Anda di halaman 1dari 11

Muhammad Army R (11/312164/SP/24503)

Bunga Addinta S (!3/349659/SP/25835)


Dianita Wahyu Putri (13/349687/SP/25840)
Inessia Leonita (13/349577/SP/25815)
Nurul Amanah (13/345970/SP/25589)
Nirwandari Aditya M I (13/346024/SP/25615)
Riza Adrian Soedardi (13/345953/SP/25583)

TUGAS KOMUNIKASI ORGANISASI


I.

Pengertian Budaya Organisasi dan Iklim Komunikasi Organisasi


Budaya:
Mengacu pada struktur-struktur dalam organisasi, yang berakar pada nilai-nilai,
keyakinan, dan asumsi yang di selenggarakan oleh anggota organisasi.
Iklim:
Relatif sementara, tunduk pada kontrol langsung, dan sebagian besar terbatas pada
aspek lingkungan sosial yang secara sadar dirasakan oleh anggota organisasi.
Budaya Organisasi:
Pola dasar yang diterima organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah,
membentuk karyawan yang mampu beradaptasi dengan lingkungan dan
mempersatukan anggota-anggota organisasi.
Iklim Komunikasi Organisasi:
Suatu yang dapat diukur pada lingkungan kerja baik secara langsung maupun tidak
langsung berpengaruh pada karyawan dan pekerjaannya dimana tempat mereka
bekerja dengan asumsi akan berpengaruh pada motivasi dan perilaku karyawan.

II.

Pentingnya Budaya Organisasi dan Iklim Komunikasi Organisasi


Pentingnya Budaya Organisasi
Budaya organisasi kerap kali dijadikan ujung tombak keberhasilan organisasi. Jauh
sebelumnya, budaya organisasi dipandang sebagai cara yang paling tepat untuk
menentukan tujuan dan mewujudkan cita-cita organisasi. Dikutip dalam
Organizational Culture Bennis menyatakan the only valiable way to change their
culture, that is to change the systems within which people work and live. Hal ini
menjadikan budaya organisasi sesuatu yang penting. Jika ditarik garis ke belakang,
maka akan ditemui hubungan erat antara budaya organisasi dengan perilaku
organisasi. Pemahaman mengenai budaya organisasi bergandengan dengan
mempelajari sikap dan tindakan individu dalam suatu organisasi. Keterkaitan ini
menjadi argumen tambahan mengapa budaya organisasi tidak dapat disepelekan.

Pentingnya budaya organisasi secara tertulis dapat dilihat dari peranannya oleh
Veitzhal, bahwa budaya organisasi berperan dalam:

Menetapkan batas, memberikan pembeda antara satu organisasi dengan


organisasi lainnya cukup dengan menilik budaya organisasinya.

Memberikan identitas, budaya organisasi sebagai identitas dari organisasi


tersebut maupun bagi anggota-aggota organisasi.

Memudahkan tumbuhnya komitmen yang lebih luas daripada kepentingan


individu. Karena budaya organisasi bukan hanya perihal individu namun
lebih pada kebersamaan tim.

Meningkatkan kemantapan sistem sosial. Budaya organisasi menciptakan


aturan yang menentukan arah dari organisasi.

Memandu dan membentuk sikap anggota organisasi (budaya sebagai


mekanisme pembuat makna dan kendali). Dalam budaya organisasi
terdapat nilai-nilai yang dijadikan acuan anggota organisasi.
Seiring berkembangnya zaman, budaya organisasi memang bukan lagi satu-satunya
hal yang paling penting dalam menentukan keberhasilan organisasi. Namun tetap
dilihat sebagai faktor yang kuat dalam meningkatkan motivasi dalam organisasi
dengan nilai yang telah disesuaikan oleh budaya saat ini.
Pentingnya Iklim Komunikasi Organisasi
Dalam kehidupan sehari-hari iklim secara fisik mempengaruhi cara hidup. Jika suatu
hal sifatnya mempengaruhi maka hal tersebut dapat dikatakan memiliki andil penting
karena mengendalikan sebagian sistem. Sama halnya dengan iklim komunikasi dalam
organisasi, iklim komunikasi berada dalam posisi yang penting. Karena dinyatakan
oleh Redding, iklim komunikasi organisasi lebih dapat menentukan efektivitas kerja
organisasi dibanding ketrampilan atau teknik-teknik komunikasi. Fungsi kerja dari
iklim komunikasi adalah dengan mengaitkan konteks organisasi dengan konsep,
perasaan-perasaan, dan harapan-harapan anggota organisasai dan menjawab
munculnya perilaku anggota organisasi (Poole). Pembahasan tentang budaya dan
iklim organisasi terkadang membuat sifat-sifat didalamnya sulit untuk
diidentifikasikan. Poole menegaskan bahwa iklim merupakan buah sifat dari budaya,
berperan menjaga keutuhan budaya, dan membimbing perkembangan budaya.
Penjelasan oleh Poole diharap mampu memberikan garis batas antara budaya
organisasi dan iklim organisasi serta menuntun pada keterkaitan antara dua pokok
bahasan tersebut dari kacamata iklim komunikasi organisasi. Jadi, pemahaman
tentang iklim komunikasi organisasi dapat memberikan deskripsi budaya organisasi
tersebut. Pemahaman iklim komunikasi organisasi bukan perihal mudah mengingat
wilayah pembahasan ini cukup luas dan dinamis. Iklim komunikasi organisasi tidak
selalu bersifat konstan dalam posisi sederhana atau kompleks pembahasannya. Iklim
komunikasi organisasi juga tidak muncul secara tiba-tiba. Interaksi dalam organisasi
mendukung dan menentukan iklim komunikasi organisasi. Misalnya, dalam
organisasi terdapat praktik reformasi kepengurusan dan rapat pembuatan kebijakan
bagi anggota organisasi divisi kehumasan, kegiatan ini akan memunculkan perubahan
iklim komunikasi organisasi. Perubahan ini dapat berbentuk naik turunnya kinerja dan

poduktivitas atau cara komunikasi antar kelompok. Namun yang menjadi perlu digaris
bawahi adalah tidak semua praktik organisasi berkonsekuensi pada perubahan iklim
komunikasi organisasi. Dikutip dalam Pace, iklim komunikasi organisasi berlaku
sebagai faktor penengah antara unsur-unsur sistem kerja dengan ukuran-ukuran yang
berbeda keefektifan organisasi seperti produktivitas, kualitas, kepuasan, dan vitalitas.
III.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Budaya Organisasi dan Iklim Komunikasi


Organisasi
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Budaya Organisasi
Budaya organisasi merupakan salah satu hal yang sangat mendasar dalam sebuah
organisasi karena didalamnya ada nilai-nilai yang mengatur cara berperilaku anggota
dalam organisasi. Menurut Ricardo, Ronald, dan Jolly (2003) terdapat tujuh dimensi
yang mempengaruhi budaya organisasi, yaitu komunikasi, pelatihan dan
pengembangan, penghargaan dan hukuman, pengambilan keputusan, pengambilan
risiko, kerja sama, dan praktik manajemen.
a. Komunikasi
Komunikasi mempengaruhi budaya organisasi karena komunikasi mampu
berperan sebagai pengungkap emosi. Anggota organisasi akan
mengungkapkan kekecewaan maupun kepuasan melalui sebuah komunikasi.
Komunikasi juga dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk pertimbangan
dalam mengambil keputusan.
b. Pelatihan dan pengembangan
Budaya mampu diciptakan karena adanya pelatihan dan pengembangan.
Sebagai contoh untuk menciptakan budaya tanggap terhadap pelanggan tidak
perlu merekrut karyawan baru, namun bisa dengan cara melakukan pelatihan
dan pengembangan kepada karyawan lama agar karyawan tersebut tanggap
dan fokus terhadap pelanggan.
c. Penghargaan dan hukuman
Penghargaan dan hukuman diberikan kepada anggota sebagai imbalan atas apa
yang telah mereka lakukan. Dalam perjalanannya, budaya mengalami evolusi
karena adanya hukuman dan penghargaan ini. Ada anggota yang akan
merubah sikapnya sehingga budaya yang ada semakin lama akan berevolusi.
Robbin dan Judge (2007) menekankan jika manajemen menginginkan
karyawan memberikan layanan yang bagus, karyawan harus diberikan imbalan
yang layak.
d. Pengambilan keputusan
Pengambilan keputusan akan menghasilkan sebuah kebijakan dan juga
peraturan yang akan mengawasi perjalanan sebuah organisasi. Dengan adanya
kebijakan dan peraturan, organisasi akan bekerja dengan batas yang
ditentukan. Ricardo, Ronald, dan Jolly (2003) mengunkapkan bahwa ada
pengaruh antara pengambilan keputusan terhadap peningkatan budaya
organisasi.
e. Pengambilan risiko

Dimensi ini merupakan suatu tingkatan memotivasi karyawan dalam


pengambilan keputusan yang inovatif, kreatif, dan berani mengambil risiko.
Dimensi ini mengatur bagaimana kreatifitas dan inovasi dinilai dan dihargai.
Inovasi dan kreatifitas sedikit demi sedikit akan mengubah budaya yang ada
dalam organisasi atau dapat dikatakan sebagai evolusi budaya organisasi.
f. Kerja sama
Setiap organisasi memiliki jumlah anggita dan tipe serta keefektifan tim yang
berbeda-beda. Tim memberikan sarana yang wajar bagi karyawan untuk
berbagi gagasan dan melakukan perbaikan. Perbaikan akan mempengaruhi
budaya organisasi yang ada.
g. Praktik manajemen
Praktik manajemen merupakan dukungan dan gaya manajemen yang terbentuk
berdasarkan etika dan nilai-nilai dengan standar yang tinggi. Tindakan yang
dapat dilakukan manajemen dalam membentuk budaya meliputi seleksi,
desain struktur, pemberdayaan, kepemimpinan, evaluasi kerja, dan sistem
imbalan.
Mondy dan Noe (1990:315) menyebutkan bahwa budaya organisasi dipengaruhi oleh
:
a. Komunikasi
b. Motivasi
c. Karakteristik organisasi
d. Proses administrasi
e. Struktur organisasi
f. Gaya manajemen
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Iklim Komunikasi Organisasi
Anarogo dan Widiyanti mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
iklim organisasi adalah etos kerja, disiplin kerja, kepuasan, komunikasi dan stres serta
konflik dalam organisasi.
Tri Siwi Nugraheni dan Eddy Murianto menyebutkan bahwa iklim organisasi
dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut
a. Kepemimpinan
Kepemimpinan dalam hal ini dipandang sebagai seberapa jauh pemimpin
ditolak atau dihargai oleh organisasi (karyawan)
b. Standar
Standar merupakan pandangan atau persepsi anggota mengenai batas atau
derajat pentingnya hasil kerja, penampilan kerja, serta kejelasan harapan
terhadap penampilan kerja karyawan.
c. Tanggung Jawab
Tanggung jawab merupakan faktor yang mempengaruhi iklim organisasi
karena untuk mengukur persepsi karyawan terhadap besarnya tanggung jawab
yang dipercayakan kepadanya.
d. Penghargaan

Penghargaan adalah persepsi karyawan terhadap pemberian penghargaan yang


diberikan dalam situasi kerja.
e. Identitas Organisasi
Persepsi karyawan mengenai bagaimana persepsi karyawan (anggota
organisasi) terhadap derajat pentingnya kualitas kelompok dalam diri
karyawan.
Menurut Higgins (1994 : 477-478), iklim dipengaruhi oleh empat faktor sebagai
berikut.
a. Manajer/pimpinan
Pimpinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi iklim organisasi
karena pimpinan memiliki kewenangan mengenai aturan-aturan, kebijakankebijakan, dan juga prosedur yang ada dalam organisasi terutama masalah masalah yang berhubungan dengan masalah personslia, distribusi imbalan,
gaya komunikasi, cara memotivasi, teknik dan tidakan pendisiplinan, interaksi
antara manjamen dengan kelompok, interaksi antar kelompok, perhatian pada
permasalahan yang dimiliki karyawan dari waktu ke waktu, dan kebutuhan
akan kepuasan dan kesejahteraan karyawan.
b. Tingkah laku karyawan
Tingkah laku mampu mempengaruhi iklim organisasi karena setiap individu
memiliki kebutuhan berbeda dan tidakan dalam memuaskan kebutuhan
tersebut yang berbeda pula. Komunikasi yang dilakukan oleh karyawan juga
mempengaruhi karena cara berkomunikasi tersebut menentukan tingkat sukses
atau gagalnya hubungan antar manusia dan akan berimbas pada iklim
organisasi.
c. Tingkah laku kelompok kerja
Dalam sebuah organisasi akan ada kelompok yaitu pembagian kelompok yang
terjadi secara formal maupun informal. Pembentukan secara formal biasanya
melalui kelompok kerja dan secara informal karena adanya kesamaan minat
atau persahabatan. Tingkah laku kelompok kerja mempengaruhi iklim
organisasi karena kebutuhan yang dimiliki oleh kebanyakan orang dalam
organisasi akan dipuaskan oleh kelompok dalam organisasi.
d. Faktor eksternal organisasi
Faktor utama yang mempengaruhi iklim organisasi dari eksternal organisasi
adalah keadaan ekonomi. Misalnya perekonomian terjadi inflasi yang tinggi,
sehingga organisasi harus memberikan keuntungan minimal sama dengan
tingkat inflasi.
IV.

Perkembangan Budaya Organisasi dan Iklim Komunikasi Organisasi


Bagaimana Budaya Organisasi Terbentuk
Untuk membentuk budaya organisasi dimulai dari tahap pembentukan ide dan diikuti
oleh lahirnya sebuah organisasi. Pada saat pendiri organisasi memiliki ide untuk
mendirikan organisasi, maka budaya organisasi pasti akan ikut terpikirkan. Sesuai

dengan pernyataan Schein (1985), Pembentukan budaya organisasi tidak bisa


dipisahkan dari peran para pendiri organisasi. Prosesnya mengikuti alur berikut:
1. Para pendiri dan pimpinan membawa sebuah asumsi dasar, nilai-nilai, perspektif
ke dalam organisasi dan menanamkan kepada karyawan.
2. Budaya muncul ketika para anggota berinteraksi satu sama lain untuk
memecahkan masalah pokok organisasi yaitu masalah integrasi internal dan
adaptasi eksternal.
3. Masing-masing anggota organisasi dapat menjadi pencipta budaya baru dengan
mengembangkan cara menyelesaikan persoalan individual seperti persoalan
identitas diri atau pemenuhan kebutuhan serta bagaimana agar dapat diterima oleh
lingkungan organisasi.

Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa budaya organisasi diturunkan dari filsafat
pendirinya, kemudian budaya ini sangat mempengaruhi kriteria yang digunakan
dalam merekrut anggota organisasi. Tindakan dari manajemen puncak menentukan
iklim umum dari perilaku yang dapat diterima baik dan yang tidak. Tingkat
kesuksesan dalam mensosialisasikan budaya organisasi tergantung pada kecocokan
nilai-nilai para karyawan baru dengan nilai-nilai organisasi dalam proses seleksi,
preferensi manajemen puncak maupun metode sosialisasi.
Pada dasarnya, sebuah budaya organisasi terbentuk dari sebuah ide dan diikuti oleh
lahirnya organisasi. Atau dapat juga muncul ketika para anggota berinteraksi satu
sama lain untuk memecahkan masalah-masalah pokok organisasi yakni masalah
integrasi internal dan adaptasi eksternal.
Bagaimana Iklim Komunikasi Organisasi Berkembang
Iklim komunikasi organisasi terdiri dari persepsi-persepsi atas unsur-unsur organisasi
dan pengaruh unsur-unsur tersebut terhadap komunikasi. Pengaruh ini kemudian
didefinisikan, disepakati, dikembangkan dan dikokohkan melalui interaksi dengan
anggota organisasi lainnya. Pengaruh tersebut menghasilkan pedoman bagi
keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan individu, dan mempengaruhi pesan-pesan
mengenai organisasi.
Unsur-Unsur Dasar Organisasi

Anggota organisasi
Di dalam organisasi terdapat orang-orang yang melaksanakan pekerjaan
organisasi. Mereka terlibat dalam kegiatan-kegiatan perasaan yang mencakup
emosi, keinginan, dan aspek perilaku manusia yang bukan aspek intelektual.
Mereka terlibat juga dengan kegiatan fisik yang besar maupun yang terbatas.
Kegiatan tersebut memberikan mereka kesempatan untuk menjalankan
pekerjaan dalam organisasi tersebut.
Pekerjaan dalam organisasi
Pekerjaan ditandai oleh tiga dimensi universal, yaitu isi, keperluan, dan
konteks. Isi terdiri dari apa yang dilakukan oleh anggota dalam hubungannya
dengan bahan, orang-orang, dan tugas lainnya. Keperluan merujuk pada
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dianggap sesuai bagi seseorang
agar mampu melaksanakan pekerjaan tersebut, seperti pendidikan, lisensi dan
sebagainya. Konteks berkaitan dengan kebutuhan fisik dan kondisi lokasi
pekerjaan, jenis pertanggung jawaban dan tanggung jawab dalam kaitannya
dengan pekerjaan.
Praktik-Praktik Pengelolaan
Tujuan primer pegawai manajerial adalah menyelesaikan pekerjaan melalui
usaha orang lainnya, menggunakan sumber daya yang ada untuk mencapai
tujuannya.
Struktur Organisasi
Struktur organisasi merujuk kepada hubungan-hubungan antara tugas-tugas
yang dilaksanakan oleh anggota-anggota organisasi.
Pedoman organisasi
Serangkaian pernyataan yang mempengaruhi, mengendalikan dan memberikan
arahan bagi anggota organisasi dalam mengambil keputusan dan tindakan.

Unsur-unsur tersebut dipahami untuk menciptakan evaluasi dan reaksi yang


menunjukkan apakah yang dimaksud oleh setiap unsur tersebut dan seberapa baik
unsur tersebut beroperasi bagi kebaikan anggota organisasi. Persepsi tentang kondisikondisi kerja, hubungan dengan rekan-rekan, hukum dan peraturan dalam organisasi,
praktik pengambilan keputusan, sumber daya yang tersedia semuanya membentuk
suatu badan informasi yang membangun iklim komunikasi organisasi. Unsur-unsur
organisasi tidak secara langsung menciptakan iklim komunikasi organisasi, karena
iklim komunikasi organisasi bergantung pada persepsi anggota organisasi mengenai
unsur-unsur tersebut.
V.

Contoh Budaya Organisasi dan Iklim Komunikasi Organisasi


Contoh Budaya Organisasi
Perusahaan Toyota Astra
Toyota Astra Motor merupakan salah satu perusahaan perwakilan dari Toyota yang
bergerak sebagai Agen Pemegang Merek (APM), imporier dan distributor produk-

produk Toyota di Indonesia. Toyota Astra Motor adalah salah satu perusahaan
otomotif terbesar di Indonesia yang diresmikan pada tahun 1971.
Selama perjalanannya, perusahaan Toyota Astra Motor memegang nilai-nilai
kebudayaan yang telah diterapkan sejak perusahaan tersebut berdiri. Perusahaan
Toyota Astra Motor sendiri memiliki nilai-nilai dan kebudayaan yang disebut dengan
Toyota Way. Toyota Way membantu karyawan dalam cara berpikir, bertindak, dan
membimbing cara kerja di Toyota Indonesia. Toyota Way sendiri berisi, pertama
mengenai perbaikan terus menerus yang memiliki makna terus mencari potensi untuk
meningkatkan bisnins. Terdapat nilai Kaizen yang bermakna peningkatan operasi
bisnis terus menerus serta selalu berjuang untuk menciptakan inovasi dan
perkembangan. Selain itu terdapat nilai Genchi Genbutsu yang memiliki makna
mendatangi sumber dan mendapat fakta untuk mengambil keputusan yang tepat serta
membangun kesepakatan dan raih sasaran secepat mungkin.
Toyota Way kedua adalah rasa hormat yang bermakna menghormati sesama dan
mengakui bahwa kerja sama tim merupakan hal yang pentig. Hormati orang lain,
berupaya saling memahami, kerjasama, rangsang pertumbuhan pribagi dan
professional, berbagi peluang untuk berkembang serta memaksimalkan kinera
individu atau kelompok merupakan nilai-nilai yang dipegang oleh perusahaan Toyota
Astra Motor. Semua nilai dalam Toyota Way merupakan kunci penting keberhasilan
salah satu perusahaan otomotif terbesar di Indonesia ini.
Contoh Iklim Orgaisasi
Organisasi Korps Mahasiswa Komunikasi UGM
Korps Mahasiswa Komunikasi (Komako) UGM merupakan himpunan mahasiswa
jurusan ilmu komunikasi UGM. Selama perjalaannya, interaksi antara pengurus
Komako telah terjalin dengan baik. Tiap departemen memiliki tanggung jawabnya
masing-masing, membuat laporan sebagai pertanggung jawaban atas kegiatan yang
terlaksana. Adanya partisipasi pengurus dalam membuat keputusan dapat terlihat
dalam pembuatan AD/RT pada awal kepengurusan. Terdapat pula rasa persaudaraan
serta saling membantu yang tercermin dalam kegiatan malam keakraban serta
pendelegasian undangan jika pengurus departemen ekstrenal tidak dapat hadir,
pengurus dari departemen lain bersedia mewakili. Keterbukaan yang dapat dilihat
dalam program kotak muni (sebagai wadah aspirasi). Terdapat pula Komako Award,
sebagai bentuk penghargaan bagi pengurus, departemen, BSO, komunitas, dan lainlain.
Hal-hal yang telah disebutkan tersebut membentuk iklim organisasi dalam Komako
UGM berjalan baik. Beberapa dimensi dalam iklim organisasi sedikit banyaknya telah
terdapat dalam organisasi ini. Iklim yang baik itu tentu mempengaruhi jalannya
organisasi ini. Dengan iklim yang baik tersebut maka pengurus dalam Komako dapat
melakukan tugasnya dengan baik dan Komako UGM masih berjalan hingga saat ini.
VI.

Hubungan Budaya Organisasi dan Iklim Komunikasi Organisasi

Budaya dan Iklim Komunikasi Organisasi memiliki sifat-sifat yang membuat


keduanya tampak saling bertumpangtindih . Secara keseluruhan, terlihat bahwa iklim lebih
merupakan sifat budaya daripada pengganti daripada suatu budaya. Hal ini berarti, dengan
memahami iklim komunikasi organisasi, kita akan mampu memahami sifat budaya dalam
organisasi tersebut. Hal ini dikarenakan iklim komunikasi organisasi merupakan suatu sistem
kepercayaan yang digeneralisasikan (Poole 1985). Maksudnya, dengan memahami iklim
komunikasi suatu organisasi, kita akan mengetahui gambaran bagaimana keberlangsungan
budaya organisasi di dalamnya.

BUDAYA ORGANISASI:
Nilai-nilai, norma, asumsi, filsafat
organisasi

IKLIM ORGANISASI :persepsi


anggota organisasi mengenai
lingkungan internal organisasinya
-dimensi : lingkungan fisik,
lingkungan sosial, sistem
manajemen

Perilaku organisasi:
Motivasi kerja,
disiplin kerja,
kepuasan kerja, stres
kerja, moril karyawan,
perilaku konflik, dsb.

Kinerja
individu &
kelompok
anggota
organisasi

Kinerja
Organisa
sii

Iklim memiliki peran dalam menjaga keutuhan suatu budaya dan membimbing
perkembangan budaya tersebut. Hal ini dikarenakan iklim berkembang melalui interkasiinteraksi antar anggota organisasi. Interaksi atau komunikasi antar anggota organisasi
tersebut akan berdampak kepada budaya yang terjadi di dalam organisasi.
Untuk menggambarkan hubungan antara budaya dan iklim komunikasi organisasi,
kita bisa mengambil contoh. Misalnya, ketika ketika kita berada di dalam suatu organisasi,
katakanlah Himpunan Mahasiswa Jurasan. Meskipun ada struktur organisasi secara hirarki,
komunikasi antar anggota tidak tersekat dan dibatasi oleh struktur hirarki tersebut sehingga
menimbulkan iklim yang kondusif. Akibatnya, budaya kekeluargaan yang ada dalam
organisasi tersebut akan terjaga.
Begitu pula sebaliknya, ketika cara komunikasi antar anggota organisasi tersebut
berubah. Misalnya terhalang oleh struktur hirarki, sehingga timbul ketegangan dalam
berkomunkasi. Tentu saja hal tersebut memungkinkan timbulnya iklim yang tidak kondusif
dalam organisasi tersebut. Hal tersebut tentu saja berakibat kepada lunturnya budaya
kekeluargaan di dalam organisasi tersebut.
Dari ilustrasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa budaya dan iklim organisasi saling
memperngaruhi. Iklim yang nyaman bagi anggota organisasi akan mampu mengarahkan
budaya organisasi yang baik. Sedangkan iklim yang kurang kondusif akan mampu
mengganggu stabilitas budaya positif dalam suatu organisasi bahkan justru menciptakan
budaya baru yang kurang positif. Misalnya, ketika iklim suatu organisasi yang tadinya

kondusif dengan budayanya yang tepat waktu, berganti menjadi tidak lagi kondusif
dikarenakan buruknya komunikasi di dalam organisasi. Bukan tidak mungkin jika budaya
tepat waktu tersebut akan luntur dan tergantikan oleh budaya keterlambatan para anggotanya.
Telah ditunjukkan bagaimana signifikansi hubungan antara budaya dan iklim
organisasi. Sehingga, dalam suatu organisasi, penting bagi seluruh anggotanya untuk menjaga
iklim komunikasi di dalamnya agar tetap kondusif. Iklim yang kondusif akan mampu
menimbulkan serta menjaga budaya positif dalam organisasi yang tentunya akan berdampak
pada kinerja seluruh anggota organisasi.

VII.

Kesimpulan
Budaya Organisasi adalah Pola dasar yang diterima organisasi untuk bertindak
dan memecahkan masalah, membentuk karyawan yang mampu beradaptasi dengan
lingkungan dan mempersatukan anggota-anggota organisasi. Sedangkan Iklim
Komunikasi Organisasi adalah Suatu yang dapat diukur pada lingkungan kerja baik
secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada karyawan dan
pekerjaannya dimana tempat mereka bekerja dengan asumsi akan berpengaruh pada
motivasi dan perilaku karyawan.
Budaya dan Iklim Komunikasi Organisasi merupakan dua hal penting dalam
organisasi. Budaya Organisasi berhubungan erat dengan perilaku organisasi. Budaya
Organisasi oleh Veitzhal dikatakan penting dilihat dari peran-perannya dalam
organisasi yaitu dapat menjadi pembeda antar organisasi, memberikan identitas
organisasi, memudahkan tumbuhnya komiten organisasi, menigkatkan kemantapan
sistem sosial, dan membentuk sikap anggota organisasi. Iklim Komunikasi Organisasi
dinyatakan oleh Redding, lebih dapat menentukan efektivitas kerja organisasi
dibanding ketrampilan atau teknik-teknik komunikasi. Iklim komunikasi organisasi
juga dapat memberikan deskripsi budaya organisasi karena merupakan buah sifat dari
budaya. Jadi Budaya dan Iklim Komunikasi Organisasi seperti suatu hal yang
berkaitan dan saling berpengaruh sehingga tidak dapat dipisahkan.
Budaya Organisasi menurut Ricardo, Ronald, dan Jolly (2003) dipengaruhi
oleh faktor komunikasi, pelatihan dan pengembangan, penghargaan dan hukuman,
pengambilan keputusan, pengambilan risiko, kerjasama, dan praktik manajemen.
Sedangkan Iklim Komunikasi Organisasi menurut Higgins (1994 : 477-478)
dipengaruhi oleh manajer/pimpinan, tingkah laku karyawan, tingkah laku kelompok
kerja, dan faktor eksternal organisasi.
Budaya organisasi terbentuk dari sebuah ide dan diikuti oleh lahirnya
organisasi. Dapat juga muncul ketika para anggota berinteraksi satu sama lain untuk
memecahkan masalah-masalah pokok organisasi yakni masalah integrasi internal dan
adaptasi eksternal. Sedangkan iklim komunikasi organisasi berkembang oleh unsur-

unsur dasar organisasi yaitu anggota organisasi, pekerjaan dalam organisasi, praktikpraktik pengelolaan, struktur organisasi, dan pedoman organisasi. Hal ini terjadi
karena iklim komunikasi organisasi bergantung pada persepsi anggota organisasi
mengenai unsur-unsur tersebut.
Budaya dan iklim organisasi saling memperngaruhi. Iklim yang nyaman bagi
anggota organisasi akan mampu mengarahkan budaya organisasi yang baik.
Sedangkan iklim yang kurang kondusif akan mampu mengganggu stabilitas budaya
positif dalam suatu organisasi bahkan justru menciptakan budaya baru yang kurang
positif.