Anda di halaman 1dari 48

Undang-Undang

Tindak Pidana Korupsi


UU Nomor 3 tahun 1971 dirubah/diganti
dengan UU Nomor 31 tahun 1999
Diundangkan di Jakarta tgl.16 Agustus 1999
Diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001
Diundangkan di Jakarta tgl. 21 November 2001
1

Perbandingan Bab dan Pasal


UU. 3 th.1971
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Ketentuan Umum. 2
Penyidikan & penuntutan11
Pemeriksaan dipengadilan.. 10
Mengadili ABRI 4
Ketentuan Pidana... 9
Penutup. 1
Jumlah 37

UU.31 th.1999
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ketentuan Umum. 1
T P K.. 19
TP lain berkaitan.. 4
Dik, Tut & pemeriksaan di pengadilan..16
Peran serta masy. 2
Ketentuan lain1
Penutup.. 2
Jumlah. 45
2

Bab yang dihilangkan


Bab. 4. Tentang Mengadili Anggota ABRI, yang

semula terdiri dari 4 pasal, dalam UU baru ini


ditiadakan.
Kaitan dengan peradilan militer tercantum dalam
bab.4. pasal 39 dan 40 sbb ;
39. Jaksa Agung mengkoordinasikan dan mengendalikan Lid,
Dik, dan Tut TPK yang dilakukan bersama oleh orang yang
tunduk pada peradilan umum dan peradilan militer.

40. Mengajukan TPK di peradilan militer (jo. pasal 123 (1) g. UU.
no. 31 th 1997 tentang peradilan militer) tidak dapat
diberlakukan.
3

Bab Baru ;
Bab.5. Tentang Peran Serta Masyarakat.

Diantaranya hak untuk memperoleh perlindungan


hukum atas peran serta yang diberikan.
Bab.6. Ketentuan Lain.
Menyatakan paling lambat 2 tahun sejak UU ini di
berlakukan , dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi , yang melakukan koordinasi dan supervisi, Lid, Dik dan Tut, yang terdiri dari unsur
pemerintah dan unsur masyarakat.
4

Pasal-pasal baru yang menonjol


Pasal 4.

Pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomian negara tidak menghapuskan dipidananya pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud
dalam pasal 2 dan pasal 3.
Pasal 16.
Setiap orang diluar wilayah RI yang memberi
bantuan, kesempatan, sarana atau keterangan
untuk terjadi TPK di pidana sama sebagai pelaku.
5

Pasal 18.

(2). Jika terpidana tidak membayar uang pengganti


kurang dari 1 bulan dari putusan pengadilan, dapat
dilakukan penyitaan dan pelelangan atas harta
bendanya.
(3). Jika harta yang disita tidak cukup dapat dipidana
penjara.

Pasal 22.

(1). Jika penyidik beranggapan tidak cukup bukti


tetapi telah ada kerugian negara, maka segera
menyerahkan berkas perkara ke Jaksa Pengacara
Negara untuk dilakukan gugatan perdata.
(2). Putusan TPK bebas tidak menghapus hak untuk
menuntut kerugian negara.

Pasal 33.

Jika dalam penyidikan tersangka meninggal


dunia, sedangkan ada kerugian negara, penyidik
segera menyerahkan berkas ke Jaksa
Pengacara Negara atau instansi dirugikan untuk
dilakukan gugatan perdata ke ahli warisnya.
Pasal 34.

---sda---- jika meninggal di sidang pengadilan.


8

Bab.1. Ketentuan Umum


Semula 2 pasal menjadi 1 pasal yang mengemu-

kakan rumusan Korporasi dan Pegawai Negeri.


Perumusan TPK yang semula ada di ketentuan
umum, lebih dirinci dalam bab.2 dan bab.3 yang
merupakan bab yang khusus mengatur masalah
TPK berikut ketentuan pidananya (semula diatur
dalam bab.5).
9

Pegawai Negeri
UU. 31 th. 1971 UU.31 th. 1999
Meliputi juga orang-orang yg
menerima gaji atau upah dari
keuangan negara atau daerah
atau yang menerima gaji atau
upah dari suatu badan/badan
hukum yg menerima bantuan
dari keuangan negara atau
daerah, atau badan hukum
lain yang mempergunakan
modal dan kelonggarankelonggaran dari negara atau
masyarakat.

a.

b.
c.

d.

e.

PN yg dimaksud UU Kepeg.
PN yg dimaksud KUHP.
Orang yg menerima gaji/
upah dari keuangan negara/
daerah.
Orang yg menerima gaji/
upah dari suatu korporasi
yg menerima bantuan dari
keuangan negara/daerah.
---sda--- yg mempergunakan
modal/fasilitas dari negara/
masyarakat.
10

Pasal 92 KUHP
1)

2)

3)

Dalam sebutan Pegawai Negeri (PN) termasuk sekalian


orang yg dipilih dalam pemilihan yg diadakan menurut
peraturan-peraturan umum, dan juga orang yang bukan
karena pilihan menjadi anggota suatu dewan pembuat UU,
pemerintahan atau perwakilan yg dibentuk oleh atau atas
nama Pemerintah.
Dalam sebutan PN dan hakim termasuk segala hakim
wasit, dalam sebutan hakim termasuk mereka yang menjalankan kekuasaan mengadili tata usaha pemerintahan,
demikian juga ketua dan anggota pengadilan agama.
Sekalian orang yang masuk angkatan bersenjata dianggap
sebagai Pegawai Negeri.
11

Korporasi
Pasal 1 ayat 1.

Adalah kumpulan orang dan atau kekayaan


yang terorganisasi baik merupakan badan
hukum maupun bukan badan hukum.
Pasal 1 ayat 3.

Setiap orang adalah orang perseorangan atau


termasuk korporasi.
12

Bab.2. Tindak Pidana Korupsi


Bab ini terdiri dari 19 pasal yang selain mengungkapkan
rumusan TPK itu sendiri juga dinyatakan tentang ketentuan
pidananya, selain pidana penjara dan denda, dapat dijatuhi
pidana tambahan berupa perampasan barang, pembayaran
uang pengganti, penutupan perusahaan dan pencabutan
hak (pasal 17 dan 18).
Pidana mati dapat dijatuhkan dalam hal TPK pasal 2 (1)
dilakukan dalam keadaan tertentu. (pasal 2 ayat 2).
Pasal-pasal KUHP yang semula diangkat ke TPK dalam
pasal 1 ayat 1 sub c, untuk masing-masing pasal KUHP
tersebut dinyatakan dalam pasal sendiri-sendiri kecuali
pasal 388 KUHP yang ditiadakan.

13

Bab.2. TPK , pasal 2 s.d pasal 20.


1.

2.

TPK Pokok
TPK KUHP

2 pasal : 2, 3, 4.
8 pasal : 5 s.d 12.

TP Penyuapan pasal 209, 210, 418, 419, 420


TP Penggelapan pasal 415, 416, 417 KUHP
TP Kerakusan pasal 423 dan 425 KUHP
TP Berkaitan dengan Rekanan pasal 387, 435

di pasal; 5,6,11,12.
di pasal; 8,9,10.
di pasal; 12.
di pasal 7,12.

TPK Suap
1 pasal : 13.
4.
TPK ditegaskan UU
1 pasal : 14.
5.
TPK Percobaan, perbantuan, permufakatan
2 pasal : 15, 16.
Pasal 18 dan 19
: Pidana tambahan.
Pasal 20
: Tindak pidana korporasi.
3.

14

Perubahan dalam UU No. 20-2001


Pasal 5 s.d 12 tidak mengacu ke KUHP tetapi

langsung menyebutkan unsur-unsur yang


terdapat dalam pasal KUHP dimaksud :
Pasal 5
Pasal 6
Pasal 7
Pasal 8
Pasal 9
Pasal 10
Pasal 11
Pasal 12

: pasal 209 KUHP


: pasal 210 KUHP
: pasal 387 atau 388 KUHP
: pasal 415 KUHP
: pasal 416 KUHP
: pasal 417 KUHP
: pasal 418 KUHP
: pasal 419,420,423,425,435 KUHP.
15

Perubahan dalam UU No. 20-2001


TAMBAHAN PASAL 12.a, 12.b, 12.c
PASAL 12.a
Pidana penjara dan denda pasal 5 s.d 12 tidak berlaku
bagi TPK yang nilainya kurang dari Rp.5.000.000,00
tetapi dipidana dengan pidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun dan pidana denda paling banyak Rp
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

16

Perubahan dalam UU No. 20-2001


TAMBAHAN PASAL 12.a, 12.b, 12.c

PASAL 12.b :

Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap


pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan
dengan kewajiban atau tugasnya :

yang nilainya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih,


pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan
oleh penerima gratifikasi;
yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah),
pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum.

Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud


dalam ayat (1) adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling
singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun, dan pidana denda
paling sedikit Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
17

Perubahan dalam UU No. 20-2001


TAMBAHAN PASAL 12.a, 12.b, 12.c

PASAL 12.c :

(1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 B ayat (1) tidak berlaku, jika
penerima melaporkan gratifikasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi.
(2) Penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dilakukan oleh
penerima gratifikasi paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal
gratifikasi tersebut diterima.
(3) Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam waktu paling lambat 30 (tiga
puluh) hari kerja sejak tanggal menerima laporan wajib menetapkan gratifikasi dapat
menjadi milik penerima atau milik negara.
(4) Ketentuan mengenai tata cara penyampaian laporan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) dan penentuan status gratifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)
diatur dalam Undang-undang tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

18

Perubahan dalam UU No. 20-2001


SISIPAN PASAL 26.a

Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 188 ayat (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum
Acara Pidana, khusus untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari :
a. Alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima,
atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa
dengan itu; dan
b. Dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat,
dibaca, dan atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa
bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di atas kertas, benda fisik
apapun selain kertas, maupun yang terekam secara elektronik, yang
berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf, tanda, angka,
atau perforasi yang memiliki makna.
19

Perubahan dalam UU No. 20-2001


PASAL 37 Dipecah menjadi 37 & 37A.

Dari semula pasal 37 yang terdiri dari 5 ayat dipecah menjadi :


Ayat 1 dan 2 menjadi pasal 37 dengan penyesuaian kata pada ayat
2 sbb :
Semula : keterangan tersebut dipergunakan sebagai hal yang
menguntungkan baginya
Menjadi :"pembuktian tersebut digunakan oleh pengadilan sebagai dasar
untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti .

Ayat 3,4 dan 5 menjadi pasal 37 A. dengan penghilangan kata


dapat dalam ayat 4 atau ayat 2 di pasal 37A.
Semula : keterangan tersebut dapat digunakan untuk memperkuat alat bukti
Menjadi : keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digunakan
untuk memperkuat alat bukti
20

Perubahan dalam UU No. 20-2001


PENAMBAHAN PASAL 38 A,B & C.
PASAL 38 A :

Pembuktian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12


B ayat (1) dilakukan pada saat pemeriksaan di
sidang pengadilan.

21

Perubahan dalam UU No. 20-2001


PENAMBAHAN PASAL 38 B.

(1) Setiap orang yang didakwa melakukan salah satu tindak pidana korupsi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 16
Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
dan Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 Undang-undang ini, wajib membuktikan
sebaliknya terhadap harta benda miliknya yang belum didakwakan, tetapi juga
diduga berasal dari tindak pidana korupsi
(2) Dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan bahwa harta benda sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) diperoleh bukan karena tindak pidana korupsi, harta benda
tersebut dianggap diperoleh juga dari tindak pidana korupsi dan hakim berwenang
memutuskan seluruh atau sebagian harta benda tersebut dirampas untuk negara.
(3) Tuntutan perampasan harta benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diajukan oleh
penuntut umum pada saat membacakan tuntutannya pada perkara pokok.
(4) Pembuktian bahwa harta benda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bukan
berasal dari tindak pidana korupsi diajukan oleh terdakwa pada saat membacakan
pembelaannya dalam perkara pokok dan dapat diulangi pada memori banding dan
memori kasasi.
(5) Hakim wajib membuka persidangan yang khusus untuk memeriksa pembuktian yang
diajukan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam ayat (4).
(6) Apabila terdakwa dibebaskan atau dinyatakan lepas dari segala tuntutan hukum dari
perkara pokok, maka tuntutan perampasan harta benda sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) dan ayat (2) harus ditolak oleh hakim.
22

Perubahan dalam UU No. 20-2001


PENAMBAHAN PASAL 38 A,B & C.
PASAL 38 C :

Apabila setelah putusan pengadilan telah memperoleh


kekuatan hukum tetap, diketahui masih terdapat harta
benda milik terpidana yang diduga atau patut diduga
juga berasal dari tindak pidana korupsi yang belum
dikenakan perampasan untuk negara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 38 B ayat (2), maka negara dapat
melakukan gugatan perdata terhadap terpidana dan atau
ahli warisnya.
23

Perubahan dalam UU No. 20-2001


PENAMBAHAN BAB VI.A (peralihan)
Pasal 43 A mengenai :

TPK yang terjadi sebelum UU no. 31 th.1999 berlaku,


diperiksa dan diputus berdasar UU no.3 th. 1971.
Pasal 43 B mengenai :

Menyatakan tidak berlakunya pasal-pasal di KUHP yang


telah ditarik ke UU ini.

24

JENIS/KELOMPOK TPK :
Kerugian Keuangan Negara
Suap-Menyuap
Penggelapan dalam Jabatan

Pemerasan
Perbuatan Curang
Benturan Kepentingan dalam Pengadaan
Gratifikasi
25

Jenis TP Lain

TPK :

Merintangi Proses Pemeriksaan Perkara Korupsi


Tidak Memberi Keterangan atau Memberi Keterangan
yang Tidak Benar
Bank yang Tidak Memberikan Keterangan Rekening
Tersangka
Saksi atau Ahli yang Tidak Memberi Keterangan atau
Memberi Keterangan Palsu
Orang yang Memegang Rahasia Jabatan Tidak
Memberikan Keterangan atau Memberi Keterangan
Palsu
Saksi yang Membuka Identitas Pelapor

26

TPK Pokok, pasal 2


Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan
perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau
suatu korporasi yg dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana
penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat
4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun
dan denda paling sedikit dua ratus juta rupiah dan paling
banyak satu milyar rupiah.
2. Dalam hal TPK sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat
dijatuhkan.
1.

27

TPK Pokok, pasal 3


Setiap orang yg dengan tujuan menguntungkan
diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi,
menyalahgunakan kewenangan, kesempatan
atau sarana yang ada padanya karena jabatan
atau kedudukan yang dapat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara,
dipidana dengan pidana penjara seumur hidup
atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun
dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau
denda paling sedikit lima puluh juta rupiah dan
paling banyak satu milyar rupiah.
28

TPK ditarik dari KUHP


Tindak Pidana Penyuapan

Pasal 5 UUTPK (Psl. 209 KUHP) :


Memberi hadiah atau janji kepada PN, membujuk agar
berbuat atau mengalpakan kewajibannya.
Memberi hadiah kepada PN karena sudah mengalpakan
kewajibannya.
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 th. dan
paling lama 5 tahun dan atau denda paling sedikit Rp.50.
juta dan paling banyak Rp.250. juta,29

TPK ditarik dari KUHP


Tindak Pidana Penyuapan

Pasal 6 UUTPK (Psl. 210 KUHP) :


Memberi hadiah atau janji kepada hakim untuk
mempengaruhi keputusannya.
Memberi hadiah atau janji kepada pengacara untuk
mempengaruhi pendapatnya di pengadilan.
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 th. dan
paling lama 15 th.dan denda paling sedikit Rp.150. juta dan
paling banyak Rp.750. juta,30

TPK ditarik dari KUHP


Tindak Pidana Penyuapan

Pasal 11 UUTPK (Psl. 418 KUHP) :


PN yang menerima hadiah atau janji yg ia tahu atau patut
dapat menyangka hal itu berhubungan dengan jabatannya,
atau menurut orang yang menghadiahkan atau berjanji ada
berhubungan dengan jabatannya.
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 th. dan
paling lama 5 th. dan atau denda paling sedikit Rp.50 juta,dan paling banyak Rp.250 juta,31

TPK ditarik dari KUHP


Tindak Pidana Penyuapan

Pasal 12 UUTPK (Psl. 419 KUHP) :


PN menerima hadiah atau janji yg ia tahu untuk membujuk
agar mengalpakan kewajiban dalam jabatannya.
PN menerima hadiah yang ia tahu bahwa hadiah diberikan
berhubung ia telah mengalpakan kewajiban jabatannya.
Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana
penjara paling singkat 4 th. dan paling lama 20 th. dan denda
paling sedikit Rp.200 juta,- dan paling banyak Rp.1 milyar,-.
32

TPK ditarik dari KUHP


Tindak Pidana Penggelapan (psl. 8,9,10)

Pasal 8 UUTPK (psl. 415 KUHP)

Dengan sengaja menggelapkan uang atau surat


berharga yang disimpan karena jabatannya, atau
membiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil
atau digelapkan oleh orang lain, atau membantu dalam
melakukan perbuatan tersebut.
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana
denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima
puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp
750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah)
33

TPK ditarik dari KUHP


Tindak Pidana Penggelapan (psl. 8,9,10)
Pasal 9 UUTPK (psl. 416 KUHP)
Dengan sengaja memalsu buku-buku atau daftar-daftar
yang khusus untuk pemeriksaan administrasi.
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan pidana denda
paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)
dan paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima
puluh juta rupiah)
34

TPK ditarik dari KUHP


Tindak Pidana Penggelapan (psl. 8,9,10)
Pasal 10 UUTPK (psl. 417 KUHP)
Menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat
tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar yang
digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di muka
pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya,
membiarkan orang lain, membantu orang lain menghilangkan,
menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat
dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut.
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun
dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana denda paling
sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh juta rupiah)
35

TPK ditarik dari KUHP


Tindak Pidana Kerakusan (psl.12 e,f,g,h )

Pasal 12 UUTPK :
Dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana
penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20
(dua puluh) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)

Pasal 12 ayat e (psl.423 KUHP) :


Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud
menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau
dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan
sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk
mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri;
36

TPK ditarik dari KUHP


Tindak Pidana Kerakusan (psl.12 e,f,g,h )
f.

g.
h.

Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada


waktu menjalankan tugas, meminta, menerima, atau memotong

pembayaran kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara


yang lain atau kepada kas umum, seolah-olah pegawai negeri atau
penyelenggara negara yang lain atau kas umum tersebut
mempunyai utang kepadanya, padahal diketahui bahwa hal tersebut
bukan merupakan utang;
Meminta atau menerima pekerjaan, atau penyerahan barang,
seolah-olah merupakan utang kepada dirinya, padahal diketahui
bahwa hal tersebut bukan merupakan utang;
Telah menggunakan tanah negara yang di atasnya terdapat hak
pakai, seolah-olah sesuai dengan peraturan perundang-undangan,
telah merugikan orang yang berhak, padahal diketahuinya bahwa
perbuatan tersebut bertentangan dengan peraturan perundangundangan
37

TPK ditarik dari KUHP


Tindak Pidana Berkaitan dgn Rekanan (psl.7 & 12 I)
Pasal 7 UUTPK (psl. 387 atau 388 KUHP) :
Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2

(dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan


atau pidana denda paling sedikit Rp
100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp 350.000.000,00 (tiga ratus lima puluh
juta rupiah)

38

TPK ditarik dari KUHP

Tindak Pidana Berkaitan dgn Rekanan (psl.7 & 12 I)


Pasal 7 UUTPK (psl. 387 atau 388 KUHP) :
a.

b.

c.

d.

pemborong, ahli bangunan yang pada waktu membuat bangunan, atau


penjual bahan bangunan yang pada waktu menyerahkan bahan
bangunan, melakukan perbuatan curang yang dapat membahayakan
keamanan orang atau barang, atau keselamatan negara dalam
keadaan perang;
setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau
penyerahan bahan bangunan, sengaja membiarkan perbuatan curang
sebagaimana dimaksud dalam huruf a;
setiap orang yang pada waktu menyerahkan barang keperluan
Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik
Indonesia melakukan perbuatan curang yang dapat membahayakan
keselamatan negara dalam keadaan perang; atau
setiap orang yang bertugas mengawasi penyerahan barang keperluan
Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik
Indonesia dengan sengaja membiarkan perbuatan curang
sebagaimana dimaksud dalam huruf c.
39

TPK ditarik dari KUHP


Tindak Pidana Berkaitan dgn Rekanan (psl.7 & 12 I)
Pasal 12 ayat I UUTPK (psl. 435 KUHP) :

Pegawai negeri atau penyelenggara negara baik


langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut
serta dalam pemborongan, pengadaan, atau
persewaan, yang pada saat dilakukan perbuatan, untuk
seluruh atau sebagian ditugaskan untuk mengurus atau
mengawasinya.
40

Pasal 13 UUTPK

Setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada


pegawai negeri dengan
mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat
pada jabatan atau kedudukannya,
atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap, melekat
pada jabatan atau kedudukan
tersebut dipidana dengan pidana penjara paling lama 3
(tiga) tahun dan atau denda
paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh
juta rupiah)
41

Pasal 14 UUTPK
Setiap orang yang melanggar ketentuan

Undang-Undang yang secara tegas


menyatakan bahwa pelanggaran terhadap
ketentuan Undang-undang tersebut sebagai
tindak pidana korupsi berlaku ketentuan yang
diatur dalam Undang-undang ini

42

Pasal 15 UUTPK
Setiap orang yang melakukan percobaan

pembantuan atau permufakatan jahat


untuk melakukan tindak pidana korupsi, dipidana
dengan pidana yang sama
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3,
Pasal 5 sampai dengan Pasal 14

43

Pasal 16 UUTPK
Setiap orang di luar wilayah negara Republik

Indonesia yang memberikan bantuan, kesempatan,


sarana, atau keterangan untuk terjadinya tindak
pidana korupsi dipidana dengan pidana yang sama
sebagai pelaku tindak pidana korupsi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2. Pasal 3, Pasal 5 sampai
dengan Pasal 14.
44

Pasal 17 UUTPK
Selain dapat dijatuhi pidana sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 2. Pasal 3, Pasal 5 sampai dengan


pasal 14 terdakwa dapat dijatuhi tambahan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 18

45

Pasal 18 UUTPK
(1) Selain pidana tambahan dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana sebagai
pidana tambahan adalah :
a. perampasan barang bergerak yang berwujud atau yang tidak berwujud barang tidak
bergerak yang digunakan untuk yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk
perusahaan milik terpidana di mana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pun harga
dari barang yang menggantikan barang tersebut;
b. pembayaran uang pengganti yang jumlahnya sebanyak-banyaknya dengan harta
benda yang diperoleh dari tindak pidana korupsi.
C. penutupan usaha atau sebagian perusahaan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun;
d. pencabutan seluruh atau sebagian hak-hak tertentu atau penghapusan atau sebagian
keuntungan tertentu, yang telah atau dapat diberikan oleh Pemerintah kepada
terpidana;
(2) Jika terpidana tidak membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
huruf b paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sesudah putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap, maka harta bendanya dapat disita oleh jaksa dan dilelang
untuk menutupi uang pengganti tersebut.
(3) Dalam hal terpidana tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk
membayar uang pengganti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b , maka
dipidana dengan pidana penjara yang lamanya tidak melebihi ancaman maksimum
dari pidana pokoknya sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang ini dan
karenanya pidana tersebut sudah ditentukan dalam putusan pengadilan
46

Pasal 19 UUTPK
(1) Putusan pengadilan mengenai perampasan barang-barang bukan
kepunyaan terdakwa tidak dijatuhkan, apabila hak-hak pihak ketiga
yang beritikad baik akan dirugikan.
(2) Dalam hal putusan pengadilan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) termasuk juga barang pihak ke yang mempunyai itikad baik maka
pihak ketiga tersebut dapat mengajukan surat keberatan kepada
pengadilan yang bersangkutan dalam waktu paling lambat 2 (dua)
bulan setelah putusan pengadilan diucapkan di sidang terbuka untuk
umum.
(3) Pengajuan surat keberatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
tidak menangguhkan atau merighentikan pelaksanaan putusan
pengadilan.
(4) Dalam keadaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), hakim
meminta keterangan penuntut umum dan pihak yg berkepentingan.
(5) Penetapan hakim atas surat keberatan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) dapat dimintakan kasasi ke Mahkamah Agung oleh
pemohon atau penuntut umum
47

Pasal 20 UUTPK
1) Dalam hal tindak pidana korupsi dilakukan oleh atau atas nama suatu
korporasi, maka tuntutan dan penjatuhan pidana dapat dilakukan terhadap
korporasi dan atau pengurusnya.
(2) Tindak pidana korupsi dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana
tersebut dilakukan oieh orang-orang baik berdasarkan hubungan kerja
maupun berdasarkan hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi
tersebut baik sendiri maupun bersama-sama.
(3) Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi maka korporasi
terus diwakili oleh pengurus.
(4) Penqurus yang mewakili korporasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)
dapat diwakili oleh orang lain
(5) Hakim dapat memerintahkan supaya pengurus korporasi menghadap sendiri
di pengadilan dan dapat pula memerintahkan supaya pengurus tersebut
dibawa ke sidang pengadilan.
(6) Dalam hal tuntutan pidana dilakukan terhadap korporasi, maka panggilan
untuk menghadap dan penyerahan surat panggilan tersebut disampaikan ke
pengurus di tempat tinggal pengurus atau ditempat pengurus berkantor.
(7) Pidana pokok yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi hanya pidana denda,
dengan ketentuan maksimum pidana ditambah 1/3 (satu pertiga)
48