Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

PARTUS PREMATURUS IMINENS

Pembimbing :
dr. RATNA DEWI PUSPITA SARI, Sp.OG

Penyusun :
Dian Revita Sari S.ked

KEPANITERAAN KLINIK ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. H. ABDUL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Pada tahun 1935, American Academy of Pediatrics mendefinisikan prematuritas


sebagai bayi yang lahir hidup dengan berat badan 2500 gram atau kurang (Cone,
1985). Kriteria ini digunakan luas sampai didapatkan adanya ketidaksesuaian
antara usia gestasi dan berat lahir akibat pertumbuhan janin yang terhambat.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1961 menambahkan usia gestasi
sebagai satu kriteria bayi prematur, yaitu bayi yang lahir pada usia gestasi 37
minggu atau kurang. Dibuat pembedaan antara berat badan lahir rendah (2500g
atau kurang) dan prematuritas (37 minggu atau kurang).
Lembaga lain telah mengusulkan bahwa kelahiran preterm didefinisikan sebagai
bayi yang dilahirkan sebelum lengkap 37 minggu (American College of
Obstetricians and Gynecologist, 1995).
Sampai saat ini mortalitas dan morbiditas neonatus pada bayi preterm/ prematur
masih sangat tinggi. Hal ini berkaitan dengan maturitas organ pada bayi lahir
seperti paru, otak dan gastrointestinal. Di negara Barat sampai 80% dari kematian
neonatus adalah akibat prematuritas, dan pada bayi yang selamat 10% mengalami
permasalahan dalam jangka panjang. Penyebab persalinan preterm sering dapat
dikenali dengan jelas. Namun, pada banyak kasus penyebab pasti tidak dapat
diketahui. Beberapa faktor mempunyai andil dalam terjadinya persalinan preterm
seperti faktor pada ibu, faktor janin dan plasenta, ataupun faktor lain seperti
sosioekonomik. Pendekatan obstetrik yang baik terhadap persalinan preterm akan
memberikan harapan terhadap ketahanan hidup dan kualitas hidup bayi preterm.
Di beberapa negara maju Angka Kematian Neonatal pada persalinan prematur
menunjukkan penurunan, yang umumnya disebabkan oleh meningkatnya peranan
neonatal intensive care dan akses yang lebih baik dari pelayanan ini.

BAB II
PEMBAHASAN

DEFINISI
Persalinan preterm dapat di definisikan sebagai persalinan yang terjadi antara usia
kehamilan 20-37 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir (ACOG,1997).
Badan Kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa bayi prematur adalah bayi
yang lahir pada usia kehamilan 37 minggu atau kurang.
Himpunan Kedokteran Fetomaternal POGI di Semarang tahun 2005 menetapkan
bahwa persalinan preterm adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan 2237 minggu .
Dari beberapa pengertian partus prematurus diatas dapat disimpulkan bahwa
partus prematurus iminen adalah adanya suatu ancaman pada kehamilan dimana
akan timbul persalinan pada umur kehamilan yang belum aterm (20 sampai 37
minggu) .

ETIOLOGI DAN FAKTOR PREDISPOSISI


Persalinan prematur merupakan kelainan proses yang multifaktorial. Kombinasi
keadaan obstetrik, sosiodemografi, dan faktor medik mempunyai pengaruh
terhadap terjadinya persalinan prematur. Kadang hanya risiko tunggal dijumpai
seperti distensi berlebih uterus, ketuban pecah dini, atau trauma. Banyak kasus
persalinan prematur sebagai akibat proses patogenik yang merupakan mediator
biokimia yang mempunyai dampak terjadinya kontraksi rahim dan perubahan
serviks, yaitu:
1. Aktivasi aksis kelenjar hipotalamus-hipofisis-adrenal baik pada ibu
maupun janin, akibat stres pada ibu atau janin
2. Inflamasi desidua-korioamnion atau sistemik akibat infeksi asenden dari
traktus genitourinaria atau infeksi sistemik

3. Perdarahan desidua
4. Peregangan uterus patologik
5. Kelainan pada uterus atau serviks

Dengan demikian, untuk memprediksi kemungkinan terjadinya persalinan


prematur harus dicermati beberapa kondisi yang dapat menimbulkan kontraksi,.
Kondisi-kondisi selama kehamilan yang berisiko terjadinya persalinan preterm
adalah:
Janin dan plasenta
o

Perdarahan trimester awal

Perdarahan antepartum (plasenta previa, solusio plasenta, vasa previa)

Ketuban pecah dini (KPD)

Pertumbuhan janin terhambat

Cacat bawaan janin

Kehamilan ganda/ gemeli

Polihidramnion

Ibu
o

Penyakit berat pada ibu

Diabetes melitus

Preeklampsia/ hipertensi

Infeksi saluran kemih/ genital/ intrauterin

Penyakit infeksi dengan demam

Stres psikologik

Kelainan bentuk uterus/ serviks

Riwayat persalinan preterm/ abortus berulang

Inkompetensi serviks (panjang serviks kurang dari 1 cm)

Pemakaian obat narkotik

Trauma

Perokok berat

Kelainan imunologi/kelainan resus

Persalinan prematur akan meningkat kejadiannya pada keadaan-keadaan sebagai


berikut :
1.

Karakteristik Pasien:
a.

Status sosio-ekonomi yang rendah. Termasuk didalamnya penghasilan


yang rendah, pendidikan rendah, dan nutrisi yang kurang.

b.

Ras. Di Amerika orang kulit hitam yang melahirkan prematur lebih


banyak dibandingkan dengan orang kulit putih (16,3% berbanding
7,7%).

c.

Umur. Kehamilan pada usia 16 tahun dan primi gravida >30 tahun.

d.

Riwayat pernah melahirkan prematur satu kali mempunyai resiko 4 kali


lipat, sedangkan yang pernah melahirkan dua kali prematur mempunyai
resiko 6 kali lipat.

e.

Pekerjaan dan aktivitas. Pekerjaan fisik yang berat, tekanan mental


(stres) atau kecemasan yang tinggi dapat meningkatkan kejadian
prematur.

2.

f.

Merokok lebih dari 10 batang sehari.

g.

Penggunaan obat bius/ kokain.

Komplikasi kehamilan yang merupakan faktor predisposisi


a.

Infeksi

saluran kemih. Bakteriuri

tanpa

gejala (asymptomatic

bacteriuri) dan pielonefritis.


b.

Penyakit ibu. Hipertensi dalam kehamilan, asma, hipertiroidi, penyakit


jantung, kecanduan obat, kolestasis, dan anemi dengan Hb <9 gram%

c.

Keadaan yang menyebabkan distensi uterus berlebihan, yaitu :


kehamilan multipel, hidramnion, diabetes, dan isoimunisasi Rh.

d.

Perdarahan antepartum.

e.

Infeksi umum pada ibu

f.

Tindakan bedah pada ibu selama kehamilan

g.

Kehamilan dengan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) in situ


(kegagalan AKDR).

TANDA DAN GEJALA


Partus prematurus iminen ditandai dengan :
a.

Kontraksi uterus dengan atau tanpa rasa sakit

b. Rasa berat dipanggul


c.

Kejang uterus yang mirip dengan dismenorea

d. Keluarnya cairan pervaginam


e.

Nyeri punggung

DIAGNOSIS
Sering terjadi kesulitan dalam menentukan diagnosis ancaman persalinan preterm.
Tidak jarang kontraksi yang timbul pada kehamilan tidak benar-benar merupakan
ancaman proses persalinan. Beberapa kriteria dapat dipakai sebagai diagnosis
ancaman persalinan preterm, yaitu:
-

Kontraksi yang berulang sedikitnya setiap 7 8 menit sekali, atau 2 3 kali


dalam waktu 10 menit

Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain)

Perdarahan bercak

Perasaan menekan daerah serviks

Pemeriksaan serviks menunjukkan telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm


dan penipisan 50-80%

Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina isiadika

Selaput ketuban pecah dapat merupakan tanda awal terjadinya persalinan


preterm

Terjadi pada usia kehamilan 22 37 minggu

PERSIAPAN UNTUK PERSALINAN PRETERM :


Cara utama untuk mengurangi risiko persalinan preterm dapat dilakukan sejak
awal, sebelum tanda-tanda persalinan muncul. Dimulai dengan pengenalan pasien
yang berisiko, untuk diberi penjelasan dan dilakukan penilaian klinik terhadap
persalinan preterm serta pengenalan kontraksi sedini mungkin, sehingga tindakan
pencegahan dapat segera dilakukan. Pemeriksaan serviks tidak lazim dilakukan

pada kunjungan antenatal, sebenarnya pemeriksaan tersebut mempunyai manfaat


cukup besar dalam meramalkan terjadinya persalinan preterm. Bila dijumpai
serviks pendek (< 1 cm) disertai dengan pembukaan yang merupakan tanda
serviks matang/inkompetensi serviks, mempunyai risiko terjadinya persalinan
preterm 3 4 kali.
Beberapa indikator dapat dipakai untuk meramalkan terjadinya persalinan
preterm, sebagai berikut:
-

Indikator klinik
Indikator klinik yang dapat dijumpai seperti timbulnya kontraksi dan
pemendekan serviks (secara manual maupun ultrasonografi). Terjadinya
ketuban pecah dini juga meramalkan akan terjadinya persalinan preterm.

Indikator laboratorik
Beberapa indikator laboratorik yang bermakna antara lain adalah: jumlah
leukosit dalam air ketuban (20/ml atau lebih), pemeriksaan CRP (>0,7
mg/ml), dan pemeriksaan leukosit dalam serum ibu (> 13.000/ml).

Indikator biokimia
o

Fibronektin janin : peningkatan kadar fibronektin janin pada vagina,


serviks, dan air ketuban memberikan indikasi adanya gangguan pada
hubungan antara korion dan desidua. Pada kehamilan 24 minggu atau
lebih, kadar fibronektin janin 50 ng/ml atau lebih mengindikasikan risiko
persalinan preterm.

Corticotropin releasing hormone (CRH) : peningkatan CRH dini atau


pada trimester 2 merupakan indikator kuat untuk terjadinya persalinan
preterm.

Sitokin inflamasi : seperti IL-1, IL-6, IL-8, dan TNF- telah diteliti
sebagai mediator yang mungkin berperan dalam sintesis prostaglandin.

Isoferitin plasenta : pada keadaan normal (tidak hamil) kadar isoferitin


sebesar 10U/ml. Kadarnya meningkat secara bermakna selama kehamilan
dan mencapai puncak pada trimester akhir yaitu 54,8 53 U/ml.
Penurunan kadar dalam serum akan berisiko terjadinya persalinan
preterm.

PENANGANAN UMUM
Menejemen persalinan preterm bergantung pada beberapa faktor.
1.

Keadaan selaput ketuban. Pada umumnya persalinan tidak dihambat bila


selaput ketuban sudah pecah

2.

Pembukaan serviks. Persalinan akan sulit dicegah bila pembukaan sudah


mencapai 4 cm

3.

Umur

kehamilan.

Makin

muda

usia

kehamilan,

upaya

mencegah

persalinanmakin peril dilakukan. Persalinan dapat dipertimbnagkan bila TBJ


> 2.000 atau kehamilan > 34 minggu.
4.

Penyebab/ komplikasi persalinan preterm

5.

Kemampuan neonatal intensive care facilities.

Prinsip penanganan Persalinan preterm lakukan evakuasi keadaan umum ibu ,


upayakan melakukan konfirmasi umur kehamilan bayi. Adapun hal yang perlu
diketahui dalam penanganan umum persalinan preterm adalah :
a.

Umur kehamilan, karena lebih bisa dipercaya untuk penentuan prognosis


daripada berat janin.

b.

Demam atau tidak

c.

Kondisi janin (jumlahnya, letak / presentasi, taksiran berat janin, hidup/gawat


janin/mati, kelainan kongenital dan sebagainya dengan USG)

d.

Letak plasenta perlu diketahui untuk mengantisipasi irisan sectio cesarea

e.

Fasilitas dari petugas yang mampu menangani calon bayi terutama adanya
seorang neonatologis, bila perlu dirujuk

PENATALAKSANAAN
1.

Tokolitik
a. Etanol : inhibisi kerja hipofisis posterior sehingga pengeluaran oksitosin
dihambat (menghambat letdown reflex). Sekarang jarang dipakai karena
efek sampingnya berat terhadap ibu (muntah, gastritis, aspirasi, dan
asidosis) serta depresi janin.

b. Magnesium sulfat : obat ini lebih populer, bekerja efektif dengan dosis
awal 4 gram intravena dilanjutkan dengan 1-3 gram/jam. Efek samping
adalah napas pendek atau depresi pernapasan. Antidotumnya kalsium
glukonas.
c. Golongan 2 adrenergik sangat sering dipakai untuk menghentikan
kontraksi prematur. Mekanisme aksi dari 2 mimetik adalah merangsang
reseptor 2 pada otot polos uterus sehingga terjadi relaksasi dan hilangnya
kontraksi.
Obat yang sering dipakai adalah:
o Terbutalin : 0,25 mg diberikan di bawah kulit setiap 30 menit
maksimum 6 kali, selanjutnya dipertahankan dengan dosis 5 mg per
oral 4-6 jam.
o Ritodrin : diberikan secara infus intravena maksimum 0,35 mg/ menit
sampai 6 jam sampai setelah kontraksi hilang, lalu dipertahankan
dengan pemberian oral 10 mg setiap 2-6 jam.
Efek samping pada ibu berupa takikardi, palpitasi, hipertensi, tremor,
nausea, iritabilitas sampai asidosis metabolik, Ritodrin tidak boleh
diberikan pada ibu dengan preeklampsia, hipertensi dalam kehamilan
lainnya, ibu dengan penyakit jantung, diabetes, dan infeksi intrauterin.
Bila diberikan 2-3 hari sebelum anak lahir, dapat terjadi hipoglikemi,
hipotensi, dan hipokalsemi pada neonatus.

2.

Pematangan paru janin


a. Pemberian

kortikosteroid

terbukti

menurunkan

kejadian

RDS

(Respiratory Distress Syndrome) bila dibrerikan pada umur kehamilan 2834 minggu dan 24 jam sebelum persalinan.
b. Pemberian surfaktan (surfaktan) : hasilnya sangat baik dalam menurunkan
kematian, namun harganya sangat mahal.

Bila kontraksi rahim prematur tak dapat dihentikan dan persalinan tak dapat
dicegah, pimpinan partus prematurus harus sebaik mungkin. Tujuannya ialah
untuk menghindarkan trauma bagi anak yang masih lemah.
a. Partus tidak boleh berlangsung terlalu lama, tetapi sebaliknya jangan pula
terlalu cepat.
b. Jangan memecahkan ketuban sebelum pembukaan lengkap.
c. Buatlah episiotomi medialis.
d. Kalau persalinan perlu diselesaikan, pilih forseps daripada ekstraksi
vakum.
e. Jangan mempergunakan narkosis.
f. Tali pusat secepat mungkin digunting untuk menghindarkan ikterus
neonatorum yang berat.
Bila tempat persalinan tidak mempunyai fasilitas untuk merawat bayi prematur,
ibu dengan risiko tinggi harus dirujuk sebelum persalinan terjadi. Rahim ibu
adalah inkubator terbaik.

PENCEGAHAN
Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah persalinan preterm
antara lain sebagai berikut.
- Hindari kehamilan pada ibu muda (kurang dari 17 tahun)
- Hindari jarak kehamilan terlalu dekat
- Menggunakan kesempatan periksa hamil dan memperoleh pelayanan antenatal
yang baik
- Anjuran tidak merokok maupun mengonsumsi obat terlarang (narkotik)
- Hindari kerja berat dan perlu cukup istirahat
- Obati penyakit yang dapat menyebabkan persalinan preterm
- Kenali dan obati infeksi genital/ saluran kencing
- Deteksi dan pengamanan faktor risiko terhadap persalinan preterm2
- Menghilangkan / mengurangi faktor risiko (stres pekerjaan) dengan istirahat,
perbaikan gizi, dan mengobati anemi.

- Tidak melakukan hubungan seksual setelah 20 minggu pada ibu risiko tinggi.
- Pemantauan kemungkinan adanya kontraksi rahim dengan tokodinamometer.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama


mencegah morbiditas dan mortalitas neonatus preterm adalah:
- Menghambat proses persalinan preterm dengan pemberian tokolisis
- Pematangan surfaktan paru janin dengan kortikosteroid
- Bila perlu dilakukan pencegahan terhadap infeksi.

PROGNOSIS

Pada pusat pelayanan yang maju dengan fasilitas yang optimal, bayi yang lahir
dengan berat 2.000 sampai 2.500 gram mempunyai harapan hidup lebih dari 97
persen. 1500 sampai 2.000 gram lebih dari 90 persen dan 1.000 sampai 1.500
gram sebesar 65-80 persen (Mansjoer, 2002).

KOMPLIKASI

Prematurnya masa gestasi akan dapat mengakibatkan ketidakmatangan pada


semua sistem organ. Baik itu pada sistem pernapasan (organ paru-paru), sistem
peredaran darah (jantung), sistem pencernaan dan sistem saraf pusat (otak).
Ketidakmatangan pada sistem-sistem organ itulah yang membuat bayi prematur
cenderung mengalami kelainan dibandingkan bayi normal. Kelainan itu bisa
berupa :
1. Sindroma gangguan pernapasan.
Kelainan ini terjadi karena kurang matangnya paru-paru, sehingga jumlah
surfaktan (cairan pelapis paru-paru) kurang dari normal. Ini menyebabkan
paru-paru tidak dapat berkembang sempurna.

2. Perdarahan otak
Biasanya terjadi pada minggu pertama kelahiran, terutama pada bayi prematur
yang lahir kurang dari 34 minggu. Pendarahan otak ini menyebabkan bayi
prematur tumbuh menjadi anak yang relatif kurang cerdas, dibanding anak
yang lahir normal.

3. Kelainan jantung
Yang sering terjadi adalah Patent Ductus Arteriosus, yaitu adanya hubungan
antara aorta dengan pembuluh darah jantung yang menuju paru-paru.

4. Kelainan usus
Ini disebabkan akibat imaturitas atau kurang mampu dalam menerima nutrisi.

5. Anemia dan infeksi


Belum matangnya fungsi semua organ tubuh, membuat bayi prematur
menghadapi berbagai masalah. Seperti mudah dingin, lupa napas, mudah
infeksi karena sensor otaknya belum sempurna, pengosongan lambung
terhambat (refluks), kuning dan kebutaan .

BAB III
KESIMPULAN

Prematurus iminen adalah adanya suatu ancaman pada kehamilan dimana akan
timbul persalinan pada umur kehamilan yang belum aterm (28 sampai 37 minggu.

Persalinan premature merupakan kelainan proses yang multifaktorial. Kombinasi


keasdaan obstetri, sosisodemografi dan faktor medic mempunyai pengaruh
terjadinya persalinanprematur. Kadang hanya resiko tunggal dijumpai seperti
distensi berlebih uterus, ketuban pecah dini, atau trauma.

Menejemen persalinanpreterm bergantung pada beberapa faktor seperti keadaan


selaput ketuban, Pembukaan serviks, Umur kehamilan, Penyebab/ komplikasi
persalinan preterm, Kemampuan neonatal intensive care facilities.

Ada 3 kemungkinan tindak lanjut pada partus premature iminen, antara lain
Pertahankan Janin hingga kelahiran aterm, Tunda persalinan 2-3 hari untuk
memberikan obat pematangan paru janin, Biarkan terjadi persalinan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada persalinan preterm, terutama


mencegah morbiditas dan mortalitas neonates preterm adalah : Menghambat
proses persalinan preterm dengan pemberian tokolitik dan tirah baring,
Pematangan surfaktan paru janin dengan kortikosteroid, kortikosteroid diberikan
bila usia kehamilan kurang dari 35 minggu, serta pencegahan infeksi bila perlu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Gilstrap LC, Hauth JC,
Wenstrom KD. Preterm birth. In : Williams Obstetrics 22nd ed. McGrawHill New York. 2005: 855-73.
2. Mochtar AB. Persalinan preterm. Dalam: Winkjosastro H, Saifuddin AB,
Rachimhadhi T. Ed. Ilmu Kebidanan. Edisi 3. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta 2008.
3. Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Partus prematurus. Dalam:
Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah F. Ed. Obstetri
Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta 2003.
4. Praworihardjo, Sarwono. Persalinan Preterm. Ilmu Kebidanan: 667-675,
2010.
5. Epidemiologi

Prematuritas.

Diunduh

dari

http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/j.1471-0528.2005.00575.x/pdf
6. Komplikasi

Prematuritas

terhadap

neonatus.

Diunduh

dari

http://www.americanpregnancy.org/labornbirth/complicationspremature.ht
m

Anda mungkin juga menyukai