Anda di halaman 1dari 30

BAB II

Gambaran Umum Perusahaan


2.1

Tentang Perusahaan
Holycow! Steak House merupakan salah satu restoran yang mulai beroperasi
pada tahun 2010 dan kini menjadi salah satu favorit pecinta steak dan sudah
memiliki citra tersendiri di benak konsumen. Restoran ini didirikan oleh
pasangan suami-istri yaitu Afit Dwi Purwanto-Lucy bersama dengan rekannya,
Wanda-Winda. Bertempat di daerah Radio Dalam, Jakarta Selatan. Restoran
steak ini pada mulanya berdiri di warung kaki lima dengan enam pekerja, chef
Afit bekerja langsung di dapur memasak sendiri setiap steak pesanan
pelanggan.
Namun, pada awal tahun 2012 mereka memutuskan untuk tidak
bekerjasama lagi. Restoran yang berada di Radio Dalam menjadi milik
Wanda-Winda, sedangkan outlet yang berada di Jalan Bhakti, Senopati,
Jakarta Selatan berganti nama menjadi Holycow! Steakhouse by Chef Afit
dibawah kepemilikan Afit Dwi Purwanto dan Lucy Wiryono dengan nama
resmi PT. Holycow! Danadipa Indonesia.

Gambar 2.1 Logo Holycow! Steak House


Holycow! memiliki diferensiasi yang signifikan dari restoran steak yang
sudah ada, yaitu dengan mencantumkan wagyu dalam menunya dan menjadi
menu andalan di restoran mereka. Nama Holycow! Sendiri lebih berarti pada
ekspresi kekagetan, bahasa gaul dalam bahasa Inggris. Jadi maksud nama

Holycow! itu ingin memberi kejutan kepada konsumen: kenapa kok wagyu
bisa murah? Kok ulang tahun bisa dapat wagyu gratis?
Holycow! Steak House kini sudah memiliki beberapa cabang, yaitu
Bonjer, Gading, Senopati 2, Jogja, Bintaro, Alam Sutera, Cibubur, dan Bali.
Selain Holycow! Steak House, PT. Holycow! Danadipa Indonesia juga
memiliki unit bisnis usaha lain, yaitu: Loobie Lobster & Shrimps, Misu Sweet
Layers of Goodness, dan Holygyu.
2.2

MISI DAN VISI


Holycow! Steak House sebagai restoran wagyu steak memiliki misi yaitu
wagyu for everyone. Sedangkan visi yang di miliki yaitu affordable luxurious
dish.

2.3

Produk dan Jasa


Holycow! Steak House memiliki beberapa jenis steak yang di sajikan. Antara
lain:
1. U.S Certified Angus Beef
U.S Sirloin
U.S Rib Eye
U.S Tenderloin
2. Wagyu Beef
Wagyu Sirloin Mb 9+
Wagyu Tenderloin Mb 9+
Wagyu Sirloin
Wagyu Rib Eye
Wagyu Tenderloin
Wagyu Petite Tender
Wagyu Bolar Blade
3. Australian Prime Beef
Sirloin Big Bites!
Rib Eye Big Bites!
Sirloin Young Beef
Prime Sirloin
Prime Rib Eye
Prime Tenderloin
BAB III
Analisis Faktor-Faktor Lingkungan Eksternal

3.1

Lingkungan Demografi
Pada aspek pembangunan ekonomi, demografi merupakan salah satu faktor

non-ekonomi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, baik sebagai


faktor pendorong maupun sebagai faktor penghambat. Oleh karena itu,
demografi merupakan komponen pusat dari konteks dan perubahan sosial.
Indonesia berada pada urutan ke empat sebagai negara dengan jumlah
penduduk terbanyak di dunia. Dan Indonesia juga termasuk negara konsumtif
kedua di Indonesia. Dengan tingkat konsumtif yang tinggi menjadi sebuah
peluang usaha bagi sebagian pengusaha di Indonesia.
Tingginya jumlah penduduk di beberapa provinsi seperti DKI Jakarta,
Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan lain sebagainya dapat di jadikan
peluang oleh pelaku bisnis. Karena dengan tingginya jumlah penduduk yang
berada di satu wilayah berdampak pada tingginya jumlah konsumsi
masyarakatnya. Konsumsi masyarakat dari waktu ke waktu juga terus
mengalami perubahan, dan unit bisnis pun biasanya mengikuti tren yang
sedang terjadi di masyarakat.
2011
Indikator Terpilih
Rata-rata Pendapatan per
Kapita
- Persentase pengeluaran
rumahtangga untuk makanan
- Persentase pengeluaran
rumahtangga untuk bukan
makanan
Distribusi pendapatan
- 40 % penduduk dengan
pendapatan terendah
- 40 % penduduk dengan
pendapatan menengah
- 20 % penduduk dengan
pendapatan tertinggi
Gini Indeks

Maret

2012

Septemb
er

Maret

2013

Septemb
er

Maret

Septem
ber

49.45

48.46

51.08

47.71

50.66

47.19

50.55

51.54

48.92

52.29

49.34

52.81

16,85*

17,67*

16,98*

16,88*

16,87*

17,25*

34,73*

35,89*

34,41*

34,18*

34,09*

34,25*

48,42*

46,45*

48,61*

48,94*

49,04*

48,50*

0,41*

0,39*

0,41*

0,41*

0,41*

0,41*

1550.8
5
1842.7
5

1540.0
4
1
828,41

Rata-rata konsumsi kalori


per kapita sehari
- Tanpa makanan jadi
- Dengan makanan jadi

1647.6
7
1952.0
1

1586.82
1852.84

1587.0
9
1852.6
4

1599.63
1865.30

Rata-rata konsumsi Protein


per kapita sehari
- Tanpa makanan jadi

47.25

45.41

45.21

46.15

44.33

43.82

- Dengan makanan jadi

56.25

53.12

53.14

54.14

53.08

52.44

Dapat di lihat pada tabel indikator terpilih tingkat konsumsi


masyarakat Indonesia pada tahun 2011-2013 di atas, menunjukkan bahwa
presentase pengeluaran rumah tangga untuk makanan cukup tinggi. Sedangkan
presentase untuk penduduk dengan pendapatan menengah dan pendapatan
tertinggi cukup besar. Hal ini di manfaatkan oleh Chef Afit dan Lucy Wiryono
dengan membuka Holycow! Steak House. Dengan tingkat konsumsi yang
tinggi berpengaruh sangat besar pada usaha di bidang kuliner.
Chef Afit mengambil peluang tersebut dan membuka bisnis di bidang
kuliner wagyu steak yang pada saat itu belum banyak orang geluti.
Sebelumnya wagyu steak yang tersedia di pasar Indonesia hanya mampu di
nikmati oleh penduduk dengan pendapatan tertinggi ( hanya 20%) oleh sebab
itu, Chef Afit mengubah konsep tersebut dengan konsep bisnisnya yaitu wagyu
for everyone. Sehingga masyarakat Indonesia dengan pendapatan menengah
(40%) dapat mencoba bagaimana rasanya memakan wagyu steak. Namun,
masyarakat dengan pendapatan tertinggi sebesar 20% itu pun, juga dapat
mencicipi wagyu dengan harga murah namun tetap berkualitas.
3.1.1

Peluang
Peningkatan Daya Beli Masyarakat
Presentase pengeluaran rumah tangga yang meningkat untuk konsumsi
makanan sekaligus mempengaruhi peningkatan daya beli masyarakat terhadap
suatu produk makanan. Hal ini menjadi peluang bagi Holycow! Steak House
karena akan semakin banyak masyarakat yang melakukan transaksi pembelian
steak.
Pola Konsumsi Yang Berubah
Dengan semakin meningkatnya daya beli masyarakat maka akan semakin
banyak pula masyarakat yang tertarik untuk mengkonsumsi jenis makanan
baru. Holycow! Steak House yang menyajikan steak dengan bahan dasar
daging wagyu memenuhi keinginan konsumen dengan pendapatan menengah
untuk dapat mengkonsumsi daging wagyu dengan harga murah namun tetap

3.1.2

berkualitas.
Ancaman
Meningkatnya Persaingan
Peningkatan daya beli masyarakat tidak hanya di nikmati oleh Holycow! Steak
House saja, tetapi juga restoran-restoran yang sejenis. Sehingga dapat menjadi
ancaman bagi Holycow! Steak House.

3.1.3

Impilkasi Bisnis
Inovasi dan Peningkatan Kualitas Produk
Untuk mengatasi kemungkinan ancaman yang akan di hadapi, Holycow! Steak
House seharusnya terus melakukan inovasi dan peningkatan kualitas. Agar

3.2

dapat mempertahankan posisi saat ini dan dapat memenangkan persaingan.


Lingkungan Sosial
Dewasa ini, dalam pemilihan jenis makanan sering kali seseorang memilih
karena adanya kebutuhan, keinginan dan selera. Tetapi, keterbatasan baik
sosial maupun finansial menjadikan sesorang memilih jenis makanan yang
sesuai dengan kemampuannya. Oleh karena itu, kelas sosial sangat
berpengaruh pada cara seseorang memilih jenis makanan yang akan di
konsumsi. Perbedaan kelas sosial menyebabkan adanya perbedaan tingkat
kepuasan seseorang dalam mengkonsumsi suatu jenis makanan. Umumnya
mereka yang berada pada kelas sosial menengah ke atas cenderung memilih
jenis makanan yang memiliki tingkat prestise tertentu, sedangkan mereka yang
berada pada kelas sosial menengah ke bawah tidak begitu memperdulikan
tingkat prestise jenis makanan.
Kebiasaan makan adalah ekspresi setiap individu dalam memilih
makanan yang akan membentuk pola perilaku makan. Oleh karena itu,
ekspresi setiap individu dalam memilih makanan akan berbeda satu dengan
yang lain (Khomsan dkk, 2004).
Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

kebiasaan

makan,

menurut

Khumaidi (1994) ada dua faktor utama yang mempengaruhi kebiasaan makan
manusia, yaitu:
1.

Faktor ekstrinsik yang merupakan faktor yang berasal dari luar diri
manusia, yang terdiri dari lingkungan alam, lingkungan ekonomi,
lingkungan sosial, lingkungan budaya dan agama.

2.

Faktor intrinsik merupakan faktor yang ada dalam diri manusia yang
terdiri dari asosiasi emosional, keadaan jasmani dan kejiwaan yang
sedang sakit, penilaian lebih terhadap mutu makanan dan pengetahuan
gizi.
Berdasarkan faktor ekstrinsiknya, salah satunya adalah lingkungan

sosial. Dalam lingkungan sosial terdapat karakteristik stratifikasi kelas sosial,


dapat kita temukan beberapa pembagian kelas atau golongan dalam
masyarakat. Istilah kelas memang tidak selalu memiliki arti yang sama,

walaupun pada hakekatnya mewujudkan sistem kedudukan yang pokok dalam


masyarakat. Pengertian kelas sejalan dengan pengertian lapisan tanpa harus
membedakan dasar pelapisan masyarakat tersebut.
Kelas sosial atau golongan sosial mempunyai arti yang relatif lebih
banyak dipakai untuk menunjukkan lapisan sosial yang didasarkan atas kriteria
ekonomi. Jadi, definisi kelas sosial atau golongan sosial adalah sekelompok
manusia yang menempati lapisan sosial berdasarkan kriteria ekonomi.
Klasifikasi kelas sosial pembagian kelas sosial terdiri dari:
a.

Berdasarkan Status Ekonomi


1)

Aristoteles membagi masyarakat secara ekonomi menjadi kelas


atau golongan:

Golongan Sangat Kaya, merupakan golongan terkecil


dalam masyarakat. Mereka terdiri dari pengusaha, tuan
tanah dan bangsawan.

Golongan Kaya, merupakan golongan yang cukup banyak


terdapat di dalam masyarakat. Mereka terdiri dari para
pedagang dan sebagainya.

Golongan Miskin, merupakan golongan terbanyak dalam


masyarakat. Mereka kebanyakan rakyat biasa.

2)

Karl Marx juga membagi masyarakat menjadi tiga golongan,


yakni:

Golongan Kapitalis atau Borjuis, mereka yang menguasai


tanah dan alat produksi.

Golongan Menengah, terdiri dari para pegawai pemerintah.

Golongan Proletar, mereka yang tidak memiliki tanah dan


alat produksi. Termasuk di dalamnya adalah kaum buruh
atau pekerja pabrik.

Menurut

Karl

Marx

golongan

menengah

cenderung

dimasukkan ke golongan kapatalis karena dalam kenyataannya


golongan ini adalah pembela setia kaum kapitalis. Dengan demikian,
dalam kenyataannya hanya terdapat dua golongan masyarakat, yakni
golongan kapitalis atau borjuis dan golongan proletar.
b.

Berdasarkan Status Sosial

Kelas sosial timbul karena adanya perbedaan dalam penghormatan dan


status sosialnya. Misalnya, seorang anggota masyarakat dipandang
terhormat karena memiliki status sosial yang tinggi, dan seorang
anggota masyarakat dipandang rendah karena memiliki status sosial
yang rendah.
Holycow! Steak House termasuk bisnis yang lebih fokus untuk
melayani masyarakat yang berada pada kelas sosial golongan kaya menurut
Aristoteles atau golongan menengah menurut Karl Marx. Holycow! Steak
House ingin membuktikan bahwa wagyu steak bukan hanya bisa di konsumsi
oleh masyarakat golongan sangat kaya ataupun kapitalis. Holycow! Steak
House menyajikan wagyu steak dengan rasa seperti yang di sajikan bagi
masyarakat golongan kaya atau kapitalis tetapi dengan harga yang dapat di
jangkau oleh masyarakat golongan kaya atau menengah,
Dengan adanya bisnis Holycow! Steak House ini sangat membantu
masyarakat

golongan

kaya

atau

menengah

untuk

dapat

memenuhi

keinginannya untuk menyantap wagyu steak sehingga secara otomatis juga


dapat meningkatkan tingkat prestise seseorang.
3.2.1

Peluang
Peningkatan target pasar
Peningkatan masyarakat kelas menengah menyebabkan meningkatnya
keinginan masyarakat untuk mencoba daging wagyu. Hal ini, secara tidak
langsung meningkatkan target pasar Holycow! Steak House, peningkatan
target pasar ini dapat menjadi peluang bagi Holycow! Steak House untuk

3.2.2

meningkatkan kinerja perusahaan.


Ancaman
Semakin meningkatnya kecerdasan masyarakat
Peningkatan masyarakat kelas menengah menyebabkan

semakin

meningkatnya tingkat kecerdasan masyarakat. Sehingga masyarakat banyak


mengurangi konsumsi daging dan makanan yang di bakar untuk menjaga
3.2.3

kesehatan.
Implikasi Bisnis
Pembaruan teknologi
Holycow! Steak House sebagai restoran yang menyajikan daging dan makanan
dengan penyajian di bakar harus memperbarui teknologi untuk membakar
steak agar dapat mengurangi zat karsinogenik yang di hasilkan dari proses
pembakaran daging.

3.3

Lingkungan Budaya
Ada sugesti yang melekat di masyarakat Indonesia bahwa jika belum makan
nasi maka belum makan atau belum kenyang. Konsumsi masyarakat terhadap
beras di Indonesia merupakan konsumsi beras tertinggi di dunia. Tahun 2011
produksi beras lokal mencapai 65,4 juta ton tetapi dengan produksi beras
sebesar itu, pemerintah masih harus mengimpor beras sebesar 2,75 juta ton.
Produksi beras lokal yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri
mengakibatkan kenaikan harga beras dari tahun ke tahun.
Untuk konsumsi beras per kapita masyarakat Indonesia saat ini masih
mencapai 139 kg per tahun atau masih sangat tinggi di bandingkan negara
tetangga lainnya seperti Malaysia, Thailand yang sudah di bawah 100 kg per
tahun. Masyarakat Indonesia mulai sekarang di haruskan untuk mengurangi
kebiasaan makan nasi secara perlahan. Hal ini agar pemerintah tidak harus
terus mengimpor beras dan tidak mempengaruhi laju inflasi di Indonesia.
Masyarakat harus mulai mengganti beras dengan makanan lain, seperti umbiumbian atau jagung.

Gambar 3.1 Grafik Produksi Padi dan Palawija


Dapat di lihat pada diagram di atas produksi padi dari tahun ke tahun
mulai mengalami penurunan. Oleh sebab itu, perlu kesadaran masyarakat

untuk segera mulai mengurangi konsumsi nasi. Agar pemerintah juga dapat
mulai mengurangi impor beras. Sehingga laju inflasi juga dapat di tekan.
Konsumsi bahan pokok beras sedikit menghambat laju industri kuliner
di Indonesia. Karena setiap pebisnis ingin membuka usaha kuliner baru,
mereka selalu berfikir untuk menyajikan nasi sebagai hidangan utama sesuai
dengan budaya masyarakat Indonesia. Namun, Chef Afit berani untuk tidak
menyajikan nasi sebagai menu utama dalam usaha kulinernya.
Selain budaya makan nasi masyarakat Indonesia juga terkenal dengan
budaya konsumtifnya. Kata konsumtif (sebagai kata sifat; lihat akhiran-if)
sering diartikan sama dengan kata konsumerisme. Kata yang terakhir ini
mengacu pada segala sesuatu yang berhubungan dengan konsumen.
Sedangkan

konsumtif

lebih

khusus

menjelaskan

keinginan

untuk

mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang di perlukan secara


berlebihan untuk mencapai kepuasan maksimal. Namun, biasanya kata ini
digunakan untuk menunjukkan pada perilaku konsumen yang memanfaatkan
nilai uang yang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang
bukan menjadi kebutuhan pokok.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik dengan penghasilan per
kapita mencapai 2-20 dollar per hari. Dari penghasilan sebesar itu, maka
masyarakat Indonesia termasuk masyarakat pada tingkatan kelas ekonomi
menengah. Ketika ekonomi masyarakat ada pada tingkatan kelas ekonomi
menengah maka pemenuhan kebutuhan makanan sehari-hari bergeser ke arah
yang lebih tinggi.
Pada banyak kasus, perilaku konsumtif kelas menengah tidak
didasarkan lagi pada needed theory, yang mengedepankan kebutuhankebutuhan dasar yang memang harus dipenuhi. Namun, sekarang bergeser
pada perilaku konsumsi yang di dasarkan lagi oleh teori hasrat (desire) dan
keinginan (want). Pergeseran perilaku konsumsi yang tidak lagi untuk
memenuhi kebutuhan tetapi di dasarkan pada motivasi untuk mendapatkan
tantangan, suatu sensasi, kegembiraan, sosialisasi, menghilangkan stress,
memberikan pengetahuan baru, perkembangan trend baru dan model baru serta
untuk menemukan barang yang baik dan bernilai bagi dirinya.
Budaya konsumtif di pengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
A.
Faktor Internal
1.
Faktor Psikologis juga sangat mempengaruhi seseorang dalam
bergaya hidup konsumtif

2.

Motivasi mendorong perilaku konsumtif karena semakin


tingginya motivasi untuk membeli suatu produk mereka
biasanya melakukan transaksi tanpa menggunakan faktor

3.

rasionalnya
Persepsi berhubungan erat dengan motivasi. Dengan persepsi
yang baik maka motivasi untuk bertindak akan tinggi dan ini

4.

menyebabkan orang tersebut bertindak secara rasional


Sikap pendirian dan kepercayaan. Melalui bertindak dan belajar
orang akan memperoleh kepercayaan dan pendirian. Dengan
kepercayaan pada penjual yang berlebihan dan dengan
pendirian yang tidak stabil dapat menyebabkan terjadinya

B.

perilaku konsumtif
Faktor Eksternal
Perilaku konsumtif dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia di lahirkan
dan di besarkan. Variabel-variabel yang termasuk dalam faktor
eksternal dan mempengaruhi perilaku konsumtif adalah kebudayaan,
kelas sosial, kelompok sosial dan keluarga.
Hampir sebagian masyarakat Indonesia memiliki perilaku
konsumtif

dan menyukai barang-barang baru. Mereka juga rela

menghabiskan sebagian pendapatan mereka untuk membeli produk


baru yang sedang trend.
Budaya konsumtif masyarakat Indonesia berdampak pada bisnis
kuliner, termasuk pada Holycow! Steak House. Dampak positif budaya
konsumtif bagi Holycow! Steak House , yaitu:
1.
Mendapat konsumen dengan cepat tanpa harus menjalankan marketing
2.

dengan sulit dan biaya yang besar


Kebanyakan masyarakat Indonesia mengkonsumsi suatu produk

3.

berasal dari war of mouth


Peluang untuk memperluas pasar terbuka lebar (franchise atau

4.

membuka cabang)
Wagyu steak dengan harga terhitung murah mencuri hati konsumen

5.

dan menarik minat konsumen untuk melakukan pembelian


Konsep restoran yang tidak terkesan mahal sehingga masyarakat tidak

6.

takut untuk mencoba membeli.


Menaikkan gengsi sosial di kalangan masyarakat karena mampu
mengkonsumsi wagyu steak yang terkenal mahal
Selain berdampak positif, adapula dampak negatif budaya konsumtif

bagi Holycow! Steak House, yaitu:

1.

Tingkat konsumtif yang tinggi menyebabkan naiknya tingkat


permintaan import daging sapi sehingga permintaan akan daging sapi

2.
3.3.1

lokal menurun.
Pembatasan import daging sapi menyulitkan Holycow! melakukan

pemenuhan permintaan konsumen akan daging wagyu.


Peluang
Menghadirkan varian kuliner baru
Dengan menghadirkan daging sebagai menu utama bisa menjadi peluang bagi
Holycow! Steak House untuk dapat memberi alternatif untuk dapat memenuhi

3.3.2

tingkat konsumtif masyarakat.


Ancaman
Kuliner dengan menu utama nasi
Melihat kebiasaan masyarakat Indonesia yang suka makan nasi, menjadi
ancaman bagi Holycow! Steak House karena tidak menyajikan nasi sebagai
menu utama bahkan sebagai menu pendamping. Hal ini menjadi kesempatan
bagi pesaing untuk membuka bisnis usaha dengan menu utama nasi sebagai

3.3.3

3.4

cara untuk menandingi Holycow! Steak House.


Implikasi Bisnis
Menghadirkan pengganti nasi
Holycow! Steak House menyajikan berbagai masakan kentang sebagai
pengganti nasi untuk pendamping makan steak.
Lingkungan Politik Dalam Negeri
Politik merupakan salah satu bidang yang tidak dapat dipisahkan dari ekonomi
dan bisnis. Lingkungan politik dalam negeri memiliki pengaruh terhadap
kondisi ekonomi suatu negara yang akan memberikan dampak pada kegiatan
bisnis yang berada pada negara tersebut, dan sebaliknya kondisi ekonomi
suatu negara juga dapat mempengaruhi kondisi politik dalam negeri di negara
tersebut. Salah satu negara yang merasakan hal tersebut adalah Indonesia.
Salah satu permasalahan politik yang terjadi di Indonesia adalah
korupsi. Korupsi secara etomologis berasal dari bahasa Latin: corruptio dari
kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan,
memutarbalikkan, menyogok. Secara harfiah korupsi adalah perilaku pejabat
publik baik politikus atau politisi maupun pegawai negeri yang secara tidak
wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat
dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan
kepada mereka.

Robert Klitgard dalam bukunya Controlling Corruption (1998) yang di


kutip oleh Wiwit (2010) mendefinisikan korupsi sebagai tingkah laku yang
menyimpang dari tugas-tugas resmi sebuah jabatan Negara karena keuntungan
status atau uang yang menyangkut pribadi (perorangan, keluarga dekat,
kelompok sendiri); atau untuk melanggar aturan-aturan pelaksanaan beberapa
tingkah laku pribadi. Menurut Komberly Ann Elliot dalam Corruption and
The Global Economy menyajikan definisi korupsi, yaitu menyalahgunakan
jabatan pemerintahan untuk keuntungan pribadi.
Permintaan daging sapi impor yang terus meningkat dari tahun ke
tahun membuka peluang untuk melakukan korupsi. Pemerintah membatasi
kuota impor daging dengan tujuan agar peternak sapi di dalam negeri bisa
lebih maju dan masyarakat mau membeli daging sapi lokal. Namun, yang
terjadi adalah munculnya kesempatan distributor daging impor untuk
melakukan suap kepada petugas pemerintahan agar mendapat tambahan kuota
impor daging.
Kebijakan pengurangan kuota impor daging sapi berawal pada tahun
2011. Hal itu dilakukan oleh Menteri Pertanian Suswono untuk mendorong
swasembada daging sapi lokal, Suswono memotong kuota impor yang
biasanya 120 ribu ton per tahun menjadi hanya 50 ribu ton pada 2011.
Cekaknya kuota impor meresahkan pengusaha. Namun ada beberapa orang
yang menjadi makelar agar dapat mengimpor daging lebih banyak, ada pula
pengusaha

yang

dekat

dengan

petinggi

Kementrian

memanfaatkan

kedekatannya agar mendapat jatah lebih kuota daging.


Holycow! Steak House salah satu perusahaan yang terganggu karena
adanya kasus suap demi peningkatan kuota impor oleh PT. Indoguna Utama.
Saat terlibat kasus suap, distribusi daging wagyu ke Holycow! Steak House
mengalami kesulitan. Sehingga Holycow! Steak House harus mencari
distributor lain demi menjaga kelangsungan usahanya. Selain dengan mencari
distributor lain, Holycow! Steak House sebenernya juga dapat berinvestasi
dengan membuka peternakan sapi wagyu bekerja sama dengan para pengusaha
yang menjadikan daging wagyu sebagai bahan baku produknya. Selain
berinvestasi demi kelancaran usahanya, dengan membuka peternakan sapi
wagyu juga dapat mensukseskan program pemerintah, yaitu swasembada
daging.

3.4.1

Peluang
Perubahan Kebijakan
Di hapusnya kebijakan pembatasan kuota impor daging sapi menyebabkan
jumlah impor daging sapi semakin banyak. Hal ini berpengaruh terhadap
kemudahan Holycow! Steak House untuk menambah jumlah pembelian

3.4.2

daging mentah.
Ancaman
Kondisi politik yang tidak stabil
Kondisi politik yang tidak stabil menjadi ancaman bagi Holycow! Steak
House. Dengan adanya kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan para

3.4.3

3.5

eksportir ragu untuk melakukan kerjasama.


Implikasi Bisnis
Budidaya Sapi Wagyu
Holycow! Steak House bisa bekerjasama dengan peternak sapi di Indonesia
untuk mengembangbiakkan sapi wagyu.
Lingkungan Politik Internasional
Secara geografis letak Indonesia sangat dekat dengan Australia. Menurut
lembaga Australia Indonesia (AAI) hubungan antara kedua negara ini
mempunyai sejarah yang panjang. Hubungan antara Indonesia dan Australia
mengalami pasang surut. Misalnya masalah Timor Timur, peristiwa bom bali
baik bom bali I maupun bom bali II yang menimbulkan beragam reaksi, baik
di tanah air maupun di negara kanguru tersebut.
Pada dasarnya Indonesia merupakan negara yang penting bagi
Australia. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang berperan penting
dalam ASEAN sehingga dapat menjembatani hubungan perdagangan Australia
dengan negara-negara anggota ASEAN. Selain itu, Indonesia adalah negara
terbesar dalam negara ASEAN terbesar dari segi jumlah populasi dan luas
wilayah sehingga menjadi pangsa pasar yang besar bagi Australia.
Hubungan bilateral Indonesia dan Australia tergolong hubungan yang
unik, di satu sisi menjanjikan berbagai peluang kerjasama namun di sisi lain
juga penuh dengan berbagai tantangan. Bahkan hubungan kedua negara
seringkali digambarkan seperti roller coaster yakni naik secara perlahan
namun turun dengan sangat tajam menjadi bagian dari sejarah hubungan kedua
negara. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai perbedaan diantara kedua negara
dan bangsa yang terkait dengan kebudayaan, tingkat kemajuan pembangunan,
orientasi politik yang mengakibatkan pula perbedaan prioritas kepentingan.

Tidak dipungkiri, perbedaan- perbedaan tersebut menciptakan berbagai


masalah yang selalu mewarnai hubungan kedua negara.
Hubungan perdagangan antara Australia dan Indonesia pun telah lama
terjalin. Berikut dasar hubungan kerjasama perdagangan Indonesia dan
Australia:
1.
Trade agreement between the Republic of Indonesia and the
Commonwealth Australia, Nota persetujuan dagang (No. Agenda 346),
2.

Canberra tanggal 14 November 1972.


Exchange of Letters between the Government of Republic of Indonesia

3.

and Government of Australia, Jakarta 10 November 1968.


Trade Agreement Between the Government Republic of Indonesia and
the Commonwealth Australia yang diratifikasi melalui Kepres No.6

4.

Tahun 1973Tanggal 27 Februari 1973.


Agreement Concerning the protection and enforcement of Copyright

5.

yang ditandatangani di Jakarta Tanggal 17 November 1992.


Agreement Between the Government Republic of Indonesia and the
Governement of Australia for Avodance of Double Taxation and the
Prevention of Fiscal Evasion with Respect to Taxes on Income, di

6.

Jakarta tanggal 22 April 1992.


Agreement Between the Government Republic of Indonesia and the
Governement of Australia Concerning the Promotion and Protection of
Investments, diratifikasi melalui Keppres No.36 Tahun 1993 Tanggal

7.

15 Mei 1993.
Memorandum of Understanding between the Government of Australia
and the Government of the Republic of Indonesia on Technical

8.

Cooperation in Financial Sectors, Canberra 23 Septembe 1996.


Umbrella MoU Concerning Food Inspection and Certification Systems

9.

yang ditandatangani di Bali Tanggal 24 Februari 1999


Memorandum of Understanding between Department of Asian
Relations and Trade of the Northern Territory of Australia and the
Directorate General of Customs and Excise of the Department of
Finance of the Republic of Indonesia on A Customs Facility in Darwin
for Goods Shpped to Indonesia Ports other than in Java and Sumatera,

10.

Bali 8 Juni 2001.


Memorandum of Understanding Between the Government of the
Republic of Indonesia and the Government of Australia on

Collaborative Animal and Plant Health and Qurantine Activities.


11.

Medan 29 Juli 2003.


Join Ministerial Statement Australia-Indonesia Ministerial Forum and
Australia Indonesia Development Area Ministerial Meeting, Canberra,

12.

18 Maret 2005.
Trade and Investment Framework Agreement between the Government
of the Republic of Indonesia and the Government of Australia,
Vientiane. 29 September 2005.
Salah satu bentuk lain kerjasama ekonomi Indonesia dan Australia

adalah kerjasama dalam bidang impor sapi. Kerjasama impor daging sapi ini
penting karena penyediaan daging sapi secara nasional di Indonesia masih
sangat jauh di bandingkan dengan jumlah permintaan daging sapi. Sehingga
salah satu jalan terbaik adalah melakukan pembelian daging sapi dari luar
negeri.
Indonesia saat ini hanya mampu memproduksi 70% dari kebutuhan
daging sapi nasional dimana 30% kebutuhan lainnya dipenuhi melalui impor.
Berdasarkan dari data BPS Australia memiliki nilai impor daging sapi
mencapai US$ 113,8 juta (29,4 ribu ton). Salah satu alasan memilih Australia
sebagai negara pemasok sapi karena jarak Indonesia dan Australia sangat
dekat. Faktor lain yang diperhitungkan seperti lamanya perjalanan, jumlah
3.5.1

pasokan sapi dan aspek kehalalan khusus untuk daging sapi beku.
Peluang
Kemudahan mendapatkan daging sapi impor
Dengan adanya hubungan bilateral Indonesia dengan Australia menyebabkan
kemudahan bagi Holycow! Steak House untuk mendapatkan supply daging

3.5.2

3.5.3

wagyu.
Ancaman
Persaingan yang meningkat
Kemudahan mendapatkan daging sapi berpengaruh pada meningkatnya
persaingan dalam usaha ini.
Implikasi Bisnis
Melakukan Inovasi
Untuk memenangkan persaingan dengan kompetitornya, Holycow! Steak
House harus terus melakukan inovasi dan pengembangan terhadap sajian

3.6

steaknya.
Lingkungan Alam
Kepedulian dan kesadaran akan lingkungan dan kesehatan, telah merubah cara
pandang dan pola hidup dari manusia dan para pelaku usaha. Hal ini di
tunjukkan pada perubahan pola pendekatan bisnis yang mulai mengarahkan

usaha dengan pendekatan aktivitas bisnis berbasis kelestarian lingkungan.


Pemasaran yang berbasis kelestarian lingkungan environmental marketing
merupakan perkembangan baru dalam bidang pemasaran, dan merupakan
suatu peluang yang potensial dan strategis yang memiliki keuntungan ganda
(Multiplier effect) baik pelaku bisnis maupun masyarakat sebagai pengguna.
Pendekatan Pemasaran hijau (green marketing approach ) pada area
produk diyakini dapat meningkatkan integrasi dari isu lingkungan pada
seluruh aspek dari aktivitas perusahaan, mulai dari formulasi strategi,
perencanaan, penyusunan, sampai produksi dan penyaluran atau distribusi
dengan pelanggan.
Di samping itu, perusahaan menggunakan istilah pemasaran hijau
(green marketing), sebagai upaya mendapatkan kesempatan untuk meraih
tujuan perusahaan. Hal ini terlihat pada perhatian pelaku bisnis terhadap isuisu lingkungan dan kesehatan dengan meningkatnya pasar yang peduli
lingkungan. Bahkan ditunjukkan dengan maraknya para pelaku bisnis yang
menerapkan standar internasional atau lebih dikenal dengan ISO-14000.
Istilah green marketing (pemasaran hijau) sebagai salah satu usaha
strategis dalam menciptakan bisnis yang berbasis lingkungan dan kesehatan
telah dikenal pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an. Green marketing
yaitu

proses

dalam

pertanggungjawaban

untuk

mengidentifikasi,

mengantisipasi, dan kepuasan konsumen serta sosial pada cara yang


menguntungkan dan berkelanjutan. Sumber daya yang terbatas dan keinginan
manusia yang tidak terbatas adalah penting bagi pemasar untuk memanfaatkan
sumber daya secara efisien tanpa limbah serta untuk mencapai tujuan
melindungi lingkungan. Kotler dan Nancy (2005) menyebutkan bahwa green
marketing merupakan salah satu kasus khusus dalam implementasi SCM, yang
terefleksikan dari sikap dan perilaku baik konsumennya maupun produsennya.
Hawkins, Mathersbaugh, dan Best (2007: 93) mendefinisikannya dalam
beberapa indikator sebagai berikut:
1.
Green marketing melibatkan proses mengembangkan produk yang
mana proses produksi, penggunaan, dan pembuangan sampahnya tidak
membahayakan lingkungan dibandingkan dengan jenis produk
2.

tradisional lainnya.
Green marketing melibatkan proses mengembangkan produk yang
memiliki dampak positif kepada lingkungannya.

3.

Green marketing juga harus mengikatkan penjualan produk dengan

organisasi maupun even-even peduli lingkungan terkait.


Manfaat Green Marketing:
1.
Menghasilkan produk yang ramah lingkungan
2.
Para produsen dan pemasang iklan mengembangkan produk yang
mereka upayakan untuk memenuhi keinginan masyarakat yang peduli
3.

akan lingkungan
Kecintaan terhadap lingkungan akan membuat perusahaan menjadi
lebih inovatif, baik inovatif dalam input, process, output atau strategi
marketing atau pemasaran.
Holycow! Steak House termasuk bisnis yang terpengaruh dengan

adanya Green Marketing. Melihat kesadaran masyarakat akan konsumsi


produk yang ramah lingkungan, memaksa pebisnis untuk mengikuti selera
konsumen dengan menghadirkan produk-produk yang ramah lingkungan.
Pebisnis tidak hanya di tuntut untuk menghadirkan produk-produk yang ramah
lingkungan tetapi juga bagaimana dapat memasarkan produknya dengan tetap
mengedepankan keramahan lingkungan.
Holycow! Steak House menjual steak dengan daging wagyu. Daging
wagyu itu sendiri berasal dari sapi wagyu yang di kembang biakkan dengan
pemberian pakan bukan hanya rumput organik tetapi juga biji-bijian semacam
jagung, barley bungkil kedele (grain fed) dengan side dish tumis bayam
organik.
Selain itu, Holycow! Steak House juga menerapkan eco green building
pada konsep Campnya. Dengan menggunakan ventilasi udara yang lebar
sehingga Holycow! Steak House dapat meminimalkan penggunaan ac,
penggunaan kaca dan penggabungan antara ruang indoor dan outdoor juga
menjadi cara Holycow! Steak House untuk menghemat penggunaan lampu.
Dengan cara demikian, Holycow! dapat menghemat pengeluaran untuk listrik
3.6.1

3.6.2

3.6.3

dengan menerapkan eco green building.


Peluang
Menghemat biaya
Dengan menerapkan konsep green building Holycow! Steak House dapat
melakukan penghematan pada banyak biaya terutama biaya listrik.
Ancaman
Keterbatasan stok tanaman organik
Masih sedikitnya pemain di pasar organik membuat kesulitan untuk
mendapatkan bahan baku organik.
Implikasi Bisnis
Membuat perkebunan

Holycow! Steak House dapat membuat perkebunan organik sehingga dapat di


3.7

gunakan untuk mensupply kebutuhan.


Lingkungan Teknologi : Teknologi Informasi
membuat kita semua harus siap dan memiliki bekal untuk dapat
mengahadapinya. Dampak dari globalisasi itu sudah merasuki semua aspek
kehidupan manusia yang mengakibatkan persaingan di dunia bisnis makin
tinggi. Hal ini menyebabkan semakin tinggi pula persaingan yang harus di
hadapi oleh semua pihak terutama dalam dunia industri yang tidak lepas dari
bidang kuliner.
Indonesia adalah surga bisnis kuliner. Berbagai pilihan makanan pun
dapat di jadikan penilaian bagi status seseorang. Hal ini memicu para
pengusaha dalam bidang kuliner untuk terus mengembangkan bisnisnya, agar
selalu dikenal oleh masyarakat luas. Oleh sebab itu, kegiatan pemasaran di
tentukan oleh bagaimana pemasar dapat memahami keadaan pasar dan
merumuskan strategi pemasaran yang harus di tetapkan.
Strategi pemasaran dengan menggunakan internet sebagai tolak ukut
keputusan pembelian harus di jadikan pertimbangan oleh perusahaan. Media
promosi seperti facebook, twitter, youtube ataupun blog yang dapat di akses
secara gratis sekaligus dapat di gunakan sebagai perantara komunikasi antara
pemasar dan konsumen.
Sosial media adalah bagian penting dari strategi pemasaran yang lebih
besar, penjualan yang lebih lengkap, pelayanan dan komunikasi pemasaran
yang mencerminkan kemampuannya beradaptasi dengan pasar. Pengaruh besar
sosial media terhadap keputusan pembelian memaksa pelaku bisnis untuk
berlomba-lomba memasarkan produknya melalui sosial media. Saat ini, sosial
media sebagai media promosi dalam bidang kuliner semakin banyak di
gunakan oleh pengusaha. Melalui platform seperti Twitter, Facebook, Youtube
dan Blog pengusaha akan lebih mudah membentuk pesan pemasaran mereka.
Holycow! Steak House menggunakan ketiga platform di atas sebagai
media pemasarannya. Alasan utama pemilik Holycow! Steak House
menggunakan media sosial pada awalnya karena dengan menggunakan media
sosial mereka dapat meminimalisir pengeluaran untuk pemasaran (zero cost)
selain itu, dengan media sosial mereka dapat langsung berinteraksi dengan
konsumen. Sehingga dapat lebih mudah mengontrol kualitas makanan yang di
sajikan dan dapat langsung menanggapi keluhan konsumen.

Gambar 3.2 Facebook Holycow! Steak House

Gambar 3.3 Twitter Holycow! Steak House

Gambar 3.4 Blog Owner Holycow! Steak House

Gambar 3.5 Youtube Owner Holycow! Steak House


Dapat di lihat pada gambar di atas adalah beberapa media sosial yang
di gunakan oleh Holycow! Steak House sebagai media promosinya. Holycow!
Steak House juga memberi beberapa benefit bagi konsumen yang melakukan
posting saat sedang makan di Holycow! Steak House akan mendapat tiramisu
atau puding. Hal ini semakin memicu konsumen untuk memposting setiap
3.7.1

melakukan pembelian di Holycow! Steak House.


Peluang
Promosi dan pemasaran yang semakin mudah

Penggunaan internet, akan memudahkan perusahaan dalam melakukan


promosi sekaligus memasarkan produk. Sehingga masyarakat akan lebih
3.7.2

familiar dengan Holycow! Steak House.


Ancaman
Persaingan yang meningkat
Dengan semakin berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, teknologi juga
semakin cepat mengalami perubahan. Perkembangan teknologi informasi

3.7.3

dapat di manfaatkan oleh perusahaan-perusahaan lain yang sejenis.


Implikasi Bisnis
Efektif dan Efisien
Dengan penggunaan teknologi informasi dapat meningkatkan keefektifan
dalam operasi perusahaan, selain itu dapat menghemat biaya. Hal ini dapat
berpengaruh terhadap kinerja perusahaan yang mandukung perkembangan

3.8

perusahaan pada masa yang akan datang.


Lingkungan Teknologi : Teknologi Pemrosesan
Pengaruh globalisasi berdampak pada perkembangan teknologi. Teknologi
berkembang pesat di dunia, termasuk di Indonesia. Perkembangan teknologi
memaksa perusahaan untuk mengikuti perkembangan teknologi. Perusahaan
yang tidak berhasil mengikuti perubahan akan tersingkir dengan sendirinya.
Teknologi dalam industri kuliner termasuk teknologi yang cepat
berkembang, teknologi yang terus berkembang dalam industri kuliner
memaksa pengusaha untuk mengikuti perkembangan teknologi dalam
pengolahan sajian kulinernya. Dengan mengikuti perkembangan teknologi
dapat berdampak positif pada kelangsungan usaha kulinernya. Misalnya, dapat
meminimalisir biaya yang di keluarkan oleh perusahaan dan meningkatkan
kepuasan konsumen.
Daya beli masyarakat dari tahun ke tahun semakin meningkat,
mengakibatkan munculnya banyak unit bisnis baru, termasuk bisnis kuliner.
Bisnis kuliner yang di minati oleh konsumen salah satunya adalah steak. Di
Indonesia, kuliner steak terutama steak daging sapi banyak di minati oleh
masyarakat karena selain proteinnya tinggi, masyarakat Indonesia masih
banyak yang beranggapan bahwa steak daging sapi adalah jenis makanan
orang kaya (mahal). Oleh sebab itu, dengan kemajuan teknologi dapat
menekan biaya sehingga steak daging sapi yang berkualitas tidak hanya dapat
di nikmati oleh orang kaya saja.

Teknologi yang di gunakan Holycow! Steak House untuk dapat


menyaingi kompetitor bisnisnya di bidang kuliner steak, yaitu dengan
menggunakan metode pemanggangan yaitu Gridling.
Gridling adalah proses memanggang di atas plat baja (Griddle) dengan
menggunakan gas atau elemen listrik. Sedangkan Holycow! sendiri
menggunakan Gas Griddle. Pemanggangan menggunakan Gas Griddle lebih
memudahkan chef untuk mengontrol tingkat kematangan daging, sehingga
daging yang di hasilkan bisa sesuai dengan pesanan konsumen.
Selain itu, dengan menggunakan Gas Griddle dapat terhindar dari
bahaya karsinogenik yang biasanya banyak di sebabkan oleh pemanggangan
dengan menggunakan arang. Dengan menggunakan Gas Griddle juga dapat
meminimalisir kemungkinan makanan hangus karena panas yang di hasilkan
3.8.1

konstan sehingga daging akan matang sesuai pesanan.


Peluang
Pengontrolan tingkat kematangan
Dengan menggunakan Gas Griddle pengontrolan tingkat kematangan daging
lebih mudah di lakukan. Sehingga, tingkat kematangan daging dapat sesuai

3.8.2

dengan pesanan konsumen.


Ancaman
Biaya investasi tinggi
Penggunaan teknologi pada proses produksi dapat memberikan manfaat bagi
perusahaan. Namun, di satu sisi penggunaan teknologi tersebut membutuhkan

3.8.3

biaya investasi yang tidak sedikit.


Implikasi Bisnis
Riset terhadap teknologi
Holycow! Steak House perlu

melakukan

riset

terhadap

teknologi

pemanggangan. Sehingga tidak akan menimbulkan permasalahan di kemudian


3.9

hari.
Lingkungan Pemerintah
Pertumbuhan ekonomi yang semakin baik dari tahun ke tahun dan
bertambahnya jumlah penduduk Indonesia, menyebabkan peningkatan jumlah
kebutuhan/konsumsi protein hewani seperti daging, telur dan susu. Permintaan
daging sapi yang semakin besar tidak di imbangi oleh ketersediaan produksi
daging sapi lokal, sehingga tidak terjadi keseimbangan pasar. Kondisi ini
membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan membuka kran impor baik
dalam bentuk bakalan maupun daging sapi guna mengimbangi tingkat
kebutuhan akan protein hewani yang semakin meningkat di Indonesia. Namun,
ternyata hasilnya tidak seperti harapan dimana kebutuhan daging nasional

lebih banyak di cukupi oleh impor, tanpa di barengi dengan peningkatan


produksi ternak lokal.
Penetapan kebijakan pembatasan kuota impor daging sapi memang
menjadi angin segar bagi kelangsungan peternak sapi lokal. Keberlangsungan
usaha sapi lokal yang tadinya tidak mampu bersaing dengan sapi Impor
diharapkan bisa membaik dengan adanya kebijakan ini. Namun, terdapat efek
domino yang ditimbulkan oleh penetapan kebijakan pembatasan kuota impor
sapi tersebut yang dikarenakan semakin minimnya stok sapi impor yang ada di
Indonesia lantas membuat kinerja perusahaan yang berorientasi pada impor
sapi mengalami penurunan. Harga daging sapi yang beredar di masyarakat
tentu akan mengalami kenaikan yang cukup tinggi karena stok daging sapi
impor yang sebelumnya membanjiri pasar menjadi sulit untuk di dapat.
Ketergantungan Holycow! Steak House akan keberadaan daging sapi
impor tentu tidak lepas dari peranan pemerintah yang memiliki andil dalam
setiap kegiatan perdagangan internasional. Pada tahun 2011 pemerintah
menetapkan kebijakan pembatasan kuota impor sapi dalam rangka rencana
swasembada daging nasional (PSDS 2014).
Hampir 90 persen produksi daging sapi yang ada di Indonesia
merupakan daging impor. Pada tahun 2012 pemerintah menetapkan kebijakan
kuota impor daging sapi hanya 85 ribu ton atau sekitar 17,5 persen dari total
kebutuhan nasional yang mencapai 485.714 ton. Pada tahun 2014 Indonesia
menekan nilai impor sapi hingga 10 persen. Kuota impor daging sapi yang
hanya 85 ribu ton jika di tambahkan dengan kuota daging sapi lokal yang
hanya 292 ribu ton belum cukup untuk memenuhi permintaan akan daging
sapi yang mencapai 484 ribu ton.
Peternak tentu saja senang dengan adanya kebijakan pembatasan kuota
impor, harga sapi hidup bisa mencapai Rp. 22.000 per kg dimana sebelumnya
harga sapi mencapai harga Rp. 33.000 per kg. Namun, di Indonesia usaha
ternak sapi oleh peternak kecil masih merupakan usaha tambahan bukan bisnis
utama. Peternak masih menjadikan sapi sebagai tabungan (rojo koyo) bukan
komoditas. Mereka hanya menjual sapinya saat benar-benar membutuhkan
3.9.1

uang.
Peluang
Dengan adanya pembatasan kuota daging import seharusnya bisa menjadi
ladang bisnis baru. Pemerintah seharusnya dapat memotivasi para pengusaha
untuk terjun kedalam bisnis peternakan sapi wagyu.

3.9.2

Ancaman
Pembatasan kuota impor sangat berpengaruh terhadap kelangsungan usaha
Holycow! Steak House. Bisnis usaha yang berbahan utama daging sapi dapat
sulit bertahan jika daging sapi sulit di dapatkan, sehingga pengusaha harus
memikirkan cara lain agar kuota daging sapi dapat terpenuhi demi

3.9.3

kelangsungan usahanya.
Implikasi Bisnis
Pemerintah dapat memfasilitasi penelitian untuk dapat mengembangbiakkan
bakalan, sehingga selain dapat memenuhi kebutuhan wagyu para pengusaha
steak juga dapat sekaligus mendukung terciptanya swasembada daging

3.10

nasional.
Lingkungan Pembangunan Ekonomi
Menurut teori konsumsi dengan hipotesis pendapatan relatif yang di
kemukakan oleh James Dusenberry dalam bukunya Income, Saving and The
Theory of Consumer Behavior pada tahun 1949, didasarkan pada asumsi
sebagai berikut:
1.
Tingkat konsumsi adalah independent terhadap tingkat pendapatan
tinggi atau kebiasaan yang terjadi sebelumnya. Di samping itu unsur
status sosial seseorang juga turut menentukan tingkat konsumsinya.
Dengan demikian tingkat pendapatan yang akan mempengaruhi
konsumsi adalah nilai pendapatan relatif terhadap tingkat pendapatan
2.

tertinggi yang pernah di miliki sebelumnya.


Tingkat konsumsi bersifat irreversible yang bermakna bahwa apa yang
terjadi pada waktu pendapatan naik, tidak akan selalu merupakan
kebalikan bila terjadi penurunan pendapatan.
Konsumsi merupakan salah satu faktor penentu pertumbuhan ekonomi

Indonesia. Konsumsi penduduk Indonesia sebagian besar merupakan


konsumsi rumah tangga menjadi prasyarat penting bagi pertumbuhan ekonomi
Indonesia.

Gambar 3.6 Struktur PDB 2011-2013


Dapat di lihat pada gambar di atas komponen pengeluaran konsumsi
rumah tangga masih merupakan penyumbang terbesar dalam pengeluaran
PDB Indonesia dengan proporsi 54,64% pada tahun 2012 dan 55,82% pada
tahun 2013.

Gambar 3.7
Sedangkan gambar di atas menunjukkan bahwa dari tahun ke tahun
usaha restoran atau rumah makan mengalami peningkatan. Hal ini sekaligus
membuktikan

bahwa

dengan

meningkatnya

pendapatan

masyarakat

berpengaruh pada meningkatnya bisnis usaha restoran di Indonesia.


3.10.1 Peluang
Meningkatnya pendapatan ekonomi masyarakat Indonesia berdampak positif
pada meningkatnya bisnis usaha restoran di Indonesia.
3.10.2 Ancaman
Dengan melihat minat konsumen terhadap steak wagyu sangat tinggi, akan
mendorong pesaing untuk menjual produk yang sama dengan harga yang
bersaing.
3.10.3 Implikasi Bisnis
Holycow! Steak House harus tetap mempertahankan dan meluaskan pangsa
pasar. Holycow! Steak House untuk memperluas bisnisnya dengan membuka
restoran-restoran di daerah dengan masyarakat yang mengalami peningkatan
pendapatan. Dengan membuka cabang sesuai dengan daerah yang memiliki
pertumbuhan ekonomi yang bagus dapat meningkatkan profit Holycow! Steak
House

3.11

Lingkungan Ekonomi Regional


Ekonomi regional berkaitan dengan pembatasan wilayah ekonomi suatu
negara dengan mempertimbangkan potensi sumber daya yang di miliki suatu
wilayah dengan wilayah lainnya. Perbedaan potensi di berbagai provinsi di
Indonesia menyebabkan tidak meratanya pertumbuhan ekonomi yang terjadi
karena adanya keterbatasan sumber daya alam, sumber daya manusia,
infrastruktur, fasilitas dan lain sebagainya. Jadi, ekonomi regional menjadi
salah

satu

pertimbangan

suatu

bisnis

dalam

menjalankan

aktivitas

produksinya.
Untuk memenuhi kebutuhan suatu wilayah dilakukanlah kerjasama
dengan wilayah lain, kerjasama dengan wilayah lain ada beberapa bentuk.
Bentuk kerjasama ekonomi antar negara ada dua yaitu bilateral (Indonesia
dengan Australia) dan multilateral. Kerjasama multilateral dibedakan menjadi
dua macam, yaitu kerja sama regional (ASEAN,MEE) dan kerjasama
internasional (IMF,ILO,OPEC).
Indonesia adalah salah satu negara yang melakukan kerjasama bilateral
dengan Australia. Indonesia dan Australia sepakat membuka lebar hubungan
kerjasama bilateral kedua negara, baik dalalm bidang politik, keamanan,
ekonomi, dan pembanguna. Dengan terbentuknya Free Trade Agreement
(FTA) antara ASEAN dengan Australia dan New Zealand menjadikan landasan
bagi peningkatan dan penajaman hubungan bilateral perdagangan antara
Indonesia dan Australia dalam kerangka FTA bilateral. Salah satu bentuk
kerjasama ekonomi Indonesia dan Australia adalah kerjasama AustraliaIndonesia dalam bidang ekspor impor daging sapi.
Indonesia sampai saat ini masih belum mampu untuk memproduksi
daging wagyu. Oleh sebab itu, Holycow! Steak Hotel masih bergantung pada
impor daging wagyu dari Australia. Australia adalah negara penghasil sapi
wagyu terbesar di luar Jepang. Australia berhasil mengembangkan pembibitan
sapi wagyu dan sekarang dapat memenuhi permintaan daging wagyu di dunia.
Pemilihan Australia sebagai negara pengimpor daging wagyu bukan saja
hanya dari murahnya cost pengiriman. Namun, juga karena daging wagyu dari
Australia sudah bersertifikasi halal oleh MUI, sehingga mayoritas penduduk
Indonesia yang muslim tetap dapat menikmati daging wagyu.
3.11.1 Peluang
Kemudahan mendapatkan daging ekspor karena adanya kerjasama antara
Indonesia dan Australia.

3.11.2 Ancaman
Nilai Tukar yang tidak stabil
Melemahnya nilai rupiah sangat mempengaruhi kegiatan impor daging sapi.
3.11.3 Implikasi BIsnis
Melakukan perjanjian pembayaran dengan kurs pada saat itu, sehingga
3.12

fluktuasi nilai tukar tidak berpengaruh terhadap proses impor.


Lingkungan Kebijakan Industri dan Sektoral
Industri makanan dan minuman memiliki peranan penting

dalam

pembangunan sektor industri terutama terhadap produk domestik bruto (PDB)


industri nonmigas dibanding subsektor lainnya. makanan, minuman dan
tembakau, yang pada triwulan I 2014 mencapai sebesar 9,47 persen. Ini berarti
industri ini mengalami kenaikan cukup tinggi dibandingkan dengan
pertumbuhan pada triwulan yang sama tahun 2013 sebesar 1,75 persen.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa sektor industri makanan, minuman
dan mempunyai peran yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi di
Indonesia. Pangsa pasar produk makanan dan minuman yang cukup besar
tersebut akan mendorong tumbuhnya permintaan bahan tambahan pangan.
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan
sepanjang Januari-Desember 2013, investasi makanan dan minuman yang
masuk melalui PMA mencapai US$2,1 miliar atau setara Rp21 triliun (ratarata kurs 2013: Rp10.000) dengan 612 proyek. Sedangkan PMDN mencapai
Rp15,08 triliun dengan 341 proyek. Sehingga bila ditotal mencapai Rp36
triliun. Kemajuan industri makanan dan minuman tidak lepas dari peran
penting Pemerintah dalam upaya melakukan pegembangan secara terus
menerus. Dengan kebijakan yang ditetapkan Pemerintah diharapkan bisnis di
sektor Makanan dan Minuman dapat terus menunjang perekonomian
Indonesia.
Industri makanan dan minuman saat ini menduduki posisi strategis
dalam penyediaan produk siap saji yang aman, bergizi dan bermutu. Oleh
karena itu, dalam rangka memenuhi ketiga aspek utama tersebut, sejumlah
usaha dilakukan, seperti mendorong penerapan SNI, good manufacturing
practices (GMP), dan hazard analysis and critical control point (HACCP),
higianitas (food hygiene), keamanan (food safety), sanitasi (food sanitation),
penerapan standar pangan internasional (CODEX Alimentarius) yang
menjamin bahwa perusahaan menerapkan cara pengolahan dan sistem

manajemen keamanan pangan yang baik mulai dari pemilihan bahan baku,
pengolahan, pengemasan, serta distribusi dan perdagangannya.
Industri dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang
Perindustrian didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang mengolah bahan
mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan/atau barang jadi menjadi barang
dengan nilai yang lebih tinggi untuk penggunanya. Penentuan arah kebijakan
industri nasional jangka panjang mengacu pada Rencana Jangka Panjang
Nasional tahun 2005-2025 (Undang-Undang No. 17 Tahun 2007), sedangkan
untuk jangka menengah pada Agenda dan Prioritas Pembangunan Nasional
Kabinet Indonesia Bersatu dalam kerangka Rencana Pembangunan Jangka
Nasional (RPJMN) tahun 2004-2009 (Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005).
Dalam jangka panjang, pembangunan industri harus memberikan
sumbangan sebagai berikut:
a)
Mampu memberikan sumbangan nyata dalam peningkatan
b)

kesejahteraan masyarakat;
Membangun karakter budaya bangsa yang kondusif terhadap
proses industrialisasi menuju terwujudnya masyarakat modern,

c)

dengan tetap berpegang kepada nilai-nilai luhur bangsa;


Menjadi wahana peningkatan kemampuan inovasi

dan

wirausaha bangsa di bidang teknologi industri dan manajemen,


sebagai ujung tombak pembentukan daya saing industri
d)

nasional menghadapi era globalisasi/liberalisasi ekonomi;


Mampu ikut menunjang pembentukan kemampuan bangsa
dalam

pertahanan

diri

dalam

menjaga

eksistensi

dan

keselamatan bangsa, serta ikut menunjang.


Industri makanan dan minuman menjadi salah satu sektor industri yang
mampu menyerap tenaga kerja paling besar. Perusahaan bisa memanfaatkan
peluang untuk terus mengembangkan industri ini sehingga meminimalisir
jumlah pengangguran di Indonesia. Pengembangan variasi produk masih
sangat dibutuhkan untuk menambah ragam makanan pokok yang menjadi
kebutuhan pangan utama warga Indonesia. Hal ini juga berpengaruh positif
terhadap kebutuhan impor bahan makanan dari luar negeri, sehingga bisa
meningkatkan produktifitas perusahaan untuk mengolah bahan makanannya
sendiri. Kebijakan ini bisa ditunjang dengan adanya insentif bagi perusahaan
yang mampu memberikan inovasi produk untuk memberikan tantangan baru

bagi perusahaan untuk terus mengasah industri makanan dan minuman ini agar
semakin berkembang dengan munculnya wirausaha baru.
3.12.1 Peluang
Prospek industri makanan
Perkembangan industri makanan di Indonesia saat ini dapat di jadikan peluang
Holycow! Steak House untuk terus mengembangkan bisnisnya.
3.12.2 Ancaman
Kebijakan pemerintah
Kebijakan pemerintah tentang Industri yang di harapkan

mampu

meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Membuat banyak pemain baru yang


masuk dalam industri makanan. Hal ini menjadi ancaman bagi Holycow!
Steak House.
3.12.3 Implikasi Bisnis
Holycow! Steak House harus terus berinovasi dalam produknya dan
memasarkan produk dengan cara yang lebih menarik sehingga tetap menarik
3.13

minat konsumen dan tidak terbebani dengan adanya pertumbuhan pesaing.


Lingkungan Kebijakan Fiskal dan Moneter
Dengan adanya globalisasi, pasar semakin terbuka terhadap perdagangan dan
teknologi, sehingga jumlah perusahaan yang terpengaruh secara langsung dan
tidak langsung dengan nilai tukar semakin meningkat. Nilai tukar suatu negara
di tentukan dari nilai satu unit mata uang terhadap mata uang negara lain.
Apabila konsidi ekonomi suatu negara berubah maka nilai tukarnya pun akan
berubah secara subtansial. Sejak pertengahan 1997, Indonesia dan sebagian
beberapa negara Asia Tenggara dan Timur mengalami krisis ekonomi.
Semenjak itu, nilai tukar rupiah semakin sulit di prediksi dan overshoot.
Walaupun fluktuasi nilai tukar rupiah saat ini sudah tidak separah beberapa
tahun lalu. Perubahan nilai mata uang di Indonesia pada umumnya berupa naik
turunnya nilai rupiah terhadap mata uang asing yang terjadi harian dan
devaluasi nilai rupiah terhadap mata uang asing. Perubahan nilai tukar yang
tidak stabil ini membawa dampak yang sangat besar dalam dunia usaha, oleh
sebab itu diperlukan perlakuan yang tepat dalam pengungkapan selisih kurs
tersebut.
Nilai tukar atau kurs didefinisikan sebagai harga mata uang domestik
(Salvatore,,1997). Sedangkan (Mankiw, 2003) membedakan nilai tukar
menjadi dua yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. Nilai tukar nominal
(nominal

exchange

rate)

adalah

nilai

di

mana

seseorang

dapat

memperdagangkan mata uang dari suatu negara ke negara lain. Sedangkan

nilai tukar riil (real exchange raet) adalah nilai di mana seseorang dapat
memperdagangkan barang dan jasa dari suatu negara dengan barang dan jasa
dari negara lain.
Nilai tukar rupiah ini sangat berdampak terhadap besarnya investasi
yang di perlukan bagi pengusaha lokal, khususnya dalam bidang-bidang usaha
yang memiliki ketergantungan terhadap produk asing (impor) yang cukup
tinggi. Gambar 3.8 menunjukkan rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dollar
amerika, sebagai berikut:

Gambar 3.8 Rata-rata Nilai Tukar Rupiah


Kurs inilah yang sangat berpengaruh terhadap proses ekspor dan impor karena
sangat berpengaruh secara signifikan terhadap permintaan ekspor maupun
impor barang. Hal ini terjadi pada Holycow! Steak House yang secara
langsung membutuhkan daging wagyu dari negara lain.
3.13.1 Peluang
Dengan tidak stabilnya nilai rupiah dapat menjadikan peluang bagi Holycow!
Steak House untuk melakukan pengembangbiakan sapi wagyu sendiri guna
memenuhi kebutuhan akan daging wagyu.
3.13.2 Ancaman
Biaya bahan baku impor semakin tinggi
Dengan ketidakstabilan tingkat suku bunga mengakibatkan harga bahan baku
impor semakin tinggi dan hal ini tentu memberatkan pebisnis.
3.13.3 Implikasi Bisnis
Holycow! Steak House dapat melakukan perjanjian kerja dengan eksportir
menggunakan kurs yang berlaku pada saat perjanjian berlangsung. Sehingga
kenaikan kurs tidak akan berpengaruh pada kelangsungan bisnis Holycow!
Steak House.