Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN FIELDTRIP

PENGANTAR EKONOMI PERTANIAN


Kelembagaan Ekonomi di Desa Kepuharjo Kecamatan
Karangploso Kabupaten Malang

Oleh :
Kelas G
Kelompok 3-4
Erik Namora Siregar
115040200111189
Erwin Priyambudi
115040207111036
Fajar Handayani
115040201111108
Faranisa Anggi Vivedru
115040201111343
Faris Fikardian Pratama
115040201111029
Faurizal Arif
115040200111138
Febri Dwi Mulyanto
115040207111001
Fefri Nurlaili Agustin
115040201111105
Fita Fitriatul Wahidah
115040201111336

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, karena dengan rahmat dan pertolongan-Nya
laporan fieldtrip

praktikum mata kuliah Pengantar Ekonomi Pertanian ini dapat

terselesaikan. Ucapan terima kasih dihaturkan oleh tim penulis kepada :


1. Allah SWT atas semua nikmat dan karunia yang telah diberikan.
2. Kedua orang tua tercinta dan seluruh keluarga yang senantiasa mendukung
dan mendoakan kami.
3. Semua pihak yang telah memberikan motivasi dan dorongan yang tidak
ternilai hingga terselesaikannya laporan ini, dan
4. Teman-teman yang kami sayangi yang telah bekerjasama dalam penyelesaian
laporan ini
Penyusun mengharap adanya kritik dan saran yang membangun agar dalam
kesempatan penulisan berikutnya dapat menjadi lebih baik lagi. Semoga penyusunan
laporan ini bisa bermanfaat dalam pengembangan pengetahuan dan wacana berpikir
kita bersama.
Malang, Mei 2013

Tim Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam perkembangan dan pembangunan ekonomi di Indonesia, peranan
dari pertanian dirasakan cukup penting dan sangat berpengaruh. Ilmu ekonomi
pertanian tidak dapat dipisahkan dari ilmu pertanian dimana antara keduanya
terdapat suatu ketergantungan dan saling terkait. Pertanian sudah menjadi
tumpuan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Wajah pertanian Indonesia
diharapkan akan menjadi lebih baik manakala para petani yang didukung oleh
pemerintah dapat memahami peran dan fungsi dari pertanian, serta mampu
mengelolanya dengan benar sesuai dengan perkembangan kebutuhan manusia.
Pemahaman

tentang

pertanian

dengan

ciri

spesifiknya,

saat

ini

mengharuskan fokus perhatian pertanian tidak lagi kepada sisi sosial way of life,
tetapi lebih kepada kegiatan ekonomi yang mampu membawa para pelakunya
pada peningkatan produksi, pendapatan, dan perbaikan kesejahteraan hidupnya
melalui cara pandang yang benar terhadap pertanian. Perhatian pemerintah melalui
serangkaian

kebijakan

menjadi

penentu

keberhasilan

pembangunan

dan

pengembangan pertanian.
Di masyarakat pedesaan peranan kelompok tani sangat besar, terutama
pada pengadaan pupuk, pemenuhan bibit, serta bahan-bahan pokok yang
dibutuhkan petani dalam proses produksi tanamannya. Untuk mengetahui seberapa
besar peran dari kelembagaan tersebut yang dirasakan oleh petani di sekitar.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut didapatkakn rumusan dari permasalahan
yang diangkat, yang meliputi:
1. Bagaimana sistem dan bentuk kelembagaan petani di desa Ngijo?
2. Sejauh mana peran dari lembaga atau kelompok tani di desa Ngijo?
3. Apakah manfaat kelembagaan tersebut telah dirasakan merata oleh
sebagian atau seluruh petani?

1.3 Tujuan
Tujuan dari pengamatan ini adalah
1. Mengetahui sistem serta bentuk lembaga yang terdapat di desa Ngijo,

2. Mengetahui peran lembaga atau kelompok tani yang terdapat di desa


Ngijo,
3. Mengetahui pemerataan peran dari kelembagaan pada keseluruhan petani.
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari pengamatan ini adalah mahasiswa mampu
mengetahui bagaimana fungsi lembaga yang bekerja di Desa Kepuharjo dan
apakah petani sudah bisa menikmati peran dari lembaga tersebut secara
merata.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Definisi Kelembagaan
Kelembagaan adalah suatu hubungan dan tatanan antara anggota
masyarakat atau organisasi yang melekat, di wadahi dalam suatu jaringan atau
organisasi, yang dapat menentukan suatu hubungan antara manusia atau
organisasi dengan ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat brupa
norma, kode etik atau aturan formal dan non-formal untuk berkerjasama
demi mencapai tujuan yang diinginkan, menurut bulkis, kelembagaan berarti
seperangkat peraturan yang mengatur tingakah laku masyarakat untuk
mendapatkan tujuan hidup mereka. Kelembagaan berisi sekelompok orang
yang bekerjasama dengan pembagian tugas tertentu untuk mencapai suatu
tujuan yang diinginkan. (Pratama. 2010)
Menurut Schmid (1972 ; yang dikutip dari artikel definisi kelembagaan),
menyebutkan bahwa kelembagaan merupakan sebagai sejumlah peraturan
yang berlaku dalam sebuah masyarakat, kelompok atau komunitas, yang
mengatur hak, kewajiban, tanggung jawab, baik sebagai individu mauapun
sebagai kelompok. Selain itu Schotter (1981) menjelaskan bahwa
kelembagaan merupakan regulasi atas tingkah laku manusia yang disepakati
oleh semua anggota masyarakat dan merupakan penata interaksi dalam situa
tertentu yang berulang. Kemudian North (1990) menjelaskan bahwa
kelembagan adalah aturan main yang berlaku dalam masyarakat yang
disepakati oleh anggota masyarakat tersebut sebagai sesuatu yang harus
diikuti dan dipatuhi (memiliki kekuatan sanksi) dengan tujuan terciptanya
keteraturan dan kepastian interaksi di antara sesama anggota masyarakat.
Interaksi yang dimaksud terkait dengan kegiatan ekonomi, politik maupun
sosial. Ada beberapa unsur lembaga ekonomi :
1. Pola

perilaku :

efisiensi,

penghematan,

profesionalisme,

mencari

keuntungan
2. Budaya simbolis : merk dagang, hak paten, slogan , lagu komersial

3. Budaya manfaat : took, pabrik,pasar, kantor, balngko, formulir.


4. Kode spesialisasi : kontrak, lesensi, kontrak monopoli, akte perusahaan
5. Ideologi : liberalisme, tanggungjawab ,manajerial, kebebasan beryusaha,
hak buruh.
(Amalia. 2010)
1.2 Jenis-jenis Kelembagaan
a. Koperasi
Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau
badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan
prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan

asas

kekeluargaan.

Koperasi

bertujuan

untuk

menyejahterakan anggotanya.
b. BUMN ( Badan Usaha Milik Negara )
Di Indonesia, Badan Usaha Milik Negara adalah badan usaha yang
sebagian atau seluruh kepemilikannya dimiliki oleh Negara Republik
Indonesia. BUMN dapat pula berupa perusahaan nirlaba yang bertujuan
untuk menyediakan barang atau jasa bagi masyarakat. Pada beberapa
BUMN di Indonesia, pemerintah telah melakukan perubahan mendasar
pada kepemilikannya dengan membuat BUMN tersebut menjadi
perusahaan terbuka yang sahamnya bisa dimiliki oleh publik.
Contohnya adalah PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
Sejak tahun 2001 seluruh BUMN dikoordinasikan pengelolaannya
oleh Kementerian BUMN, yang dipimpin oleh seorang Menteri Negara
BUMN.
c. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
BUMD adalah perusahaan milik pemerintah daerah yang
didirikan dengan Peraturan Daerah berdasarkan Undang-Undang No. 5
tahun 1962 dengan modal seluruh atau sebagian merupakan kekayaan
daerah yang dipisahkan.
Ciri-ciri BUMD adalah sebagai berikut:

Pemerintah memegang hak atas segala kekayaan dan usaha

Pemerintah berkedudukan sebagai pemegang saham dalam


pemodalan perusahaan

Pemerintah memiliki wewenang dan kekuasaan dalam menetapkan


kebijakan perusahaan

Pengawasan dilakukan alat pelengkap negara yang berwenang

Melayani kepentingan umum, selain mencari keuntungan

Sebagai stabillisator perekonomian dalam rangka menyejahterakan


rakyat

Sebagai sumber pemasukan negara

Seluruh atau sebagian besar modalnya milik negara

Modalnya dapat berupa saham atau obligasi bagi perusahaan yang


go public

Dapat menghimpun dana dari pihak lain, baik berupa bank maupun
nonbank

Direksi bertanggung jawab penuh atas BUMN, dan mewakili


BUMN di pengadilan

d. BUMS ( Badan saha Milik Swasta )


BUMS atau Badan Usaha Milik Swasta adalah Badan Usaha yang
dimiliki oleh swasta. Badan usaha ini sepenuhnya dikelola dan
permodalannya dari pihak swasta.
(Dede. 2010)
1.3 Fungsi Kelembagaan Ekonomi
Lembaga ekonomi ialah pranata yang mempunyai kegiatan bidang ekonomi
demi terpenuhinya kebutuhan masyarakat, yang berfungsi untuk :
1. memberi pedoman untuk mendapatkan bahan pangan
2. memberikan pedoman untuk melakukan pertukaran barang/barter
3. memberi pedomantentang harga jual beli barang
4. memberi pedoman untuk menggunakan tenaga kerja
5. memberikan pedoman tentang cara pengupahan
6. memberikan pedomantentang cara pemutusan hubungan kerja
7. memberi identitas bagi masyarakat.

2.4 Gambaran Umum Kelembagaan Ekonomi yang Diamati di Lapang


Berdasarkan hasil wawancara yang kami lakukan kepada narasumber
yang ada di lapang (Pemilik Toko Pertanian Tani Subur), dapat diketahui
bahwa kelembagaan tersebut merupakan distributor resmi pupuk subsidi
pemerintah untuk kelompok tani Margi Wulung 1 dan Margi Wulung 3.
Lembaga Tani Subur tersebut berdiri sejak 2005, tetapi baru menerima SK
resmi distributor sejak tahun 2008 sebagai lembaga yang menyediakan pupuk
bagi kedua kelompok tani tersebut.
Sifat kelembagaan yang ada di desa observasi tersebut terbuka,
komunikasi antar petani dengan pengurus kelembagaan terjalin baik
sebagaimana yang diharapkan. Fasilitas yang disediakan oleh kelembagaan
dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh petani. Mulai dari distribusi pupuk,
pestisida, dan lain sebagainya. Kelembagaan yang ada tersebut juga
melakukan evaluasi terhadap keberlanjutan pertanian di desanya, misalnya saja
adanya rencana-rencana pengurus kelembagaan untuk menjamin hasil panen
para petani demi tercapainya kesejahteraan petani anggota lembaga pertanian,
baik dari segi produksi hasil pertanian dan keberlanjutan produksi pertanian
yang bersifat stabil dari waktu ke waktu.
Informasi lain yang kami dapatkan dari hasil wawancara adalah pada
desa tersebut terdapat sekolah lapang setiap bulannya, dan manfaat dari di
adakanya sekolah lapang tersebut cukup dirasakan manfaatnya baik bagi
petani penggarap serta anggota lembaga yang ada. Hal ini dapat menjadi suatu
indikator bahwa kelembagaan di desa tersebut mempunyai peran sangat
penting bagi petani dan dalam jangka waktu yang ditentukan dapat tercapai
target-target utama untuk mencapai stabilitas produksi dan hasil pertanian
yang berkelanjutan serta aturan kelembagaan yang mengikat tiap anggotanya.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Peran Kelembagaan Ekonomi di Lapang Bagi Masyarakat Sekitar
Berdasarkan keuntungan dan kemudahan yang didapat oleh petani pada
umumnya, petani di desa ini merasakan pentingnya kelembagaan untuk
menunjang kebutuhan pupuk bagi lahannya. Dari segi ekonomi, pupuk yang
disubsidi ini juga harganya jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran
pada umumnya. Dengan begitu, peran kelembagaan ekonomi bagi masyarakat
maupun kelembagaan itu sendiri menjadi penting adanya. Lembaga atau
instansi yang di berikan wewenang untuk mengatur jalanya distribusi pupuk
subsidi yang merata pada tiap anggota pada kelompok tani di desa tersebut
dapat berjalan dengan semestinya karena pemegang wewenang yang di tugasi
oleh pemerintah tersebut menjalankan perintah dan aturan yang sesuai
sehingga permasalahan seperti kekurangan pupuk subsidi pada daerah sekitar
tersebut hampir dipastikan tidak pernah terjadi. Untuk meminimalisir
terjadinya kecurangan pada pemerataan distrribusi pupuk maka diperlukan
sifat kejujuran dan keadilan pada setiap anggota pengurus yang diberi
kewenangan tersebut. Informasi yang diperoleh tersebut berasal dari bapak
Syaikun selaku ketua pengurus lembaga pertanian desa observasi.
Selain itu, peningkatan produksi pertanian tidak lagi menjadi jaminan
akan memberikan keuntungan layak bagi petani tanpa adanya kesetaraan
pendapatan antara petani yang bergerak di subsistem on farm dengan pelaku
agribisnis di sub sektor hulu dan hilir. Kesetaraan pendapatan ini hanya dapat
dicapai dengan peningkatan posisi tawar petani. Hal ini dapat dilakukan jika
petani tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menghimpun kekuatan dalam
suatu lembaga yang betul-betul mampu menyalurkan aspirasi mereka. Oleh
karena itu penyuluhan harus lebih tertuju pada upaya membangun
kelembagaan.

Lembaga

ini

hanya

dapat

berperan

optimal

apabila

pertumbuhan dan perkembangannya dikendalikan oleh petani, sehingga


petani harus menjadi subjek dalam proses tersebut (Jamal, 2008).

3.2 Akses Petani terhadap Kelembagaan yang Bersangkutan


Akses cukup mudah, dari kelembagaan tersebut ada survey dan
pendataan seluruh petani di setiap kelurahan. Pendataan tersebut guna
mendata para petani yang masuk dalam kelompok tani ataupun secara
perorangan. Tidak ada perbedaan pemberian subsidi dari kedua golongan
tersebut.
Walaupun demikian, tingkat keaktifan anggota kelompok dalam
kegiatan kelompok tani belum maksimal, berdasarkan hasil survey yang
dilakukan, dari 4 petani yang menjadi objek pengamatan menyatakan bahwa
3 dari mereka ikut aktif sebagai anggota kelompok tani, sedangkan 1 petani
yang tidak masuk dalam keanggotaan dengan alasan lahan yang dia pakai
milik orang lain dan itupun hanya sepetak lahan kecil, jadi istilahnya hanya
ikut-ikutan saja.
Ditinjau dari sisi organisasi, kelembagaan input usahatani (sarana
produksi) merupakan kelembagaan ekonomi yang bergerak dalam bidang
penyediaan dan penyaluran sarana produksi. Kelembagaan ini melakukan
usaha dalam bidang produksi dan pemasaran sarana produksi seperti pupuk,
pestisida dan benih/bibit tanaman/ternak yang diperlukan petani. Dalam suatu
system produksi pertanian, baik yang ditujukan untuk memenuhi konsumsi
sendiri maupun yang berorientasi kersial diperlukan adanya ketersediaan
input usahatani dengan jumlah cukup dan mutu yang baik.
Aksibilitas petani terhadap input usahatani di Desa Ngijo dapat
dikatakan cukup baik. Mayoritas petani responden (lebih dari 50%)
menyatakan bahwa kebutuhan akan input usahatani selalu tersedia. Petani
juga tidak banyak mengalami kesulitan dalam membeli input usahatani secara
cepat waktu dan sesuai dengan jumlah dan kualitas yang dibutuhkan.
Sebanyak 100% petani responden menyatakan bahwa cara pembayaran input
dilakukan dengan tunai.
Penyuluhan merupakan sumber informasi perkembangan teknologi
pertanian utama bagi petani. Aksesibilitaspetani Desa Ngijo terhadap
penyuluhan pertanian dapat dikatakan sudah cukup baik. Hanya sebagian
kecil saja yang menyatakan tidak adanya ketersediaan terhadap pelayanan
penyuluhan.

Ketersediaan modal yang memadai merupakan salah satu unsur


pelancar dalam kegiatan usahatani. Ketersediaan modal terutama dibutuhkan
oleh petani untuk membeli berbagai input produksi seperti pembelian benih
unggul, pupuk, pestisida, sewa alat pengolahan lahan, dan untuk membayar
tenaga kerja. Untuk mendapatkan modal usahatani sebagian besar dengan
modal sendiri.
3.3 Fungsi Kelembagaan Ekonomi yang ada di Lapangan
Fungsi kelembagaan ekonomi menurut daerah yang kami survey yakni
lembaga ekonomi di daerah tersebut berfungsi untuk menyalurkan subsidi
dari pemerintah berupa pupuk dan pestisida. Jenis pupuk yang disubsidi yakni
pupuk Urea, Za, Sp36, dan PONSKA dengan harga tanpa subsidi yakni Rp
180.000 Rp 200.000 / 50 kg sedangkan harga subsidi yakni Rp 50.000 / 50
kg. Fungsi kelembagaan ekonomi secara umum tak hanya mencakup subsidi
input pertanian dapat pula berupa peminjaman modal oleh peran perbankan
ataupun juga pembentukan koperasi. Dengan adanya fungsi kelembagaan
ekonomi yang ada tersebut pemenuhan kebutuhan pupuk untuk pertumbuhan
dan perkembangan tanaman yang dibudidayakan bisa terpenuhi, sehingga
produksi tanaman yang ada dapat tercapai. Dari kelembagaan yang ada
tersebut regulasi yang diharapkan bisa berjalan dari waktu ke waktu untuk
pemerataan pemenuhan kebutuhan pupuk petani yang ada pada daerah sekitar
lembaga tersebut dan adanya kelembagaan tersebut menimbulkan rasa aman
akan hasil produksi yang dihasilkan. Menurut Ali Subekti ( 2011 ) dalam
jurnalnya menyebutkan bahwa tanggapan petani terhadap lembaga ekonomi
mikro di daerah yang dijadikan objek penelitian menunjukkan tanggapan
positif dinilai dari kenaikan pendapatan petani sebesar 0,7% meskipun dalam
jumlah yang sedikit. Dengan adanya peran lembaga ekonomi seperti
penyediaan modal , sarana dan prasarana diharapkan petani tidak lagi
meminjam modal kepada para tengkulak.
Selain berfungsi sebagai penyalur subsidi pupuk, kelembagaan tersebut
juga memberikan kemudahan petani dalam program pemberian pinjaman
pupuk ataupun pestisida yang nantinya bisa dilunasi saat panen. Hal ini lebih
memudahkan permodalan petani, tetapi kurang dimanfaatkan karena petani

masih ragu-ragu dan takut jika nantinya gagal panen dan tidak ada jaminan
untuk membayar hutang pada lembaga.

BAB IV
PENUTUP
d.1 Kesimpulan
Pada umumnya petani di desa Kepuharjo ini merasakan pentingnya
kelembagaan untuk menunjang kebutuhan pupuk, pestisida dan bibit untuk
budidaya pertaniannya. Aksesnya cukup mudah, dari kelembagaan tersebut
mengadakan survey dan pendataan seluruh petani di setiap kelurahan.
Pendataan tersebut guna mendata para petani yang masuk dalam kelompok
tani ataupun secara perorangan. Tidak ada perbedaan pemberian subsidi dari
kedua golongan tersebut.
Untuk tingkat tingkat keaktifan anggota sendiri masih belum maksimal,
dilihat dari hasil survey yang dilakukan, dari 4 petani yang menjadi objek
pengamatan, hanya 3 dari mereka ikut aktif sebagai anggota kelompok tani,
sedangkan 1 petani yang tidak.
kelembagaan input usahatani (sarana produksi) telah melakukan usaha
dalam bidang produksi dan pemasaran sarana produksi seperti pupuk,
pestisida dan benih/bibit tanaman/ternak yang diperlukan petani, selain itu
fungsi lembaga ekonomi di daerah tersebut berfungsi untuk menyalurkan
subsidi dari pemerintah berupa pupuk dan pestisida
4.2 Saran
Dalam pengembangan kelembagaan tersebut diharapkan adanya
pemerataan pendataan petani, sehingga persebaran subsidi dari pemerintah
semakin merata. Dan diharapkan, tidak hanya petani berlahan luas saja yang
menikmati subsidi, tetapi petani gurem juga bisa merasakan adanya fasilitas
pemerintah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Amalia,

Suci.

2010.

Lembaga

Ekonomi.

http://suciamalia.blogspot.com/

2008/11/lembaga-ekonomi.html
Dede. 2010. http://deedde.wordpress.com/2010/03/24/lembaga-lembaga-ekonomi/
Elizabeth, R., V. Darwis. 2003. Karakteristik Petani Miskin dan Persepsinya
terhadap Program JPS di Propinsi Jawa Timur. SOCA. Bali.
Jamal, H, 2008. Mengubah Orientasi Penyuluhan Pertanian. Balitbangda
Provinsi Jambi. Jambi Ekspress Online. Diakses tanggal 24 Mei 2013
Pratama, Mardian. 2012. Definisi Kelembagaan. http://mardianpratama10.
blogspot.com/2012/10/definisi-kelembagaan.html
Subekti, Syaikhul Ali. 2011. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP FUNGSI
LEMBAGA KEUANGAN MIKRO AGRIBISNIS (LKM-A) DAN DAMPAK
LKM-A TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH
ANGGOTA (Studi Kasus: LKM-A Prima Mandiri Jorong Pulau Mainan
Nagari Pulau Mainan Kecamatan Koto Salak Kabupaten Dharmasraya)

LAMPIRAN