Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN V

HUKUM OHM
I.

Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat :
1. Menunjukkan cara pengukuran tegangan listrik.
2. Menunjukkan cara pengukuran arus listrik.
3. Menginterpretasikan grafik hubungan tegangan dan arus listrik.
4. Menentukan besar hambatan suatu penghantar.

II.

Alat dan Bahan


1. Panel hukum Ohm

4. Amperemeter DC

2. Kabel penghubung

5. Sumber

tegangan

(baterai)

3. Voltmeter DC
III.

Dasar Teori
Untuk menghasilkan arus listrik pada rangkaian, dibutuhkan beda potensial. Satu cara
untuk menghasilkan beda potensial adalah dengan baterai. Baterai adalah sumber energi
dielektrik.Jika suatu baterai tidak mengalami hilangnya energi baterai. Kalau tidak diberi
keterangan lebih lanjut, maka beda potensial antara kedua kutub baterai dianggap sama
dengan ggl-nya. Satuan ggl adalah sama dengan satuan beda potensial, yakni volt. (Frederick
J. Bueche: 1989)
George Simon Ohm (1787-1854) menentukan dengan eksperimen bahwa arus pada
kawat logam sebanding dengan beda potensial V yang diberikan ke ujung-ujungnya:
IV
Arus (I) dikatakan ada dalam sesuatu ruang, apabila dalam ruang itu terjadi
perpindahan muatan listrik dari titik yang satu ke titik yang lain. Misalkan muatan itu
mengalir dalam kawat. Jika muatan sebesar q dipindahkan melalui luas penampang kawat
dalam waktu t, maka arus dalam kawat adalah:
I

q
t

Di sini q diukur dalam coulomb, t dalam detik, dan I dalam ampere (1A=1C/s)
Definisi satu ampere adalah satu coulomb muatan yang bergerak melalui sebuah titik
dalam satu sekon. Arus listrik dapat terjadi apabila di dalam sebuah rangkaian terdapat beda
potensial. Hubungan antara kuat arus listrik dan beda potensial listrik secara grafik dapat
dilihat pada Gambar 9.1. Hubungan linier antara kuat arus dan beda potensial menunjukkan
makin besar beda potensial makin besar kuat arusnya. Hubungan kesebandingan antara beda
potensial dan kuat arus perlu adanya faktor pembanding yang disebut hambatan.

Hambatan dapat didefinisikan sebagai perbandingan beda potensial di dalam


konduktor dengan arus dalam konduktor tersebut. Makin tinggi hambatan, makin kecil arus
untuk suatu tegangan V sehingga arus berbanding terbalik dengan hambatan. Ketika kita
gabungkan hal ini dan kesebandingan di atas, kita dapatkan:

V
I

Persamaan ini akan digunakan berulang kali dalam mempelajari rangkaian listrik.
Dari hasil ini, dapt diketahui bahwa hambatan memiliki satuan SI volt per ampere yang
didefinisikan sebagai satu Ohm ().
1

1V
1A

(Raymond A. Serway dan John W. Jewett, Jr.: 2010)


Persamaan di atas dengan kualifikasi bahwa R konstan, memberikan pernyataan
matematik Hukum Ohm.
Akan sangat membantu jika kita bandingkan arus listrik dengan aliran air di sungai
atau pipa yang dipengaruhi oleh gravitasi. Jika pipa (atau sungai) hampir rata, kecepatan alir
akan kecil. Tetapi jika satu ujung lebih tinggi dari yang lainnya, kecepatan aliran atau arusakan lebih besar. Makin besar perbedaan ketinggian, makin besar arus. Potensial listrik
analog, pada kasus gravitasi, dengan ketinggian tebing; dan hal itu berlaku pada kasus ini
untuk ketinggian darimana fluida mengalir. Sama seperti penambahan ketinggian
menyebabkan aliran air yang lebih besar, demikian pula beda potensial listrik yang lebih
besar, atau tegangan, menyebabkan aliran arus listrik menjadi lebih besar.
Tepatnya berapa besar aliran arus pada kawat tidak hanya bergantung pada tegangan,
tetapi juga pada hambatan yang diberikan kawat terhadap aliran elektron. Dinding-dinding
pipa, atau tepian sungai dan batu-batu di tengahnya, memberikan hambatan terhadap aliran
arus. Dengan cara yang sama, elektron-elektron diperlambat karena adanya interaksi dengan
atom-atom kawat. Makin tinggi hambatan ini, makin kecil arus untuk suatu tegangan V. Kita
kemudian mendefinisikan hambatan sehingga arus berbanding terbalik dengan hambatan.
(Douglas Giancoli.2001. Hlm 67)
Untuk material nonohmik, perbandingan V/I bergantung pada arus, sehingga
arus tidak sebanding dengan beda potensial. Untuk nonohmik, resistansi R, seperti

didefinisikan oleh persamaan di atas, bergantung pada arus I. Gambar di bawah menunjukann
beda potensial V terhadap arus I untuk material Ohmik dan nonomik. Untuk material Ohmik
(kurva bawah), hubungannya linier, sehungga R=VI tidak bergantung pada I; tapi untuk
material nonohmik (kurva atas) hubungannya tidak linier dan R=V/I bergantung pada I.
Hukum Ohm bukan hukum fundamental alam sepeti hukum Newton atau termodinamika tapi
merupakan deskripsi empirik dari sifat yang dimiliki banyak material. (Paul A Tipler. 2001.
Hlm:141 )
IV.

Analisis Data
Kuat Arus Tetap

10

0,2

10

0,2

10

0,3

10

0,4

10

0,4

20

0,4

20

0,5

20

0,6

20

0,7

20

0,8

30

0,6

30

0,8

30

0,9

30

1,0

30

1,2

40

0,8

40

1,0

40

1,2

40

1,4

40

1,6

50

1,0

50

1,2

50

1,5

50

1,8

50

2,0

Hambatan Tetap

V.

20

0,2

20

0,4

20

0,6

20

0,8

20

1,0

25

0,2

25

0,5

25

0,8

25

1,0

25

1,2

30

0,3

30

0,6

30

0,9

30

1,2

30

1,5

35

0,4

35

0,7

35

1,0

35

1,4

35

1,7

40

0,4

40

0,8

40

1,2

40

1,6

40

2,0

Analisis Data

||

| ||

| ||

||

|
||

|
|

||

| ||

|
|

|
|

||
||

|
|

Anda mungkin juga menyukai