Anda di halaman 1dari 9

TUGAS SOFTSKILL ETIKA PROFESI #

PTA 2014/2015

Disusun oleh :
Catur Joko Wijanarko Mindiar / 41112559
3DCO2

TEKNIK KOMPUER (TK)


UNIVERSITAS GUNADARMA
2014

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Allah S.W.T, karena
dengan berkat Rahmat dan Ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas sofstkill Etika Profesi
dengan baik.

Tugas ini saya buat berdasarkan survei yang saya lihat dari internet, serta sebagai
bimbingan saya agar jika lulus nanti tidak kesulitan atau bingung dalam pencarian profesi
pekerjaan.

Segala saran dan kritik baik mengenai kelengkapan, cara penyajian maupun hal yang
kurang tepat atau kurang teliti akan sangat diharapkan saya guna penyempurnaan makalah ini.
Mudah - mudahan makalah ini dapat memberikan motivasi untuk lebih meningkatkan
kemampuan saya khususnya dan para pembaca dalam bidang Teknik Komputer.

Bekasi, Desember 2014

Penulis

Cyber Law

Cyber Law adalah hukum yang digunakan di dunia cyber (dunia maya), yang pada umumnya
dapat diasosiasikan dengan penggunaan jaringan komputer dan internet. Cyber Law dibutuhkan
karena dasar atau fondasi dari hukum di banyak negara adalah "ruang dan waktu". Sementara
itu, internet dan jaringan komputer mendobrak batas ruang dan waktu saat ini. Perkembangan
teknologi komunikasi dan komputer sudah demikian pesatnya sehingga mengubah pola dan
dasar bisnis. Untuk itu Cyber Law ini sebaiknya dibahas oleh orang-orang dari berbagai latar
belakang

(akademisi,

pakar

TekInfo,

teknis,

hukum,

bisinis,

dan

pemerintah).

Perbincangan mengenai Cyber Law (ada yang menyebut Cyberspace Law) di Indonesia sudah
dimulai sejak pertengahan tahun 1990-an menyusul semakin berkembang pesatnya pemanfaatan
internet.

Dilihat dari ruang lingkupnya, Cyber Law meliputi setiap aspek yang berhubungan dengan
subyek hukum yang memanfaatkan teknologi internet yang dimulai pada saat mulai "online" dan
seterusnya sampai saat memasuki dunia maya. Oleh karena itu dalam pembahasan Cyber Law,
kita tidak dapat lepas dari aspek yang menyangkut isu prosedural, seperti jurisdiksi, pembuktian,
penyidikan, kontrak/transaksi elektronik dan tanda tangan digital/elektronik, pornografi,
pencurian melalui internet, perlindungan konsumen, pemanfaatan internet dalam aktivitas
keseharian manusia, seperti e-commerce, e-government, e-tax, e learning, e-health, dan
sebagainya.

Dengan demikian maka ruang lingkup Cyber Law sangat luas, tidak hanya semata-mata
mencakup aturan yang mengatur tentang kegiatan bisnis yang melibatkan konsumen
(consumers),

manufaktur

(manufactures),

service

providers

dan

pedagang

perantara

(intermediaries) dengan menggunakan Internet (e-commerce). Dalam konteks demikian kiranya


perlu

dipikirkan

tentang

rezim

hukum

baru

terhadap

kegiatan

di

dunia

maya.

Jadi Cyber Law adalah kebutuhan kita bersama. Cyber Law akan menyelamatkan kepentingan
nasional, pebisnis internet, para akademisi dan masyarakat secara umum, sehingga
keberadaannya harus kita dukung.

Computer Crime Act (Malaysia)


Computer Crime Act (Akta Kejahatan Komputer) merupakan Cyber Law (Undang-Undang)
yang digunakan untuk memberikan dan mengatur bentuk pelanggaran-pelanggaran yang
berkaitan dengan penyalahgunaan komputer.

Di Malaysia, sesuai akta kesepakatan tentang kejahatan komputer yang dibuat tahun 1997, proses
komunikasi yang termasuk kategori Cyber Crime adalah komunikasi secara langsung ataupun
tidak langsung dengan menggunakan suatu kode atau password atau sejenisnya untuk mengakses
komputer yang memungkinkan penyalahgunaan komputer pada proses komunikasi terjadi.

Cybercrime merupakan suatu kegiatan yang dapat dihukum karena telah menggunakan komputer
dalam jaringan Internet yang merugikan dan menimbulkan kerusakan pada jaringan komputer
Internet, yaitu merusak properti, masuk tanpa izin, pencurian hak milik intelektual, pornografi,
pemalsuan data, pencurian, pengelapan dana masyarakat. Untuk itulah dibentuk suatu undangundang yang mengatur tentang kriminalitas kejahatan komputer. Computer Crime Act
(Malaysia) merupakan suatu peraturan Undang undang yang memberikan pelanggaran
pelanggaran yang berkaitan dengan penyalah gunaan komputer, undang undang ini berlaku
pada tahun 1997. Computer crime berkaitan dengan pemakaian komputer secara illegal oleh
pemakai yang bersifat tidak sah, baik untuk kesenangan atau untuk maksud mencari keuntungan.
Lima cyberlaws telah berlaku pada tahun 1997 tercatat di kronologis ketertiban. Digital
Signature Act 1997 merupakan Cyberlaw pertama yang disahkan oleh parlemen Malaysia.
Tujuan Cyberlaw ini, adalah untuk memungkinkan perusahaan dan konsumen untuk
menggunakan tanda tangan elektronik (bukan tanda tangan tulisan tangan) dalam hukum dan
transaksi bisnis. Computer Crimes Act 1997 menyediakan penegakan hukum dengan kerangka
hukum yang mencakup akses yang tidak sah dan penggunaan komputer dan informasi dan
menyatakan berbagai hukuman untuk pelanggaran yang berbeda komitmen. Para Cyberlaw
berikutnya yang akan berlaku adalah Telemedicine Act 1997. Cyberlaw ini praktisi medis untuk
memberdayakan memberikan pelayanan medis / konsultasi dari lokasi jauh melalui
menggunakan fasilitas komunikasi elektronik seperti konferensi video. Berikut pada adalah

Undang-Undang Komunikasi dan Multimedia 1998 yang mengatur konvergensi komunikasi dan
industri multimedia dan untuk mendukung kebijakan nasional ditetapkan untuk tujuan
komunikasi dan multimedia industri. The Malaysia Komunikasi dan Undang-Undang Komisi
Multimedia 1998 kemudian disahkan oleh parlemen untuk membentuk Malaysia Komisi
Komunikasi dan Multimedia yang merupakan peraturan dan badan pengawas untuk mengawasi
pembangunan dan hal-hal terkait dengan komunikasi dan industri multimedia.
Departemen Energi, Komunikasi dan Multimedia sedang dalam proses penyusunan baru undangundang tentang Perlindungan Data Pribadi untuk mengatur pengumpulan, kepemilikan,
pengolahan dan penggunaan data pribadi oleh organisasi apapun untuk memberikan
perlindungan untuk data pribadi seseorang dan dengan demikian melindungi hak-hak privasinya.
Ini to-be-undang yang berlaku didasarkan pada sembilan prinsip-prinsip perlindungan data yaitu
:

Cara pengumpulan data pribadi.

Tujuan pengumpulan data pribadi.

Penggunaan data pribadi.

Pengungkapan data pribadi.

Akurasi dari data pribadi.

Jangka waktu penyimpanan data pribadi.

Akses ke dan koreksi data pribadi.

Keamanan data pribadi.

Informasi yang tersedia secara umum.

Council of Europe Convention on Cyber Crime


Council of Europe Convention on Cyber Crime (Dewan Eropa Konvensi Cyber Crime), yang
berlaku mulai pada bulan Juli 2004, adalah dewan yang membuat perjanjian internasional untuk
mengatasi kejahatan komputer dan kejahatan internet yang dapat menyelaraskan hukum
nasional, meningkatkan teknik investigasi dan meningkatkan kerjasama internasional.

Council of Europe Convention on Cyber Crime berisi Undang-Undang Pemanfaatan Teknologi


Informasi (RUU-PTI) pada intinya memuat perumusan tindak pidana.

Council of Europe Convention on Cyber Crime ini juga terbuka untuk penandatanganan oleh
negara-negara non-Eropa dan menyediakan kerangka kerja bagi kerjasama internasional dalam
bidang ini. Konvensi ini merupakan perjanjian internasional pertama pada kejahatan yang
dilakukan lewat internet dan jaringan komputer lainnya, terutama yang berhubungan dengan
pelanggaran hak cipta, yang berhubungan dengan penipuan komputer, pornografi anak dan
pelanggaran keamanan jaringan. Hal ini juga berisi serangkaian kekuatan dan prosedur seperti
pencarian jaringan komputer dan intersepsi sah.

Tujuan utama adanya konvensi ini adalah untuk membuat kebijakan kriminal umum yang
ditujukan untuk perlindungan masyarakat terhadap Cyber Crime melalui harmonisasi legalisasi
nasional, peningkatan kemampuan penegakan hukum dan peradilan, dan peningkatan kerjasama
internasional.

Selain itu konvensi ini bertujuan terutama untuk:


(1). Harmonisasi unsur-unsur hukum domestik pidana substantif dari pelanggaran dan ketentuan
yang terhubung di bidang kejahatan cyber.
(2). Menyediakan form untuk kekuatan hukum domestik acara pidana yang diperlukan untuk
investigasi dan penuntutan tindak pidana tersebut, serta pelanggaran lainnya yang dilakukan
dengan menggunakan sistem komputer atau bukti dalam kaitannya dengan bentuk elektronik
(3). Mendirikan cepat dan efektif rezim kerjasama internasional.

Jadi, kesimpulannya adalah :

) Cyber Law adalah hukum yang digunakan di dunia cyber (dunia maya), yang pada umumnya
diasosiasikan dengan penggunaan jaringan komputer dan internet.
) Computer Crime Act (Akta Kejahatan Komputer) yang dikeluarkan oleh Malaysia adalah
peraturan Undang-Undang TI yang sudah dimiliki dan dikeluarkan negara Jiran Malaysia sejak
tahun 1997 untuk memberikan dan mengatur bentuk pelanggaran-pelanggaran yang berkaitan
dengan penyalahgunaan komputer.
) Council of Europe Convention on Cyber Crime (Dewan Konvensi Eropa Cyber Crime),
adalah dewan yang membuat perjanjian internasional untuk mengatasi kejahatan komputer dan
kejahatan internet yang dapat menyelaraskan hukum nasional, meningkatkan teknik investigasi
dan meningkatkan kerjasama internasional.
Dari hasil definisi di ata, menurut saya dapat disimpulkan, perbandingan dari Cyber Law,
Computer crime act (Malaysia), Council of Europe Convention on Cyber Crime adalah bahwa
pada Cyber Law terfokus pada aspek yang berhubungan dengan subyek hukum, sedangkan
Computer Crime Act lebih menekankan pada aspek keluaran dari pemanfaatan dan pemakaian
komputer dan Council of Europe Convention on Cyber Crime merupakan lembaga organisasi
untuk memerangi kejahatan di dunia maya sekaligus meningktkan kerjasama antar Negara.
Dari berbagai upaya yang dilakukan tersebut, telah jelas bahwa cybercrime membutuhkan global
action dalam penanggulangannya mengingat kejahatan tersebut seringkali bersifat transnasional.
Beberapa langkah penting yang harus dilakukan setiap negara dalam penanggulangan cybercrime
adalah :
1. Melakukan modernisasi hukum pidana nasional beserta hukum acaranya, yang diselaraskan
dengan konvensi internasional yang terkait dengan kejahatan tersebut.
2. Meningkatkan sistem pengamanan jaringan komputer nasional sesuai standar internasional.

3. Meningkatkan pemahaman serta keahlian aparatur penegak hukum mengenai upaya


pencegahan, investigasi dan penuntutan perkara-perkara yang berhubungan dengan
cybercrime.
4. Meningkatkan kesadaran warga negara mengenai masalah cybercrime serta pentingnya
mencegah kejahatan tersebut terjadi.
5. Meningkatkan kerjasama antar negara, baik bilateral, regional maupun multilateral, dalam
upaya penanganan cybercrime, antara lain melalui perjanjian ekstradisi dan mutual assistance
treaties.

SUMBER

http://utiemarlin.blogspot.com/2010/04/cyber-law-computer-crime-act-malaysia.html
http://dee-x-cisadane.webs.com/apps/blog/show/14790953-peraturan-dan-regulasi-perbandingancyber-law-computer-crime-act-council-of-europe-convention-on-cyber-crimehttp://siremon2009.blogspot.com/2010/04/apa-sch-perbandingan-cyber-law-computer.html
http://princeznaj.blogspot.com/2010/04/perbandingan-cyber-law-computer-crime.html
http://maxdy1412.wordpress.com/2010/05/01/perbandingan-cyber-law-indonesia-computercrime-act-malaysia-council-of-europe-convention-on-cyber-crime-eropa/
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/05/peraturan-dan-regulasi-perbedaan-berbagai-cyberlaw-di-berbagai-negara/