Anda di halaman 1dari 17

Hari, Tanggal : Rabu, 05 November 2014

Waktu

: 09.30 − 12.00

Kelompok

: 5 pagi

Dosen

: Drh. Dudung Abdullah SM

Laporan Praktikum Ilmu Bedah Khusus Veteriner 1

OVARIEKTOMI

Oleh:

  • 1. Alamsah Firdaus

B04110033

Asisten operator

  • 2. Gina Melisa Sitorus

B04110034

Operator

  • 3. Rahajeng Harnastiti

B04110035

Asisten umum 1

  • 4. Faris Makawaru S

B04110036

Asisten anastesi

  • 5. Wuri Wulandari

B04110037

Asisten umum 2

  • 6. Prista Ayu Nurjanah

B04110041

Asisten nadi dan nafas

Hari, Tanggal : Rabu, 05 November 2014 Waktu : 09.30 − 12.00 Kelompok : 5 pagi

DIVISI BEDAH DAN RADIOLOGI

DEPARTEMEN KLINIK REPRODUKSI DAN PATOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2014

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kucing merupakan jenis hewan kesayangan yang digemari dan dipelihara karena lucu dan pandai. Kucing juga sebagai penghuni rumah yang dapat menemani suatu keluarga. Banyak terdapat ras kucing, tetapi masyarakat juga banyak menggemari memelihara kucing kampung. Kucing mempunyai pesona karena lucu dan cerdik serta mempunyai arti penting dalam hal penelitian, maka kesehatan hewan menjadi perhatian pemilik kucing dan dokter hewan. Populasi kucing kampung banyak dan mudah didapat, serta memiliki daya adaptasi yang baik dengan kemampuan produksi yang cukup tinggi. Organ generatif hewan betina terdiri dari dua ovaria dan bagian saluran reproduksi yang meliputi tuba Fallopi, uterus, servix, vagina, dan vulva. Ovarium merupakan organ reproduksi primer yang berfungsi menghasilkan hormon estrogen, progesteron, dan relaxin. Ovarium terletak dibagian dorsal abdomen sampai ke ginjal diantara vertebrae lumbalis ketiga dan keempat. Arteri ovarica dan cabang dari arteri utero-ovarial merupakan pembuluh darah yang bertugas untuk menyuplai darah ke ovarium. Uterus mempunyai fungsi penting dalam proses reproduksi yang dimulai dari hewan betina berahi sampai hewan tersebut bunting dan melahirkan. Uterus mengalami perubahan-perubahan yang erat hubungannya dengan yang terjadi pada embrio dan ovarium (Partodihardjo 1987). Uterus terdiri dari cornua, corpus dan cervix. Uterus terletak di dorsal dari vesica urinaria dan digantung atau dipertahankan oleh mesometrium. Uterus menerima suplai darah dari arteri uterina mediana, uteri utero ovarica dan suatu percabangan dari arteri pudenda interna (Aspinall 2003). Ovariektomi yang dilakukan bertujuan untuk mencegah siklus estrus, mencegah kebuntingan, mengangkat penyakit seperti kanker dan mengurangi resiko penyakit-penyakit yang biasa meyerang alat reproduksi betina.

Sistem genitalia dipandang sebagai sistem yang menjaga keberlangsungan spesies hewan dengan keunggulan kemampuan melakukan cetak ulang atau bereproduksi individu baru dan perhatiannya dipusatkan kepada siklus birahi, musim perkawinan, kebuntingan, kelahiran dan pemeliharaan anak neonatorum. Sistem genitalia betina dibagi dalam sistem genitalia dalam dan sistem genitalia luar termasuk di dalamnya glandula mammaria. Sistem genitalia betina terdiri atas dua indung telur atau ovaria, sepasang tuba Fallopii, tanduk uterus, uterus, vagina, dan berakhir di vulva. Sistem genitalia dalam adalah ovaria, tuba Fallopii dan uterus (Widodo et al. 2011). Ovarium merupakan organ yang berfungsi sebagai organ eksokrin yang menghasilkan sel telur atau ovum, dan organ endokrin yang

mensekresikan hormon-hormon reproduksi, estrogen dan progesteron (Toelihere 1977). Ovarium dapat mengalami kelainan patologis seperti tumor sehingga harus dilakukan penanganan berupa tindakan bedah ovariektomi, yaitu tindakan pengambilan ovarium dari rongga abdomen. Uterus merupakan saluran yang berfungsi sebagai tempat implantasi dan pertumbuhan fetus. Pencegahan kebuntingan dapat dilakukan dengan metode operasi, yaitu dengan melakukan ovariektomi ataupun ovariohysterektomi. Hysterektomi merupakan suatu operasi yang dilakukan pada hewan betina untuk mensterilkan hewan dengan cara melakukan pengangkatan hanya pada bagian uterus sehingga fungsi hormon reproduksi betina tetap ada (Archibald 1974). Ovariohysterektomi (OH) merupakan pengangkatan atau pengambilan sebagian organ genitalia hewan betina dari bagian ovarium hingga ke bagian uterus. Alasan yang paling utama untuk melakukan prosedur OH adalah untuk mencegah estrus dan mencegah hewan menghasilkan keturunan yang tidak diinginkan. Ovariektomi adalah proses sterilisasi yang dilakukan terutama pada kucing yang berada dalam keadaan sehat dan muda. Hal ini dimaksudkan untuk terapi patologis penyakit ovarium seperti adanya infeksi, ovatitis, tumor ovarium, anomali kongenital, dan ketidakseimbangan endokrin. Ovariektomi dapat dilakukan pada semua umur, tetapi yang paling baik dilakukan pada umur 4-6 bulan atau sebelum pubertas, karena hewan relatif lebih aman untuk dianastesi. Pada hewan yang sedang estrus, bunting atau hewan betina yang gemuk dan tua sangat membahayakan keselamatan hewan tersebut (Yusuf 1995).

1.2 Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengatasi penyakit yang menyerang ovarium dan uterus, pyometra, torsio uteri, prolaps uterus, ruptura uteri dan sebagai salah satu cara strerilisasi pada hewan betina. Praktikum Operasi Ovariektomi dilakukan untuk meningkatkan ketrampilan mahasiswa dalam melakukan strelisasi pada hewan betina.

MATERIAL DAN METODE

2.1 Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu seperangkat alat bedah minor (4 buah towel clamp, 2 buah pinset anatomis, 2 buah pinset sirurgis, 1 buah pinset scalpel dan blade, 1 buah gunting lurus tajam-tajam,1 buah gunting lurus tajam-tumpul, 1 buah gunting tumpul-tumpul, 1 buah gunting bengkok, 4 buah tang arteri anatomis lurus, 4 buah tang arteri sirurgis bengkok, 2 tang arteri lurus sirurgis,dan 1 buah needle holder). Perlengkapan operator dan asisten (2 buah penutup kepala, 2 buah masker,

2 buah sikat, 2 buah handuk, 2 pasang sarung tangan, dan 2 buah baju bedah), autoklaf, kain duk, tali restraint, meja operasi, lampu operasi, stetoskop, timbangan, thermometer, stopwatch, spoit 1 ml dan 3 ml, pencukur rambut, tampon, kapas, dan jarum penampang segitiga diameter ½ lingkaran. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini, yaitu seekor kucing betina, alkohol 70%, betadine, dan benang catgut, benang silk, premedikasi (Atropin sulfa dengan dosis 0,025 mg/kg BB), anastethikum (Xylazine dengan dosis 2 mg/kgBB dan Ketamine dengan dosis 10 mg/kgBB), dan antibiotik (teramycine dengan dosis 14 mg/kg BB, penicillin 50.000 IU, dan amoxicillin dengan dosis 20 mg/Kg BB)

2.2 Metode Praktikum

2.2.1 Persiapan Pra Operasi

  • 2.2.1.1 Persiapan Ruang Operasi

Ruang operasi dan meja operasi didesinfeksi menggunakan desinfektan. Selain itu, perlengkapan alat juga didesinfeksi. Kemudian dilakukan fumigasi dengan menggunakan formalin 10% dan KMnO 4 1% (1:2) dan dibiarkan selama 15 menit.

  • 2.2.1.2 Persiapan Peralatan

Seperangkat alat bedah minor disiapkan, yaitu 4 buah towel clamp, 2 buah pinset anatomis, 2 buah pinset sirurgis, 1 buah pinset scalpel dan blade, 1 buah gunting lurus tajam-tajam,1 buah gunting lurus tajam- tumpul,1 buah gunting tumpul-tumpul, 1 buah gunting bengkok, 4 buah tang arteri anatomis lurus, 4 buah tang arteri sirurgis bengkok, 2 tang arteri lurus sirurgis,dan 1 buah needle holder. Peralatan tersebut direndam dalam air yang diberi larutan pencuci, disikat dimulai dari ujung yang paling steril (ujung yang pertama mengenai jaringan pasien) kemudian dibilas dengan air yang mengalir 10-15 kali dimulai dari ujung yang pertama disikat. Peralatan tersebut dikeringkan dengan handuk yang steril, dimasukkan di dalam wadah yang bersih secara berurutan mulai dari needle holder, tang arteri, gunting, pinset scalpel dan blade, pinset sirurgis, pinset anatomis, dan towel clam, kemudian dibungkus dengan dua lapis kain. Kain pembungkus lapis pertama disiapkan terlebih dulu dengan posisi memanjang kemudian peralatan dalam wadah diposisikan ditengah kain tersebut. Kemudian sisi kain yang dekat dengan tubuh dilipat hingga menutupi seluruh peralatan dan ujung lainnya dilipat mendekati tubuh, sisi kanan peralatan dilipat selanjutnya sisi kiri. Setelah itu, kain penutup kedua disiapkan dan wadah yang sudah dibungkus oleh kain sebelumnya diletakkan di tengah pada posisi diagonal. Ujung kain yang dekat dengan tubuh dilipat hingga menutupi peralatan, sisi kanan dilipat diikuti sisi kiri dan ujung yang lainnya dilipat mendekati tubuh dan diselipkan tujuannya untuk memudahkan pelepasan kain pada saat

membuka penutup. Sterilisasi dengan oven dengan suhu 121°C selama 15 menit.

Teknik pembukaan kain pembungkus peralatan terluar, yaitu lipatan pertama ditarik kearah tubuh pembuka (personal yang berada di ruang operasi) kemudian dilanjutkan dengan menarik masing-masing ujung lipatan. Selanjutnya kain penutup kedua akan dibuka oleh pembuka yang lebih steril dan bersih dengan cara menarik lipatan kearah tubuh yang diikuti dengan ujung lipatan berikutnya. Setelah itu peralatan tersebut diletakkan diatas meja alat yang steril.

  • 2.2.1.3 Persiapan Obat-obatan

Obat-obatan yang harus dipersiapkan yaitu desinfektan (Alkohol 70%), preanestesi (Atropin sulfa (dosis 0,025 mg/kg BB) diberikan secara SC), sedatif (Xylazine (dosis 2 mg/kg BB) diberikan secara IM), anestetik (Ketamine (dosis 10 mg/Kg BB) diberikan secara IM), antibiotik (Teramycine (dosis 14 mg/Kg BB) diberikan secara IM dan Amoxicillin (dosis 20 mg/kg BB) diberikan secara oral).

Cara Pemberian dosis

: Dosis obat x Bobot badan Hewan Konsentrasi Obat

  • 2.2.1.4 Persiapan Perlengkapan Operator dan Asisten

Perlengkapan operator dan asisten disiapkan, yaitu 2 buah penutup kepala, 2 buah masker, 4 buah sikat, 2 buah handuk, 2 pasang sarung tangan, dan 2 buah baju bedah. Perlengkapan operasi dibungkus dengan dua lapis kain (diletakkan ditengah) dengan urutan dari bawah, yaitu sarung tangan yang sudah dibungkus dengan kertas/plastik/aluminium foil, baju operasi yang sudah dilipat, handuk yang sudah dilipat, dua sikat yang bersih, masker dan penutup kepala. Setelah selesai menata bahan- bahan, selanjutnya dilakukan pembungkusan menggunakan dua lapis kain. Bahan-bahan yang sudah tersusun rapi diletakkan ditengah sejajar dengan sisi kain yang pertama, dilipat sejajar dari sisi yang dekat dengan tubuh sisi yang didepannya diikuti sisi kanan dan kiri. Kemudian bahan yang sudah terbungkus diletakkan di bagian tengah kain lapis luar, dilipat sejajar dengan garis diagonal dan dimulai dari ujung yang ekat dengan tubuh kemudian sisi kanan, sisi kiri dan ujung yang lainnya dilipat mendekati tubuh dan diselipkan tujuannya untuk memudahkan pelepasan kain pada saat membuka pembungkus. Peratalatan disterilisasi dengan menggunakan autoklaf pada suhu 100°C selama 30 menit. Cara menggunakan perlengkapan operasi dapat dimulai dari mencuci tangan dengan sabun yang dibilas dengan air bersih beberapa kali, dikeringkan dengan handuk, satu sisi untuk tangan kanan dan sisi lainnya untuk tangan kiri. Setelah itu, penutup kepala dipasang, masker dipasang. Kemudian dilakukan pencucian tangan menggunakan sabun, kedua tangan disikat dengan dua sikat yang berbeda, sikat pertama untuk

tangan kanan dan sikat kedua untuk tangan kiri, penyikatan dimulai dari ujung jari hingga ujung siku. Setelah itu, dibilas dengan air mengalir sebanyak 10-15 kali dari ujung kuku dialirkan ke siku, di keringkan dengan handuk, satu sisi untuk tangan kanan dan sisi lainnya untuk tangan kiri. Setelah itu, memasang baju operasi dilanjutkan dengan pemasangan sarung tangan. Pemasangan sarung tangan pertama dimulai dengan memegang sisi dalam dari sarung tangan dan pemasangan sarung tangan kedua dilakukan dengan memegang bagian luar dari sarung tangan yang bertujuan agar sarung tangan tetap dalam keadaan steril ketika dipasang.

2.2.1.5 Persiapan Hewan

Preparasi hewan ini yaitu dengan melakukan pemeriksaan fisik (PF) yang meliputi signalement (nama pemilik, nama hewan, bangsa hewan, ras, jenis kelamin, umur, petanda khusus ataupun buatan dan berat badan), anamnese, status present yang terdiri dari keadaan umum (frekuensi jantung, frekuensi nafas, suhu badan, perawatan, habitus, gizi, sikap berdiri, pertumbuhan badan dan cara berjalan) dan adaptasi lingkungan. Selanjutnya kucing ditimbang guna menentukan jumlah pemberian pre anaesthetikum, anaesthetikum dan antibiotik. Suhu tubuh kucing diukur menggunakan termometer (˚C). Setelah itu dihitung frekuensi nafasnya (kali/menit) dengan melihat gerakan abdomen atau toraks. Pernafasan kucing merupakan pernafasan tipe costal sehingga untuk mengukur frekuensinya dapat dilihat pergerakan ossa costales. Selain itu frekuensi pernafasan kucing juga dapat diukur dengan melihat gerakan benang yang didekatkan di lubang hidungnya. Frekuensi denyut nadi (kali/menit) diukur dengan meraba atau sedikit menekan arteri femoralis di medial os femur. Setelah pengukuran beberapa paramater di atas, kemudian disiapkan alat suntik dan obatnya untuk dilakukan pembiusan dan desinfeksi pada kucing. Sebelum dilakukan pembiusan, kucing diinjeksi dengan premedikasi yaitu atrofin sulfa dengan dosis 0,025 mg/kg BB dengan tujuan untuk mengurangi salivasi (efek yang ditimbulkan anastethikum yang digunakan). Pembiusan menggunakan kombinasi dari ketamine 10 % dengan dosis 10-15 mg/kg BB (dipilih dosis 10 mg/kg BB) dan xylazine 2 % dosis 1-2 mg/kg BB (dipilih 2 mg/kg BB). Gabungan obat tersebut diaplikasikan melalui intramuscular (IM) pada musculus semitendinosus dan musculus semimembranosus. Letak kedua otot tersebut adalah 2 jari di caudal dari tuber coxae. Hal yang diamati adalah lamanya onset (lamanya obat setelah diberikan/diaplikasikan sampai terlihat adanya efek), durasi (lamanya obat itu bekerja sampai hilang efeknya, kucingnya sadar), frekuensi jantung, frekuensi nafas, dan diameter pupil (secara horizontal atau vertikal), serta ada tidaknya refleks. Parameter tersebut diukur kembali pada saat operasi sampai kucing tersebut siuman. Ketika kucing akan sadar pada saat masih operasi, kucing diberikan maintenance berupa pemberian

kombinasi ketamine dan xylazine dengan dosis ½ dari pemberian anaesthesi awal. Tahap selanjutnya yaitu pencukuran pada daerah yang akan dioperasi, dalam praktikum ini yaitu daerah medianus posteriaor (2 cm di belakang umbilikal). Lokasi pencukuran di daerah abdomen dan arah pencukuran berlawanan dengan arah rambut. Setelah itu, bagian yang dicukur dicuci dengan sabun dan dibilas dengan air lalu dikeringkan menggunakan kapas. Setelah itu dibilas dengan alkohol 70%, desinfeksi dengan iodium tincture 3-10%.

2.2.2

Operasi

Setelah kucing teranestesi, keempat kakinya difiksir menggunakan simpul tomfool ke meja operasi. Duk dipasang pada daerah orientasi operasi. Duk difiksasi dengan menggunakan towel clamp. Penyayatan

dilakukan pada bagian medial tubuh dengan titik orentasi umbilikal. Sayatan sepanjang 2 cm dari posterior umbilical. Penyayatan dimulai dari kulit dan subcutan, aponeurose musculis, linea alba dan peritoneum. Penyayatan yang dilakukan dengan benar tidak akan menimbulkan pendarahan dan saat peritoneum disayat akan menyembul omentum secara spontan. Ruang abdomen yang sudah terbuka, dilakukan eksplorasi organ abdomen dengan hati-hati. Eksplorasi dilakukan dengan jari telunjuk untuk menemukan vesika urinaria, tepat di ventral vesika terdapat ovarium. Ovarium diangkat, lalu dikeluarkan dari ruang abdomen. Ovarium dipisahkan dari mesovarium dengan melakukan

fiksasi dengan clamp pada mesovarium

Pengikatan terhadap

.. mesovarium dan arteri ovarica serta arteri uterina dilakukan untuk menghindari pendarahan. Pemotongan dilakukan dengan hati-hati diantara dua clamp. Jahitan penutup dilakukan setelah penicillin diberikan. Kemudian linea alba dan peritonoeum dijahit dengan jahitan sederhana (simple interrupted) menggunakan benang catgut 3/0, penjahitan harus dilakukan dengan rapat agar tidak terjadi hernia. Penjahitan kulit dilakukan dengan jahitan sederhana (simple interrupted) menggunakan benang silk. Tahap terakhir setelah penjahitan diberikan teramycine secara IM.

2.2.3 Perawatan Post Operasi

Selama post operasi dilakukan pemantauan kondisi hewan seperti suhu, frekuensi denyut jantung dan frekuensi nafas, nafsu makan, urinasi, defekasi serta kondisi luka. Pengobatan post operasi dilakukan dengan memberikan antibiotik secara peroral. Pada saat operasi diberikan (disemprotkan) antibiotik Penicillin 50.000 IU pada daerah sayatan sesuai dengan dosis. Setelah operasi dilakukan, kucing diinjeksi teramycine dengan dosis 14 mg/kg BB secara intramuscular. Selanjutnya dilakukan perawatan terhadap hewan hingga hari ke-7 post operasi. Setiap harinya hewan diberikan antibiotik amoxicillin (dosis

20 mg/kg BB) selama 5 hari secara per oral setiap 2 kali sehari. Selain itu diamati juga fisiologis tubuh kucing (suhu, frekuensi nafas, frekuensi denyut nadi), urinasi, defekasi, makan dan minum kucing. Setelah 7 hari post operasi, dilakukan pembukaan jahitan.

3.1 Sebelum Operasi

  • 3.1.1 Signalement

HASIL

Nama Hewan Jenis Hewan Ras Warna bulu dan kulit Jenis Kelamin Umur Tambahan khusus

: Nimo : Kucing : Domestic : Hitam-coklat : Betina : < 1 tahun :

Berat badan Petanda buatan

: 1,85 kg :

-

Petanda bawaan

:

-

Petanda khusus

:

-

  • 3.1.2 Status Present

3.1.2.1 Keadaan umum :

Perawatan Habitus Gizi Pertumbuhan badan Sikap berdiri Suhu Frekuensi nadi Frekuensi nafas Cara berjalan CRT

3.1.2.2 Adaptasi lingkungan : baik

: Baik : Pendiam : Sedang : Sedang : Bertumpu pada keempat kaki : 38° C : 120 x/ menit : 24 x/ menit : Tidak ada kelainan : < 3 detik

  • 3.1.3 Perhitungan Dosis Anaesthesi

3.1.3.1 Perhitungan Pemberian Preparat Anaesthetik

Atropin 0,25 mg/ml (premedikasi)

Dosis injeksi =

0,025

mg kg

/

1,85

kg

0,25

mg ml

/

 

0,185 ml

Xylazine 20 mg/ml

Dosis injeksi =

2

mg kg

/

1,85

kg

20

mg ml

/

0,185 ml

Ketamin 100 mg/ml

Dosis injeksi =

10

mg kg

/

1,85

kg

100

mg ml

/

0,185 ml

Dosis maintenance =

1

2

dosis yang diberikan

3.1.3.2 Perhitungan Pemberian Antibiotik

Penicilline 50.000 IU/ml Dosis pemberian = 2 ml (pada sebelum jahitan di kulit)

Teramycine Dosis injeksi =

14

mg kg

/

1,85

kg

50

mg ml

/

0,518 ml

Amoxicilin Dosis per oral per hari =

20

mg kg

/

1,85

kg

25

mg ml

/

1,48 ml

3.2 Selama Operasi

Tabel 1 Hasil pengukuran suhu, frekuensi jantung, frekuensi nafas, CRT (Capillary Refill Time), mukosa, dan tonus otot selama operasi.

 

Menit ke-

 

Parameter

0

15

30

45

60

75

90

105

Suhu ( o C)

37,7

36,5

35

34,4

34,0

34,0

34,0

35,1

Frek.jantung(x/menit)

104

96

108

124

120

108

136

124

Frek. Nafas(x/menit)

32

40

32

24

24

24

28

36

CRT (detik)

< 3

<3

<3

>3

>3

>3

>3

>3

Mukosa

rose

rose

pucat

pucat

pucat

pucat

pucat

pucat

Tonus otot (+/-)

+

-

-

-

-

-

-

-

Grafik 1 Hasil pengukuran suhu selama operasi.

Grafik 2 Hasil Pengukuran Frekuensi jantung selama operasi Grafik 3 Hasil pengukuran frekuensi nafas selama operasi

Grafik 2 Hasil Pengukuran Frekuensi jantung selama operasi

Grafik 2 Hasil Pengukuran Frekuensi jantung selama operasi Grafik 3 Hasil pengukuran frekuensi nafas selama operasi

Grafik 3 Hasil pengukuran frekuensi nafas selama operasi

Grafik 2 Hasil Pengukuran Frekuensi jantung selama operasi Grafik 3 Hasil pengukuran frekuensi nafas selama operasi

3.3 Post Operasi

Tabel 2 Pemeriksaan post operasi

Pemeriksaan post operasi hari ke-

Parameter

I

II

III

IV

V

 

Pg

Mlm

pg

mlm

Pg

mlm

Pg

mlm

Pg

mlm

Nafas

52

36

36

44

46

48

48

48

48

52

Jantung

80

112

128

168

168

168

168

168

168

120

Suhu ( 0 C)

37,8

37,6

38,2

38,3

38,3

38,3

38,1

38,3

38,3

38,8

Makan

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Urinasi

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Defekasi

-

-

-

-

-

-

+

+

+

+

Minum

+

+

+

+

+

+

+

+

+

+

Jahitan

bsh

bsh

bsh

bsh

bsh

bsh

Krg

krg

Krg

Krg

(basah/kering)

Grafik 4 Hasil pengukuran suhu post operasi

3.3 Post Operasi Tabel 2 Pemeriksaan post operasi Pemeriksaan post operasi hari ke- Parameter I II

Grafik 5 Hasil Pengukuran frekuensi nafas post operasi

Grafik 6 Hasil pengukuran frekuensi jantung post operasi PEMBAHASAN Ovariektomi adalah proses sterilisasi yang dilakukan terutama

Grafik 6 Hasil pengukuran frekuensi jantung post operasi

Grafik 6 Hasil pengukuran frekuensi jantung post operasi PEMBAHASAN Ovariektomi adalah proses sterilisasi yang dilakukan terutama

PEMBAHASAN

Ovariektomi adalah proses sterilisasi yang dilakukan terutama pada kucing yang berada dalam keadaan sehat dan muda. Hal ini dimaksudkan untuk terapi patologis penyakit ovarium seperti adanya infeksi, ovatitis, tumor ovarium, anomali kongenital, dan ketidakseimbangan endokrin. Ovariektomi dapat dilakukan pada semua umur, tetapi yang paling baik dilakukan pada umur 4-6 bulan atau sebelum pubertas, karena hewan relatif lebih aman untuk dianastesi. Pada hewan yang sedang estrus, bunting atau hewan betina yang gemuk dan tua sangat membahayakan keselamatan hewan tersebut (Yusuf 1995). Sebelum dilakukan operasi, kucing diperiksa secara umum terlebih dahulu untuk mengetahui kondisinya. Kucing yang akan dioperasi harus dalam keadaan sehat. Hal ini agar pada saat operasi dan post operasi tidak terjadi kelainan yang dapat menyebabkan kucing menderita. Setelah dipastikan kucing dalam kondisi baik, kucing dianastesi dengan kombinasi ketamine-xlazine. Sebelumnya kucing diinjeksi atropin sulfa untuk mencegah muntah dan hipersalivasi akibat efek obat anastetikum pada saat operasi. Atropin menyebabkan blokade reversibel kerja

kolinomimetik yang mempenaruhi motilitas usus, bronkodilatator, dan mencegah terjadinya hipersalivasi (Katzung 2001). Kucing yang telah diinjeksi anestetikum ditunggu sampai menunjukkan gejala anastesi. Terdapat beberapa stadium sebelum kucing teranatesi sempurna. Stadium analgesia terjadi ketika kucing mulai kehilangan rasa sakit tetapi belum kehilangan kesadaran. Setelah itu kucing terlihat sempoyongan, keadaan ini disebut stadium eksitasi atau stadium involunter. Tahap terakhir kesadaran dan rasa sakit kucing hilang seluruhnya. Stadium ini merupakan stadium pembedahan, yaitu saat yang tepat untuk dilakukan operasi. Setelah kucing teranastesi dengan baik, terlebih dahulu daerah yang akan dioperasi rambutnya dicukur lalu diberi iodine tincture. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari kontaminasi rambut pada saat operasi yang dapat menyebabkan kelainan dan pemberian iodine tincture untuk mencegah infeksi sekunder pada saat penyayatan. Setelah itu, kucing diletakkan di meja operasi, difiksir dengan menggunakan tali pada keempat kakinya lalu ditutup dengan menggunakan duk sehingga yang terlihat hanya daerah orientasi operasi. Duk yang digunakan untuk menutup bagian tubuh kucing, difiksir dengan menggunakan towel clamp. Sterilisasi pada kucing betina, dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan teknik ovariektomi, histerektomi, dan ovariohisterektomi. Teknik yang dilakukan tergantung dari kondisi hewan pada saat dilakukan operasi. Kondisi tersebut dilihat dari keadaan uterus, siklus estrus, kebuntingan, dan umur hewan. Keadaan uterus yang tidak baik seperti terjadinya kelainan patologis sebaiknya dilakukan dengan teknik histerektomi atau ovariohisterektomi. Keadaan uterus yang baik dan umur yang masih muda sebaiknya dilakukan dengan teknik ovariektomi. Operasi yang dilakukan pada praktikum yaitu ovariektomi karena keadaan uterus kucing yang normal dan umur kucing yang masih kurang dari 1 tahun. Penyayatan dilakukan pada daerah medianus posterior (2 cm dibelakang umbilical). Hal ini karena organ reproduksi betina berada di sekitar daerah tersebut. Penyayatan pertama dilakukan pada kulit dan subkutan dengan menggunakan scalpel yang tajam. Kemudian, dilakukan penguakan dengan gunting lurus tumpul-tumpul sampai ditemukan linea alba. Linea alba disayat bersama peritoneum dengan scalpel dan diperluas dengan menggunaan gunting. Setelah ruang abdomen terbuka, dilakukan eksplorasi untuk menemukan ovarium yang berada di ventral vesica urinaria. Ovarium yang telah ditemukan diangkat dan dikeluarkan dari ruang abdomen. Penggantung ovarium (mesovarium) disayat agar memudahkan ovarium terangkat dari ruang abdomen. Penyayatan mesovarium harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengenai pembuluh darah. Setelah ovarium terangkat ke luar, arteri ovarica bersama dengan ligamentum pengikat ovarium dijepit dengan dua tang arteri anatomis. Kemudian dilakukan pengikatan di belakang tang arteri dengan benang catgut. Setelah dipastikan pembuluh darah terikat, dilakukan penyayatan di antara kedua tang arteri. Tahap berikutnya, tuba fallopii dijepit dengan dua tang arteri dan dilakukan pengikatan dibelakang tang arteri terakhir dengan benang catgut. Sama seperti sebelumnya, penyayatan dilakukan di antara kedua tang arteri.

Proses pengangkatan ovarium di sisi lainnya dilakukan dengan teknik yang sama. Sebelum line alba dan kulit dijahit dilakukan pemberian antibiotik penicilin 50.000 IU dalam bentuk cair. Tujuan dari pemberian antibiotik ini adalah untuk mencegah terjadinya infeksi pada saat operasi berlangsung. Linea alba dijahit menggunakan benang catgut dengan jahitan sederhana. Tahap terakhir, kulit dijahit menggunakan benang silk dengan jahitan sederhana. Kondisi organ dalam hewan setelah dilakukan penyayatan adalah secara anatomis normal, secara fisiologis hewan tidak sedang dalam kondisi estrus dan belum pernah melahirkan. Keadaan ini terlihat pada ukuran cervix, uterus yang normal serta tidak ditemukannya perkembangan folikel pada ovarium. Kesulitan terjadi saat mencari ovarium dan uterus karena ukurannya yang kecil. Namun dapat diatasi dengan mengetahui titik orientasi yang tepat dibawah vesika urinaria. Proses penjahitan berjalan dengan sangat baik dengan teknik sederhana dan penjahitan rapat. Sedikitnya lemak pada subkutis membuat penjahitan cukup cepat dan penjahitan langsung dilakukan pada kulit. Selama proses operasi berlangsung, dilakukan pula pengamatan terhadap frekuensi nafas, jantung, suhu, CRT, mukosa, tonus otot. Pengamatan ini dilakukan setiap 15 menit sekali. Selama pengamatan terihat adanya penurunan suhu. Hal ini merupakan salah satu efek dari anestetikum (ketamine) yang diberikan (Plumbs 2005). Pemantauan parameter-parameter tersebut ini harus dilakukan untuk mengetahui efek dosis anastesi yang diberikan dan mencegah kondisi kritis pada hewan. Pengamatan post operasi dilakukan saat pagi dan malam hari setelah dilakukan operasi. Pengamatan yang dilakukan meliputi frekuensi jantung, frekuensi nafas, suhu, defekasi, urinasi, dan nafsu makannya. Kucing muntah pada hari pertama post operasi. Hal ini normal terjadi karena salah satu efek obat anastetikum (ketamine) adalah muntah (Plumbs 2005). Akibat muntah, kucing terlihat lemas karena dehidrasi. Oleh karena itu kucing dicekok air minum menggunakan spoit. Setelah itu, pada hari berikutnya kucing kembali normal seperti biasanya. Selain pemeriksaan kondisi tubuh hewan dilakukan juga pemberian antibiotik tiap pagi dan malam. Pemeriksaan kondisi luka diamati dan diberikan iodine tincture. Suhu kucing post operasi dalam kondisi normal, hal ini juga terlihat pada frekuensi nafas serta denyut jantung yang semakin meningkat. Hal ini dikarenakan kucing sudah lebih aktif dan sudah mulai kembali ke kondisi normal. Nafsu makan kucing terlihat bagus, satu hari setelah operasi kucing sudah mulai makan dan nafsu makan menjadi baik pada dua hari post operasi. Kucing urinasi dan defekasi pada hari ke-2 post operasi dan pada hari ke-4 post operasi dengan konsistensi padat. Kondisi jahitan pada hari ke-1 sampai 3 post operasi terlihat masih dalam keadaan basah, namun pada hari ke-4, kondisi sayatan mulai mengering. Kemudian diberikan bioplasenton pada luka jahitan agar mempercepat pengeringan luka.

PENUTUP

5.1

Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum ini, dapat disimpulkan bahwa teknik operasi bedah sterilisasi hewan betina dapat dilakukan untuk berbagai tujuan. Teknik yang dilakukan yaitu ovariektemi (pembuangan ovarium saja) karena hewan dalam keadaan sehat dan umurnya masih kurang dari satu tahun.

5.2

Saran

Perlunya peningkatan kemampuan masing-masing praktikan dan kekompakan tim dalam melakukan tindakan bedah.

DAFTAR PUSTAKA

Archibald J. 1974. Canine Surgery: 2nd Ed. California (US): American Veterinary Publication, Inc.

Aspinall V. 2003. Clinical procedure in veterinary nursing. USA: Mosby.

Katzung BG. 2011. Farmakologi Dasar dan Klinik, Edisi Pertama. Jakarta (ID):

Salemba Medika.

Partodiharjo R. 1987. Ilmu Reproduksi Hewan. Jakarta (ID): Mutiara Sumber Widya Pr.

Plumbs DC. 2005. Plumb’s Veterinary Drug Handbook: Fifth Edition. Oxford (UK):

Blackwell Publishing.

Widodo S, Sajuthi

D, Choliq

C,

Wijaya A, Wulansari R, Lelana

RPA. 2011.

Diagnostik Klinik Hewan Kecil: 1st Ed. Bogor (ID): IPB Pr.

Yusuf I. 1995. Penuntun Praktikum dan Penuntun Koasistensi. Banda Aceh (ID):

Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah.

LAMPIRAN GAMBAR

Gambar 1 Pemeriksaan fisik sebelum operasi Gambar 2 Pemberian Anastesi

Gambar 1 Pemeriksaan fisik sebelum operasi

Gambar 1 Pemeriksaan fisik sebelum operasi Gambar 2 Pemberian Anastesi

Gambar 2 Pemberian Anastesi

Gambar 1 Pemeriksaan fisik sebelum operasi Gambar 2 Pemberian Anastesi
Gambar 1 Pemeriksaan fisik sebelum operasi Gambar 2 Pemberian Anastesi

Gambar 3 Pencukuran dan pemberian antiseptik pada daerah orientasi operasi

Gambar 3 Pencukuran dan pemberian antiseptik pada daerah orientasi operasi Gambar 4 Prosedur Operasi
Gambar 3 Pencukuran dan pemberian antiseptik pada daerah orientasi operasi Gambar 4 Prosedur Operasi
Gambar 3 Pencukuran dan pemberian antiseptik pada daerah orientasi operasi Gambar 4 Prosedur Operasi

Gambar 4 Prosedur Operasi