Anda di halaman 1dari 15

BAB II

PERENCANAAN PRODUKSI
2.1 Produk dan Produksi
Keberadaan produk dalam sistem ekonomi suatu negara sangat menentukan
tingkat kemakmuran penduduk yang tinggal di negara tersebut. Walaupun
banyaknya produk yang dihasilkan oleh suatu negara tidak dinyatakan dalam
satuan fisik masing-masing produk yang dihasilkan karena dijelaskan sebagai
GNP (Gross Domestic Products) atau NNP (Net National Products) dalam satuan
mata uang dollar, besaran ini terbentuk karena sejumlah unit produk dari
berbagai sektor berhasil diproduksi dan dikonsumsi atau dijual dalam upaya
meningkatkan kesejahteraan penduduk.
Produk dihasilkan oleh masyarakat baik melalui usaha pertanian, manufakturing,
konstruksi dan lain-lain dengan mengolah (mengkonversikan) sumberdaya
(alam) kedalam bentuk lain yang memiliki nilai manfaat lebih tinggi. Proses
konversi dapat berupa kegiatan dengan tahapan yang sedehana ataupun
kegiatan yang cukup kompleks dengan tahapan yang demikian panjang. Karena
produk yang dihasilkan oleh proses konversi harus memiliki nilai manfaat lebih
tinggi maka proses konversi dengan segala elemen pendukungnya harus
terencana dengan baik. Produk yang baik yaitu memiliki nilai manfaat yng tinggi
dan dihasilkan dengan penggunaan sumberdaya yang effisien tidak akan
diperoleh jika proses konversi dilakukan secara tidak terencana.
Sumberdaya

Prose
s Konversi

Produk

Gambar-2.1: Proses Konversi Sumberdaya Menjadi Produk


Berdasarkan pemahaman diatas maka proses konversi dengan semua kegiatan
pendukungnya yang secara bersama-sama disebut produksi (production)
didefinisikan sebagai kegiatan (acts) yang dilakukan secara terencana
(intentional) untuk menghasilkan sesuatu (products) yang berguna (Riggs, J.L,
1976). Pengertian umum tentang produk yang berguna (useful products) sangat
ditentukan oleh pengguna (users) dari produk tersebut yaitu kelompok
masyarakat yang dijadikan sebagai kelompok target dari produk tersebut. Oleh
karena itu useful products dapat diartikan sebagai marketable products (produkproduk yang mempunyai nilai pasar), saleable products (produk-produk yang
dapat dijual) dan lain-lain yang semuanya memiliki manfaat bagi manusia
(beneficial purpose for mankind) baik secara langsung maupun tidak langsung.
Sumberdaya yang dibutuhkan dalam proses konversi sangat beragam, namun
demikian dapat dikelompokkan dalam elemen material, mesin/ peralatan,

14

bangunan, utilitas, dan energi yang semuanya disebut input dan produk-produk
yang dihasilkan disebut output. Karena input adalah barang-barang ekonomi
yang ketersediaannya sangat terbatas maka proses konversi perlu dilaksanakan
secara terencana dan terkendali sehingga perbandingan nilai antara output dan
input dapat diperoleh sebesar-besarnya.
Dalam realita, proses konversi yang terencana dan terkendali yang dimaksud
sangat sulit dilakukan bahkan seringkali seakan-akan tidak terencana dan tidak
terkendali. Perencanaan sebagai salah satu fungsi manajemen berhubungan
dengan persiapan dan kegiatan untuk mendapatkan sesuatu di masa yang akan
datang. Perencanaan yang menjadi dasar dari kegiatan membutuhkan
serangkaian data dan informasi yang akurat yang berkaitan dengan situasi masa
yang akan datang. Ketidak tersediaan data akurat ini yang menjadi masalah
fundamental dalam produksi. Utuk meminimumkan pengaruh negatif dari ketidak
akuratan data dan informasi tersebut maka para pakar selalu berupaya untuk
terus mengembangkan teknik dan metode perencanaan produksi seperti telah
diuraikan dalam bab terdahulu.
2.2 Definisi dan Fungsi Perencanaan Produksi
2.2.1 Definisi dan Sasaran Pengendalian Produksi
The American Production and Inventory Control Society mendefinisikan
perencanaan produksi sebagai berikut:
Perencanaan produksi ialah suatu kegiatan yang berkenaan dengan penentuan
apa yang harus diproduksi, berapa banyak diproduksi, kapan diproduksi dan apa
sumberdaya yang dibutuhkan untuk mendapatkan produk yang telah ditetapkan.
Pengendalian produksi ialah fungsi yang mengarahkan atau mengatur
pergerakan material (bahan, part / komponen / subassembly dan produk melalui
seluruh siklus manufakturing mulai dari permintaan bahan baku sampai pada
pengiriman produk jadi kepada pelanggan.
Ada dua sasaran pokok yang sekali gus menjadi barometer keberhasilan
perencanaan dan pengendalian produksi yaitu:
. Tercapainya kepuasan pelanggan yang diukur dari terpenuhinya order
terhadap produk tepat waktu, tepat jumlah dan tepat mutu.
. Tercapainya tingkat utilitas sumberdaya produksi yang maksimum melalui minimisasi waktu setup, transportasi, waktu menunggu dan waktu untuk pengerjaan ulang (rework).
.Terhindarnya cara pengadaan yang bersifat rush order dan persediaan yang berlebihan

15

2.2.2 Fungsi Perencanaan dan Pengendalian Produksi


Fungsi yang dilakukan perencanaan dan pengendalian produksi (production
planning and control) yang sering disingkat sebagai pengendalian produksi
(production control) ialah:
. Perencanaan produksi:

-Mempersiapkan rencana produksi tingkat agregat


untuk seluruh pabrik
-Membuat jadwal penyelesaian setiap produk
-Merencanakan produksi dan pengadaan
komponen yang dibutuhkan dari luar (bough-out
items) dan bahan baku
-Menjadwalkan proses operasi setiap order pada
stasiun kerja terkait
-Menyampaikan jadwal penyelesaian setiap order
kepada para pemesan

. Perencanaan persediaan:-Mempersiapkan rencana persediaan pada tingkat


agregat yang meliputi bahan baku, work-in-progress
dan produk jadi.
-Merencanakan persediaan untuk masing-masing
item dengan memperhatikan faktor skala ekonomis,
waktu ancang-ancang pengadaan, ketidak pastian
permintaan dan tingkat pelayanan kepada
pelanggan.
.Perencanaan kapasitas: -Menyusun rencana kapasitas jangka panjang,
menengah dan pendek untuk mendapatkan rencana
jadwal produksi termasuk rencana jadwal kebutuhan
fasilitas produksi.
. Otorisasi produksi dan: -Otorisasi produksi melalui pengeluaran perintah kerja
pengadaan
-Otorisasi pengadaan bahan-bahan yang dibutuhkan
dari luar pabrik
.Pengendalian produksi: - Memantau, mencatat dan membuat laporan secara
terus-menerus tentang kemajuan pengerjaan orderorder pelanggan, tingkat persediaan dan kapasitas
produksi

16

Membandingkan hasil yang diperoleh dengan hasil


yang direncanakan
Mengoreksi penyimpangan terhadap
memecahkan masalah yang dihadapi

. Penyimpanan dan pe- :


mindahan bahan

rencana,

Menerima bahan dari vendor, menguji kesesuaian


(spesifikasi, jumlah, harga ) dengan order yang
disampaikan
Meletakkan bahan yang diterima dalam storeroom
Mengeluarkan bahan dari storeroom sesuai
permintaan dari lantai pabrik atau pengguna lainnya
Pengiriman produk jadi kepada pelanggan
Mengendalikan aliran bahan di lantai pabrik

Dari uraian diatas terlihat bahwa peranan dari fungsi perencanaan dan
pengendalian produksi dalam perusahaan yang berbasis manufakturing
merupakan sentral kegiatan karena menjadi penghubung antara fungsi
marketing dan fungsi manufakturing. Dalam uraian berikut akan dijelaskan lebih
rinci hubungan antar fungsi-fungsi dalam perusahaan menufakturing untuk
memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran dan kedudukan
fungsi perencanaan dan pengendalian produksi sebagai fungsi sentral. Dalam
literatur asing, istilah production planning and control (PPC) sering disingkat
menjadi production control tanpa maksud menghilangkan kegiatan planning.
Dalam uraian berikut ini, istilah perencanaan dan pengendalian produksi ditulis
pengendalian produksi yang maksudnya untuk mempersingkat istilah tetapi
maksudnya ialah perencanaan dan pengendalian produksi.
2.3 Sistem Produksi
Produksi dalam pengertian sederhana adalah keseluruhan proses dan operasi
yang dilakukan untuk menghasilkan produk atau jasa. Produk yang dihasilkan
sebagai output dari proses tersebut dapat berupa produk produk jadi yang sering
disebut produk akhir (finished products), produk setengah jadi (work-in-process)
atau bahan baku (raw materials) yang semuanya bersifat tangible (berwujud
fisik). Jasa (services) jang juga adalah output dari proses bersifat intangible
(berwujud non-fisik). Perbedaan yang paling mendasar antara kedua tipe output
tersebut ialah pada produk fisik, waktu untuk proses pembuatan dan pengiriman
(delivery) kepada pelanggan bersifat terpisah atau dapat dipisahkan sedangkan
pada jasa waktu proses dan pengiriman (delivery) kepada pelanggan adalah

17

simultan. Karena waktu proses dan pengiriman jasa kepada pelanggan bersifat
simultan maka masalah pengendaian mutu menjadi sangat kritikal.
Berdasarkan motifnya, kegiatan produksi dapat dibedakan atas tiga kelompok
yaitu motif produksi (production motive), motif laba (profit motive) dan motif
pelanggan (customer motive). Motif produksi ialah suatu keadaan dimana
kegiatan produksi dimotivasi terutama karena ketersediaan sumberdaya produksi
baik berupa bahan baku maupun tenaga terampil dan kapital. Jika seseorang
memiliki atau menguasai sumber bahan baku misalnya maka dia akan berupaya
melakukan aktivitas ekonomi terhadap sumber bahan tersebut seperti mengolah
atau menjualnya untuk mendapatkan penghasilan. Kegiatan ekonomi pada
umumnya hanya sebatas ketersediaan sumber tersebut karena jika pasar tidak
membutuhkan lagi maka kegiatan ekonomipun terhenti.
Kegiatan produksi dengan motif laba sedikit lebih maju dari motif produksi.
Kegiatan produksi dengan motif laba lebih ditentukan oleh adanya kesempatan
untuk memperoleh laba dan kegiatan produksi dipandang sebagai balas jasa
atas resiko kapital yang digunakan untuk melakukan kegiatan produksi.
Besarnya ekspektasi laba menjadi dasar penentuan besarnya aktivitas produksi.
Kapital yang digunakan tidak selalu harus dimiliki sendiri tetapi dapat berupa
milik pihak lain. Bila peluang laba tidak atau belum terlihat maka upaya untuk
melakukan kegiatan produksi sangat lemah.
Masalah yang terkait dengan kedua pandangan diatas ialah faktor laba dianggap
akan selalu terjamin (taken for granted) dan bukan untuk diciptakan. Dalam
sistem ekonomi klasik dimana kegiatan ekonomi masih kurang bersaing,
pendekatan-pendekatan diatas mungkin masih berjalan. Tetapi dalam sistem
ekonomi modern terlebih dalam era globalisasi yang sekarang berjalan semakin
cepat dalam suasana persaingan berjalan semakin tajam, kedua pendekatan
diatas jelas telah usang. Persaingan antar pelaku bisnis mau tak mau harus
semakin mengarah kepada pemenangan konsumen (consumers favour
competition). Sehubungan dengan situasi persaingan ini, Peter F. Drucker
mengatakan bahwa hanya bisnis yang berorientasi kepada pelanggan (customer
motive) yang akan memenangkan persaingan. Customer motive production
ditandai dari penetapan tujuan utama produksi yaitu memberikan kepuasan
kepada pelanggan (customers satisfaction). Tiga pilar pendukung terciptanya
kepuasan pelanggan ialah:
. Ketepatan waktu pengiriman produk kepada pelanggan (timeliness of
deliveries)
. Mutu produk yang sesuai dengan harapan pelanggan (acceptable proproduct quality)
. Harga jual produk yang bersaing (reasonable products prices).
Apabila para pelanggan dapat dipuaskan maka permintaan pelanggan terhadap
produk-produk atau jasa yang dihasilkan akan terus meningkat. Apabila dalam

18

suasana permintaan yang meningkat, kegiatan produksi dilakukan secara efisien


dan pada produktivitas yang tinggi maka laba yang wajar akan dapat diperoleh.
Terlihat dengan jelas bahwa kegiatan produksi dengan motif konsumen
menempatkan perolehan laba berdasakan kinerja atau prestasi kerja yang tinggi
untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan. Hal ini mengindikasikan bahwa
keterlibatan pelanggan dalam perencanaan produksi dan keterintegrasian semua
unsur perencanaan dan eksekusi rencana produksi dalam sistem (Gambar-2.2)
merupakan keharusan.

Konsumen

Marketing

Perancangan
Produk

Perancangan
Proses

Penjualan
dan
Pengiriman

Perencanaan /
Pengendalian
Produksi

Penyimpanan
Bahan

Penyimpanan
Produk

Proses
Manufakturing
(Lantai Pabrik)

Pembelian/
Pengadaan
Bahan

Pengendalian
Mutu

Vendor
Bahan

Penerimaan
Bahan

Akuntansi
Biaya /
Keuangan

Keterangan:

Aliran Informasi
Aliran bahan (produk dan bahan baku)
Aliran uang
Gambar-2.2: Sistem Produksi

Sistem produksi berawal dari pemahaman terhadap keinginan dan harapan para
pelanggan berdasarkan temuan-temuan dari kegiatan pemasaran termasuk permintaan langsung dari para pelanggan terhadap produk-produk tertentu. Data
dan informasi tentang keinginan pelanggan kemudian diterjemahkan kedalam
bentuk rancangan produk atau jasa untuk mengetahui tentang part, komponen

19

dan sub-assembly apa yang dibutuhkan termasuk dimensi (ukuran dan


spesifikasidan jenis bahan), bentuk dan jumlah masing-masing item yang
dibutuhkan untuk setiap unit produk yang akan dibuat. Berdasarkan hasil
rancangan ini kemudian ditentukan proses pembuatan (manufacturing) di lantai
pabrik yang meliputi tahapan proses, teknologi proses yang akan digunakan
pada setiap tahapan, estimasi waktu setup (setup time), waktu operasi (running
time) dan waktu pindah antar proses (move time) dan lain-lain.
Data dan informasi yang telah tersedia kemudian disampaikan kepada bagian
cost accounting untuk menilai kelayakan pembiayaan dan penerimaan. Bila
dinilai layak maka diteruskan kepada pimpinan untuk disahkan. Setelah
mendapatkan pengesahan kemudian disusun rencana dan program pengolahan
di lantai pabrik yang meliputi jadwal tentatif proses operasi, jadwal dan jumlah
kebutuhan bahan baku (raw materials) dan bahan tambahan dari luar (boughtout items) dan jadwal operasi dan kapasitas fasilitas produksi yang akan
digunakan dan lain-lain. Berdasarkan jadwal-jadwal tersebut, rencana
pengadaan bahan, kapasitas stasiun kerja, tenaga operator disusun dan
kemudian diimplementasikan.
Monitoring dan pengendalian operasi di lantai pabrik dilakukan secara rutin untuk
memastikan tidak terjadi penyimpangan termasuk penyimpangan mutu
(spesifikasi) dari setiap item yang dikerjakan. Apabila penyimpangan tidak dapat
dihindarkan maka tindakan perbaikan yang meliputi penjadwalan ulang sisa
operasi di lantai pabrik segera dilakukan, pengadaan tambahan bahan bila
diperlukan dan sebagainya. Beberapa sumber penyimpangan yang umum terjadi
ialah kesalahan dalam pembuatan rancangan part dan komponen, kekeliruan
dalam penentuan waktu setup dan operasi, ketidaksesuaian mutu bahan,
kerusakan pada fasilitas produksi dan lain-lain. Produk yang telah selesai di
kirim ke gudang penyimpanan untuk dikirimkan kepada para pelanggan sesuai
dengan jadwal pengiriman yang disepakati.
2.3 Organ-organ Kelengkapan Perusahaan Manufakturing
Untuk melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan, operasi dan pemeliharaan
seperti dijelaskan diatas, perusahaan manufakturing sebagaimana juga halnya
dengan perusahaan non-manufakturing, harus memiliki organ pelaksana.
Misalnya, fungsi-fungsi keuangan, personalia, pembelian, dan pemasaran yang
masing-masing merupakan fungsi spesifik dilakukan oleh Bagian Keuangan,
Bagian Personalia, Bagian Pembelian dan seterusnya. Karena kegiatan produksi
adalah sebuah jaringan (network) yang membentuk kesatuan kegiatan dari
operasi yang paling hulu (perencanaan) hingga operasi yang paling hilir
(pengiriman produk kepada pelanggan) maka hubungan fungsional dari seluruh
organ yang ada harus jelas, bersinergis dan tidak tumpang tindih. Beberapa
organ yang tipikal pada perusahaan manufakturing seperti unit perancangan
produk (design & engineering), unit penentuan dan penyusunan proses operasi
(production engineering), unit penentuan jenis bahan yang dibutuhkan (quality

20

engineering), unit perencanaan program dan pengendalian produksi di lantai


pabrik (production planning and control disingkat production control) dan unit
pengolahan (manufacturing). Secara diagramatik, hubungan sinergis antar
organ-organ tersebut dapat digambarkan seperti terlihat dalam Gambar-2.3.
M
A
R
K
E
T

Marketing

Design
Engineering

Quality
Engineering

&

Sales and
Shipping

Warehousing

Manufacturing

Production
Control

Purchasing

Store Room

C
U
S
T
O
M
E
R
S

Keterangan :

Accounting
& Finance

Vendors

Production
Engineering

Aliran informasi
Aliran bahan
Aliran finansial

Gambar-2.3: Hubungan Fungs-Fungsi Pada Perusahaan


Manufakturing
Perlu diketahui bahwa cakupan fungsi dari masing-masing organ sangat
tergantung kepada ukuran perusahaan manufaktur dan tingkat kompleksitas
kegiatan yang dilakukan. Pada perusahaan yang berukuran besar, fungsi
perancangan, pengujian bahan dan pengujian proses mungkin harus dilakukan
oleh bagian yang terpisah masing-masing yaitu design engineering, quality
engineering dan production engineering. Tetapi pada perusahaan skala kecil dan
menengah, ketiga fungsi tersebut dapat disatukan dalam satu bagian yaitu
Bagian Design& Engineering. Tetapi fungsi perencanaan dan pengendalian
produksi sangat jarang sekali digabung dengan dengan fungsi-fungsi lain karena
ruang lingkup tugasnya yang demikian besar sehingga dilaksanakan oleh
Bagian Production Control. Ruang lingkup kegiatan pengendalian produksi
secara garis besar adalah seperti terlihat dalam Gambar-2.4.
Disamping itu Bagian Quality Control yang secara tradisional merupakan bagian
yang berdiri sendiri dengan tugas melakukan perencanan dan pengndalian mutu
baik di lantai pabrik maupun di lokasi penerimaan bahan, dalam sistem produksi
modern dilebur kedalam setiap unit pelaksana kegiatan dalam arti setiap
pelaksana kegiatan bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengendalian mutu
pada pekerjaan masing-masing. Peleburan tanggung jawab pengendalian mutu

21

pada setiap unit lebih menjamin terciptanya pekerjaan bermutu dari pada
dilakukan oleh satu unit tersendiri.

Market &
Customers

Demand and
order entry

Long range
capacity
planning

Demand
forecasting

Production
engineering

Medium range
capacity
planning

Inventory
control

Production
Control
Function

Purchasing

Short range
requirements
planning

Shop scheduling,
monitoring and
control

Manufacturing
Function
Testing

Customers

Shippi
ng

Assembling

Warehouse
facility

Machining

Storag
e

Receiving

Gambar-2.4: Hubungan Antara Production Control Function dan


Manufacturing Function Dalam Sistem Manufakturing
(Sumber: Bedworth, DD,1987)

2.4 Lingkungan Manufakturing


2.4.1 Klasifikasi Operasi Manufakturing
Cara-cara atau tipe proses operasi manufakturing pada dasarnya dapat
diklasifikasi sebagai proyek, job, batch, repetitif dan operasi kontinu. Pemilihan
terhadap proses operasi yang sesuai untuk digunakan tergantung kepada jumlah
produk akhir atau part / komponen yang akan diproduksi dan sumberdaya yang
dibutuhkan untuk menghasilkan produk tersebut.

22

Operasi manufakturing disebut proyek apabila pekerjaan yang dilakukan bersifat


unik, relatif berskala besar yang ditujukan untuk pembuatan satu atau beberapa
produk akhir yang harus diselesaikan dalam waktu yang ditentukan. Masingmasing produk akhir yang diproduksi dikerjakan secara khusus untuk memenuhi
permintaan tertentu. Berbagai tipe produk yang secara umum dikerjakan sebagai
projek antara lain ialah bangunan, dam, jalan raya, kapal laut, pesawat udara
dan lain-lain yang pada umumnya berbiaya tinggi dan memakan waktu relative
lama. Pekerjaan yang dilakukan sangat beragam, sering berupa kegiatan
multifungsi. Order pelanggan bersifat kontraktual dimana penyerahan produk
merupakan akhir dari proyek.
Berbeda dengan proyek, operasi manufakturing disebut job apabila order
membutuhkan kegiatan berskala kecil, dengan output yang terdiri dari satu atau
beberapa item yang identik, bersifat custom-made (dibuat untuk memenuhi
keinginan khusus pemesan). Beberapa contoh dari job ialah operasi
manufakturing untuk pembuatan barang-barang cor khusus (special-purpose
casting), operasi pemesinan khusus (specific operation machining) dan lain-lain.
Job dapat dikatakan sebagai sebuah proyek skala kecil dimana pekerjaan
dilakukan dalam sebuah pabrik berskala kecil yang disebut job shop oleh para
profesional atau orang-orang berjiwa dagang yang memiliki keterampilan.
Apabila job mencakup pembuatan sejumlah produk akhir yang identik, produkproduk itu akan diproduksi secara batch. Produk-produk yang sejenis atau
dikelompokkan dan order terhadap produk sejenis tersebut dibagi kedalam
beberapa batch. Proses operasi dilakukan batch per batch dan setiap batch yang
selesai langsung dikirim kepada pemesan. Terdapat kecenderungan bahwa
setiap batch. Terdapat kecenderungan bahwa setiap batch adalah produk-produk
standar agar proses manufakturing dari satu batch ke batch yang lain tidak
membutuhkan waktu setup yang minimum, pengadaan material yang
memungkinkan pemotongan harga akibat pembelian dalam skala besar.
Operasi manufakturing yang bersifat repetitif ataupun kontinu ditandai dari
operasi untuk memproduksi produk yang identik dalam volume besar Karena
volumenya besar maka operasi dilakukan berulang-ulang sampai seluruh order
selesai dikerjakan. Operasi manufakturing yang repetitive dan kontinu sering
juga disebut flow shops karena material bergerak secara mulus dengan hanya
sedikit atau tidak ada interupsi. Produk-produk yang sering dibuat secara repetitif
adalah produk-produk yang bersifat diskrit seperti mobil, komputer, televise dan
lain-lain. Peralatan yang digunakan dalam operasi manufakturing yang repetitif
dirancang dengan maksud tunggal untuk menghasilkan efeisiensi yang tinggi.
Para operator dilatih dalam keterampilan yang sempit untuk melakukan
pekerjaan yang tidak terlalu bervariasi.
Produk-produk yang dihasilkan dalam operasi manufakturing kontinu mengalir
melalui tahapan proses tanpa interupsi antar proses. Produk-produk yang tipikal
untuk operasi manufakturing yang kontinu ialah produk-produk berbentuk fluida

23

seperti minyak bumi dalam proses penyulingan, berbentuk butiran seperti pupuk
urea, batubara, berbentuk bubur seperti pulp dan lain-lain. Operasi
manufakturing cara hibrida juga tidak jarang ditemukan misalnya produksi secara
batch melalui proses operasi repetitif atau kontinu. Pada awal operasi dilakukan
operasi secara batch dan kemudian pada tahap berikutnya proses dimodifikasi
untuk memproduksi batch untuk produk yang berbeda.
Nicholas, J.M., (1998) menggambarkan kedudukan relatif proyek, job, repetitive
dan kontinu dalam hubungannya dengan kebutuhan sumberdaya perunut dan
volume produksi dalam diagram seperti ditunjukkan dalam Gambar-2.5.
Tinggi
Kontinu

Volume
Produksi
Repetitif

Job

Rendah
Rendah

Proyek

Medium
Sumberdaya per Unit

Tinggi

Gambar-2.5: Posisi Relatif Operasi Manufakturing


Proyek, Job, Repetitif dan Kontinu
2.4.2 Klasifikasi Posisi Produk
Pada dasarnya, perencanaan dan pengendalian produksi membedakan empat
tipe posisi produk dalam lingkungan manufakturing yang masing-masing
memberikan pengaruh yang berbeda terhadap proses perencanaan dan
pengendalian. Keempat tipe yang dimaksud adalah:
. Engineering to order : Pelanggan menyediakan spesifikasi dari produk yang
diinginkannya dan berdasarkan spesifikasi tersebut
perusahaan membuat disain, menyediakan bahan,
membuat part / komponen, merakit, menguji kinerja
produk dan kemudian mengirim produk kepada
pelanggan. Kegiatan produksi dilakukan apabila
pelanggan telah datang mengajukan order. Bills of
materials, gambar-gambar teknik dan perintah kerja

24

dipersiapkan perusahaan secara terpisah untuk setiap


order.
Isu-isu kunci pengendalian produksi dalam lingkungan
operasi ini ialah mengenai estimasi waktu ancangancang untuk penentuan jadwal penyerahan order
kepada masing-masing pelanggan. Karena engineering
adalah bagian dari waktu ancang-ancang maka
pengendalian produksi harus mencakup kegiatan
engineering. Disamping itu, karena sifatnya memnuhi
order satu per satu maka peramalan permintaan jangka
pendek tidak diperlukan tetapi peramalan jangka panjang
masih relevan khususnya untuk penyediaan kapasitas.
. Make to order

: Pelanggan menyediakan spesifikasi dan disain produk


dan
berdasarkan
disain
tersebut
perusahaan
menyediakan bahan, pembuatan part dan komponen,
merakit dan mengirimkan produk kepada pelanggan.
Sama seperti engineering to order kegiatan produksi
dilakukan apabila pelanggan telah mengajukan
permintaan. Karena engineering design disediakan oleh
pelanggan maka perencanaan dan pengendalian
produksi tidak mencakup kegiatan engineering.
Tipe make-to-order sering dijumpai pada perusahaan
industri mesin-mesin dimana original equipment
manufacturer sering mesubkontrakkan pembuatan
sebagian komponen mesin-mesin yang diproduksinya.
Perusahaan yang menerima order subkontrak ini disebut
beroperasi berdasarkan tipe make-to-order

.Assembly to order

:Perusahaan menyediakan sejumlah model dasar dari


produk tetapi dilengkapi dengan berbagai alternatif dan
variasi yang diperkiraakan akan memperkaya pilihan bagi
pelanggan. Pelanggan melakukan pemilihan terhadap
model dan variasi yang diinginkannya produk dan tipe
yang diinginkan dari alternatif yang tersedia. Kegiatan
produksi dilakukan untuk membuat komponen-komponen
standar dengan semua variasinya dan perakitan produk
akhir dilakukan setelah pelanggan mengajukan
permintaan.
Rencana produksi disusun berdasarkan peramalan
permintaan terhadap model dasar, pilihan-pilhan dan
variasi produk. Aspek kritis dalam pengendalian produksi

25

ialah peramalan permintaan untuk pilihan-pilihan dan


variasinya.
. Make to stock

: Pelanggan tidak mempunyai kesempatan untuk memilih


sesuai dengan seleranya tetapi membeli langsung
produk yang sudah jadi dari persediaan. Kegiatan produk
dilakukan untuk mengisi persediaan yang jumlahnya
dinyatakan dalam jadwal induk produksi. Jadwal induk
produksi disusun berdasarkan peramalan terhadap
potensi permintaan pelanggan untuk setiap produk jadi.
Untuk mengantisipasi kekurangan persediaan khususnya
akibat fluktuasi permintaan yang sering diluar batas
antisipasi normal maka persediaan pengaman (safety
stock) ditentukan. Isu utama dalam tipe make-to-order
ialah permamalan permintaan dan penentuan persediaan
pengaman.

Ke empat tipe posisi produk dalam lingkungan manufakturing diatas


menunjukkan bahwa dalam dua tipe lingkungan yang pertama, para pelanggan
terlibat secara tidak langsung dalam proses perencanaan karena mereka
menyediakan sendiri spesifikasi atau disain produk yang akan dibuat di lantai
pabrik. Dengan demikian, kegiatan produksi hanya dilakukan setelah pelanggan
mengajukan order kepada perusahaan. Tipe lingkungan yang ke tiga yaitu
assembly to order, pelanggan diberi kesempatan untuk memilih secara terbatas
terhadap model dan variasi yang sudah disediakan.
Juga telah dijelaskan bahwa perusahaan melakukan peramalan terhadap potensi
permintaan terhadap setiap model dan variasi dan berdasarkan hasil peramalan
kegiatan produksi dilakukan untuk membentuk persediaan. Order pelanggan
dipenuhi dengan merakit part dan komponen-komponen yang dari persediaan
sesuai dengan konfigurasi yang diinginkan pelanggan. Pada tipe lingkungan
keempat, pelanggan tidak dapat memilih alternatif tetapi memesan secara
langsung produk yang sudah jadi. Perusahaan meramalkan potensi permintaan
pelanggan dan kemudian memproduksi untuk disimpan dalam persediaan. Order
pelanggan dipenuhi secara langsung dari persedian. Keempat tipe lingkungan
produksi tersebut dapat digambarkan seperti terlihat dalam Gambar 2.6.
Seperti telah diuraikan dimuka tujuan utama dari perencanaan dan pengendalian
produksi ialah untuk meyakinkan semua pihak terkait bahwa produk yang
diinginkan dapat diproduksi pada waktu yang tepat, dalam jumlah yang tepat dan
memenuhi spesifikasi mutu yang ditetapkan dan biaya operasi yang minimum.
Juga telah dijelaskan bahwa, perencanaan dan pengendalian produksi pada
perusahaan manufakturing mencakup berbagai kegiatan secara terintegrasi
mulai dari mendapatkan permintaan produk dari pelanggan, menterjemahkan
permintaan ke dalam rencana manufakturing yang fisibel, menyusun rencana
detail kebutuhan dan aliran bahan (bill of materials), menyusun rencana

26

kebutuhan kapasitas dan terakhir ialah menyusun jadwal eksekusi (shopfloor


manufacturing scheduling) dan rencana pengadaan bahan dari vendor.
Engineering to order
Make to order
Assembly to order
Make to
stock
Engineering

Procurement Manufacturing

Assembly

Delivery

Gambar-2.6: Empat Tipe Posisi Produksi


Manfaat utama yang diharapkan dengan pengintegrasiaan kegiatan-kegiatan
diatas adalah waktu ancang-ancang manufakturing lebih pendek, persediaan
yang minimum, penggunaan kapasitas produksi yang efisien dan jam lembur
operator yang minimum.
2.5 Struktur Organisasi
Kedudukan Departemen Perencanaan dan Pengendalian Produksi (disingkat
Departemen Pengendalian Produksi) dalam struktur organisasi perusahaan
manufakturing pada umumnya berbeda antara satu perusahaan dengan
perusahaan lain dan sangat ditentukan oleh besarnya perusahaan serta jumlah
pabrik yang dikelola. Pada perusahaan yang mengelola banyak pabrik yang satu
sama lain membuat produk yang tidak memiliki keterkaitan, masing-masing
pabrik memiliki sendiri departemen tersebut. Tetapi apabila memiliki keterkaitan
misalnya part atau komponen yang dibuat pada satu pabrik diangkut kepabrik
lain untuk dirakit dengan part atau komponen yang dibuat dipabrik lain maka
Departemen Pengendalian Produksi sering disentralisasi seperti terlihat dalam
Gambar-2.7.

27

Ditektur
Utama
Bendahara

Dir Marketing

Dir Keuangan
Akunting

Manajer
Engineering

Sekretaris

Dir Manufakturing

Manajer
Pembelian

Dir Product
Engineering

Dir Hubungan
Industri

Manajer
Perencanaan Prod.
dan Persediaan

Penjadwalan
Produksi

Pengendalian
Persediaan

Manajer
Pabrik

Pengendalian
Produksi

Gambar-2.7: Pengendalian Produksi Dalam


Struktur Organisasi
Tradisional

28