Anda di halaman 1dari 28

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI TERAPAN

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKALAH DISKUSI PANEL


Telaah Mikroba Simbion Dari Laut Sebagai Alternatif Penemuan Bahan Baku Obat Baru

OLEH :
KELOMPOK

: 1 (Satu)

GOLONGAN

: SABTU PAGI

ASISTEN

: NURUL ISMI

MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sebagai Negara kepulauan yang besar di dunia yang memiliki wilayah laut sangat luas,
dua pertiganya merupakan wilayah laut, Indonesia memiliki sumber daya alam hayati laut yang
besar. Salah satu sumber daya alam tersebut adalah ekosistem terumbu karang. Ekosistem
terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan bagi
beraneka ragam biota laut. Di dalam ekosistem terumbu karang bisa hidup lebih dari 300 jenis
karang, lebih dari 200 jenis ikan dan berpuluh-puluh jenis moluska, krustasea, sponge, algae,
lamun dan biota lainnya .
Beberapa tahun terakhir ini peneliti kimia memperlihatkan perhatian pada spons, karena
keberadaan senyawa bahan alam yang dikandungnya. Senyawa bahan alam ini banyak
dimanfaatkan dalam bidang farmasi dan harganya sangat mahal. Spons merupakan salah satu
komponen biota penyusun terumbu karang yang mempunyai potensi bioaktif yang belum banyak
dimanfaatkan. Hewan laut ini mengandung senyawa aktif yang persentase keaktifannya lebih
besar dibandingkan dengan senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh tumbuhan darat. Jumlah
struktur senyawa yang telah didapatkan dari spons laut sampai Mei 1998 menurut Soest dan
Braekman adalah 3500 jenis senyawa, yang diambil dari 475 jenis dari dua kelas, yaitu Calcarea
dan Demospongiae. Senyawa tersebut kebanyakan diambil dari Kelas Demospongiae terutama
dari ordo Dictyoceratida dan Dendroceratida (1250 senyawa dari 145 jenis), Haplosclerida (665
senyawa dari 85 jenis), Halichondrida (650 senyawa dari 100 jenis), sedangkan ordo
Astroporida, Lithistida, Hadromerida dan Poecilosclerida, senyawa yang didapatkan adalah
sedang dan kelas Calcarea ditemukan sangat sedikit. Ekstrak metabolit dari spons mengandung

senyawa

bioaktif

yang

diketahui

mempunyai

sifat

aktifitas

seperti:

sitotoksik,

antitumor,antivirus, anti HIV, antiinflamasi, antifungi, dan antileukimia. Selain sebagai sumber
senyawa bahan alam, spons juga memiliki manfaat yang lain, seperti: 1) digunakan sebagai
indikator biologi untuk pemantauan pencemaran laut, 2) indikator dalam interaksi komunitas dan
3) sebagai hewan penting untuk akuarium laut. Pemanfaatan spons laut sekarang ini cenderung
semakin meningkat, terutama untuk mencari senyawa bioaktif baru dan memproduksi senyawa
bioaktif tertentu. Pengumpulan spesimen untuk pemanfaatan tersebut, pada umumnya diambil
secara langsung dari alam dan belum ada dari hasil budidaya. Oleh karena itu, dilakukan isolasi
mikroba simbion dari biota laut yaitu spons untuk penemuan bahan baku obat baru.Namun cara
seperti ini, jika dilakukan secara terus menerus diperkirakan dapat mengakibatkan penurunan
populasi secara signifikan karena terjadi tangkap lebih (overfishing), terutama pada jenis-jenis
tertentu yang senyawa bioaktifnya sudah diketahui untuk itu kelestarian sumber daya ini perlu
dijaga dan dipertahankan. Hal-hal yang dapat merusak dan mengancam kelestariannya harus
dicegah dan dikendalikan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang di maksud dengan mikroba simbion?
2. Alasan digunakan dan pengambilan mikroba simbion laut
4. Apa keuntungan mikroba simbion dari laut dibandingkan dengan
mikroba di darat?
5. Bagaimana hubungan mikroba simbion dapat dijadikan sebagai alternatif dalam

penemuan bahan baku obat?


6. seberapa besar pontensi mikroba simbion laut dalam menghasilkan antibakteri?
7. produk metabolit atau senyawa apa saja yang dapat dihasilkan oleh simbion laut ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian tentang mikroba simbion
2. Untuk mengetahui alasan penggunaandan pengambilan mikroba simbion dari laut
4. Untuk mengetahui kelebihan mikroba simbion dari laut dibandingkan dengan mikroba di darat
5. Untuk mengetahui hubungan mikroba simbion sehingga dapat dijadikan sebagai
alternatif dalam penemuan bahan baku obat.
6. Untuk mengetahui seberapa besar pontensi mikroba simbion laut dalam menghasilkan
antibakteri
7. Untuk mengetahui produk metabolit atau senyawa apa saja yang dapat dihasilkan oleh simbion
laut

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Pengertian Mikroba simbion
Mikroba simbion merupakan komunitas mikroba yang hidup berasosiasi dengan biota
lain (inang) dan melakukan berbagai macam pola hubungan sesuai dengan karakteristik dasar
interaksinya. Beberapa penelitian telah membuktikan adanya interaksi spesifik antara simbion
dan inang, termasuk transfer prekusor nutrient yang memberi peluang adanya kesamaan potensi
produk metabolit sekunder di antara keduanya. Bakteri Photobacterium phosphoreum merupakan
bakteri yang bersimbiosis pada organ cahaya cumi-cumi Loligo duvauceli. (1)
Spons adalah hewan dari filum Porifera (/ prfr /; yang berarti "pembawa pori").
Tubuh mereka terdiri dari jelly- seperti mesohyl terjepit di antara dua lapisan tipis sel. Sementara
semua hewan memiliki sel terspesialisasi yang dapat berubah menjadi sel-sel khusus, spons yang
unik dalam memiliki beberapa sel-sel khusus yang dapat berubah menjadi jenis lain, sering
bermigrasi antara lapisan sel utama dan mesohyl dalam proses. Spons tidak memiliki saraf,
pencernaan atau sistem peredaran darah. Sebaliknya, sebagian besar mengandalkan
mempertahankan aliran air konstan melalui mereka badan untuk mendapatkan makanan dan
oksigen dan untuk menghilangkan limbah, dan bentuk tubuh mereka yang diadaptasi untuk
memaksimalkan efisiensi dari aliran air. (1)
Spons (Porifera) merupakan hewan multiseluler yang paling primitif. Hewan ini hidup
menetap di dasar perairan. Bergquist (1978) mengatakan bahwa sebagian besar spons mengambil
makanan dengan cara menyaring bahan organik yang terdapat di air. Hampir 99% spons hidup di
perairan laut. Spons laut memiliki potensi bioaktif yang sangat besar. Selama 50 tahun terakhir

telah banyak kandungan bioaktif yang telah ditemukan. Kandungan bioaktif tersebut
dikelompokan beberapa kelompok besar yaitu antiflammantory, antitumor, immunosuppessive,
antivirus, antimalaria, antibiotik, dan antifouling.Zhang et al., 2003 menyatakan bahwa lebih dari
10 % spons memiliki aktifitas citotoksik yang dapat yang berpotensial untuk bahan obatobatan.(1)
Telah banyak dilaporkan bahwa sponges sangat potensial sebagai penghasil produk alami
laut dalam bidang farmasi (2) (3) (4).

II.2 Aspek Bioekologi Spons


Spons merupakan biota laut yang tersebar mulai dari perairan laut dangkal hingga
kedalaman 5,5 km. Spons atau Porifera termasuk hewan multi sel yang mana fungsi jaringan dan
organnya masih sangat sederhana. Hewan ini hidupnya menetap pada suatu habitat pasir, batu
batuan atau juga pada karangkarang mati di dalam laut. Adapun karakteristik spons secara umum
adalah memiliki bentuk tubuh yang tidak simetris, tubuh terdiri atas banyak sel, sedikit jaringan
dan tidak ada organ tubuh.Sel dan jaringan mengelilingi suatu ruang yang berisi air tetapi
sebenarnya tidak memiliki rongga tubuh, dan tidak memiliki sistem saraf. Semua spesies spons
bersifat sesil sebagai organisme dewasa, sedangkan pada tahap larva bersifat planktonik. (4)
Spons adalah hewan berpori yang termasuk filter feeder yaitu hewan dalam mencari
makanan aktif menghisap dan menyaring air yang melalui seluruh permukaan tubuhnya. Hal ini
dapat dicontohkan pada pada bentuk spons yang memiliki kanal internal yang paling sederhana
(Gambar 1), dimana dinding luarnya (pinakodermis) mengandung pori-pori (ostia). Melalui ostia
inilah air dan materi-materi kecil yang terkandung di dalamnya dihisap dan disaring oleh sel-sel
berbulu cambuk atau sel kolar (choanocytes), kemudian air tersebut dipompakan keluar melalui
lubang tengah (oskulum). Sistem pengisapan dan penyaringan air terjadi juga pada spons yang
memiliki kanal internal yang lebih rumit, dimana sistem aliran air tersebut melalui beberapa sel
kolar sebelum keluar melalui oskulum. (5)

Gambar1. Struktur sel spons yang paling sederhana; a) oskulum; b) sel penutup; c) sel
amoebosit; d) sel pori (porosity); e) pori saluran masuk (ostia); f) telur; g) spikula triaxon; h)
mesohil; i) sel mesenkin; j) bulu cambuk (flagella); k) sel kolar (choanocytes); l) sklerosit; dan
m) spikula monoaxon. (6)

Morfologi luar spons sangat dipengaruhi oleh faktor fisik, kimiawi dan biologis
lingkungannya. Spesimen yang berada di lingkungan yang terbuka dan berombak besar
cenderung pendek pertumbuhannya atau juga merambat. Sebaliknya spesimen dari jenis yang
semua pada lingkungan yang terlindung atau pada perairan yang lebih dalam dan berarus tenang.
Pertumbuhannya cenderung tegak dan tinggi (7).
Spons tumbuh melekat pada terumbu karang dan dasar laut. Binatang lunak dengan
variasi warna, bentuk, dan ukuran ini tidak dapat berpindah seperti halnya ikan dan binatang laut
lainnya. Untuk mempertahankan diri dari predator,6 spons memiliki senjata perisai berupa
senyawa kimia membentuk metabolit sekunder, yang ditakuti dan dihindari predator karena
beracun. Lokasi yang lebih terlindung memiliki spesies yang jumlahnya lebih rendah
dibandingkan dengan lokasi yang lebih terbuka pada daerah karang yang dikarenakan tingginya
jumlah pasir pada daerah lereng karang yang menawarkan sedikit substrat yang layak bagi spons.

Kebanyakan spons memiliki cakupan distribusi yang luas mengarah ke shelf, sedangkan
beberapa spesies terbatas spesifik pada daerah karang dan kedalaman tertentu (7).
Organisme laut dalam hidupnya sangat tergantung kepada faktor lingkungan yang sering
sekali menjadi faktor pembatas kehidupannya, seperti: cahaya, nutrisi, oksigen, dan pesaing
(kompetitor). Dalam rangka mempertahankan kehidupannya, organisme ini melakukan
serangkaian mekanisme adaptasi secara morfologis, anatomis, fisiologis dan kemis. Senyawa
bioaktif yang dihasilkan oleh sponges secara ekologis dapat dipandang sebagai salah satu cara
dari organisme ini untuk mempertahankan diri dari predator dan mengurangi resiko akibat
ekspose radiasi sinar matahari. Dikemukakan oleh Jadulco (2002) bahwa sponge dari
Indonesia, Jaspis splendens,menghasilkan senyawa-senyawa bioaktif yang memiliki aktifitas
antiproliferasi. Disamping itu, para peneliti bioteknologi kelautan Jepang, seperti Namikoshi
menyimpulkan bahwa distribusi fungi laut yang hidup bersimbiosis dengan sponge cukup besar,
dengan sebaran 82,7% sponge yang hidup di perairan pulau Palau, dan 98% sponge yang hidup
di perairan pulau Bunaken (8).
Menurut Lik Tong Tenet al. (2000) simbiosis sponge Sigmadocia symbioticadengan alga
merah Ceratodictyon spongiosummenghasilkan senyawa bioaktif berupa metabolit sekunder
siklik heptapeptida yang bersifat toksik terhadap Artemia salina (uji BSLT). Hasil-hasil
penelitian tersebut menyimpulkan bahwa biota laut sponge memiliki potensi signifikan sebagai
sumber senyawa bioaktif yang dapat dikembangkan lebih jauh menjadi komoditi yang bernilai
ekonomi tinggi. (8)
Kelompok peneliti bioteknologi di Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi
Kelautan dan Perikanan, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, kini sedang aktif melakukan
proses ekstraksi dan isolasi senyawa aktif dari berbagai jenis makroalga dan sponge serta uji-uji
bioaktivitasnya sebagai anti-bakteri, anti-oksidan, toksisitas terhadap Artemia salina dan
sitotoksisitas sebagai anti-kanker terhadap beberapa jenis sel lestari (cell line). Saat ini koleksi
sponge yang telah dimiliki sekitar 60 jenis dari perairan Karimunjawa, semua sampel tersebut
diambil dari berbagai kondisi lokasi perairan (habitat) dan dari berbagai kedalaman. (9)
Sebagian besar sponge mengandung alkaloid, lalu terpenoid,kemudian steroid. Setiap
spons tidak selalu memiliki kandungan metabolit sekunder yang sama dengan spons lainnya

demikian pula golongannya ada yang mengandung hanya alkaloid saja, atau steroid saja, atau
terpenoid saja, ataupun dua ataupun ketigatiganya. Hal ini dapat dimengerti karena pembentukan
metabolit sekunder dalam spons sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya . (9)
Kandungan metabolit sekunder dalam spons jenis tertentu ada yang lebih kuat (more
intens) daripada di dalam jenis lainnya yang ditandai dengan warna yang timbul pada uji
kualitatif. (9)
Kalau dilihat dari kandungan metabolit sekundernya Sponge dari Indonesia memiliki
potensi yang tinggi untuk menghasilkan bioaktif ini terlihat dari kandungan alkaloid, terpenoid,
dan steroidnya. Sejumlah terpenoid memiliki sifat antikanker (AOKI et al. 2001). Sedangkan
steroid dan alkaloid memiliki khasiat lebih luas tergantung substituentnya. (9)
Sebelum adanya penelitian mendalam tentang pemanfaatan sponge, tumbuhan laut ini
hanya dimanfaatkan untuk busa mandi karena Sponge adalah hewan bersel banyak (metazoa)
paling sederhana, kumpulan sel-selnya belum terorganisir dengan baik dan belum mempunyai
organ maupun jaringan sejati. Walaupun Porifera tergolong hewan, namun kemampuan geraknya
sangat kecil dan hidupnya bersifat menetap. Pada awalnya Porifera dianggap sebagai tumbuhan,
baru pada tahun 1765 dinyatakan sebagai hewan setelah ditemukan adanya aliran air yang terjadi
di dalam Porifera (Suwignyo, 2002). Untuk karakterisasi dan identifikasi dari sponge filum
Porifera telah dilakukan peneliti sebelumnya. Telah banyak senyawa metabolit sekunder yang
berhasil diisolasi dari sponge yaitu alkaloida, diterpenoida, sesquiterpenoida, asam-asam amino
dan karotenoida (10) (11).
Karena adanya senyawa bioaktif tersebut maka sponge mempunyai aktivitas sebagai
antelmentik, anti virus, anti tumor, anti kanker, anti malaria, anti abkteri dan anti jamur (12).
Sponge saat ini juga tengah gencar diteliti di berbagai negara untuk diambil senyawa
bioaktifnya,

seperti

sponge

dari

spesies Petrosia

contegnatta untuk

obat

anti

kanker, Cymbacela untuk obat anti asma,Xestospongia sp untuk antelmentik dan Callyspongia
spmengandung alkaloida yang berkhasiat sebagai antioksidan (Attaway dan Zaborsky, 1993 dan
Hanani, 2005). Senyawa boiaktif sponge yang juga digunakan untuk industri farmasi adalah
bastadin, okadaic acid dan monoalide. Senyawa bioaktif monoalide yang diperoleh dari
sponge Luffariella variabilis merupakan senyawa yang memiliki nilai jual tinggi dibandingkan

dengan senyawa bioaktif dari spesies sponge lainnya, yaitu 20,360 dollar Amerika Serikat per
milligram. Peneliti dari Universitas Missisipi, Amerika memanfaatkan sponge sebagai obat
alternative terhadap penyakit malaria dan TBC. (12)
II.3 klasifikasi Spons
1.

Kelas Calcarea
Kelas Calcarea adalah kelas spons yang semuanya hidup di laut. Spons ini mempunyai

struktur sederhana dibandingkan yang lainnya. Spikulanya terdiri dari kalsium karbonat dalam
bentuk calcite. Kelas Demospongiae adala kelompok spons yang terdominan di antara Porifera
masa kini. Mereka tersebar luas di alam, serta jumlah jenis maupun organismenya sangat banyak.
Mereka sering berbentuk masif dan berwarna cerah dengan sistem saluran yang rumit,
dihubungkan dengan kamar-kamar bercambuk kecil yang bundar. Spikulanya ada yang terdiri
dari silikat dan ada beberapa (Dictyoceratida, Dendroceratida dan Verongida) spikulanya hanya
terdiri serat spongin, serat kollagen atau spikulanya tidak ada. Kelas Hexactinellida merupakan
spons gelas. Mereka kebanyakan hidup di laut dalam dan tersebar luas. Spikulanya terdiri dari
silikat dan tidak mengandung spongin (13) (14) (15) (6).
2.

Kelas Sclerospongia
Kelas Sclerospongia merupakan spons yang kebanyakan hidup pada perairan dalam di

terumbu karang atau pada gua-gua, celah-celah batuan bawah laut atau terowongan diterumbu
karang. Semua jenis ini adalah bertipe leuconoid yang kompleks yang mempunyai spikula silikat
dan serat spongin. Elemenelemen ini dikelilingi oleh jaringan hidup yang terdapat pada rangka
basal kalsium karbonat yang kokoh atau pada rongga yang ditutupi oleh kalsium karbonat (13)
(14).
II.4 Bakteri Laut
Di laut bakteri mendominasi kehidupan sehingga bakteri dapat dijumpai dimana saja
dibagian laut. Bakteri di laut mempunyai peranan yang sangat penting di dalam menjaga
kesinambungan kehidupan laut karena bakteri mempunyai kemampuan untuk mendegradasi
senyawa organik menjadi senyawa 7 anorganik (nutrisi). Nutrisi ini kemudian menjadi sumber
makanan bagi produktifitas primer yaitu fitoplankton dan protozoa yang merupakan piramida
dasar dari rantai makanan di laut. (11)

Bakteri laut mempunyai kemampuan mencerna hampir semua senyawa organik dan
sebagian besar senyawa anorganik akan mengalami perubahan akibat kegiatan bakteri laut.
Secara umum bakteri laut lebih kuat dalam hal mencerna protein daripada karbohidrat. Perlu
diketahui pula bakteri laut sangat peka terhadap turun atau naiknya salinitas larutan. Kebutuhan
akan salinitas menunjukkan bahwa bakteri dari lingkungan berbeda memiliki toleransi garam
dan kemampuan aklimasi tekanan osmosis yang berbeda pula. Sebagian besar bakteri yang
mungkin diperkirakan kontaminan merupakan bakteri laut (11)
Bakteri mampu berinteraksi dengan berbagai organisme laut, sehingga tidak ada satupun
organisme laut yang bebas dari interaksi dengan bakteri. Salah satu bentuk interaksi bakteri ialah
interaksi hubungan trofik yaitu interaksi bakteri baik yang hidup bebas maupun yang berada
dalam partikel merupakan sumber makanan organisme laut mulai dari ciliata, spons, coelenterata
hingga polychaeta, molusca, crustacea, holothurian dan tunicata. (11)
Mikroorganisme laut, seperti halnya makhluk hidup lainnya, sangat dipengaruhi oleh
faktor-faktor abiotik (fisik dan kimia) lingkungan sekitarnya. 8 Faktor tersebut tidak saja
mempengaruhi keberadaan suatu jenis mikroba dalam laut, tapi juga mempengaruhi
pertumbuhan, perbanyakan dan kegiatan-kegiatan yang penting bagi organisme lain. Faktor
faktor tersebut antara lain ialah:
1. Suhu
Suhu air laut berkisar antara -2 hingga 45oC yakni mulai dari suhu air laut daerah kutub
sampai air laut di daerah tropis (perairan dangkal). Semua proses pertumbuhan bakteri
bergantung pada reaksi kimiawi yaitu laju reaksi yang dipengaruhi oleh suhu. Keragaman suhu
dapat mengubah proses metabolisme tertentu selain morfologi dari sel bakteri. Bakteri laut pada
37 oC akan terbunuh sebanyak 42%, sedang pada suhu 45oC hanya tinggal 15% sel yang akan
bertahan hidup. Pertumbuhan dan perbanyakan bakteri laut mencapai optimum pada suhu 18oC
(11)
2. Derajat Kemasaman (pH)
Sebagian besar bakteri memiliki nilai pH minimum dan maksimum antara 4 dan 9 dalam
pertumbuhannya. Pada umumnya pH optimum pertumbuhan bakteri terletak antara 6,5 dan 7,5.
Namun, beberapa spesies dapat tumbuh dalam keadaan asam atau basa (17).

3. Keberadaan Oksigen
Kebutuhan oksigen pada bakteri tertentu mencerminkan mekanisme yang digunakan
untuk memenuhi kebutuhan energinya. Berdasarkan kebutuhan oksigen tersebut, bakteri dapat
dipisahkan menjadi:

diperoleh dengan memanfaatkan sumber lainselain oksigen.


rob obligat; bakteri yang tidak dapat menyesuaikanvdiri dengan kedua
situasi.9 Pada anaerob toleran dan obligat, metabolismenya bersifat fermentative kuat. Pada
anaerob fakultatif metabolisme respirasi dilakukan jika tersedia oksigen, tetapi tidak terjadi
fermentasi. Pada saat bakteri tumbuh dalam keadaan terdapat udara, terjadi sejumlah reaksi
enzimatik dan mengakibatkan produksi hidrogen peroksida dan radikal superoksida (17)
4. Tekanan Osmosis
Diketahui bahwa membran untuk semua organisme bersifat semipermeable. Membran sel
memperbolehkan air untuk berpindah melalui mekanisme osmosis antara sitoplasma dan
lingkungan luar. Bakteri memiliki dinding sel yang kaku yang dapat menahan perubahan tekanan
osmotik, sehingga biasanya tidak menunjukkan perubahan bentuk ataupun ukuran yang
menyolok bila terjadi plasmolisis atau plasmoptisis. (17)
5. Faktor Nutrisi
Kebutuhan nutrisi bagi mikroba terdiri dari substrat (sumber energi dan karbon) untuk
pembentukan sel baru dan elemen anorganik (nutrien) serta faktor pertumbuhan (nutrien organik)
(Shuler dan Kargi, 1992). Nutrien (elemen anorganik) yang terutama (macro nutrient) yang
dibutuhkan mikroorganisme adalah N, S, P, K, Mg, Ca, Fe, Na dan CI. Sedangkan nutrien lain
yang juga dibutuhkan dalam jumlah relatif tidak terlalu besar (micro nutrient) termasuk Zn,
Mn,Mo, Se, Co, Cu, dan Ni. (17)
Adakalanya mikroorganisme juga membutuhkan nutrien organik, yang lebih dikenal
dengan faktor pertumbuhan. Faktor pertumbuhan adalah senyawa yang dibutuhkan
mikroorganisme sebagai unsur pokok materi organik sel yang tidak dapat dibentuk dari sumber
karbon lain. (17)

Kebutuhan faktor pertumbuhan berbeda untuk setiap mikroorganisme. Namun faktor


pertumbuhan utama dapat diklasifikasikan sebagai asam amino, purin dan pirimidin, serta
vitamin.10\
II.5 Keuntungan Mikroba Simbion Dari Laut Dibandingkan Dengan Mikroba Di Darat
Umumnya struktur kimia produk laut seringdari metabolit sekunder daratan terutama
pada halogenasi dengan bromin dan atau klorin (Gudbjarnason 199). Perbedan ini dipengaruhi
oleh lingkungan laut yang unik. Menurut Okami (1982), ada 3 fakta yang membuktikan bahwa
lingkungan laut unik. Pertama, air laut mengandung bermacam-macam substansi yang aktif
secara biologi seperti vitamin, dan banyak mikrorganisme laut barkemampuan untuk
menghasilkan vitamin. Kedua, air laut mengandung agen inhibitor yang aktif untuk organisme.
Beberapa faktor yang mengambarkan kenyatan ini adalah air laut mempunyai kemampuan
menghambat bakteri gram positf, air laut dari alam lebih menghambat daripada air laut buatan,
air laut yang telah diberi perlakuan panas menunjukkan pengurangan aktivitas inhibitor
dibandingkan dengan air laut yang segar, aktivitasinhibitor air laut idak disebabkan oleh faga
atau salinitas tapi karena ada agen antibakteri dalam air laut. Ketiga, beberapa mikrorganisme
yang disolasi dari air laut menunjukan aktivitas antibakteri.
II.6 Alasan Pengambilan dan penggunaan Mikroba Simbion Dari Laut
Indonesia memiliki luas perairan yang lebih besar dibandingkan dengan luas daratannya.
Hal ini menyebabkan Indonesia memiliki keanekaragaman hayati berupa flora dan fauna serta
mikroba laut. Keanekaragaman hayati laut dewasa ini masih kalah dibandingkan dengan
keanekaragaman hayati terestrial dalam upaya pengembangan obat. Spons adalah salah satu
fauna laut yang banyak memiliki senyawa-senyawa bioaktif unik. Jumlah yang sedikit serta
struktur yang kompleks untuk disintesis menjadi alasan digunakannya mikroba simbion spons
untuk mendapatkan senyawa bioaktif seperti antibiotik dan antitumor (Jensen dan Fenical, 2000).
Spons telah menjadi sumber yang sangat baik untuk produk alami yang merupakan
senyawa bioaktif . Sistem biologis spons meliputi, kegiatan meliputi inhibitor enzim, divisiinhibitor sel, antivirus, antijamur, antimikroba, anti-inflamasi, anti- tumor, sitotoksik atau

properti kardiovaskular . Laporan isolasi produk alami dari spons laut telah diterbitkan dari awal
tahun 1950-an, dan penelitian kegiatan di topik ini terus meningkat .
Saat ini, beberapa makalah tentang produk alami baru dari spons diterbitkan bulanan; dan
Faulkner memiliki survei yang diterbitkan pada banyak produk yang lebih alami baru-baru ini
diisolasi dari spons. Banyak dari produk alami memiliki bio menarik Potensi medis, farmasi
relevansi dan beragam aplikasi . Sebagai contoh, arabinosa-nukleosida. dengan aktivitas
antivirus dan antikanker yang diisolasi dari spons Cryptotethya crypta, yang digunakan secara
klinis. Manoalide diperoleh dari spons Luffariella variabilis adalah calon baru obat dengan
aktivitas anti-inflamasi dan Juga metabolites sebelumnya dianggap berasal dari spons telah barubaru ini ditunjukkan untuk disentesis oleh simbion. Jika beberapa senyawa yang berasal dari
mikroorganisme simbiosis, kultur mikroorganisme dapat memberikan perbaikan sumber
senyawa bioaktif . Dengan demikian, kita memiliki difokuskan pada mikroorganisme sponssimbiosis sebagai sumber berbagai produk alami dalam ulasan ini.
II.7 Hubungan Spons Dan Bakteri Yang Bersimbiosis untuk menghasilkan antibiotik
Interaksi antara organisme yang hidup dilingkungan akuatik sangat beragam dan peran
penting pada interaksi tersebut dimainkan oleh mikroorganisme. Mikroorganisme banyak yang
ditemukan tumbuh secara komensal di permukaan juga di dalam berbagai binatang akuatik,
beberapa diantaranya terdapat di organ pencernaannya dimana sejumlah bakteri sering terdapat.
Mikroorganisme dimakan dan digunakan sebagai makanan oleh sejumlah hewan yang hidup baik
itu di sedimen maupun di perairan sehinggacfaktor nutrisi. Beberapa hewan dapat hidup dengan
sejumlah tetentu baktericmaupun fungi. (16) (17)
Lubang yang porus pada spons mengandung sejumlah koloni bakteri. Hasil penelitian
terhadap spons Microcionia prolifera, ditemukan bakteri dari genus Psedomonas, Aeromonas,
Vibrio, Achromobacter, Flavobacterium dan Corynebacterium serta Micrococcus yang biasa
terdapat di perairan sekitarnya. (17)
Pola makanan spons yang khas yaitu filter feeder (menghisap dan menyaring) dapat
memanfaatkan jasad renik disekitarnya sebagai sumber nutrien diantaranya bakteri, kapang dan
xooxanthela yang hidup pada perairan tersebut. Sedangkan kapang, bakteri dan xoxanthelae
hidup dan berkembang biak dengan memanfaatkan nutrien yang terdapat pada spons tersebut.
Myers et al (2001) melaporkan bahwa terdapat hubungan simbiotik antara spons dan sejumlah

bakteri dan alga, dimana spons menyediakan dukungan dan perlindungan bagi simbionnya dan
simbion menyediakan makanan bagi spons. Alga yang bersiombiosis dengan spons menyediakan
nutrien yang berasal dari produk fotosintesis sebagai tambahan bagi aktifitas normal filter feeder
yang dilakukan sponge. (17)
Pembentukan senyawa bioaktif pada spons sangat ditentukan oleh prekursor berupa
enzim, nutrien serta hasil simbiosis dengan biota lain yang mengandung senyawa bioaktif seperti
bakteri, kapang dan beberapa jenis dinoflagellata yang dapat memacu pembentukan senyawa
bioaktif pada hewan tersebut. (11)
Senyawa terpenoid dan turunannya pada berbagai jenis invertebrata termasuk spons atau
beberapa spesies dinoflagellata dan zooxanthelae yang memiliki senyawa senyawa yang belum
diketahui, yang kemudian diubah melalui biosintesis serta fotosintesis menghasilkan senyawa
bioaktif yang spesifik pada hewan tersebut. (4)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suryati et al (2000), terhadap sejumlah
spesies spons yang hidup di perairan Spermonde, Sulawesi Selatan, kelimpahan kapang dan
bakteri yang bersimbiosis cukup bervariasi pada sponge sperti diperlihatkan pada Tabel 2.
Kelimpahan jenis bakteri yang diisolasi dari spons pada umumnya didominasi oleh bakteri
Aeromonas, Flavobacterium, Vibrio sp, Pseudomonas sp. Acinebacter dan Bacillus sp. (11)
II.8 Bakteri Simbion Spons Penghasil Senyawa Antibakteri
Spons hidupnya bersimbiosis dengan beranekaragam jenis bakteri. Bakteri yang
bersimbiosis dengan organisme kemungkinan besar banyak melakukan interaksi biokimia
dengan organisme inangnya. Interaksi biokimia tersebut memungkinkan bakteri yang
bersimbiosis menghasilkan zat bioaktif yang sama dengan inangnya. Sehingga beberapa jenis
bakteri yang bersimbiosis dengan spons diperkirakan dapat menghasilkan senyawa senyawa
bioaktif yang dapat digunakan sebagai bahan antibakteri. (18)
Bakteri yang memiliki kemampuan antimikroba dapat menghasilkan senyawa
antimikroba. Senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh bakteri pada umumnya merupakan
metabolit sekunder yang tidak digunakan untuk proses pertumbuhan (Schlegel, 1993), tetapi
untuk pertahanan diri dan kompetisi dengan mikroba lain dalam mendapatkan nutrisi, habitat,
oksigen, cahaya dan lain-lain. (18)

Adanya hubungan antara produksi antibakteri oleh mikroba simbion dengan spons telah
diteliti oleh Narsinha dan Anil (2000), yang melaporkan bahwa senyawa antibakteri yang
dihasilkan oleh bakteri simbion spons sangat dipengaruhi oleh like-protein rekombinan yang
terdapat pada biota inang Suberitas domuncula. Penelitian tersebut memperkuat adanya
hubungan kerjasama dalam biosintesa metabolit sekunder antara mikroba simbion denganspons.
(18)
II.9 Senyawa Bioaktif Spons
Invertebrata laut yang merupakan organisme sessile seperti spons memiliki potensi
metabolit sekunder yang besar terutama dibidang farmakologi sebagai obat-obatan alami,
meskipun banyak kesulitan dalam mempelajari hubungan simbiosis antara spons dengan bakteri
simbion yang memproduksi metabolit sekunder alami. (19)
Pembentukan senyawa bioaktif pada spons sangat ditentukan oleh prekursor berupa
enzim, nutrien serta hasil simbiosis dengan biota lain yang mengandung senyawa bioaktif seperti
bakteri, kapang dan beberapa jenis dinoflagellata yang dapat memacu pembentukan senyawa
bioaktif pada hewan tersebut (Scheuer, 1978 dalam Suryati et al, 2000). Senyawa terpenoid dan
turunannya pada berbagai jenis invertebrata termasuk spons atau beberapa spesies dinoflagellata
dan zooxanthelae yang memiliki senyawa senyawa yang belum diketahui, yang kemudian
diubah melalui biosintesis serta fotosintesis menghasilkan senyawa bioaktif yang spesifik pada
hewan tersebut. (4)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Suryati et al (2000), terhadap sejumlah
spesies spons yang hidup di perairan Spermonde, Sulawesi Selatan, kelimpahan kapang dan
bakteri yang bersimbiosis cukup bervariasi pada spons sperti diperlihatkan pada Tabel 1.
Tabel 1 : Identifikasi Bakteri Yang Berasal dari Spons
No Nama Spons

Spesies bakteri

Acanthela clethera

Flavobacterium, Aeromonas sp

Aplisina sp

Aeromonas sp

Callyspongia sp

Pseudomonas sp

Clathria bacilana Clathria reinwardhi

Aeromonas sp

Jaspis

Flavobacterum

Phakelia aruensis

Bacillus sp, Aeromonas sp

Xestospongia sp

Enterobacteriabceae, Aeromonas sp

Kelimpahan jenis bakteri yang diisolasi dari spons pada umumnya didominasi oleh
bakteri Aeromonas, Flavobacterium, Vibrio sp, Pseudomonas sp. Acinebacter dan Bacillus sp.
Komunitas bakteri yang berasosiasi dengan spons sebagian besar adalah proteobacteria,
bacteroidetes, firmicutes dan actinomycetes (20). Bakteri yang potensial sebagai target penghasil
senyawa aktif adalah cyanobacteria, jamur dan actinomycetes. Senyawa aktif yang dihasilkan
oleh Actinomycetes micromonospora dari spons adalah senyawa antimalaria manzamine.
Senyawa peptida antibakteri telah diisolasi dari spons Hyatella sp. dan bakteri simbion Vibrio sp.
Beberapa senyawa antibakteri jenis quinolone juga diisolasi dari bakteri simbion spons
Homoplysia sp. yaitu bakteri Pseudomonad. Adanya hubungan antara produksi antibakteri oleh
mikroba simbion dengan spons telah diteliti oleh NARSINHA & ANIL yang melaporkan bahwa
senyawa antibakteri yang dihasilkan oleh bakteri simbion spons ( proteobacterium MBIC 3368,
Idiomarina sp dan Pseudomonas sp.) sangat dipengaruhi oleh like-protein rekombinan yang
terdapat pada biota inang Suberitas domuncula. Penelitian tersebut memperkuat adanya
hubungan kerjasama dalam biosintesa metabolit sekunder antara bakteri simbion dengan
spons.(21)
Hubungan antara bakteri simbion dengan spons merupakan suatu bentuk hubungan yang
saling menguntungkan. Bakteri tersebut memperoleh tempat tinggal yang aman dari spons
sebaliknya tubuh spons memperoleh proteksi terhadap patogen oleh senyawa yang dihasilkan
bakteri tersebut. Bakteri simbion yang diisolasi dari spons yang menghasilkan bahan bioaktif
diketahui memiliki aktivitas yang lebih besar bahkan dapat memiliki aktivitas yang lebih besar
dibandingkan aktivitas inangnya. (21).
II.10 Potensi Mikroorganisme Simbion Spons sebagai Penghasil Antibakteri
Aktivitas antibakteri merupakan suatu aktivitas mematikan atau menghambat
mikroorganisme seperti bakteri dengan menggunakan zat antibakteri. Zat antibakterial adalah zat
yang mengganggu pertumbuhan dan metabolisme melalui penghambatan pertumbuhan bakteri.
Senyawa antibakteri merupakan salah satu produk metabolit sekunder. Ada beberapa kondisi

yang mempengaruhi metabolit sekunder yaitu: keterbatasan nutrisi yang tersedia di lingkungan
tumbuh suatu bakteri. Penambahan senyawa penginduksi dan penurunan kecepatan
pertumbuhan. Umumnya metabolit sekunder tidak terbentuk jika lingkungan tumbuh
mengandung cukup nutrisi untuk pertumbuhan bakteri karena senyawa tersebut bukan unsure
esensial bagi pertumbuhan dan reproduksi sel. (22)
Senyawa antibakteri telah diisolasi dari spons laut jenis: Discodermia kiiensis, Cliona
celata, lanthella basta, lanlhellcr ardis, Psammaplysila purpurea, Halichondria sp,
Callyspongia pseudoreticulata, Callyspongia sp dan Auletta sp . Phakelia flabellata. (3). Bakteri
lainnya yang berasosiasi dengan spons dan menghasilkan metabolit sekunder dengan aktivitas
antimikroba adalah bakteri yang berasosiasi dengan spons Himeniacidon parleve, yaitu NJ6-3-1
menghasilkan senyawa beta karbolin alkaloid bersifat antimikroba terhadap S.aureus. genus
Bacillus dan Virgibacillus yang diisolasi dari spons Pseudoceratiina purpurea menunjukkan
aktivitas antimikroba terhadap

Vibrio alginolyticus dan Vibrio fischeri. Microccus spp.

menghasilkan senyawa diketopiperazin yang bersifat antibakteri. (23)


II.11 Produk Alam Laut dari Spons
Produk alam laut dikelompokkan atas:
(1) sumber biokimia yang mudah untuk mendapatkan dalam jumlah yang besar dan
barangkali dapat dirubah ke bahan-bahan yang lebih berharga;
(2) senyawa bioaktif yang termasuk (a) senyawa antimikroba, (b) senyawa aktif secara
fisiologi (sinyal kimia) (c) senyawa aktif secara farmakologi dan (d) senyawa sitotoksik dan
antitumor;
(3) Racun laut, dll.
Spons adalah salah satu biota laut yang menghasilkan senyawa bioaktif. Senyawa bioaktif
yang dihasilkan oleh spons laut telah banyak diketahui manfaatnya. Manfaat tersebut antara lain
adalah :
1. Senyawa antibakteri telah diisolasi dari spons laut jenis: Discodermia kiiensis, Cliona celata,
lanthella basta, lanlhellcr ardis, Psammaplysila purpurea, Agelas sceptrum, Phakelia
.flabellata. Senyawa antijamur telah diisolasi dari spons laut jenis: Jaspis sp, Jaspis
johnstoni, Geodia sp.

2. Senyawa anti tumor/anti kanker telah diisolasi dari spons laut jenis: Aplysina fistularis, A.
Aerophoba. Senyawa antivirus telah diisolasi dari spons laut jenis: Cryptotethya crypta,
Ircinia variabilis. S
3. senyawa sitotoksik diisolasi dari spons laut jenis: Axinella cannabina, Epipolasis
kuslumotoensis, Spongia officinalis, Igernella notabilis, Tedania ignis, Axinella verrucosa,
Ircinia sp.
4. Senyawa antienzim tertentu telah diisolasi dari spons laut jenis: Psammaplysilla purea.
(24) (4)
Protesase adalah enzim yang menghindrolisis ikatan peptida pada protein. Sering kali
protease dibedakan menjadi proteinase dan peptidase.

Proteinase mengkatalisis hidrolisis

molekul protein menjadi fragmen-fragmen besar, sedangkan peptidase mengkatalisis hidrolisis


fragmen polipeptida menjadi asam amino. Protease memegang peranan utama di dalam banyak
fungsi hayati, mulai dari tingkat sel, organ, sampai organisme, yaitu dalam melangsung reaksi
metabolisme, fungsi regulasi dan reaksi-reaksi yang menghasilkan sistem berantai untuk
menjaga keadaan normal homeostatis, maupun kondisi patofisiologis abnormal, serta proses
kematian secara terencana.
Kunitz dan Northrop (1936) pertama kali mengisolasi dan mengkristalisasi inhibitor
kallikrein- tripsin. Sejak saat itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa inhibitor protease
tersebar luas di alam, dan terdapat dalam berbagai bentuk pada sejumlah binatang dan sel
tumbuhan, fungi, actiniomycetes, dan hanya diketahui beberapa bakteri saja yang memproduksi
inhibitor. Aktivitas biologis dari komponen bioaktif sponde sangat beragam-, seperti cytotoxic,
antibiotik, anti tumor, antifungal, antiviral dan inhibitor enzim merupakan komponen yang
paling umum ditemukan. (4)
Kimura et al. (1998) mengisolasi garam 1 Methyherbipoline dari Halisulfate- 1 dan
Suvanin sebagai inhibitor protease serin dari sponge jenis Coscinoderma mathewsi. Komponen
bioaktif alami yang merupakan peptide makrosiklik berhasil diisolasi dari spons jenis Theonella
swinhoei yang berasal dari perairan Jepang. Komponen ini dikenal denagn nama
Cyclotheonamida A dan B yang menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap serin protease
seperti thrombin dan mempunyai dua bentuk utama yaitu cyclothonamida A (C36H45N9O81)
serta cyclotheonamida B (C34H47N9O8) yang mengandung vinylogous tyrosine (V-Tyr) dan

alpa ketoarginin residu yang merupakan jenis asam amino yang belum diketahui secara pasti di
alam. (24)
OKeefe et al. (1998) berhasil mengisolasi Adociavirin dari sponge adocia sp, ekstrak
yang dilarutkan dalam air destilasi potensial sebagai antisitopatik dalam sel CEM-SS yang
terinfeksi oleh HIV-1. Pemurnian protein aktif yang diberi nama adociavirin menggunkan
isoelectric focusing, asam amino analisis, Maldi-Tof mass spectrometry dan N- terminal
sequencing. Sponge Adocia sp yang disolasi komponen adociavirin berasal dari perairan Bay,
New Zealand. (24)
Matsunaga (1998) yang berasal dari jepang berhasil mengisolasi senyawa 1asam carboxymethylnicotinic dari sponge Antosigmella raromicroscera yang dipergunakan
sebagai sistein inhibitor protease. (24)

Spons laut menghasilkan ekstrak kasar dan fraksi yang bersifat antibakteri, antijamur,
antibiofouling dan ichtyotoksik. Bioaktifitas antibakteri ekstrak kasar spons laut terdapat pada
beberapa jenis, seperti: Halichondria sp, Callyspongia pseudoreticulata, Callyspongia sp dan
Auletta sp. Beberapa spons yang belum diketahui jenisnya, yang aktif terhadap bakteri
Staphylococcus aures, Bacillussubtilis dan Vibrio cholerae Eltor. (11)
Bioaktifitas antijamur ekstrak kasar spons laut terdapat pada beberapa jenis, seperti:
Auletta spp., yang aktif terhadap jamur Aspergillus fumigatus, Clathria spp., yang aktif terhadap
Aspergillus spp., Aspergillus fumigatus dan Fusarium spp., Theonella cylindrica, yang aktif
terhadap Aspergillus spp., 12 Aspergillus fumigatus dan Fusarium spp dan Fusarium solani. (3)
Bioaktifitas antibiofouling ekstrak kasar spons laut terdapat pada beberapa jenis, seperti:
Asterospus sarasinorum, Callyspongia sp., Clathria sp., Clathria jaspis, yang keaktifannya tinggi

terhadap teritip (Balanus amphirit) ; Echynodicum sp., Gelliodes sp., Pericarax sp., Xestopongia
sp., yang keaktifannya rendah terhadap teritip (Balanus amphirit) (11).
Bioaktivitas ichtyotoksik ekstrak kasar spons laut terdapat pada beberapa jenis, seperti:
Auletta spp, Callyspongia sp, Callyspongia pseudoreticulata, yang toksik terhadap nener
bandeng (Chanos chanos) (25).
II.12 Perkembangan Dan Kendala- Kendala Penelitian Bahan Alam Laut Dan Spons Laut
Penelitian di bidang bahan alami laut telah berkembang pada sekitar tiga puluh tahun
terakhir ini. Dari sekedar isolasi dan karakterisasi metabolit sekunder sampai kepada isolasi
senyawa- senyawa yang mempunyai aktivitas atau farmakologi juga seringkali diikuti oleh uji
toksisitas untuk menentukan keamanan penggunaan senyawa-nyawa tersebut untuk obat. Bahkan
laporan (Faulkner., 2000) mengemukaan bahwa sampai tahun 1996, kimia produk alam laut telah
sangat berkembang dan telah sampai kepada sintesis senyawasenyawa aktif yang secara
mendalam telah diteliti sifat biloginya, termasuk aktivitas atau efek farmaloginya, dan sifat
ekologinya. Laporan itu telah mengemukakan pula tentang produk alam laut baru yang
mempunyai sifat biologi dan farmasetika yang menarik. Sampai tahun 1996 , penelitian terhadap
spons masih tetap mendominasi laporan produk alam laut. Metabolit spons yang diteliti
umumnya karena sifat biomediknya, tetapi juga fungsi ekologinya. Telah dilaporkan bahwa
secara kimia Coelenterata didominasi oleh golongan senyawa terpenoid, terutama kelompok
senayawa diterpenoid. Mingingat bahwa banyak senyawa antibiotika dihasilkan dari mikroba
daratan, maka tidak mustahil mikroorganisma laut juga merupakan sumber senanyawa
antibiotika disamping aktivitas bilogi lain. Hal ini memerlukan penelitian interdisiplin lebih
lanjut dengan peran utama peneliti pada para ahli mikrobilogi. (4)
Di bidang farmakologi, penelitian produk alami laut pada 30 tahun telah berkembang ke
arah penemuan senyawa- senyawa sitotoksika, antitumor, antikanker, antibiotika, antivirus,
antiparasitosis dan penyakit- penyakit akibat gangguan fisik dan gangguan fungsi organ. Antara
tahun 1997 1987 telah dilaporkan sekitar 2500 senyawa metabolit baru, yang umumnya
metabolit sekunder dari berbagai organisme bahari tumbuhan dan hewan (Attaway dan
Zaborsky, 1993). Distribusi metabolit tersebut tersebut ke dalam organisme laut terlihat pada
tabel dibawah ini. Dari tabel ini terlihat bahwa metabolit baru yang ditemukan terdistribusi mulai
dari mikroba prokariotik dan invertebrata sampai ke jenis-jenis vertebrata seperti ikan. Dari
hasil-hasil pemanfaatan pada satu tahun terakhir (1986 1987) dari kurun waktu 10 tahun (1977-

1987) dapat dikemukaan bahwa penelitian terhadap spons cenderung naik dibandingkan dengan
makroalga. Kecenderungan naik itu disebabkan antara lain oleh (a) Bahan percobaan spons yang
relatif mudah didapat, (b) Tipe struktur molekul metabolit pada spons dan aktivitasnya yang
lebih seragam dan (c) Kemampuan biosintesis metabolit sekunder yang lebih luas pada spons.
Penelitian organisme laut di bidang biomedik sampai sekarang masih tetap didominasi
oleh spons (Faulkner, 1998). Umumnya metabolit spons ditelah karena sifat biomediknya.
Disamping itu ada juga penelitian spons yang menelaah fungsi ekologi yang dapat menghambat
menetapnya ganggang pada tubuhnya. Banyak senyawa makrolida poliasetilenik dari spons laut
yang menunjukkan efek sitotoksik, sedangkan beberapa metabolit lain mempunyai aktivitas
antifungi. Telah dilaporkan juga tentang metabolit sekunder yang dapat disolasi dari beberapa
jenis spons dari Indonesia (Faulkner, 1998). Senyawa senyawa tersebut antara lain adalah
alkaloid halisiklamin- A suatu makrolida yang diisolasi dari Haliclona sp, alkaloid sitotoksik 8
hidrosimanzamin- A dari pachypellina sp. Dari asal Sulawesi , Lanthella basta dapat diisolasi
senyawa turunan bastadin (bastadin -16 dan 17). (4)
Penelitian produk alam alaut di Indonesia sampai tahun 1997 mencatat 27 topik
penelitian (Rahmaniar, 1997) yang meliputi pengujian bioaktivitas atau pencaharian substansi
bioaktif dan ekstraksi dan isolasi kandungan kimia yang potensial. Penelitian yang dilakukan
masih terbatas pada tingkat ekstraksi dan isolasi. Beberapa kendala yang dihadapi dalam
penelitian produk alam laut di Indonesia antara lain: (a) Kurangnya informasi mengenai jenis
biota yang ada di Indonesia serta tempat tumbuhnya, (b) Peta penyebaran potensi biota belum
ada (c) Fasilitas penelitian dan pakar peneliti tersebar di berbagai lembaga, demikian pula sarana
dan prasarana tersebar tidak merata di berbagai lembaga penelitian dan perguruan tinggi (d)
kurangnya ahli taksonomi dalam bidang tertentu misalnya spons. (17)
Untuk mengendalikan besarnya laju pengambilan spons laut dari alam dan mencegah
tangkap lebih (overfishing), terutama untuk pemanfaatan sebagai sumber senyawa bioaktif baru
dan memproduksi senyawa bioaktif tertentu, perlu dilakukan upaya pengendalian, terutama yang
berhubungan dengan pengembangan budidayanya. Pengembangan budidaya ini diarahkan untuk
memproduksi ekstrak kasar dan fraksinya dan untuk penyediaan bibit/anakan untuk restocking
pada kawasan terumbu karang yang rusak. Pengembangan budidaya untuk memproduksi ekstrak
kasar dan fraksi aktif, dilakukan dengan mencari suatu teknik budidaya yang dapat menghasilkan
ekstrak kasar dan fraksi aktif yang relatif banyak, sedangkan untuk penyediaan bibit/anakan

untuk restocking pada kawasan terumbu karang yang rusak, dilakukan dengan mencari suatu
teknik budidaya yang dapat memberikan pertumbuhan yang cepat, sintasan yang tinggi dan masa
pemulihan siklus reproduksi yang cepat. (17)
Salah satu alternatif dalam mengurangi tekanan pada ekosistem terumbu karang dari
pengumpulan organisme yang berasosiasi dalam ekosistem terumbu karang untuk tujuan
komersil yaitu dengan cara pengembangan budidaya terhadap berbagai organisme tersebut. Oleh
karena itu, usaha pemanfaatan spons melalui usaha budidaya dan kegiatan rehabilitasi dan
konservasi terumbu karang harus diarahkan untuk memproduksi benih secara massal melalui
usaha transplantasi dan pembenihan. Metode transplantasi dilakukan dengan jalan melakukan
fragmentasi pada induk spons menggunakan pisau sedangkan metode pembenihan dengan
mengalirkan kejutan listik pada spons dalam akuarium sehingga spons mengeluarkan larvanya
(pemijahan buatan).
Untuk menunjang usaha-usaha pengelolaan dan rehabilitasi ekosistem terumbu karang di
Indonesia serta pemanfaatannya untuk tujuan komersil melalui usaha pembenihan massal dan
budidaya spons, maka diperlukan penelitian dasar terutama yang berkaitan dengan biologi
reproduksi, baik reproduksi seksual maupun reproduksi aseksual, termasuk penelitian tentang
pemijahan buatan, perkembangan embrio dan larva dari organisme terumbu karang, khususnya
terhadap spons kelas .
Aplikasi hasil penelitian dalam industri masih mengalami hambatan, karena industri
pengguna enggan di Indonesia manggunakan hasil penelitian pakar dalam negeri. Sulit
menentukan penelitian yang memiliki pangsa pasar, demikian pemilihan biota yang akan
dijadikan topik penelitian belum seluruhnya dilaksanakan meskipun telah ada konsep program
bioteknologi kelautan di Indonesia.
Kendala lainnya dalam penelitian produk alami laut yang dihadapi adalah dalam hal kerjasama
dengan pihak asing. Kerjasama dengan pihak asing memang diperlukan terutama dalam hal alih
teknologi dan sejauh kerjasama tersebut saling menguntung. Akhir-akhir ini tawaran kerjasama
dari luar semakin banyak sementara aturan-aturan yang akan merupakan acuan dalam
melaksanakan kerjasama belum ada. Hal ini merupakan kendala tersendiri bagi di lapangan dan
perlu agar menjadi perhatian kita bersama.

II.13 Strategi untuk Mengetahui Potensi Anti-Kanker dari Sponge


Untuk mengetahui potensi suatu senyawa antikanker dari suatu biota laut harus
dilakukan pengujian yang akan membuktikan potensi antikanker dari suatu biota. Uji tersebut
adalah:
1. Ekstraksi
Ekstraksi adalah penyarian zat-zat aktif dari bagian tanaman atau bahan hayati. Adapun
tujuan dari ekstraksi yaitu untuk menarik komponen kimia yang terdapat dalam
simplisia. Berdasarkan fase yang terlibat, ekstraksi dibagi dua. Pertama adalah ekstraksi padatcair (Solid Extraction/Leaching). Digunakan untuk melarutkan zat yang dapat larut dari
campurannya dengan zat padat yang tak dapat larut. Ekstraksi zat padat adalah mengambil zat
padat / cair dalam campuran zat padat. Syarat pelarut dalam ekstraksi, dapat melarutkan
komponen yang diinginkan tapi tidak dapat bercampur. Kedua adalah ekstraksi cair-cair (Liquid
Extraction). Ektraksi zat cair dengan pelarut zat cair digunakan untuk memisahkan 2 zat cair
yang saling bercampur dengan menggunakan perarut yang melarutkan salah satu zat dalam
campuran itu. (26)
2. Fraksinasi
Fraksinasi adalah proses pemisahan suatu kuantitas tertentu dari campuran dibagi dalam
beberapa jumlah fraksi komposisi perubahan menurut kelandaian. Pembagian atau pemisahan ini
didasarkan pada bobot dari tiap fraksi, fraksi yang lebih berat akan berada paling dasar sedang
fraksi yang lebih ringan akan berada diatas. Fraksinasi bertingkat biasanya menggunakan pelarut
organik seperti eter, aseton, benzena, etanol, diklorometana, atau campuran pelarut tersebut.
Asam lemak, asam resin, lilin, tanin, dan zat warna adalah bahan yang penting dan dapat
diekstraksi dengan pelarut organik. (26)
3. Uji Sitotoksik
Dasar dari uji sitotoksik adalah kemampuan sel untuk bertahan hidup karena adanya
senyawa toksik. Kemampuan sel untuk bertahan hidup dapat diartikan sebagai tidak hilangya
metabolik atau proliferasi dan dapat diukur dari bertambahnya jumlah sel, naiknya jumlah
protein, atau DNA yang disintesis. Metode yang digunakan untuk mengukur kemampuan
bertahan hidup dan proliferasi adalah plating efficiency dengan parameter pengujian perbedaan
konsentrasi sampel, perbedaan waktu paparan dan kerapatan sel. (26)

Uji sitotoksik secara in vitro menggunakan kultur sel digunakan untuk mendeteksi
adanya aktivitas antikanker dari suatu senyawa. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh
system uji sitotoksik, baik untuk evaluasi keamanan senyawa atau untuk mendeteksi aktivitas
antikanker suatu senyawa. Sistem uji tersebut harus menghasilkan kurva dosis respon yang
reproduksibel dan menggambarkan efek senyawa yang sama bila diberikan secara in vivo. Uji
sitotoksik untuk uji aktivitas antineoplastik menunjukkan adanya perbedaan respon yang
diberikan oleh sel kanker lebih besar dari sel normal. (26)
Biasanya hasil isolate diujikan pada sel myeloma yang merupakan sel kanker limfosit B
yang berasal dari tikus (Mus musculus). Sel myeloma memproduksi imunoglobulin abnormal
yang disebut protein monoklonal (semua protein yang dihasilkan mempunyai identitas dan
fungsi yang sama, yang merupakan suatu defisiensi) atau protein M. Produksi protein M
menyebabkan tingkat protein yang tinggi di dalam darah. Sel myeloma merupakan akumulasi
malafungsi atau kanker dari plasma sel. Dari hasil test terhadap sel myeloma nantinya dapat
terlihat potensi anti-kanker pada sponge dan juga konsentrasinya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Marine sponges as pharmacy. Mar. Biotechnol. 7: 142162


2. Meyers, P. 2001. Porifera, Animal Diversity Web. Accessed February 01, 2005 at Http: //
Animaldiversity. Ummz. Umich. Edu/ site?accounts/information/poritera.html.
3. Munro MHG, Luibrand RT, and Blunt JW. 1989. The Search for Antivaral and Anticancer
Compounds from Marine Organisms. Di dalam Scheuer PJ (ed.). Bioorganic Marine
Chemistry. Volume 1. Springer Verlag. Hlm 94 176.
4. Faulkner, D.J. 1998. Marine Natural Products. Nat. Prod. Rep., 15 (2), 113-158.
5. Amir, I. 1991. Fauna Sepon (Porifera) dari Terumbu Karang Genteng Besar, Pulau-Pulau
Seribu. Oseanologi di Indonesia 1991 No. 24: 41 54.
6. Amir, I dan Budiyanto. 1996. Mengenal Spons Laut (Demospongiae) SecaraUmum. Oseana,
Volume XXI, Nomor 2, 1996: 15 31.
7. Bergquist, P.R. 1978. Sponges. Hutchinson. London.
8. Warren L. 1982. Encyclopedia of Marine Invertebrates. Di dalam: Walls JG (ed.). hlm 15
28.
9. Harrison FW, and De Vos L. 1991. Porifera. Di dalam: Harrison FW,
10. Westfall JA(ed.). Microscopic Anatomy of Invertebrates. Volume 2. Placozoa, Porifera,
Cnidaria, and Ctenophora. Wiley-Liss. A John Wiley & Sons, Inc.,Publication. New York,
Chicester, Brisbane, Toronto, Singapore. hlm 28 89.
11. Soest ,RWM Van, and Braekman JC. 1999. Chemosystematics of Porifera: A Review.
Memoir of the Queensland Museum 44: 569 -589.
12. Bhimba. 2011. Biopotential of Secondary Metabolites Isolated from Marine Sponge
Dendrilla nigra. Asian Pasific Journal of Tropical Disease, 299-303.
13. Ruppert EE, and Barnes RD. 1991. Invertebrates Zoology. Sixth Edition.
14. Saunders College Publishing. Philadelphia, New York, Chicago, SanFransisco, Montreal,
Toronto, London, Sidney, Tokyo. hlm 68 91
15. Radjasa. 2008. Growth Inhibition of Medically Antibiotic Resistant Bacteria by SpongeAssociated Bacteria. Journal of Coastal Development, Volume 11 Number 2: 75-80.

16. Kimura, J., Ishizuka E., Nakao Y. Yoshida W.Y, Scheuer, P.J., and Borges, K.1998. Isolation
of 1- methylherbipoline Salt of Halisulfate-1 and ofSuvanine as Serine Protease Inhibitors
from Marine Spons,Coscinoderma Mathewsi, J. Nat Prod 61 (28): 248- 250.
17. Reinheimer, G. 1991. Aquatic Microbiology, 4 th Ed. John Wiley and Sons.Chichester and
New York.
18. Romihmohtarto, K. dan Juwana S. 1999. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan tentangBiota Laut.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi-LIPI.Jakarta. hlm 115 128.
19. Joseph. 2011. Pharmacologically Important Natural Products fromMarine Sponges. Journal
of Natural Products Volume 4.
20. Taylor, et al.

2007. Sponge-associated microorganisms: evolution, ecology,and

biotecnological potential. Microbiol. Mol. Bio. Reviews, 2: 295- 347


21. Pringgenies. 2010. Karakteristik Senyawa Bioaktif Bakteri Simbion Moluska Dengan GC-Ms.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Volume 2 No. 2 Hal: 34-40.
22. Kobayashi M, dan Rachmaniar R. 1999. Overview of Marine Natural Product Chemistry.
Prosidings Seminar Bioteknologi Kelautan Indonesia I 98.Jakarta 14 15 Oktober 1998: 23
32. Lembaga Ilmu PengetahuanIndonesia Jakarta.
23. Nofiani, 2009. Aktivitas Antimikroba Ekstrak Metanol Bakteri Berasosiasi Spons dari Pulau
Lemukutan, Kalimantan Barat. E-Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 1 No.2,
Hal 33-41.
24. Ireland CM, Molinski TF, Roll DM, Zabriskie TM, McKee TC, Swersey JC, and Foster MP.
1989. Natural Product Peptides from Marine Organisms. Di 19 dalam Scheuer PJ (ed.).
Bioorganic Marine Chemistry. Volume 3. Springer Verlag. p 1 27.
25. Soediro, I.S. 1999. Produk Alam Hayati Bahari dan Prospek Pemanfaatannya diBidang
Kesehatan dan Kosmetika. Prosidings Seminar BioteknologiKelautan Indonesia I 98.
Jakarta 14 15 Oktober 1998: 41 52.Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jakarta, 1999.
26. Ribeiro. 2012. Isolated and Synergistic effects of Chemical and Structur Defenses of Two
Species of Tethya (Porifera: Demospongiae). Journal of Sea Research 68: 57-62.