Anda di halaman 1dari 9

XIII-1

BAB XIII
PERENCANAAN FLAT SLAB PRATEGANG
Flat slab adalah pelat dua arah dengan panel-panel interior tanpa tumpuan di
tepinya dan biasanya menggunakan capital column atau drop panel. Sedangkan,
jika tidak menggunakan capital column atau drop panel, biasa disebut flat plate.

(a). Flat Plate

(b). Flat Slab

XIII.1. Flat Slab/Plate Beton Bertulang


Adapun syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam mendesain flat slab/plate
beton bertulang adalah sebagai berikut :
1. Minimal dua bentang di masing-masing arah
2. Tanpa balok, kecuali di tepi
3. Rentan terhadap punching shear (geser pond)
4. Defleksi (sering bermasalah)
5. Harus didesain terhadap beban penuh di masing-masing arah
6. Momen tidak seragam pada jalur rencana, lajur kolom mendapat momen
lebih besar daripada lajur tengah
7. Metoda desain yang sering digunakan adalah metoda koefisien momen
(DDM), yaitu :
a. Check ketebalan minimum
b. Hitung beban terfaktor dan Lo
c. Cek kebutuhan kepala kolom atau drop panel
d. Identifikasi lajur kolom dan Mo
e. Distribusi momen positif dan negatif
f.

Proporsi momen dan desain penulangan

g. Cek geser pond (punching shear)

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ria Catur Yulianti ST.MT


BETON PRATEGANG

XIII-2

Area kritis pada flat plate, flat slab dengan capital kolom dan flat slab dengan
drop panel, dapat dilihat pada gambar berlikut.

Daerah Kritis pada Flat Plate

Daerah Kritis pada Flat Slab dengan Capital Column

Daerah Kritis pada Flat Slab dengan Drop Panel

Jika pada nilai Vn kurang dari V*, dimana V* adalah pengaruh beban dari lantai,
maka :

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ria Catur Yulianti ST.MT


BETON PRATEGANG

XIII-3

1. Perbesar dimensi kolom, atau


2. Gunakan capital kolom, atau
3. Gunakan drop panel
Pada umumnya estimasi penampang untuk drop panel seperti yang terlihat pada
gambar di bawah ini :

XIII.2. Flat Slab Beton Prategang


Tinjau tendon pasca tarik parabola, yang diprategangkan dengan gaya P, pada
interior dari flat slab :

Kelebihan dan keuntungan sistem pelat pasca tarik adalah


1. Banyak digunakan untuk sistem lantai bangunan kantor, gedung parkir mobil,
shopping mall dan gedung perumahan
2. Penghematan biaya karena pengurangan tebal pelat, bentang yang lebih
lebar dan pengurangan dari waktu konstruksi karena kemungkinan
pengalihan formworks yang lebih dini
3. Adanya kemungkinan bagi engineer perencana untuk mengontrol lendutan
dan keretakan pada tingkat beban layan.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ria Catur Yulianti ST.MT


BETON PRATEGANG

XIII-4

4. Umumnya sistem prategang yang digunakan adalah sistem unbonded


tendons.
Berikut merupakan rasio perbandingan antara bentang dan tebal pelat yang
ditentukan oleh Post Tensioned Institute
One way slab
48
Two way slab
45
Two way slab with drop panel (min. drop panel at least L/6 each way)
50
Two way slab with two way beams
55
Waffle (5 x 5 grid)
35
20
Beams b h/3
Beams b 3h
Adanya kemungkinan untuk mengontrol lendutan pada post tensioned slab
menimbulkan kemungkinan penggunaan pelat yang sangat tipis. Dalam hal ini
umumnya kapasitas daya dukung pelat ditentukan oleh faktor punching shear
resistance sekitar kolom
Sedangkan untuk ketahanan slab prategang terhadap kebakaran, tergantung
pada :
1. Tipe dari agregat pada material beton
2. Tebal keseluruhan dari pelat
3. Tebal selimut beton
4. Restraint terhadap thermal expansion
Adapun syarat tebal pelat yang diperlukan untuk menjaga ketahanan terhadap
kebakaran dimana tergantung pada tipe agregat adalah sebagai berikut :

Tipe Agregat

1
89
83
67

Siliceous
Carbonate
Light weight

Fire Endurance (jam)


1.5
2
3
108
127
159
105
117
146
83
95
117

4
178
168
133

Sedangkan untuk minimum selimut betonnya adalah :


Restraint

Tipe

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Fire Endurance (jam)

Ria Catur Yulianti ST.MT


BETON PRATEGANG

XIII-5

Unrestrained
Restrained

Agregate
Siliceous
Carbonate
Light weight
Siliceous
Carbonate
Light weight

1
19
19
19
19
19
19

1.5
32
27
25
19
19
19

2
38
35
32
19
19
19

3
54
48
41
25
25
19

4
32
32
25

Untuk menghindari korosi khususnya pada unbonded tendons, maka hal-hal


yang harus diperhatikan adalah :
1. Harus diupayakan agar tendon mempunyai proteksi terhadap kemungkinan
korosi yang cukup. Bila tidak kemungkinan suatu saat akan memerlukan
pekerjaan perbaikan yang besar.
2. Untuk menghindari korosi, harus diupayakan agar air dan bahan kimia yang
menginduksi korosi dicegah untuk dapat mencapai prestressing strands dan
menghancurkan pasivity dari baja.
3. Tiga hal yang melindungi baja adalah :
a. Selimut beton
b. The plastic sheath
c. The grease
Hal-hal yang perlu diketahui/dikontrol dalam mendesain flat slab prategang
adalah :
1. Metoda analisis :
-

Load balancing

Equivalent Frame Method

2. Stress Check dan Control of Cracking


3. Kapasitas lentur dari Pelat
4. Shear Design dari Pelat
5. Estimasi dari lendutan pelat
Secara garis besar, langkah-langkah dalam mendesain flat slab prategang
adalah sebagai berikut :
1. Estimasi tebal pelat
2. Pre eliminary dari punching shear
3. Menentukan beban yang balance
4. Filosofi dari pemilihan tendon

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ria Catur Yulianti ST.MT


BETON PRATEGANG

XIII-6

5. Menetapkan eksentrisitas maksimum


6. Menentukan tendon profiles dan gaya prategang
7. Estimasi dari kehilangan prategang
a. Friction losses dan anchorage set losses
b. Elastic shortenning losses
c. Losses due to restraint
8. Menentukan jumlah dan distribusi tendon
9. Menentukan properti rangka ekivalen
10. Menentukan fixed end momen akibat prategang
11. Analisis rangka ekivalen
12. Menentukan momen layan dan under factored loads
13. Check tegangan pada beban layan
14. Crack-control reinforcement
15. Check syarat kuat lentur
16. Check syarat kuat geser dan moment trnsfer
17. Check structural integrity
18. Estimasi lendutan
19. Rangkuman dari disain
Sedangkan untuk lebih secara rinci untuk mendesain flat slab prategang adalah
sebagai berikut dengan menggunakan metoda sederhana, yaitu :
1. Pilih layout struktur dan tebal pelat
a. Vibrasi menentukan tebal pelat
b. Estimasi bentang/40, dengan menggunakan bentang aktual bukan Lo
c. Jika bentang x dan y berbeda lebih dari 15%, gunakan balok pita yang
dipertebal (tebal pelat yang lebih tipis dapat diterapkan pada bentang
pendek)

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ria Catur Yulianti ST.MT


BETON PRATEGANG

XIII-7

2. Hitung beban yang harus diimbangi dan profil tendon

Profil Tendon

Konfigurasi Tendon
a. Bertujuan untuk mengimbangi berat sendiri ditambah dengan sebagian
beban hidup dan over camber harus dihindari
b. Pengimbangan untuk beban yang lebih tinggi pada cantilever untuk
menghindari terangkatnya ujung pelat

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ria Catur Yulianti ST.MT


BETON PRATEGANG

XIII-8

c. Untuk bentang interior, sag dapat dimaksimalkan


d. Untuk bentang eksterior, sag dibatasi oleh beban kantilever
3. Check kebutuhan kepala kolom
a. Didasarkan atas nilai estimasi V* dan M*v. V* dapat diestimasi dari luas
tributari dan estimasi M*v tidak mudah, yaitu melalui pendekatan yang
dapat dilakukan melalui peningkatan V* sebesar 10-15 %.
b. Terkadang drop panel juga dibutuhkan
c. 25 % tendon harus melewati luasan kritis kepala kolom agar kuat geser
dapat secara penuh dimobilisasi
4. Tempatkan jalur kolom
Jalur akan dipengaruhi oleh ukuran dan lokasi bukaan pada pelat, misalnya
untuk tangga, lift, services, dll

5. Alokasikan momen positif dan negatif pada masing-masing bentang serta


check ultimitnya
a. Momen yang perlu diperhatikan adalah momen lebih
b. Check tegangan serat atas bawah untuk beban hidup penuh dan beban
hidup nol. Ingat adanya reaksi hyperstatic dan modifikasi moment serta
geser akibat reaksi tersebut
c. Check kuat lentur ultimit pada penampang kritis, yaitu pada tumpuan dan
tengah bentang. Gunakan momen linier elastic tanpa redistribusi moment

6. Bagi momen pada jalur kolom dan jalur tengah

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ria Catur Yulianti ST.MT


BETON PRATEGANG

XIII-9

a. Gunakan 75% dari momen lajur rencana pada lajur kolom. Sesuaikan bila
perlu untuk mengakomodasi bukaan pelat
b. Sesuaikan lokasi tendon agar cocok terhadap kebutuhan momen.
7. Check geser pond dan desain angkur
a. Perhatikan zone dengan tegangan rendah atau nol dekat tepi pelat
b. Check geser pond

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ria Catur Yulianti ST.MT


BETON PRATEGANG