Anda di halaman 1dari 9

APUS DARAH

Oleh :
Kusno Viarini
Rani Azizah
Korrie Salsabila
Herlina Tiara Sari
Awaliatun Nur Azizah

B1J011098
B1J011106
B1J011108
B1J011109
B1J011113

Kelompok
2
Rombongan B3

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN

Darah merupakan cairan tubuh yang mengalir dalam pembuluh dan beredar
ke seluruh tubuh yang disebut pembuluh darah. Darah mengalir karena dipompa dari
jantung (Yatim, 1990). Darah dapat dipandang sebagai jaringan penyambung
terspesialisasi yang dibentuk dari sel-sel bebas dan suatu matriks yang cair disebut
plasma. Sel-sel darah berkembang dalam jaringan retikuler organ-organ pembentuk
darah dan masuk ke dalam aliran darah sebagai sel-sel yang telah terbentuk. Unsurunsur struktural darah terdiri dari eritrosit, leukosit dan keping darah (Bevelander
dan Ramaley, 1988).
Sel darah merah atau eritrosit pada umumnya berbentuk cakram kecil
bikonkaf dan cekung pada kedua sisinya, sehingga dilihat dari samping nampak
seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang. Warna kuning tua pucat
kalau dilihat satu per satu, tetapi dalam jumlah besar kelihatan merah dan memberi
warna pada darah. Strukturnya terdiri atas pembungkus luas atau stroma, berisi masa
hemoglobin (Pearce, 1979). Menurut Frandson (1992), eritrosit adalah sel-sel yang
terspesialisasi untuk pengangkatan oksigen. sel-sel ini merupakan cakram yang
bikonkaf dengan pergerakan sirkuler dan pusatnya tipis. Cakram bikonkaf tersebut
mempunyai permukaan yang reltif luas untuk pertukaran O2 melintasi membran.
Eritrosit bersifat fleksibel dan sifat ini memungkinkan eritrosit beradaptasi terhadap
bentuk irregular dan garis tengah kapiler kecil, sehingga memungkinkan perubahanperubahan yang besar pada bentuk sel bila eritrosit melewati kapiler (Junquera dan
Canneira, 1980).
Manusia memiliki sistem peredaran darah tertutup yang berarti darah
mengalir dalam pembuluh darah dan disirkulasikan oleh jantung. Darah dipompa
oleh jantung menuju paru-paru untuk melepaskan sisa metabolisme berupa
karbondioksida dan menyerap oksigen melalui pembuluh arteri pulmonalis, lalu
dibawa kembali ke jantung melalui vena pulmonalis. Setelah itu darah dikirimkan ke
seluruh tubuh oleh saluran pembuluh darah aorta. Eritrosit pada manusia berbentuk
kepingan bikonkaf yang diratakan dan diberi tekanan pada bagian tengahnya. Bentuk
sel darah merah sangat fleksibel sehingga mudah masuk kedalam pembuluh kapiler
yang kecil. Eritrosit normal memiliki volume sekitar 9 femtoliter. Sekitar sepertiga
dari volume diisi oleh hemoglobin, total dari 270 juta molekul hemoglobin
(Goenarso, 1989).

Jumlah leukosit pada ayam berkisar antara 16.000-40.000 sel/mm3 dan


memiliki bentuk elips sedangkan pada sel darah ikan 20.000-150.000 sel/mm3.
Jumlah leukosit pada mamalia adalah 4-11 ribu sel/mm3. Jumlah hemoglobin yang
terkandung dalam sel darah maupun plasma darah sangat tergantung dengan jumlah
sel darah merah (eritrosit) karena, hemoglobin terdapat di sel darah merah yang
berfungsi mengikat O2. Hal ini menyebabkan kadar hemoglobin di tiap spesies dapat
berbeda (Hoffbrand, 1987).

II.

MATERI DAN METODE

A. Materi
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah jarum suntik, object glass,
cover glass, label, kapas dan mikroskop.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah darah manusia, darah
ayam, alkohol 70%, giemsa, methylene blue.

B. Metode
a. Apus Darah Ayam
1. Sampel darah ayam diambil secukupnya dengan menggunakan jarum suntik
pada vena jugularis.
2. Kemudian diteteskan pada ujung objek gelas yang sudah dibersihkan dengan
menggunakan kapas yang diberi alkohol 70%.
3. Objek gelas ke 2 lalu diletakkan di muka tetesan darah dan ditarik ke belakang
dengan sudut 45o untuk mendapatkan film darah yang tipis.
4. Hasil apusan lalu dikeringkan di udara
5. Difiksasi dengan methyl alkohol selama 3-5 menit.
6. Setelah kering dicuci dengan air mengalir kemudian diwarnai dengan Giemsa,
dicuci kembali dengan air mengalir dan dikeringkan.
7. lalu diamati dibawah mikroskop.
b. Apus Darah Manusia
1. Sampel darah manusia diambil secukupnya dengan menggunakan jarum
suntik.
2. Kemudian diteteskan pada ujung objek gelas yang sudah dibersihkan dengan
menggunakan kapas yang diberi alkohol 70%.
3. Objek gelas ke 2 lalu diletakkan di muka tetesan darah dan ditarik ke belakang
dengan sudut 45o untuk mendapatkan film darah yang tipis.
4. Hasil apusan lalu dikeringkan di udara
5. Difiksasi dengan methyl alkohol selama 3-5 menit.
6. Setelah kering dicuci dengan air mengalir kemudian diwarnai dengan Giemsa,
dicuci kembali dengan air mengalir dan dikeringkan.
7. lalu diamati dibawah mikroskop.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

B. Pembahasan
Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma didalam cairan
yang disebut plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan
pengikat dalam arti luas. Berdasarkan percobaan pada praktikum kali ini darah
dikeluarkan dari tubuh dengan cara disuntik dan kemudian diberi aquades maka
segera terjadi bekuan yang terdiri atas unsure berbentuk dan cairan kuning jernih
yang disebut serum. Serum sebenarnya merupakan plasma tanpa fibrinogen (protein).
Untuk melihat struktur sel- sel darah dengan menggunakan mikroskop cahaya pada
umumnya dibuat sediaan apus darah. Sediaan apus darah ini tidak saja untuk
mempelajari bentuk masing- masing sel darah, tetapi juga digunakan untuk
menghitung perbandingan antara masing- masing jenis sel darah (Bevelander, 1988).
Pembuatan sediaan apus darah pada praktikum kali ini digunakan dua buah
kaca sediaan yang sangat bersih terutama harus bebas lemak. Satu buah kaca sediaan
bertindak sebagai tempat tetes darah yang hendak diperiksa dan ynag lain bertindak
sebagai alat untuk meratakan tetes darah agar didapatkan lapisan tipis darah (kaca
perata). Darah dapat diperoleh dari tusukkan jarum pada ujung jari. Sebaiknya
tetesan darah pertama dibersihkan agar diperoleh hasil yang memuaskan. Tetesan
yang kedua diletakan pada daerah ujung kaca sediaan yang bersih. Salah satu ujung
sisi pendek kaca perata diletakan miring dengan sudut kira- kira 45o tepat didepan
tetes darah menyebar sepanjang sisi pendek kaca perata, maka dengan
mempertahankan sudutnya, kaca perata digerakqan secara cepat sehingga
terbentuklah selapis tipis darah diatas kaca sediaan. Setelah sediaan darah
dikeringkan pada suhu kamar barulah dilakukan pewarnaan sesudah difiksasi
menurut metode yang dipilih, yaitu metode Gremsa dan Wright yang merupakan
modifikasi metode Romanowsky (Frandson, R.D. 1992).
Zat warna yang digunakan dalam metode Romanowsky adalah Giemsa yang
sebelumnya telah diencerkan dengan akuades. Sediaan apus yang telah dikeringkan
diudara, difixi dulu dengan metyl alkohol selama 3-5 menit. Semakin lama
pewarnaan yang dilakukan maka intensitasnya mejadi semakin tua. Preparat apus
yang yang telah selesai dibuat kemudian diamati dibawah mikroskop dengasn
perbesaran 100x. gambar yang didapat dalam hasil menunjukan sel-sel butir darah
baik erytrocyte, leucocyt, thrombocyt, atau yang lain (Susanto dan Astuty, 1995).

Sediaan apus darah secara rutin diwarnai dengan campuran zat warna khusus
yang pertama kali ditemukan oleh oleh Dimitri Romanowsky dan diubah oleh
penyelidik lainnya. Pada tahun 1891, Romanowsky menemukan campuran metilen
blue dan eosin dalam perbandingan tertentu memberi warna ungu inti leukosit.
Pewarnaan ini disebabkan karena oksidasi metilen blue dan pembentukan senyawa
baru dalam campuran yang dinamakan azure. Setelah pemberiaan campuran jenis
Romanowsky , diferensiasi sel-sel dapat dilakukan berdasarkan 4 sifat pewarnaan
yang menyatakan afinitas struktur sel oleh masing-masing zat warna dari campuran.
1. Afinitas untuk metilen blue
2. Afinitas untuk azure dikenal sebagai azurefilik (ungu).
3. Afinitas untuk eosin (suatu zat warna asam) dikenal sebagai asidofilik atau
eosinofilia.(merah muda kekuningan).
4. Afinitas untuk komplek zat warna yang terdapat dalam campuran, secara
tidak tepat dianggap netrala, dikenala sebagai neutrofilia (salmon-pink
smplilac).
Metode pembuatan preparat apus dapat diterangkan sebagai berikut: darah
ikan diambil dengan menggunakan suntikan, diambil pada bagian insangnya, darah
kemudian diteteskan di atas kaca benda sedemikian hingga merupakan lingkaran
dengan diameter 3-5 mm. Kaca benda yang lain di letakkan pada sisi yang pendek,
lalu ditarik ke belakang sedikit sampai kira-kira ditengah lingkaran darah. Sudut di
antara kedua kaca benda itu sebaiknya 45o. Kaca yang kedua di dorong maju,
dengan kekuatan dan kecepatan yang sama rata supaya mendapatkan film darah yang
tipis dan sama rata. Arah mendorong itu menentukan hasil apusan. Selanjutnya
preparat di keringkan dan difiksasi dengan metil alkohol selama 3-5 menit dan
diwarnai dengan giemsa (Pearce, E.C. 1979).
Sel darah merah manusia normal memiliki bentuk cekung ganda, diameter
mereka adalah sekitar 7-8 m, dan ketebalan mereka adalah sekitar 2,5 pM. Bagian
nyata dari indeks bias eritrosit pada 633 nm adalah sekitar 1.40-1.42, yang terutama
disebabkan oleh indeks gabungan bias oksigen hemoglobin (1.615) dan air (1.333).
Menurut data, penyempitan 25% dalam satu dimensi dari RBC diperkirakan ketika
panjang sel meningkat 15%. Namun, peregangan sel sedikit berbeda ketika
menggunakan mikrosfer sebagai pegangan dibandingkan dengan kasus menjebak sel
secara langsung (Kinnunen, 2011).

IV. KESIMPULAN

1.

DAFTAR PUSTAKA

Bevelander, G dan J.A, Ramaley. 1988. Dasar-Dasar Histologi. Erlangga, Jakarta.


Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. UGM Press, Yogyakarta.
Janquiera, V.C dan Canneiro. 1980. Histologi Dasar. ECG. Penerbit Buku
Kedokteran, Jakarta.
Kinnunen,M., A. Kauppila, A. Karmenyan, and R. Myllyla1. 2011. Effect of the size
and shape of a red blood cell on elastic light scattering properties at the
single-cell level. Biomedical Optics Express 1803. Vol. 2, No. 7. 1 July 2011.
Pearce, E.C. 1979. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. PT. Gramedia, Jakarta.
Susanto L.P. dan W. H.Astuty. 1995. Diagnosis Of Malaria By The Rapid Manual
Test. Med J Indones, 1995;4:24-9.
Yatim, W. 1990. Histologi. Tarsito, Bandung.