Anda di halaman 1dari 33

PENGELOLAAN LIMBAH

&
DAMPAK LINGKUNGAN RUMAH SAKIT

Program Vokasi Universitas Indonesia


Bidang Studi Kedokteran
2008 - 2012

APA ITU RUMAH SAKIT ?


Rumah Sakit
Tahun 2005 : 1.268 (642 RSP, 626 RSS)
Tahun 2006 : 1.292 (654 RSP, 638 RSS)

Sarpras
Modal
Energi
Tenaga kerja
PELAYANAN KESEHATAN

INPUT
Regulasi

PROSES
Regulasi

Kesehatan
masyarakat

Buangan/Limbah
(cair, padat, gas,
bologis,
kebisingan dll.)

OUTPUT

Regulasi

RISIKO LINGKUNGAN DI RUMAH SAKIT


PENYAKIT MENULAR
HEPATITIS B
CAMPAK
INFLUENSA
HIV/AIDS
TUBERCULOSIS
SARS
LEGIONELLOSIS DLL

BAHAN KIMIA

GAS ANESTETIK
FORMALDEHID
ETILEN OKSIDA
MERCURI DLL

RADIASI

SINAR X
SINAR GAMMA DLL

FISIK

STRUKTUR BANGUNAN
VENTILASI
PENERANGAN
ELEKTRIK
UDARA PANAS & BISING

Merupakan risiko yang cukup berbahaya


untuk dapat memajan kepada :

Penderita
Pekerja
Keluarga penderita & Pekerja
Janin/Balita/Batita
Masyarakat sekitar rumah sakit

FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN RUMAH SAKIT


AGENT
Biologis
Hepatitis
Campak
HIV/AIDs
Tuberculosis
Influensa
SARS

Ekonomi
Pendidikan
Sosial budaya
Peraturan
perundangan

Proses/kegiatan:
Pemeriksaan
Perawatan
Kunjungan
Operasi
Pengelolaan
Limbah

Fisik:
Cahaya
Radiasi
Kebisingan
Kelembaban

Media :

Air
Udara
Tanah

Vektor
Makanan
Obyek

Kimia :
Ether
Formaldehide
Dioxine

Lokasi Kontak :
Poliklinik
Laundry
Ruang rawat Ruang
inap
rawat jalan
Ruang
Ruang
operasi
radiologi
Laboratorium Instalasi
limbah
Dapur
Dampak

Klinis

Sub Klinis

Pengunjung- Pasien-KaryawanMasyarakat sekitar

Samar

Status imunisasi
Status gizi
Perilaku
Umur
Sex

Sehat

PENGENDALIAN
FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN RUMAH SAKIT
UU No. 23 Tahun 1997 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup

PP No. 14 Tahun 1997 pelimpahan pengelolaan sanitasi ke


daerah

Permenkes 159b/1988 tentang Rumah Sakit


Pasal 23
Akreditasi RS mencakup penilaian terhadap fisik bangunan, pelayan kesehatan, perlengkapan,
obat-obatan, ketenagaan & administrasi

KepmenKes RI No. 1204/MENKES/SK/X/2004 tentang


Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit

KEBIJAKAN DEPARTEMEN KESEHATAN

tentang
Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk mengukur kualitas pelayanan dasar

EDARAN Mendagri No. 100/756/Otda tanggal 8 Juli 2002 mengenai


Konsep Dasar Penentuan Kewenangan Wajib dan SPM.
Pengolahan limbah sebagai indikator kinerja (RS & Puskesmas)

APAKAH
LIMBAH RUMAH SAKIT?
JENIS BUANGAN LIMBAH

PADAT

GAS

CAIR

BUANGAN / LIMBAH
KUALITAS
BERGANTUNG KEPADA

KUANTITAS
TIPE RS
UKURAN RS
BOR/TINGKAT HUNIAN

RASIO INPATIENT/OUTPATIENT
LOKASI GEOGRAFI

PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH SAKIT


Prinsip POLLUTER PAYS

Pengolahan
terpusat

Emisi gas
Air buangan/Lumpur
Residu yang dibuang ke landfill

Transport
buangan

- Tumpahan zat cair/padat


- Pencampuran limbah & sampah
- Penempatan/pembuangan limbah
yang salah (illegal)

RUMAH
SAKIT

Pengolahan
setempat

Outpatient
(masyarakat)

Emisi gas
Air buangan/Lumpur
Limbah padat

Buangan obat yang tak


terpakai

DASAR HUKUM
1. UU NO. 23/1997 - PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
PASAL 16, AYAT (1): Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib
melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/atau kegiatan

PASAL 17, AYAT (1) : Setiap Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
wajib melakukan pengelolaan B3
AYAT (2) : Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun meliputi:
menghasilkan, mengangkut, mengedarkan,
menyimpan, menggunakan dan/atau membuang.

2. UU NO. 23/1992, TENTANG KESEHATAN


PASAL 22, AYAT (2) : Kesehatan lingkungan dilaksanakan thd tempat-tempat
umum, angkutan umum, angkutan umum, lingkungan pemukiman, lingkungan
kerja, dan lingkungan lainnya.
PASAL 22 AYAT (4) : Setiap tempat atau sarana pelayanan umum wajib
memelihara dan meningkatkan lingkungan yang sehat sesuai dengan standar
dan persyaratan.

3. PP. NO. 85/1999 Jo PP. NO. 18/1999,


TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH B3, perubahan pasal 6, 7 & 8.
Inti PP B3: SETIAP ORANG ATAU BADAN USAHA DILARANG MEMBUANG LIMBAH B3
SECARA LANGSUNG KE DALAM AIR, TANAH ATAU UDARA.

KONDISI PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH SAKIT SAAT INI

Beberapa rumah sakit


masih mengelola
sampahnya seperti ini

Tempat
sampah medis
tanpa plastik

Limbah
hasil
operasi

Limbah
potongan
tubuh

Reservoir Air Bersih

BAGAIMANA SEHARUSNYA?
MENGELOLA LIMBAH PADAT

LIMBAH PADAT

UMUM (DOMESTIK)

INFEKSIUS & SITOTOKSIK

RADIOAKTIF

P2M-PL tahun 2002 limbah alat suntik di Indonesia


- Imunisasi 66 juta buah

36,8 juta imunisasi bayi


10 juta imunisasi ibu hamil
20 juta imunisasi anak siswa

- Kuratif 300 juta buah

Limbah padat medis Jawa Barat bisa mencapai 23 ton/hari


4 karyawan Kebersihan kecelakaan tertusuk jarum di TPA Ciangir
99% penularan HIV lewat jarum suntik.
Indonesia sebanyak 111.894 orang penderita HIV/AIDS
DKI Jakarta kasus AIDS sebesar 1601 kasus atau 66,1 persen.
Penggunaan jarum suntik unsteril (IDUs) 1058 orang (99,6%)

DAUR PENGELOLAAN LIMBAH PADAT MEDIS


PEMILAHAN
Limbah rumah sakit

PENGUMPULAN
Ke Area Penyimpanan

SECURED LANDFILL

Residu abu hasil insenerasi


dikubur pada lokasi landfill

TRANSPORTASI
Dengan Truk Khusus

INSENERASI

PEMBUANGAN
Abu/Ash dibuang ke Secured Landfill

WHO & Depkes (1997) studi pengelolaan limbah medis pada 88 Rs di luar Jakarta : 15 % baik
- 80% pemisahan
- 20,5 pewadahan
- 72,7 pengangkutan

KELEMAHAN DALAM PENANGANAN LIMBAH MEDIS


Pemilahan Limbah

Kebanyakan rumah sakit memiliki pemilahan


limbah medis yang tidak efektif
Kode warna yang berbeda untuk menandai
limbah medis dan non-medis jarang digunakan
Sering ditemukannya pembuangan limbah
medis dan non-medis tercampur

Penggunaan Wadah Benda Tajam

Penggunaan wadah standar


untuk benda tajam (misalnya:
jarum, syringe) jarang
dilakukan

Rumah
sakit
tertentu
menggunakan wadah untuk
benda tajam dan kebanyakan
menggunakan kotak karton
atau botol plastik (mis : botol
bekas air minum)

Pengumpulan Limbah

Semua limbah medis dan non-medis


dikumpulkan oleh pegawai rumah
sakit atau pegawai tambahan. Tidak
ada jadwal pengambilan limbah.

Tidak digunakannya baju pelindung


oleh para pegawai dan digunakannya
troli yang terbuka dalam transportasi
limbah medis.

KELEMAHAN DALAM PENANGANAN LIMBAH MEDIS


Penyimpanan Limbah

Seharusnya !!!!

Semua limbah yang telah dikumpulkan


ditempatkan langsung pada halaman
rumah sakit. Limbah medis tidak
disimpan secara terpisah dari limbah
lainnya.

Tempat penyimpanan bukan merupakan


area
yang
khusus,
sehingga
memudahkan akses orang yang tidak
berkepentingan dan masyarakat sekitar
dan memungkinkan akses
vektor
pembawa penyakit.

Beberapa rumah sakit open skip


digunakan untuk penyimpanan limbah
medis.

KELEMAHAN DALAM PENANGANAN LIMBAH MEDIS


Transportasi Limbah

Tidak menggunakan kendaraan yang didesain secara khusus untuk transportasi


limbah ke tempat pembuangan

Pegawai rumah sakit pd kebersihan yang menangani, pembuangan limbah dari


rumah sakit tidak dilatih secara khusus dalam hal risiko penanganan limbah medis.

KELEMAHAN DALAM PENANGANAN LIMBAH MEDIS


Pembuangan Limbah

Pembuangan limbah pada lokasi


landfill
masih
menggunakan
metoda tradisional

Dalam pelaksanaannya, banyak


terjadi
pembuangan
tanpa
pengawasan dengan sedikit atau
tidak samasekali menggunakan
soil cover.

LIMBAH GAS
INCINERATOR

CARBON MONOKSIDA (CO)

LABORATORIUM

NITROGEN OKSIDA (NOx)

KAMAR BEDAH

SULFAT OKSIDA (SOx)

FARMASI

Dioksin, furan

DAPUR, DLL

DLL

- Tahun 2003 Program pengembangan penanganan limbah tajam dengan metode insenerasi di 21 Kab (6 Prov.)
- Dep Kes. tahun 2002 di 30 provinsi dari 1.176 terdapat 49% (648) memiliki insinerator.
- Dari 107 rumah sakit di DKI hanya 10 punya insinerator.
- Dari 8 Puskesmas Pembina di DKI (5 punya insinerator) hanya 2 yang berfungsi
Komposisi limbah yang diinsenerasi: 62% limbah infeksius, 51,5 limbah toksik, 37% limbah radioaktif

Tabel 1, Baku Mutu Emisi Gas Buang


dari Pengoperasian peralatan
Insenerator Rumah Sakit Cibinong
No.

Parameter

Kadar
Maksimum
(mg/'Nm3)

1.

Partikel

50

1,

Sulfur
(S)

250

3,

Nitrogen Dioksida
(NO2)

300

4.

Hldrogen
Floricla(HF)

10

Hidrogen KLorida
(HCL)

70

Karbon Monoksida
(CO)

100

5.
6.
7.

Arsen (As)

8.

Kadrnium (Cd)

0,2

9.

Krcunium (Cr)

10.

Timbal (Pb)

11.

Merkuri (E-[g)

0,2

12.

Talium (Tl)

0,2

13.

Opasitas

10%

Tabel 2, Baku Mutu Emisi Gas Buang


dari Pengoperasian peralatan
Insenerator limbah medis di Malaysia

PARAMETER

DOE LIMIT

MAR
2006

AUG
2006

DEC
2006

Particulate

200mg/Nm3

59

32

34

Sulfuric Acid

200mg/ Nm3

3.7

3.3

<1.0

Hydrogen
Chloride

400mg/ Nm3

11.5

1.1

<1.0

Chlorinated
Gas

200mg
HCI/ Nm3

2.5

3.3

7.5

NO2

200mg
NO2/ Nm3

41

48

41

Dioxin & Furan

0.1ng/ Nm3

0.0406

0.0133

Arsenic (As)

25mg/ Nm3

<2.1E-04

3.6E-03

4.38E-02

Cadmium (Cd)

15mg/ Nm3

<1.8E-03

<1.7E-03

1.07E-02

Plumbum (Pb)

25mg/ Nm3

0.14

1.8E-02

Mercury (Hg)

10mg/ Nm3

3.4E-03

7.2E-03

1.71E-04

Smoke

Ringlemen

Ringlemen
0

Ringlemen
0

Ringlemen

INSINERATOR DI RUMAH SAKIT

Hingga kini belum ada rumah sakit (RS) di Indonesia yang mengelola
limbah medisnya dengan baik.

Sebagian besar RS itu menggunakan insenerator (tungku pembakaran)


untuk memusnahkan limbah.

Belum banyak pula yang tahu bahwa insenerator sebagai penghancur


limbah dari RS merupakan penghasil dioksin paling berbahaya.
Dioksin, yakni bahan beracun berbentuk kristal putih yang dihasilkan
saat terjadi pembakaran substansi alami kimia. Ada 300 senyawa
berbahaya, senyawa tetra chloro difensopara dioksin (TCDD),
senyawa paling beracun dalam dioksin.

Gas chromatography
maspectro meter, adalah
alat untuk mendeteksi kadar
dioksin di udara dalam
jumlah sangat kecil,"

Pengawasan Penaatan Persyaratan Teknis


Pengendalian Pencemaran Udara
Apakah emisi gas yang dibuang ke udara sudah dilewatkan
cerobong asap?
(Kepmen LH No.13/1995, pasal 7 butir a; Kepmen LH No.133/2004 pasal 7 butir a; Kepmen
LH No. 129/2003, pasal 6 butir a)

Apakah cerobong asap telah dilengkapi dengan lubang


sampling dan sarana pendukung lainnya seperti lantai kerja
(platform), tangga, dan tenaga listrik ?
(Kepmen LH No.13/1995, pasal 7 butir a; Kepmen LH No.133/2004 pasal 7 butir a; Kepmen
LH No. 129/2003, pasal 6 butir a)

Apakah penetapan lokasi lubang sampling sudah sesuai


dengan ketentuan ?
(Kepdal No. 205/1996)

Apakah cerobong asap sudah dipasang alat pemantauan emisi


secara terus menerus (Continuous Emission Monitoring/CEM) ?
(Industri Besi dan Baja; Pulp dan Kertas; Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan bakar
Batu bara; Semen; Pupuk serta Minyak dan Gas).

Pengawasan Penaatan Persyaratan Teknis


Pengendalian Pencemaran Udara
Apakah data pemantauan emisi cerobong asap telah
dilaporkan ke Bupati/Walikota, Gubernur dan ke KLH ?
( setiap 3 (tiga) bulan sekali untuk pemantauan emisi
menggunakan CEM atau setiap 6 (enam) bulan sekali
menggunakan metode manual) ?
(Kepmen LH No.13/1995, pasal 7 butir d; Kepmen LH No.133/2004
pasal 7 butir d; Kepmen LH No. 129/2003, pasal 6 butir d)

Apakah emisi gas yang dibuang ke udara memenuhi baku


mutu emisi sumber tidak bergerak ?
(Perda Jawa Barat Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara)

KELEMAHAN DALAM PENANGANAN LIMBAH MEDIS


Pembuangan Benda Tajam

Beberapa pengaturan sementara


diterapkan, yang dapat
memungkinkan rumah sakit
tertentu mengirimkan limbah medis
diantaranya benda tajam ke rumah
sakit yang memiliki fasilitas
insinerator.

Pengaturan tersebut
memungkinkan jika insineratorinsinetator tersebut memiliki
kapasitas yang cukup untuk
menangani limbah dari rumah sakit
lainnya. Untuk rumah sakit yang
tidak memiliki insinerator dan tidak
memiliki akses ke insenerator
lainnya pilihannya hanya membakar
limbah medis tersebut di halaman
rumah sakit.

KELEMAHAN DALAM PENANGANAN LIMBAH MEDIS


Insinerasi Limbah medis

Beberapa rumah sakit memiliki insenerator


untuk limbah medis tetapi kebanyakan
dengan kapasitas yang kecil dan tidak
didesain untuk menangani secara efisien
jumlah limbah medis yang besar dan
bervariasi seperti yang dihasilkan tiap-tiap
rumah sakit pada saat ini

Insinerator-insinerator yang dimiliki rumah


sakit tidak memiliki fasilitas monitoring
emisi gas buang cerobong, tidak memiliki
cerobong yang memadai, dan tanpa
fasilitas gas scrubber, sehingga tidak
memenuhi syarat Peraturan Kualitas
Lingkungan saat ini.

Incinerator

LIMBAH CAIR

KUALITAS

&

KUANTITAS

KUALITAS LIMBAH CAIR


Parameter
Laundry

Ruangan/Standar (mg/L)
Perawatan
Dapur

Standar
(KEP58/MENLH/12//95)

Suhu (oC)
BOD5
COD
TSS
TKN
Kesadahan
(mg/L CaCO3)

MPNcoli/100 mL

12 879
244 1.950
94 154
0,007 0,25

49 697
73 902
4 97
0,007 10

180 2.014
171 5.700
118 612
0,009 0,4

< 30oC
30
80
30
-

324,10 5.875

507,89 2.960

987,61 4.762

10.000

SUMBER DAN TIPE


LIMBAH CAIR TOXIC
Sumber
Bank Darah Dapur

Contoh Limbah Toxic


Alkohol
Formaldehida

Dialisis

Radiologi

Ammonia

Xylene

UGD

Farmasi

Khlorida

Toluen

Laundry

Perawatan

Cairan kimia
fotografi

Desinfektan

JENIS MIKROORGANISME PADA


LIMBAH CAIR RS
Mikroorganisme
1. Bakteri

Jenis
Coccus
gram
positip/negatip
(Staphylococcus, Pseudomonas,
Proteus)
Bacellus
anaerob
(Histotus clostridia, Aoustridium
tetani dll.) Mycobacterium dan
Vibrio

2. Virus
3. Fungi
4. Parasit

Histoplasme, Norcodia

KELEMAHAN DALAM PENANGANAN LIMBAH MEDIS

Struktur Pengelolaan Limbah

Di kebanyakan rumah sakit tidak ada petugas yang secara spesifik


ditugasi untuk mengelola limbah medis, selain itu limbah medis ini
ditangani oleh departemen yang berbeda dan tidak ada kolaborasi
antara masing-masing departemen tersebut.

Kesimpulannya, dapat dikatakan bahwa pengelolaan limbah medis di


tingkat rumah sakit saat ini tidak terencana dan kekurangan
sumberdaya manusia dan kurangnya pelatihan bagi para pegawai.

KESIMPULAN KELEMAHAN DAN KENDALA DALAM PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS

Tidak adanya pemilahan yang efektif untuk limbah medis dan non-medis

Kurangnya pengawasan terhadap limbah medis

Tidak adanya labelling untuk limbah medis untuk memudahkan identifikasi


sumber.

Menggunakan alat pengangkut limbah medis yang tidak layak

Tidak dibersihkannya alat pengangkut limbah medis setelah digunakan

Tidak adanya peraturan mengenai alat perlindungan diri bagi pegawai yang
terlibat dalam penanganan limbah medis.

Tidak adanya area khusus untuk penyimpanan sementara limbah medis

Menggunakan teknologi yang tidak layak dalam pengelolaan limbah medis.

Menggunakan insenerator yang temperatur bakarnya rendah, sehingga tidak


dapat membakar semua jenis limbah medis, kurangnya sistem pengawasan
dan kurangnya ketinggian cerobong insinerator

8
9

Kurangnya pelatihan untuk semua pegawai medis dan non-medis.


Kurangnya tanggung jawab dan tidak adanya forum untuk berdiskusi dan
kerjasama dalam departemen.