap sampel akan menyala. Flash point dicatat sebagai titik terendah dimana uap
menyala.
Distilasi (ASTM D-86)
Tujuannya untuk mengetahui trayek titik didih dari beberapa produk minyak.
Metode: sampel dengan volume 100 mL dimasukkan ke labu kemudian
didistilasi. Temperatur dimana untuk pertama kali terjadi tetesan kondensat
dicatat sebagai Initial Boiling Point (IBP). Selanjutya setiap kenaikan 10%
volume kondensat dicatat temperaturnya. Final Boiling Point (FBP) diperoleh
pada temperatur maksimum yang dapat dicapai.
Pour Point (ASTM D-97)
Tujuannya untuk menngetahui temperatur terendah dimana minyak masih
dapat mengalir apabila didinginkan pada kondisi tertentu.
Metode: sampel dengan volume tertentu dipanaskan kemudian didinginkan
dalam refrigerator. Sampel diperiksa setiap periode penurunan tertentu sampai
temperatur dimana sampel tidak dapat dituang, ditambah 5F dilaporkan
sebagai Pour Point.
Uji Lempeng Tembaga (ASTM D-130
Tujuannya untuk mengetahui tingkat korosivitas dari produk minyak.
Metode: kepingan tembaga digosok dengan kertas amplas dan dibersihkan
dengan Iso-oktana kemudian dimasukkan kedalam sampel dan dipanaskan
dalam water bath selama waktu tertentu. Setelah itu, kepingan tembaga diambil
dan dicuci dengan aseton kemudian dibandingkan warnanya dengan ASTM D130 Copperstrip Corrotion Standart.
Water Content (ASTM D-95)
Untuk menentukan besarnya kandungan air dalam Crude Oil dan produk
minyak. Metode : sampel dengan volume 100 mL ditambahkan solven 100 mL
kemudian didistilasi secara refluks. Solven dan air akan terkondensasi dalam
kondensor sehingga air akan memisah dan berada pada bagian bawah
kondensor, sedangkan pelarut dan sampel akan kembali kedalam labu distilasi.
Jumlah kandungan air dibaca pada skala yang ada.

b. Laboratorium Analisa Air


Laboratorium ini untuk menganalisa kualitas air baku (air Bengawan Solo) dan
air olahan dari unit water treatment berupa air Utilitas (air minum, air filter dan
air CPR), dari Boiler Plant berupa air boiler (air softener, air elektromagnetik
dan air blow down) dan air pendingin (pada Kilang,dan Power plant).
Analisa-analisa yang dilakukan adalah:
- Pemeriksaan pH
Tujuannya untuk mengetahui tingkat keasaman air. Metode: sampel dengan
volume tertentu dimasukkan kedalam pH-meter dan dibaca skalanya secara
elektronik. Sebelum digunakan pH-meter dikalibrasi terlebih dahulu dengan
larutan buffer pada pH 4 dan 7.

- Total Alkalinity
Tujuannya adalah untuk mengetahui kadar anion karbonat. Metode : 100 ml
sampel dimasukkan kedalam Erlenmeyer dan ditambahkan indicator MO
kemudian dititrasi dengan larutan HCl standar 0.1 N sampai terjadi perubahan
warna menjadi merah lembayung.
- Total Hardness
Tujuannya untuk mengetahui tingkat kesadahan air yang disebabkan oleh
adanya ion-ion Ca dan Mg. Metode : 100 ml sampel dimasukkan kedalam
Erlenmeyer dan ditambahkan larutan buffer dan indikator EDTA sampai terjadi
perubahan warna menjadi biru.
- Total Solid
Tujuannya untuk mengetahui jumlah solid yang terkandung dalam air.
Metode: sampel dengan volume tertentu dipanaskan dalam oven hingga kering
kemudian didinginkan dan dihitung secara gravimetry.
- Turbidity
Tujuannya untuk mengetahui tingkat kekeruhan air yang dinyatakan dalam
NTU SiO2.
Metode: sampel dimasukkan kedalam tabung gelas dan ditutup kemudian
diukur dengan alat Nephelometer.
- Klor Aktif
Tujuannya untuk mengetahui kadar klor bebas dalam air. Metode : 100 ml
sampel ditambahkan dengan indicator Ortholuidine kemudian dibandingkan
dengan sampel lain tanpa ditambah larutan Ortholuidine dan dimasukkan
kedalam alat Lofibond Komparator untuk diukur kandungan klornya.
- Bilangan KmnO4
Tujuannya untuk mengetahui kandungan zat organik yang terdapat dalam air.
3.8. Hasil Produksi dan Pemasaran
- Hasil Produksi
Pusdiklat Migas Cepu mengolah minyak mentah yang berasal dari PERTAMINA
dengan kapasitas kurang lebih 305 kL/hari. Produk utama dari pengolahan minyak
mentah Pusdiklat Migas Cepu adalah sebagai berikut:
1. Pertasol CA, CB dan CC
Pertasol ini merupakan campuran hidrokarbon cair yang mempunyai trayek
didih 45-250 C. Pertasol atau gasoline merupakan produk yang terpenting
karena digunakan sebagai pelarut (solvent), pembersih dan lain-lain.
Penggunaan Pertasol CA:
- Digunakan pada industri cat, lacquers, varnish
- Digunakan untuk tinta cetak.
- Digunakan pada cleaning dan degreasing

Gambar 3.8.1. Terminal Pengisian Bahan Bakar

Penggunaan komponen dalam proses antara lain:


a. Pembuatan bahan karet pada pabrik ban, vulkanisir, dan lain-lain.
b. Adhesive (lem).
c. Industry farmasi
Penggunaan Pertasol CB :
- Digunakan pada industri cat, lacquers, thiner
- Digunakan untuk tinta cetak.
- Digunakan pada cleaning
- Industry tekstil (printing)
Penggunaan Pertasol CC :
- Untuk bahan kosmetik
- Solar atau Gas Oil
Solar atau gas oil mempunyai trayek titik didih 250 - 350C
- Residu
Residu merupakan fraksi berat dari minyak bumi yang mempunyai titik didih
paling tinggi yaitu 350 C. Residu biasanya digunakan sebagai bahan bakar
dalam pabrik karena mempunyai heating value yang tinggi.
- Pemasaran
Untuk pemasaran hasil produksi tidak dilakukan oleh Pusdiklat Migas Cepu
melainkan dilakukan oleh pihak PERTAMINA. Karena pada dasarnya disini
Pusdiklat Migas Cepu hanya mengolah minyak mentah milik PERTAMINA.
3.9. Jumlah Karyawan
Karyawan merupakan salah satu aset utama yang dimiliki oleh suatu perusahaan.
Karyawan memiliki peran yang sangat penting, bahkan sukses tidaknya suatu
perusahaan sangat tergantung dari karyawan. Sistem kerja yang berlaku di Pusdiklat
Migas Cepu adalah Sistem Pegawai Negeri Sipil (PNS), dimana sehabis masa kerjanya

akan mendapat pensiun. Saat ini karyawan yang ada di Pusdiklat Migas Cepu sebanyak
548 karyawan yang terdiri dari:
Tabel 1.1 Daftar Karyawan Pusdiklat Migas Cepu
No.
Jabatan
Jumlah
1.
Kepala Pusdiklat Migas Cepu
1 orang
2.
Kepala Bagian / bidang
4 orang
3.
Kepala Sub Bagian
2 orang
4.
Kepala Sub Bidang
6 orang
5.
Pengawas Unit
23 orang
6.
Pengelola Unit
75 orang
7.
Karyawan Tetap
406 orang
8.
Karyawan Honorer
31 orang
Total Karyawan
548 orang

Jam Kerja/Shift Karyawan


Karyawan di Pusdiklat Migas Cepu terbagi menjadi dua kelompok yaitu
karyawan non shift dan karyawan shift.
a. Karyawan non shift terdiri dari karyawan tetap dan honorer.
Hari dan jam kerja karyawan yang ada di Pusdiklat Migas Cepu adalah:
Tabel 1.2. Hari dan Jam Kerja Karyawan Non Shift Pusdiklat Migas Cepu
Hari

Jam Kerja

Senin
07.30-16.30
Selasa
07.30-16.30
Rabu
07.30-16.30
Kamis
07.30-16.30
Jumat
07.30-16.30
Sabtu
Libur
Sumber: Pusdiklat Migas Cepu

Istirahat
12.00-13.00
12.00-13.00
12.00-13.00
12.00-13.00
12.00-13.00
Libur

b. Karyawan shift terdiri dari karyawan tetap dan honorer yang merupakan
karyawan yang bekerja pada bagian-bagian yang memerlukan pengawasan
selama 24 jam misalnya bagian pengolahan, keamanan dan laboratorium
kontrol kualitas.
Tabel 1.3 Hari dan Jam Kerja Karyawan Shift Pusdiklat Migas Cepu
Shift
Jam Kerja
Shift I

Mulai pukul 08.00-16.00

Shift II

Mulai pukul 16.00-24.00

Shift III

Mulai pukul 24.00-08.00

Kesejahteraan Karyawan
Pusdiklat Migas Cepu mempunyai berbagai fasilitas yang disediakan untuk
kesejahteraan karyawan-karyawan antara lain:
a. Fasilitas Pendidikan
Sarana-sarana yang terdapat di fasilitas pendidikan meliputi: laboratorium
dasar, bengkel, ruang peraga dan perpustakaan dengan tujuan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawan.
b. Fasilitas Perumahan
c. Fasilitas Olahraga
Sarana yang tersedia berupa GOR, lapangan sepak bola, lapangan atletik,
tenis, golf, dan kolam renang.
d. Fasilitas Kesenian dan Hiburan
Sarana yang tersedia berupa peralatan band, kulintang, karawitan, dan
sanggar tari.
e. Fasilitas lain meliputi: cuti selama 12 hari dalam 1 tahun, koperasi, pensiun,
dan dana gotong royong.

Anda mungkin juga menyukai