Anda di halaman 1dari 7

KLIPING

CONTOH BADAN HUKUM DALAM HUKUM ADAT

Kliping ini Disusun untuk Memenuhi Mata Kuliah


Hukum Adat

Disusun Oleh :
SAADILLAH KHAIRI
NIM : B1A012402

FAKULTAS HUKUM UNLAM


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN
TAHUN 2013

A. CONTOH BADAN HUKUM DALAM HUKUM ADAT


1. NAGARI

Nagari Pariangan di Kabupaten Tanah Datar

Balai nagari Silago (Kabupaten Dharmasraya) pada tahun 1877-1879

Nagari adalah pembagian wilayah administratif sesudah kecamatan di


provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Istilah nagari menggantikan istilah desa, yang
digunakan di provinsi lain di Indonesia.
Nagari merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat,
berdasarkan asal-usul dan adat istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem
pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Nagari dipimpin oleh seorang wali nagari, dan dalam menjalankan
pemerintahannya, dahulunya wali nagari dibantu oleh beberapa orang wali jorong,
namun sekarang dibantu oleh sekretaris nagari (setnag) dan beberapa pegawai
negeri sipil (PNS) yang jumlahnya bergantung dengan kebutuhan pemerintahan
nagari tersebut. Wali nagari dipilih oleh anak nagari (penduduk nagari) secara
demokratis dengan pemilihan langsung untuk masa jabatan 6 tahun dan kemudian
dapat dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. Biasanya yang
dipilih menjadi wali nagari adalah orang yang dianggap paling menguasai tentang
semua aspek kehidupan dalam budaya Minangkabau, sehingga wali nagari tersebut
mampu menjawab semua persoalan yang dihadapi anak nagari.
Nagari secara administratif pemerintahan berada di bawah kecamatan yang
merupakan bagian dari perangkat daerah kabupaten. Sedangkan nagari bukan
merupakan

bagian

dari

perangkat

daerah

jika

berada

dalam

struktur

pemerintahan kota. Berbeda dengan kelurahan, nagari memiliki hak mengatur


wilayahnya yang lebih luas. Nagari merupakan bentuk dari republik mini.
Dalam sebuah nagari dibentuk Kerapatan Adat Nagari (KAN), yakni lembaga
yang beranggotakan tungku tigo sajarangan. Tungku tigo sajarangan merupakan
perwakilan anak nagari yang terdiri dari alim ulama, cerdik pandai (kaum
intelektual) dan niniak mamak (pemimpin suku-suku dalam nagari). Keputusan
penting yang akan diambil selalu dimusyawarahkan antara wali nagari dantungku
tigo sajarangan di balai adat atau balairung sari nagari. Untuk legislasi,
dibentuklah Badan

Musyawarah

Nagari (BMN)

nama

lain

dari Badan

Permusyawaratan Desa (BPD). Unsur dalam BMN memuat unsur pada KAN dan
dilengkapi dengan unsur pemuda, wanita dan perwakilan tiap suku. BMN

berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan nagari, yang ditetapkan


dengan cara musyawarah dan mufakat dengan masa jabatan selama 6 tahun dan
dapat diangkat/diusulkan kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya. Jumlah
anggota BMN ditetapkan dengan jumlah ganjil, paling sedikit 5 orang dan paling
banyak 11 orang, dengan memperhatikan luas wilayah, jumlah penduduk, dan
kemampuan keuangan nagari, serta ditetapkan dengan keputusanBupati/Walikota.
Dengan diterapkannya kembali model pemerintahan nagari di provinsi
Sumatera Barat, maka hal ini berdampak terhadap wewenang atas penguasaan
kembali tanah ulayat nagari maupun juga terhadap tanah-tanah adat baik yang
dimiliki secara individual maupun telah dikuasai negara sebelumnya[1].
Sementara itu di sejumlah kabupaten, nagari memiliki wewenang yang cukup
besar. Misalnya di Kabupaten Solok, nagari memiliki 111 kewenangan dari
pemerintah kabupaten, termasuk di antaranya pengurusan izin mendirikan
bangunan (IMB) dan surat izin tempat usaha (SITU).

1.

^ Yayasan Kemala, (2005), Tanah masih di langit: penyelesaian masalah penguasaan tanah dan kekayaan alam di
Indonesia yang tak kunjung tuntas di era reformasi, Bandung: Yayasan Kemala, ISBN 978-979-97910-5-4.

2. YAYASAN

Yayasan Raja Sultan Nusantara

Para Pengurus Yayasan Raja Sultan Nusantara

Yayasan Raja Sultan Nusantara (YARASUTRA) adalah suatu badan


hukum yang mempunyai maksud dan tujuan bersifat sosial, keagamaan dan
kemanusiaan, didirikan dengan memperhatikan persyaratan formal yang ditentukan
dalam undang-undang. Di Indonesia, yayasan diatur dalam Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 16 Tahun
2001

tentang

Yayasan serta Peraturan Pemerintah Nomor

63

Tahun

2008

tentang Yayasan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.


Ide dasar ini timbul pada pertemuan yang tanpa direncanakan di hotel
Sriwijaya Jakarta tanggal 11 Januari 2011 dgn beberapa Raja/Sultan dan pemangku
Adat saat YM.Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin sebagai Tuan Rumah FKN
VII akan menyampaikan laporan hasil dari Festival Keraton Nusantara VII di
Palembang kepada Presiden dengan tembusan Menteri yang terkait. Dari hasil
pertemuan tersebut maka berdasarkan kesepakatan para Raja Sultan dan Pemangku
Adat yang hadir tercetus suatu ide untuk mendirikan suatu organisasi/wadah yang
berberntuk yayasan.
Sabtu, 15 Januari Tahun 2011 bertempat di Hotel Marcopolo Jakarta. Para
pewaris, Raja, Sultan, Pemangku dan Pemegang Lembaga Adat Keraton Nusantara,
Atas Anugerah, Rahmat dan Kekuatan Cahaya Illahi, Tuhan Yang Maha Esa,
bertekad suci untuk menegakkan kembali jati diri bangsa dan membangun budaya
untuk menjungjung harkat dan martabat bangsa, dengan segala upaya dan sepenuh
daya untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran rakyat di bumi Nusantara
melalui pembentukan
YAYASAN RAJA SULTAN NUSANTARA (YARASUTRA).

B. KESIMPULAN
Subyek hukum di dalam Hukum Adat terdiri dari :
1. Manusia (Natuurlijk person)
2. Badan Hukum (Rechts prson)
Adapun badan-badan hukum yang ada menurut hukum adat antara lain :
1. Persekutuan (Desa, Suku, Nagari, Famili, Marga,dll)
2. Perkumpulan yang mempunyai organisasi yang tegas dan rapi
Seperti Mapalus (Minahasa), Jula-Jula (Minangkabau), Mohakka (Selayar),
Sekaha Subak dan Sekaha Banjar (Bali) termasuk pula Wakaf, Koperasi dan
akhir-akhir ini juga termasuk Yayasan.
Menurut R. Soerojo Wignjodipoero dalam bukunya Kedudukan serta
Perngembangan Hukum Adat, menyatakan bahwa :
Suatu badan hukum harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Merupakan kesatuan yang memiliki tata peraturan yang rapi;
2. Memiliki pengurus sendiri;
3. Mempunyai harta kekayaan sendiri;
4. Bertingkah laku sebagai kesatuan terhadap dunia luar dan batin.

C. REFERENSI
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Nagari
2. http://keratonpalembang.blogspot.com/2011/11/yayasan-raja-sultannusantara-yarasutra.html
3. http://www.slideshare.net/zulkifliaschool/hukum-adat-vii-2