Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH PEREKONOMIAN INDONESIA

KEBIJAKAN DAN PENGEMBANGAN SEKTOR INDUSTRI


Disusun Oleh :
KELOMPOK 10
KELAS - A

1. Navilla Chaq
2. Ria Puspita Dewi
3. Diana Pratiwi
4. M. Ali Rofiqi
5. Zulfikar Ali Akbar
6. Naomi indriyanti K. P.

2008210483
2012210022
2012210083
2012210190
2012210465
2013210168

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS


SURABAYA
2014

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas limpahan rahmatnya, kami dapat
menyelesaikan makalah mata kuliah Perekonomian Indonesia yang berjudul KEBIJAKAN
DAN PENGEMBANGAN SEKTOR INDUSTRI dengan baik dan tepat pada waktunya.
Makalah ini kami susun dengan tujuan memenuhi tugas mata kuliah Perekonomian
Indonesia, dan menambah pengetahuan kami tentang kebijakan sektor industri dan
pengembangan sektor industri di Indonesia saat ini dan masalah yang sedang dihadapi pada
sektor industri saat ini
Kami berterima kasih kepada seluruh anggota kelompok kami, atas kerjasamanya dalam
menyelesaikan tugas makalah ini. Dan tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bu Zamida
yang telah memberikan motivasi kepada kami, sehingga kami dapat memahami materi yang
telah kami buat.
Kami mohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan, dan
kekurangan. Oleh karena itu kami sangat berbesar hati untuk menerima segala kritik dan saran
yang membangun untuk kelompok kami.
Kami harap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi teman
teman di STIE Perbanas Surabaya.

Surabaya, 09 November 2014

Penyusun

Perekonomian Indonesia

Page 1

STABILITAS HARGA DAN ANTISIPASI EKONOMI


DI DALAM SEKTOR INDUSTRI
A. PENDAHULUAN
Kebijakan di dalam sektor industri terdiri dari :
1. Pembangunan industri diarahkan pada industri-industri yang berbasis pertanian dan
pertambangan, dan kelautan yang mampu memberikan nilai tambah yang tinggi dan
mampu bersaing dalam pasar lokal, regionalnasional, global dan mampu
menghasilkan nilai tambah tinggi.
2. Pengembangan IKM dan Industri Mikro (Industri Rumah Tangga), perlu didorong
dan dibina, menjadi usaha yang makin berkembang dan maju,sehingga mampu
mandiri dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas lapangan kerja
dan kesempatan berusaha.
3. Menggalakkan iklim yang sehat dalam berusaha bagi pelaku ekonomi (koperasi,
usaha negara, usaha swasta) untuk menumbuhkan kegiatan usaha yang mampu
menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi.
4. Meningkatkan pertumbuhan usaha kecil informal menjadi pengusaha kecil formal
yang tangguh dan mandiri melalui bantuan pembangunan infrastruktur, perijinan dan
bantuan teknis.
5. Meningkatkan dan mengoptimalkan perolehan devisa ekspor produk industri
kehutanan, pertambangan, pertanian, dalam arti luas berikut industri turunannya.
Kebijakan Pemerintah mengembangkan perekonomian di Indonesia berorientasi global
membangun keunggulan kompetitif dengan mengedepankan kebijakan industri, perdagangan
dan investasi dalam meningkatkan daya saing dengan membuka akses yang sama terhadap
kesempatan berusaha dan kesempatan kerja bagi segenap rakyat dari seluruh daerah dengan
menghapuskan seluruh perlakuan diskriminatif dan hambatan. Pengembangan sektor industri
pengolahan mengacu kepada arahan pembangunan ekonomi, khususnya yang berkaitan
dengan pembangunan sektor industri dan perdagangan.
Pemerintah juga melakukan pembangunan yang ditujukan untuk perluasan kesempatan
kerja dan berusaha, peningkatan ekspor, peningkatan dan pemerataan pendapatan. Hasil yang
hendak dicapai dari pembangunan ini adalah usaha kecil berperan maksimal dalam
perkembangan dunia usaha, sehingga usaha kecil dapat berkembang dan mampu bersaing
dengan pengusaha-pengusaha lainnya sesuai potensi dan bidang usaha yang ditekuninya
selama ini.
Kebijakan ekonomi kerakyatan bertumpu pada mekanisme pasar yang adil, persaingan
sehat, berkelanjutan, mencegah struktur yang monopolistik dan distortif dapat merugikan
masyarakat. Melalui optimalisasi peran pemerintah untuk melakukan koreksi pasar dengan
menghilangkan berbagai hambatan melalui regulasi, subsidi dan insentif. Pemberdayakan
usaha kecil agar lebih efisien, produktif dan berdaya saing dengan meningkatkan penguasaan
Perekonomian Indonesia

Page 2

IPTEK dan melakukan secara proaktif negosiasi serta kerjasama ekonomi dalam upaya
peningkatan ekspor.
Arah kebijakan adalah salah satu menata sistem hukum nasional yang menyeluruh dan
terpadu dengan mengakui dan menghormati hukum agama dan hukum adat serta
memperaharui perundang-undangan warisan kolonial dan hukum nasional yang
diskriminatif, termasuk ketidakadilan gender dan ketidak sesuaiannya dengan tuntutan
reformasi melalu iprogram legislasi. Selanjutnya mengembangkan peraturan perundangundangan yang mendukung kegiatan perekonomian dalam menghadapi era perdagangan
bebas tanpa merugikankepentingan nasional. Perioritas kebijakan juga merupakan salah satu
sasaranutama untuk dicapai dan langkah yang terpenting yang dilakukan oleh
pemerintahdalam mengambil atau memutuskan suatu kebijakan.
Maka dalam ketentuan kebijaksanaan (policy) kebijakan adalah penggunaan
pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dianggap lebih menjaminterhadap terlaksananya
suatu usaha, cita-cita/keinginan atau keadaan yangdikehendaki. Jadi dalam arti
kebijaksanaan, titik beratnya adalah adanya proses pertimbangan untuk menjamin
terlaksananya suatu usaha, pencapaian cita-citaatau keinginan yang dicapai tersebut,
sehingga menghasilkan suatu buktikebijakan untuk kepentingan umum yang merobah
keadaan untuk yang lebih baik.Untuk menentukan suksesnya percepatan pembangunan saat
ini juga masadepan terkait dengan penerapan perdagangan bebas dalam kesepakatan regional
AFTA-China, maka salah satu arah dan prioritas kebijakan yang akandilaksanakan adalah
pemulihan (recovery) ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Mendorong dan
memberi arahan kepada setiap daerah untuk secara sungguh-sungguh dan sistematis
melaksanakan pemulihan ekonomi gunauntuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
B. MASALAH
Pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh stabilitas keuangan dan stabilitas
moneter. Stabilitas keuangan sangat penting artinya karena dalam sistem keuangan yang
stabil, lembaga-lembaga keuangan dapat menjalankan fungsinya dengan baik sehingga dapat
mengalokasikan sumber daya secara efisien ke dalam kegiatan produktif, memprediksi
sekaligus mengukur risiko finansial, dan ketahanan dalam menghadapi goncangan (shocks).
Sedangkan stabilitas moneter lebih mengacu pada harga-harga secara umum.
Bagi Indonesia sebagai negara yang menganut perekonomian terbuka, keterkaitan antara
stabilitas keuangan dan kebijakan moneter menjadi semakin longgar, karena perekonomian
yang terbuka cenderung lebih rentan terhadap berbagai gangguan eksternal. Tahun 2008 telah
berakhir dengan serangkaian peristiwa besar, mulai dari kenaikan harga minyak dunia yang
sempat mencapai 147 dollar AS per barrel (11 Juli 2008), hancurnya pasar modal sesudah
kebangkrutan Lehman Brothers (15 September 2008), serta kenaikan harga BBM bersubsidi.
Tetapi harga BBM bersubsidi telah diturunkan kembali pada Desember 2008 dan Januari
2009 ini.

Perekonomian Indonesia

Page 3

Departemen Perindustrian melaporkan kondisi perindustrian dalam negeri, meliputi


industri minyak goreng sawit, industri pengolahan daging, dan industri pengolahan susu. Hal
ini diperlukan untuk meninjau stabilitas harga dan antisipasi ekonomi.
C. PEMBAHASAN MATERI
1. Industri Minyak Goreng Sawit

Uraian
2001
2002
2003
2004
2005

produksi
23.94
25.22
28.08
30.89
33.5

konsumsi
23.79
25.09
28.31
29.99
33.03

8.79%

8.59%

Pertumbuhan /tahun
Sumber : Kementerian Perindustrian

Dalam perekonomian nasional, 4iindustri berbasis kelapa sawit masih memegang


peranan penting, khususnya sebagai penyedia kebutuhan pokok masyarakat (antara lain
minyak 4ndust), penghasil devisa dan penyerapan tenaga kerja. Produksi minyak 4ndust
sawit (MGS) nasional tahun 2008 sebesar 8,32 juta ton (setara dengan 11,40 juta ton
CPO). Sementara kebutuhan minyak 4ndust nasional tahun 2008 sekitar 3,79 juta ton
untuk konsumsi dan kebutuhan 4industri. Meskipun produksi bahan baku CPO untuk
4industri MGS dalam negeri cukup tersedia, namun dalam kenyataannya harga MGS di
dalam negeri cenderung meningkat mengikuti peningkatan harga CPO internasional.
Oleh karenanya, pemerintah sejak tahun 2008 memberikan insentif berupa Pajak
Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) MGS untuk kebutuhan
masyarakat berpenghasilan rendah. Kebijakan lainnya yang akan / mungkin diambil
pemerintah adalah :

Mempertimbangkan penetapan harga eceran tertinggi (HET) MGS kemasan


sederhana / curah.
Harga BBM untuk 4industri diturunkan dari Rp 6.000,- perliter.
Apabila harga MGS dalam negeri tidak diturunkan sesuai HET (sesuai perkiraan
kewajaran), maka perlu dikenakan PE sebagai penalty.

Perekonomian Indonesia

Page 4

2. Industri Pengolahan Daging

Provinsi

Produksi Daging
2007

2008

2009

2010

70 662

2011

76 066

2012

78 476

2013

Jawa Barat

50 646

70 010

74 312

71 881

Jawa Tengah

46 855

45 736

48 340

51 001

60 322

60 893

61 141

Jawa Timur

81 538

85 173

107 768

109 016

112 447

110 762

100 707

Masalah utama pengembangan 5industri pengolahan daging adalah ketersediaan


bahan baku baik dalam jumlah, kualitas maupun harga. Saat ini pasokan bahan baku dari
dalam negeri masih sangat terbatas sehingga masih bergantung dari bahan baku impor.
Permasalahan dalam mengimpor bahan baku daging adalah terbatasnya negara yang
diperbolehkan mengimpor (hanya Australia dan New Zealand) sehingga produk daging
olahan dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk sejenis ex impor yang bahan
bakunya lebih murah karena dipasok dari negara selain Australia dan New Zealand.
Sehubungan dengan dengan kondisi tersebut, langkah-langkah yang perlu diambil
Pemerintah antara lain :

Mempercepat pelaksanaan pemberlakuan izin impor daging selain dari negara-negara


dengan status bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) atau country free(hanya
Australia dan New Zealand) juga diperbolehkan impor daging dari negara yang
memiliki daerah bebas PMK arau free zone area seperti Brazil dan Uruguay.
BM DTP atas bahan penolong yang saat ini dikenakan BM 5%, antara lain sarung
sosis, tepung kedelai dan kemasan yang saat ini BM-nya 5 15%.
Bahan penolong liquid egg (telur cair) beku agar dimasukikan dalam katagori produk
primer pertanian yang dibebaskan PPN-nya.
PPN DTP atas kemasan 5ndustr dan kaleng.
Menurunkan harga BBM 5industri yang saat ini sebesar Rp 6.000,- perliter

3. Industri Pengolahan Susu

Produksi Susu

2008

2009

2010

2011

2012

2013

Jumlah (000 Ltr)

19 439,21

19 210,49

16 240,95

36 460,64

30540,00

58817,00

Nilai (Juta Rp)

60 151,99

59 535,43

48 798,93

125 499,89

242 517,01

257712,90

Industri pengolahan susu mempunyai peranan penting dan strategis dalam upaya
penyediaan kecukupan gizi bagi masyarakat. Namun demikian, konsumsi susu
masyarakat Indonesia masih cukup rendah dan baru mencapai rata-rata 7-8

Perekonomian Indonesia

Page 5

liter/kapita/tahun, jauh lebih rendah dibandingkan konsumsi susu negara-negara ASEAN


lainnya yang telah mencapai lebih dari 20 liter/kapita/tahun.
Produksi susu olahan tahun 2008 mencapai 556.000 ton (1,79 juta ton setara susu
segar) dengan produk olahannya, yaitu susu bubuk, susu kental manis dan susu cair
(UHT/Pasteurisasi/Strerilisasi). Saat ini mulai tumbuh dan berkembang 6industri-industri
susu skala menengah dan kecil yang umumnya menghasilkan susu cair yang berbasis
pada penggunaan produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN). Namun untuk dapat
berproduksi secara optimal, 6industri pengolahan susu saat ini masih harus mengimpor
sekitar 70 persen bahan baku yang dibutuhkannya.
Dalam pengolahan 6industri susu untuk memenuhi kebutuhan susu bagi masyarakat
dengan harga terjangkau, perlu adanya dukungan dari 6ndust-sektor terkait utamanya
usaha peternakan sapi perah di dalam negeri. Oleh karena itu usaha peternakan sapi perah
di dalam negeri perlu mendapat perhatian yang lebih intensif, sehingga diharapkan secara
bertahap dapat memenuhi kebutuhan bahan baku 6industri susu dalam negeri.
Kebijakan yang telah dan akan diambil Pemerintah yang menyangkut 6industri
pegolahan susu, antara lain :

Mengurangi beban biaya produksi dengan pemberian fasilitas BM DTP bahan baku
susu perlu dilanjutkan.
Melakukan penurunan harga BBM dan bahan kemasan.
Menetapkan SSDN sebagai barang strategis sehingga atas penyerahannya tidak
dikenakan PPN.
Memberikan bantuan mesin peralatan cooling unit di daerah-daerah penghasil susu
segar.
Menetapkan 6industri pengolahan susu sebagai salah satu 6industri prioritas untuk
dikembangkan.
Mendorong investasi baru maupun perluasan 6industri pengolahan susu dengan
memberikan fasilitas pengurangan PPh.
Membantu mengurangi beban biaya produksi sebagai antisipasi dampak krisis
keuangan global dengan memberikan fasilitas BM DTP untuk bahan baku susu.

D. KESIMPULAN
Dalam perekonomian nasional, 6industri berbasis kelapa sawit masih memegang
peranan penting, khususnya sebagai penyedia kebutuhan pokok masyarakat (antara lain
minyak 6ndust), penghasil devisa dan penyerapan tenaga kerja. Sawit (MGS) nasional
tahun 2008 sebesar 8,32 juta ton (setara dengan 11,40 juta ton CPO). Sementara
kebutuhan minyak 6ndust nasional tahun 2008 sekitar 3,79 juta ton untuk konsumsi dan
kebutuhan 6industri. Meskipun produksi bahan baku CPO untuk 6industri MGS dalam
negeri cukup tersedia, namun dalam kenyataannya harga MGS di dalam negeri cenderung
Perekonomian Indonesia

Page 6

meningkat mengikuti peningkatan harga CPO internasional. Oleh karenanya, pemerintah


sejak tahun 2008 memberikan insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung
Pemerintah (PPN DTP) MGS untuk kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah.
Masalah utama pengembangan 7industri pengolahan daging adalah ketersediaan
bahan baku baik dalam jumlah, kualitas maupun harga. Saat ini pasokan bahan baku dari
dalam negeri masih sangat terbatas sehingga masih bergantung dari bahan baku impor.
Permasalahan dalam mengimpor bahan baku daging adalah terbatasnya negara yang
diperbolehkan mengimpor (hanya Australia dan New Zealand) sehingga produk daging
olahan dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk sejenis ex impor yang bahan
bakunya lebih murah karena dipasok dari negara selain Australia dan New Zealand.
Industri pengolahan susu mempunyai peranan penting dan strategis dalam upaya
penyediaan kecukupan gizi bagi masyarakat. Namun demikian, konsumsi susu
masyarakat Indonesia masih cukup rendah dan baru mencapai rata-rata 7-8
liter/kapita/tahun, jauh lebih rendah dibandingkan konsumsi susu negara-negara ASEAN
lainnya yang telah mencapai lebih dari 20 liter/kapita/tahun.
Produksi susu olahan tahun 2008 mencapai 556.000 ton (1,79 juta ton setara susu
segar) dengan produk olahannya, yaitu susu bubuk, susu kental manis dan susu cair
(UHT/Pasteurisasi/Strerilisasi). Saat ini mulai tumbuh dan berkembang 7industri-industri
susu skala menengah dan kecil yang umumnya menghasilkan susu cair yang berbasis
pada penggunaan produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN). Namun untuk dapat
berproduksi secara optimal, 7industri pengolahan susu saat ini masih harus mengimpor
sekitar 70 persen bahan baku yang dibutuhkannya.
Dalam pengolahan 7industri susu untuk memenuhi kebutuhan susu bagi masyarakat
dengan harga terjangkau, perlu adanya dukungan dari 7ndust-sektor terkait utamanya
usaha peternakan sapi perah di dalam negeri. Oleh karena itu usaha peternakan sapi perah
di dalam negeri perlu mendapat perhatian yang lebih intensif, sehingga diharapkan secara
bertahap dapat memenuhi kebutuhan bahan baku 7industri susu dalam negeri.

Perekonomian Indonesia

Page 7

DAFTAR PUSTAKA

http://www.kemenperin.go.id/artikel/494/kode-etik
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=3&tabel=1&daftar=1&id_subyek=54&notab=2
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=3&tabel=1&daftar=1&id_subyek=24&notab=4
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=3&tabel=1&daftar=1&id_subyek=24&notab=16
http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/06/03/98451/kementan_targetkan_produksi_susu_1
24_juta_ton_2014/

Perekonomian Indonesia

Page 8