Anda di halaman 1dari 29

CESTODA II

Diphyllobotrium latum
Hymenolepis nana
Hymenolepis diminuta
Dipylidium caninum

Finkha Rani G. P.
(3425120264)
Riza Ekaputri

Satuan Acara Perkuliahan


INFORMASI UMUM
Nama dosen
Program studi
Kode Mata Kuliah
Nama Mata Kuliah
Jumlah SKS
Semester
Alokasi Waktu
Pertemuan

: Drs. Refirman Dj., M. Biomed


: Biologi
: 3733
: Parasitologi
: 2 SKS
: 100
: 1 x 30 menit
: ke 7

Satuan Acara Perkuliahan


I. Standar Kompetensi

II. Kompetensi Dasar


III. Indikator

Mahasiswa mampu memahami jenis-jenis parasit yang termasuk


ke dalam Cestoda dan hospesnya serta jenis-jenis Cestoda yang
menginfeksi inangnya
Mahasiswa mampu memahami karakteristik Cestoda yang
menginfeksi inangnya
Mahasiswa dapat :
Menjelaskan pengertian Cestoda
Mengetahui karakteristik Cestoda dengan spesies
Diphyllobotrium latum, Hymenolepis nana,
Hymenolepis diminuta, & Dipylidium caninum

IV. Materi Ajar

V. Metode / Strategi Pembelajaran

Cestoda 2:
Diphyllobotrium latum
Hymenolepis nana
Hymenolepis diminuta,
Dipylidium caninum
Perkuliahan
Presentasi
Diskusi

VI. Tahap Pembelajaran


A. Kegiatan Awal

Penjelasan mengenai materi kuliah

B. Kegiatan Inti

Presentasi

C. Kegiatan Akhir

Tanya jawab

Satuan Acara Perkuliahan


VII. Alat / Bahan / Sumber Belajar
A. Alat / Media
B. Bahan / Sumber Belajar

Laptop
LCD
Staf Pengajar Departemen Parasitologi FKUI. 2008.
Parasitologi Kedokteran Edisi Keempat. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

VIII. Penilaian
A. Teknik dan Instrumen Penilaian Penilaian diskusi,
tugas,
Makalah
Ujian
B. Kriteria Penilaian
Kehadiran,
keaktifan,
tugas,
makalah dan ujian

Diphyllobothrium latum (Fish


Tapeworm)
Diphyllobotrium latum (Fish tapeworm) adalah

cacing pita terbesar yang menginfeksi manusia.


Manusia dapat terinfeksi Diphyllobotrium latum
bila memakan ikan mentah atau kurang matang
yang mengandung kista cacing ini. Penyakit
yang disebabkan parasit ini disebut
difilobotriasis.
Hospes:
Definitif: manusia
Resevoar: hewan karnivora pemakan ikan.

Geographic distribution: Northern Europe, Chile,

Japan, Korea, North America

Diphyllobothrium latum (Fish


Tapeworm)
Morfologi:
Cacing dewasa bewarna

gadinng.
Pangjang dapat mencapai
10m.
3000-4000 proglotid.
Telur berukuran 70x45
mikron dengan operkulum.

Telur harus

mencapai air agar


berkembang.
Setelah beberapa

hari, coracidium
menetas melalui
operculum.dan
dimakan oleh
crustacean (first
intermediate host).
Coracidium

berkembang
menjadi
procercoid dalam
waktu 3 minggu.
Procercoid tidak

akan berkembang
jika tidak dimakan
ikan.

Diphyllobothrium latum - Life cycle

Diphyllobothrium latum - Life cycle


Procercoid yang termakan

olah ikan (second


intermediate host) akan
menembus intestin ikan
menuju jaringan otot.
Di otot procercoid
berkembang menjadi
plerocercoid. Pada ikan
mentah plerocercoid terlihat
seperti kista putih di otot.
Plerocercoid akan
berkembang menjadi cacing
pita dewasa pada usus halus
jika manusia atau hewan
karnivora memakan ikan

Diphyllobothrium latum (Fish


Tapeworm)
Symptoms:
Sakit pada daerah abdominal
Diare
Berat badan berkurang
Anemia

Test:
Tes darah dan level vitamin B12
Tes keberadaan telur atau proglotid dalam tinja

Diphyllobothrium latum (Fish


Tapeworm)
Treatment:
Obat-obatan seperti:
Praziquantal dosis tunggal 10mg/kg berat badan
Niclosamida 2gr (4 tablet)
Operasi

Prognosis: difilobotriasis baik, anemia akan

sembuh setelah cacing dikeluarkan.


Epidomologi: tidak ditemukan di Indonesia,
namun banyak dijumpai di negara yang banyak
memakan ikan mentah.

Hymenolepis nana (Dwarf


Tapeworms)
H. nana biasa disebut dwarf tapeworm. Nanos =

dwarf
H. nana merupakan parasit di manusia yang
paling umum di seluruh dunia.
Penyakit yang disebabkan parasit ini disebut
himenolepiasis.
Hospes: Satu-satunya cestoda yang menjadi parasit
manusia yang tidak membutuhkan intemediate host.
Definitive host
Human
Mice
Rats
Intermediate host (Optional)
Fleas
Beetles

Hymenolepis nana (Dwarf


Tapeworms)
Distribusi Geografik:

penyebaran kosmopolit,
lebih banyak pada
daerah beriklim panas
dan juga ditemukan di
Indonesia.
Morfologi:

Panjang 25-40mm
Lebar 0,5-1mm
100-200 proglotid.
Skoleks bulat kecil
dengan 4 batil
penghisap & rostelum
dengan 20-30 kait.

Hymenolepis nana (Dwarf


Tapeworms)
Morfologi:
Telur bentuk lonjong.

Telur berukuran 30-47

mikron.
Terdapat filamen
pada setiap kutub
onkosfer.

Hymenolepis nana (Dwarf


Tapeworms)

Hymenolepis nana Life Cycle

Hymenolepis nana (Dwarf


Tapeworms)
Patologi:
Infeksi awal dan ringan tidak menyebabkan gejala.
Infeksi berat dapat menyebabkan sakit perut, diare,

kejang-kejang, dan susah tidur.


H. nana dapat menyebabkan kematian pada anakanak atau orang dengan sistem imun rendah.
Parasit ini akan menyeran semua nutrisi
hospesDiagnosis:
Diagnosis: Tes keberadaan telur dalam tinja.
Pengobatan: praxikuantel, niklosamid, dan

amodiakuin. Hiperinfeksi susah diobati.


Prognosis: baik, tapi pengobatan diperlukan
waktu yang lama.

Hymenolepis diminuta
(rat tapeworm)
Hospes:
Tikus dan manusia
Distribusi geografik
Kosmpolit, juga ditemukan di Indonesia
Morfologi

Cacing dewasa berukuran 20-60cm


Skoleks kecil, bulat
mempunyai 4 batil isap
rostelum tanpa kait-kait
Telurnya agak bulat 60-79 mikron

Tempat hidup
Rongga usus halus

Hymenolepis diminuta
Hospes perantara
Serangga: pinjal dan kumbang tepung
Dalam pinjal telur berubah menjadi larva sistiserkoid

Pinjal

Patologi dan gejala klinis


Menyebabkan hymenolepiasis. Umumnya tidak menimbulkan

gejala, sebagian menimbulkan gejala nyeri di bagian abdominal,


rasa gatal di sekita anus, nafus makan berkurang.
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telurnya dalam tinja.

Sekali-kali cacing dapat keluar secara spontan setelah purgasi


Pengobatan
Prazikuantel, niclosamide, albendazole

Hymenolepis diminuta
Life cycle

Hymenolepis diminuta
Epidemiologi
Hospes definitif mendapat infeksi bila hospes perantara yang

mengandung parasit tertelan secara kebetulan

Hymenolepis diminuta
Studi kasus
o Hymenolepis diminuta jarang menyerang manusia
o Di Rural Devghar, India ditemukan pada tubuh gadis usia 12

tahun
o Di Roma, Italia ditemukan pada tubuh anak laki-laki usia 2
tahun

Dipylidium caninum
Hospes
Anjing, kucing dan manusia
Distribusi geografik
Penyebaran cacing ini kosmopolit

Morfologi
Panjang tubuh 25-50cm
Skoleks kecil, berbentuk jajaran genjang
Mempunyai 4 batil isap dan rostelum dengan kait
Leher cacing pendek dan langsing
Proglotid berbentuk seperti biji mentimun
Tiap proglotid mempunyai 2 pasang organ genital & lubang kelamin
di sisi lateral
Telur biasanya berkelompok dalam 1 kapsul yang berisi 15-25 butir
telur

Dipylidium caninum
Hospes perantara
Pinjal Ctenocephalides canis,Ctenocephalides felis dan fulex

irritans) serta kutu Trichodectes canis)


Sistiserkoid pada pinjal menyebabkan kematian / menyebabkan
hospes perantara gerakannya menjadi lambat

Dipylidium caninum
Tempat hidup
Rongga usus halus,
Bila telur tertelan pinjal anjing, maka terbentuk sistiserkoid yang

tumbuh dewasa di usus halus hospes definitif


Patologi dan gejala klinis
o Gatal di sekitar anus, infeksi berat: lemah, kurus, hilang nafsu

makan, penurunan berat badan, gangguan saraf, gangguan


pencernaan, diare, alergi
o Rasa gatal di daerah anus yang diperlihatkan dengan menggosokgosokan bagian yang gatal tersebut (Subronto, 2006).
Diagnosis
Diagnosis ditegakan dengan menemukan proglotid yang bergerak

aktif atau menemukan kapsul telur dalam tinja

Dipylidium caninum
Life cycle

Dipylidium caninum
Pengobatan
Prazikuantel, Atabrine, Febantel, Pyrantel pamoat, Kuinakrin
Epidemiologi
Sebagian besar penderita adalah anak-anak. Infeksi ini

kebanyakan terjadi karena bergaul erat dengan anjing sebagai


hewan peliharaan

Dipylidium caninum

Dipylidium caninum
Kucing/anjing yang terkena serangan cacing pita

biasanya jarang sekali menunjukkan gejala sakit.


Namun dapat menyebabkan mencret, kadang-kadang
disertai bercak darah.
Pada kasus yang parah dapat menyebabkan kurang
gizi, kurus, infeksi usus, dan gangguan pencernaan
seperti usus tersumbat.
Sekitar 1-60 % dari seluruh populasi kucing terserang

cacing ini.
Pada anak kucing yang baru lahir dapat tertular

cacing dari induknya. Anak kucing yang tertular

Dipylidium caninum
Tips:
1. Semua kucing/anjing harus diberi obat cacing, bila

pada salah satu kucing positif terdapat cacing pita.


2. Semua kucing/anjing harus diberi obat anti kutu,
bila pada salah satu kucing positif terdapat pinjal.
3. Berikan obat anti kutu dan obat cacing secara rutin
untuk pencegahan.