Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan
yang memiliki dampak negatif. Kebakaran hutan, kebakaran vegetasi, atau
kebakaran semak, adalah sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar, tetapi juga
dapat memusnahkan rumah-rumah dan lahan pertanian disekitarnya. Selain itu,
kebakaran hutan dapat didefinisikan sebagai pembakaran yang tidak tertahan
dan menyebar secara bebas dan mengonsumsi bahan bakar yang tersedia di
hutan, antara lain terdiri dari serasah, rumput, cabang kayu yang sudah mati,
dan lain-lain. Istilah Kebakaran hutan di dalam Ensiklopedia Kehutanan
Indonesia disebut juga Api Hutan. Selanjutnya dijelaskan bahwa Kebakaran
Hutan atau Api Hutan adalah Api Liar yang terjadi di dalam hutan, yang
membakar sebagian atau seluruh komponen hutan.
Kebakaran dan pembakaran merupakan sebuah kata dengan kata dasar
yang sama tetapi mempunyai makna yang berbeda. Kebakaran indentik dengan
kejadian yang tidak disengaja sedangkan pembakaran identik dengan kejadian
yang sengaja diinginkan tetapi tindakan pembakaran dapat juga menimbulkan
terjadinya suatu kebakaran. Penggunaan istilah kebakaran hutan dengan
pembakaran terkendali merupakan suatu istilah yang berbeda. Penggunaan
istilah ini sering kali mengakibatkan timbulnya persepsi yang salah terhadap
dampak yang ditimbulkannya.
Kebakaran-kebakaran

yang

sering

terjadi

digeneralisasi

sebagai

kebakaran hutan, padahal sebagian besar (99,9%) kebakaran tersebut adalah


pembakaran yang sengaja dilakukan maupun akibat kelalaian, baik oleh
peladang berpindah ataupun oleh pelaku binis kehutanan atau perkebunan,
sedangkan sisanya (0,1%) adalah karena alam (petir, larva gunung berapi).
Saharjo (1999) menyatakan bahwa baik di areal HTI, hutan alam dan
1

perladangan berpindah dapat dikatakan bahwa 99% penyebab kebakaran hutan


di Indonesia adalah berasal dari ulah manusia, entah itu sengaja dibakar atau
karena api lompat yang terjadi akibat kelalaian pada saat penyiapan lahan.
Bahan bakar dan api merupakan faktor penting untuk mempersiapkan lahan
pertanian dan perkebunan (Saharjo, 1999). Pembakaran selain dianggap mudah
dan murah juga menghasilkan bahan mineral yang siap diserap oleh tumbuhan.
Banyaknya jumlah bahan bakar yang dibakar di atas lahan akhirnya akan
menyebabkan asap tebal dan kerusakan lingkungan yang luas. Untuk itu, agar
dampak lingkungan yang ditimbulkannya kecil, maka penggunaan api dan bahan
bakar pada penyiapan lahan haruslah diatur secara cermat dan hati-hati. Untuk
menyelesaikan
kebakaran

masalah

harus

ini

maka

berdasarkan

manajemen

hasil

penelitian

penanggulangan bahaya
dan

tidak

lagi

hanya

mengandalkan dari terjemahan textbook atau pengalaman dari negara lain tanpa
menyesuaikan dengan keadaan lahan di Indonesia (Saharjo, 2000).

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.2.1 Apa definisi dari disaster/bencana?
1.2.2 Apa saja klasifikasi disaster/bencana?
1.2.3 Apa definisi dari kebakaran?
1.2.4 Apa saja klasifikasi kebakaran?
1.2.5 Bagaimana pengaturan penanggulangan bencana secara umum?
1.2.6 Bagaimana proses kebakaran?
1.2.7 Apa saja dampak dari kebakaran?
1.2.8 Apa definisi dari kebakaran hutan?
1.2.9 Apa saja penyebab dari kebakaran hutan?
1.2.10 Apa saja dampak dari kebakaran hutan?
1.2.11 Bagaimana pencegahan kebakaran hutan di Indonesia?
1.2.12 Bagaimana penanggulan kebakaran hutan di Indonesia?
1.2.13 Bagaimana peran perawat dalam pencegahan primer?
1.2.14 Bagaimana peran perawat dalam keadaan darurat (impact phase)?
1.2.15 Bagaimana peran perawat di dalam posko pengungsian dan posko
bencana?

1.2.16 Bagaimana peran perawat dalam fase post impact?


1.3 TUJUAN PENULISAN
1.3.1 Untuk mengetahui definisi daridisaster/bencana.
1.3.2 Untuk mngetahui klasifikasi dari disaster/bencana.
1.3.3 Untuk mengetahui definisi dari kebakaran.
1.3.4 Untuk mengetahui klasifikasi dari kebakaran.
1.3.5 Untuk mengetahui pengaturan penanggulangan bencana secara umum
1.3.6 Untuk mengetahui proses dari kebakaran.
1.3.7 Untuk mengetahui dampak dari kebakaran.
1.3.8 Untuk mengetahui definisi dari kebakaran hutan.
1.3.9 Untuk mengetahui penyebab dari kebakaran hutan.
1.3.10 Untuk mengetahui dampak dari kebakaran hutan.
1.3.11 Untuk mengetahui pencegahan kebakaran hutan di Indonesia.
1.3.12 Untuk mengetahui penanggulan kebakaran hutan di Indonesia.
1.3.13 Untuk mengetahui peran perawat dalam pencegahan primer.
1.3.14 Untuk mengetahui peran perawat dalam keadaan darurat (impact phase).
1.3.15 Untuk mengetahui peran perawat di dalam posko pengungsian dan posko
bencana.
1.3.16 Untuk mengetahui peran perawat dalam fase post impact.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Bencana (Disaster)


Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia definisi bencana
adalah peristiwa/kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan
ekologi, kerugian kehidupan manusia serta memburuknya kesehatan dan
pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan bantuan luar biasa
dari pihak luar.
Bencana atau disaster menurt Wikipedia adalah disaster is the impact
of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment
(bencana adalah pengaruh alam atauancaman yang dibuat manusia yang
berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan).
Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana,

dikenal pengertian

dan

beberapa

istilah

terkait

dengan

bencana.Bencana adalah peristiwa atau masyarakat rangkaian peristiwa yang


mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan yang disebabkan,
baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,kerusakan lingkungan, kerugian
harta benda, dan dampak psikologis.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa
bumi, tsunami, gunung meletus, banjir,kekeringan, angin topan, dan tanah
longsor.Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
rangkaian

peristiwanonalam

yang

antara

lain

berupa gagal

teknologi,

gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.

Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau


serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik
sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.
Definisi bencana (disaster) menurut WHO adalah setiap kejadian yang
menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia
atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala
tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang
terkena.
Bencana adalah situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat. Tergantung pada cakupannya, bencana ini bisa merubah pola
kehidupan dari kondisi kehidupan masyarakat yang normal menjadi rusak,
menghilangkan harta benda dan jiwa manusia, merusak struktur social
masyarakat, serta menimbulkan lonjakan kebutuhan dasar (BAKORNAS PBP).

2.2 Klasifikasi Bencana


2.1.1 Bencana yang disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) :
a. Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di
permukaan bumi yang disebabkanoleh tumbukan antar lempeng
bumi, patahan aktif, akitivitas gunung api atau runtuhan batuan
b. Letusan gunung merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang
dikenal dengan istilah erupsi. Bahaya letusan gunung api dapat
berupa awan panas, lontaran material (pijar), hujanabu lebat, lava,
gas racun, tsunami dan banjir lahar
c. Tsunami adalah serangkaian gelombang ombak laut raksasayang
timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi.
d. Angin puting beliung adalah angin kencang yang datang secara tibatiba,

mempunyai

pusat,

bergerak

melingkar

menyerupai

spiral dengan kecepatan 40-50 km/jam hingga menyentuh permukaan


bumi dan akan hilang dalam waktu singkat (3-5 menit).

e. Banjir bandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba dengan


debit air yang besar yang disebabkan terbendungnya aliran sungai
pada alur sungai.
f. Tanah longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau
batuan, ataupun percampuran keduanya,

menuruni atau keluar

lereng akibat terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun


lereng.
g. Kebakaran hutan adalah suatu keadaan di mana hutan dan lahan
dilanda api, sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan lahan
yang menimbulkan kerugian ekonomis danatau nilai lingkungan.
Kebakaran hutan dan lahan seringkali menyebabkan bencana asap
yangdapat mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat sekitar.
h. Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air
untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan.
2.1.2 Bencana yang disebabkan oleh ulah manusia (manmade disaster)
a. Kecelakaan transportasi adalah kecelakaan moda transportasi yang
terjadi di darat, laut dan udara
b. Kerusuhan social adalah suatu gerakan massal yang bersifat merusak
tatanan dan tata tertib sosial yang ada, yang dipicu oleh kecemburuan
sosial,

budayadan

ekonomi

yang

biasanya

dikemas

sebagai

pertentangan antar suku, agama, ras.


c. Gas beracun merupakan gas kimia yang berupaya menyebabkan
kesan keracunan apabila gas tersebut masuk melalui paru-paru.
d. Terorisme adalah aksi yang dilakukan oleh setiap orang yang dengan
sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan sehingga
menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadaporang secara
meluas atau menimbulkan korban yang bersifat masal, dengan cara
merampas kemerdekaan sehingga mengakibatkan hilangnya nyawa
dan harta benda, mengakibatkan kerusakan atau kehancuran
terhadap obyek-obyek vital yang strategis atau lingkungan hidup
ataufasilitas publik internasional.

2.3 Definisi Kebakaran


Kebakaran adalah suatu nyala api, baik kecil atau besar pada tempat yang
tidak kita kehendaki, merugikan pada umumnya sulit dikendalikan (Perda
DKI,2002).
Kebakaran memiliki arti proses penyalaan api yang dapat terjadi dimana saja
dan kapan saja serta didukung ketersediaan material sebagai bahan bakar. Kata
kebakaran mengandung makna adanya bahaya yang diakibatkan oleh adanya
ancaman potensial (Agung, 2004).
Kebakaran senantiasa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, baik
menyangkut kerusakan harta benda, kerugian materi, gangguan terhadap
kelestarian lingkungan, terhentinya proses produksi barang serta jasa, serta
ancaman terhadap keselamatan jiwa. Kebakaran yang terjadi di permukiman
padat penduduk menimbulkan akibat-akibat sosial, ekonomi dan psikologi yang
luas serta kebakaran di kawasan kumuh padat bisa langsung menghancurkan
ekonomi masyarakat korban kebakaran.

2.4 Klasifikasi Kebakaran


Agar dapat menentukan sikap dalam menanggulangi bahaya kebakaran ada
baiknya memahami klasifikasi kebakaran agar dapat menetukan tindakan dalam
mempercepat atau meredam wilayah terbakar yang lebih luas. Ada empat jenis
kebakaran dan bahan pemadamnya, yaitu:
1. Kebakaran biasa, yaitu kebakaran benda-benda padat kecuali logam yang
mudah terbakar seperti kertas, kayu dan pakaian yang tergolong sebagai
kelas A. Penanggulangannya dapat menggunakan alat pemadam pokok
yaitu air, foam, CO2, atau bubuk kimia kering.
2.

Kebakaran bahan cairan yang mudah terbakar seperti minyak bumi, gas,
lemak dan sejenisnya disebut kebakaran kelas B. Penanggulangannya dapat
menggunakan alat pemadam pelengkap yang memakai zat kimia yaitu foam,
CO2, atau bubuk kimia kering.

3. Kebakaran listrik seperti kebocoran listrik atau korsleting, kebakaran pada


alat-alat listrik generator dan motor listrik disebut jenis kebakaran kelas C.
Penanggulangannya dapat menggunakan alat pemadam jenis CO2 dan
bubuk kimia kering.
4. Kebakaran logam seperti seng, magnesium, serbuk alumunium, sodium,
titanium disebut jenis kebakaran kelas D.
Pada tabel di bawah djelaskan mengenai klasifikasi kebakaran menurut
Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Tahun 2006, berdasarkan kelas resiko,
material dan media pemadam kebakaran di Indonesia.

RESIKO

MATERIAL

ALAT PEMADAM

Kelas A

Kayu, kertas, kain

Dry Chemichal Multiporse dan ABC


Soda Acid

Kelas B

Bensin,

Minyak

tanah, Dry

varnish

Chemichal

bubuk),

BCF

Foam

(serbuk

(Bromoclorodiflour

Methane), CO2, dan Gas Hallon


Kelas C

Bahan

bahan

seperti Dry Chemichal, CO2, Gas Hallon

asetelin, methane, propane dan


dan gas alam
Kelas D

BCF

(Bromoclorodiflour

Methane).

Uranium, magnesium dan Metal x, metal guard, dry sand dan


titanium

Bubuk Pryme

Dari keempat jenis kebakaran tersebut yang jarang ditemui adalah kelas D,
biasanya untuk kelas A, B dan C alat pemadamnya dapat digunakan dalam satu
tabunng atau alat yang dijual secara umum, kecuali bila diperlukan jenis khusus.
Menurut Kepmen PU No. 11/KPTS/2000 tentang Ketentuan Teknis
Manajemen Penanggulangan Kebakaran di Perkotaan, tingkat resiko kebakaran
dapat diklasifikasikan dalam angka untuk menentukan kualitas resiko yang harus
dihadapi dan ditindaklanjuti, yaitu:
1. Angka

Klasifikasi

Resiko

Bahaya

3,

angka klasifikasi

yang

harus

mempertimbangkan resiko bahaya yang paling rawan dimana jumlah dari isi
bahan mudah terbakarnya sangat tinggi. Terdapat perkiraan terhadap

berkembangnya api sangat cepat dan mempunyai nilai pelepasan panas


yang tinggi. Status ini melingkupi bangunan sekitar dengan radius 15 meter
atau kurang.
2. Angka

Klasifikasi

Resiko

Bahaya

4,

angka klasifikasi

yang

harus

mempertimbangkan resiko bahaya yang tinggi dimana kuantitas dan


kandungan bahan mudah terbakarnya tinggi. Terdapat perkiraan terhadap
berkembangnya api sangat cepat dan mempunyai nilai pelepasan panas
yang tinggi. Status ini melingkupi bangunan sekitar dengan radius 15 meter
atau kurang.
3. Angka

Klasifikasi

Resiko

Bahaya

5,

angka klasifikasi

yang

harus

mempertimbangkan sebagai hunian bahaya sedang dimana kuantitas dan


kandungan bahan mudah terbakarnya sedang dan tinggi serta memiliki
tumpukan bahan mudah terbakarnya tidak melebihi 3,7 meter. Kebakaran
pada tingkat ini dapat diperkirakan berkembang sedang dan mempunyai nilai
pelepasan panas yang sedang.
4. Angka

Klasifikasi

Resiko

Bahaya

6,

angka klasifikasi

yang

harus

mempertimbangkan resiko bahaya rendah dimana kuantitas dan kandungan


bahan mudah terbakarnya sedang dan tinggi serta memiliki tumpukan bahan
mudah terbakarnya tidak melebihi 2,5 meter. Kebakaran pada tingkat ini
dapat diperkirakan berkembang sedang dan mempunyai nilai pelepasan
panas yang sedang.
5. Angka

Klasifikasi

Resiko

Bahaya

7,

angka klasifikasi

yang

harus

mempertimbangkan resiko bahaya rendah dimana kuantitas dan kandungan


bahan mudah terbakarnya rendah. Kebakaran pada tingkat ini dapat
diperkirakan berkembang rendah dan mempunyai nilai pelepasan panas
yang rendah.
Dari tingkat status resiko bahaya kebakaran dapat disimpulkan bahwa
semakin kecil angka klasifikasi maka status bahaya semakin tinggi dan
sebaliknya bahwa semakin besar angka klasifikasi maka status bahaya semakin
rendah. Dengan memahami klasifikasi resiko bahaya kebakaran terhadap bahan
yang terbakar serta pencegahannya dan kalsifikasi memberi status resiko
kebakaran akan memudahkan kita untuk menentukan sistem penanggulangan
yang sesuai.
9

2.5 Pengaturan Penanggulangan Bencana Secara Umum


Menurut Departemen Sosial RI, pengaturan penanggulangan bencana
bersifat dinamis, berlanjut dan terpadu untuk meningkatkan kualitas langkahlangkah yang berhubungan dengan pengamatan setempat dan analisis bencana
serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaaan, peringatan dini, penanganan
darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi bencana. Pengaturan bencana ini sangat
baik diterapkan di lingkungan padat permukiman perkotaan yang diakibatkan
oleh bencana agar dapat meningkatkan kualitas hidup penduduk perkotaan
tersebut. siklus atau daur penanganan bencana sebagai pemahaman aktivitas
yang terjadi terus-menerus sebagai rangkaian respon dalam mengahadapi
bencana sesuai permasalahan yang ditemui

Gambar Siklus Pengaturan Bencana

Siklus pengaturan bencana terdiri dari:


1. Pencegahan yaitu langkah-langkah yang dilakukan untuk menghilangkan
samasekali atau mengurangi secara drastis akibat dari ancaman melalui
pengendalian dan pengubahsesuaian fisik dan lingkungan.
2. Lalu mitigasi yaitu tindakan-tindakan yang memfokuskan perhatian pada
pengurangan dampak dari ancaman sehingga demikian mengurangi
kemungkinan dampak negatif kejadian bencana terhadap kehidupan.
3. Berikutnya kesiapan yaitu perkiraan tentang kebutuhan yang akan timbul bila
terjadi kedaruratan bencana dan pengenalan sumberdaya untuk memenuhi

10

kebutuhan tersebut, dengan demikian membawa penduduk ke dalam tataran


kesiapan lebih baik dalam menghadapi bencana.
4. Penanggulangan kedaruratan/respon (early warning system) yaitu tindakantindakan yang dilakukan seketika sebelum dan atau setelah terjadinya
kejadian bencana.
5. Kemudian pemulihan yaitu tindakan yang bertujuan untuk membantu
masyarakat mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dan membangun
kembali kehidupan serta kempatan-kesempatan yang ada.
6. Terakhir, pembangunan yaitu pembangunan kembali sarana dan prasarana,
kelembagaan pada wilayah pasca bencana, baik pada tingkat pemerintahan
maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya
kegiatan perekonomian, sosial, budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan
bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan.

Siklus pengaturan bencana merupakan acuan atau sasaran yang akan


dicapai bila terjadi bencana. Sebagai pendekatan, akan tampil konsepsi manajemen
bencana sebagai alat mempermudah menuju pengaturan bencana tersebut, yaitu:
1.

Disaster Management Continuum Model


Model ini terfokus pada kejadian bencana dan tanggap darurat. Model
ini juga mengasumsikan bahwa bencana tidak dapat dihindari, selain itu
model ini menjelaskan bahwa bencana merupakan rangkaian yang terus
berputar.

2.

Pre-During-Post Disaster Model


Model

ini

sedikit

berbeda

dengan

model

sebelumnya

yang

menganggap perlunya campur tangan sebagai bentuk manajemen bencna


dalam fase bencana. Bedanya adalah pada pandangan bahwa bencan dapat
diakhiri atau

dihilangkan, selain itu kegiatan persiapan, mitigasi dan

perbaikan dapat dilakukan sebelum, selama dan setelah terjadinya bencana.

3.

Contract-Expand Model
Model ini mengasumsikan bahwa bencana terjadi ketika suatu
bahaya melampaui kapasitas komunitas untuk manajemen bencana tersebut,
11

semua komponen untuk pengurangan bencana dapat dilakukan bersamaan


dengan penekanan yang berbeda-beda. Bencana tidak dapat dihindari dan
datang dalam jangka waktu yang pendek.

4.

Risk Reduction Disaster (RRD) Framework


Bencana akan lebih besar jika bahaya (hazard) dan kerentanan
(vulnerability) meningkat dan kapasitas atau ketahanan menurun. Model ini
memfokuskan
menghilangkan

pada

manajemen

kerentanan,

resiko

memahami

dengan

mengurangi

karakteristik

bahaya

atau
dan

membangun ketahanan berdasarkan kerentanan dan bahaya yang dimiliki


suatu wilayah dalam lingkup analisis sosial dan keilmuan.

5.

Crunch Model
Awotona (1997) mengemukakan model ini adalah bahwa bencana
merupakan produk dari kerentanan bertemu dengan bahaya. Model ini
menunjukkan bahwa bencana hanya terjadi jika bahaya bertemu dengan
kondisi yang membuat masyarakat atau elemen non-manusia mudah terkena
dampak negatif dari suatu bahaya. Model ini juga memandang bencana
sebagai konsep sosial yang perlu dilakukan penanganannya terhadap akar
penyebab munculnya kerentanan dan perlu dilakukan pemahaman terhadap
terjadinya suatu bahaya. Fokus yang dilakukan adalah meningkatkan
kapasitas suatu lingkungan serta analisis sosial untuk mengurangi
kerentanan dan bahaya. Metodenya, dengan adanya pengurangan tingkat
bahaya dapat digambarkan dengan peningkatan kapasitas atau ketahanan
suatu lingkungan serta memperkecil tingkat kerentanan seuatu lingkungan
terhadap suatu bahaya.
Atas pemahaman terhadap model Crunch, Pusat Mitigasi Bencana
menterjemahkan model ini ke dalam rumus yang dapat mempermudah untuk
menganalisis kualitas bencana terhadap dialektik antara bahaya, kerentanan
dan ketahanan. Pada gambar 2.2 menerangkan model terjadinya bencana
menurut pusat mitigasi Bencana ITB, resiko terjadinya bencana dapat dilihat
dari bahaya yang bertemu dengan kerentanan serta tidak adanya ketahanan.
Dengan adanya pemahaman rumusan ini, dapat dijustifikasi bahwa resiko
12

bencana dapat dikurangi dengan meningkatkan nilai ketahanan dan


memperkecil kerentanan yang ada. Sehingga resiko bencana kebakaran
setiap kawasan dapat diukur melalui sumber bahaya, kerentanan dan
ketahanan-nya.

Model Terjadinya Bencana Menurut Pusat Mitigasi


Dari ke lima konsepsi dalam memahami bencana serta proses dalam
menanggapi bencana, model Crunch lebih relevan digunakan sebagai alat untuk
menuju pendekatan sistem penanggulangan bencana kebakaran yang akan
terbentuk atau sebagai masukan untuk sistem yang telah terbentuk, karena
proses pemikirannya melibatkan aktor kunci (key-actor), ahli teknis dan
pemerintah sebagai pe-bijak. Makna istilah sistem oleh Giddens sejalan dengan
konsep Crunch yang memikirkan dan mempertimbangkan segala aktor yang
terlibat bersama-sama saling mendukung dalam menyelesaikan permasalahan
bencana dengan menterjemahkan bahaya di dukung oleh kerentanan yang
dapat diantisipasi ataupun ditekan dengan tindakan meningkatkan ketahanan.
Apabila pemikiran ini dilaksanakan, maka dapat dipastikan bahwa kawasan
tersebut akan jauh dari bahaya bencana karena menghapus tingkat kerentanan
melalui pemenuhan ketahanan.
2.6 Proses Kebakaran
Kebakaran berawal dari proses reaksi oksidasi antara unsur Oksigen (O 2 ),
Panas dan Material yang mudah terbakar (bahan bakar). Keseimbangan unsurunsur tersebutlah yang menyebabkan kebakaran. Berikut ini adalah definisi
singkat mengenai unsur-unsur tersebut:

13

1. Oksigen atau gas O yang terdapat diudara bebas adalah unsur


penting dalam pembakaran. Jumlah oksigen sangat menentukan
kadar atau keaktifan pembakaran suatu benda. Kadar oksigen yang
kurang dari 12 % tidak akan menimbulkan pembakaran.
2. Panas

menyebabkan

suatu

bahan

mengalami

perubahan

suhu/temperatur, sehingga akhirnya mencapai titik nyala dan


menjadi terbakar. Sumber sumber panas tersebut dapat berupa
sinar matahari, listrik, pusat energi mekanik, pusat reaksi kimia dan
sebagainya.
3. Pada gambar dibawah dijelaskan tentang segitiga api (tetrahedron
api) . Bahan yang mudah terbakar (bahan bakar), bahan tersebut
memiliki titik nyala rendah yang merupakan temperatur terendah
suatu bahan untuk dapat berubah menjadi uap dan akan menyala
bila tersentuh api. Bahan makin mudah terbakar bila memiliki titik
nyala yang makin rendah. Dari ketiga unsur-unsur bahan bakar,
oksigen dan panas dapat menyebabkan rantai reaksi kimia.

Gambar Tetrahedron Api

Proses kebakaran berlangsung melalui beberapa tahapan, yang masingmasing tahapan terjadi peningkatan suhu, yaitu perkembangan dari suatu
rendah kemudian meningkat hingga mencapai puncaknya dan pada akhirnya
berangsur-angsur menurun sampai saat bahan yang terbakar tersebut habis
dan api menjadi mati atau padam. Pada umumnya kebakaran melalui dua

14

tahapan, yaitu tahap pertumbuhan (growth period) dan tahap pembakaran


(steady combustion). Tahap tersebut dapat dilihat pada gambar dibawah kurva
suhu api.

Gambar Kurva Suhu Api

Kemudian tahap kebakaran menurut ilmu fisika bangunan terdiri atas tiga tahap
yaitu:
1. Tahap Pembaraan, yaitu tahap dimana permukaan bahan mulai
membara dan suhu udara memanas sampai suhu mengizinkan
lompatan api (flash over) dan permukaan bahan menyala di seluruh
ruang yang terkena api. Oleh karena itu, ciri khas pembaraan
tergantung dari luas ruang yang terkena api dan pada beban
kebakaran. Indikator lain belum mempengaruhi kebakaran secara
berarti. Tahap pembaraan ini akan sangat singkat jika cairan menyala
karena flash over terjadi langsung sesudah penyalaan.
2. Tahap Pemanasan, yaitu tahap dimana permukaan barang menyala,
maka suhu di dalam ruang meningkat tajam. Selain beban kebakaran,
kebanyakan udara (oksigen) di dalam ruang. Berarti bentuk ruang
dan pengudaraannya sangat mempengaruhi kebakaran. Makin tahan
bagian bangunan yang melingkupi ruang yang sedang terkena api,
maka makin lama pula jangka waktu api meluas dan makin kecil
bahaya kebakaran meluas.
3. Tahap Pendinginan, tahap dimana jumlah energi bahan bakar tidak
cukup lagi untuk mengatur atau meningkatkan suhu dalam ruang

15

kebakaran, kemudian suhu mulai menurun. Tahap pendinginan ini


membutuhkan waktu agak lama karena jika suhu dalam ruang mulai
menurun, maka bagian bangunan yang mengelilingi ruang tersebut
mulai melepaskan panas yang tersimpan di dalamnya.
2.7 Dampak Kebakaran
Peristiwa kebakaran memberikan efek bahaya antara lain:
a. Asap
Asap adalah kumpulan partikel zat carbon ukuran kurang dari 0,5 micron
sebagai hasil dari pembakaran tak sempurna dan bahan yang mengandung
karbon. Efeknya iritasi/rangsangan pada mata, selaput lendir pada hidung
dan kerongkongan.
b. Panas
Panas adalah suatu bentuk energi yang pada 300oF dapat dikatakan
sebagai temperatur tertinggi di mana manusia dapat bertahan /bernafas
hanya dalam waktu yang singkat. Efeknya tubuh kehilangan cairan dan
tenaga, luka bakar/terbakar pada kulit dan pernafasan, mematikan jantung.
c. Nyala/Flame
Nyala/Flame biasa timbul pada proses pembakaran sempurna dan
membentuk cahaya berkilauan.
d. Gas Beracun
Gas beracun antara lain:
1.

Karbon Monoksida ridak berasa, tidak berbau, tidak berasa NAB 50ppm

2.

Sulfur Dioksida (SO2) sangat beracun, menyebabakna gejala lambat diri,


kerusakan sistem pernafasan seperti bronchitis

3.

Hidrogen Sulfida (H2S) >NAB 10ppm

4.

Ammonia (MH3) >NAB 25ppm

5.

Hydrogen Sianida (HCN) >NAB 10ppm

6.

Acrolein (C3H4O) >NAB 0,1ppm

7.

Gas hasil pembakaran zat sellulosa (kertas, kayu, kain) seperti karbon
monoksida, formaldehida, asam formiat, asam karboksitat, metilalkohol,
asam asetat, dll

16

8.

Gas hasil pembakaran plastik seperti karbon monoksida, asam klorida


dan sianida, nitrogen eksida, dll

9.

Gas hasil pembakaran karet seperti karbon monoksida, sulfur dioksida,


dan asap tebal

10. Gas hasil pembakaran scilena seperti hidrogen sianida, gas amonia.
11. Gas hasil pembakaran wool seperti karbon monoksida, hidrogen sulfida,
sulfur dioksida, dan hidrogen sianida
12. Gas hasil pembakaran hasil minyak bumi seperti karbon monoksida,
karbon dioksida, axcolin, dan asap tebal.

2.8 Definisi Kebakaran Hutan


Kebakaran hutan merupakan salah satu penyebab kerusakan hutan
yang memiliki dampak negatif. Kebakaran hutan, kebakaran vegetasi, atau
kebakaran semak, adalah sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar, tetapi
juga dapat memusnahkan rumah-rumah dan lahan pertanian disekitarnya.
Selain itu, kebakaran hutan dapat didefinisikan sebagai pembakaran yang
tidak tertahan dan menyebar secara bebas dan mengonsumsi bahan bakar
yang tersedia di hutan,antara lain terdiri dari serasah, rumput, cabang kayu
yang sudah mati, dan lain-lain. Istilah Kebakaran hutan di dalam Ensiklopedia
Kehutanan Indonesia disebut juga Api Hutan. Selanjutnya dijelaskan bahwa
Kebakaran Hutan atau Api Hutan adalah Api Liar yang terjadi di dalam hutan,
yang membakar sebagian atau seluruh komponen hutan. Dikenal ada 3
macam kebakaran hutan, Jenis-jenis kebakaran hutan tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Api Permukaan atau Kebakaran Permukaan yaitu kebakaran yang
terjadi pada lantai hutan dan membakar seresah, kayu-kayu kering
dan tanaman bawah. Sifat api permukaan cepat merambat, nyalanya
besar dan panas, namun cepat padam. Dalam kenyataannya semua
tipe kebakaran berasal dari api permukaan.
2. Api Tajuk atau Kebakaran Tajuk yaitu kebakaran yang membakar
seluruh tajuk tanaman pokok terutama pada jenis-jenis hutan yang
17

daunnya mudah terbakar. Apabila tajuk hutan cukup rapat, maka api
yang terjadi cepat merambat dari satu tajuk ke tajuk yang lain. Hal ini
tidak terjadi apabila tajuk-tajuk pohon penyusun tidak saling
bersentuhan.
3. Api Tanah adalah api yang membakar lapisan organik yang dibawah
lantai hutan. Oleh karena sedikit udara dan bahan organik ini,
kebakaran yang terjadi tidak ditandai dengan adanya nyala api.
Penyebaran api juga sangat lambat, bahan api tertahan dalam waktu
yang lama pada suatu tempat.

2.9

Penyebab Kebakaran Hutan


Kebakaran hutan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain
sebagai berikut:
1. Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau
yang panjang.
2. Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok
sembarangan dan lupa mematikan api di perkemahan.
3. Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari
letusan gunung berapi.
4. Tindakan yang disengaja seperti untuk membersihkan lahan
pertanian atau membuka lahan pertanian baru dan tindakan
vandalisme.
5. Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut
yang dapat menyulut kebakaran di atas tanah pada saat musim
kemarau.

2.10

Dampak Kebakaran Hutan

2.10.1 Dampak Kebakaran Hutan terhadap Lingkungan Biologis


Yang dimaksud dengan lingkungan biologi yaitu segala sesuatu di
sekitar manusia yang berupa organisme hidup selain dari manusia itu
sendiri seperti hewan, tumbuhan, dan decomposer. Dampak yang
ditimbulkan

dari

adanya

kebakaran

hutan

khususnya

terhadap

lingkungan biologis antara lain sebagai berikut:


18

1. Terhadap flora dan fauna


Kebakaran hutan akan memusnahkan sebagian spesies dan
merusak

kesimbangan

alam

sehingga

spesies-spesies

yang

berpotensi menjadi hama tidak terkontrol. Selain itu, terbakarnya


hutan akan membuat Hilangnya sejumlah spesies; selain membakar
aneka flora, kebakaran hutan juga mengancam kelangsungan hidup
sejumlah binatang. Berbagai spesies endemik (tumbuhan maupun
hewan) terancam punah akibat kebakaran hutan. Selain itu,
kebakaran hutan dapat mengakibatkan terbunuhnya satwa liar dan
musnahnya tanaman baik karena kebakaran, terjebak asap atau
rusaknya habitat. Kebakaran juga dapat menyebabkan banyak
spesies endemik/khas di suatu daerah turut punah sebelum sempat
dikenali/diteliti.
Beberapa dampak kebakaran tehadap hewan dan tumbuhan
antara lain sebagai berikut:
a.

BANGSA BINATANG
Kebakaran hutan akan mengakibatkan banyak binatang yang
akan

kehilangan

tempat

tinggal

yang

digunakan

untuk

berlindung serta tempat untuk mencarimakan. Dengan demikian,


hewan yang tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru
setelah

terjadinya

kebakaran

tersebut

akan

mengalami

penurunan jumlah bahkan dapat mengalami kepunahan.Contoh


dampak kebakaran hutan bagi beberapa hewan antara lain
sebagai berikut:
Geobin : seluruh daur hidupnya di dalam tubuh tanah
(Ciliophora, Rhizopoda & Mastigophora, dll)
Geofil : sebagian daur hidupnya di dalam tubuh tanah
(serangga)
b.

BANGSA TUMBUHAN
Kehidupan tumbuhan berhubungan erat dengan hutan yang
merupakan

tempat

hidupnya.

Kebakaran

hutan

dapat

mengakibatkan berkurangnya vegetasi tertentu.Contoh dampak


kebakaran hutan terhadap tumbuhan adalah sebagai berikut:
19

Tumbuhan tingkat tinggi (akar pohon, semak atau rumput)


Tumbuhan

tingkat

rendah

(bakteri,

cendawan

dan

ganggang).

2.10.2 Hilangnya vegetasi tanah


Terjadinya kebakaran hutan akan menghilangkan vegetasi di
atas tanah, sehingga apabila terjadi hujan maka hujan akan
langsung mengenai permukaan atas tanah, sehingga mendapatkan
energi pukulan hujan lebih besar, karena tidak lagi tertahan oleh
vegetasi penutup tanah. Kondisi ini akan menyebabkan rusaknya
struktur tanah
1. Terhadap keanekaragaman hayati
Kebakaran hutan membawa dampak yang besar pada keanekaragaman
hayati. Hutan yang terbakar berat akan sulit dipulihkan, karena struktur
tanahnya mengalami kerusakan. Hilangnya tumbuh-tumbuhan menyebabkan
lahan terbuka, sehingga mudah tererosi, dan tidak dapat lagi menahan banjir.
Karena itu setelah hutan terbakar, sering muncul bencana banjir pada musim
hujan di berbagai daerah yang hutannya terbakar. Kerugian akibat banjir
tersebut juga sulit diperhitungkan.

2. Terhadap mikroorganisme
Kebakaran hutan dapat membunuh organisme (makroorganisme dan
mikroorganisme) tanah yang bermanfaat dalam meningkatkan kesuburan
tanah.

Makroorganisme

tanah

misalnya:

cacing

tanah

yang

dapat

meningkatkan aerasi dan drainase tanah, dan mikroorganisme tanah


misalnya: mikorisa yang dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara P, Zn,
Cu, Ca, Mg, dan Fe akan terbunuh. Selain itu, bakteri penambat (fiksasi)
nitrogen pada bintil-bintil akar tumbuhan Leguminosae juga akan mati
sehingga laju fiksasi ntrogen akan menurun. Mikroorganisme, seperti bakteri
dekomposer yang ada pada lapisan serasah saat kebakaran pasti akan mati.
Dengan temperatur yang melebihi normal akan membuat mikroorganisma
mati, karena sebagian besar mikroorganisma tanah memiliki adaptasi suhu
yang sempit. Namun demikian, apabila mikroorganisme tanah tersebut
20

mampu bertahan hidup, maka ancaman berikutnya adalah terjadinya


perubahan iklim mikro yang juga dapat membunuhnya. Dengan terbunuhnya
mikroorganisme tanah dan dekomposer seperti telah dijelaskan di atas, maka
akan mengakibatkan proses humifikasi dan dekomposisi menjadi terhenti.

3. Terhadap organisme dalam tanah


Kebakaran hutan biasanya menimbulkan dampak langsung terhadap
kematian populasi dan organisme tanah serta dampak yang lebih signifikan
lagi yaitu merusak habitat dari organisme itu sendiri. Perubahan suhu tanah
dan hilangnya lapisan serasah, juga bisa menyebabkan perubahan terhadap
karakteristik habitat dan iklim mikro. Kebakaran hutan menyebabkan bahan
makanan untuk organisme menjadi sedikit, kebanyakan organisme tanah
mudah mati oleh api dan hal itu dengan segera menyebabkan perubahan
dalam habitat, hal ini kemungkinan menyebabkan penurunan jumlah
mikroorganisme yang sangat besar dalam habitat. Efek negatif ini biasanya
bersifat sementara dan populasi organisme tanah akhirnya kembali menjadi
banyak lagi dalam beberapa tahun.
Menteri Kesehatan RI, 2003 menyatakan bahwa kebakaran hutan
menimbulkan polutan udara yang dapat menyebabkan penyakit dan
membahayakan kesehatan manusia. Berbagai pencemar udara yang
ditimbulkan akibat kebakaran hutan, misalnya : debu dengan ukuran partikel
kecil (PM10 & PM2,5), gas SOx, NOx, COx, dan lain-lain dapat menimbulkan
dampak negatif terhadap kesehatan manusia, antara lain infeksi saluran
pernafasan, sesak nafas, iritasi kulit, iritasi mata, dan lain-lain.
Selain

itu

juga

dapat

menimbulkan

gangguan

jarak

pandang/

penglihatan, sehingga dapat menganggu semua bentuk kegiatan di luar


rumah. Gumpalan asap yang pedas akibat kebakaran yang melanda
Indonesia pada tahun 1997/1998 meliputi wilayah Sumatra dan Kalimantan,
juga Singapura dan sebagian dari Malaysia dan Thailand. Sekitar 75 juta
orang

terkena

gangguan

kesehatan

yang

disebabkan

oleh

asap.

(Cifor,2001).
Gambut yang terbakar di Indonesia melepas karbon lebih banyak ke
atmosfir daripada yang dilepaskan Amerika Serikat dalam satu tahun. Hal itu
21

membuat Indonesia menjadi salah satu pencemar lingkungan terburuk di


dunia pada periode tersebut (Applegate, G. dalam CIFOR, 2001).
Dampak kebakaran hutan 1997/98 bagi ekosistem direvisi karena
perubahan perhitungan luas kebakaran yang ditemukan. Taconi, 2003
menyebutkan bahwa kebakaran yang mengakibatkan degradasi hutan dan
deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar 1,62-2,7 miliar dolar. Biaya akibat
pencemaran kabut asap sekitar 674-799 juta dolar; biaya ini kemungkinan
lebih tinggi karena perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di
Indonesia tidak tersedia. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon
menunjukkan bahwa kemungkinan biayanyamencapai2,8 miliar dolar.
2.11 Pencegahan Kebakaran Hutan di Indonesia
Upaya untuk menangani kebakaran hutan ada dua macam, yaitu
penanganan yang bersifat represif dan penanganan yang bersifat preventif.
Penanganan kebakaran hutan yang bersifat represif adalah upaya yang
dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengatasi kebakaran hutan setelah
kebakaran hutan itu terjadi. Penanganan jenis ini, contohnya adalah
pemadaman, proses peradilan bagi pihak-pihak yang diduga terkait dengan
kebakaran hutan (secara sengaja), dan lain-lain.
Sementara itu, penanganan yang bersifat preventif adalah setiap usaha,
tindakan atau kegiatan yang dilakukan dalam rangka menghindarkan atau
mengurangi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan. Jadi penanganan yang
bersifat preventif ini ada dan dilaksanakan sebelum kebakaran terjadi. Selama
ini, penanganan yang dilakukan pemerintah dalam kasus kebakaran hutan,
baik yang disengaja maupun tidak disengaja, lebih banyak didominasi oleh
penanganan yang sifatnya represif. Berdasarkan data yang ada, penanganan
yang sifatnya represif ini tidak efektif dalam mengatasi kebakaran hutan di
Indonesia.

22

Hal ini terbukti dari pembakaran hutan yang terjadi secara terus
menerus. Sebagai contoh : pada bulan Juli 1997 terjadi kasus kebakaran
hutan. Upaya pemadaman sudah dijalankan, namun karena banyaknya
kendala, penanganan menjadi lambat dan efek yang muncul (seperti : kabut
asap) sudah sampai ke Singapura dan Malaysia. Sejumlah pihak didakwa
sebagai pelaku telah diproses, meskipun hukuman yang dijatuhkan tidak
membuat mereka jera. Ketidakefektifan penanganan ini juga terlihat dari masih
terus terjadinya kebakaran di hutan Indonesia, bahkan pada tahun 2008 ini.
Oleh karena itu, berbagai ketidakefektifan perlu dikaji ulang sehingga
bisa menghasilkan upaya pengendalian kebakaran hutan yang efektif.
Menurut UU No 45 Tahun 2004, pencegahan kebakaran hutan perlu
dilakukan secara terpadu dari tingkat pusat, provinsi, daerah, sampai unit
kesatuan pengelolaan hutan. Ada kesamaan bentuk pencegahan yang
dilakukan diberbagai tingkat itu, yaitu penanggungjawab di setiap tingkat harus
mengupayakan terbentuknya fungsi-fungsi berikut ini :
1. Mapping : pembuatan peta kerawanan hutan di wilayah teritorialnya masingmasing. Fungsi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, namun yang lazim
digunakan adalah 3 cara berikut:
pemetaan daerah rawan yang dibuat berdasarkan hasil olah data dari

masa lalu maupun hasil prediksi.


pemetaan daerah rawan yang dibuat seiring dengan adanya survai desa

(Partisipatory Rural Appraisal)


pemetaan daerah rawan dengan menggunakan Global Positioning

System atau citra satelit


2. Informasi : penyediaan sistem informasi kebakaran hutan.
Hal ini bisa dilakukan dengan pembuatan sistem deteksi dini (early
warning system) di setiap tingkat. Deteksi dini dapat dilaksanakan dengan 2
cara berikut :

23

analisis kondisi ekologis, sosial, dan ekonomi suatu wilayah


pengolahan data hasil pengintaian petugas
3. Sosialisasi: pengadaan penyuluhan, pembinaan dan pelatihan kepada
masyarakat.
Penyuluhan

dimaksudkan

agar

menginformasikan

kepada

masyarakat di setiap wilayah mengenai bahaya dan dampak, serta peran


aktivitas manusia yang seringkali memicu dan menyebabkan kebakaran
hutan. Penyuluhan juga bisa menginformasikan kepada masayarakat
mengenai daerah mana saja yang rawan terhadap kebakaran dan upaya
pencegahannya.
Pembinaan

merupakan kegiatan yang mengajak masyarakat

untuk dapat meminimalkan intensitas terjadinya kebakaran hutan.


Sementara, pelatihan bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat,
khususnya yang tinggal di sekitar wilayah rawan kebakaran hutan,untuk
melakukan tindakan awal dalam merespon kebakaran hutan.
4. Standardisasi : pembuatan dan penggunaan SOP (Standard Operating
Procedure).
Untuk

memudahkan

tercapainya

pelaksanaan

program

pencegahan

kebakaran hutan maupun efektivitas dalam penanganan kebakaran hutan,


diperlukan standar yang baku dalam berbagai hal berikut :

Metode pelaporan
Untuk menjamin adanya konsistensi dan keberlanjutan data
yang masuk, khususnya data yang berkaitan dengan kebakaran
hutan, harus diterapkan sistem pelaporan yang sederhana dan
mudah dimengerti masyarakat. Ketika data yang masuk sudah lancar,
diperlukan analisis yang tepat sehingga bisa dijadikan sebuah dasar
untuk kebijakan yang tepat.

24

Peralatan
Standar minimal peralatan yang harus dimiliki oleh setiap
daerah harus bisa diterapkan oleh pemerintah, meskipun standar ini
bisa disesuaikan kembali sehubungan dengan potensi terjadinya
kebakaran hutan, fasilitas pendukung, dan sumber daya manusia
yang tersedia di daerah.

Metode Pelatihan untuk Penanganan Kebakaran Hutan


Standardisasi ini perlu dilakukan untuk membentuk petugas
penanganan kebakaran yang efisien dan efektif dalam mencegah
maupun

menangani

kebakaran

hutan

yang

terjadi.

Adanya

standardisasi ini akan memudahkan petugas penanganan kebakaran


untuk segera mengambil inisiatif yang tepat dan jelas ketika terjadi
kasus kebakaran hutan
5. Supervisi : pemantauan dan pengawasan kepada pihak-pihak yang berkaitan
langsung dengan hutan. Pemantauan adalah kegiatan untuk mendeteksi
kemungkinan terjadinya perusakan lingkungan, sedangkan pengawasan
adalah tindak lanjut dari hasil analisis pemantauan. Jadi, pemantauan
berkaitan

langsung

dengan

penyediaan

data,kemudian

pengawasan

merupakan respon dari hasil olah data tersebut. Pemantauan, menurut


kementerian lingkungan hidup, dibagi menjadi empat, yaitu :

Pemantauan terbuka : Pemantauan dengan cara mengamati langsung objek


yang diamati. Contoh : patroli hutan

Pemantauan tertutup (intelejen) : Pemantauan yang dilakukan dengan cara


penyelidikan yang hanya diketahui oleh aparat tertentu.

Pemantauan pasif : Pemantauan yang dilakukan berdasarkan dokumen,


laporan, dan keterangan dari data-data sekunder, termasuk laporan
pemantauan tertutup.

Pemantauan aktif : Pemantauan dengan cara memeriksa langsung dan


menghimpun data di lapangan secara primer. Contohnya : melakukan survei

25

ke daerah-daerah rawan kebakaran hutan. Sedangkan, pengawasan dapat


dilihat melalui 2 pendekatan, yaitu :
Preventif : kegiatan pengawasan untuk pencegahan sebelum
terjadinya

perusakan

lingkungan

(pembakaran

hutan).

Contohnya

pengawasan untuk menentukan status ketika akan terjadi kebakaran huta


Represif : kegiatan pengawasan yang bertujuan untuk menanggulangi
perusakan yang sedang terjadi atau telah terjadi serta akibat-akibatnya
sesudah terjadinya kerusakan lingkungan.
Untuk mendukung keberhasilan, upaya pencegahan yang sudah
dikemukakan diatas, diperlukan berbagai pengembangan fasilitas pendukung
yang meliputi :
1. Pengembangan dan sosialisasi hasil pemetaan kawasan rawan
kebakaran hutan
Hasil pemetaan sebisa mungkin dibuat sampai sedetail
mungkin dan disebarkan pada berbagai instansi terkait sehingga bisa
digunakan sebagai pedoman kegiatan institusi yang berkepentingan
di setiap unit kawasan atau daerah.
2. Pengembangan organisasi penyelenggara pencegahan kebakaran
hutan
Pencegahan Kebakaran Hutan perlu dilakukan secara terpadu
antar sektor, tingkatan dan daerah. Peran serta masyarakat menjadi
kunci dari keberhasilan upaya pencegahan ini. Sementara itu,
aparatur pemerintah, militer dan kepolisian, serta kalangan swasta
perlu menyediakan fasilitas yang memadai untuk memungkinkan
terselenggaranya Pencegahan Kebakaran Hutan secara efisien dan
efektif.
3. Pengembangan sistem komunikasi
Sistem komunikasi perlu dikembangkan seoptimal mungkin
sehingga koordinasi antar tingkatan (daerah sampai pusat) maupun
antar daerah bisa berjalan cepat. Hal ini akan mendukung kelancaran
26

early warning system, transfer data, dan sosialisasi kebijakan


yangberkaitan dengan kebakaran hutan.
2.12

Penanggulan Kebakaran Hutan di Indonesia


Penanggulangan hutan di Indonesia telah di atur dengan jelas di dalam
Peraturan

Menteri

Kehutanan

Nomor:

P.12/Menhut-Ii/2009

Tentang

Pengendalian Kebakaran Hutan. Adapun upaya penanggulangan yang


dimaktub tersebut antara lain:
1.

Memberdayakan

sejumlah

posko

yang

bertugas

menanggulangi

kebakaran hutan di semua tingkatan. Pemberdayaan ini juga harus


disertai dengan langkah pembinaan terkait tindakan apa saja yang harus
dilakukan jika kawasan hutan telah memasuki status Siaga I dan juga
Siaga II.
2.

Memindahkan

segala

macam

sumber

daya

baik

itu

manusia,

perlengkapan serta dana pada semua tingkatan mulai dari jajaran


Kementrian Kehutanan hingga instansi lain bahkan juga pihak swasta.
3.

Memantapkan koordinasi antara sesame instansi yang saling terkait


melalui dengan PUSDALKARHUTNAS dan juga di lever daerah dengan
PUSDALKARHUTDA tingkat I dan SATLAK kebakaran lahan dan juga
hutan.

4.

Bekerjasama dengan pihak luar seperti Negara lainnya dalam hal


menanggulangi kebakaran hutan. Negara yang potensial adalah Negara
yang berbatasan dengan kita misalnya dengan Malaysia berama
pasukan BOMBA-nya. Atau juga dengan Australia bahkan Amerika
Serikat.
Upaya penanggulangan kebakaran hutan ini tentunya harus sinkron

dengan upaya pencegahan. Sebab walau bagaimanapun, pencegahan jauh


lebih baik dari memanggulangi. Ada beragam cara yang bisa dilakukan
dalam rangka mencegah kebakaran hutan khususnya yang disebabkan oleh
perbuatan manusia seperti membuang punting rokok di wilayah yang kering,

27

kegiatan pembukaan lahan dan juga api unggun yang lupa dimatikan. Upaya
pencegahannya adalah dengan meningkatkan kesadaran masyarakat
khususnya mereka yang berhubungan langsung dengan hutan. Masyarakat
ini biasanya tinggal di wilayah hutan dan memperluas area pertaniannya
dengan membakar. Pemerintah harus serius mengadakan sosialisi agar hal
ini bisa dicegah.Pada dasarnya upaya penanggulangan kebakaran hutan
juga bisa disempurnakan jika pemerintah mau memanfaatkan teknologi
semacam bom air. Atau bisa juga lebih lanjut ditemukan metode yang lebih
efisien dan ampuh menaklukkan kobaran api di hutan. Langkah yang paling
baik adalah dengan mengikutsertakan para perangkat pendidikan agar
merancang teknologi maupun metode yang membantu pemerintah di level
praktis. Sokongan dana dari pemerintah akan membuat program tersebut
lebih baik dan terarah.

28

BAB III
PEMBAHASAN

3.1

Peran Perawat dalam Pencegahan Primer


Ada beberapa hal yang dapat dilakukan perawat dalam masa pra bencana

ini, antara lain:


1. Mengenali instruksi ancaman bahaya;
2. Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan saat fase emergency (makanan, air,
obat-obatan, pakaian dan selimut, serta tenda)
3. Melatih penanganan pertama bencana kebakaran.
4. Berkoordinasi berbagai dinas kebakaran, dinas pemerintahan, organisasi
lingkungan,

palang

merah

nasional

maupun

lembaga-lembaga

kemasyarakatan dalam memberikan penyuluhan dan simulasi persiapan


menghadapi ancaman bencana kebakaran kepada masyarakat
Pendidikan kesehatan diarahkan kepada :
1. usaha pertolongan diri sendiri (pada masyarakat tersebut)
2. pelatihan pertolongan pertama dalam keluarga seperti menolong
anggota keluarga dengan kecurigaan fraktur tulang , perdarahan, dan
pertolongan pertama luka bakar
3. memberikan beberapa alamat dan nomor telepon darurat seperti
dinas kebakaran, RS dan ambulans.
4. Memberikan informasi tentang perlengkapan yang dapat dibawa
(misal pakaian seperlunya, portable radio, senter, baterai)
5. Memberikan informasi tempat-tempat alternatif penampungan atau
posko-posko bencana kebakaran

29

3.2

Peran Perawat dalam Keadaan Darurat (Impact Phase)


Pertolongan pertama pada korban bencana dilakukan tepat setelah keadaan

stabil. Setelah bencana mulai stabil, masing-masing bidang tim survey mulai
melakukan pengkajian cepat terhadap kerusakan-kerusakan, begitu juga perawat
sebagai bagian dari tim kesehatan.
Perawat harus melakukan pengkajian secara cepat untuk memutuskan
tindakan pertolongan pertama. Ada saat dimana seleksi

pasien untuk

penanganan segera (emergency) akan lebih efektif. (Triase )


TRIASE
1. Merah paling penting, prioritas utama. keadaan yang mengancam
kehidupan sebagian besar pasien mengalami hipoksia, syok, trauma
dada, perdarahan internal, trauma kepala dengan kehilangan kesadaran,
luka bakar derajat I-II
2. Kuning penting, prioritas kedua. Prioritas kedua meliputi injury dengan
efek sistemik namun belum jatuh ke keadaan syok karena dalam keadaan
ini sebenarnya pasien masih dapat bertahan selama 30-60 menit. Injury
tersebut antara lain fraktur tulang multipel, fraktur terbuka, cedera medulla
spinalis, laserasi, luka bakar derajat II
3. Hijau prioritas ketiga. Yang termasuk kategori ini adalah fraktur tertutup,
luka bakar minor, minor laserasi, kontusio, abrasio, dan dislokasi
4. Hitam meninggal. Ini adalah korban bencana yang tidak dapat selamat
dari bencana, ditemukan sudah dalam keadaan meninggal.
3.3

Peran Perawat Di Dalam Posko Pengungsian Dan Posko Bencana


1. Memfasilitasi jadwal kunjungan konsultasi medis dan cek kesehatan seharihari
2. Tetap menyusun rencana prioritas asuhan keperawatan harian
3. Merencanakan

dan

memfasilitasi

transfer

pasien

yang

memerlukan

penanganan kesehatan di RS
4. .Mengevaluasi kebutuhan kesehatan harian.

30

5. .Memeriksa dan mengatur persediaan obat, makanan, makanan khusus bayi,


peralatan kesehatan
6. Membantu penanganan dan penempatan pasien dengan penyakit menular
maupun kondisi kejiwaan labil hingga membahayakan diri dan lingkungannya
berkoordinasi dengan perawat jiwa
7. Mengidentifikasi reaksi psikologis yang muncul pada korban (ansietas,
depresi yang ditunjukkan dengan seringnya menangis dan mengisolasi diri)
maupun reaksi psikosomatik (hilang nafsu makan, insomnia, fatigue, mual
muntah, dan kelemahan otot)
8. Membantu terapi kejiwaan korban khususnya anak-anak, dapat dilakukan
dengan memodifikasi lingkungan misal dengan terapi bermain.
9. Memfasilitasi konseling dan terapi kejiwaan lainnya oleh para psikolog dan
psikiater
10. Konsultasikan

bersama

supervisi

setempat

mengenai

pemeriksaan

kesehatan dan kebutuhan masyarakat yang tidak mengungsi.

3.4

Peran Perawat Dalam Fase Postimpact


Bencana tentu memberikan bekas khusus bagi keadaan fisik, sosial, dan

psikologis korban. Selama masa perbaikan perawat membantu masyarakat untuk


kembali pada kehidupan normal. Beberapa penyakit dan kondisi fisik mungkin
memerlukan jangka waktu yang lama untuk normal kembali bahkan terdapat
keadaan dimana kecacatan terjadi.
3.5

Kegiatan Pra-Bencana (Pre Disaster) Kebakaran


Upaya penanganan yang dapat dilaksanakan sebagai bentuk dari kegiatan
antisipasi sebelum terjadinya bencana kebakaran hutan ini. Adapun beberapa
langkah atau tindakan yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan pra
bencana (pre disaster) sebagai berikut :
1. Menyiapkan peralatan kesehatan di daerah rawan kebakaran
2. Mengaktifkkan semua peralatan pengukur debu di daerah rawan kebakaran
3. Menyediakan waduk air di daerah rawan kebakaran
4. Membuat parit api untuk mencegah meluasnya kebakaran

31

5. Mengembangkan partisipasi massyarakat di kawasan rawan kebakaran,


seperti :
a.

Pembentukan organisasi pengendalian kebakaran hutan/lahan

b.

Membuat peta kerawanan kebakaran

c.

Penyiapan regu pemadam

d.

Penentuan lokasi Pos Pengamatan

e.

Membangun manara pengawas

f.

Inventarisasi lokasi titik titik api

g.

Berkoordinasi dengan instansi pengamat cuaca dan iklim

h.

Simpan senter dan radio portabel untuk mengantisipasi mati listrik

i.

Tidak membuang puntung rokok sembarangan

j.

Berladang secara bergiliran dan senantiasa dipantau

k.

Peladang hanya membakar lahan yang benar benar kering

6. Menentukan

tingkat

siaga

dan

tindakan

pengendalian

kebakaran

hutan/lahan seperti pada tingakatan berikut :


a. Normal

Memastikan semua peralatan pemadam siap digunakan

Pelaksanaan program penyadaran untuk pencegahan hutan atau lahan

Melakukan kegiatan pelatihan penyegaran untuk staff pemadam


kebakaran

Memonitor, mengevaluasi dan mengelola seluruh informasi dan laporan


mengenai kebakaran hutan dari kabupaten atau kota.

b. Siaga III
Patroli atau deteksi taktis bila diperlukan, tergantung pada kondisi lokal
Memastikan semua peralatan dan personil pemadam siap digunakan
Melaksanakan sosialisasi atau kampanye atau penyuluhan pada daerah
rawan kebakaran hutan/lahan
Mempersiapkan

posko

kebakaran

hutan

dan

lahan

serta

menyebarluaskan nomor telepon faksimili dan daftar nama petugas


(koordinator) yang dapat dihubungi di masing masing daerah.

32

c. Siaga II
Melakukan patroli dan deteksi lapangan minimal 5 kali per minggu
Meningkatkan jumlah peralatan pemadam kebakaran dan personil yang
ditugaskan di lokasi kebakaran
Memfokuskan program pencegahan kebakaran pada daerah yang
memiliki tingkat resiko kebakaran tertinggi
Melakukan sosialisasi kampanye/penyuluhan penyebarluasan informasi
bahaya kebakaran hutan dan lahan melalui media cetak dan media
elektronik
Melakukan koordinasi dan pemadaman hutan/lahan secara terpadu
d. Siaga I
Melakukan patroli/deteksi lapangan setiap hari per minggu
Menyiagakan posko kebakaran dan lahan selama 24 jam per hari
Melakukan

pemadaman

kebakaran

hutan

menggunakan

seluruh

peralatan dan personil


Mengerahkan

seluruh

personil,

staf

pendukung

dan

melibatkan

masyarakat
Meningkatkan koordinasi dan mobilitas seluruh sumber daya secara
terpadu
Pemimpin daerah mengeluarkan larangan pembakaran saat penyiapan
lahan.
Kegiatan pra bencana (pre disaster) tersebut dapat dilakukan baik secara
bertahap maupun secara serentak. Sehingga dapat terwujud berbagai
program dan kegiatan penanggulangan bencana kebakaran hutan, setidaknya
dapat mengurangi korban yang ada.

3.6

Kegiatan Tanggap Bencana (Disaster Response)


Setelah dilakukan kegiatan Pra Bencana (Pre Disater) seperti yang
telah disebutakan di atas, diharapkan dapat meminimalkan dampak yang
terjadi pada saat benar-benar/ketika terjadi bencana. Kegiatan yang dapat
dilaksanakan pada saat terjadi bencana kebakaran hutan merupakan suatu
bentuk kegiatan Tanggap Bencana (Disaster Response). Adapun beberapa

33

kegiatan yang dapat dilakukan pada saat terjadi bencana kebakaran hutan,
sebagai berikut :
1. Tindakan Warga Mengamankan Rumah Sesaat Kebakaran Hutan
Pelaksanaan tindakan tersebut dapat dilakukan dengan standar sebagai
berikut:
a. Gunakan masker bila udara telah berasap
b. Mengatur lokasi tumpukan kayu cukup jauh dari rumah
c. Tutup spasi-spasi di bawah pintu dengan handu/selimut basah
d. Tinggal di dalam rumah
e. Hidupkan air conditioner
f.

Hindari menumpuk potongan poho, rumput dan sejenisnya di


belakang rumah, kebun, serta semak-semak.

g. Pastikan selang air kebun cukup panjang dan mencapai pinggir jalan
h. Tanam jenis pohon yang tidak pernah terbakar
i.

Bila mampu, belilah pompa air yang mudah dibawa untuk menyedot
air dari kolam atau tangki air.

j.

Pahami cara menghubungi unit pemadam kebakaran terdekat

k. Pastikan alat pemadam api berfungsi dengan baik.


l.

Meliburkan sekolah, kantor, serta pusat kegiatan lainnya

2. Tindakan Memadamkan Api Saat Terjadi Kebakaran


Pelaksanaan tindakan ini dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan
sebagai berikut:
a. Mengisolasi api agar tidak merembet di daerah lain. Teknik sekat
bakar ini bisa dilakukan dengan peralatan sederhana dan petugas
tidak terlatih. Teknik ini berhasil jika api tidak terlalu besar dan angin
tidak kencang.
b. Secepat mungkin menyemprot dengan alat pemadam sederhana,
misal pomp punggung atau pompa portable (mudah dipindah-pindah)
c. Memuat sekat bakar menggunakan alat berat/buldoser di kawasan
semak.
d. Mengerahkan pesawat pembom air
e. Membuat hujan buatan.
34

3. Tindakan Umum Warga Saat Terjadi Kebakaran Hutan


Pelaksanaan tindakan umum ini dapat dilakukan berbagai bentuk
penanggulangan sebagai berikut:
a. Jangan masuk ke semak-semak jika ada asap dan api di daerah itu
b. Padamkan api kecil dengan selang air sekop dan ember logam
c. Tetap tenang dan melaporkan ke instansi berwenang
d. Periksalah jika tetangga kaum lanjut perlu bantuan
e. Penentuan jalur evakuasi penduduk lokasi kebakaran
f.

Jika anda memilih untuk mengungsi sendiri lakukanlah jauh


sebelumnya

g. Jika diperintah petugas unutk mengungsu anda harus patuhi, kemasi


dokumen/barang/binatang berharga
h. Memakai kemeja lengan panjang dan alas kaki kuat
i.

Tutup kaca kendaraan selama perjalanan

j.

Pakai masker khusus


Pelaksanaan kegiatan tanggap bencana (disaster response) ini
hendaknya dilaksanakan dengan cepat, cermat, dan tepat sasaran.
Dalam pelaksanaanya juga membutuhkan bantuan dari berbagai
instansi, lapisan masyarakat, serta orang lain atau daerah lain
sebagai bentuk gotong royong dalam mengahadapi sebuah musibah.
Sehingga dapat diperoleh hasil penanganan yang optimal dapan
dapat mengurangi jumlah koraban jiwa,serta kerugian dari berbagai
aspek lainnya.

3.7 Kegiatan Pasca Bencana (Post Disaster)


Setelah kegiatan tanggap bencana (Disaster Renponse) dilaksanakan
secara baik, dan bencana sudah berangsur-berangsur pulih. Maka dilakukan
tindakan tindakan pasca bencana (post disaster) yang digunakan media
pemulihan dampak yang ditimbulkan dari kebakaran hutan tersebut. Adapun
beberapa kegiatan pasca bencana (Post Disaster) yang dapat dilakujan sebgai
berikut:
1. Menginventarisasikan kerugian
2. Menganalisis program pemulihan akibat dampak kebakaran hutan
35

3. Menginventarisasi penyakit yang belum sembuh, dan memerlukan


perawatan, pengobatan, dan pengamatan terus-menerus.

36

BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, kami dapat menarik beberapa
kesimpulan antara lain sebagai berikut:
Menurut Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana, dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana.
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan yang disebabkan, baik oleh faktor
alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda,
dan dampak psikologis.
Dimana bencana diklasifikasikan menjadi dua, yaitu natural disaster dan
manmade disaster. Salah satu dari natural disaster adalah kebakaran hutan.
Kebakaran hutan memiliki dampak yang sangat besar, seperti: rusaknya
keadaan tanah, flora dan fauna di sekitarnya, mikroorganisame dalam tanah,
dan bahkan bagi kesehatan masyarakat di sekitarnya.
4.2 SARAN
Karena begitu besarnya dampak dari kebakaran hutan, sebaiknya perlu
lagi disosialisasikan kepada masyarakat bagaimana cara pencegahan, dan
penanganan bila terjadi bencana ini. Dan perlu lagi pembelajaran serta
pelatihan bagi perawat untuk mempersiapkan diri dalam menangani dampak
yang muncul dan akan muncul bila terjadi bencana ini.

37

DAFTAR PUSTAKA
Fajar.2008.Konsep Bencana Kebakaran Serta Pengembangan Variabel dan Tolok
Ukur

Kebakaran

di

Kawasan

Pemukiman

Padat.

http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/673/jbptitbpp-gdl-fajaresthy-33603-3-2008ta2.pdf. Diakses pada tanggal 26 September 2014, pukul 16.00 WIB.


http://www.nordregio.se/Global/EJSD/Refereed%20articles/refereed12.pdf
Hanselindo.Bahaya Dampak Kebakaran. http://pemadamapi.wordpress.com/definisipengertian-kebakaran/bahaya-dampak-kebakaran/.

Diakses

tanggal

26

September 2014, pukul 16.05 WIB.


BPBD.Kebakaran.http://bpbd.sukoharjokab.go.id/tips-siaga-bencana/kebakaran/.
Diakses tanggal 26 September 2014, pukul 16.10 WIB.
Arifin,

Anwar.

Pedoman

Penanggulangan

Bahaya

Kebakaran.http://www.slideshare.net/B210790/38403700modulpedomanpenanggulanganbahayakebakaran.

Diakses

tanggal

26

September 2014, pukul 17.00 WIB.

38