Anda di halaman 1dari 111

ETIKA

DALAM FRAUD AUDIT


DIKLAT PENJENJANGAN
AUDITOR MADYA
ITJEN KEMDIKBUD
18 DAN 19 JULI 2013
1

WAKHYUDI
Widyaiswara Pusdiklatwas BPKP
Pendidikan terakhir :
Master of Commerce (Accounting) Wollongong
University, Australia
Tempat/tanggal lahir :
Kebumen, 10 April 1967
Alamat :
wakhyuwakhyudi@gmail.com
HP : 081310010901

RIWAYAT PENDIDIKAN:
1. D-III STAN (1988)
2. D IV STAN (1994)
3. S-2:WOLLONGONG
UNIVERSITY,AUSTRALIA
(2000)

RIWAYAT PEKERJAAN:
1. BPKP JAKARTA (1988 1991)
2. BPKP MALUKU (1994 -1998)
3. BPKP YOGYA (2000 -2003)
4. PUSDIKLATWAS BPKP (JUNI 2003)
5. WIDYAISWARA (SEJAK OKT. 2007)
02/12/2014

TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM


1. Peserta pelatihan memahami seluk beluk
etika dalam kaitannya dengan fraud audit.
2. Dapat meningkatkan kesadaran, tanggung
jawab, dan sikap profesional peserta diklat
dalam penugasan fraud audit di unit kerja
masing-masing.

TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS


Peserta diklat diharapkan mampu :
Menjelaskan mengenai konsep dasar etika.
Menjelaskan mengenai etika dalam audit dikaitkan
dengan konsep dasar audit.
Menjelaskan mengenai profesi dan kode etik, fraud
audit, standar fraud audit, dan etika dalam fraud
audit.
Menjelaskan peran auditor APIP dalam menangani
fraud dengan pemahaman tentang penyebab,
lingkungan pendorong fraud, dan tanggung jawab
auditor APIP dalam menangani fraud/KKN.
6

POKOK BAHASAN
TO
KNOW

TO LIVE
TOGETHER

LEARNING

TO DO

TO
BE
7

BAB II
KONSEP DASAR ETIKA
SUB POKOK BAHASAN :
A. PENGERTIAN ETIKA,
MORAL, ETOS DAN
ETIKET
B. TEORI TENTANG ETIKA
C. LATIHAN

A. Pengertian ETIKA
Nilai benar & salah dianut masyarakat tertentu
Nilai yang baik & yang buruk, hak dan kewajiban
moral (akhlak)
Kumpulan azas atau nilai berkenaan dengan
akhlak.
Etika dalam ajaran agama akan melahirkan
konsep ihsan, yaitu cara pandang dan perilaku
manusia dalam hubungan sosial yang ditujukan
hanya dan untuk mengabdi pada Tuhan, bukan
ada pamrih di dalamnya.

Pengertian ETOS
Ethos berarti ciri-ciri atau sikap dari individu,
masyarakat, atau budaya terhadap kegiatan tertentu.
Etos adalah sebagai semangat dan sikap batin
seseorang atau sekelompok orang terhadap kegiatan
tertentu yang di dalamnya termuat nilai-nilai moral
tertentu. (Magnis Suseno 1992: 120).
Seseorang yang memiliki etos kerja yang tinggi,
berarti dia melaksanakan suatu pekerjaan secara
sungguh-sungguh
dengan
dilandasi
suatu
keyakinan, bahwa melakukan suatu pekerjaan yang
baik akan mendapatkan balasan (reward) yang lebih
baik atau minimal sepadan.
10

Pengertian MORAL
Baik etika maupun moral mempunyai makna yang
hampir sama, yaitu adat atau kebiasaan.
Moralitas berkenaan dengan tingkah laku
yang konkret, sedangkan etika bekerja dalam
level teori.
Pengertian suatu perbuatan dapat dianggap baik,
benar, dan adil tersebut harus diukur/dinilai
dengan kriteria-kriteria sebagai berikut: sesuai
dengan hati nurani, sesuai dengan pendapat
umum/publik, dan sesuai dengan kaidah-kaidah
emas atau keyakinan yang dianut oleh seseorang.
11

Pengertian ETIKET
Etiket, berasal dari kosa kata bahasa Inggris etiquette
yang berarti aturan untuk hubungan formal atau sopan
santun.
Pemakaian kata etiket, misalnya tampak pada
perpaduan kata berikut: etiket pergaulan, etiket makan,
dan sebagainya.
Kita tidak bisa memastikan bahwa orang yang
memiliki etiket akan secara otomatis menunjukkan
perilaku etis. Misalnya, seringkali dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari, seseorang yang bertutur kata
dan bersikap sopan dan terhormat tetapi ternyata ia
adalah seorang penipu.
12

PERBEDAAN ETIKET DAN ETIKA


ETIKET
Etiket menunjukkan cara (yang
dianggap tepat atau diterima)
suatu tindakan harus dilakukan
dalam suatu kalangan tertentu.
Etiket hanya berlaku ketika ada
orang atau pihak lain yang
menyaksikan suatu tindakan.
Etiket lebih bersifat relatif.
Etiket sangat tergantung pada
persepsi kalangan atau budaya
yang memberlakukan etiket.

ETIKA

Etika berkaitan dengan apakah


suatu tindakan boleh dilakukan
atau tidak.
Etika berlaku baik ketika ada
orang atau pihak lain yang
menyaksikan maupun tidak.
Etika lebih bersifat universal.
Larangan-larangan untuk
melakukan perbuatan yang tidak
sesuai dengan etika, seperti
penyuapan, penggelapan,
korupsi, mencuri, menyontek,
dan sebagainya berlaku pada
semua kalangan dan budaya.
13

ETIKA SEBAGAI CABANG FILSAFAT


K. Bertens (2000): etika deskriptif, etika normatif, dan
metaetika.
Etika deskriptif mempelajari perilaku moral yang dilandasi
oleh anggapan-anggapan tertentu, tentang apa yang baik
atau dibolehkan dan apa yang buruk atau tidak dibolehkan,
yang dilakukan oleh kalangan atau kelompok masyarakat
tertentu.
Karena etika deskriptif bersifat hanya menggambarkan, ia
tidak mengevaluasi secara moral. Ia tidak menilai apakah
adat mengayau (memenggal kepala) yang dilakukan oleh
suatu suku primitif bisa diterima atau ditolak. Ia juga tidak
menilai apakah praktik abortus yang sangat permisif di
Cina bisa diterima atau ditolak.
14

ETIKA NORMATIF
Etika normatif mengevaluasi apakah perilaku tertentu bisa
diterima atau tidak berdasarkan norma-norma moral yang
menjunjung tinggi martabat manusia.
Oleh karenanya, etika normatif itu bersifat memerintahkan
atau menentukan benar atau tidaknya perilaku atau asumsi
moral tertentu, berdasarkan argumentasi yang mengacu
pada norma-norma moral yang tidak bisa ditawar-tawar.
Pada etika normatif, perilaku-perilaku seperti abortus,
korupsi, dan pelecehan seksual tidak bisa diterima, karena
bertentangan dengan martabat manusia yang harus
dijunjung tinggi.
Etika normatif lebih lanjut dibagi dalam etika umum dan
etika khusus.
15

ETIKA UMUM DAN KHUSUS


Etika umum memfokuskan pada kajian-kajian umum,
seperti apa yang dimaksud dengan norma moral,
mengapa norma moral berlaku umum, apa perbedaan
antara hak dan kewajiban, apa persyaratan agar manusia
dapat dikatakan memiliki kebebasan, dan sebagainya.
Etika khusus menitikberatkan pada prinsip-prinsip atau
norma-norma moral pada perilaku manusia yang khusus,
misalnya perilaku manusia di bidang-bidang bisnis,
kedokteran, politik, dan sebagainya.
Karena etika khusus terkait dengan perilaku manusia
yang khusus, etika khusus sering juga disebut sebagai
etika terapan.
16

ETIKA KHUSUS
Etika khusus biasanya memulai pengkajian dengan
menyatakan premis (pernyataan) normatif, kemudian
membandingkannya dengan premis faktual, dan akhirnya
sampai pada simpulan etis yang juga bersifat normatif.
Contoh argumentasi dalam etika khusus:
- Uang milik negara tidak boleh dicuri (premis normatif).
- Korupsi yang dilakukan oleh pejabat/pegawai negeri
adalah tindakan pencurian uang milik negara (premis
faktual).
- Jadi, korupsi tidak diperbolehkan (simpulan).
17

META ETIKA
Metaetika membahas mengenai bahasa atau logika khusus
yang digunakan di bidang moral, sehingga perilaku etis
tertentu dapat diuraikan secara analitis.
Dalam metaetika, suatu perilaku dikatakan baik dari sudut
moral bukan sekedar karena perilaku itu membantu atau
meningkatkan martabat orang lain, tetapi juga perilaku itu
memenuhi suatu persyaratan moral tertentu.
Misalnya, menjadi donor organ tubuh untuk transplantasi
itu baik dari sudut moral. Kegiatan ini menjadi tidak baik
apabila donor menjual organnya kepada pasien yang akan
ditransplantasi.

18

B. TEORI-TEORI TENTANG ETIKA

1.
2.
3.
4.

ETIKA DEONTOLOGI,
ETIKA TELEOLOGI,
ETIKA KEUTAMAAN,
KONSEP ETIKA DALAM PANDANGAN
AGAMA

19

TEORI TENTANG ETIKA.


ETIKA DEONTOLOGI tidak membahas apa akibat
atau konsekuensi dari suatu perilaku. Suatu
perilaku dibenarkan bukan karena perilaku itu
berakibat baik, tetapi perilaku itu memang baik dan
perilaku itu didasarkan kewajiban yang memang
harus dilaksanakan.
ETIKA TELEOLOGI berbeda dengan etika
deontologi, karena etika teleologi tidak menilai
perilaku atas dasar kewajiban, tetapi atas dasar
tujuan atau akibat dari suatu perilaku. Suatu
perilaku dinilai baik apabila bertujuan atau
berakibat baik. Sebaliknya, suatu perilaku dinilai
buruk apabila bertujuan atau berakibat buruk.
20

ETIKA TELEOLOGI
Pertanyaan mendasar berkaitan dengan
tujuan adalah apabila tujuan itu dinilai
baik, baik bagi siapa: diri sendiri, orang
lain, atau banyak orang?
Untuk menjawab pertanyaan ini, etika
teleologi dapat dikelompokkan menjadi
dua: egoisme etis dan utilitarianisme.

21

EGOISME ETIS
Egoisme etis memandang bahwa suatu perilaku dianggap
baik apabila bertujuan atau berakibat baik bagi diri
sendiri.
Meskipun suatu perilaku dalam pandangan egoisme etis
bersifat egoistis, perilaku ini dipandang baik secara
moral untuk alasan bahwa setiap orang boleh
memperoleh kebahagiaan atau memaksimumkan
kesejahteraannya.
Sebaliknya, suatu perilaku dipandang buruk secara moral
apabila sebagai akibat dari perilaku itu orang menderita
atau sengsara.
22

UTILITARIANISME
Utilitarianisme melihat suatu perilaku sebagai baik
apabila berakibat baik bagi banyak orang.
Etika utilitarianisme dikembangkan pertama kali oleh
Jeremy Bentam, 1748-1832.
Permasalahan yang dihadapi oleh Bentam dan orangorang sezamannya adalah bagaimana mengevaluasi baikburuknya berbagai kebijakan secara moral. Misalnya,
dalam menilai suatu kebijakan publik, kriteria objektif
apa yang dapat dipakai sebagai dasar penilaian.
Hal ini penting karena kebijakan publik sangat mungkin
dapat diterima oleh suatu kelompok karena dianggap
menguntungkan tetapi ditolak oleh kelompok lain karena
dianggap merugikan.
23

UTILITARIANISME
Kriteria yang objektif dapat diperoleh dengan melihat
apakah suatu kebijakan atau tindakan publik bermanfaat
atau sebaliknya merugikan bagi orang-orang terkait.
Kriteria pertama adalah manfaat, yaitu apakah kebijakan
atau tindakan mendatangkan manfaat tertentu.
Kriteria kedua adalah manfaat yang lebih besar atau
terbesar, yaitu apakah kebijakan atau tindakan
mendatangkan manfaat lebih besar atau terbesar
dibandingkan dengan kebijakan atau tindakan lainnya.
Kriteria ketiga adalah manfaat lebih besar atau terbesar
bagi sebanyak mungkin orang, yaitu bahwa kebijakan
atau tindakan dinilai baik apabila manfaat lebih besar atau
terbesar dirasakan oleh sebanyak mungkin orang.
24

ETIKA KEUTAMAAN
Tidak mempermasalahkan kewajiban dan akibat dari
suatu tindakan.
Tidak mengacu kepada norma-norma dan nilai-nilai
universal untuk menilai moral.
Lebih memfokuskan pada pengembangan watak
moral pada diri setiap orang. Nilai moral muncul dari
pengalaman hidup, teladan, dan contoh hidup yang
diperlihatkan oleh tokoh-tokoh besar dalam suatu
masyarakat dalam menghadapi permasalahan
hidup.
Sangat menghargai kebebasan dan rasionalitas
manusia, karena pesan moral hanya disampaikan
melalui cerita kemudian setiap orang dibiarkan untuk
menangkap sendiri pesan moral itu.
25

ETIKA
DALAM SUDUT PANDANG AGAMA
Sebagai perangkat nilai yang tidak terhingga dan
agung yang bukan saja berisikan sikap, perilaku secara
normatif, yaitu dalam bentuk hubungan manusia
dengan Tuhan (iman), melainkan wujud dari hubungan
manusia terhadap Tuhan, manusia dan alam semesta
dari sudut pandang historisitas.
Etika sebagai fitrah akan sangat tergantung pada
pemahaman dan pengalaman keberagamaan seseorang.
Etika dalam ajaran agama akan melahirkan konsep
ihsan, yaitu cara pandang dan perilaku manusia dalam
hubungan sosial yang ditujukan hanya dan untuk
mengabdi pada Tuhan, bukan ada pamrih di dalamnya.
26

C. LATIHAN

27

DISKUSIKAN
TINDAKAN SBY MENEGUR
YANG TERTIDUR PADA
PERINGATAN
HARI
NASIONAL
DITINJAU
KONSEP DASAR ETIKA

ANAK
SAAT
ANAK
DARI

28

"Saudara-saudara, kita berkewajiban


memenuhi kecukupan anak-anak kita,
mari....coba itu yang sedang tertidur
dibangunkan. Ada satu dua orang
yang tertidur."...
29

30

QUESTIONS ?

31

BAB III
ETIKA DALAM KONSEP
DASAR AUDIT
SUB POKOK BAHASAN :
A. KONSEP DASAR AUDIT
B. ETIKA DALAM AUDIT
DIKAITKAN DENGAN
KONSEP DASAR AUDIT
C. LATIHAN

32

A. KONSEP DASAR AUDIT


Konsep dasar adalah abstraksi-abstraksi yang
diturunkan dari pengalaman dan observasi. Konsep
dasar sangat diperlukan karena merupakan dasar
untuk pembuatan standar. Menurut Mautz & Sharaf,
teori audit tersusun atas lima konsep dasar, yaitu :

Independensi (Independence)
Kehati-hatian dalam audit (Due audit care)
Etika perilaku (Ethical conduct)
Bukti (Evidence)
Penyajian atau pengungkapan yang wajar/layak (Fair
presentation)
33

KONSEP DASAR AUDIT


Independensi (Independence)
Kehati-hatian dalam audit (Due
audit care)
Etika Perilaku (Ethical conduct)
Bukti (Evidence)
Penyajian/pengungkapan yang
layak (Fair presentation)

Berkaitan dg
pribadi auditor

Berkaitan dg
aktivitas audit

Menjadi acuan
Standar Audit
34

B. ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP DASAR AUDIT
1.
2.
3.
4.
5.

Etika dalam Audit dikaitkan dengan Konsep


Independensi,
Etika dalam Audit dikaitkan dengan Konsep Kehatihatian dalam audit,
Etika dalam Audit berkaitan dengan Konsep Etika
Perilaku (Ethical Conduct),
Etika dalam Audit Berkaitan dengan Konsep Bukti/
Pembuktian,
Etika dalam Audit Berkaitan dengan Konsep
Penyajian yang Layak (Fair Presentation)
35

B.1. ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP INDEPENDENSI
Dalam:
a. Perencanaan
b. Pelaksanaan

Bebas dari pengaruh


manajemen dalam
menentukan/menerapkan
prosedur, sasaran & scope
Bebas mengakses aktivitas
yang diaudit

c. Pelaporan
Bebas dari usaha menghilangkan/
mempengaruhi isi laporan &
bebas mengungkapkan fakta
36

ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP INDEPENDENSI
Secara Etika, Auditor yang independen harus dapat
memposisikan dirinya agar independensinya dapat
memperoleh kepercayaan dari masyarakat atau pihak
lain melalui sikap dan tindakan nyata

37

ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP INDEPENDENSI
Auditor harus menolak penugasan bila:
Ada hubungan istimewa antara auditor dengan
auditi.
Ada pembatasan ruang lingkup, sifat dan luas audit
Tidak ada kemampuan dalam memahami aktivitas
auditi.
Tidak independen karena posisinya dalam
organisasi auditi.

38

B.2. ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP KEHATI-HATIAN
Atribut konsep kehati-hatian dalam auditing:
a. Merencanakan dan melaksanakan langkahlangkah audit dengan baik
b. Menggunakan seluruh kemampuannya
c. Memiliki dan menjalankan kehlian dalam audit
d. Waspada terhadap kemungkinan penyimpangan
dan
senantiasa
mendapatkan
bukti
yg
meyakinkan
e. Seksama melakukan tugas, ambil keputusan dan
pertimbangkan risiko
f. Mengevaluasi tindakan dan keputusan sesuai
tujuan
39

ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP KEHATI-HATIAN
Fraud Auditor
harus mampu mendeteksi dan
mengungkapkan adanya unsur tindak pidana, yaitu:
terjadinya penyimpangan
fakta dan proses kejadian
pelaku yang diduga terlibat dan bertanggung jawab
sebab dan akibat yang ditimbulkan
Auditor harus dapat mengindikasikan
akibat hukum penyimpangan:
- Kasus tindak pidana korupsi
- Kasus perdata
- Kasus TP/TGR
40

KARAKTERISTIK AUDITOR
YANG CERMAT DAN SEKSAMA
Memiliki pengetahuan tentang filosofi dan praktik
audit.
Memiliki tingkat pelatihan, pengalaman, dan
keterampilan yang cukup.
Memiliki
kemampuan
mengenali
indikasi
penyimpangan.
Mengikuti perkembangan bagaimana mendeteksi
penyimpangan.
41

B.3. ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP ETIKA PERILAKU

Etika perilaku adalah bagaimana


seseorang auditor profesional yang
independen berperilaku yang ideal
dalam melaksanakan audit

42

ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP ETIKA PERILAKU
(lanjutan)
Aturan Perilaku Auditor BPKP (sebagai contoh)
memuat hal-hal:
Perilaku Pemeriksa Sesuai dengan tuntutan
Organisasi
Perilaku Pemeriksa dalam Interaksi dengan
Sesama Pemeriksa
Perilaku Pemeriksa dalam Interaksi dengan
Pihak yang diperiksa

43

ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP ETIKA PERILAKU
(lanjutan)
Perilaku Pemeriksa Sesuai dengan tuntutan
Organisasi:
Taat peraturan dan melaksanakan tugas dengan
penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab
Memiliki semangat pengabdian yang tinggi kepada
organisasi
Memiliki keahlian yang diperlukan dalam tugasnya
Memiliki integritas yang tinggi
Dalam melaksanakan tugasnya harus selalu
mempertahankan objektivitasnya.
Menyimpan rahasia jabatan, rahasia negara,
rahasia auditan
44

ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP ETIKA PERILAKU
(lanjutan)
Perilaku Pemeriksa dalam Interaksi dengan Sesama
Pemeriksa:
Wajib menggalang kerjasama yang sehat dengan
sesama pemeriksa
Harus saling mengingatkan, membimbing dan
mengoreksi perilaku sesama pemeriksa
Harus
memiliki
rasa
kebersamaan
dan
kekeluargaan di antara sesama pemeriksa

45

ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP ETIKA PERILAKU
(lanjutan)
Perilaku Pemeriksa dalam Interaksi dengan
Auditan:
Senantiasa menjaga penampilannya
Harus mampu menjalin interaksi yang sehat
dengan auditan
Harus mampu menciptakan iklim kerja yang baik
dengan auditan
Wajib menggalang kerjasama yang sehat dengan
auditan
46

B.4. ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP PEMBUKTIAN

Sikap auditor
Bertanggung jawab

Kumpulkan & Evaluasi


bukti REKOCUMA

47

ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP PEMBUKTIAN
Fungsi bukti dalam fraud audit:
- mendukung simpulan audit dan rekomendasi,
- membantu/mendukung pengumpulan alat
bukti oleh pihak lain yang akan memproses
lebih lanjut.

48

ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP PEMBUKTIAN

Untuk mengungkapkan suatu kasus tindak


pidana dalam rangka pembuktian di sidang
pengadilan,
seorang
penyidik
harus
mengumpulkan alat bukti/barang bukti
Fraud
Auditor
harus
dapat
mengumpulkan bukti yang nyata,
bukan berdasarkan hasil uji petik
(sampling)

49

ALAT BUKTI
Alat bukti yang sah menurut pasal 184 KUHAP:
1. Keterangan saksi
2. Keterangan ahli
3. Surat
4. Petunjuk
5. Keterangan terdakwa

50

BARANG BUKTI
Adalah barang yg berkaitan langsung dengan
perbuatan tindak pidana, berupa:
1. Objek tindak pidana
2. Alat untuk melakukan perbuatan pidana
3. Hasil perbuatan tindak pidana

51

BUKTI OLEH
PEMBERI KETERANGAN AHLI
Untuk memberi keterangan ahli, auditor dg bukti
harus:
1. Menetapkan fakta-fakta. Mengembangkan
strategi untuk mengumpulkan & menguji
dokumentasi/informasi terkait kasus diaudit
2. Menginterpretasikan fakta-fakta. Auditor
menyatukan hubungan sebab akibat antara
data dan fakta-fakta

52

BUKTI AUDIT
7 Jenis Bukti Audit (A. Arens):

Pengujian fisik (Physical examination)

Konfirmasi (Confirmation)

Dokumentasi (Documentation)

Observasi (Observation)

Tanya jawab dengan auditan (Inquires of the


client)

Pelaksanaan ulang (Reperformance)

Prosedur analisis (Analytical procedures)

53

JENIS BUKTI

Testimonial
Evidence
(KESAKSIAN)

Documentary
Evidence
(DOKUMEN)

Physical
Evidence
(FISIK)

Personal
Observation
(ANALISIS)

54

HUBUNGAN BUKTI AUDIT


DENGAN ALAT BUKTI KUHAP
Bukti audit yang menjadi pendukung LHA tidak
dapat dipakai secara langsung untuk
membuktikan suatu perkara pidana, namun
dapat dikembangkan untuk memperoleh bukti
baru dan atau bukti tambahan yang mengarah
sebagai bukti hukum

55

HUBUNGAN BUKTI AUDIT


DENGAN ALAT BUKTI KUHAP
1. Pengujian fisik,

BAPF dikembangkan menjadi alat bukti


hukum:
- Keterangan saksi
- Keterangan terdakwa
2. Bukti konfirmasi,

Dikembangkan menjadi alat bukti


keterangan saksi

56

HUBUNGAN BUKTI AUDIT


DENGAN ALAT BUKTI HUKUM
3. Bukti dokumentasi,
Bukti ini dapat langsung digunakan sebagai alat
bukti surat
4. Bukti observasi,
Dugaan auditor diperoleh dari pengamatan, tidak
dapat dikembangkan jadi alat bukti
5. Bukti tanya jawab dengan auditan,
Jawaban dari auditan cenderung memihak
kepentingan auditan & kurang independen.
Belum dapat digunakan sebagai alat bukti
57

HUBUNGAN BUKTI AUDIT


DENGAN ALAT BUKTI HUKUM
6. Pelaksanaan ulang,
Pengecekan kembali perhitungan dan pemindahan
informasi, berkaitan erat dengan bukti audit dokumen
transaksi dan pembukuan/catatan.
Dapat dikembangkan sebagai alat bukti bersama bukti
audit dokumen
7. Prosedur analisis,
Perbandingan & hubungan data untuk menentukan
kewajaran.
Dihasilkan indikasi, belum kebenaran materiil, belum dapat
jadi alat bukti.
58

AUDITOR SEBAGAI PEMBERI


KETERANGAN AHLI
Keterangan ahli adalah:
Keterangan yg diberikan seseorang yg memiliki
keahlian khusus tentang hal yg diperlukan untuk
membuat terang suatu perkara pidana guna
kepentingan pemeriksaan.

59

AUDITOR SEBAGAI PEMBERI


KETERANGAN AHLI

Keterangan
Ahli

Salah satu alat bukti


hukum, dasar putusan
hakim

Auditor harus punya pengetahuan cukup


& pertimbangan lain berkaitan dengan
etika di forum persidangan
60

AUDITOR SEBAGAI PEMBERI


KETERANGAN AHLI
Sikap dan Penampilan dalam persidangan:

Penampilan dan pakaian rapi


Sikap tenang, waspada, siap diambil sumpah
Menjaga kontak mata dengan penanya
Bicara jelas, dapat didengar
Gunakan istilah yang lebih mudah
Pusatkan perhatian pada persoalan yang ditanyakan, jangan
keluar jalur atau menyampaikan lebih dari yang ditanyakan
Pertahankan sikap profesional, jangan terlalu murah senyum

61

AUDITOR SEBAGAI PEMBERI


KETERANGAN AHLI
Sikap dan Penampilan (lanjutan):

Tenang dan hati-hati menanggapi pertanyaan, bicara tidak


terlalu lambat atau cepat
Jangan baca catatan bila dapat dihindari
Siapkan dan atur dokumen yang akan diperlihatkan, agar
cepat ditemukan
Jangan bicara ragu-ragu atau gagap, tenang menghadapi
pertanyaan sulit dan rumit
Minta pengulangan/penjelasan bila pertanyaan kurang
dipahami
Jangan mengira-ngira bila tidak tahu jawabannya
62

AUDITOR SEBAGAI PEMBERI


KETERANGAN AHLI
Sikap dan Penampilan (lanjutan):

Jawab pertanyaan hakim sambil memandangnya


Jangan menoleh-noleh di ruangan, menatap lantai atau
langit-langit
Bersikap ramah kepada semua pihak
Jangan meninggikan suara atau marah bila penasehat
hukum terdakwa mencoba menyerang anda
Jujur, jangan mereka-reka, jangan melebih-lebihkan, dan
jangan mengelak

63

AUDITOR SEBAGAI PEMBERI


KETERANGAN AHLI
Teknik pertahanan dalam persidangan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Siapkan materi secara menyeluruh


Pahami materi secara menyeluruh
Rencanakan dahulu pemberian keterangan
Bersikap waspada & mendengar seksama
Pertimbangkan dg seksama setiap jawaban dan berhenti
sejenak sebelum menjawab
Bersikap jujur dan hindari bias
Memperjelas, gunakan kata-kata sederhana
Bersikap tenang
Memelihara harga diri dan integritas profesional secara
menyeluruh

64

B.5. ETIKA DALAM AUDIT DIKAITKAN


DENGAN KONSEP PENYAJIAN YANG LAYAK
Tanggung jawab untuk memperoleh bukti/
pembuktian yang cukup, relevan dan
kompeten akan menghasilkan laporan hasil
audit yang sesuai fakta.
Sikap independen (tidak memihak)
Auditor juga akan menghasilkan
informasi yang bebas.

65

C. LATIHAN

66

QUESTIONS ?

67

BAB IV
ETIKA DALAM FRAUD AUDIT
SUB POKOK BAHASAN
A.

PROFESI DAN KODE


ETIK,
B. PENGERTIAN FRAUD,
C. PENGERTIAN FRAUD
AUDIT,
D. STANDAR FRAUD AUDIT,
E. ETIKA DLM FRAUD
AUDIT,
F. LATIHAN.
Bagus Sekali
Air ini kelihatannya senang jika dipuji. Dengan bentuknya yang merekah
bebas, kristal ini tampaknya ingin mengungkapkan perasaan senang
yang diterima air.
68

A. PROFESI DAN KODE ETIK


Profesi dalam arti sempit adalah pekerjaan yang
dilakukan sebagai nafkah hidup, mengandalkan
keahlian dan keterampilan yang tinggi dan
melibatkan komitmen moral yang mendalam.
Profesi dalam arti luas, profesi berarti kelompok
moral yang memiliki ciri-ciri dan nilai-nilai
bersama yang harus dijunjung tinggi.
Kode etik adalah nilai-nilai untuk mengatur
perilaku moral dari suatu profesi yang dinyatakan
secara tertulis.

69

PROFESI DAN KODE ETIK.


Dua tujuan utama dari kode etik adalah
melindungi kepentingan masyarakat dari
kemungkinan tindakan pelanggaran oleh
anggota profesi dan melindungi keluhuran
profesi.
Supaya kode etik dapat berfungsi, dua syarat
minimal yang harus dipenuhi adalah kode etik
harus dibuat oleh profesinya sendiri dan kode
etik harus diawasi secara terus-menerus.

70

B. PENGERTIAN FRAUD
Dalam kamus Inggris-Indonesia, fraud diartikan
sebagai penipuan, kecurangan atau penggelapan.
Menurut KBBI karangan W.J.S. Poerwodarminto
(1976), fraud berarti tidak jujur, tidak lurus hati, tidak
adil, dan keculasan.
Dalam Fraud Examiners Manual, fraud berkenaan
dengan
adanya
keuntungan yang diperoleh
seseorang dengan menghadirkan sesuatu yang
tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Didalamnya terkandung unsur-unsur : tak terduga
(surprise), tipu daya (trickery), licik (cunning) dan
curang (unfair), yang merugikan orang lain (cheats).
71

PENGERTIAN FRAUD.
Fraud yang dibahas dalam modul ini diarahkan
pada bentuk pelanggaran hukum/aturan yang
terjadi karena adanya suatu rekayasa atau
adanya penyalahgunaan wewenang seperti
penggelapan, pencurian dengan tipu muslihat,
kecurangan pelaporan keuangan, korupsi, kolusi
ataupun nepotisme.
Pencurian dengan kekerasan, perampokan,
termasuk juga perbuatan melawan hukum,
merugikan orang lain dengan maksud untuk
mendapatkan
keuntungan
pribadi,
yang
tergolong dalam tindak pidana umum, tetapi
tidak termasuk pengertian fraud dalam modul ini.

72

C. PENGERTIAN FRAUD AUDIT


Thornhill mendefinisikan Fraud Auditing sebagai
penerapan keahlian finansial dan mentalitas
investigatif untuk memecahkan kasus-kasus
penyimpangan yang dilaksanakan dalam
konteks ketentuan bukti.
Di lingkungan APIP, Fraud Auditing lebih
dikenal sebagai audit terhadap kasus-kasus
yang diduga mengandung unsur penyimpangan
yang merugikan keuangan negara/kasus-kasus
Tindak Pidana Korupsi (TPK).

73

LINGKUP FRAUD AUDITING :


1. Pencegahan fraud (preventive), yaitu upaya
untuk mencegah terjadinya fraud dengan cara
menghilangkan atau meminimalkan faktorfaktor penyebab terjadinya fraud.
2. Pendeteksian
fraud
(detective),
yaitu
diarahkan untuk mengidentifikasikan terjadinya
fraud dengan cepat, tepat, dan dengan biaya
yang rasional.
3. Penginvestigatian fraud (investigative), yaitu
upaya untuk menangani dan memproses
tindakan fraud sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
74

D. STANDAR FRAUD AUDIT


Standar audit berfungsi sebagai petunjuk dan pedoman
bagi seluruh anggota organisasi auditor dalam mematuhi
kode etik dan menjalankan tugas serta kewajiban
profesional sebagaimana tercantum dalam Kode Etik bagi
Auditor.
ACFE
telah menyusun standar profesional bagi
anggotanya, yang terdiri atas Standar Profesional, Standar
Audit, dan Standar Pelaporan, yakni :
Standar Profesional diatur tentang integritas dan
objektivitas,
kompetensi
profesional,
kecermatan
profesional, pemahaman terhadap klien dan pemberi
perintah, komunikasi dengan klien, pemberi perintah,
dan kerahasiaan.
Standar Audit diatur mengenai audit atas fraud dan
bukti.
Standar Pelaporan diuraikan mengenai hal-hal yang
bersifat umum dan isi laporan.
75

STANDAR FRAUD AUDIT

K.H Spencer Pickett dan Jennifer Pickett


merumuskan standar audit fraud yang
merujuk pada investigasi atas fraud
yang dilakukan oleh pegawai dalam
organisasi bisnis/instansi.
Menjadi
referensi
Theodorus
M.
Tuanakotta
dalam
bukunya
Akuntansi
Forensik
dan
Audit
Investigasi seri departemen Akuntansi
FEUI tahun 2007
76

STANDAR FRAUD AUDIT


1. Seluruh investigasi harus dilandasi praktik terbaik
yang diakui (accepted best practices).
2. Kumpulkan bukti-buki-bukti dengan prinsip kehatihatian (due care) sehingga bukti-bukti tadi dapat
diterima di pengadilan.
3. Pastikan bahwa seluruh dokumentasi dalam keadaan
aman, terlindungi dan diindeks, dan jejak audit
tersedia.
4. Pastikan bahwa para investigator mengerti hak-hak
asasi pegawai dan senantiasa menghormatinya.
5. Beban pembuktian ada pada pihak yang menduga
pegawainya melakukan kecurangan, dan pada
penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut,
baik dalam kasus hukum administratif maupun hukum
pidana.
77

STANDAR FRAUD AUDIT


6. Cakup seluruh substansi investigasi dan kuasai seluruh
target yang sangat kritis ditinjau dari segi waktu.
7. Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigasi,
temasuk perencanaan, pengumpulan bukti dan barang
bukti, wawancara, kontak dengan pihak ketiga,
pengamanan hal-hal yang bersifat rahasia, ikuti tata
cara atau protokol, dokumentasi dan penyelenggaraan
catatan, keterlibatan polisi, kewajiban hukum, dan
persyaratan mengenai pelaporan.

78

STANDAR FRAUD AUDIT


Untuk lingkungan APIP, Meneg PAN telah menge
luarkan Peraturan Menpan Nomor : PER/ 05/M.
PAN/03/2008 Tanggal 31 Maret 2008 Tentang Standar
Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP).
Sistematika Standar Audit APIP mencakup :

Pendahuluan,
Prinsip-prinsip Dasar,
Standar Umum,
Standar Audit Kinerja, dan
Standar Audit Investigatif.

Khusus mengenai standar audit investigatif, diatur


tentang standar pelaksanaan, standar pelaporan, dan
standar tindak lanjut.
79

STANDAR FRAUD AUDIT


Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang
dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan, juga
mengatur tentang standar audit kecurangan, yaitu dalam
bagian standar pemeriksaan dengan tujuan tertentu.
Standar Pelaksanaan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu
berisikan :
1. Hubungan dengan Standar Profesional Akuntan Publik
yang Ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
2. Komunikasi Auditor
3. Pertimbangan Terhadap Hasil Pemeriksaan Sebelumnya
4. Pengendalian Intern
5. Merancang Pemeriksaan untuk Mendeteksi Terjadinya
Penyimpangan dari Ketentuan Peraturan Perundangundangan; Kecurangan (Fraud), serta Ketidakpatutan
(Abuse)
6. Dokumentasi Pemeriksaan
7. Pemberlakukan Standar Pemeriksaan
80

E. ETIKA DALAM FRAUD AUDIT


Persyaratan yang harus dimiliki oleh fraud auditor dan
akuntan forensik, yaitu :
Professional Skills & Attitude :
Accounting & Audit Knowledge
Business Process & Fraud Knowledge
Knowledge of Law & Rules Evidence
Investigative Mentality & Critical Skepticism
Understanding of Physicology & Motivation
Communication Skills
Understanding of Computers & IT
Ethics :
Independence & Objectivity
Respect for Access to Information & Privacy Law
81

ETIKA DALAM FRAUD AUDIT


Kode etik bagi para fraud auditor yang
bersertifikat (ACFE di AS):
1.
2.

3.

Komitmen terhadap profesionalisme dan ketekunan


dalam pelaksanaan tugasnya,
Tidak melakukan tindakan yang bersifat ilegal atau
melanggar etika, dan/atau tindakan yang dapat menimbulkan adanya konflik kepentingan,
Menunjukkan integritas setinggi-tingginya dalam semua
penugasan profesionalnya, dan hanya menerima penu
gasan yang memiliki kepastian yang rasional bahwa
penugasan tsb akan dapat diselesaikan dengan sebaikbaiknya.
82

ETIKA DALAM FRAUD AUDIT


4.

5.

6.

7.
8.

Mematuhi peraturan/perintah dari pengadilan, dan akan


bersumpah/bersaksi terhadap suatu perkara secara
benar dan tanpa praduga,
Dalam melaksanakan tugas pemeriksaan, harus memperoleh bukti atau dokumentasi lain yang dapat mendu
kung pendapat yang diberikan,
Tidak boleh mengungkapkan informasi yang bersifat
rahasia yang diperoleh dari hasil audit tanpa melalui
otorisasi dari pihak-pihak yang berwenang,
Mengungkapkan seluruh hal yang material yang diperoleh dari hasil audit, dan
Harus senantiasa meningkatkan kompetensi dan
efektivitas hasil kerjanya yang dilakukan secara
profesional.
83

PROFESIONALISME
Memiliki suatu pengetahuan spesifik yang didapatkan melalui
pendidikan formal, misalnya akuntansi, auditing, kriminologi,
investigasi, dan hukum.
Untuk menjadi anggota suatu profesi harus memenuhi
persyaratan standar yang ditetapkan oleh lembaga yang
bersangkutan, misalnya melalui ujian sertifikasi profesi.
Adanya pengakuan dari masyarakat dan adanya penerimaan
tanggung jawab sosial atas profesi tersebut. Kepercayaan
masyarakat sangat menentukan kelangsungan hidup suatu
organisasi profesi.
Terdapat standar profesi yang mengatur tentang hubungan
antara profesi tersebut dengan pengguna jasa, sesama rekan
kerja, dan masyarakat, misalnya Kode Etik Pegawai BPKP,
Jaksa, Pegawai KPK, Kode Etik Pegawai Negeri Sipil, dan
sebagainya.
84

TINDAKAN MELANGGAR HUKUM, TIDAK ETIS,


DAN ADANYA PERTENTANGAN KEPENTINGAN
Memfitnah pihak-pihak lain yang terkait dengan
pekerjaan fraud auditor, baik secara lisan maupun
tertulis.
Melakukan penahanan secara keliru, misalnya mengunci
pegawai di dalam ruangan, mendapatkan informasi dari
saksi-saksi dengan cara kekerasan, dan sebagainya.
Melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan
etika.
Melakukan hal-hal yang mengganggu independensinya
karena adanya pertentangan kepentingan di dalamnya.
85

INTEGRITAS

Melaksanakan tugasnya secara jujur, teliti, bertanggung jawab


dan bersungguh-sungguh.
Menunjukkan kesetiaan dalam segala hal yang berkaitan
dengan profesi dan organisasi dalam melaksanakan tugas.
Mengikuti perkembangan peraturan perundang-undangan dan
mengungkapkan segala hal yang ditentukan oleh peraturan
perundang-undangan dan profesi yang berlaku.
Menjaga citra dan mendukung visi dan misi organisasi.
Tidak menjadi bagian kegiatan ilegal, atau mengikatkan diri
pada tindakan-tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi
APIP atau organisasi.
Menggalang kerja sama yang sehat di antara sesama auditor
dalam pelaksanaan audit.
Saling mengingatkan, membimbing, dan mengoreksi perilaku
sesama auditor.
86

BUKTI YANG CUKUP

Bukti-bukti yang cukup dan kompeten harus diperoleh


melalui inspeksi, observasi, wawancara, dan
konfirmasi sebagai dasar yang rasional untuk
memberikan suatu simpulan mengenai laporan
keuangan yang sedang diaudit. (AICPA Generally
Accepted Auditing Standards).
Auditor internal harus mengumpulkan, menganalisis,
menginterpretasikan,
dan
mendokumentasikan
informasi untuk mendukung simpulan hasil audit.
(The Institute of Internal Auditors, Inc. Standars for
Practice of Internal Auditing).
87

BUKTI YANG CUKUP

Anggota profesi harus memperoleh data yang


cukup dan relevan sebagai dasar pengambilan
keputusan atau rekomendasi yang berkaitan
dengan setiap pekerjaan yang dilaksanakannya.
(AICPA Code of Professional Conduct).
Bukti yang cukup harus diperoleh sebagai dasar
yang rasional untuk memberikan simpulan
yang tertuang di dalam laporan. (AICPA
Attestation Standards).
88

INFORMASI RAHASIA
Yang dimaksud dengan informasi yang bersifat rahasia
adalah seluruh informasi yang diperoleh fraud auditor
dalam pelaksanaan auditnya, baik yang bersumber dari
organisasi yang sedang dilakukan audit investigasi
maupun yang berasal dari pihak-pihak lain yang terkait
dengan pelaksanaan audit tersebut.
Berkaitan dengan informasi rahasia tersebut, fraud
auditor tidak diperkenankan untuk menyampaikannya
kepada pihak lain tanpa melalui suatu otorisasi dari
pihak yang berwenang. Otorisasi ini berasal dari pihak
auditan dan dari pimpinan organisasi fraud auditor.
89

WHISTLE BLOWER
Apabila pihak auditan atau pimpinan organisasi
fraud auditor mempunyai niat, untuk melibatkan
fraud auditor tersebut ke dalam tindakan yang
tidak etis dan tidak legal.
Apabila pihak auditan atau pimpinan organisasi
fraud auditor telah memutarbalikkan fakta yang
tidak sesuai dengan hasil audit yang
dilaksanakan oleh fraud auditor
yang
bersangkutan.
90

MATERIALITAS
Informasi berupa bukti atau simpulan hasil audit
dianggap material, apabila pihak-pihak yang akan
menggunakan informasi tersebut dapat mengubah
keputusannya kalau mereka mengetahui adanya
informasi tersebut.
Sangatlah penting bagi fraud auditor untuk mengetahui
secara langsung dari pihak auditan atau pimpinan
organisasi fraud auditor mengenai kriteria informasi
yang mereka anggap penting dan material.
Jika permasalahan yang diaudit tidak jelas, sudah
selayaknya dalam laporan hasil auditnya fraud auditor
menyatakan kondisi seperti apa adanya tanpa
menggunakan judgment dari fraud auditor.
91

F. LATIHAN

92

QUESTIONS ?

93

BAB V
PERANAN DAN TANGGUNG JAWAB
APIP DALAM MENANGANI
FRAUD/KKN DI INDONESIA
A.
B.
C.
D.

SUB POKOK BAHASAN :


FAKTOR PENYEBAB
SESEORANG MELAKUKAN
FRAUD,
LINGKUNGAN PENDORONG
TERJADINYA FRAUD,
PERANAN AUDITOR APIP
DLM MENANGANI FRAUD,
LATIHAN.

Cinta dan Terima Kasih


94

A. FAKTOR PENYEBAB
SESEORANG MELAKUKAN FRAUD
Keadaan GONE (Greeds, Opportunities,

Needs, and Exposures)

Adanya Niat dan Kesempatan


Memiliki monopoli dan kebijakan,
dengan akuntabilitas yang samarsamar atau bahkan tidak ada

95

B. LINGKUNGAN PENDORONG
TERJADINYA FRAUD

Aspek individu pelaku fraud, seperti: Sifat


tamak, moral yang kurang, penghasilan
kurang, kebutuhan mendesak, gaya hidup
konsumtif, malas, kurang menerapkan ajaran
agama

Aspek
organisasi,
seperti:
kurangnya
keteladanan pimpinan, kultur organisasi tidak
benar, siatem akuntabilitas tidak memadai,
SPM lemah, manajemen cenderung menutupnutupi korupsi
96

LINGKUNGAN PENDORONG
TERJADINYA FRAUD..

Aspek masyarakat, seperti: Nilai-nilai yang


kondusif untuk terjadinya korupsi, masyarakat
kurang menyadari akibat tindakan korupsi,
masyarakat tidak menyadari perlunya ikut aktif
mencegah dan memberantas korupsi, generasi
muda dihadapkan pada praktik korusi sejak
lahir

Aspek peraturan per-UU-an, seperti: adanya


peraturan
per-UU-an
yang
bersifat
monopolistik, kurang sosialisasi peraturan
sanksi terlalu ringan
97

C. PERANAN AUDITOR APIP


DALAM MENANGANI FRAUD
APIP Dituntut:

Adanya kemauan politik untuk memberantas


KKN

Meningkatkan keahlian dan ketrampilan

Memiliki
integritas
yang
tinggi
(bertanggungjawab, jujur, berani dan bijaksana)

98

PERANAN AUDITOR APIP DALAM


MENANGANI FRAUD.
Unsur Integritas:

Bertanggung jawab
Jujur
Berani
Bijaksana

99

PERANAN AUDITOR APIP DALAM


MENANGANI FRAUD.
Unsur Integritas:
Bertanggung jawab
Sikap tidak mengelak, tidak mengalihkan
kesalahan pada orang lain, menyelesaikan
tugas sebagaimana mestinya

Jujur
Lurus hati, tidak curang, tulus hati, halus
perasaan, adil dan benar
100

PERANAN AUDITOR APIP DALAM


MENANGANI FRAUD.
Unsur Integritas:
Berani
Tidak dapat diintimidasi, tidak tunduk pada
tekanan,
berani
mengemukakan
keyakinan, percaya diri

Bijaksana
Selalu menimbang permasalahan berikut
akibatnya dengan seksama
Mengutamakan kepentingan negara
101

STRATEGI PEMBERANTASAN KKN


1. Strategi Preventif

Langkah-langkah dilakukan mencegah


terjadinya korupsi

2. Strategi Detektif

Langkah-langkah untuk mendeteksi


korupsi yang sudah terjadi

3. Strategi Represif

Langkah-langkah yang dilakukan


setelah korupsi terdeteksi, dengan
proses sesuai ketentuan hukum yang
cepat, tepat dan kepastian hukum
yang tinggi
102

D. TANGGUNG JAWAB AUDITOR APIP


DALAM MENANGANI FRAUD

SPAP: tanggung jawab Auditor adalah


pelaksanaan standar audit dan prosedur audit
yang memadai
Prinsip materialitas tidak sepenuhnya berlaku
untuk audit fraud.
Standar Pelaksanaan Audit APIP butir 4:
Auditor harus melakukan pengujian atas
ketaatan auditan terhadap peraturan per-UU-an
yang berlaku termasuk pengujian atas
kemungkinan adanya kekeliruan,
ketidakwajaran, serta tindakan melawan hukum.
103

E. LATIHAN

104

QUESTIONS ?

105

DISKUSI KELOMPOK
WHISTLE BLOWER
PERLINDUNGAN TERHADAP WHISTLE
BLOWER

106

WHISTLE BLOWER
Seorang pegawai atau karyawan dalam suatu
organisasi yang melaporkan, menyaksikan,
mengetahui adanya kejahatan ataupun adanya
praktik yang menyimpang dan mengancam
kepentingan publik di dalam organisasinya dan
yang memutuskan untuk mengungkap
penyimpangan tersebut kepada publik atau instansi
yang berwenang.
107

PASAL 10 (2) UU 13/2006


Seorang saksi yang juga tersangka dalam kasus
yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan
pidana apabila ia ternyata terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah, tetapi kesaksiannya dapat
dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan
pidana yang akan dijatuhkan.

108

UU DI AMERIKA SERIKAT
Jaksa atau penyidik sudah punya kewenangan
untuk tidak menjadikan sang pelapor sebagai
tersangka.

109

PASAL 15 UU 30/2002
KPK berkewajiban memberikan perlindungan
terhadap saksi atau pelapor yang menyampaikan
laporan atau memberikan keterangan mengenai
tindak pidana korupsi. Perlindungan itu meliputi
pemberian jaminan keamanan dengan meminta
bantuan dari kepolisian atau mengganti identitas
pelapor atau melakukan evakuasi termasuk
melakukan perlindungan hukum.
110

Selesai dan
Terima Kasih

111