Anda di halaman 1dari 27

KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH


DAN ANTAR WILAYAH
BUKU III RPJMN 2015-2019

Oleh:
DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN REGIONAL DAN OTDA

Jakarta, November 2014

PERAN WILAYAH DALAM


PEMBENTUKAN PDB NASIONAL 1987-2013 (persen)
(Atas dasar Harga Berlaku)
PULAU

1987

1983

1988

1993

1998

2003

2008

2013

Sumatera

27,6

28,7

24,9

22,8

22,0

22,4

22,9

23,8

Jawa

50,6

53,8

57,4

58,6

58,0

60,0

57,9

58,0

Kalimantan

10,2

8,7

8,9

9,2

9,9

8,9

10,4

8,7

Sulawesi

5,5

4,2

4,1

4,1

4,6

4,0

4,3

4,8

Bali dan Nusa Tenggara

3,1

2,8

3,0

3,3

2,9

2,8

2,5

2,5

Maluku dan Papua

2,9

1,8

1,7

2,0

2,5

1,8

2,0

2,2

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

Total
Sumber: BPS

Pergeseran peran wilayah dalam pembentukan PDB Nasional masih relatif kecil
atau bahkan tidak ada perubahan (stagnant)
Slide - 2

PERAN WILAYAH DALAM


PEMBENTUKAN PDB NASIONAL 1987-2013 (persen)
Pulau

1987

1983

1988

1993

1998

2003

2008

2013

Jawa dan Sumatera

78,2

82,5

82,3

81,4

80

82,4

80,8

81,8

Kalimantan dan
Sulawesi

15,7

12,9

13

13,3

14,5

12,9

14,7

13,5

Bali dan Nusa Tenggara

3,1

2,8

3,0

3,3

2,9

2,8

2,5

2,5

Maluku dan Papua

2,9

1,8

1,7

2,0

2,5

1,8

2,0

2,2

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

100,0

Jumlah
Sumber: BPS

Peran Wilayah Jawa dan Sumatera dalam pembentukan PDB Nasional masih dominan,
berkisar antara 80 82 %

Slide - 3

REALISASI INVESTASI PMA


(Nilai Investasi dalam US$)

2010-2014
2010
No.

2011

2012

2013

2014

TOTAL

Wilayah
Proyek

Sumatera

Jawa

Investasi

Proyek

2.076,56

Proyek

Proyek

Investasi

Proyek

Investasi

Proyek

Investasi

3.395,35

990

2915.21

3.892

12.863,54

13,02

11,54

6.059 17.326,38

5443

11619.88

18.914

66.429,49

63,27

59,58

11.498,77

Bali-Nusa
Tenggara

372

502,66

474

952,65

477

1.126,55

932

888,87

673

1675.63

2.928

5.146,36

9,80

4,62

Kalimantan

254

2.011,45

331

1.918,85

355

3.208,65

849

2.773,40

645

3675.55

2.434

13.587,90

8,14

12,19

Sulawesi

80

859,10

146

715,26

187

1.507,03

343

1.498,16

359

1569.05

1.115

6.148,60

3,73

5,51

Maluku

10

248,89

31

141,54

19

98,77

94

321,23

71

97.09

225

907,52

0,75

0,81

Papua

28

346,77

61

1.345,14

39

1.234,47

154

2.414,16

102

1081.60

384

6.422,14

1,28

5,76

3.076

16.214,77

9.612 28.617,55

8283

100,00

100,00

2.807 13.659,92

4.579 24.564,68

1.181

Investasi

1.973

4.342 19.474,54

3.729,29

Proyek

747,13

2.632 12.324,54

695

Investasi

359

Jumlah

667

Investasi

2.2634.01 29.892 111.505,55

Sumber: BKPM, 2014 s/d Q 3

REALISAI INVESTASI PMA 2010-2014 MASIH BERORIENTASI KE WILAYAH JAWA


(berkisar hampir 60%)
Slide - 4

REALISASI INVESTASI PMDN


(Nilai Investasi dalam miliar rupiah)

2010-2014
2010
No.

2011

2012

2013

2014

TOTAL

Wilayah
Proyek

Investasi

Proyek

Investasi

Proyek

Investasi

Proyek

Investasi

Proyek

Investasi

Proyek

Investasi

Proyek

Investasi

Sumatera

222

4.224,20

370

16.334,26

287

14.256,24

522

22.913,76

107

9.321,30

1508

67.049,76

30,46

16,82

Jawa

397

35.140,34

601

37.176,19

636

52.692,94

1.085

66.495,67

276

21.107,10

1911 212.612,24

38,61

53,35

Bali-Nusa
Tenggara

39

2.119,27

32

356,74

29

3.167,76

4.400,25

10

53,96

181

10.097,98

3,66

2,53

Kalimantan

149

14.575,58

198

13.467,39

183

16.739,69

305

28.713,61

64

7.703,90

899

81.200,17

18,16

20,37

Sulawesi

58

4.337,57

82

7.227,52

59

4.900,99

101

3.624,19

36

3.091,58

336

23.181,85

6,79

5,82

Maluku

0,00

13,57

323,89

1.114,91

53,71

18

1.506,08

0,36

0,38

Papua

229,31

26

1.425,02

12

100,51

38

888,21

13

242,80

97

2.885,85

1,96

0,72

875

60.626,27

1.313

76.000,69

1.210

92.182,02

1.045

128.150,60

507

41.574,35

4.950 398.533,93 100,00

100,00

Jumlah

71

Sumber: BKPM, 2014 s/d Q3

REALISAI INVESTASI PMDN 2010-2014 MASIH BERORIENTASI KE WILAYAH JAWA


(berkisar 54%)
Slide - 5

SASARAN DAN INDIKATOR KINERJA


PENGEMBANGAN WILAYAH 2015-2019

No.

Wilayah

Target
Growth
2015-2019
(%/th)

Peran PDRB
Wilayah (%)
2013

Peran PDRB
Wilayah (%)
2019

Kebutuhan
Investasi
(Trilyun Rp)

Kebutuhan
Investasi
Infrastruktur
(Triyun Rp)

Sumatera

8,1 8,6

23,8

25,6

6.020 6.403

766 785

Jawa

5,7 6,2

58,0

53,0

10.597 11.369

1.651 1.692

Bali Nustra

8,4 8,9

2,5

3,0

2.444 2.597

304 311

Kalimantan

9,8 10,3

8,7

10,2

778 824

88 90

Sulawesi

9,0 9,5

4,8

5,4

1.340 1.422

160 163

Maluku Papua

11,4 12,0

2,2

2,8

767 818

78 80

7,0 7,5

100,0

100,0

21.946 23.432

3.046 3.121

Nasional

Keterangan:

Asumsi target pertumbuhan PDB Nasional 7,0 7,5 %/tahun

Kebutuhan investasi diestimasi dengan asumsi ICOR 3 dan laju depresiasi kapital 5 %

kebutuhan biaya infrastruktur dihitung dengan porsi 5 % dari PDRB


Slide - 6

SASARAN/TARGET PERAN PDRB PER WILAYAH


2015-2019

No.

Wilayah

Peran PDRB Wilayah (%)


Tahun 2013

Peran PDRB Wilayah (%)


Tahun 2019

Sumatera

23,8

24.6

Jawa

58,0

55,1

Kalimantan

8,7

9,6

Sulawesi

4,8

5,2

Bali Nustra

2,5

2,6

Maluku Papua

2,2

2,9

100,0

100,0

Nasional

Keterangan :
Asumsi target pertumbuhan PDB Nasional 5,8-8% tahun 2015-2019
Perhitungan proyeksi masih menggunakan atas dasar harga konstan tahun 2000.
Perhitungan proyeksi dapat berubah dengan adanya perubahan harga konstan tahun dasar 2010.
Slide - 7

ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH


ISU UTAMA PENGEMBANGAN WILAYAH:
Masih besarnya kesenjangan antar wilayah, khususnya kesenjangan
pembangunan antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur
Indonesia (KTI).
Hal ini tercermin dari kontribusi PDRB terhadap PDB, yang mana selama 30
tahun (1983-2013), kontribusi PDRB KBI sangat dominan dan tidak pernah
berkurang dari 80 persen terhadap PDB.

ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH:


Mendorong transformasi dan akselerasi pembangunan wilayah KTI,
yaitu Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua;
Tetap menjaga momentum pertumbuhan di Wilayah Jawa-Bali dan Sumatera.

Slide - 8

MEMBANGUN INDONESIA DARI PINGGIRAN


DENGAN MEMPERKUAT DAERAH-DAERAH DAN DESa
(Agenda 3 dan 6 NAWA CITA)

1. PEMBANGUNAN KAWASAN STRATEGIS (PUSATPUSAT PERTUMBUHAN EKONOMI DI LUAR


JAWA )
2. PEMBANGUNAN KAWASAN PERKOTAAN
3. PEMBANGUNAN KAWASAN PERBATASAN
4. PEMBANGUNAN DESA
5. PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN
PULAU- PULAU TERPENCIL
6. PENGEMBANGAN TATA KELOLA
PEMERINTAHAN DAERAH DAN OTONOMI
DAERAH
Slide - 9

SKETSA HIRARKI PUSAT-PUSAT PERTUMBUHAN


DAN HINTERLAND

Slide - 10

PEMBANGUNAN PUSAT-PUSAT PERTUMBUHAN EKONOMI


DI LUAR JAWA (Agenda 6 NAWA CITA)
1. Percepatan Industrialisasi/hilirisasi pengolahan SDA (a) menciptakan nilai
tambah; (b) menciptakan kesempatan kerja baru, terutama industri manufaktur, industri
pangan, industri maritim, dan pariwisa.

Membangun 10 Kawasan Industri Baru di Luar Jawa.


Membangun 22 Sentra Industri Kecil Menengah (IKM)

Pembangunan 100 Sentra Industri Perikanan

2. Percepatan pembangunan konektivitas/infrastruktur;

Membangun 10 bandara baru dan merenovasi yg lama


Membangun infrastruktur jalan baru sepanjang 2000 Km
Membangun 24 pelabuhan baru, merenovasi yg lama, dan Terminal logistik tol laut
Pengadaan 10 armada ferry baru untuk penyeberangan
Pendirian Bank Infrastruktur dan Bank Tanah mempercepat penyediaan lahan

3. Pengembangan SDM dan Iptek;

Membangun BLK-BLK, SMK-SMK, Politeknik


Membangun Science dan Techno Park di 34 provinsi dan 100 techno park di Kabupaten/Kota berbasis
pertanian dan perikanan rakyat

4. Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP): memperkuat kinerja pemerintah lokal untuk
membangun dan memelihara persepsi positif investor Target proses perijinan maks 15
hari

5. Pemberian insentif fiskal dan non fiskal.


Slide - 11

PEMBANGUNAN PUSAT-PUSAT PERTUMBUHAN EKONOMI


DI LUAR JAWA (Agenda 6 NAWA CITA)
Kemen Perindustrian
Kemen Agraria dan TTR
Pemerintah Daerah

Kemen Ristek-Dikti
Kemen Pertanian

* Penyediaan
lahan
kawasan
industri
* SDA

Science dan
Techno
Park

konekti
vitas

Kemen PU/Pera
Kemen
Perhubungan
Kemen ESDM

Hilirisasi/
industrialia
si di luar
jawa

Kemen Dik-Nas
Kemen Tenaga Kerja

Penyediaan
Tenaga
Terampil
(BLK, SMK,
Politeknik)

BKPM
BKPD
Pemda
Kemendagri

Insentif fiskal
dan non
fiskal

Kemen Keuangan
Kemen
Perindustrian

ikim investasi
PTSP
* Perda
bermasalah

Slide - 12

FAKTOR PENGHAMBAT PENGEMBANGAN BISNIS


YANG PERLU DIATASI BERDASARKAN PERINGKAT

Peringkat

Indikator

Skor

Birokrasi dan Izin

1.377

Keterbatasan Infrastruktur

1.339

Kelengkapan Energi

1.214

Keterbatasan SDM

1.173

Kestabilan Politik

1.171

Keterbatasan Pembiayaan

1.095

Sumber : Survei pelaku usaha BIIU; diolah Bisnis Indonesia,2014

Slide - 13

FAKTOR PEMBIAYAAN ATAU PENDANAAN EKSPANSI


BUKAN JADI ISU SENTRAL BAGI KALANGAN PEMBISNIS

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hingga Juli 2014 :


Fasilitas kredit bank kepada pihak ketiga
yang belum ditarik sebesar Rp. 1.399,16 triliun
Nilai itu terdiri dari :
- fasilitas kredit belum ditarik (yang sudah disepakati
atau commited) sebesar Rp. 306,98 triliun
- sisanya uncommited sebesar Rp. 755,16 triliun

Slide - 14

13 KAWASAN INDUSTRI 2015-2019


(Kementerian Perindustrian)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.

Kawasan Industri Petrokimia berbasis gas di teluk Bintuni, Papua Barat


Kawasan Industri Bitung, Sulawesi Utara
Kawasan Industri Palu, Sulawesi Tengah
Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah
Kawasan Industri Konawe, Sulawesi Tengah
Kawasan Industri Buli-Halmahera Timur, Maluku Utara
Kawasan Industri Bantaeng, Sulawesi Selatan
Kawasan Industri Batulicin, Kalimantan Selatan
Kawasan Industri Ketapang, Kalimantan Barat
Kawasan Industri Landak, Kalimantan Barat
Kawasan Industri Kuala Tanjung, Sumatera Utara
Kawasan Industri Sei Mangke, Sumatera Utara
Kawasan Industri Tanggamus, Lampung
Slide - 15

SEBARAN 13 KAWASAN INDUSTRI PRIORITAS


WILAYAH LUAR JAWA, 2015-2019
Kawasan Industri Kuala
Tanjung

Kawasan Industri Landak

Kawasan Industri Palu

Kawasan Industri
Teluk Bitung

Kawasan Industri Buli

Industri Karet, CPO

Industri Rotan, Karet,


Kakao (agro) dan Smelter

Industri Agro dan Logistik

Industri Smelter Ferronikel,


Stainless steel, dan
downstream stainless steel

Industri Aluminium , CPO

Kawasan Industri Ketapang


Industri Alumina

Kawasan Industri Batu Licin


Industri Besi Baja

Kawasan Industri
Teluk Bintuni
Industri Migas dan Pupuk

Kawasan Industri Sei


Mangkei
Industri Pengolahan CPO
Kawasan Industri
Morowali
Kawasan Industri Tanggamus

Kawasan Industri Bantaeng

Industri Maritim dan


Logistik

Industri Smelter Ferronikel,


Stainless steel, dan
downstream stainless steel

Industri Smelter Ferronikel,


Stainless steel, dan
downstream stainless steel

Kawasan Industri Konawe


Industri Smelter Ferronikel,
Stainless steel, dan
downstream stainless steel
Slide - 16

KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
DI 13 KAWASAN INDUSTRI PRIORITAS (1/3)
No.

Kawasan Industri

Kawasan industri Teluk Bintuni


- Luas
: 2.344 ha
- Fokus : Industri pupuk dan petrokimia
- Kebutuhan TK : + 51.500

Kebutuhan Infrastruktur

Kawasan industri Bitung (status KEK Bitung)


- Luas
: 534 ha

- Fokus : Industri agro dan logistik

- Kebutuhan TK : + 900.000

Kawasan industri Palu (status KEK Palu)


- Luas
: 1.500 hs
- Fokus : industri rotan dan agro industri
lainnya
- Kebutuhan TK : + 165.000

kawasan industri Morowari


- Luas
: 1.200 ha
- Fokus
: industri ferronikel
- Kebutuhan TK : + 80.000

PLTU 300 mw
Akses jalan sepanjang 25 km dari jalan lintas provinsi ke kawasan industri
Pelabuhan trestle sepanjang 5 km dengan kapasitas 50.000 dwt
Pembangunan perumahan untuk pekerja
Pembangunan rumah sakit untuk pekerja
Sekolah kejuruan dan akademi komunitas
Penyelesaian pembangunan PLT panas bumi Lahendong V daya 1 x 20 mw
Penyelesaian pembangunan PLT uap Kema daya 2 x 25 mw
Penyelesaian pembangunan PLT gas Likupang daya 3 x 25 mw
Penyelesaian pembangunan gardu induk Paniki 150 kv dan Tanjung Merah 150 kv
Peningkatan kapasitas sumber air Tendeki 1.259,05 liter/detik
Peningkatan fisik ruas jalan nasiolan Girian Kema sepajang 5 km
Pembangunan jalan nasional akses ke tol Manado Bitung dari pintu tol km 28,5 ke KEK
sepanjang 5 km
Peningkatan jalan tol Bitung Minut Manado sepanjang 43 km
Pengembangan reklamasi seluas 247 ha
Pengembangan perumahan untuk pekerja
Pembangunan politeknik kelapa dan perikanan
Jalan layang nasional
Jalan lingkar luar (moda transportasi barang) 4,5 km
Peningkatan pelabuhan Pantoloan dan terminal peti kemas
Gudang logistik
Gedung trading center
Balai latihan kerja 3 in 1
Pembangkit listrik tenaga batubara 250 350 mw
Pembuatan transmisi listrik ke lokasi kawasan industri
Pembuatan situ/waduk 1.000 1.200 liter/detik
Pelebaran dan peningkatan jalan dari Bungku ke lokasi kawasan industri (40 km)
Pelebaran dan peningkatan jalan dari bandara ke lokasi kawasan industrik (5 km)
Dukungan dari Kementerian Perhubungan untuk memperlancar perizinan pelabuhan dan bandara
Pembangunan perumahan untuk pekerja
Pembangunan rumah sakit untuk pekerja
Pendirian politeknik pertambangan dan industri logam di kawasan industri Morowali
Pendirian pusat inovasi industri (berbasis nikel)
Slide - 17

KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
DI 13 KAWASAN INDUSTRI PRIORITAS (2/3)
No.

Kawasan Industri

Kebutuhan Infrastruktur

Kawasan industri Konawe


Luas
: 5.500 ha
Fokus
: Industri ferronikel
Kebutuhan TK : + 18.200

Pembangunan jembatan di dalam kawasan


Komunikasi 1.100 sst
Pembangunan perumahan untuk pekerja
Pembangunan rumah sakit untuk pekerja

Kawasan Industri Buli, Haltim


Luas
: 300 ha
Fokus
: industri ferronikel
Kebutuhan TK : + 10.000

Kawasan industri Bantaeng


Luas
: 3.000 ha
Fokus
: industri ferronikel
Kebutuhan TK : + 163.200

Pembangunan pembangkit listrik (PLTU) 2 x 110 mw


Peningkatan kualitas jalan dari Maba ke Buli (alternatif jalan provinsi) kurang lebih 8 km
Pembangunan jalan akses pelabuhan pabrik 1 km
Pembangunan jalan akses pabrik town site 2 km
Pembangunan pelabuhan : 2 jeti dengan kapasitas masing-masing 14.000 dwt dan 35.000 dwt
sepanjang 2,5 km
Pembangunan pelabuhan dapat menampung kapal dengan kapasitas 10.000 20.000 dwt
Pembangunan perumahan untuk pekerja
Pembangunan rumah sakit untuk pekerja

Kawasan industri Batulicin


Luas
: 530 ha
Fokus
: industri besi baja
Kebutuhan TK : + 10.000

Jaringan jalan alternatif ke pelabuhan sepanjang 15 km dari jalan lingkar


Pelabuhan dermaga dengan jeti 750 m kedalaman 22 m

Kawasan industri Ketapang


Luas
: 1.000 ha
Fokus
: industri alumina
Kebutuhan TK : + 10.000

Peningkatan kapasitas jalan provinsi di sekitar kawasan


Peningkatan akses jalan industri menuju pelabuhan sekitar 20 km
Pengembangan pelabuhan sebagai akses masuk ke kawasan dan untuk bongkar muat industri

Jaringan listrik dari jalan raya menuju kawasan industri 2 km dan gardu induk
Pembuatan waduk (embung) pengolahan kebutuhan air industri dari sungai Mandor
Jalan tembus dari kawasan industri menuju ke palabuhan Pontianak 34 km

10 Kawasan industri Landak


Luas
: 306 ha
Fokus
: Industri pengolahan karet
Kebutuhan TK : 33.600

Slide - 18

KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR
DI 13 KAWASAN INDUSTRI PRIORITAS (3/3)
No.

Kawasan Industri

Kebutuhan Infrastruktur

11 Kawasan industri Kuala Tanjung


Luas
: 1.000 ha
Fokus
: Industri alumina
Kebutuhan TK : + 113.250

Jalan utama (volume 97.125 m2)


Jalan lingkungan (volume 271.950 m2)
Pembangunan jalur KA Bandar Tinggi Pantibalan Kuala Tanjung (22,15 km)

12 Kawasan industri Sei Mangkei


Luas
: 2.002 ha
Fokus
: Industri pengolahan CPO
Kebutuhan TK : +83.300

Pembangunan jalur KA KEK Sei Mangkei Sepur Simpang (2,9 km)


Peningkatan rel jalur KA Gunung Bayu Perlanaan (4,15 km)
Penambahan kelengkapan mesin dan peralatan pusat inovasi

13 Kawasan industri Tanggamus


Luas
: 3.500 ha
Fokus
: Industri maritim
Kebutuhan TK : + 104.800

Pembangunan energi listrik power plant


Peningkatan jalan menuju kawasan industri maritim (lebar 8 m, panjang 10 km)
Peningkatan pengembangan pelabuhan jeti di kawasan industri
Pebmangunan balai latihan kerja

Slide - 19

DISTRIBUSI KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK)


2015-2019
KEK SEI MANGKEI
Kabupaten Simalungun,
Sumut
Industri pengolahan
Kelapa Sawit
Industri pengolahan karet
Pupuk & aneka industri
Logistik
Pariwisata

KEK Maloy Batuta Trans


Kalmantan (MBTK)
Kabupaten Kutai Timur,
Kaltim
Industri Kelapa Sawit
Logistik

KEK PALU
Kota Palu, Sulawesi Tengah
Industri Manufaktur
Industri Agro berbasis kakao,
karet, rumput laut, rotan
Industri pengolahan Nikel, Biji
Besi, Emas
Logistik

Sumber: Kemenko Perekonomian (2014)

Pariwisata
Industri pengolahan
perikanan
Bisnis & logistik

KEK BITUNG
Kota Bitung, Sulawesi Utara

KEK TANJUNG API-API


Kab. Banyuasin, Sumatera
Selatan
Industri Pengolahan Karet
Industri Pengolahan Sawit
Industri Petrokimia

KEK MOROTAI
Kab. Pulau Morotai,
Maluku Utara

KEK TANJUNG LESUNG


Kab. Pandeglang, Banten
Pariwisata

KEK MANDALIKA
Kab. Lombok Tengah, NTB
Pariwisata

Industri Pengolahan Perikanan


Industri agro berbasis kelapa
dan tanaman obat
Aneka industri
Logistik
Slide - 20

PERKIRAAN KEBUTUHAN INFRASTRUKTUR WILAYAH


Untuk mendukung Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus
(Rp Miliar)
No

KEK

Sei Mangkei

Tanjung
Lesung

Palu

Bitung

Jalan
662

Rel KA
624

Pelabuhan Listrik
679

136

Gas
2.010

4.804 *)

Air
Bersih

Bandara

35
280

Total
4.146

2.158

7.242

1.785

250

39

463

2.537

4.550 *)

1.115 **)

26

15

5.706

Morotai

353

204

22

84

Mandalika

102

20

2.067

2.189

Tanjung Apiapi

288

6.375

771 5.182

1.343

13.959

12.544

6.999

3.019 5.424

TOTAL
Rata-rata
Investasi

2.010

3.022

150

2.308

813

35.326
5.047

*) Termasuk Pembangunan Jalan Tol


**) Termasuk pembagunan Pelabuhan hub Internasional
Slide - 21

PEMBANGUNAN KAWASAN PERKOTAAN


DI LUAR JAWA

Percepatan Pembangunan Kawasan Metropolitan Baru (PKN);


Kawasan perkotaan Padang dan sekitarnya
Kawasan perkotaan Palembang dan sekitarnya,
Kawasan perkotaan Banjarmasin dan sekitarnya
Kawasan perkotaan Manado dan sekitarnya,
Kawasan perkotaan Mataram dan sekitarnya

Percepatan Pembangunan 20 kota otonom berukuran sedang di luar


Jawa sebagai penyangga (buffer) urbanisasi.

Mengembangkan 39 pusat pertumbuhan baru tingkat lokal sebagai


Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) atau Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang
mendorong terwujudnya keterkaitan kota dan desa.

Slide - 22

PEMBANGUNAN KAWASAN PERBATASAN


(Penguatan Keamanan dan Peningkatan Kesejahteraan)

Penguatan Keamanan Perbatasan mencegah illegal logging, illegal


fishing, human trafficking, illegal drugs trade.
Penguatan pelayanan imigrasi (custom, quarantine, sequrity) terpadu di
PPLB (Pos Pemeriksaan Lintas Batas)
Penegasan batas wilayah negara di darat dan di laut (pra investigation,
refixation, maintanance)

Peningkatan Kesejahteraan masyarakat mengurangi kesenjangan


(Gap) tingkat kesejahteraan masyarakat lokal dg tingkat kesejahteraan
masyarakat negara tetangga;
Pengembangan perekonomian masyarakat lokal
Pemenuhan prasarana dan sarana dasar rakyat: Pendidikan dan
kesehatan
Membangun aksesibilitas transportasi darat, sungai, laut, dan udara
melalui pelayanan perintisan

Slide - 23

PEMBANGUNAN DESA
(Menuju Desa Berdaulat dan Mandiri)
Mengawal Imlementasi UU Desa secara sistematis, konsisten, dan
berkelanjutan dengan fasilitasi, supervisi dan pendampingan.
Memastikan berbagai perangkat peraturan pelaksanaan UU Desa sejalan
dengan substansi, jiwa, dan semangat UU Desa
Menjalankan kebijakan baru untuk membebaskan desa yang berada di
kantong-kantong hutan dan perkebunan
Memastikan redistribusi negara melalui: dana desa (APBN), Alokasi Dana
Desa (ADD/APBD), dan redistribusi lahan secara efektif
Membuka akses dan hak desa untuk mengelola sumber daya alam
berskala lokal (tambang, hutan, perkebunan, perikanan) untuk
kemakmuran rakyat.
Pengembangan kapasitas dan pendampingan desa secara berkelanjutan.
Menjalankan program-program investasi pembangunan perdesaan
dengan pola share holding yang melibatkan desa dan warga desa
sebagai pemegang saham.
Slide - 24

PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL


DAN PULAU- PULAU TERPENCIL

Mengentaskan sekitar 75 Kabupaten tertinggal untuk menjadi daerah maju.


Pengembangan perekonomian masyarakat di daerah tertinggal secara
terpadu sesuai dengan karakteristik, posisi strategis, dan keterkaitan antar
kawasan;
Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk pelayanan publik dasar
di daerah tertinggal, terutama pada pemenuhan bidang pendidikan,
kesehatan, ekonomi, transportasi, air bersih, informasi, dan telekomunikasi;
Peningkatan konektivitas daerah tertinggal dengan kawasan strategis,
diprioritaskan pada ketersediaan sarana dan prasarana yang menunjang
pada peningkatan kinerja pembangunan ekonomi daerah.
Peningkatan kualitas dan kapasitas kelembagaan pemangku kepentingan
pembangunan daerah tertinggal di pusat maupun di daerah, mulai dari
integrasi, sinkronisasi, dan sinergi;

Slide - 25

PENGEMBANGAN TATA KELOLA


PEMERINTAHAN DAERAH DAN OTONOMI DAERAH
Peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintahan daerah, melalui: penerapan
implementasi desain besar penataan daerah, peningkatan kuantitas dan kualitas
pelaksanaan kerjasama antardaerah, peningkatan harmonisasi peraturan perundangan
pemerintah daerah dengan peraturan perundangan sektoral dan antar peraturan
pemerintah daerah; penataan kewenangan antarjenjang pemerintahan, penguatan
peran pemerintah provinsi sebagai wakil pemerintah pusat;
Penguatan kapasitas aparatur pemerintahan daerah, melalui: peningkatan sistem
pengelolaan kepegawaian di lingkungan pemerintah daerah, peningkatan kapasitas
DPRD, peningkatan sistem pelayanan publik pemerintah daerah, peningkatan
konsolidasi strategi implementasi kebijakan reformasi birokrasi pemerintah daerah;
Peningkatan kapasitas keuangan pemerintahan daerah, melalui: peningkatan local
taxing power, peningkatan potensi penerimaan daerah, peningkatan belanja modal
pembangunan, peningkatan implementasi penganggaran SPM yang berkualitas,
peningkatan kualitas penerapan anggaran berbasis kinerja, penataan arah kebijakan
dana transfer, penguatan mekanisme monitoring dan evaluasi dana transfer;
Penataan Daerah Otonom Baru untuk memperkuat kapasitas Pemerintah Daerah
dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui pelayanan publik dan memperkuat
demokrasi di tingkat lokal.
Penguatan demokrasi lokal, melalui: peningkatan Pilkada yang damai, efisien dan
bersih.
Slide - 26

TERIMA KASIH