Anda di halaman 1dari 9

KLARIFIKASI ISTILAH

1. Dokter keluarga: dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang berorientasi komunitas
dengan titik berat kepada keluarga, dia tidak hanya memandang penderita sebagai individu yang sakit
tetapi sebagai bagian dari unit keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif tetapi juga turun aktif
mengunjungi penderita atau keluarganya
2. ANC:

pemeriksaan kehamilan yang dilakukan untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara

berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan
3. Mekonium: bahan berlendir yang berwarna hijau tua di dalam usus bayi yang cukup bulan
4. BPJS : merupakan badan usaha milik negara yang ditugaskan khusus oleh pemerintah untuk
menyelenggarakan jaminan pemeliharaan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia.
5. Hodge I II : bidang yang dibentuk pada lingkaran pintu atas panggul sampai bagian simfisis.
(Hodge I II: PAP bawah simfisis)
6. Perawat : orang yang disiapkan secara khusus dengan dasar ilmiah mengenai perawatan serta
memenuhi standar pendidikan dan kemampuan klinis yang telah ditentukan.
7. Dukun : orang yang memiliki keahlian khusus untuk menolong pasien secara tradisional baik
menggunakan cara rasional maupun cara irasional.
8. Tenaga administrasi : orang yang bekerja/mengurusi bagian administrasi.
9. Administrasi: usaha dan kegiatan yang berkenaan dengan penyelenggaraan kebijaksanaan untuk
mencapai tujuan.

Kompetensi dokter keluarga seperti yang tercantum dalam standar kompetensi dokter keluarga yang
disusun oleh perhimpunan dokter keluarga indonesia tahun 2006 sebagai berikut:
1. Kompetensi dasar
-

Keterampilan komunikasi efektif

Keterampilan klinis dasar

Keterampilan menerapkan dasar-dasar ilmu biomedis, ilmu klinis, ilmu prilaku, dan
epidemiologi dalam praktik kedokteran keluarga

Keterampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun masyarakat


dengan cara yang komperensif, holistik, berkesinambungan, terkoordinasi, dan bekerja sama
dalam konteks pelayanan kesehatan primer.

Memanfaatkan, menilai kritis dan mengelola informasi

Mawas diri dan pengembangan diri/belajar sepanjang hayat

Etika, moral, dan profesionalisme dalam praktik

2. Ilmu dan keterampilan klinis layanan primer cabang ilmu utama


-

Bedah

THT

Penyakit dalam

Mata

Kebidanan atau penyakit kandungan

Kulit dan kelamin

Kesehatan anak

Psikiatri

Saraf

Kedokteran komunitas

3. Keterampilan klinis layanan primer lanjut


-

Keterampilan melakukan health screening

Menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium lanjutan

Membaca hasil EKG

Membaca hasil USG

BTLS, BCLS, BPLS

4. Keterampilan mendukung
-

Riset

Mengajar kedokteran keluarga

5. Ilmu dan keterampilan klinis layanan primer cabang ilmu pelengkap


-

Semua cabang ilmu kedokteran keluarga lainnya

Memahami dam menjembatani pengobatan alternatif

6. Ilmu dan keterampilan manajemen klinis


-

Manajemen klinik dokter keluarga.

Standar kompetensi dokter keluarga menurut deklarasi WONCA WHO tahun 2003 meliputi:
1. Melaksanakan asuhan bagi pasien dalam kelompok usia tertentu
-

Bayi baru lahir

Dewasa

Bayi

Wanita hamil dan menyusui

Anak

Lansia wanita dan pria

Remaja

2. Mengintegrasikan komponen asuhan komperensif


-

Memahami epidemiologi penyakit

Melakukan anamnesis, dan pemerikasaan jasmani secara memadai

Memahami ragam perbedaan faali dan metabolisme obat

Menafsirkan hasil pemeriksaan lab dan radiologi

Menyelenggarakan penilaian risiko khusus usia tertentu

Menyelenggarakan upaya pencegahan, penapisan dan panduan serta penyuluhan masalah gizi

Memahami pokok masalah perkembangan normal

Menyelenggarakan konseling psikologi dan prilaku

Mengonsultasikan atau merujuk pasien pada tepat waktu

Menyelenggarakan layanan paliatif dan jelang ajal

Menjunjung tinggi aspek etika pelayanan kedokteran

3. Mengoordinasikan layanan kesehatan


-

Dengan

keluarga

pasien

penilaian

keluarga,

menyelenggarakan

pertemuan

keluarga,pembinaan dan konseling keluarga

Dengan masyarakat penilaian kesmas dan epidemiologi, pemeriksaan masyarakat,


mengenali dan memanfaatkan SD Masyarakat, program pencegahan dan pendidikan bagi
masyarakat, serta advokasi /pembelaan kepentingan kesehatan masyarakat.

4. Menangani masalah- masalah kesehatan yang menonjol


-

Kelainan alergik

Anastesi dan penanganan nyeri

Mengancam

jiwa

dan

kegawatdaruratan
-

Kardiovaskular

Kulit dan kelamin

Mata dan telinga

Saluran cerna

Perkemihan

Obgyn

Penyakit infeksi

Muskuloskeletal

Kelainan neoplastik

Kelainan neurologi

Psikiatri

5. Melaksanakan profesi tim penyedia kesehatan


-

Menyusun dan menggerakkan tim

Kepemimpinan

Keterampilan manajemen praktik

Pemecahan masalah konflik

Peningkatan kualitas.

Standar sumber daya manusia (Standard of human resources)


Dalam pelayanan dokter keluarga, selain dokter keluarga, juga terdapat petugas kesehatan dan pegawai
lainnya yang sesuai dengan latar belakang pendidikan atau pelatihannya.
1)

Dokter keluarga: Dokter keluarga yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga adalah dokter yang
bersertifikat dokter keluarga dan patut menjadi panutan masyarakat dalam hal perilaku kesehatan.

2)

Perawat : Perawat yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga telah mengikuti pelatihan pelayanan
dengan pendekatan kedokteran keluarga.

3)

Bidan : Bidan yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga telah mengikuti pelatihan pelayanan
dengan pendekatan kedokteran keluarga.

4)

Administrator klinik: Pegawai administrasi yang bekerja pada pelayanan dokter keluarga, telah
mengikuti pelatihan untuk menunjang pelayanan pendekatan kedokteran keluarga.

Panduan untuk interpretasi


a.

Pelayanan dokter keluarga setidak-tidaknya memiliki satu pegawai administrasi.

b. Dokter keluarga yang berpraktik tunggal, dianjurkan memiliki satu pegawai yang membantu dokter
dalam membuat perjanjian konsultasi, menjelaskan fasilitas pelayanan dan mencatat secara
administratif kegiatan pelayanan.
c.

Dokter keluarga yang berpraktik bersama harus memiliki setidak-tidaknya satu pegawai administrasi
agar pelayanan dokter satu sama lain dapat terkoordinasi.

Materi pelatihan pegawai adminisSalah satu tugas dokter keluarga adalah tetap bertanggung-

jawab atas pasien yang dirujukan ke Dokter Spesialis atau dirawat di RS, kemudian
memantau pasien yang telah dirujuk atau di konsultasikan. Pada kasus ini, Dokter Budi
sebagai dokter keluarga di Kelurahan Pulo Kerto harus tetap memantau kondisi ibu yang
melahirkan tersebut beserta janinnya. Selain itu, dokter budi juga harus mengedukasi pasien
tersebut mengenai kesehatan ibu dan anak, seperti misalnya makanan yang harus dikonsumsi
ibu agar bayinya mendapat asupan asi yang cukup. Dan juga dokter Budi sebaiknya

menyarankan kepada Ibu tersebut agar mau mengikuti program KB dengan menjelaskan
secara rinci mengenai pilihan KB apa saja yang dapat digunakan oleh ibu tersebut.
trasi untuk menunjang pendekatan kedokteran keluarga meliputi: komunikasi, pencatatan dan pelaporan,
penggunaan alat bantu komunikasi, penggunaan alat bantu pencatatan dan pelaporan, tatacara berbagai
pelayanan yang menjadi fasilitas tempat praktek yang bersangkutan.

Persyaratan klinik dokter keluarga dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
028/Menkes/Per/I/2011 tentang klinik doga
-

Klinik harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan dan ruangan, prasarana, peralatan, dan
ketenagaan
Lokasi:

Lokasi pendirian klinik harus sesuai dengan tata ruang daerah masing-masing.

Pemerintah daerah kabupaten/kota mengatur persebaran klinik yang diselenggarakan masyarakat di


wilayahnya dengan memperhatikan kebutuhan pelayanan berdasarkan rasio jumlah penduduk.

ketentuan mengenai lokasi dan persebaran klinik sebagaimana dimaksud sebelumnya tidak berlaku
untuk klinik perusahaan atau klinik instansi pemerintah tertentu yang hanya melayani karyawan
perusahaan atau pegawai instansi pemerintah tersebut.
Bangunan dan Ruangan

Klinik diselenggarakan pada bangunan yang permanen dan tidak bergabung dengan tempat tinggal
atau unit kerja lainnya.

Bangunan klinik harus memenuhi persyaratan lingkungan sehat sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

Bangunan klinik harus memperhatikan fungsi, keamanan, kenyamanan dan kemudahan dalam
pemberian pelayanan serta perlindungan dan keselamatan bagi semua orang termasuk penyandang
cacat, anak-anak dan orang usia lanjut.

Bangunan klinik paling sedikit terdiri atas:


ruang pendaftaran/ruang tunggu;
ruang konsultasi dokter;
ruang administrasi;
ruang tindakan;
ruang farmasi;
kamar mandi/wc;
ruangan lainnya sesuai kebutuhan pelayanan.
Prasarana klinik meliputi: (harus dalam keadaan terpelihara dan berfungsi dengan baik).

instalasi air;

instalasi listrik;

instalasi sirkulasi udara;

sarana pengelolaan limbah;

pencegahan dan

ambulans, untuk klinik yang menyelenggarakan rawat inap; dan

sarana lainnya sesuai kebutuhan.

Peralatan

Klinik harus dilengkapi dengan peralatan medis dan nonmedis yang memadai sesuai dengan
jenis pelayanan yang diberikan

Peralatan medis dan nonmedis harus memenuhi standar mutu, keamanan, dan keselamatan serta
harus memiliki izin edar sesuai ketentuan peraturan

Peralatan medis yang digunakan di klinik harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh Balai
Pengamanan Fasilitas Kesehatan dan/atau institusi penguji dan pengkalibrasi yang berwenang.

Peralatan medis yang menggunakan radiasi pengion harus mendapatkan izin sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Penggunaan peralatan medis untuk kepentingan penegakan diagnosis, terapi dan rehabilitasi
harus berdasarkan indikasi medis.

Ketenagaan

Pimpinan klinik merupakan penanggung jawab klinik dan merangkap sebagai pelaksana
pelayanan.

Pimpinan Klinik Pratama adalah seorang dokter atau dokter gigi.

Pimpinan Klinik Utama adalah dokter spesialis atau dokter gigi spesialis yang memiliki
kompetensi sesuai dengan jenis kliniknya.

Ketenagaan klinik terdiri atas tenaga medis, tenaga kesehatan lain dan tenaga non kesehatan.

Tenaga medis pada Klinik Pratama minimal terdiri dari 2 (dua) orang dokter dan/atau dokter
gigi.

Tenaga medis pada Klinik Utama minimal terdiri dari 1 (satu) orang dokter spesialis dari
masing-masing spesialisasi sesuai jenis pelayanan yang diberikan.

Klinik Utama dapat mempekerjakan dokter dan/atau dokter gigi sebagai tenaga pelaksana
pelayanan medis.

Dokter atau dokter gigi harus memiliki kompetensi setelah mengikuti pendidikan atau pelatihan
sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan oleh klinik.

Jenis, kualifikasi, dan jumlah tenaga kesehatan lain serta tenaga non kesehatan disesuaikan
dengan kebutuhan dan jenis pelayanan yang diberikan oleh klinik.

Setiap tenaga medis yang berpraktik di klinik harus mempunyai Surat Tanda Registrasi dan
Surat Izin Praktik (SIP) sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

Setiap tenaga kesehatan lain yang bekerja di klinik harus mempunyai Surat Izin sebagai tanda
registrasi/Surat Tanda Registrasi dan Surat Izin Kerja (SIK) atau Surat Izin Praktik Apoteker
(SIPA) sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

Cara merujuk
Pasien yang akan dirujuk harus sudah diperiksa dan layak untuk dirujuk. Adapun kriteria pasien yang
dirujuk adalah bila memenuhi salah satu dari:
1. Hasil pemeriksaan fisik sudah dapat dipastikan tidak mampu diatasi.
2. Hasil pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan penunjang medis ternyata tidak mampu diatasi.
3. Memerlukan pemeriksaan penunjang medis yang lebih lengkap, tetapi pemeriksaan harus disertai
pasien yang bersangkutan.
4. Apabila telah diobati dan dirawat ternyata memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan perawatan di
sarana kesehatan yang lebih mampu.

1. Dalam keadaan gawat darurat, maka:


a. Peserta dapat dilayani di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun fasilitas kesehatan tingkat
lanjutan yang bekerjasama maupun yang tidak bekerjasama dengan BPJS Kesehatan
b. Pelayanan harus segera diberikan tanpa diperlukan surat rujukan
c. Peserta yang mendapat pelayanan di Fasilitas Kesehatan yang tidak bekerjasama dengan BPJS
Kesehatan harus segera dirujuk ke Fasilitas Kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan
setelah keadaan gawat daruratnya teratasi dan pasien dalam kondisi dapat dipindahkan
d. Pengecekan validitas peserta maupun diagnosa penyakit yang termasuk dalam kriteria gawat
darurat menjadi tanggung jawab fasilitas kesehatan (Kriteria gawat darurat dalam kasus ini
adalah persalinan kehamilan risiko tinggi dan atau persalinan dengan penyulit)
e. Fasilitas kesehatan tidak diperkenankan menarik biaya pelayanan kesehatan kepada peserta
2. Prosedur Pelayanan Gawat Darurat di Fasilitas kesehatan yang Bekerjasama dengan BPJS Kesehatan
a. Pada keadaan gawat darurat (emergency), seluruh fasilitas kesehatan baik yang bekerjasama
maupun yang tidak bekerjasama dengan BPJS Kesehatan, wajib memberikan pelayanan
kegawatdaruratan sesuai indikasi medis
b. Pelayanan kegawatdaruratan di fasilitas kesehatan tingkat pertama dapat diberikan pada fasilitas
kesehatan tempat peserta terdaftar maupun bukan tempat peserta terdaftar
c. Pelayanan kegawatdaruratan di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun lanjutan mengikuti
prosedur pelayanan yang berlaku

3. Prosedur Pelayanan Gawat Darurat di Fasilitas kesehatan Tingkat pertama dan Fasilitas kesehatan
Rujukan yang tidak bekerjasama dengan BPJS Kesehatan
a. Fasilitas kesehatan memastikan eligibilitas peserta dengan mencocokkan data peserta dengan
master file kepesertaan BPJS Kesehatan pada kondisi real time. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara:
1) Fasilitas kesehatan mengakses master file kepesertaan melalui website BPJS Kesehatan
www.bpjs-kesehatan.go.id, sms gateway dan media elektronik lainnya.
2) Apabila poin (a) tidak dapat dilakukan maka Fasilitas kesehatan menghubungi petugas BPJS
Kesehatan melalui telepon atau mendatangi kantor BPJS Kesehatan
b. Apabila kondisi kegawatdaruratan pasien sudah teratasi dan pasien dalam kondisi dapat
dipindahkan, tetapi pasien tidak bersedia untuk dirujuk ke Fasilitas Kesehatan yang bekerjasama
dengan BPJS Kesehatan maka biaya pelayanan selanjutnya tidak dijamin oleh BPJS. Fasilitas
kesehatan harus menjelaskan hal ini kepada peserta dan peserta harus menandatangani surat
pernyataan bersedia menanggung biaya pelayanan selanjutnya
c. Penanganan kondisi kegawatdaruratan di fasilitas kesehatan yang tidak bekerjasama ditanggung
sebagai pelayanan rawat jalan kecuali kondisi tertentu yang mengharuskan pasien dirawat inap.
d. Kondisi tertentu yang dimaksud diatas adalah sebagai berikut:
1) Tidak ada sarana transportasi untuk evakuasi pasien.
2) Sarana transportasi yang tersedia tidak memenuhi syarat untuk evakuasi
Kondisi a dan b dinyatakan oleh petugas BPJS Kesehatan setelah dihubungi oleh Fasilitas
kesehatan, dan petugas BPJS Kesehatan tersebut telah berusaha mencari ambulan sesuai
dengan kebutuhan.
3) Kondisi pasien yang tidak memungkinkan secara medis untuk dievakuasi, yang dibuktikan
dengan surat keterangan medis dari dokter yang merawat.

Pelayanan gawat darurat adalah pelayanan kesehatan yang harus diberikan secepatnya untuk mencegah
kematian, keparahan, dan atau kecacatan, sesuai dengan kemampuan fasilitas kesehatan. Dalam keadaan
darurat, maka peserta BPJS Kesehatan dapat dilayani di fasilitas kesehatan yang bekerjasama maupun
yang tidak bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Pelayanan harus segera diberikan tanpa
diperlukan surat rujukan.
Pengecekan validitas peserta maupun diagnosa penyakit yang termasuk dalam kriteria gawat darurat
dilakukan oleh fasilitas kesehatan

Keluarga Menolak dirujuk

Setiap pemberi pelayanan kesehatan berkewajiban merujuk pasien bila keadaan penyakit
atau permasalahan kesehatan memerlukannya, kecuali dengan alasan yang sah dan mendapat
persetujuan pasien atau keluarganya. Alasan yang sah adalah pasien tidak dapat ditransportasikan atas
alasan medis, sumber daya, atau geografis. Sehingga pada kasus tidak terdapat alasan untuk tidak merujuk
kecuali persetujuan. Pada keadaan gawat darurat (emergency), seluruh fasilitas kesehatan wajib
memberikan pelayanan kegawatdaruratan sesuai indikasi medis. Pada kasus kondisi medis sudah
masuk kriteria persalinan dengan penyulit dan harus dilakukan rujukan.
Demi keselamatan jiwa pasien harus dijelaskan dampak jika tidak dilakukan perujukan ke fasilitas
kesehatan yang lebih tinggi terutama apabila telah terjadi tanda-tanda gawat janin (DJJ>160
or<100, DJJ tidak teratur, atau keluar mekonium di awal persalinan).
Jadi sebagai dokter berada dalam kondisi seperti dr budi, harus diberikan penjelasan kepada pasien
tentang keselamatan jiwa ibu dan janin. Namun, jika pasien tidak mau mengikuti saran dokter untuk
dirujuk maka lepaslah kewajiban dokter terhadap pasien. Penjelasan meliputi:
- diagnosis dan terapi dan/atau tindakan medis yang diperlukan;
- alasan dan tujuan dilakukan rujukan;
- risiko yang dapat timbul apabila rujukan tidak dilakukan;
- transportasi rujukan; dan
- risiko atau penyulit yang dapat timbul selama dalam perjalanan.
Untuk pasien BPJS kondisi gawat darurat, rujukan ditujukan kepada fasilitas kesehatan tingkat
lanjutan yang bekerja sama ataupun tidak dengan BPJS. Biaya akan dibebaskan dari pasien BPJS walau
perujukan dilakukan di fasilitas kesehatan yang tidak bekerja sama dengan BPJS. Namun, setelah kondisi
stabil pasien harus segera dirujuk di fasilitas kesehatan BPJS. Pada kondisi gawat darurat, tidak
diperlukan surat rujukan.

Setelah Kembali dari tempat rujukan


Salah satu tugas dokter keluarga adalah tetap bertanggung-jawab atas pasien yang dirujukan ke Dokter
Spesialis atau dirawat di RS, kemudian memantau pasien yang telah dirujuk atau di konsultasikan. Pada
kasus ini, Dokter Budi sebagai dokter keluarga di Kelurahan Pulo Kerto harus tetap memantau kondisi
ibu yang melahirkan tersebut beserta janinnya. Selain itu, dokter budi juga harus mengedukasi pasien
tersebut mengenai kesehatan ibu dan anak, seperti misalnya makanan yang harus dikonsumsi ibu agar
bayinya mendapat asupan asi yang cukup. Dan juga dokter Budi sebaiknya menyarankan kepada Ibu
tersebut agar mau mengikuti program KB dengan menjelaskan secara rinci mengenai pilihan KB apa saja
yang dapat digunakan oleh ibu tersebut.