Anda di halaman 1dari 22

Manfaat Pemeriksaan Dalam Panel Premarital

Berikut ini manfaat masing-masing pemeriksaan yang tercakup dalam panel premarital yang
disediakan oleh laboratorium klinik :
PANEL PREMARITAL
Tujuan
Mendeteksi adanya penyakit menular, menahun atau diturunkan, yang
dapat mempengaruhi kesuburan pasangan maupun kesehatan janin.
o Hematologi Rutin
o Urin Rutin
o Golongan Darah (A, B, O) & Rhesus
o Glukosa Puasa
o HbsAg
o VDRL/RPR
o Gambaran Darah Tepi
o Anti-Rubella IgG (perempuan)
o Anti-Toxoplasma IgG (perempuan)
o Anti-CMV IgG (perempuan)
Panel Pemeriksaan
Panel Premarital
o

Jenis Pemeriksaan
Hematologi Rutin, Urine Rutin, Golongan Darah (A,B,O) dan Rhesus, Glukosa
Puasa, HBsAg, VDRL/RPR, Gambaran Darah Tepi, Anti Rubella IgG, Anti
Toxoplasma IgG, dan Anti CMV-IgG.

Manfaat
Memastikan status kesehatan kedua calon mempelai, terutama untuk
mendeteksi kemungkinan adanya penyakit menular, menahun, atau
diturunkan yang dapat mempengaruhi kesuburan pasangan maupun
kesehatan janin seperti kelainan darah(thallasemia dan hemofilia), diabetes
mellitus, hepatitis B, infeksi TORCH,dan penyakit sifilis.

PANEL TORCH
Tujuan
Mengetahui adanya infeksi dan status kekebalan terhadap parasit
Toxoplasma, virus Rubella, Cytomegalovirus (CMV), dan virus Herpes tipe 2
(HSV2) yang dapat mempengaruhi kesehatan janin.
o
o
o

Anti-Toxoplasma IgG & IgM


Anti-Rubella IgG & IgM
Anti-CMV IgG & IgM

Anti-HSV2 IgG & IgM

Panel Pemeriksaan Panel TORCH


Jenis Pemeriksaan : Anti-Toxoplasma IgG & IgM, Anti-Rubella IgG & IgM, Anti-CMV
IgG & IgM, Anti-HSV2 IgG & IgM.
Manfaat : Mengetahui adanya infeksi dan status kekebalan terhadap parasit
Toxoplasma, virus Rubella, Cytomegalovirus, dan virus Herpes tipe 2 yang dapat
mempengaruhi kesehatan janin.
Panel Pemeriksaan Panel Sindrom Down TM I
Jenis Pemeriksaan PAPP-A, Free hCG
Manfaat Sebagai uji saring Down Syndrome (trisomi 21) yang merupakan
penyakit neurologis ditandai dengan adanya keterbelakangan mental dan aging
yang dipercepat karena adanya kelainan genetik pada kromosom 21.
Panel Pemeriksaan Panel Sindrom Down TM II (Triple Screening)
Jenis Pemeriksaan Ms AFP, Ue3, hCG
Manfaat Screening untuk memperkirakan risiko Down Syndrome(trisomi 21).
Pemeriksaan triple skrining paling akurat apabila maternal serum diambil pada
usia kehamilan antara 16-18 minggu, namun dapat juga dilakukan pada usia
kehamilan 15-22 minggu.

Seluk Beluk Seputar Kehamilan yang Normal


Pada sesi kali ini diuraikan tentang proses terjadinya kehamilan, siklus menstruasi, dan
perkembangan janin.
Pada saat hamil, seorang wanita sebaiknya melakukan ANTENATAL CARE (suatu program
berupa observasi, edukasi, dan penanganan medis pada ibu hamil).
Antenatal Care dilakukan setiap 4 minggu sekali ketika usia kandungan <> 36 minggu. Pada
saat ANTENATAL CARE, juga akan diprediksikan kapan persalinan akan berlangsung.
Ibu hamil harus bisa menjaga asupan nutrisi yang mencakup :
a.Kebutuhan energi : dengan mempertahankan aktivitas metabolik, membantu sintesa protein
b.Kebutuhan protein : peningkatan volume darah ibu, pertumbuhan rahim, pertumbuhan janin
Kebutuhan kalori = 2000 + 300 kalori
Protein = 0,9 g/kg BB/hari + 30 g
Mineral = Fe (30 mg/hari), Ca (1200 mg/hari), P (1200 mg/hari), Zn (20 mg/hari), Mg (450
mg/hari), Iodine (175 mg/hari)
Vitamin = A, C, Folat, B1, B6, B12
Asam folat 400 mg/hari prakonsepsi dan 12 minggu pertama kehamilan akan menurunkan
risiko neural tube defect.
Beberapa risiko kehamilan : abortus, hiperemesis gravidarum, anemia, preeklamsia, diabetes
melitus gestasional, komplikasi DMG, persalinan prematur, perdarahan dalam kehamilan,
pertumbuhan janin terhambat.

What is the premarital screening program in KSA?


Genetic disorders and in particular hemoglobinopathies such as sickle cell anemia and
thalassemia are common in Saudi Arabia, particularly in the Eastern and Southern regions.
In 2004, the Saudi Ministry of Health implemented a mandatory premarital screening
program in order to decrease the incidence of these genetic disorders in future generations.
This program was named premarital medical test.
In 2008, this test was updated to include mandatory screening for hepatitis B and C viruses
and Human Immunodeficiency virus (HIV). The new updated program was given the name
of Program of healthy marriage.

How is the test performed?


This test is carried out at designated Marriage Consultation Centers, by doing simple blood
tests. The blood taken from the couple is used to do the following tests: complete blood count
(CBC), sickle cell test, hemoglobin electrophoresis; in addition to screening for HIV,
Hepatitis B and C viruses. The couple has to fill in a premarital form with data including
name, age, gender, national number, address, and telephone number.
When is the best time to do the test?
Prospective couples are encouraged to do the test as early as possible, to avoid
disappointment in case the results turn out to be unsatisfactory.
So before you start planning for your wedding, you should check the results of your
premarital test.
Do I need to be fasting for the blood test?
No, no need to be fasting.

What will the result reveal?

If the person is affected with or is a carrier of sickle cell anemia or thalassemia


If the person is infected with hepatitis B or C virus

If the person is infected with HIV

How do we know if a person is a carrier of thalassemia?


Unlike the other conditions tested in the premarital test, detection of thalassemia is slightly
complicated. There is no single laboratory test for detecting thalassemia. However,
thalassemia trait is indicated by the following:

Normal or slightly low hemoglobin level


Decreased mean cell volume (MCV)

And/or reduced mean cell hemoglobin (MCH)

Hemoglobin A2 level >3.5% by hemoglobin electrophoresis

Who will interpret the results?


At designated centers, a family medicine doctor will interpret the result and issue pre-marital
certificates. This doctor may consult a hematologist in difficult cases.
What happens after the test?
You will be advised whether your findings could lead after marriage to children with sickle
disease or thalassemia. The decision will be yours whether to go ahead with the marriage or
not.
In case your test results show that you are infected with HIV or hepatitis viruses, the doctor
may repeat the test before confirming the diagnosis. If diagnosis is confirmed you will be
informed discretely and you will be referred to a specialty clinic to follow up your condition.
In this case, you will not be issued a pre-marital certificate.
Why is it important to have the premarital test done?

By law, you will not be issued a marriage certificate unless you perform the test.

This is an opportunity for you to be screened for some tests that you might not have
done before.

Since sickle cell anemia and thalassemia are common in Saudi Arabia and since these
diseases are only inherited from parents to children, the premarital test will determine
the risk of you and your future partner having a child with these dangerous blood
disorders.

HIV and Hepatitis B and C viruses are life threatening diseases. These viral infections
can be transmitted by blood, sexual intercourse, and body fluids. Testing for these
infections is very important because the viruses may remain dormant for months or
even years in carriers without showing any symptoms. Marrying someone who carries
theses illnesses will put you and your baby at risk of getting the infection.

With early diagnosis and proper treatment carriers of HIV or hepatitis viruses can
keep the symptoms under control and reduce the risks of serious complications.

Will

the

premarital

test

in

KSA

detect

all

possible

genetic

disorders?

No, the premarital test in KSA will only tell you whether you are a carrier of two genetic
disorders which are sickle cell anemia and thalassemia. These are common in KSA, and are
precipitated
by
consanguinity.
What

special

advice

is

given

in

cases

of

high-risk

marriage?

If your marriage will put your future children at risk of inheriting one of the genetic disorders
(sickle cell anemia or thalassemia), and if you still decide to go ahead with the marriage, you
can
plan
for
preimplantation
genetic
diagnosis
(PGD).
Although this procedure is very expensive, emotionally draining and its success is not
guaranteed, PGD can give some hope to very determined couples.

Berdasarkan gejala klinis dan tingkat keparahannya thalassemia terbagi menjadi :


1. Thalassemia Mayor
- Thalassemia mayor mungkin terjadi bila kedua orang tua mempunyai pembawa sifat
thalassemia.
- Anak-anak dengan thalassemia mayor tampak normal sejak lahir, tetapi akan menderita
kekurangan darah pada usia antara 3-18 bulan.
- Penderita memerlukan transfusi darah secara berkala seumur hidupnya. Apabila anakanak dengan thalassemia mayor tidak di rawat, maka hidup meraka biasanya hanya
bertahan 1-8 tahun.
2. Thalassemia Minor/Trait
- Thalassemia trait merupakan keadaan yang terjadi pada seseorang yang sehat, namun ia
dapat mewariskan gen thalassemia pada anaknya.
- Thalassemia trait sudah ada sejak lahir, dan tetap ada sepanjang hidup si penderita.
Penderita
tidak
memerlukan
transfusi
darah
seumur
hidupnya.
3. Thalassemia Intermedia
- Thalassemia intermedia merupakan kondisi antara thalassemia mayor dan minor.
- Penderita thalassemia intermedia mungkin memerlukan transfusi darah secara berkala.
- Penderita dapat bertahan hidup sampai dewasa.
BAGAIMANA GEJALA THALASSEMIA ?
Gejala thalassemia bervariasi, tergantung pada tingkat kerusakan gen yang terjadi. Beberapa
gejala thalassemia, antara lain :
1. Anemia : pucat, sukar tidur, tidak nafsu makan, dan infeksi berulang.
2. Jantung berdebar-debar : jantung bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hemoglobin
hingga semakin lama jantung akan menjadi lemah dan mudah berdebar-debar.
3. Tulang tipis dan rapuh : sel darah merah diproduksi di dalam sumsum tulang. Pada
keadaan thalassemia, sumsum tulang bekerja keras mengatasi kekurangan hemoglobin.
Hal ini sering menyebabkan batang hidung penderita masuk ke dalam dan tulang pipi
menonjol, di mana keadaan ini disebut facies cooley (ciri khas thalassemia mayor).
Bagaimana thalassemia dapat terjadi ?
Darah terdiri dari banyak sel darah yang bersikulasi di dalam cairan jernih berwarna
kekuningan yang disebut plasma. Setiap sel darah merah mengandung hemoglobin, yakni
protein kaya zat besi yang berfungsi memberi warna merah pada darah dan amat penting
sebagai pengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh bagian tubuh. Bila hemoglobin
berkurang atau tidak ada, maka pasokan oksigen yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi
dalam tubuh takkan terpenuhi. Akibatnya, fungsi tubuh terganggu dan aktivitas tidak dapat
berjalan secara normal.
Hemoglobin terdiri dari zat besi (heme) dan protein yang disebut globin. Terdapat dua jenis
globin penyusun hemoglobin, yakni alafa dan beta. Pembentukan kedua jenis globin tersebut
dikendalikan oleh gen globin alfa dan beta yang masing-masing secara normal terdapat
sepasang di dalam kromosom.
Thalassemia terjadi ketika gen globin mengalami kelainan/perubahan/mutasi, sehingga
pembentukan globin menjadi berkurang atau tidak ada. Akibatnya, produksi hemoglobin
terganggu dan sel darah merah yang terbentuk menjadi tidak sehat.

Berikut ini adalah beberapa contoh penyakit menular yang bisa berakibat serius pada janin yang
dikandung seperti Toxoplasmosis, Rubella, Hepatitis B Virus (HBV), Herpes Simplex Virus type 2
(HSV 2), dan Syphilis.
Toxoplasmosis
Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman parasit bersel satu (protozoa) bernama
Toxoplasma gondii. Sekitar 80-90% infeksi Toxoplasma tidak bergejala (asymptomatic). Gejala
infeksinya-pun bisa mirip flu yaitu demam dan sakit tenggorokan. Wanita yang menantikan kehamilan
ditekankan agar mewaspadai Toxoplasmosis karena penularan ke fetus bisa menyebabkan
keguguran atau cacat lahir seperti kebutaan.
Penelitian menunjukkan bahwa Toxoplasma sering ditemukan pada hewan peliharaan terutama
kucing. Penularan terjadi ketika manusia menyentuh kotoran atau tanah bekas kotoran hewan
peliharaan. Resiko infeksi juga meningkat ketika mengonsumsi daging mentah atau kurang masak.
Infeksi dapat dicegah dengan menjaga kebersihan dan kesehatan hewan peliharaan, mengenakan
sarung tangan saat membersihkan kotoran hewan, mencuci tangan setelah menyentuh tanah, dan
menghindari konsumsi daging yang kurang masak. Wanita hamil seharusnya menjauhi kotoran
hewan peliharaan. Toxoplasma yang terdeteksi sebelum kehamilan bisa segera diobati sehingga
mencegah penularan ke fetus.
Rubella
Rubella atau campak Jerman (German measles) adalah infeksi virus yang umumnya menyerang
anak-anak. Infeksi Rubella biasanya tidak berbahaya dan virus akan hilang dengan sendirinya.
Penderita bahkan belum tentu mengalami gejala apapun. Kekebalan terhadap Rubella akan didapat
setelah sembuh dari infeksi. Gejala Rubella mudah terlewatkan karena bisa mirip flu yaitu batuk,
pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, pegal-pegal, dan demam. Gejala juga bisa disertai dengan
munculnya bintik-bintik merah (rash) yang dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh. Namun
bintik-bintik ini biasanya hilang dalam seminggu. Penanganan biasanya cukup dengan beristirahat
dan minum obat anti demam.
Penularan Rubella adalah melalui udara (airborne) ketika penderita batuk. Walaupun tidak tergolong
berbahaya, virus Rubella bisa berakibat fatal pada janin. Ibu yang terinfeksi Rubella bisa menularkan
virus tersebut ke janin yang dikandungnya sehingga menyebabkan Congenital Rubella Syndrome
(CRS) saat lahir.
Dampak CRS antara lain adalah kelainan jantung, gangguan pengelihatan atau pendengaran. CRS
juga bisa menyebabkan kelahiran prematur. Maka pemeriksaan Rubella sangat dianjurkan pada
wanita sebelum hamil. Berdasarkan hasil pemeriksaan, calon ibu kemungkinan akan dianjurkan oleh
dokter agar menerima vaksinasi Rubella dan menunda kehamilan selama tiga bulan setelah vaksinasi
untuk mencegah infeksi Rubella saat hamil nanti.
Hepatitis B Virus (HBV)
HBV menyerang liver dan bisa menyebabkan cirrhosis (pengerasan pada liver), kanker, gagal fungsi
liver, dan kematian. Gejala infeksi HBV adalah perubahan warna kulit dan bola mata menjadi kuning
(jaundice), sakit perut, nafsu makan hilang, mual, dan sakit sendi. Penularan bisa terjadi melalui
hubungan sex bebas, konsumsi narkoba dengan jarum suntik yang tidak steril, cuci darah
(hemodialysis), atau dari ibu ke janin yang dikandung. Ibu hamil yang tidak menyadari dirinya
terinfeksi HBV bisa menularkan virus ini kepada janinya dengan 90% resiko penularan.
Infeksi HBV bisa dicegah dengan vaksinasi Hepatitis B, menghindari perilaku seks bebas,
menghindari narkoba atau tato kulit, dan menghindari pinjam-meminjam peralatan pribadi yang
kemungkinan pernah bersentuhan dengan darah seperti pisau cukur dan sikat gigi.
Infeksi HBV dideteksi dengan tes HBsAg pada darah. Ibu hamil dengan HBsAg positif harus
menyediakan Hepatitis B Immuno Globulins (HBIG) dan vaksin untuk bayinya yang harus disuntikan
dalam waktu 12 jam setelah dilahirkan.
Genital Herpes Simplex Virus (HSV type 2)

Infeksi HSV 2 adalah penyakit hubungan seksual (PHS) dengan masa inkubasi rata-rata 7 hari
setelah hubungan sex. HSV 2 bisa ditularkan ketika bersentuhan dengan air liur, cairan di alat
kelamin, atau luka pada kulit pengidap HSV.
Tanda-tanda infeksi HSV 2 berupa luka-luka pada kulit (lesions) di sekitar alat kelamin yang akan
sembuh sendiri setelah sekitar tiga minggu dan bisa muncul lagi di lain waktu (recurrence). HSV 2
dapat ditularkan dari ibu ke bayi saat melahirkan dan mungkin pula mengakibatkan keguguran atau
cacat mental. Resiko penularan ke bayi meningkat jika terdapat lesions di sekitar liang vagina. Hingga
saat ini belum ada obat untuk menghilangkan HSV 2. Namun obat seperti Acyclovir biasanya
diberikan untuk menekan pertumbuhan, mencegah recurrence, dan meminimalkan penyebaran virus.
Syphilis
Syphilis adalah salah satu PHS yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Bakteri ini sangat
sensitif terhadap cahaya, udara, dan perubahan suhu udara. Maka penularan syphilis tidak bisa
terjadi karena menggunakan kakus, kamar mandi, baju, atau peralatan makan yang digunakan oleh
penderita syphilis. Penularan bisa terjadi dengan berciuman, bersentuhan dengan luka kulit penderita
syphilis, transfusi darah, atau penularan ke fetus melalui aliran darah ke plasenta.
Luka syphilis bisa tersembunyi di dalam liang vagina atau dubur sehingga penderita tidak
menunjukkan tanda-tanda apapun dari luar. Luka syphilis mempermudah masuknya virus HIV. Maka
HIV sering ditemukan pada pasien syphilis dan sebaliknya.
Syphilis terdiri dari empat tahap. Gejala tahap pertama (primary) biasanya muncul 10 hari hingga tiga
bulan setelah terinfeksi dan berupa luka kecil yang tidak sakit (chancre) pada bagian tubuh di mana
infeksi terjadi pertama kali. Luka biasanya ditemukan di daerah alat kelamin, dubur, lidah, atau bibir.
Gejala tahap pertama syphilis biasanya akan hilang sendiri tanpa pengobatan. Namun bakteri
Treponema tetap ada dan syphilis akan memasuki tahap ke-dua jika tidak segera diobati.
Gejala tahap ke-dua (secondary) syphilis biasanya mulai terlihat dua hingga sepuluh minggu setelah
luka kecil terlihat. Gejala secondary syphilis meliputi demam, kelelahan, dan bercak-bercak berwarna
merah atau coklat kemerah-merahan sebesar uang koin di beberapa bagian tubuh termasuk telapak
tangan dan kaki. Gejala-gejala ini bisa timbul-hilang berulang-ulang selama setahun.
Syphilis yang tidak diobati pada tahap primary dan secondary akan memasuki tahap latent. Latent
syphilis tidak menunjukkan gejala apapun hingga penyakit memasuki tahap ke-tiga (tertiary) yang
berbahaya. Tertiary syphilis bisa menyebabkan inflamasi otak, kelumpuhan, gangguan pengelihatan
dan pendengaran, gangguan jantung, dan bahkan kematian. Gejala tertiary syphilis bisa muncul
bertahun-tahun kemudian sejak infeksi pertama.
Syphilis yang ditularkan dari ibu ke anak dapat menyebabkan keguguran atau gangguan
pendengaran dan penglihatan, atau abnormalitas tulang dan gigi pada bayi. Oleh karena itu
pendeteksian dini infeksi syphilis pada calon pasutri sangat penting terutama karena syphilis mudah
diobati selama masih pada tahap-tahap awal. Pengobatan syphilis adalah dengan antibiotik Penicillin.
Namun harus diingat bahwa kekebalan terhadap syphilis tidak akan didapat setelah sembuh. Resiko
terinfeksi ulang karena perilaku sex bebas tetap ada.

3.Al-Suliman A. Prevalensi of b-thallasemia Trait in Premarital Sreeningin AlHassa, Saudi Arabia.


Ann Saudi Med
2006 ;
26 (1)
:
1416.4 . h t t p : / / w w w . a l b o r g l a b . c o m . 5.http://en.wikipedia.org/wiki/Rhesus
_ b l o o d _ g r o u p _ s ys t e m . 6 . R e m i n g t o n J S , T h u l l i e z P a n d M o n t o ya J G .
R e c e n t D e v e l o p m e n t f o r Diagnosis of Toxoplasmosis.
J.Clin Microbiol
2004 ;
42(3)
: 9 4 1 - 9 4 5 . 7 . P r o s t k o J , Vic k s t r o m R , K r i s h n a n K , K o g a n Z , L a g e d r o s t J ,
J a c o b J et al. Development of Human Anti-Rubella IgG and IgM Assays for TheAbbot
ARCHITECT Instrument.
American Association for ClinicalChemistry Meeting.
2 0 0 6 . 8 . a v l e k T V, S t e r n a k S L a n d G a l i n o v i c G M . Val u e o f I g G Avi d i t y
i n C ys t o m e g a l o v i r u s I n f e c t i o n D i a g n o s i s i n P r e g n a n t Wom e n a n d Newborn
Infants.
Med Jad
2008
;
38(1-2)
: 2 3 - 2 8 9 . A d l e r S P a n d M a r s h a l l B . C yt o m e g a l o v i r u s I n f e c t i o n s .
Pediatr Rev
2007;
28
: 9 2 - 1 0 0 . 10.Duran N. Serological Evaluation of HSV-1 and HSV-2 Infection
InPregnancy ;
Turk J Med Sci
2004 ;
34
: 9 7 - 1 0 1 . 11.Adibi Peyman, Rezailashkajni M, Roshandel S, Behrouz N, Ansari
S,Somi MH et al. An Economic Analysis of Premarriage Prevention ofHepatitis B
transmission in Iran.
BMC Infectious Disease
2 0 0 4 ; 12.Meyer MP, and Baughin RE. Whole-Blood Hemagglutination
InhibitionTest for Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) Antibodies ;
J Clin MIcrobiol
2000 ;
38
: 3413-3414.
Skrining
down syndrome
pada trimester 1 menggunakanpemeriksaan
nuchal translucency
(NT) yang dikombinasidengan serum maternal yaitu
free
beta hCG (free


hCG)dan
pregnancy-associated plasma protein
A(PAPP-A).Pemeriksaan ini optimal dilakukan pada usia kehamilan10-14 minggu. Sensitivitas
dan spesifisitas pemeriksaani n i d i t e n t u k a n o l e h
cut off
risiko yang digunakan(misalnya
trisomy
2 1 , s e n s i t i v i t a s n y a 8 5 , 2 % p a d a spesifisitas 90,6%, pada spesifisitas 95%
sensitivitasnya78,7%). (2)Tidak hanya penurunan msAFP yang berindikasi
padas u a t u
kelainan
karena
peningkatan
msAFP
j u g a berhubungan dengan abnormalitas janin yaitu
neuraltube defect
NTD. Peningkatan msAFP ditemukan padakurang lebih 90% kasus
anencephaly
dan 80% kasus
opens p i n e b i f i d a .
B e b e r a p a n e g a r a m e r e k o m e n d a s i k a n pemeriksaan msAFP untuk prenatal
skrining yang diaturd a l a m u n d a n g - u n d a n g n y a . K e n a i k a n m s A F P
j u g a b e r h u b u n g a n d e n g a n h a s i l l u a r a n j a n i n y a n g t i d a k diharapkan
seperti berat badan bayi rendah, atau janinmeninggal saat lahir. Beberapa kelainan
genetik lainyang dirangkum dalam jurnal
American Family Physician
dapat dilihat pada tabel 1. (3)
SKRINING PENYAKIT INFEKSI
Skrining penyakit infeksi direkomendasikan untuk semuawanita hamil sebagai bagian dari skrining prenatal
antaralain asimptomatik bakteriuria, sifilis, rubella, hepatitis Bdan HIV pada awal kehamilan. Pemeriksaan
hepatitis C,gonore dan
chlamydia
sebaiknya ditambahkan sebagaiskrining bagi wanita yang memiliki risiko tinggi. Kekuatanrekomendasi
masing-masing pemeriksaan dapat dilihatpada tabel 2. (2)
SIFILIS
. I n f e k s i s i f i l i s p a d a w a n i t a h a m i l ya n g t i d a k diobati dapat menyebabkan
sifilis kongenital dengantingkat penularan dari ibu ke janin berkisar 10%100%t e r g a n t u n g t i n g k a t i n f e k s i ya n g d i a l a m i i b u . S i f i l i s
congenital
dapat
menyebabkan
keguguran,
b a y i meninggal saat lahir,
prematuritas, ketulian, kelainanh a t i , t u l a n g , s e n d i d a n n e u r o l o g i s .
The
C e n t e r s f o r Disease Control and Prevention
(CDC) dan
AmericanC o l l e g e o f O b s t e t r i c a n d G y n e c o l o g y
( A C O G ) m e r e k o m e n d a s i k a n s k r i n i n g s i f i l i s p a d a t r i m e s t e r pertama
untuk semua wanita hamil. Bagi yang memilikirisiko tinggi atau tinggal di daerah dengan
prevalensitinggi pemeriksaan ini diulang kembali pada trimester 3.(2,5)
HIV.
P e m e r i k s a a n H I V d i Am e r i k a d i r e k o m e n d a s i k a n untuk semua wanita hamil.
Wanita yang berisiko tinggim e n g a l a m i i n f e k s i H I V d i s a r a n k a n
m e l a k u k a n pemeriksaan HIV pada trimester 3. Idealnya dilakukank o n s e l i n g

s e b e l u m m e l a k u k a n p e m e r i k s a a n d a n pemeriksaan dilakukan dengan


mengisi
inform consent
terlebih dulu. (2,6)
HERPES.
T i n g k a t p e n u l a r a n i n f e k s i h e r p e s s e c a r a vertikal dari ibu ke janin pada
saat melahirkan adalah50% pada infeksi HSV primer, 33% untuk infeksi
HSVnonprimer dan 0-3% pada infeksi rekuren. Infeksi HSVp a d a l i a n g l a h i r d a p a t
m e n ye b a b k a n p e n ya k i t ya n g b e r s i f a t l o k a l p a d a k u l i t , m a t a a t a u
m u l u t ( t i d a k berhubungan dengan risiko kematian) serta pada sistemsaraf pusat (15%
berhubungan dengan mortalitas). (2)
CHLAMYDIA
DAN
GONORRHEA
.
Semua wanita hamilyang berisiko tinggi penyakit menular seksual sebaiknyamelakukan
skrining infeksi
chlamydia
dan
gonorrhea
.(2)
RUBELLA.
Semua wanita hamil sebaiknya melakukan s k r i n i n g r u b e l l a a p a b i l a b e l u m
p e r n a h m e l a k u k a n pemeriksaan pada saat sebelum hamil. Wanita yang b e l u m
m e m i l i k i a n t i b o d i t e r h a d a p r u b e l l a s e b e l u m kehamilan sebaiknya dipantau
selama kehamilan dandiberikan informasi mengenai risiko infeksi rubella padasaat hamil.
(2)
VARICELLA ZOSTER.
Infeksi cacar air (
chicken pox
) padau s i a 2 0 m i n g g u p e r t a m a k e h a m i l a n b e r h u b u n g a n dengan 12% risiko sindrom
varicella
. Bayi yang lahirdari ibu yang kontak dengan cacar air 5 hari sebelummelahirkan atau 2 hari
setelah melahirkan mempunyaipeluang 17-30% untuk mengalami cacar air. (2
HEPATITIS B DAN C.
Skrining infeksi hepatitis B denganpemeriksaan HBsAg direkomendasikan pada
kunjunganpertama hingga setelah melahirkan untuk mencegah p e n u l a r a n d a r i i b u
ke anak. Sementara itu skrining h e p a t i t i s C d i r e k o m e n d a s i k a n
u n t u k m e r e k a y a n g memiliki risiko tinggi misalnya pengguna obat suntik,p e r n a h
t r a n s f u s i d a r a h , w a n i t a d e n g a n H I V p o s i t i f , m e m i l i k i ALT ya n g t e r u s
m e n i n g k a t , b e r t a t o a t a u memiliki pasangan lebih dari satu. (2)
INFEKSI
GROUP B STREPTOCOCCAL
(GBS).
Infeksi GBSmerupakan penyebab morbiditas dan mortalitas bayi baru lahir. Sekitar 1030% wanita mengalami kolonisasidengan GBS. Faktor risiko untuk terinfeksinya
neonataladalah usia kehamilan sebelum 37,
rupture membrane

yang lama (lebih dari 18 jam) dan demam. Di Canadasemua wanita hamil direkomendasikan
untuk melakukans k r i n i n g G B S d e n g a n k u l t u r v a g i n o r e k t a l p a d a
u s i a kehamilan 35-37 minggu. (2)
INFEKSI SALURAN KEMIH
. Pemeriksaan
asymptomaticbacteriuria
dilakukan pada kehamilan usia 12-16 minggumenggunakan kultur urin. (2)
TOKSOPLASMA
. Infeksi primer Toxoplasma pada wanitah a m i l d a p a t m e n i m b u l k a n m a s a l a h
serius karenab er is ik o t in gg i me nu l a rk an ke j an in ya n g
d a p a t menyebabkan keguguran dan berbagai kelainan bawaanpada janin. Oleh sebab itu
pada wanita hamil sangatpenting untuk dibedakan antara infeksi baru dan infeksil a m p a u .
P e m e r i k s a a n a v i d i t a s a n t i - Tox o p l a s m a I g G berperan untuk membantu klinisi
dalam mengetahuik a p a n
waktu
terjadinya
infeksi.
Namun
d e m i k a n pemeriksaan tunggal tidak dapat memberikan nilai d i a g n o s i s ,
t e t a p d i p e r l u k a n k o m b i n a s i a t a u s e r i a l pemeriksaan IgG, IgM, IgA dan
aviditas anti-ToxoplasmaIgG yang berkualitas. (7)
CYTOMEGALOVIRUS
(CMV).
Penularan dari ibu ke janinatau transmisi vertikal, merupakan penyebab utama infeksi
CMV kongenital di negara berkembang dengant i n g k a t k e j a d i a n 0 . 3 - 2 % s e t i a p
k e l a h i r a n h i d u p d a n m e r u p a k a n p e n ye b a b u t a m a t u l i s e n s o r i n e u r a l
ya n g bersifat nongenetik. (8)
SKRINING DIABETES GESTASIONAL
Diabetes gestasional berhubungan dengan hipertensi,m a k r o s o m i a ,
shoulder distocia
, d a n t i n g g i n ya r i s i k o k e l a h i r a n
caesar
dan risiko diabetes pada ibu dik emud i an h ar i. Ins id en
diabetes gestasionaldiperkirakan sebesar 2-5%. ACOG
dan
A m e r i c a n Diabetes Association
(ADA) merekomendasikan bahwasemua wanita hamil sebaiknya melakukan skrining
untuk diabetes melitus.
SKRINING ANEMIA
CDC merekomendasikan skrining defisiensi besi (levelr e k o m e n d a s i A ) , k a r e n a
selama
kehamilan
t e r j a d i peningkatan kebutuhan besi, anemia
d e f i s i e n s i b e s i yang tidak diobati selama kehamilan akan meningkatkanrisiko berat bayi lahir
rendah (BBLR), kelahiran prematur,d a n k e m a t i a n j a n i n s e t e l a h l a h i r .
P e m e r i k s a a n hematologi berupa hemoglobin dan hematokrit tidak spesifik
untuk mengidentifikasi anemia defisiensi besis e h i n g g a p e r l u d i t a m b a h
pemeriksaan
ferritin.Pemeriksaan
ferritin
memiliki
sensitivitas
d a n s p e s i f i s i t a s ya n g t i n g g i d a l a m m e n d i a g n o s i s
a n e m i a defisiensi besi. (9)
PENUTUP
Skrining prenatal meliputi pemeriksaan yang bersifat menyeluruh meliputi skrining
kelainan
genetik,
penyakitinfeksi,
dan
penyakit
yang
berkaitan
dengan
gangguanmetabolisme. Tindak lanjut yang tepat dalam setiap h a s i l s k r i n i n g
y a n g d i l a k u k a n d a p a t m e n i n g k a t k a n kualitas kehamilan.
Trilis Yulianti

Rujukan :
1 . K i r k h a m C , H a r r i s S a n d G r z yb o w s k i S . E v i d e n c e - B a s e d P r e n a t a l Care :
Part I. General Prenatal Care and Counseling Issues.
AmericanFamily Physician
2005;
71
(
7
) : 1 3 0 7 - 1 3 1 6 . 2 . K i r k h a m C , H a r r i s S a n d G r z yb o w s k i S . E v i d e n c e - B a s e d
P r e n a t a l Care : Part II. Third-Trimester Care and Prevention of
InfectiousDiseases.
Am Fam Phys
2005;
71
(
8
) : 1 5 5 5 - 1 5 6 0 . 3.Chodirker BN, Winnipeg MB, Cadrin C, et al. Canadian
Guidelines forPrenatal diagnosis.
J Soc Obstet Gynaecol Can
2001:
105
: 1 - 7 . 4.Cunniff C and Committee on Genetics. Prenatal Screening and Diagnosisfor
Pediatricians.
Pediatrics
2004;
114
(
3
) : 8 8 9 - 8 9 4 . 5.Trepka MJ, Bloom SA, Zhang G, Kim S and Nobles RE.
InadequateSyphilis Screening Among Women With Prenatal Care in a
CommunityWith a High Syphilis Incidence.
Sex Trans Dis
2006;
33
(
11
) : 6 7 0 - 6 7 4 . 6.Chou R, Smits AK, HuffmanLH, Fu R, and Korthuis PT.
PrenatalScreening for HIV: A Review of the Evidence for the U.S.
Ann InternMed.
2005;
143
: 3 8 - 5 4 . 7.Lopez FMR, Goncalves DD Bregano RM, Freire RL and Navarro IT.
Toxoplasma gondii
Infectiom in Pregnancy.
Braz J Infect Dis
2007;
11
(
5

): 496-506.8.Lanari M, Lazzarotto T, Venturi V, Papa I, Gabrielli L, Guera B et


al.N e o n a t a l C yt o m e g a l o v i r u s B l o o d L o a d a n d R i s k o f S e q u e l a e
i n Symptomatic and Asymptomatic Congenitally Infected Newborns.
Pediatrics
2006;
117
:e76-e83.9 . A C O G
Practice
Bulltein.
Clinical
Management
G u i d e l i n e s f o r Obstetricians-Gynaecologysts. Anemia in Pregnancy.
Am J ObstetGynecol
2008;
112
(
1
): 201-207.

SKRININGPRENATAL
PENDAHULUAN
Pemantauan berkesinambungan selama masa kehamilanmerupakan hal yang penting
untuk dilakukan karenab e r h u b u n g a n d e n g a n p e n u r u n a n
i n t e r v e n s i d a n peningkatan kualitas ibu hamil. Ketika suatu kehamilantelah
dipastikan maka rencana perawatan dan skriningprenatal segera dibuat. Kunjungan pertama
sebaiknyad i l a k u k a n p a d a t r i m e s t e r 1 d a n l e b i h d a r i
s a t u k u n j u n g a n j i k a d i p e r l u k a n u n t u k m e n d a p a t s e m u a informasi yang
berhubungan. (1)Hari perkiraan lahir biasanya dihitung dari hari pertamahaid terakhir
(HPHT). Penentuan tanggal yang akuratsangat penting untuk menentukan waktu yang
tepatmelakukan skrining dan intervensi, serta penanganan ya n g o p t i m a l u n t u k
k o m p l i k a s i j i k a a d a . B e b e r a p a penelitian menunjukkan bahwa USG awal lebih
akuratd a r i p a d a H P H T u n t u k m e n e n t u k a n u s i a k e h a m i l a n . Pendekatan ini harus
dipertimbangkan apabila pasienmempunyai siklus haid yang tidak teratur. (1)Riwayat
kesehatan dan pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan untuk mendeteksi kondisi yang
berhubungand e n g a n p e n i n g k a t a n m o r b i d i t a s d a n m o r t a l i t a s i b u m a u p u n
janin. Komponen pemeriksaan rutin untuk p r e n a t a l s a a t i n i m a s i h
kontroversial. Berikut inid ij el as ka n b eb er ap a
pemeriksaan yang telahdirekomendasikan sebagai
b a g i a n d a r i s k r i n i n g prenatal. (1)
SKRINING KELAINAN KROMOSOM
Informasi yang diperoleh dari hasil skrining prenatal sangat membantu dokter dalam
mengelola kehamilan,
labor
dan kelahiran serta dalam beberapa hal dapat m e m p e r b a i k i
outcome
k e h a m i l a n . S k r i n i n g u n t u k kelainan kromosom meliputi pertanyaan usia ibu
hamil,skrining menggunakan serum maternal dan pemeriksaan
ultrasound
(USG). (3)
Guideline
skrining prenatal di Canada mewajibkan setiapwanita hamil yang berusia 35 tahun atau lebih
untuk melakukan skrining kelainan kromosom, meskipun usiabukanlah prediktor yang baik untuk
kelainan kromosomjanin. Skrining kelainan kromosom 21 dan 18 dapat dilakukan
dengan pemeriksaan serum maternal antaral a i n
maternal serum alpha-fetoprotein
(msAFP),
unconjugated estriol
(uE3), dan
h u m a n c h o r i o n i c gonadotropin
(hCG)yang dilakukanpadatrimester2.(3
Skrining
down syndrome
pada trimester 1 menggunakanpemeriksaan
nuchal translucency
(NT) yang dikombinasidengan serum maternal yaitu
free
beta hCG (free

hCG)dan
pregnancy-associated plasma protein
A(PAPP-A).Pemeriksaan ini optimal dilakukan pada usia kehamilan10-14 minggu. Sensitivitas
dan spesifisitas pemeriksaani n i d i t e n t u k a n o l e h
cut off
risiko yang digunakan(misalnya
trisomy
2 1 , s e n s i t i v i t a s n y a 8 5 , 2 % p a d a spesifisitas 90,6%, pada spesifisitas 95%
sensitivitasnya78,7%). (2)Tidak hanya penurunan msAFP yang berindikasi
padas u a t u k e l a i n a n k a r e n a p e n i n g k a t a n m s A F P
j u g a berhubungan dengan abnormalitas janin yaitu
neuraltube defect
NTD. Peningkatan msAFP ditemukan padakurang lebih 90% kasus
anencephaly
dan 80% kasus
opens p i n e b i f i d a .
B e b e r a p a n e g a r a m e r e k o m e n d a s i k a n pemeriksaan msAFP untuk prenatal
skrining yang diaturd a l a m u n d a n g - u n d a n g n y a . K e n a i k a n m s A F P
j u g a b e r h u b u n g a n d e n g a n h a s i l l u a r a n j a n i n y a n g t i d a k diharapkan
seperti berat badan bayi rendah, atau janinmeninggal saat lahir. Beberapa kelainan
genetik lainyang dirangkum dalam jurnal
American Family Physician
dapat dilihat pada tabel 1. (3)
SKRINING PENYAKIT INFEKSI
Skrining penyakit infeksi direkomendasikan untuk semuawanita hamil sebagai bagian dari skrining prenatal
antaralain asimptomatik bakteriuria, sifilis, rubella, hepatitis Bdan HIV pada awal kehamilan. Pemeriksaan
hepatitis C,gonore dan
chlamydia
sebaiknya ditambahkan sebagaiskrining bagi wanita yang memiliki risiko tinggi. Kekuatanrekomendasi
masing-masing pemeriksaan dapat dilihatpada tabel 2. (2)
SIFILIS
. I n f e k s i s i f i l i s p a d a w a n i t a h a m i l ya n g t i d a k diobati dapat menyebabkan
sifilis kongenital dengantingkat penularan dari ibu ke janin berkisar 10%100%t e r g a n t u n g t i n g k a t i n f e k s i ya n g d i a l a m i i b u . S i f i l i s
congenital
d a p a t m e n y e b a b k a n k e g u g u r a n , b a y i meninggal saat lahir,
prematuritas, ketulian, kelainanh a t i , t u l a n g , s e n d i d a n n e u r o l o g i s .
The
C e n t e r s f o r Disease Control and Prevention
(CDC) dan
AmericanC o l l e g e o f O b s t e t r i c a n d G y n e c o l o g y
( A C O G ) m e r e k o m e n d a s i k a n s k r i n i n g s i f i l i s p a d a t r i m e s t e r pertama
untuk semua wanita hamil. Bagi yang memilikirisiko tinggi atau tinggal di daerah dengan
prevalensitinggi pemeriksaan ini diulang kembali pada trimester 3.(2,5)
HIV.
P e m e r i k s a a n H I V d i Am e r i k a d i r e k o m e n d a s i k a n untuk semua wanita hamil.
Wanita yang berisiko tinggim e n g a l a m i i n f e k s i H I V d i s a r a n k a n
m e l a k u k a n pemeriksaan HIV pada trimester 3. Idealnya dilakukank o n s e l i n g

s e b e l u m m e l a k u k a n p e m e r i k s a a n d a n pemeriksaan dilakukan dengan


mengisi
inform consent
terlebih dulu. (2,6)
HERPES.
T i n g k a t p e n u l a r a n i n f e k s i h e r p e s s e c a r a vertikal dari ibu ke janin pada
saat melahirkan adalah50% pada infeksi HSV primer, 33% untuk infeksi
HSVnonprimer dan 0-3% pada infeksi rekuren. Infeksi HSVp a d a l i a n g l a h i r d a p a t
m e n ye b a b k a n p e n ya k i t ya n g b e r s i f a t l o k a l p a d a k u l i t , m a t a a t a u
m u l u t ( t i d a k berhubungan dengan risiko kematian) serta pada sistemsaraf pusat (15%
berhubungan dengan mortalitas). (2)
CHLAMYDIA
DAN
GONORRHEA
.
Semua wanita hamilyang berisiko tinggi penyakit menular seksual sebaiknyamelakukan
skrining infeksi
chlamydia
dan
gonorrhea
.(2)
RUBELLA.
Semua wanita hamil sebaiknya melakukan s k r i n i n g r u b e l l a a p a b i l a b e l u m
p e r n a h m e l a k u k a n pemeriksaan pada saat sebelum hamil. Wanita yang b e l u m
m e m i l i k i a n t i b o d i t e r h a d a p r u b e l l a s e b e l u m kehamilan sebaiknya dipantau
selama kehamilan dandiberikan informasi mengenai risiko infeksi rubella padasaat hamil.
(2)
VARICELLA ZOSTER.
Infeksi cacar air (
chicken pox
) padau s i a 2 0 m i n g g u p e r t a m a k e h a m i l a n b e r h u b u n g a n dengan 12% risiko sindrom
varicella
. Bayi yang lahirdari ibu yang kontak dengan cacar air 5 hari sebelummelahirkan atau 2 hari
setelah melahirkan mempunyaipeluang 17-30% untuk mengalami cacar air. (2
HEPATITIS B DAN C.
Skrining infeksi hepatitis B denganpemeriksaan HBsAg direkomendasikan pada
kunjunganpertama hingga setelah melahirkan untuk mencegah p e n u l a r a n d a r i i b u
ke anak. Sementara itu skrining h e p a t i t i s C d i r e k o m e n d a s i k a n
u n t u k m e r e k a y a n g memiliki risiko tinggi misalnya pengguna obat suntik,p e r n a h
t r a n s f u s i d a r a h , w a n i t a d e n g a n H I V p o s i t i f , m e m i l i k i ALT ya n g t e r u s
m e n i n g k a t , b e r t a t o a t a u memiliki pasangan lebih dari satu. (2)
INFEKSI
GROUP B STREPTOCOCCAL
(GBS).
Infeksi GBSmerupakan penyebab morbiditas dan mortalitas bayi baru lahir. Sekitar 1030% wanita mengalami kolonisasidengan GBS. Faktor risiko untuk terinfeksinya
neonataladalah usia kehamilan sebelum 37,
rupture membrane

yang lama (lebih dari 18 jam) dan demam. Di Canadasemua wanita hamil direkomendasikan
untuk melakukans k r i n i n g G B S d e n g a n k u l t u r v a g i n o r e k t a l p a d a
u s i a kehamilan 35-37 minggu. (2)
INFEKSI SALURAN KEMIH
. Pemeriksaan
asymptomaticbacteriuria
dilakukan pada kehamilan usia 12-16 minggumenggunakan kultur urin. (2)
TOKSOPLASMA
. Infeksi primer Toxoplasma pada wanitah a m i l d a p a t m e n i m b u l k a n m a s a l a h
serius karenab er is ik o t in gg i me nu l a rk an ke j an in ya n g
d a p a t menyebabkan keguguran dan berbagai kelainan bawaanpada janin. Oleh sebab itu
pada wanita hamil sangatpenting untuk dibedakan antara infeksi baru dan infeksil a m p a u .
P e m e r i k s a a n a v i d i t a s a n t i - Tox o p l a s m a I g G berperan untuk membantu klinisi
dalam mengetahuik a p a n w a k t u t e r j a d i n y a i n f e k s i . N a m u n
d e m i k a n pemeriksaan tunggal tidak dapat memberikan nilai d i a g n o s i s ,
t e t a p d i p e r l u k a n k o m b i n a s i a t a u s e r i a l pemeriksaan IgG, IgM, IgA dan
aviditas anti-ToxoplasmaIgG yang berkualitas. (7)
CYTOMEGALOVIRUS
(CMV).
Penularan dari ibu ke janinatau transmisi vertikal, merupakan penyebab utama infeksi
CMV kongenital di negara berkembang dengant i n g k a t k e j a d i a n 0 . 3 - 2 % s e t i a p
k e l a h i r a n h i d u p d a n m e r u p a k a n p e n ye b a b u t a m a t u l i s e n s o r i n e u r a l
ya n g bersifat nongenetik. (8)
SKRINING DIABETES GESTASIONAL
Diabetes gestasional berhubungan dengan hipertensi,m a k r o s o m i a ,
shoulder distocia
, d a n t i n g g i n ya r i s i k o k e l a h i r a n
caesar
dan risiko diabetes pada ibu dike mu d ia n h ar i. I nsi de n
diabetes gestasionaldiperkirakan sebesar 2-5%. ACOG
dan
A m e r i c a n Diabetes Association
(ADA) merekomendasikan bahwasemua wanita hamil sebaiknya melakukan skrining
untuk diabetes melitus.
SKRINING ANEMIA
CDC merekomendasikan skrining defisiensi besi (levelr e k o m e n d a s i A ) , k a r e n a
s e l a m a k e h a m i l a n t e r j a d i peningkatan kebutuhan besi, anemia
d e f i s i e n s i b e s i yang tidak diobati selama kehamilan akan meningkatkanrisiko berat bayi lahir
rendah (BBLR), kelahiran prematur,d a n k e m a t i a n j a n i n s e t e l a h l a h i r .
P e m e r i k s a a n hematologi berupa hemoglobin dan hematokrit tidak spesifik
untuk mengidentifikasi anemia defisiensi besis e h i n g g a p e r l u d i t a m b a h
pemeriksaan ferritin.Pemeriksaan ferritin memiliki
s e n s i t i v i t a s d a n s p e s i f i s i t a s ya n g t i n g g i d a l a m m e n d i a g n o s i s
a n e m i a defisiensi besi. (9)
Tabel 3. Nilai Normal Besi pada Kehamilan (9)
TestPlasma iron levelPlasma total iron-binding capacityTransferrin saturationSerum ferritin
levelFree erythrocyte protoporphyrin levelNormal Value40 - 175 micrograms/dL216 - 400
micrograms/dL16 - 60%More than 10 micrograms/dLLess than 3 micrograms/g
PENUTUP

Skrining prenatal meliputi pemeriksaan yang bersifat menyeluruh meliputi skrining


kelainan genetik, penyakitinfeksi, dan penyakit yang berkaitan dengan
gangguanmetabolisme. Tindak lanjut yang tepat dalam setiap h a s i l s k r i n i n g
y a n g d i l a k u k a n d a p a t m e n i n g k a t k a n kualitas kehamilan.
Trilis Yulianti
Rujukan :
1 . K i r k h a m C , H a r r i s S a n d G r z yb o w s k i S . E v i d e n c e - B a s e d P r e n a t a l Care :
Part I. General Prenatal Care and Counseling Issues.
AmericanFamily Physician
2005;
71
(
7
) : 1 3 0 7 - 1 3 1 6 . 2 . K i r k h a m C , H a r r i s S a n d G r z yb o w s k i S . E v i d e n c e - B a s e d
P r e n a t a l Care : Part II. Third-Trimester Care and Prevention of
InfectiousDiseases.
Am Fam Phys
2005;
71
(
8
) : 1 5 5 5 - 1 5 6 0 . 3.Chodirker BN, Winnipeg MB, Cadrin C, et al. Canadian
Guidelines forPrenatal diagnosis.
J Soc Obstet Gynaecol Can
2001:
105
: 1 - 7 . 4.Cunniff C and Committee on Genetics. Prenatal Screening and Diagnosisfor
Pediatricians.
Pediatrics
2004;
114
(
3
) : 8 8 9 - 8 9 4 . 5.Trepka MJ, Bloom SA, Zhang G, Kim S and Nobles RE.
InadequateSyphilis Screening Among Women With Prenatal Care in a
CommunityWith a High Syphilis Incidence.
Sex Trans Dis
2006;
33
(
11
) : 6 7 0 - 6 7 4 . 6.Chou R, Smits AK, HuffmanLH, Fu R, and Korthuis PT.
PrenatalScreening for HIV: A Review of the Evidence for the U.S.
Ann InternMed.
2005;
143
: 3 8 - 5 4 . 7.Lopez FMR, Goncalves DD Bregano RM, Freire RL and Navarro IT.
Toxoplasma gondii
Infectiom in Pregnancy.
Braz J Infect Dis

2007;
11
(
5
): 496-506.8.Lanari M, Lazzarotto T, Venturi V, Papa I, Gabrielli L, Guera B et
al.N e o n a t a l C yt o m e g a l o v i r u s B l o o d L o a d a n d R i s k o f S e q u e l a e
i n Symptomatic and Asymptomatic Congenitally Infected Newborns.
Pediatrics
2006;
117
:e76-e83.9 . A C O G P r a c t i c e B u l l t e i n . C l i n i c a l M a n a g e m e n t
G u i d e l i n e s f o r Obstetricians-Gynaecologysts. Anemia in Pregnancy.
Am J ObstetGynecol
2008;
112
(
1
): 201-207

Panel Awal Kehamilan


Jenis Pemeriksaan : Hematologi Rutin, Urine Rutin, Golongan Darah (A,B,O) dan
Rhesus, Glukosa Puasa, HBsAg, VDRL/RPR, Gambaran Darah Tepi, Anti Rubella
IgG, Anti Toxoplasma IgG, dan Anti CMV-IgG (Perempuan)
Manfaat : Mengetahui adanya penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu
hamil maupun janinnya.
PANEL AWAL KEHAMILAN
Tujuan : mengetahui adanya penyakit yang dapat mempengaruhi kesehatan Ibu
hamil
maupun
janinnya.
-

Hematologi Rutin
Urin Rutin
Golongan Darah (A, B, O) & Rhesus
Glukosa Puasa
Glukosa 2 Jam PP
HbsAg
VDRL/RPR
Anti-Toxoplasma IgG & IgM
Anti-Rubella IgG & IgM
Anti-CMV IgG & IgM
Anti-HSV2 IgG & IgM