Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

PRINSIP
1. Berdassarkan proses difusi ada media pertumbuhan dan ukuran diameter
lubang difusi.
2. Berdasarkan tingkat kekeruhan yang terjadi pada media
3. Berdasarkan ada tidaknya pertumbuhan mikroba pada media.

1.2

TUJUAN
1. Untuk menentukan konsentrasi hambat minimum pada ekstrak daun
pecut kuda dengan metode difusi lubang perforasi
2. Untuk menentukan KHM CuSO4 dengan metode turbidimetri.
3. Untuk membandingan aktifitas antimikroba dari bahan alam dan produk
komersial.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mikrobiologi adalah suatu cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang
mikroorganisme dan interaksi mereka dengan organisme lain dan lingkungannya.
(Singleton.2006).
Sejarah tentang mikroba dimulai dengan ditemukannya mikroskop oleh
Leeuwenhoek

(1633-1723).

Mikroskop

temuan

tersebut

masih

sangat

sederhana, dilengkapi satu lensa dengan jarak fokus yang sangat pendek, tetapi
dapat menghasilkan bayangan jelas yang perbesarannya antara 50-300 kali. (Skou,
dan Sogaard Jensen. 2007).
Mikroba ialah jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk
bertahan hidup. Jasad tersebut dapat hidup hampir di semua tempat di permukaan
bumi. Mikroba mampu beradaptasi dengan lingkungan yang sangat dingin hingga
lingkungan yang relative panas, dari ligkungan yang asam hingga basa.
Berdasarkan peranannya, mikroba dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
mikroba menguntungkan dan mikroba merugikan (Afriyanto 2005).
Mikroorganisme adalah makhluk hidup yang memiliki aktivitas yang berupa
tumbuh dan berkembang. Kadang kala pertumbuhan dan perkembangan
mikroorganisme ini terganggu. Hal ini dapat dipengaruhi baik dari mikroba itu
sendiri ataupun dari luar. Salah satu pengaruh yang paling berkompoten adalah
antimikroba (Gobel, 2008). Anti mikroba adalah senyawa yang dapat
menghambat atau membunuh mikroorganisme hidup. Senyawa yang dapat
menghambat pertumbuhan bakteri disebut bakteriostatik dan yang dapat
membunuh bakteri disebut bakterisida. Atau dengan kata lain disebut juga
antiboitika yaitu bahan-bahan yang bersumber hayati yang pada kadar rendah
sudah menghambat pertumbuhan mikroorganisme hidup (Gobel, 2008).
Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau
menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara. Senyawa

antimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan mekanisme daya


kerjanya atau tujuan penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara fisik atau
kimia dan berdasarkan peruntukannya dapat berupa desinfektan, antiseptic,
sterilizer, sanitizer dan sebagainya (Lutfi 2004).
Mekanisme daya kerja antimikroba terhadap sel dapat dibedakan atas
beberapa

kelompok

sebagai

berikut

diantaranya

merusak

dinding

sel,

mengganggu permeabiitas sel, merusak molekul protein dan asam nukleat,


menghambat aktivitas enzim, menghambat sintesa asam nukleat. Aktivitas
antimikroba yang dapat diamati secara langsung adalah perkembangbiakannya.
Oleh karena itu antimikroba dibagi menjadi dua macam yaitu antibiotic dan
disinfektan. Antibiotik adalah senyawa yang dihasilkan oleh microorganisme
tertentu yang mempunyai kemapuan menghambat pertumbuhan bakteri atau
bahkan membunuh bakteri walaupun dalam konsentrasi yang rendah. Antibiotik
digunakan untuk menghentikan aktivitas mikroba pada jaringan tubuh makhluk
hidup sedangkan desinfektan bekerja dalam menghambat atau menghentikan
pertumbuhan mikroba pada benda tak hidup, seperti meja, alat gelas, dan lain
sebagainya. Pembagian kedua kelompok antimikroba tersebut tidak hanya
didasarkan pada aplikasi penerapannya melainkan juga terhadap konsentrasi
mikroba yang digunakan (Soekardjo 1995).
Antibiotik adalah bahan yang dihasilkan oleh mikroorganisme atau sintetis
yang dalam jumlah kecil mampu menekan menghambat atau membunuh
mikroorganisme lainnya. Antibiotik memiliki spektrum aktivitas antibiosis yang
beragam. Antiseptik adalah zat yang biasa digunakan untuk menghambat
pertumbuhan dan membunuh mikroorganisme berbahaya (patogenik) yang
terdapat pada permukaan tubuh luar mahluk hidup. Secara umum, antiseptik
berbeda dengan obat-obatan maupun disinfektan. Disinfektan yaitu suatu senyawa
kimia yang dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan benda
mati seperti meja, lantai dan pisau bedah sedangkan antiseptik digunakan untuk
menekan pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan tubuh, misalnya kulit. Zat
antiseptik yang umum digunakan diantaranya adalah iodium, hidrogen peroksida
dan asam borak. Kekuatan masing-masing zat antiseptik tersebut berbeda-beda.

Ada yang memiliki kekuatan yang sangat tinggi, ada pula yang bereaksi
dengan cepat ketika membunuh mikroorganisme dan sebaliknya. Sebagai contoh
merkuri klorida, zat antiseptik yang sangat kuat, akan tetapi dapat menyebabkan
iritasi bila digunakan pada bagian tubuh atau jaringan lembut. Perak nitrat
memiliki kekuatan membunuh yang lebih rendah, tetapi aman digunakan pada
jaringan yang lembut, seperti mata atau tenggorokan. Iodium dapat memusnahkan
mikroorganisme dalam waktu kurang dari 30 detik. Antiseptik lain bekerja lebih
lambat, tetapi memiliki efek yang cukup lama. Kekuatan suatu zat antiseptik
biasanya dinyatakan sebagai perbandingan antara kekuatan zat antiseptik tertentu
terhadap kekuatan antiseptik dari fenol (pada kondisi dan mikroorganisme yang
sama), atau yang lebih dikenal sebagai koefisien fenol (coefficient of phenol).
Fenol sendiri, pertama kali digunakan sebagai zat antiseptik oleh Joseph Lister
pada proses pembedahan (Dwidjoseputro, 1994).
Mekanisme kerja antiseptik terhadap mikroorganisme berbeda-beda,
misalnya saja dengan mendehidrasi (mengeringkan) bakteri, mengoksidasi sel
bakteri, mengkoagulasi (menggumpalkan) cairan di sekitar bakteri, atau meracuni
sel bakteri. Beberapa contoh antiseptik diantaranya adalah yodium (povidene
iodine 10%), hydrogen peroksida, etakridin laktat (rivanol), dan alkohol
(Ayumi,2011).
Aktivitas antibakteri diuji dengan metode difusi agar menggunakan
cakram kertas dan dengan metode pengenceran agar. Metode difusi agar
dilakukan dengan cara mencampur sebanyak 50 ml masing-masing suspense
Bakteri ke dalam 15 ml media agar yang telah dicairkan dalam cawan petri dan
kemudian dibiarkan menjadi padat. Cakram kertas dengan diameter 6 mm
diletakkan pada permukaan media padat. Dibiarkan selama 3 menit pada suhu
kamar sebelum dimasukkan ke incubator 370 C (Adryana, et al,,2009dalam Putra,
2011).
Zat antimikroba adalah senyawa yang dapat membunuh atau menghambat
pertumbuhan mikroorganisme. Zat antimikroba dapat bersifat membunuh
mikroorganisme (microbicidal) atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme

(microbiostatic). Disinfektan yaitu suatu senyawa kimia yang dapat menekan


pertumbuhan mikroorganisme pada permukaan benda mati seperti meja, lantai
dan pisau bedah. Adapun antiseptik adalah senyawa kimia yang digunakan untuk
menekan pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan tubuh, misalnya kulit.
Efisiensi dan efektivitas disinfektan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
1. Konsentrasi
2. Waktu terpapar
3. Jenis mikroba
4. Kondisi lingkungan: temperatur, pH dan jenis tempat hidup.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Prosedur Percobaan
3.1.1 Metode Difusi Lubang Perforasi
1. Disiapkan 2 buah cawan petri steril, kemudian isi masing-masing
dengan 1 mL mikroba uji.
Pemilihan jenis mikroba uji tergantung pada dugaan khasiat bahan
alam yang akan diujikan. Misalnya : bahan alam yang diduga
berkhasiat sebagai antidiare, di uji aktivitasnya menggunakan mikroba
uji bakteri Escherichia coli atau bakteri lain yang hidup atau pathogen
pada saluran pencernaan.
2. Kedalam tiap cawan petri isi 15 mL media NA, dihomogenkan,
diamkan dalam suhu kamar sampai memadat.
3. Tiap cawan dibuat lubang-lubang sumuran dengan menggunakan
perforator steril.
4. Ke dalam tiap lubang sumuran isi satu nilai konsentrasi bahan alam
yang akan diuji aktivitasnya. Jumlah bahan alam 50 mikroliter.
5. Setelah itu cawan di pra-inkubasi 15 menit, kemudian inkubasi pada
suhu sesuai dengan mikroba uji. Cawan yang berisi bakteri pada 37C
selama 24 jam, kapang pada suhu kamar selama 5-7 hari, khamir 2530C selama 3 hari.
6. Setelah diinkubasi amati cawan petri adanya hambatan terhadap
pertumbuhan mikroba uji.
7. Konsentrasi bahan alam uji yang memberikan zona hambat dengan
diameter 14-16 mm, disebut Konsentrasi Hambat Minimum
8. Bahan alam uji dengan nilai KHM yang pling kecil menunjukan
aktivitas antimikroba yang terbaik.

3.1.2 Metode Turbidimetri


1. Disiapkan 20 tabung reaksi steril (beri nomor 1-10 dan 11-20), 1 pipet 1
mL steril, 1 pipet 10 mL steril, 200 mL media LB steril, 1 mL bahan uji-1
(antibiotika), 1 mL bahan uji-2 (tembaga sulfat), 20 mL suspense isolate
bakteri-1, 20 mL suspense isolat bakteri-2.
2. Isikan tabung 1-8 dengan 8 mL media LB, 9 tabung dengan 10 mL media
LB, tabung 10 dengan 9 mL media LB + 1 mL suspense bakteri-1 atau
bakteri-2
3. Pipet 1 mL bahan uji-1 (antibiotika), masukan dalam tabung-1, aduk
homogen.
4. Pipet 1 mL larutan dari tabung-1, masukan dalam tabung-2, aduk
homogeny
5. Lakukan pekerjaan yang sama untuk tabung 3,4,5,6,7,8 ; tabung 9 dan 10
digunakan sebagai control (tidak mengandung bahan uji)
6. Ke dalam sepuluh tabung tadi dimasukan 1,0 mL suspense bakteri-1 atau
bakteri-2
7. Inkubasi semua tabung pada suhu 35-37C selama 24 jam
8. Hitung konsentrasi bahan uji pada setiap tabung, lakukan pengamatan
kekeruhannya dan tentukan nomor tabung yang merupakan KHM terhadap
bakteri-1 atau bakteri-2
9. Lakukan pekerjaan yang sama terhadap bahan uji-2 (tembaga sulfat).
Gunakan tabung reaksi nomor 11-20
3.1.3 Pengujian Sidik Jari
1. Disiapkan 6 cawan petri steril, 100 mL media NA steril, 2 jenis antiseptika
komersial, 2 jenis bahan alam (daun beraroma terapi, missal: daun
kemangi, daun beluntas)
2. Buat media plat NA sebanyak cawan petri yang disediakan (6 buah)
3. Oleskan bahan uji-1 pada telapak tangan kanan orang praktikan
(secukupnya). Setelah 5 menit, orang ke-1 diminta menempelkan 3 jari
(telunjuk, jari tengah dan jari manis) diatas media plat ke-1

4. Selang 5 menit kemudian, orangke-2 menempelkan jari-jari yang sama


pada plat ke-2 ; kemudian 5 menit berikutnya orang ke-3 melakukan hal
yang sama pada plat ke-3
5. Semua sukarelawan boleh mencuci tangan dank e 3 plat yang telah di sidik
jari di imkubasi pada suhu 35-37C selama 24-48 jam
6. Pengamatan dilakukan terhadap ada/ tidaknya pertumbuhan mikroba pada
ke 3 plat. Pelat yang tidak menunjukan pertumbuhan mikroba dianggap
memiliki waktu kontak dengan antiseptika yang paling efektif
7. Lakukan pekerjaan yang sama dengan bahan uji ke-2 (bahan alam),
dengan cara menggosok dan tersebut di dalam telapak, kemudian
ditempelkan pada media plat(sidik jari) seperti pada pengujian bahan uji
ke-1. Catat pengamatan dan bandingkan.
3.2. Hasil Percobaan
1. Metode Difusi Lubang Perforasi
NO CAWAN
KONSENTRASI
DIAMETER RATA-RATA
C1.1
20%
14.76
C1.2
40%
17.3
C1.3
50%
23.3
C2.1
20%
19.53
C2.2
40%
22.3
C2.3
50%
23.73
Standar Diferensiasi Cawan 1 4.3852 mm
Standar Diferensiasi Cawan 2 2.1353 mm
Konsentrasi Hambat Minimum = 14.76 mm
2. Metode Turbidimetri
NO TABUNG
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

KONSENTRASI
2%
0.2%
0.02%
0.002%
0.0002%
0.00002%
0.000002%
0.0000002%

WARNA
Warna biru jernih
Warna biru pudar jernih
Warna biru hilang larutan jernih
Larutan tidak terlalu keruh
Larutan agak keruh
Larutan keruh
Larutan keruh
Larutan keruh
Larutan jernih
Larutan keruh

3. Pengujian Sidik Jari


Bahan Uji
Antiseptik Komersial
t = 5 menit
t = 30 menit
Jahe
t = 5 menit
t = 30 menit

Hasil Pengamatan
Tidak terdapat pertumbuhan mikroba
Tidak terdapat pertumbuhan mikroba
Terdapat pertumbuhan mikroba
Terdapat pertumbuhan mikroba

BAB IV
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
4.1. Pembahasan
1. Metode Difusi Lubang Perforasi
Pada uji aktifitas bahan alam dengan metode difusi lubang perforasi,
yang bertujuan untuk menguji aktifitas mikroba dari daun ekstrak pecut
kuda dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu 20%, 40%, dan 50%.
Bakteri yang menjadi bahan uji ialah Escherichia coli, dengan
menggunakan media NA sebagai media tumbuh. Media yang telah
mengandung bakteri di beri lubang senayak 3 dengan jarak tertentu untuk
ektrak pecut kuda yang berbeda konsentrasi. Setelah diinkubasi selama 24
jam, hasil pengamtan yang didapat yaitu pada konsentrasi pecut kuda 20%,
diameter rata-rata hambatan mikroba sebesar 17.15 mm, 40% sebesar 19.8
dan 50% sebesar 23.52% dengan standar deferensiasi cawan 1 sebesar
4.3852 mm dan cawan 2 sebesar 2.1235 mm, sehingga nilai KHMnya
sebesar 14.17 mm.
2. Metode Turbudensi
Pada percobaan uji aktifitas bahan alam dengan metode turbulensi,
bahan yang digunakan ialah CuSO4 dengan kadar 2%. CuSO4 memiliki
sifat dapat mengahambat pertumbuhan mikroba, karena memiliki sifat
antiseptic. Bakteri yang digunakan yaitu Escherechia coli dengan
menggunakan media cair berupa lactose broth (LB), pada percobaan ini
diunakan 8 tabung untuk pengujian kekeruhan dan 2 tabung sebagai uji
blanko. Pada blanko untuk tabung 9 hanya diisi dengan media LB saja dan
pada tabung 10 diisi media dan bakteri uji saja. Sementara pada tabung 1-8
diisi dengan media, senyawa uji berupa CuSO4 2% yang diencerkan untuk
setiap tabung dan bakteri uji. Setelah diinkubasi selama 24 jam, tabung
yang menunjukan adanya daya hambat dari senyawa CuSO4 ialah pada
tabung 1-3, sementara tabung 4-8 menunjukan adanya pertumbuhan

bakteri dengan terbentuknya kekeruhan. Sehingga konsentrasi minimum


yang didapat ialah pada tabung 3, yaitu sebesar 0.002%, yang artinya
senyawa CuSO4 dapat mengahmbat pertumbuhan bakteri pada konsentrasi
0.002%.
3. Pengujian Sidik Jari
Pada percobaan pengujian sidik jari, bahan yang diuji berupa
antiseptic komersial dan bahan alam yaitu jahe. Kedua bahan tersebut diuji
dengan cara menempelkan bahan uji pada jari selama 5-30 menit yang
diinokulasi pada media tumbuh NA. Pada hasil pengamatan, setelah
diinkubasi selama 24 jam, pada produk antiseptic komersial, tidak terdapat
pertumbuhan bakteri pada kedua media, yang mengindikasikan bahwa
produk antiseptic komersial tersebut dapat mengahambat pertumbuhan
bakteri bahkan setelah didiamkan selama 30 menit. Tetapi pada hasil
pengamatan pada produk bahann alam (jahe), terdapat pertumbuhan
bakteri pada kedua media baik yang didiamkan selama 5 menit ataupun 30
menit. Hal ini menunjukan bahwajahe kurang mampu menghambat
pertumbuhan bakteri, meskipun dibeberapa literature menyebtkan bahwa
jahe dapat berkhasiat sebagai antiseptic khususnya untuk mengobati
jerawat. Jahe memerlukan sedikit banyak waktu dan konsentrasi yang
cukup untuk membunuh mikroba. Sementara antiseptic mempunyai
konsentrasi

yang telah ditentukan oleh produsennya, danmampu

menghambat pertumbuhan bakteri dengan cepat.

4.2. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :
1. Konsentrasi hambat minimum dari ekstrak daun pecut kuda ialah sebesar
20%.
2. Konsentrasi hambat minimum CuSO4 adalah sebesar 0.002%.

3. Antiseptik komersial lebih efektif menghambat pertumbuhan mikroba


daripada senyawa bahan alam jahe.

DAFTAR PUSTAKA
Dwijoseputro. 1994. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djembatan
Pelczar M.J. dan Chan. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 1. Jakarta : UI
Press.
Staf Laboratoruim Farmasi UNJANI, 2014, Penuntun Praktikum Mikrobiologi
Farmasi, Laboratorium Farmasi UNJANI.

LAMPIRAN-LAMPIRAN
LAMPIRAN I
GAMBAR HASIL PENGAMATAN

Anda mungkin juga menyukai