Anda di halaman 1dari 9

0

PENDAHULUAN
Makalah ini dibuat untuk mengkaji pembelajaran pada hari Sabtu tanggal 27
September 2014 yaitu mata kuliah TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang
dibimbing oleh Bapak Apit Fathurohman, S.Pd., M.Si. Pembelajaran dikaji untuk
mengetahui teori belajar apa yang digunakan, kemudian karakter-karakter apa saja yang
muncul dari pembelajaran itu, menyebutkan syntax atau urutan dalam pembelajaran itu,
dan mengetahui model serta metode yang digunakan.
1. Teori Belajar
Menurut kelompok kami, pembelajaran TIK pada hari Sabtu tanggal 27 September
2014 menggunakan teori belajar behavioristik. Alasannya karena teori ini mengatakan
bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu
jika ia telah mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Pandangan behavioristik
mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus, contohnya kelompok
penanya memberikan pertanyaan kepada kelompok penyaji dan komentator, dan keluaran
atau output yang berupa respons yaitu harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yanga ada.
Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting
diperhatikan sebab tidak bisa diamati dan diukur. Yang bisa diamati dan diukur hanyalah
stimulus dan respons. Penguatan (reinforcement) adalah faktor penting dalam belajar.
Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respons. Bila penguatan
ditambahkan (positive reinforcement) maka respons akan semakin kuat. Demikian juga jika
penguatan dikurangi (negative reinforcement) maka respons juga akan menguat.
Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila
dikenai hukuman. Dalam hal ini, penguatan diberikan oleh dosen pengasuh mata kuliah
TIK ini yaitu Bapak Apit Fathurohman, S.Pd., M.Si. Adapun tokoh-tokoh penting teori
behavioristik antara lain Thorndike, Watson, Skiner, Hull dan Guthrie.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan
orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan
menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata.
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahwa kegiatan belajar ditekankan sebagai
aktifitas mimetic yang menuntut mahasiswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan

yang sudah dipelajari. Penyajian materi pelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian ke
keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut
satu jawaban benar yang benar menunjukkan bahwa tugas belajarnya telah terselesaikan.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat
negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada jika hukuman harus
diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah
ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama
menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan
kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus
ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan
kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar
untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari
penguatan negatif adalah penguatan positif. Keduanya bertujuan untuk memperkuat
respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif
adalah mengurangi agar memperkuat respon.
Jadi menurut kami teori belajar model behavioristik lebih mengedepankan
perubahan tingkah laku (melalui pengalaman mahasiswa itu sendiri), dengan cara
(diantaranya) dosen memberikan sesuatu atau yang sering kita sebut sebagai stimulus. Dan
mahasiswa tentunya akan bertingkah laku sesuai respon yang diberikan kepadanya. Jika
respon yang diberikan baik, maka mahasiswa juga akan berperilaku baik ataupun
sebaliknya. Terus bagaimana para ahli dapat mengetahui ini semua? karena sebelum model
pembelajaran ini diterapkan pada manusia, terlebih dahulu para ahli menerapkan pada
hewan seperti kucing, dan anjing (sebagai bahan percobaan).
Dari kesemua pendapat ahli teori behavioristik pada prinsipnya sama yaitu respon
yang diberikan suatu obyek akan mempengaruhi perilaku obyek tersebut (baik secara
langsung atau tidak langsung). Maka suatu pengalaman dapat berpengaruh pada perilaku
seseorang. Jadi seorang pendidik tentunya harus memberikan suatu hal yang positif kepada
muridnya, dengan catatan tidak berlebih-lebihan. Model teori ini sangat cocok bila
diterapkan dalam proses pembelajaran.

2.

Karakter yang Muncul saat Pembelajaran


a. Menerima (receiving)
Artinya bahwa seseorang mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan oleh
orang lain kepadanya.
b. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang
diberikan adalah suatu indikasi sikap karena dengan suatu usaha untuk menjawab
pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Lepas pekerjaan itu benar atau
salah adalah berarti orang itu menerima ide tersebut.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain
terhadap suatu masalah.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko
adalah mempunyai sikap yang paling tinggi.

3.

Syntax atau Langkah-Langkah Pembelajaran


a. Kegiatan pendahuluan atau pembukaan dari pengajar (dosen)
b. Pengajar (dosen) memberi penjelasan atau menginformasikan kegiatan yang akan
dilakukan
c. Mahasiswa di minta membuat sebuah pertanyaaan yang berhubungan dengan
materi, ditulis pada selembar kertas, kemudian dosen menerangkan atau
menjelaskan peraturan model pembelajaran yang akan di terapkan.
d. Setelah membuat pertanyaan mahasiswa diminta berkumpul di tengah ruangan
membentuk shap dengan sisi sebelah kanan yaitu komentator dan sebelah kiri
kelompok penyaji.
e. Mahasiswa diminta membuat bola kertas yg berisi pertanyaan yang telah dibuat
tadi, kemudian bola tersebut di lempar ke penyaji atau kepada komentator,
membentuk gerak parabola
f. Lalu setelah pertanyaan dilemparkan ke penyaji dan komentator, selanjutnya hanya
komentator dan penyaji yang saling melempar bola kertas itu membentuk gerak
parabola.

g. Bagi kelompok yang tidak mengikuti peraturan yang ada dengan baik maka akan
dikenai hukuman.
h. Setelah itu, penyaji dan komentator harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
mereka dapatkan.
4.

Model Pembelajaran
Model pembelajarannya yaitu menggunakan pendekatan mengajar yang dapat
membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh pengetahuan langkah
demi langkah atau disebut model pengajaran langsung (direct instruction). Menurut Arends
(2001):A teaching model that is aimed at helping student learn basic skills and knowledge
that can be taught in a step-by-step fashion. For our purposes here, the model is labeled
the direct instruction model. Artinya: Sebuah model pengajaran yang bertujuan untuk
membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan pengetahuan yang dapat diajarkan
langkah-demi-langkah.

Untuk

tujuan

tersebut,

model

yang

digunakan

dinamakan modelpengajaran langsung.


Model pengajaran langsung (direct instruction) dilandasi oleh teori belajar
perilaku yang berpandangan bahwa belajar bergantung pada pengalaman termasuk
pemberian umpan balik. Satu penerapan teori perilaku dalam belajar adalah pemberian
penguatan. Umpan balik kepada siswa dalam pembelajaran merupakan penguatan yang
merupakan penerapan teori perilaku tersebut. Arends (1997) menyatakan: The direct
instruction model was specifically designed to promote student learning of procedural
knowledge and declarative knowledge that is well structured and can be taught in a stepby-step fashion. Artinya: Model pengajaran langsung secara khusus dirancang untuk
mempromosikan belajar siswa dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif
yang terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan secara langkah-demi-langkah. Lebih
lanjut Arends (2001) menyatakan: Direct instruction is a teacher-centered model that has
five steps: establishing set, explanation and/or demonstration, guided practice, feedback,
and extended practice a direct instruction lesson requires careful orchestration by the
teacher and a learning environment that businesslike and task-oriented. Artinya:
Pengajaran langsung adalah model berpusat pada guru yang memiliki lima langkah:
menetapkan tujuan, penjelasan dan/atau demonstrasi, panduan praktek, umpan balik, dan
perluasan praktek. Pelajaran dalam pengajaran langsung memerlukan perencanaan yang
hati-hati oleh guru dan lingkungan belajar yang menyenangkan dan berorientasi tugas.

Model pengajaran langsung memberikan kesempatan siswa belajar dengan


mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan apa yang dimodelkan gurunya. Oleh
karena itu hal penting yang harus diperhatikan dalam menerapkan model pengajaran
langsung adalah menghindari menyampaikan pengetahuan yang terlalu kompleks. Di
samping itu, model pengajaran langsung mengutamakan pendekatan deklaratif dengan titik
berat pada proses belajar konsep dan keterampilan motorik, sehingga menciptakan suasana
pembelajaran yang lebih terstruktur. Guru yang menggunakan model pengajaran langsung
tersebut bertanggung jawab dalam mengidentifikasi tujuan pembelajaran, struktur materi,
dan keterampilan dasar yang akan diajarkan. Kemudian menyampaikan pengetahuan
kepada siswa, memberikan pemodelan/demonstrasi, memberikan kesempatan pada siswa
untuk berlatih menerapkan konsep/keterampilan yang telah dipelajari, dan memberikan
umpan balik. Ciri-ciri pengajaran langsung adalah:
1. Adanya tujuan pembelajaran dan prosedur penilaian hasil belajar.
2. Sintak atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran
3. Sistem pengelolaan

dan

lingkungan

belajar

yang mendukung

belangsung

dan berhasilnya pengajaran.


Model pembelajaran langsung adalah model yang menekankan pada penguasaan
konsep dan/atau perubahan perilaku, sehingga cocok untuk teori belajar behavioristik.
5. Metode-metode yang ada didalamnya
Adapun metode-metode dari Strategi Pembelajaran Langsung adalah sebagai
berikut:
1. Metode Ceramah
Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan
pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu
dalam jumlah yang relatif besar. Ceramah cocok untuk penyampaian bahan belajar yang
berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut sukar didapatkan.
Ceramah merupakan metode pembelajaran yang konvensional. Ceramah jika terlalu
sering digunakan tidak akan efektif. Menurut Suprayekti (2003: 32) metode ceramah
perlu diperbaiki dalam penerapannya dengan cara:

a) Membangun daya tarik,


b) Memaksimalkan pengertian dan ingatan
c) Melibatkan siswa
d) Memberikan penguatan.
Cara untuk membangun minat siswa pada saat guru menerapkan metode ceramah,
yaitu:
a) Guru mengemukakan cerita atau visual yang menarik, seperti : anekdot, cerita
fiksi, kartun, atau media visual yang menarik siswa
b) Kemukakan suatu masalah
c) Kemukakan nilai positif dan manfaat
d) Berikan pertanyaan yang memotivasi siswa untuk memiliki rasa ingin tahu.
Metode ceramah dalam penerapannya perlu memaksimalkan pemahaman dan ingatan.
Adapun cara yang dapat ditempuh untuk memaksimalkan pemahaman dan
ingatan, yaitu :
a) Memberikan headlines dan kata kunci
b) Kemukakan contoh dan analogi
c) Gunakan media pembelajaran atau minimal alat bantu visual. Agar siswa tidak
pasif, maka penerapan metode ceramah perlu melibatkan peserta didik.
Hal tersebut salah satunya dapat ditempuh dengan memberikan tantangan spot.
Tantangan spot adalah penghentian ceramah secara periodik disertai dengan
memberikan tantangan kepada siswa untuk memberikan contoh dari konsep yang
disajikan. Selain penggunaan tantangan spot, pemberian latihan-latihan juga dapat
melibatkan siswa dalam ceramah. Latihan-latihan yang diberikan diarahkan untuk
memperjelas point-point yang telah disampaikan dalam cermah.
Materi yang disampaikan melalu metode ceramah mudah terlupakan. Kondisi tersebut
perlu diatasi dengan memberikan daya penguat ceramah. Adapun cara untuk

memberikan daya penguat dalam metode ceramah, yaitu : aplikasi masalah dan
review. Aplikasi masalah adalah pemberian masalah atau pertanyaan pada siswa
untuk diselesaikan dengan memanfaatkan informasi yang diberikan pada saat
ceramah. Selain itu, penguatan dapat diberikan dengan memberikan review. Review
dalam hal ini siswa diminta mengulas ceramah yang telah disampaikan.
2. Metode Diskusi
Metode pembelajaran diskusi adalah proses untuk berinteraksi saling bertukar
pendapat, saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga
didapatkan kesepakatan.
3. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving Method)
Metode problem solving bukan hanya sekadar metode mengajar, tetapi juga
merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan
metode-metode lainnya.
Metode problem solving merupakan metode yang merangsang berpikir dan
menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh pebelajar.
Pengajar harus pandai-pandai merangsang siswanya untuk mencoba mengeluarkan
pendapatnya.
4. Team- Game- Tournament (TGT)
Metode TGT memiliki yang hampir sama dengan STAD. Metode TGT menurut
Mulyatiningsih (2011:

229) melibatkan aktivitas peserta didik tanpa perbedaan status,

dengan tutor teman sebaya, dan mengandung unsur permainan dan penguatan. Adapun
langkah-langkah TGT, yaitu:

a) Guru menyajikan materi dengan ceramah dan tanya jawab


b) Pembentukkan kelompok dengan anggota 4-5 siswa yang heterogen; guru
memberikan tugas untuk belajar bersama dalam kelompok

c) Guru memberikan permainan berupa pertanyaan dimana siswa dapat


memilih sesuai dengan nomor yang dikehendaki
d) Guru memberikan kompetisi atau turnamen setiap selesai satu materi ajar
e) Guru memberikan penghargaan pada kinerja kelompok yang paling baik.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2014. Teori Belajar Behavioristik di buat pada tanggal 27 Juni 2014.
Id.m.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik. Di akses pada tanggal 30
September 2014.
Kariasa, Kadek. 2014. Strategi Pembelajaran Langsung di buat pada tanggal 12 Maret
2014. Madegapur.blogspot.in/2014/0/3/strategi-pembelajaran-langsung-direct.html.
Di akses pada tanggal 30 September 2014.
Maulana, Endra. 2014. Model Pembelajaran Langsung di buat pada tanggal 28 Januari
2014. www.informasi-pendidikan.com/2014/01/model-pembelajaran-langsung.html.
Di akses pada tanggal 30 September 2014.