Anda di halaman 1dari 37

Nama

Badan
Usaha

Perbedaan Firma, CV, PT, Perjan, Perum, Persero,


UD dan Koperasi

Model
Pengambilan
Keputusan

Pemegang Keputusan

Modal

Resiko

Pembagian Laba

Diputuskan
bersama oleh
seluruh anggota
(Demokratis)

Seluruh Anggota

Modal Besar,
berasal dari
angotaanggotanya

Tanggung jawab
semua sekutu
tudak terbatas,
sampai dengan
harta pribadi
digunakan untuk
menanggung
utang dan
kerugian

Dibagi secara

Diserahkan ke
Sekutu Aktif

Sekutu Aktif

Modal Besar,
berasal dari
para
anggotanya

Mengandung
tanggung jawab
keuangan sekutu
aktif tak terbatas,
meskipun dapat
dibagi dengan
anggota sekutu
aktif yang lain.
Bila terjadi
kerugian, maka

Dibagi secara

Firma

CV

PT

proporsional

proporsional

Resiko ini
ditanggung
bersama

Diserahkan
kepada siapa yang
memimpin

Dapat dipimpin oleh


orang yang tidak
memiliki bagian

Modal Besar,
berasal dari
para pemilik

Kerahasian
perusahaan
kurang terjamin
karena setiap

Dibagi secara
proporsional
sesuai saham yang

saham

aktivitas
perusahaan harus
dilaporkan

ditanam

kepada
pemegang saham

Rapat dan
Kebijaksanaan
Pimpinan

Pimpinan yang
diangkat oleh
Menteri departemen
yang bersangkutan

Berasal dari
Pemerintah,
besarnya
ditentukan
melalui APBN

Pemerintah
merugi

untuk pembangunan
daerah

Rapat dan
Kebijaksanaan
Pimpinan

Pimpinan yang yang


diangkat oleh
Menteri departemen
yang bersangkutan

Berasal dari
Pemerintah,
yaitu
kekayaan
negara yang
telah
dipisahkan
(bukan dari
dana suatu
departemen)
dan tidak
terbagi atas
saham-saham.

Pengelolaan
perum secara
ekonomis sulit
untuk
dipertanggungja
wabkan.

Dimasukkan ke
dalam khas negara

Rapat dan
Kebijaksanaan
Pimpinan

Pimpinan yang dipilih


melalui Rapat Umum
Pemegang Saham

Modal
minimal 51%
Berasal dari
Pemerintah,
besarnya
ditentukan
melalui APBN
dan sisanya
dari
pemegang

Tidak
memperoleh
fasilitas Negara
dan Pegawainya
berstatus sebagai
pegawai swasta.

Perjan

Perum

Persero

saham

UD

saham

Pemilik dapat
langsung
memutuskan
sendiri.

Pemilik

Demokratis

Hasil dari rapat


anggota yang diikuti
para anggotanya.

Koperasi

Modal Kecil

Tanggung jawab
pemilik terhadap
resiko tidak
terbatas

Modal Awal,
yang berasal
dari simpanan
pokok para

Pada Koperasi
simpan pinjam
rawan kredit
macet, segala
resiko ditanggung
bersama

Pemilik
mendapatkan
keuntungan bersih
secara penuh

Sisa Hasil Usaha


(SHU)

anggotanya.
Tugas Mata Kuliah Manajemen Agrobisnis Perikanan

Perbedaan Firma, CV, PT, Perjan, Perum, Persero, UD dan Koperasi

Daftar Pustaka

Agusrial.2010.BENTUK-BENTUK BADAN USAHA. http://gantocupak.blog.com/files/2010/11/Badanusaha.ppt-Compatibility-Mode.pdf. Diakses pada tanggal 13 November 2013 pukul 05.03 WIB

Anonymous.bentuk-bentuk badan usaha. http://belnokov.narotama.ac.id/referensi/VIII%20BENTUKBENTUK%20BADAN%20USAHA%20.pdf. Diakses pada tanggal 13 November 2013 pukul 01.08 WIB

Anonymous.Paket13.http://180.247.222.105/ebook1/Pendidikan/PGMI/11.%20Ilmu%20Pengetahuan%
20Sosial%202/Materi%20Perkuliahan/Paket%2013.pdf. Diakses pada tanggal 13 November 2013 pukul
01.45 WIB

BA-MKU Kwu.2008.Bentuk-Bentuk Badan Usaha di Indonesia.Universitas Negeri Solo:Solo

Hidayat, Nur.2011.Bentukbentuk Badan Usaha. http://ptp2007.files.wordpress.com/2008/05/bentuke28093-bentuk-badan-usaha1.pdf. Diakses pada tanggal 13 November 2013 pukul 07.53 WIB

Puspitasari. Dewi. BENTUKBENTUK--BENTUK PERUSAHAANBENTUK PERUSAHAAN. Universitas Negeri


Yogjakarta:Yogjakarta

ANGGARAN DASAR

MUKADIMAH
Bahwa untuk mewujudkan pembangunan nasional, menuju masyarakat adil dan makmur bedasarkan
Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, merupakan tanggung jawab bangsa Indonesia. Bahwa
program Pemerintah dalam pembangunan ekonomi nasional sebagaimana tertera di dalam Garis Garis
Besar Haluan Negara, antara lain dilaksanakan dengan mengembangkan peranan para pengusaha jasa
sewa kendaraan bermotor di Indonesia, dan untuk tujuan itu perlu mendapat dukungan semua pihak.
Maka dalam rangka ikut berperan serta memajukan peranan di Indonesia, dipandang perlu untuk
membentuk suatu wadah bagi perusahaan perusahaan rental kendaraan guna memenuhi tuntutan
pembangunan nasional tersebut di atas Bahwa wadah tersebut diharapkan dapat memicu kegiatan
perekonomian, sehingga fungsi ASOSIASI dalam mengembangkan perekonopmian Indonesia dapat
berjalan secara optimal, dimana wadah tersebut juga akan berperan sebagai mitra Pemerintah untuk
mencapai tujuannya. Bahwa wadah yang dimaksud adalah merupakan ASOSIASI dari Perusahaan
perusahaan tersebut pada alinea ketiga mukadimah ini, yang selanjutnya bernama ASOSIASI
PERUSAHAAN RENTAL KENDARAAN INDONESIA ( ASPERKINDO ) atau ASSOCIATION of INDONESIAN
VEHICLE RENTAL COMPANY . Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, maka para penghadap tetap
dalam kedudukannya sebagaimana tersebut di atas dengan tidak mengurangi izin dari pihak yang
berwenang, telah sepakat dan setuju untuk bersama-sama mendirikan asosiasi dengan anggaran dasar
sebagaimana yang termuat dalam akta pendirian ini, ( untuk selanjutnya cukup disingkat dangan
Anggaran Dasar ) sebagai berikut :

BAB I
NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN
Pasal 1
Asosiasi perusahaan sewa kendaraan ini bernama ASOSIASI PERUSAHAAN RENTAL KENDARAAN
INDONESIA, disingkat dengan ( ASPERKINDO ) atau ASSOCIATION of INDINESIAN VEHICLE RENTAL
COPMPANY untuk selanjutnya dalam Anggaran Dasar ini disebut sebagai Asosiasi.
Asosiasi berkedudukan di Jakarta Barat, dan mempunyai wilayah kerja di seluruh wilayah Negara
Replubik Indonesia.
Asosiasi dapat membuka cabang-cabangnya di daerah, dan berkedudukan di Ibukota Daerah Tingkat I /
Propinsi, dan mempunyai wilayah kerja seluas wilayah Daerah Tingkat I / Propinsi yang bersangkutan.

JANGKA WAKTU BERDIRI


Pasal 2
Asosiasi ini didirikan sejak tanggal 20-02-2008 ( dua puluh Februari dua ribu delapan ) untuk jangka
waktu yang tidak ditentukan lamanya.

BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN
Pasal 3
Asosiasi ini berazaskan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945 dan Anggaran Rumah Tangga sebagai
landasan operasional.
Maksud dan tujuan Asosiasi ialah di bidang Sosial.
Wadah utama komunikasi bagi perusahaanperusahaan rental kendaraan untuk bersama-sama
membicarakan dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, memperjuangkan kepentingankepentingan anggotanya kepada pemerintah dan pihak-pihak lain, ikut berperan serta mengembangkan
dan memajukan perekonomian Indonesia.
Mempersatukan, membina, memperjuangkan serta memberikan layanan kepada anggota untuk
pengembangan jasa di bidang penyewaan kendaraan sesuai dengan wewenang yang dimilikinya dan
ketentuan perundangan yang berlaku.
Menigkatkan kerjasama, pertukaran informasi, dan menumbuhkan sikap saling pengertian di antara
para anggota Asosiasi maupun dengan Pemerintah atau pihak ketiga lainnya, sehingga tercipta
hubungan yang baik dan harmonis.
Memajukan dan mengembangkan peranan perusahaan rental sebagai salah satu alternative pengadaan
transportasi kendaraan di Indonesia serta memberikan sumbangsih bagi kemajuan perekonomian
nasional.
Memberikan pendapat dan saran kepada Pemerintah/Instansi/Badan yang terkait, dalam rangka
pemgembangan sewa kendaraan bermotor di Indonesia dan memperjuangkan kepentingan bersama
para anggotanya.
Menciptakan iklim persaingan usaha yang sehat.
Mewakili perusahaan-perusahaan penyewaan kendaraan bermotor di Indonesia dalam kaitannya
dengan perkembangan industri otomotive di dalam maupun luar negeri.

KEGIATAN
Pasal 4
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Asosiasi melakukan kegiatan sebagai berikut :
Menjadikan Asosiasi sebagai wadah utama untuk bertukar pikiran dan informasi, serta mengumpulkan,
mengadakan penelitian dan mengolah bahan-bahan keterangan yang berhubungan dengan masalahmasalah mengenai penyewaan kendaraan bermotor dalam arti seluas-luasnya.
Menampung serta membahas masalah-masalah yang dihadapi para anggota dalam bidang penyewaan
kendaraan bermotor dan bilamana perlu menyampaikan pendapatnya kepada instansi Pemerintah baik
ditingkat Pusat maupun daerah dan atau lembaga-lembaga lain yang berwenang.
Memberikan penerangan, saran, pendidikan, latihan dan bimbingan serta layanan kepada para anggota,
guna meningkatkan kemampuan ketrampilan sumber daya manusia para anggota untuk memenuhi
tenaga profesional yang dibutuhkan.
Membentuk komite-komite yang dianggap baik ditingkat Pusat maupun daerah dalam rangka
melancarkan kegiatan dan usaha anggota Asosiasi.
Menggalang kerjasama dan hubungan baik dengan Instansi-instansi / Badan-badan / Lembaga-lembaga
Pemerintah dan Swasta, baik di dalam maupun luar negeri sepanjang tidak bertentangan dengan azaz
dan tujuan Asosiasi, serta dengan cara yang tidak bertentangan dengan perunadang-undangn yag
berlaku.
Melakukan usaha-usaha lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan azaz dan tujuan Asosiasi.

KEKAYAAN
Pasal 5
Asosiasi mempunyai kekayaan awal yang berawal dari kekayaan Pendiri yang dipisahkan, terdiri dari
uang sebesar Rp. 250.000.000,00 ( dua ratus lima puluh juta rupiah ).
Selain kekayaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1 ) Pasal ini, kekayaan Asosiasi dapat juga
diperoleh dari :
sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat
hibah

hibah wasiat
perolehan lain yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar Asosiasi dan atau peraturan perundangundangan yang berlaku.
Semua kekayaan Asosiasi harus dipergunakan untuk mencapai maksud dan tujuan Asosiasi.

BAB III
KEANGGOTAAN
Pasal 6
Keanggotaan bersifat Aktif dan Terbuka.
Anggota Asosiasi adalah perusahaan rental kendaraan yang berbadan hukum yang syarat
keanggotaannya akan diatur lebih lanjut di dalam Anggaran Rumah Tangga.
Permohonan menjadi Anggota Asosiasi ditujukan kepada Dewan Pengurus Pusat / Daerah dan
mendapat persetujuan dari Dewan Pengurus Pusat / Daerah.

HAK DAN KEWAJIBAN ANGGOTA


Pasal 7
Anggota mempunyai hak sebagai berikut :
Hak untuk memilih dan dipilih sebagai Pengurus serta hak bicara
Mengajukan pendapat atau saran baik lisan maupun tertulis demi kemajuan Asosiasi
Memperoleh pembinaan, bantuan tekhnis dan informasi
Menghadiri rapat, pertemuan-pertemuan serta kegiatan-kegiatan lain yang diadakan Asosiasi
Memperoleh bantuan dan konsultasi hukum.
Anggota mempunyai kewajiban sebagai berikut :
Mentaati Anggaran Dasar,Anggaran Rumah Tangga serta keputusan-keputusan Asosiasi
Menjunjung nama baik Asosiasi
Membayar uang pangkal dan iuran.

BERAKHIRNYA KEANGGOTAAN
Pasal 8
Keanggotaan berakhir karena :
Permintaan sendiri
Diberhentikan oleh Asosiasi oleh karena melanggar Anggaran Dasar atau Anggaran Rumah Tangga serta
kode etik Asosiasi.
Dinyatakan Pailit
Dicabut izin Usahanya oleh instansi yang berwenang
Anggota melakukan penggabungan atau peleburan sehingga menyebabkan nama perusahaan berubah.

BAB IV
SANKSI ASOSIASI DAN PEMBELAAN DIRI
Pasal 9
SANKSI ASOSIASI
Setiap pelanggaran oleh anggota terhadap pasal-pasal Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga
maupun kode etik, dikenakan sanksi Asosiasi.
Sanksi Asosiasi diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga Asosiasi.

HAK BELA DIRI


Pasal 10
Tata cara penetapan sanksi Asosiasi dan pembelaan diri, diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.

BAB V
SANKSI ASOSIASI DAN PEMBELAAN DIRI

Pasal 11
Struktur organisasi Asosiasi terdiri dari :
Musyawarah Anggota
Dewan Pengurus Pusat dan Daerah
Bilamana perlu dapat dibentuk Dewan Perwakilan di Daerah, yaitu pada tiap Daerah Tingkat I atau yang
sederajat, disebut Pengurus Daerah.

BAB VI
PENGURUS
Pasal 12
Suasana Dewan Pengurus Pusat terdiri dari Ketua Umum ( Chairman ) dibantu oleh :
Satu orang atau lebih wakil Ketua Umum
Satu orang atau lebih Sekretaris Umum / Sekretaris Jendral
Satu orang atau lebih Bendahara
Apabila dipandang perlu, Dewan Pengurus dapat membentuk bidang-bidang teknis
Untuk kelancaran Asosiasi Dewan Pengurus Pusat dapat membentuk Pelaksana Tugas Harian untuk
kesekretariatan Asosiasi yang bertanggung jawab kepada Sekretaris Umum.
Tugas dan kewajiban Dewan Pengurus Pusat adalah mewujudkan terlaksananya fungsi dan tujuan
Asosiasi yang bilamana perlu secara terinci akan diatur dalam Surat Keputusan tersendiri.

KEKUASAAN TERTINGGI
Pasal 13
Kekuasaan tertinggi dan Kedaulatan Asosiasi berada dalam tangan anggota melalui Musyawarah
Anggota :

KEKUASAAN DAN PENGURUS TINGKAT PUSAT

Pasal 14
Dewan Pengurus Pusat adalah pemimpin tertinggi Asosiasi.
Dewan Pengurus Pusat dipilih dan diberhentikan melalui Musyawarah Anggota yang ketentuannya
diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga
Pengurus Pusat bertanggung jawab secara hukum atas pemilikan, pelepasan, pembebanan kekayaan,
Asosiasi. Untuk tindakan tersebut diperlukan persetujuan tertulis melalui Keputusa Dewan Pengawas
Asosiasi yang bertanggaung jawabkan kepada rapat Musyawarah Anggota / Musyawarah Anggota Luar
Biasa.
Dewan Pengurus Pusat wajib mempertanggung jawabkan segala hal yag telah dikerjakan dalam
kepengurusannya kepada seluruh Anggota dalam Musyawarah Anggota.
Tugas, kewajiban dan wewenang Dewan Pengurus Pusat diatur dalam Anggaran Rumah Tangga
Dewan Pengurus Pusat berwenang unutuk menerbitkan ketentuan-ketentuan yang mengatur tata cara
dan prosedur kegiatan yang berkaitan dengan bidang-bidang kepengurusan.

KEKUASAAN DAN PENGURUS TINGKAT DAERAH


Pasal 15
Dewan Pengurus Daerah adalah pimpinan Asosiasi di Daerah di tingkat Propinsi.
Dewan Pengurus Daerah ditetapkan dan ditunjuk oleh Dewan Pengurus Pusat atas usulan para anggota
Daerah.
Dewan Pengurus Daerah bertindak mewakili Dewan Pengurus Pusat Asosiasi di Daerah ke luar dan ke
dalam, bertanggung jawab terhadap jalannya organisasi Daerah serta mempunyai tugas dan kewajiban
melakukan usaha-usaha sesuai dengan kebijakan-kebijakan Dewan Pengurus Pusat Asosiasi.
Susunan Pengurus Daerah disesuaikan sebagaimana ketetapan Dewan Pengurus Pusat dengan
mempertimbangkan kebutuhan setempat.
Dewan Pengurus Daerah bertanggung jawab kepada Dewan Pengurus Pusat Asosiasi secara periodik
menyampaikan laporan kegiatan.
Hal-hal yang dilaporkan Dewan Pengurus Daerah kepada Dewan Pengurus Pusat diatur lebih lanjut
dalam Anggaran Rumah Tangga.

MASA BAKTI PENGURUS


Pasal 16
Masa bakti Pengurus Asosiasi adalah 4 ( empat ) tahun, untuk setiap masa bakti ( Masa Bakti )
Ketua Umum Pengurus hanya dapat menjabat 2 ( dua ) kali masa bakti berturut-turut.
Anggota pengurus lainnya selain Ketua Umum dapat dipilih kembali untuk masa bakti berikutnya.

PERSYARATAN PENGURUS
Pasal 17
Pengurus Asosiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Direksi ( untuk Pengurus inti ) dari perusahaan sewa yang diwakilinya yang berkedudukan hukum di
Indonesia.
Sedapat mungkin berdomisili di Ibukota Republik Indonesia untuk tingkat Pusat dan di Ibukota Propinsi
untuk tingkat Daerah.
Mempunyai keahlian, kemampuan, kepemimpinan dan intregritas pribadi serta bersedia mengabdikan
tenaga dan pikiran untuk kepentingan Asosiasi.
Perusahaan tempat yang bersangkutan bekerja adalah Anggota Asosiasi.

Pasal 18
Pengurus dapat diberhentikan oleh Musyawarah Anggota sebelum masa jabatannya berakhir apabila
terbukti :
Melakukan kecurangan atau menyelewengkan yang merugikan usaha dan keuangan dan nama baik
Asosiasi
Tidak mentaati ketentuan-ketentuan dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Keputusan
Musyawarah Anggota
Sikap maupun tindakannya menimbulkan akibat yang merugikan bagi Asosiasi khususnya dan Gerakan
Asosiasi pada umumnya.

Melakukan dan terlibat dalam tindakan pidana terutama di bidang ekonomi dan keuangan dan tindak
pidana lain yang telah diputus oleh Pengadilan.
Dalam hal salah seorang anggota Pengurus berhenti sebelum masa jabatannya berakhir, Rapat Pengurus
dengan dihadiri wakil Pengawas dapat mengangkat penggantiannya dengan cara :
Menunjuk salah seorang Pengurus untuk merangkap jabatan tersebut
Mengangkat dari kalangan anggota untuk menduduki jabatan Pengurus tersebut.
Pengangkatan penggantian Pengurus yang berhenti sebagaimana diatur dalam ayat ( 2 ) harus
dipertanggung jawabkan oleh Pengurus dan disahkan dalam Musyawarah Anggota berikutnya.

BAB VII
PENGAWAS
Pasal 19
Susunan Dewan Pengawas Pusat terdiri dari 1 ( satu ) Ketua Umum dibantu oleh 1 ( satu ) orang atau
lebih anggota.
Tugas dan kewajiban Dewan Pengawas Pusat adalah mengawasi dan mewujudkan terlaksannya fungsi
dan tujuan Pengurus Asosiasi yang bilamana perlu secara terinci akan diatur dalam Surat Keputusan
tersendiri.

KEKUASAAN TERTINGGI
Pasal 20
Kekuasaan tertinggi dan Kedaulatan Asosiasi berada dalam tangan anggota melalui Musyawarah
Anggota.

KEKUASAAN DAN PENGAWAS TINGKAT PUSAT


Pasal 21
Dewan Pengawas Pusat adalah Pemimpin Pengawas tertinggi Asosiasi.

Dewan Pengawas Pusat dipilih dan diberhentikan melalui Musyawarah Anggota yang ketentuannya
diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga.
Pengawas Pusat bertanggung jawab secara hukum atas pemilikan, pelepasan, pembebanan kekayaan
Asosiasi yang dilakukan Pengurus.
Dewan Pengawas Pusat wajib mempertanggungjawabkan segala hal yang telah dikerjakan dalam
kepengurusannya kepada seluruh Anggota dalam Musyawarah Anggota.
Tugas, kewajiban dan wewenang Dewan Pengawas Pusat diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
Dewan Pengawas Pusat berwenang untuk menerbitkan ketetuan-ketentuan yang mengatur tata cara
dan prosedur kegiatan yang berkaitan dengan bidang-bidang kepengurusan.

KEKUASAAN DAN PENGAWAS TINGKAT DAERAH


Pasal 22
Dewan Pengawas Daerah adalah Pimpinan Pengawas Asosiasi di Daerah di tingkat Propinsi
Dewan Pengawas Daerah dtetapkan dan ditunjuk oleh Dewan Pengawas Pusat atas usulan para anggota
Daerah.
Dewan Pengawas Daerah bertindak mewakili Dewan Pengawas Pusat Asosiasi di Daerah ke luar dank e
dalam, bertanggung jawab terhadap jalannya organisasi Daerah serta mempunyai tugas dan kewajiban
melakukan pengawasan usaha-usaha sesuai dengan kebijakan-kebijakan Dewan Pengurus Pusat
Asosiasi.
Susunan Pengawas Daerah disesuaikan sebagaimana ketetapan Dewan Pengawas Pusat dengan
mempertimbangkan kebutuhan setempat.
Dewan Pengawas Daerah beertanggung jawab kepada Dewan Pengawas Pusat Asosiasi dan secara
periodik menyampaikan laporan kegiatan.
Hal-hal yang dilaporkan Dewan Pengawas Daerah kepada Dewan Pengawas Pusat diatur lebih lanjut
dalam Anggaran Rumah Tangga Asosiasi.

MASA BAKTI PENGAWAS


Pasal 23
Masa bakti Pengawas Asosiasi adalah 4 ( empat ) tahun , untuk setiap masa bakti ( Masa Bakti ).

Ketua Umum Pengawas hanya dapat menjabat 2 ( dua ) kali masa bakti berturut-turut.
Anggota Pengawas lainnya selain Ketua Umum dapat dipilih kembali untuk masa bakti berikutnya.

PERSYARATAN PENGAWAS
Pasal 24
Pengawas Asosiasi harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Pengawas ( untuk Pengawas inti ) dari perusahaan sewa yang diwakilinya yang berkedudukan hukum di
Indonesia.
Sedapat mungkin berdomisili di Ibukota Replubik Indonesia untuk tingkat Pusat dan di Ibukota Propinsi
untuk tingkat Daerah.
Mempunyai keahlian, kemampuan kepemimpinan dan integritas pribadi serta bersedia mengabdikan
tenaga dan pikiran untuk kepentingan Asosiasi.
Perusahaan tempat yang bersangkutan bekerja adalah Anggota Asosiasi.

Pasal 25
Pengawas dapat diberhentikan oleh Musyawarah Anggota sebelum masa jabatannya berakhir apabila
terbukti :
Melakukan kecurangan atau menyelewengkan yang merugikan usaha dan keuangan dan nama baik
Asosiasi
Tidak mentaati ketentuan-ketentuan dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Keputusan
Musyawarah Anggota
Sikap maupun tindakannya menimbulkan akibat yang merugikan bagi Asosiasi khususnya dan Gerakan
Asosiasi pada umumnya.
Melakukan dan terlibat dalam tindak pidana terutama di bidang ekonomi dan keuangan dan tindak
pidana lain yang telah diputus oleh Pengadilan.
Dalam hal salah seorang anggota Pengawas berhenti sebelum masa jabatannya berakhir, Rapat
Pengawas dengan dihadiri wakil Pengurus dapat mengangkat penggantiannya dengan cara :
Menunjuk salah seorang Pengawas untuk merangkap jabatan tersebut

Mengangkat dari kalangan anggota untuk menduduki jabatan Pengawas tersebut.


Pengangkatan pengganti Pengawas yang berhenti sebagaimana diatur dalam ayat ( 2 ) harus
dipertanggung jawabkan oleh Pengawas disahkan dalam Musyawarah Anggota berikutnya.

PENASEHAT
Pasal 26
Apabila diperlukan, Pengurus dapat mengangkat Penasehat atas persetujuan Rapat Anggota
Penasehat memberi saran atau anjuran kepada Pengurus untuk keperluan Asosiasi baik diminta maupun
tidak diminta.

BAB VIII MUSYAWARAH-MUSYAWARAH


Pasal 27
Musyawarah Anggota merupakan kekuasaan tertinggi Asosiasi dan dilaksanakan 4 ( empat ) tahun
sekali, selambat-lambatnya tanggal 30 ( tiga puluh ) Juni. Apabila terjadi penundaan maka Dewan
Pengurus Pusat akan memberitahukan kepada anggota selambat-lambatnya 1 ( satu ) bulan sebelum
tanggal 30 Juni
Musyawarah Anggota dihadiri oleh :
Dewan Pengurus Pusat
Perwakilan Pengurus Pusat
Dewan Pengawas Pusats
Perwakilan Pengawas Pusat
Anggota Asosiasi
Undangan lain yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat.
Musyawarah Anggota mempunyai kekuasaan untuk :
Menetapkan garis-garis besar kebijaksanaan Asosiasi
Melakukan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

Menerima, mengesahkan dan menolak sebagian atau keseluruhan pertanggung jawaban Dewan
Pengurus Pusat
Memilih Dewan Pengurus Pusat dan Dewan Pengawas Pusat untuk masa bakti berikutnya
Menyetujui penetapan Akuntan Publik yang diusulkan Oleh Dewan Pengurus Pusat.
Musyawarah Anggota dipersiapkan dan diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Pusat
Selain Musyawarah Anggota dapat pula diselenggarakan Musyawarah Anggota Luar Biasa yang dapat
diadakan setiap waktu atas permintaan secara tertulis dari paling sedikit 50 % + 1 dari jumlah anggota
Asosiasi yang sah dengan memperhatikan pasal 29 Anggaran Dasar ini atau atas usulan dari Dewan
Pengurus Pusat.
Musyawarah Anggota maupun Musyawarah Anggota Luar Biasa dipimpin oleh Ketua Umum. Jika Ketua
Umum berhalangan maka rapat dipimpin oleh Wakil Ketua Umum Atau Sekretaris Umum atau salah
seorang anggota Dewan Pengurus Pusat yang hadir.
Susunan acara dan tata tertib Musyawarah Anggota maupun Musyawarah Anggota Luar Biasa disiapkan
oleh Dewan Pengurus Pusat dan disahkan oleh Musyawarah Anggota/Musyawarah Anggota Luar Biasa.
Menyimpang dari ketentuan tersebut Tata Cara Musyawarah Anggota yang pertama kali dibuat dan
disahkan oleh Pengurus Pusat Asosiasi.
Dalam Musyawarah Anggota maupun Musyawarah Anggota Luar Biasa, setiap anggota Asosiasi yang
hadir mempunyai hak 1 ( satu ) suara anggota. Dewan Pengurus Pusat dan Perwakilan Pengurus Pusat
Daerah tidak mempunyai hak suara.

BAB IX
KORUM DAN KEPUTUSAN
Pasal 28
KORUM
Musyawarah Anggota adalah sah apabila dihadiri 50 % + 1 dari jumlah Anggota Asosiasi yang sah.
Sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 ( satu ) di atas tidak tercapai maka Musyawawarah Anggota harus
ditunda dan selanjutnya harus diadakan kembali selambat-lambatnya 1 ( satu ) jam setelah penundaan,
dan Musyawarah Anggota dianggap sah untuk dilanjutkan serta berhak mengambil keputusan yang
mengikat Asosiasi.

KEPUTUSAN
Pasal 29
Semua keputusan yang diambil harus selalu diusahakan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.
Bila dengan usaha musyawarah dan mufakat tidak tercapai keputusan sedangkan keadaan sangat
mendesak, maka keputusan dapat diambil bedasarkan suara terbanyak biasa.
Apabila dengan pemungutan suara 2 ( dua ) kali ternyata jumlah suara sama banyak, keputusan akhir
atas suatu rencana dan usulan serta pertanggungjawaban dianggap ditolak, sedangkan mengenai orang
akan diundi.

BAB X
RAPAT KERJA
Pasal 30
RAPAT KERJA
Rapat kerja Asosiasi diadakan sekurang-kurangnya 1 ( satu ) kali dalam setahun, dipersiapkan dan
dselenggarakan serta dipimpin oleh Ketua Umum atau Wakil Ketua Umum atau Sekretaris Jendral atau
Ketua Bidang yang ditunjuk, dihadiri oleh :
Dewan Pengurus Pusat
Perwakilan pengurus Daerah
Anggota Asosiasi
Rapat kerja di Daerah diadakan sekurang-kurangnya 1 ( satu ) kali dalam setahun dipersiapkan dan
diselenggarakan serta dipimpin oleh Perwakilan pengurus dari paling sedikit 50% + 1 dari jumlah
Anggota Asosiasi yang sah dengan memperhatikan Pasal 23 AD ini atau atas usulan dari Dewan Pengurus
Pusat.
Musyawarah Anggota maupun Musyawarah Anggota Luar Biasa dipimpin oleh Ketua Umum. Jika Ketua
Umum berhalangan maka rapat dipimpin oleh Wakil Ketua Umum atau Sekretaris Umum atau salah
seorang anggota Dewan Pengurus Pusat yang hadir.
Susunan Acara dan tata tertib Musyawarah Anggota maupun Musyawarah Anggota Luar Biasa disiapkan
oleh Dewan Pengurus Pusat dan disahkan oleh Musyawearah Anggota / Musyawarah Anggota Luar
Biasa. Menyimpang dari ketentuan tersebut Tata Cara Musyawarah Anggota yang pertama kali dibuat
dan disahkan oleh Pengurus Pusat Asosiasi.

Dalam Musyawarah Anggota maupun Musyawarah Anggota Luar Biasa, setiap Anggota Asosiasi yang
hadir mempunyai hak 1 ( satu ) suara anggota. Dewan Pengurus Pusat dan Perwakilan Pengurus Pusat
Daerah tidak mempunyai hak suara.

BAB XI
SEKRETARIAT
Pasal 31
PELAKSANAAN SEKRETARIAT
Asosiasi mempunyai Kantor Sekretariat yang dipimpin oleh Sekretaris Jendral atau jika Sekretaris Jendral
berhalangan, maka salah seorang Pengurus Pusat yang ditunjuk oleh Ketua Umum.
Dalam pelaksanaan harian pada Sekretariat Pusat dan Daerah dapat diangkat seorang Sekretraris
Eksekutif yang bertanggung jawab kepada Sekretaris Umum.
Sekretaris Eksekutif Asosiasi, diangkat dan diberhentikan oleh Dewan Pengurus Pusat atau Daerah.
Sekretaris Eksekutif dan Staff Sekretariat adalah tenaga-tenaga yang menrima gaji.

BAB XII
KEUANGAN
Pasal 32
SUMBER KEUANGAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN
Keuangan Asosiasi diperoleh dari :
Uang Pangkal
Uang iuran tahunan
Sumbangan-sumbangan yang tidak mengikat
Pendapatan lyang sah
Pengurus memberikan laporan dan pertanggungjawaban keuangan dan perbendaharaan kepada
Musyawarah Anggota dan diwajibkan melakukan pencatatan dan pengurusan atas seluruh kekayaan dan
penggunaan keuangan Asosiasi selama Masa Baktinya dan untuk pertanggungjawaban keuangan tahun
pertama akan diumumkan kepada anggota setelah diaudit.

Tahun Buku bagi pencatatan keuangan Asosiasi menggunakan tahun Takwin dan Dewan Pengurus Pusat
tetap mempertanggungjawabkan keuangan dan kekayaan Asosiasi untuk masa sesudah tahun Takwin
dalam hal masa baktinya berakhir tidak pada tahun Takwin.
Laporan keuangan dan perbendaharaan Asosiasi harus diaudit oleh Akuntan Publik yang ditunjuk oleh
Dewan Pengurus Pusat dan dusetujui Dewan Pengawas.

BAB XIII
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA ( AD/ART )
SERTA PEMBUBARAN ASOSIASI
Pasal 33
KETENTUAN KHUSUS
Perubahan Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga ( AD/ ART ) atau pembubaran Asosiasi, hanya
dapat dilakukan dengan Musyawarah Anggota yang khusus diadakan untuk maksud tersebut atas
permintaan dari sekurang-kurangnya 50% + 1 ( lima puluh persen ditambah satu ) dari jumlah anggota
yang terdaftar secara sah dan disetujui oleh sekurang-kurangnya 2/3 ( dua per tiga ) dari jumlah Anggota
yang hadir.
Apabila telah ada keputusan-keputusan pembubaran sebagaimana tersebut dalam ayat 1 di atas, maka
Musyawarah Anggota harus membentuk sebuah Panitia Likuidasi yang terdiri dari Dewan Pengurus
Pusat, Perwakilan Pengurus Pusat di Daerah dan Anggota dengan tugas menyelesaikan segala sesuatu
yang berhubungan dengan pelaksanaan pembubaran Asosiasi.
Musyawarah Anggota menetapkan pedoman tugas Panitia Likuidasi dan memberikan wewenang penuh
kepada Panitia Likuidasi bertindak khusus untuk dan atas nama Asosiasi termasuk penyerahan sisa
kekayaan apabila masih ada, kepada pihak-pihak yang ditetapkan oleh Musyawarah.
Selama Panitia Likuidasi melaksanakan tugas-tugasnya,selama itu pula seluruh kegiatan Asosiasi
termasuk dibekukan. Segera setelah tugas-tugas Panitia Likuidasi selesai maka pada saat itu pula
Asosiasi dinyatakan bubar menurut hukum.

BAB XIV
ANGGARAN RUMAH TANGGA
ATAU PEMBUBARAN ASOSIASI
Pasal 34

ANGGARAN RUMAH TANGGA


Hal-hal yang belum terinci jelas dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga
Anggaran Rumah Tangga disusun dan ditetapkan untuk pertama kalinya oleh Dewan Pengurus Pusat,
dan selanjutnya ditetapkan dalam Musyawarah Anggota atau Musyawarah Anggota Luar Biasa
Anggaran Rumah Tangga tidak boleh bertentangan dengan Anggaran Dasar.

Pasal 35
PEMBUBARAN ASOSIASI
Pembubaran Asosiasi diputuskan dalam Musyawarah Anggota Luar Biasa yang khusus diadakan untuk
itu.
Musyawarah Anggota / Musyawarah Anggota Luar Biasa tersebut adalah sah apabila dihadiri oleh
sekurang-kurangnya 50 % + 1 ( lima pulh persen ditambah satu ) bagian anggota Asosiasi.
Pengambilan Keputusan untuk membubarkan Asosiasi dilakukan secara musyawarah untuk mufakat dan
apabila tidak tercapai dilakukan sesuai dengan cara pengambilan pada Pasal 23 Anggaran Dasar ini.
Apabila diputuskan untuk membubarkan Asosiasi ini, maka penyelesainnya dilakukan oleh pihak-pihak
yang ditentukan oleh Musyawarah Anggota / Musyawarah Anggota Luar Biasa tersebut dengan
memberikan tugas yang jelas, terinci dan diberikan batas waktu untuk penyelesaian maupun untuk
meberikan pertanggung jawaban yang tuntas.
Jika tidak diadakan Musyawarah Anggota / Musyawarah Anggota Luar Biasa tidak menetapkan pihakpihak yang akan menyelesaikan pembubaran, maka Dewan Pengurus yang melaksanakan penyelesaian
pembuabaran Asosiasi.

BAB XV
PENUTUP
Pasal 36
Menyimpang dari ketentuan yang ditentukan dalam Pasal 19 dan Pasal 12
Anggaran Dasar ini mengenai tata cara untuk pertama kalinya pengangkatan
Pengawas dan Pengurus Asosiasi, telah diangkat sebagai :
Ketua Dewan Pengawas
Anggota
Anggota

: Tuan ENGGAL KARJOJO tersebut di atas


: Tuan ANDREAS SOFIANDI tersebut di atas
Tuan KRESNA PRIAWAN DJOKOSOETONO,
:
Master Business of Management tersebut di atas

Anggota
Ketua Umum
Wakil Ketua Umum
Sekretaris Jendral

: Tuan ANDY SUSETYA tersebut di atas


: Tuan PONGKI PAMUNGKAS tersebut di atas
: Tuan ALEXANDER SUMBUNG tersebut di atas
: Tuan MAX ALBRECHT MONTOL tersebut di atas
: Tuan EDISON IDRUS tersebut di atas
Tuan ZAKARIAS HARDJENDRO WIDJANARKO tersebut di atas
Bendahara
:
Nona SAPHIRA DEVI KARJONO tersebut di atas.
Ketua Bidang Organisasi dan Perundang-Undangan :

Tuan BUNGAI ONGO tersebut di atas


Tuan HENDI AFFANDI tersebut di atas

Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan :

Nyonya Insyiur MARSINTA DAMERIA SIREGAR tersebut di atas.

Ketua Bidang Hubungan Masyarakat :

Tuan RIZA M RINALDY, lahir di Bandung, pada tanggal 26-06-1969 ( dua puluh enam
Juni seribu sembilan ratus enam puluh sembilan ), status pekerjaan Swasta, bertempat
tinggal di kota Depok, Raffles Hills Blok J-6 nomor 22, Rukun Tetangga 10, Rukun
Warga 25, pemegang Kartu Tanda Penduduk nomor 32.77.01.1005/9566/3195695,
Kelurahan Sukatani, Kecamatan Cimanggis, Waraga Negara Indonesia.
Tuan FRANS MEGA KRISHNA tersebut di atas

Pengurus dan/ atau

baik bersama-sama maupun sendiri-sendiri dengan hak untuk memindahkan


kekuasaan ini kepada orang lain dikuasakan untuk memohon pengesahan atas
Pernyataan Pendirian ini dari instansi yang berwenang dan untuk membuat
pengubahan dan atau tambahan dalam bentuk yang bagaimanapun juga yang
diperlukan untuk memperoleh pengesahan tersebut dan untuk mengajukan dan
menandatangani semua permohonan dan dokumen lainnya, untuk memilh tempat
kedudukan dan untuk melaksanakan tindakan lain yang mungkindiperlukan. Demikian
PERNYATAAN PENDIRIAN tersebut dibuat untuk dapat dipergunakan dimana perlu.
Para penghadap dalam komparisi akta telah saya, Notaris, kenal.
DEMIKIAN AKTA INI
Dibuat sebagai minuta dan dilangsungkan di Jakarata, pada hari tersebut pada aqwal
akta ini, dengan dihadiri oleh :
1. Tuan SUYADI, lahir di Jakarta, pada tanggal 23-05-1980 ( dua puluh tiga Mei seribu
sembilan ratus delapan puluh ), status pekerjaan pegawai kantor Notaris, bertempat

tinggal di Jakarta Selatan, Jalan Tebet Barat, Rukun Tetangga 017, Rukun Warga 001,
pemegang Kartu Tanda Penduduk nomor 09.5301.23.05.80.7017, Kelurahan Tebet Barat,
Kecamatan Tebet, Warga Negara Indonesia dan
2. Nona YULIA WIDAYANTI, lahir di Klaten, pada tanggal 12-07-1980 ( dua belas Juli
seribu sembilanratus delapan puluh ), status pekerjaan pagawai kantor Notaris, bertempat
tinggal di Jakarta Selatan, Tebet Utara II A nomor5, Rukun Tetangga 002, Rukun Warga
001, pemegang Kartu Tanda Penduduk nomor 09.5301.12.07.80.0278, Kelurahan Tebet
Timur, Kecamatan Tebet, Warga Negara Indonesia.
yang saya, Notaris kenal sebagai saksi-saksi,
Pada pukul 11.00 WIB ( sebelas nol nol Waktu Indonesia Barat ) saya, Notaris, selasai
membacakan akta ini kepada para penghadap tersebut, dua orang saksi dan saya,
Notaris. Dilangsungkan dengan tanpa perubahan.
Dibubuhi tanda oleh :

PONGKI PAMUNGKAS ;
ALEXANDER SUMBUNG ;
MAX ALBRECHT MONTOL ;
ENGGAL KARJONO ;
SAPHIRA DEVI KARJONO ;
ANDREAS SOFIANDI ;
KRESNA PRIAWAN DJOKOSOETONO ;
ANDI SUSETYA ;
Drs. GIBSON SIBARANI ;
Ny. Ir. MARSINTA DAMERIA SIREGAR ;
ZAKARIAS HARDJENDRO WIDJANARKO ;
EDISON IDRUS ;

ANGGARAN RUMAH TANGGA

ANGGARAN RUMAH TANGGA


ASOSIASI PERUSAHAAN RENTAL KENDARAAN INDONESIA
(ASPERKINDO)

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1. Penjelasan Umum
Anggaran Rumah Tangga ini merupakan pelengkap dari Anggaran Dasar dan memuat perincian serta
penjelasan mengenai ketentuan-ketentuan yang diatur oleh Anggaran Dasar. Segala sesuatu yang belum
tertuang dalam AD/RT akan dituangkan dalam keputusan tertulis Pengurus Asosiasi

Pasal 2. Nama
Nama Asosiasi adalah Asosiasi Perusahaan Rental Kendaraan Indonesia, selanjutnya disingkat
ASPERKINDO.

Pasal 3. Waktu
Organisasi ini didirikan pada tanggal 20 Februari 2008 di Jakarta, untuk waktu yang tidak terbatas.

Pasal 3. Waktu
Organisasi ini didirikan pada tanggal 20 Februari 2008 di Jakarta, untuk waktu yang tidak terbatas.

Pasal 4. Kedudukan
Organisasi ini berkedudukan di :

IBUKOTA NEGARA REPUBLIK INDONESIA , untuk Tingkat DEWAN PENGURUS PUSAT;


IBU KOTA PROPINSI, untuk tingkat DEWAN PENGURUS DAERAH Tingkat I;

Pasal 5. Atribut
Organisasi ini mempunyai Atribut yang terdiri dari dan berlaku untuk seluruh Indonesia
Lambang & logo mengandung makna :
Lambang kendaraan menghadap ke kanan : visi dan misi yang berorientasi ke depan.
Logo bentuk kendaraan roda dua : menunjukkan bahwa asosiasi ini dibentuk mengikuti perkembangan
industry sewa kendaraan
Warna Biru : sifat sifat asosiasi yang menekankan pada pergerakan/perubahan yang baik dan
kepercayaan para anggota yang menjadikannya menjadi asosiasi yang sehat.
Warna Merah : Dasar asosiasi yang terdiri dari kekuatan atas kesatuan anggota anggota asosiasi
Lambang & logo mengandung makna :

Pasal 6. Etika Bisnis


Etika bisnis sebagai tuntutan moral dan perilaku yang mengingat seluruh anggota asosiasi yang tertera
pada lampiran anggaran rumah tangga ini.

BAB II
KEDAULATAN
Pasal 7
Kedaulatan Organisasi ini sepenuhnya dilaksanakan sesuai pasal 3 BAB II Anggaran Dasar.

BAB III
KEANGGOTAAN

Pasal 8. Tata Cara Menjadi Anggota


Tata Cara penerimaan Anggota sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 Anggaran Dasar diatur sebagai
berikut :
Pemohon harus mengisi Daftar Isian Pendaftaran Anggota yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat.
Dewan Pengurus Pusat / Daerah meneliti permohonan tersebut, termasuk melakukan penelitian
kesesuaian dengan ketentuan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Jika permohonan tersebut telah dianggap sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga,
Dewan Pengurus melakukan pengumunan atas Calon Anggota baik melalui Surat Pengumuman yang
dipasang di Kantor Sekretariat Asosiasi maupun melalui milist dalam waktu bersamaan.
Jika dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kalender sesudah tanggal pengumuman, tidak ada keberatan dari
Anggota Tetap maka Dewan Pengurus Pusat menerima keanggotaan dari Pemohon tersebut.
Dalam hal terdapat keberatan atas penerimaan Calon Anggota dari Anggota Tetap, Anggota yang
merasa keberatan tersebut harus menyatakannya secara tertulis disertai dengan alasan-alasannya
kepada Dewan Pengurus dalam waktu 15 (lima belas) hari kalender sesudah tanggal pengumuman.
Dalam waktu 15 (lima belas) hari kalender setelah diterimanya pengajuan keberatan, Dewan Pengurus
wajib melakukan klarifikasi.
Selanjutnya setelah mempertimbangkan berbagai aspek termasuk keberatan beserta alasan-alasannya,
Dewan Pengurus berhak memberikan putusan penerimaan atau penolakan atas keanggotaan Pemohon
tersebut.
Dalam hal Dewan Pengurus menerima Pemohon sebagai Anggota Asosiasi, maka selanjutnya diterbitkan
Kartu Tanda Anggota (KTA) dan Nomor Keanggotaan kepada Anggota baru tersebut.
Keanggotaan dan pencabutan keanggotaan Asosiasi ditentukan berdasarkan referensi, masukan, dan
pertimbangan-pertimbangan oleh Dewan Pengurus Pusat / Daerah, dengan tetap memperhatikan
ketentuan dalam Anggaran Dasar Asosiasi.
Penerimaan dan pencabutan Anggota Asosiasi dilaporkan dan dipertanggungjawabkan oleh Dewan
Pengurus Pusat / Daerah kepada Musyawarah / rapat kerja .

Pasal 9. Hak dan Kewajiban Anggota


Anggota Asosiasi mempunyai hak dan kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Anggaran Dasar
Asosiasi, yang jika diperlukan, guna kelancaran dalam pelaksanaannya akan diatur dalam bentuk
keputusan-keputusan yang dibuat oleh Dewan Pengurus Pusat sesuai dengan kebutuhan.

Dalam hal Anggota Asosiasi tidak mentaati kewajiban sebagaimana diatur dalam Pasal 7 Anggaran Dasar
dan melakukan pelanggaran-pelanggaran lain, dapat dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud Pasal 10
Anggaran Rumah Tangga ini.

BAB IV
SANKSI
Pasal 10. Pengenaan Sanksi
Setiap Anggota Asosiasi dapat dikenakan sanksi, apabila :
Nyata-nyata telah melanggar Anggaran Dasar dan/ atau Anggaran Rumah Tangga serta keputusankeputusan Musyawarah Anggota atau Dewan Pengurus.
Nyata-nyata menentang garis kebijakan Asosiasi.
Tidak memenuhi kewajiban membayar iuran asosiasi.
Bentuk-bentuk sanksi sebagaimana dimaksud Ayat (1) Pasal ini, berupa :
Pemberian teguran / peringatan secara tertulis maksimal sebanyak 2 (dua) kali oleh Dewan Pengurus,
yang selanjutnya akan diikuti dengan pembatalan/ pencabutan keanggotaan.
Pembekuan/ skorsing keanggotaan berikut segala hak-haknya secara sementara (3 bulan, 6 bulan, 1
tahun) melalui Rapat Kerja Pengurus Asosiasi.
Pembatalan/ pencabutan keanggotaan oleh Musyawarah Anggota atas usul Dewan Pengurus.

Pasal 11. Pembelaan Diri


Setiap Anggota Asosiasi yang dikenakan sanksi pemberhentian berdasarkan ketentuan Pasal 10
Anggaran Rumah Tangga ini, berhak melakukan pembelaan diri dengan mengajukan segala
keberatannya secara tertulis kepada Dewan Pengurus.
Dewan Pengurus mengambil keputusan terakhir berupa membatalkan atau memperkuat atau
memperbaiki terhadap pengenaan sanksi.

Pasal 12. Berakhirnya Keanggotaan

Keanggotaan bisa berakhir, bilamana :


Mengundurkan diri atas kehendak sendiri.
Berhentikan oleh Dewan Pimpinan Daerah dan di sahkan oleh Dewan Pimpinan Pusat disebabkan
tindakan yang bersangkutan merugikan organisasi.
Diberhentikan karena perusahaannya dilikuidasi.
Anggota yang bersangkutan melakukan penggabungan atau peleburan sehingga menyebabkan nama
perusahaan Anggota dimaksud berubah.

BAB V
KEPENGURUSAN
Pasal 13. Persyaratan Pengurus
Untuk menjadi Dewan Pengurus Asosiasi harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
Perusahaan yang bersangkutan telah menjadi anggota asosiasi.
Warga Negara Indonesia.
Tidak sedang berstatus terpidana/ terhukum.
Memiliki jiwa kepemimpinan dan berkomitmen terhadap kegiatan asosiasi.
Memiliki pengetahuan/ keahlian dan wawasan yang luas di bidang transportasi.

Pasal 14. Struktur Dewan Pengurus


Dewan Pengurus terdiri dari :
Dewan Pengurus Pusat di tingkat Pusat / Nasional;
Dewan Pengurus Daerah Tingkat I di tingkat Propinsi;
Susunan Dewan Pengurus Pusat adalah sebagai berikut :
Ketua Umum
Wakil Ketua Umum

Sekretaris Umum
Bendahara
Ketua Ketua Bidang Teknis
Susunan Dewan Pengurus Daerah adalah sebagai berikut :
Ketua
wakil Ketua
Sekretaris
Bendahara
Ketua Ketua Bidang Teknis

Pasal 15. Pengangkatan Dewan Pengurus


Pengangkatan Dewan Pengurus Pusat :
Anggota Dewan Pengurus Pusat dipilih, diangkat, diberhentikan, dan disahkan oleh Musyawarah
Anggota atau Musyawarah Anggota Luar Biasa yang diselenggarakan setiap saat sesuai dengan
kebutuhan yang mengacu pada ketentuan Pasal 27,28 dan Pasal 29 Anggaran Dasar.
Ketua Umum yang telah berakhir masa jabatannya, dapat dipilih dan diangkat kembali untuk paling lama
1 (satu) periode lagi.
Dengan tidak mengurangi makna ketentuan Ayat 1.(a) Pasal ini, untuk periode pertama kali, pemilihan
dan pengangkatan Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, Sekretaris Umum, dan Bendahara dilakukan oleh
para pendiri Asosiasi.
Ketua-ketua Bidang Teknis dipilih, diangkat, dan diberhentikan oleh Ketua Umum dengan kesanggupan
masing masing yang bersangkutan.
Apabila karena sesuatu hal Jabatan Ketua Umum kosong, maka Wakil Ketua Umum menggantikan
sementara sampai dengan diadakannya Musyawarah Anggota untuk pemilihan Ketua Umum Asosiasi
Pengangkatan Dewan Pengurus Daerah : Dewan Pengurus Daerah dipilih dari dan oleh anggota dan
ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat.

Pasal 16. Tugas, Kewajiban, dan Wewenang Dewan Pengurus


Dalam melaksanakan kepengurusannya, Dewan Pengurus Asosiasi wajib mentaati peraturan perundangundangan yang berlaku, Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, keputusan-keputusan sebagai hasil
Musyawarah Anggota/ Luar Biasa, dan Rapat Dewan Pengurus.
Tugas, kewajiban, dan kewenangan Dewan Pengurus Pusat antara lain :
Melaksanakan segala usaha untuk mencapai tujuan Asosiasi;
Memelihara segala kekayaan Asosiasi;
Menjaga dan mengusahakan kerukunan dan kekompakan Asosiasi;
Menyelenggarakan Musyawarah Anggota / Luar Biasa, rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan lain yang
dianggap perlu;
Melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Musyawarah Anggota / Luar Biasa;
Mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam rangka menjalankan Asosiasi;
Mengambil segala tindakan sepanjang tidak termasuk wewenang Musywarah Anggota / Luar Biasa;
Memberikan pertanggungjawaban kepada Musyawarah Anggota / Luar Biasa
Tugas, kewajiban, dan kewenangan Dewan Pengurus Daerah antara lain :
Melaksanakan segala usaha untuk mencapai tujuan Asosiasi;
Memelihara segala kekayaan Asosiasi;
Menjaga dan mengusahakan kerukunan dan kekompakan Asosiasi;
Menyelenggarakan rapat-rapat yang dianggap perlu;
Melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Musyawarah Anggota / Luar Biasa;
Mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam rangka menjalankan Asosiasi;
secara periodik menyampaikan laporan kegiatan kepada Dewan Pengurus Pusat

Pasal 16. Pemberhentian Anggota Dewan Pengurus Asosiasi


Anggota Dewan Pengurus Asosiasi dapat diberhentikan, apabila :
Tidak lagi menjadi pengurus/karyawan perusahaan yang diwakilinya

Terbukti melakukan tindak pidana atau dinyatakan bersalah dengan adanya Putusan Pengadilan yang
telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, atau
Secara nyata-nyata merugikan citra dan kepentingan Asosiasi, atau
Tidak mampu lagi melakukan kewajibannya secara efektif, atau
Melanggar Anggaran Dasar dan/atau Anggaran Rumah Tangga serta Kode Etik Asosiasi

Pasal 17. Tugas, Kewajiban, dan Wewenang Dewan Pengurus


Dalam melaksanakan kepengurusannya, Dewan Pengurus Asosiasi wajib mentaati peraturan perundangundangan yang berlaku, Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, keputusan-keputusan sebagai hasil
Musyawarah Anggota/ Luar Biasa, dan Rapat Dewan Pengurus.
Tugas, kewajiban, dan kewenangan Dewan Pengurus Pusat antara lain :
Melaksanakan segala usaha untuk mencapai tujuan Asosiasi;
Memelihara segala kekayaan Asosiasi;
Menjaga dan mengusahakan kerukunan dan kekompakan Asosiasi;
Menyelenggarakan Musyawarah Anggota / Luar Biasa, rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan lain yang
dianggap perlu;
Melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Musyawarah Anggota / Luar Biasa;
Mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam rangka menjalankan Asosiasi;
Mengambil segala tindakan sepanjang tidak termasuk wewenang Musywarah Anggota / Luar Biasa;
Memberikan pertanggungjawaban kepada Musyawarah Anggota / Luar Biasa
Tugas, kewajiban, dan kewenangan Dewan Pengurus Daerah antara lain :
Melaksanakan segala usaha untuk mencapai tujuan Asosiasi;
Memelihara segala kekayaan Asosiasi;
Menjaga dan mengusahakan kerukunan dan kekompakan Asosiasi;
Menyelenggarakan rapat-rapat yang dianggap perlu;
Melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Musyawarah Anggota / Luar Biasa;

Mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam rangka menjalankan Asosiasi;


secara periodik menyampaikan laporan kegiatan kepada Dewan Pengurus Pusat

BAB VI
PENGAWAS
Pasal 18. Persyaratan Pengurus
Untuk menjadi Dewan Pengurus Asosiasi harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
Dewan Pengawas dipilih, diangkat, diberhentikan, dan disahkan oleh Musyawarah Anggota yang
diselenggarakan setiap 4 (empat) tahun sekali, atau Rapat Anggota Luar Biasa yang diselenggarakan
setiap saat sesuai dengan kebutuhan yang mengacu pada ketentuan Pasal 27 Anggaran Dasar.
Menyimpang dari ketentuan Ayat (1) Pasal ini, untuk periode pertama kali, pemilihan dan pengangkatan
Dewan Pengawas dilakukan oleh para pendiri Asosiasi.
Dewan Pengawas dapat memberikan nasehat, baik diminta maupun tidak diminta kepada Dewan
Pengurus.
Dalam memberikan penasehatan, Dewan Pengawas harus mengacu pada peraturan perundangundangan yang berlaku, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
Anggota Dewan Pengawas yang telah berakhir masa jabatannya, dapat dipilih dan diangkat kembali
untuk paling lama 1 (satu) periode lagi.
Anggota Dewan Pengawas dapat diberhentikan, apabila :
Tidak lagi menjadi pengurus/karyawan perusahaan yang diwakilinya
Terbukti melakukan tindak pidana atau dinyatakan bersalah dengan adanya Putusan Pengadilan yang
telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, atau
Secara nyata-nyata merugikan citra dan kepentingan Asosiasi, atau
Tidak mampu lagi melakukan kewajibannya secara efektif, atau
Melanggar Anggaran Dasar dan/atau Anggaran Rumah Tangga serta Kode Etik Asosiasi

BAB VII
MUSYAWARAH-MUSYAWARAH

Pasal 19. Persyaratan Pengurus


Untuk menjadi Dewan Pengurus Asosiasi harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
Musyawarah Anggota dihadiri oleh :
Dewan Pengurus Pusat
Dewan Pengawas Pusat
Dewan Pengurus Daerah
Dewan Pengawas Daerah
Anggota Asosiasi
Undangan lain yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat
Musyawarah Anggota diselenggarakan paling lambat 30 Juni dan dilaksanakan 4 tahun sekali.
Musyawarah Anggota diadakan dengan pemanggilan tertulis kepada masing-masing Anggota Asosiasi
dari atau atas nama Dewan Pengurus dalam waktu sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari sebelum tanggal
rapat.

Pasal 20. Musyawarah Luar Biasa


Musyawarah Anggota Luar Biasa yang dapat diadakan setiap waktu atas permintaan secara tertulis dari
paling sedikit 50% + 1 (lima puluh persen ditambah satu) dari jumlah anggota Asosiasi yang sah dengan
memperhatikan pasal 29 Anggaran Dasar atau atas usulan dari Dewan Pengurus Pusat.
Musyawarah Luar Biasa diadakan dengan pemanggilan tertulis kepada masing-masing Anggota Asosiasi
dari atau atas nama Dewan Pengurus dalam waktu sekurang-kurangnya 7 (tujuh) hari sebelum tanggal
rapat.

Pasal 21. Penyelenggaraan Musyawarah Anggota / Luar Biasa


Musyawarah Anggota / Luar Biasa diselenggarakan oleh Dewan Pengurus serta dihadiri oleh :
Anggota Asosiasi yang diwakili oleh delegasi dengan jumlah maksimal 2 (dua) orang;
Undangan lain yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus Pusat

Musyawarah Anggota / Luar Biasa dipimpin oleh Ketua Umum. Apabila Ketua Umum berhalangan hadir,
maka Ketua Umum dapat menunjuk salah satu Wakil Ketua Umum untuk memimpin rapat. Apabila
Ketua Umum berhalangan hadir dan tidak ada penunjukan salah satu Wakil Ketua Umum untuk
mewakili, maka rapat dipimpin oleh salah satu Wakil Ketua Umum yang hadir.
Sebelum pimpinan Musyawarah dipilih, Pimpinan Pusat bertindak sebagai pimpinan sementara.
Rencana Acara dan Tata Tertib Musyawarah Anggota / Luar Biasa disusun oleh Dewan Pengurus, dengan
memperhatikan saran Dewan Pengawas, yang kemudian disahkan dalam Musyawarah Anggota / Luar
Biasa.

Pasal 22. Musyawarah Daerah


Musyawarah Daerah Tingkat I (tingkat Propinsi) dihadiri oleh :
Dewan Pengurus Daerah
Dewan Pengawas
Unsur Dewan Pengurus / Pengawas Pusat
Anggota Asosiasi
Undangan lain yang ditetapkan oleh Dewan Pengurus Daerah
Pimpinan Musyawarah Daerah dipilih dari dan oleh anggota peserta.
Sebelum pimpinan Musyawarah Daerah dipilih, Pimpinan Daerah bertindak sebagai pimpinan
sementara.

Pasal 23. Rapat Kerja Nasional


Rapat Kerja Nasional dihadiri oleh :
Dewan Pengurus Pusat
Perwakilan Pengurus Daerah ( maksimum 2 orang per DPD )

Pasal 24. Agenda

Dalam melaksanakan Musyawarah Anggota / Luar Biasa, Peserta dapat memilih agenda pokok sebagai
berikut :
Penetapan visi, misi, dan program kerja Asosiasi;
Pemilihan, pengangkatan, dan pemberhentian Pengurus atau PengawasAsosiasi;
Penetapan atau perubahan Anggaran Dasar dan/ atau Anggaran Rumah Tangga Asosiasi;
Pengesahan rancangan kebijakan atau peraturan Asosiasi menjadi suatu keputusan/ penetapan;
Pengesahan rancangan kebijakan atau peraturan Asosiasi menjadi suatu keputusan/ penetapan;
Dalam melaksanakan Rapar Kerja Nasional, Peserta dapat memilih agenda pokok sebagai berikut :
Pengesahan rancangan kebijakan atau peraturan Asosiasi menjadi suatu keputusan/ penetapan;
Laporan pertanggungjawaban Pengurus Pusat tentang pelaksanaan dan kebijakan Asosiasi, keuangan
Asosiasi termasuk pengaturan rencana dan perhitungannya, serta pengesahan laporan Pengurus
Asosiasi tentang perjalanan Asosiasi dalam 1 ( satu ) tahun pengurusan.

Pasal 25. Kuorum dan Hak Suara


Ketentuan tentang kuorum dalam Musyawarah Anggota / Luar Biasa adalah sebagaimana diatur dalam
Pasal 28 Anggaran Dasar.
Musyawarah Daerah adalah sah apabila dihadiri oleh unsur pengurus daerah, unsur pengawas daerah,
unsur pengurus pusat dan minimal 50 % + 1 dari jumlah anggota asosiasi.
Sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 ( satu ) diatas tidak tercapai maka Musyawarah Anggota harus
ditunda dan selanjutnya harus diadakan kembali selambat lambatnya 1 ( satu ) jam setelah penundaan
dan Musyawarah Anggota dianggap sah untuk dilanjutkan serta berhak mengambil keputusan yang
mengikat asosiasi.
Hak Suara dan Hak Dipilih hanya dimiliki oleh Anggota Asosiasi.
Hak Suara dan Hak Dipilih hanya dimiliki oleh Anggota Asosiasi.
Hak-hak sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) Pasal ini, tidak dapat dipindahkan atau dikuasakan
kepada pihak lain.

Pasal 26. Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan dalam setiap musyawarah, diutamakan dengan jalan musyawarah dan mufakat,
jika musyawarah dan mufakat tersebut tidak tercapai maka dilakukan dengan pemungutan suara
berdasarkan suara setuju lebih dari separuh anggota yang hadir dalam rapat. Apabila suara anggota
tetap berimbang setelah 2 (dua) kali pemungutan suara, maka keputusan akhir atas suatu rencana dan
/atau usulan dan /atau pertanggungjawaban dianggap ditolak, sedangkan mengenai pemilihan orang
akan dilakukan pengundian.

BAB VIII
KETENTUAN-KETENTUAN LAIN
Pasal 27. Laporan Keuangan
Tahun Buku adalah Tahun Takwim.
Pembukuan dan Laporan Keuangan Asosiasi disusun oleh Dewan Pengurus.
Laporan dan Neraca Keuangan dibuat setiap akhir Tahun Buku, yang selanjutnya dilaporkan guna
mendapat persetujuan dari Musyawarah Anggota.
Laporan pertanggung jawaban keuangan dan perbendaharaan Asosiasi harus telah diaudit oleh Akuntan
Publik yang diusulkan oleh Dewan Pengurus Pusat dan disetujui dalam Musyawarah Anggota.

Pasal 28. Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga


Untuk kepentingan organisasi, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Asosiasi dapat diubah,
disempurnakan, atau disesuaikan melalui Musyawarah Anggota / Luar Biasa, atas permintaan dari
sekurang-kurangnya 50% + 1 (lima puluh persen ditambah satu) dari jumlah anggota yang terdaftar
secara sah.
Keputusan untuk melakukan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Asosiasi
sebagaimana dimaksud Ayat (1) Pasal ini, adalah sah jika diambil dalam Musyawarah Anggota / Luar
Biasa yang dihadiri minimal oleh 2/3 anggota yang sah dan disetujui oleh 2/3 anggota sah yang hadir.

Pasal 29. Pembubaran


Pembubaran Asosiasi dilakukan sesuai dengan ketentuan pada Pasal 35 Anggaran Dasar Asosiasi.

Apabila terdapat dana atau kekayaan lebih pada saat pembubaran Asosiasi, setelah dikurangi hutang
dan kewajiban lain, maka kekayaan tersebut dimanfaatkan sesuai dengan keputusan Musyawarah/ Luar
Biasa.
Apabila terdapat hutang atau kewajiban lainnya yang harus diselesaikan pada saat pembubaran Asosiasi,
maka hutang dan kewajiban tersebut dibebankan kepada seluruh Anggota Asosiasi.

BAB IX
PENUTUP
Pasal 30. Ketentuan Penutup
Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Segala sesuatu yang belum atau tidak diatur dalam Anggaran Rumah Tangga ini akan diatur lebih lanjut
oleh Dewan Pengurus.
Apabila suatu ketentuan dalam Anggaran Rumah Tangga tidak jelas atau apabila timbul perbedaan
penafsiran mengenai suatu ketentuan, akan diputuskan oleh Rapat Dewan Pengurus Pusat.
Dewan Pengurus Pusat dapat menetapkan atau melakukan hal-hal yang belum atau tidak diatur dalam
Anggaran Rumah Tangga untuk dilaporkan dalam Rapat Kerja, yang selanjutnya akan
dipertanggungjawabkan kepada Musyawarah Anggota/ Luar Biasa pada rapat berikutnya.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal
Dewan Pengurus Asosiasi Perusahaan Rental Kendaraan Indonesia
Pongki Pamungkas

Alexander Sumbung

Ketua Umum

Wakil Ketua Umum.

Anda mungkin juga menyukai