Anda di halaman 1dari 19

FISIOLOGIS TIDUR

Pengertian Tidur
Menurut Guyton (1986), tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu
dapat dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai, atau juga dapat dikatakan sebagai
suatu keadaan tidak sadarkan diri yang relative, bukan hanya keadaan penuh ketenangan
tanpa kegiatan tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan ciri adanya
aktivitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapat perubahan proses
fisiologis, dan terjadi penurunan respons terhadap rangsangan dari luar.
Tidur bermanfaat untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, dan kesehatan.
Secara umum terdapat dua efek fisiologis tidur, pertama efek terhadap system saraf yang
diperkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan di antara berbagai
susunan saraf, kedua, efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi
organ dalam tubuh, mengingat terjadinya penurunan aktivitas organ-organ tubuh tersebut
selama tidur.
Proses tidur terdapat dua jenis tidur yaitu:
1) Tidur gelombang lambat (slow wave sleep)/NREM (non rapid eye movement)/tidur
nyenyak.
Ciri-ciri tidur nyenyak yaitu menyegarkan tanpa mimpi atau tidur dengan gelombang delta,
keadaan istirahat penuh, tekanan darah menurun, pergerakkan bola mata melambat, mimpi
berkurang serta metabolisme turun. Tahapan tidur jenis NREM:
a) Tahap I
Merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur, ciri-cirinya yaitu rileks, masih
sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola mata bergerak, frekuensi nadi dan
nafas menurun, yang berlangsung selama 5 menit.
b) Tahap II
Merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun, ciri-cirinya yaitu mata
pada umumnya menetap, denyut jantung dan frekuensi nafas menurun, temperature
tubuh menurun, metabolism menurun, berlangsung selama 10-15 menit.
c) Tahap III
Ciri-ciri tahap ini yaitu denyut nadi dan frekuensi nafas dan proses tubuh lainnya
lambat.
d) Tahap IV
Merupakan tahap tidur dalam, ciri-cirinya yaitu kecepatan jantung dan nafas turun,
jarang bergerak dan sulit dibangunkan, gerak bola mata cepat, sekresi lambung dan
tonus otot menurun
2) Tidur paradoks/ tidur REM (rapid eye movement)
Terjadi pada tidur malam selama 5-20 menit, rata-rata timbul 90 menit. Periode pertama
terjadi 80-100 menit. Ciri tidur REM yaitu:
a) Biasanya disertai dengan mimpi aktif
b) Lebih sulit dibangunkan
c) Tonus otot tertekan, menunjukkan inhibisi kuat proyeksi spinal atas system
pengaktivasi retikularis

d) Frekuensi jantung dan pernafasan menjadi tidak teratur


e) Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan tidak teratur, tekanan darah

meningkat atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat dan metabolisme meningkat.

MAR

Fisiologi Tidur
Pengertian Tidur
Tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar di mana individu dapat dibangunican oleh stimulus
atau sensori yang sesuai (Guvton, i [}B6;, atau juga dapat dikatakan sebagai suatu keadaan
tidak sadarkan diri yang rfaatif, bukar, hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiaran akam
tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan ciri adanya aktifitas yang
minim, memiliki kesadaran vang bervariasi, terdapat perubahan proses fisiologis, dan terjadi
respons terhadap rangsangan dari luar.
Fisiologi Tidur
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur yang melibatkan mekanisme serebral yang
secara bergant.ian agar mengaktifkan Pusat otak untuk dapat tidur dan bangun. Salah satu
aktifitas oleh sistem pengaktivasi retikularis yang merupakan sistem yang rnj- seturuh tingkatan
kegiatan susunan saraf pusat termasuk tidur. Pusat pengaturan aktivitas kewaspadaan dan
tidh_m tc_rletak dalam nesensefalon dan bagian atas pons. Selain itu RAS (dapat memberikan
rangsangan visual, pendengaran, nyeri. dan perabaan juga dapat menerima stimulasi dari
korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses dalam keadaaan sadar, neuron dalam
RaS akan melepaskan latekolamin seperti norepineprin.
Jenis-jenis Tidur
Berdasarkan proses tidur terdapat dua jenis tidur. Pertama, jenis tidur yang disebabkan
menurunnya kegiatan di dalam sistem pengaktivasi retikularis atau aebut dengan tidur
gelombang lambat karena gelombang otaknya sangat lambat
atau disebut tidur NREM. Kedua, jenis tidur yang disebabkan oleh penyaluran isyarat-isyarat
a.bnormra dari dalam otak meskipun kegiatan otak mungkin tidak tertekan secara disebut
dengan jenis tidur paradoks atau tidur REM (rapid eye moverment),
1. Tidur gelombang lambat (Slow wave sleep)
Jenis tidur ini dikenal dengan tidur yang dalam. Isrirahat penuh, dengan gelombang otak yang
lebih lambat, tidur nyenyak. Ciri-ciri tidur nyenyak adalah menyegarkan, tanpa mimpi atau tidur
dengan gelombang delta. Ciri lainnya berada dalam keadaan istirahat pemuh, tekanan darah
menurun, frekuensi napas menurun, pergerakan bola 1?zata melambat, mimpi berkurang,
metabolisme turun.
Perubahan selama proses NREM tampak melalui elektroensefalografi dengan mernperlihatkan
gelombang otak berada pada setiap tahap tidur NREN4, vaitu: pertama, kewaspadaan penuh
dengan gelombang beta yang berfrekuensi tinggi dan bervoltase rendah; kedua, istirohat tenang
dapat diperlihatlcan pada gelombang alfa ketiga tidur ringan karena terjadi perlambatan

gelombang alfa ke jenis teta atau delta yang bervoitase rendah; dan keempat, tidur nyenyak
gelombang lambat dengan geiombang delta bervoltase tinggi dengan kecepatan 1-2 per detik.
Tahapan tidur jenis NREM
Tahap I
Tahap ini adalah tahap transisi antara bangi.rn dan tidur dengan ciri sebagai berikut: rileks,
masih sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola mata bergerak dari samping ke
samping, frekuensi Nadi dan napas sedikit menurun, dapat bangun segera selama tahap ini
berlangsung selama 5 menit.
Tahap II
Tahap ini merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun dengan ciri sebagai
berikut: mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan frekuensi napas menurwn.
temperatur tubuh menurun, metabolisme menurun, berlangsung pendek dan berakhir 10-15
menit
Tahap III
Tahap ini merupakan tahap tidur dengan ciri denyut nadi dan frekuensi napas dan proses tubuh
lainnya lambat, disebabkan adanya dominasi sistem saraf parasimpatis sulit untuk bangun.
Tahap IV
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam dengan ciri kecepatan jantung dan pernapasan turun,
jarang bergerak, dan sulit dibangunkan, gerak bola mata cepat, sekresi lambung menurun, dan
tonus otot menurun.
2. Tidur paradoks /tidur REM (rapid eye movement)
Tidur jenis ini dapat bcrlangsung pada tidur malam yang terjadi selama 5 - 20 menit, rata-rata
timbul 90 menit. Periode pertama terjadi 80-100 menit, akan tetapi apabila kondisi orang sangat
lclah maka awal tidur sangat cepat bahkan jemis tidur ini tidak ada. Ciri tidur REM adalah
sebagai berikut:
a. Biasanya disertai dengan mimpi aktif.
b. Lebih sulit dibangunkan daripada selama tidur nyenyak
c. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, menunjukkan inhibisi kuat proyeksi spinal
atas sistcm pengaktivasi retikularis.
d. Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur
e. Pada otot perifer terjadi beberapa gerakan otot yang tidak teratiur.
f. Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan tidak teratur, tekanan darah meningkat atau
berfluktuasi, sekrcsi gaster meningIcat, dan metabolisme meningkati.
g. Tidur ini penting untuk kescimbangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar, memori,
dan adaptasi
FUNGSI DAN TUJUAN TIDUR
Tidur bermanfaat untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, dan kesehatan. Serta
menurunkan aktivitas stres pada paru, sistem kardiovaskuler, endokrin, dan organ-organ tubuh
lainnya. Energi yang tersimpan selama tidur diarahkan untuk fungsi-fungsi seluler yang penting.
Secara umum terdapat dua efek fisiologis tidur, pertama efek pada sistem saraf untuk
memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan di antara berbagai susunan saraf. Kedua, efek
pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi organ dalam tubuh, mengingat
terjadinya penurunan aktivitas organ-organ tubuh tersebut selama tidur.

KEBUTUHAN TIDUR
Kebutuhan tidur pada manusia tcrgantung pada tingkat perkembangan dan berdasarkan usia.
Umur

No. Tingkat Perkembangan


1.
Bayi baru lahir
2.
Bayi 1-18 bulan

Kebutuhan Tidur
14-18 jam/hari
12-14 jam/hari

3.
4.

Bayi 18 bulan anak 3 tahun


Anak 3-6 tahun prasekolah

11-12 jam/hari
11 jam/hari

5.
6.

Anak 6-12 tahun masa sekolah


Anak 12-18 tahun masa remaja

10 jam/hari
8,5 jam/hari

7.

Anak 18 tahun dewasa 40 tahun

7-8 jam/hari

8.
9.

Dewasa 40-60 tahun


Dewasa paruh baya 60 tahun keatas

7 jam/hari
6 jam/hari

0 - 1 bulan Tingkat Perkembangan


Bayi baru lahir Jumlah Kebutuhan tidur 14 - 18 jam/hr
1 bulan - 18 bulan Masa bayi 12 - 14 jam/ hari
18 bulan - 3 tahun Masa anak 11 - 12 jam/hari
3 tahun - 6 tahun Masa prasckolah 11 jam/hari
6 tahun - 12 tahun Masa sekolah 10 jam/ hari
12 tahun - 18 tahun Masa remaja 8,5 jam/hari
18 - 40 tahun Masa dewasa 7 - 8 jam/hari
40 tahun - 60 tahun Masa muda paruh baya 7 jam/hari
60 tahun keatas Masa dewasa tua 6 jam/hari

GANGGUAN TIDUR
Etiologi Gangguan Tidur
Kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor.
1) Stress psikologi
Seorang yang memiliki masalah psikologis akan mengalami kegelisahan sehingga sulit untuk
tidur.
2) Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur. Sebaliknya
kebutuhan nutrisi yang kurang akan menyebabkan sulit tidur.
3) Obat
Obat golongan diuretik dapat mempengaruhi proses tidur (insomnia), antidepresan dapat
menekan REM, kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan
untuk tidur.
4) Aktivitas
Aktivitas yang tinggi membutuhkan lebih banyak tidur untuk menjaga keseimbangan energy
yang telah dikeluarkan.
5) Penyakit

Seseorang yang sedang sakit dapat menjadikan orang itu kurang tidur atau bahkan tidak bisa
tidur karna penyakitnya itu.
6) Lingkungan
Lingkungan yang nyaman dan aman dapat mempercepat proses tidur tetapi jika keadaan
lingkungan tidak nyaman dapat menghilangkan keinginan untuk tidur
7) Motivasi
Merupakan keinginan untuk tidur, jika ada keinginan untuk tidak tidur dapat menimbulkan
gangguan proses tidur.
Klasifikasi Gangguan Tidur
Gangguan atau masalah dalam kebutuhan tidur, yaitu
A. Pada tahun 1984 The International Institute of Health membuat suatu konsensus
pengelompokan gangguan tidur berdasarkan lamanya gangguan yang terdiri dari :
1) Transient yaitu jika gangguan tidurnya kurang dari 7 hari
2) Short term yaitu jika gangguan tidurnya menetap lebih dari 7 hari dan kurang dari 3
minggu. Kedua gangguan tersebut biasanya berhubungan dengan stress yang aku
seperti perubahan kehidupan sosial, peningkatan emosional, faktor lingkungan, faktor
sistemik, kelainan gangguan kesehatan, desinkronisasi irama sirkadian.
3) Long term yaitu jika gangguan tidur menetap lebih dari 3 minggu. Biasanya
berhubungan dengan gangguan tidur primer, gangguan psikiatri, gangguan kesehatan,
gangguan psikologi.
B. Pada tahun 1990 American Sleep Disorder Association membuat re-klasifikasi untuk mencari
kemungkinan penyebab gangguan tidur menjadi 4 kelompok :
1) Dissomnia
2) Insomnia
Ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas.
Proses gangguan tidur ini kemungkinan disebabkan adanya rasa khawatir atau tekanan
jiwa.
3) Hipersomnia
Gangguan tidur dengan dengan kriteria tidur berlebihan
4) Parasomnia
Kumpulan beberapa penyakit yang dapat mengganggu pola tidur seperti somnabulis
(berjalan-jalan dalam tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak
5) Enuresis
Gangguan tidur yang disebabkan oleh enuresis (mengompol), umumnya terjadi pada
anak-anak
6) Apnea tidur dan mendengkur
Mendengkur yang disertai dengan apnea dapat menjadi masalah dalam tidur karena
jika terjadinya apnea dapat mengacaukan saat bernafas dan bahkan bisa menyebabkan
henti nafas, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun dan
denyut nadi menjadi tidak teratur
7) Narcolepsy
Keadaan tidur yang tidak dapat dikendalikan (mengantuk berat). Ini merupakan suatu
gangguan neurologis.

2.1.5 Tingkat Depresi menurut PPDGJ III


2.1.5.1 Depresi Ringan
Ciri-ciri depresi ringan sekurang-kurangnya ada 2 3 gejala umum, serta adanya sedikit kesulitan
dalam pekerjaan. Misalnya perasaan sedih, perasaan negatif pada diri sendiri, menyalahkan dan
mengkritik diri sendiri, hilang minat dan semangat, serta malas beraktivitas.

2.1.5.2 Depresi Sedang


Ciri-ciri depresi sedang sekurang-kurangnya ada 2 3 gejala umum, serta adanya kesulitan nyata
dalam menyelesaikan pekerjaan. Misalnya perubahan nafsu makan dan rasa lelah berlebihan setelah
aktifitas rutin yang biasa dilakukan.

2.1.5.3 Depresi Berat


Depresi berat dapat dibagi menjadi dua yaitu depresi berat dengan gejala psikotik dan tanpa gejala
psikotik. Yang ditandai dengan ciri murung, sedih, sering menangis, keinginan untuk menghindar dan
menarik diri, meningkatnya ketergantungan, gangguan pola tidur dan keinginan untuk mengakhiri
hidup.

2.1.6 Klasifikasi Depresi


2.1.6.1 Penggolongan depresi menurut penyebabnya antara lain :
1) Depresi reaktif
Pada depresi reaktif, gejalanya diperkirakan akibat stres luar seperti kehilangan seseorang atau
kehilangan pekerjaan
2) Depresi endogenus
Pada depresi endogenus, gejalanya terjadi tanpa di pengaruhi faktor luar. Seorang psikiater
mendianogsa seorang pasien menderita depresi endogenus jika mereka menunjukan tanda tanda
sedih menarik diri dan mempunyai beberapa gejala berikut :
(1) Hilangnya hasrat seks
(2) Anoreksia atau kehilangan berat badan
(3) Kelambatan fisik dan mental atau kegelisahan serta agitasi
(4) Bangun pagi pagi
(5) Perasaan bersalah

(6) Tidak menikmaati apa apa


(7) Susana sedih yang menetap yang tidak berubah walaupun hal menyenagkan terjadi
(8) Suasana hati sedih yang berbeda dari kesedihan biasa

2.1.6.2 Penggolongan Depresi menurut gejalanya :


1) Depresi nurotik
Terjadinya depresi neurotik biasanya setelah mengalami peristiwa yang menyedihkan, tetapi yang
jauh lebih berat daripada biasanya. Penderitanya seringkali di penuhi trauma emosional misalnya
kehilangan orang yang dicintai, pekerjaan, barang berharga atau seorang kekasih. Gejalanya berupa
gelisah, cemas, ketakutan yang abnormal.
2) Depresi psikotik
Secara tegas istilah psikotik harus dipakai untuk penyakit depresi yang berkaitan dengan delusi dan
halusinasi atau keduanya

Getaran/Frekuensi :
Gamma 16 Hz ~ 100 Hz
Beta > 12 Hz
SMR (SensoriMotor Rhythm) 12 Hz ~ 16 Hz
Alpha ( Berger s wave) 8 Hz ~ 12 Hz
Theta 4 Hz ~ 8 Hz
Delta 0.5 Hz ~ 4 Hz
Sebenarnya keseluruhan frekuensi tersebut bergabung secara acak (berinterferensi), namun
dengan EEG, frekwensi gelombang ini dapat dianalisa dan diuraikan satu persatu dengan
catatan bahwa pada saat diukur, frekwensi mana yang paling dominan, serta memiliki
amplitudo tertinggi, itulah yang dianggap dan berada pada fase tersebut, apakah fase Beta,
Alpha, Theta atau Delta dan seterusnya Amplitudonya diukur dan berkisar antara 1 ~ 50
uVolt (microVolt), sedangkan arus listriknya tidak diperhitungkan.

GAMMA wave ( 16 hz ~ 100 hz )


Adalah getaran pusat syaraf (otak) yang terjadi pada saat seseorang mengalami
aktifitas mental yang sangat tinggi, misalnya sedang berada di arena pertandingan,
perebutan kejuaraan, tampil dimuka umum, sangat panik, ketakutan, nerveus, kondisi ini
dalam kesadaran penuh.
Berdasarkan penyelidikan Dr.Jeffrey.D.Thompson.D.C.B.F.A (Center for acoustic
research) di atas gamma sebenarnya masih ada lagi yaitu gelombang Hypergamma ( tepat
100 Hz ) dan gelombang Lambda (tepat 200 Hz), akan berpengaruh serta dibahas diartikel
khusus SUPRANATURAL, METAFISIKA dan LEVITASI.
BETA wave ( diatas 12 hz atau dari 12 hz s/d 19 hz )
Adalah getaran pusat syaraf (otak) yang terjadi pada saat seseorang mengalami
aktifitas mental yang sadar penuh dan normal aktif, konsentrasi penuh dan dapat dibagi pula
menjadi 3 kelompok, yaitu highbeta ( 19 Hz + ) yang overlap/transisi dengan getaran gamma
, lalu getaran beta ( 15 hz ~ 18 hz ), juga overlap/transisi dengan getaran gamma, selanjutnya
lowbeta (12 hz ~ 15 hz).
SMR wave atau SensoriMotor Rhytm ( 12 hz ~ 16 hz )
SMR sebenarnya masih masuk kelompok getaran lowbeta, namun mendapatkan
perhatian khusus dan juga baru dipelajari secara mendalam akhir2 ini oleh para ahli, karena
penderita epilepsy , ADHD , ( Attention Deficit and Hyperactivity Disorder juga disebut
ADD-Attention Deficit Disorder) dan autism tidak memiliki dan tidak mampu berkonsentrasi penuh atau fokus pada suatu hal yang dianggap penting, dengan perkataan
lain otak (pusat syaraf) sedikit bahkan tidak sama sekali menghasilkan getaran SMR.
Sehingga setiap pengobatan, baik jiwa maupun fisiknya, ditujukan agar merespon getaran
SMR tersebut, biasanya diaktifkan dengan biofeedback/neurofeedback .
ALPHA wave ( 8 hz ~ 12 hz )
Adalah gelombang pusat syaraf (otak) yang terjadi pada saat seseorang yang
mengalami releksasi atau mulai istirahat dengan tanda2 mata mulai menutup atau mulai
mengantuk, atau suatu fase dari keadaan sadar menjadi tak sadar (atau bawah sadar), namun

tetap sadar (walaupun kelopak mata tertutup), disinilah saat2 penting dimana seorang ahli
hipnotis, mulai melakukan aktifitas hipnotisnya untuk memberikan sugesti kepada pasiennya
sesuai perintah yang direncanakan kepada yang dihipnotis (objek)
Pada tahap permulaan MEDITASI (meditasi ringan) juga akan memasuki fase
gelombang alpha. Frekwensi alpha 8 ~ 12 hz , merupakan frekwensi pengendali, penghubung
dan melakukan aktifitas yang berpusat di-sel2 thalamic ( electrical activity of thalamic
pacemaker cells )
THETA wave ( 4 hz ~ 8 hz )
Adalah getaran pusat syaraf (otak) yang terjadi pada saat seseorang yang mengalami
keadaan tidak sadar atau tidur ringan atau sangat mengantuk , tanda2nya napas mulai
melambat, dalam dan panjang, dibandingkan biasanya. Jika dalam keadaan sadar (tidak
tidur), kondisi ini masuk kefase atau dibawah pengaruh trance, kesurupan, hipnosis,
MEDITASI DALAM, atau sedang menjalani ritual-ritual agama, atau mengalirnya tenaga
psikologi.
Dalam kondisi yang sadar (tidak tidur dan tidak dibawah pengaruh hipnotis,
kesurupan atau epilepsi), seorang anak yang normal ( < 12 th) masih dapat memiliki getaran
frekwensi theta, akan hilang sedikit demi sedikit setelah menjelang dewasa (kecuali pada saat
menjelang tidur). Seorang anak (terutama bayi dan balita), rata2 tidur lebih dari 12 jam setiap
harinya, sehingga pada pusat syarafnya (otak) lebih banyak masuk dalam fase gelombang
theta dan gelombang delta, ketimbang gelombang beta dan alpha, sehingga dalam kehidupan
nyata sehari-harinya, lebih banyak cara berpikir yang tidak masuk akal (ber-angan2 atau
seperti bermimpi walaupun dalam kondisi sadar) dan sedikit demi sedikit akan berubah
setelah menjelang remaja/dewasa.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber: Eny Retna Ambarwati. 2009. KDPK Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika

III. PERANAN NEUROTRANSMITER


Keadaan jaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim ARAS (Ascending Reticulary
Activity System). Bila aktifitas ARAS ini meningkat orang tersebut dalam keadaan tidur.
Aktifitas ARAS menurun, orang tersebut akan dalam keadaan tidur. Aktifitas ARAS ini
sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti sistem serotoninergik,
noradrenergik, kholonergik, histaminergik.
Sistem serotonergik
Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisma asam aminotrypthopan.
Dengan bertambahnya jumlah tryptopan, maka jumlah serotonin yang terbentuk juga
meningkat akan menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila serotonin dari tryptopan
terhambat pembentukannya, maka terjadi keadaan tidak bisa tidur/jaga. Menurut beberapa
peneliti lokasi yang terbanyak sistem serotogenik ini terletak pada nukleus raphe dorsalis di
batang otak, yang mana terdapat hubungan aktifitas serotonis dinukleus raphe dorsalis dengan
tidur REM.
Sistem Adrenergik
Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin terletak di badan sel nukleus
cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat mempengaruhi
penurunan atau hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang mempengaruhi peningkatan aktifitas
neuron noradrenergik akan menyebabkan penurunan yang jelas pada tidur REM dan
peningkatan keadaan jaga.
Sistem Kholinergik
Sitaram et al (1976) membuktikan dengan pemberian prostigimin intra vena dapat
mempengaruhi episode tidur REM. Stimulasi jalur kholihergik ini, mengakibatkan aktifitas
gambaran EEG seperti dalam keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang
berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi, sehingga terjadi
pemendekan latensi tidur REM. Pada obat antikolinergik (scopolamine) yang menghambat
pengeluaran kholinergik dari lokus sereleus maka tamapk gangguan pada fase awal dan
penurunan REM.
Sistem histaminergik
Pengaruh histamin sangat sedikit mempengaruhi tidur
Sistem hormon

Pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormon seperti ACTH,
GH, TSH, dan LH. Hormon hormon ini masing-masing disekresi secara teratur oleh kelenjar
pituitary anterior melalui hipotalamus patway. Sistem ini secara teratur mempengaruhi
pengeluaran neurotransmiter norepinefrin, dopamin, serotonin yang bertugas menagtur
mekanisme tidur dan bangun.
IV. INSIDENSI
Hampir semua orang pernah mengalami gangguan tidur selama masa kehidupannya.
Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran tidur dan 17%
diantaranya mengalami masalah serius. Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cendrung
meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Kaplan
dan Sadock melaporkan kurang lebih 40-50% dari populasi usia lanjut menderita gangguan
tidur.
Gangguan tidur kronik (10-15%) disebabkan oleh gangguan psikiatri, ketergantungan obat
dan alkohol. Menurut data internasional of sleep disorder, prevalensi penyebab-penyebab
gangguan tidur adalah sebagai berikut: Penyakit asma (61-74%), gangguan pusat pernafasan
(40-50%), kram kaki malam hari (16%), psychophysiological (15%), sindroma kaki gelisah
(5-15%), ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur (5-10%), depresi (65).
Demensia (5%), gangguan perubahan jadwal kerja (2-5%), gangguan obstruksi sesak saluran
nafas (1-2%), penyakit ulkus peptikus (<1%), narcolepsy (mendadak tidur) (0,03%-0,16%)
V. KLASIFIKASI
Internasional Classification of Sleep Disorders
1. Dissomnia
a. Gangguan tidur intrisik
Narkolepsi, gerakan anggota gerak periodik, sindroma kaki gelisah, obstruksi
saluran nafas, hipoventilasi, post traumatik kepala, tidur berlebihan (hipersomnia),
idiopatik.
b. Gangguan tidur ekstrisik
Tidur yang tidak sehat, lingkungan, perubahan posisi tidur, toksik, ketergantungan
alkohol, obat hipnotik atau stimulant
c. Gangguan tidur irama sirkadian
Jet-lag sindroma, perubahan jadwal kerja, sindroma fase terlambat tidur, sindroma
fase tidur belum waktunya, bangun tidur tidak teratur, tidak tidur selama 24 jam.
2. Parasomnia
a. Gangguan Aurosal
Gangguan tidur berjalan, gangguan tidur teror, aurosal konfusional
b. Gangguan antara bangun-tidur
Gerak tiba-tiba, tidur berbicara,kramkaki, gangguan gerak berirama
c. Berhubungan dengan fase REM
Gangguan mimpi buruk, gangguan tingkah laku, gangguan sinus arrest
d. Parasomnia lain-lainnya
Bruxism (otot rahang mengeram), mengompol, sukar menelan, distonia parosismal

3. Gangguan tidur berhubungan dengan gangguan kesehatan/psikiatri


a. Gangguan mental
Psikosis, anxietas, gangguan afektif, panik (nyeri hebat), alkohol
b. Berhubungan dengan kondisi kesehatan
Penyakit degeneratif (demensia, parkinson, multiple sklerosis), epilepsi, status
epilepsi, nyeri kepala, Huntington, post traumatik kepala, stroke, Gilles de-la
tourette sindroma.
c. Berhubungan dengan kondisi kesehatan
Penyakit asma,penyakit jantung, ulkus peptikus, sindroma fibrositis, refluks
gastrointestinal, penyakit paru kronik (PPOK).
4. Gangguan tidur yang tidak terklassifikasi

3. Gangguan tidur berhubungan dengan gangguan kesehatan/psikiatri


Gangguan mental
Psikosis, anxietas, gangguan afektif, panik (nyeri hebat), alkohol
Berhubungan dengan kondisi kesehatan
Penyakit degeneratif (demensia, parkinson, multiple sklerosis), epilepsi, status epilepsi, nyeri
kepala, Huntington, post traumatik kepala, stroke, Gilles de-la tourette sindroma.
Berhubungan dengan kondisi kesehatan
Penyakit asma,penyakit jantung, ulkus peptikus, sindroma fibrositis, refluks gastrointestinal,
penyakit paru kronik (PPOK).
4. Gangguan tidur yang tidak terklassifikasi

1. DISSOMNIA
Adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesukaran menjadi jatuh
tidur (failling as sleep), mengalami gangguan selama tidur (difficulty in staying as
sleep), bangun terlalu dini atau kombinasi daintaranya.
A. Gangguan tidur spesifik
Narkolepsi
Ditandai oleh serangan mendadak tidur yang tidak dapat dihindari pada siang
hari, biasanya hanya berlangsung 10-20 menit atau selalu kurang dari 1 jam, setelah
itu pasien akan segar kembali dan terulang kembali 2-3 jam berikutnya. Gambaran
tidurnya menunjukkan penurunan fase REM 30-70%. Pada serangan tidur dimulai
dengan fase REM.
Berbagai bentuk narkolepsi:

o Narkolepsi kataplesia, adalah kehilangan tonus otot yang sementara baik


sebagian atau seluruh otot tubuh seperti jaw drop, head drop
o Hypnagogic halusinasi auditorik/visual adalah halusinasi pada saat jatuh tidur
sehingga pasien dalam keadaan jaga, kemudian ke kerangka pikiran normal.
o Sleep paralis adalah otot volunter mengalami paralis pada saat masuk tidur
sehingga pasien sadar ia tidak mampu menggerakkan ototnya. Gangguan ini
merupakan kelainan heriditer, kelainannya terletak pada lokus kromoson 6
didapatkan pada orang-orang Caucasian white dengan populasi lebih dari
90%, sedangkan pada bangsa Jepang 20-25%, dan bangsa Israel 1:500.000.
Tidak ada perbedaan antara jenis kelamin laki dan wanita. Kelainan ini diduga
terletak antara batang otak bagian atas dan kronik pada malam harinya serta
tidak rstorasi seperti terputusnya fase REM
Gangguan gerakan anggota gerak badan secara periodik (periodik limb
movement disorders)/mioklonus nortuknal
Ditandai adanya gerakan anggota gerak badan secara streotipik, berulang
selama tidur. Paling sering terjadi pada anggota gerak kaki baik satu atau kedua kaki.
Bentuknya berupa sktensi ibu jari kaki dan fleksi sebagian pada sendi lutut dan tumit.
Gerak itu berlangsung antara 0,5-5detik, berulang dalam waktu 20-60 detik atau
mungkin berlangsung terus menerus dalam beberapa menit atau jam. Bentuk tonik
lebih sering dari pada mioklonus. Sering timbul pada fase NREM atau saat onset tidur
sehingga menyebabkan gangguan tidur kronik yang terputus. Lesi pada pusat kontrol
pacemaker batang otak. Insidensi 5% dari orang normal antara usia 30-50 tahun dan
29% pada usia lebih dari 50 tahun.
Berat ringan gangguan ini sangat tergantung dari jumlah gerakan yang terjadi
selama tidur, bila 5-25 gerakan/jam: ringan, 25-50 gerakan/jam: sedang, danlebih dari
50 kali/jam : berat. Didapatkan pada penyakit seperti mielopati kronik, neuropati,
gangguan ginjal kronik, PPOK, rhematoid arteritis, sleep apnea, ketergantungan obat,
anemia.
Sindroma kaki gelisah (Restless legs syndrome)/Ekboms syndrome
Ditandai oleh rasa sensasi pada kaki/kaku, yang terjadi sebelum onset tidur.
Gangguan ini sangat berhubungan dengan mioklonus nokturnal. Pergerakan kaki
secara periodik disertai dengan rasa nyeri akibat kejang otot M. tibialis kiri dan kanan
sehingga penderita selalu mendorongdorong kakinya. Ditemukan pada penyakit
gangguan ginjal stadium akut, parkinson, wanita hamil. Lokasi kelainan ini diduga
diantara lesi batang otak hipotalamus.
Gangguan bernafas saat tidur (sleep apnea)
Terdapat tiga jenis sleep apnea yaitu central sleep apnea, upper airway
obstructive apnea dan bentuk campuran dari keduanya. Apnea tidur adalah gangguan
pernafasan yang terjadi saat tidur, yang berlangsung selama lebih dari 10 detik.
Dikatakan apnea tidur patologis jika penderita mengalami episode apnea sekurang
kurang lima kali dalam satu jam atau 30 episode apnea selama semalam. Selama

periodik ini gerakan dada dan dinding perut sangat dominan. Apnea sentral sering
terjadi pada usia lanjut, yang ditandai dengan intermiten penurunan kemampuan
respirasi akibat penurunan saturasi oksigen. Apnea sentral ditandai oleh terhentinya
aliran udara dan usaha pernafasan secara periodik selama tidur, sehingga pergerakan
dada dan dinding perut menghilang. Hal ini kemungkinan kerusakan pada batang otak
atau hiperkapnia.
Gangguan saluran nafas (upper airway obstructive) pada saat tidur ditandai
dengan peningkatan pernafasan selama apnea, peningkatan usaha otot dada dan
dinding perut dengan tujuan memaksa udara masuk melalui obstruksi. Gangguan ini
semakin berat bila memasuki fase REM. Gangguan saluran nafas ini ditandai dengan
nafas megap-megap atau mendengkur pada saat tidur. Mendengkur ini berlangsung 36 kali bersuara kemudian menghilang dan berulang setiap 20-50 detik. Serangan
apnea pada saat pasien tidak mendengkur. Akibat hipoksia atau hipercapnea,
menyebabkan respirasi lebih aktif yang diaktifkan oleh formasi retikularis dan pusat
respirasi medula, dengan akibat pasien terjaga danrespirasi kembali normal secara
reflek.
Baik pada sentral atau obstruksi apnea, pasien sering terbangun berulang kali
dimalam hari, yang kadang-kadang sulit kembali untuk jatuh tidur. Gangguan ini
sering ditandai dengan nyeri kepala atau tidak enak perasaan pada pagi hari. Pada
anak-anak sering berhubungan dengan gangguan kongenital saluran nafas,
dysotonomi syndrome, adenotonsilar hypertropi. Pada orang dewasa obstruksi saluran
nafas septal defek, hipotiroid, atau bradikardi, gangguan jantung, PPOK, hipertensi,
stroke, GBS, arnord chiari malformation.
Paska trauma kepala
Sebagian besar pasien dengan paska trauma kepala sering mengeluh gangguan
tidur. Jarak waktu antara trauma kepala dengan timbulnya keluhan gangguan tidur
setelah 2-3 tahun kemudian. Pada gambaran polysomnography tampak penurunan
fase REM dan peningkatan sejumlah fase jaga. Hal ini juga menunjukkan bahwa fase
koma (trauma kepala) sangat berperan dalam penentuan kelainan tidur. Pada
penelitian terakhir menunjukkan pasien tampak selalu mengantuk berlebih sepanjang
hari tanpa diikuti oleh fase onset REM. Penanganan dengan proses program
rehabilitasi seperti sleep hygine. Litium carbonat dapat menurunkan angka frekwensi
gangguan tidur akibat trauma kepala.
B. Gangguan tidur irama sirkadian
Sleep wake schedule disorders (gangguan jadwal tidur) yaitu gangguan
dimana penderita tidak dapat tidur dan bangun pada waktu yang
dikehendaki,walaupun jumlah tidurnya tatap. Gangguan ini sangat berhubungan
dengan irama tidur sirkadian normal.
Bagian-bagian yang berfungsi dalam pengaturan sirkadian antara lain
temperatur badan,plasma darah, urine, fungsi ginjal dan psikologi. Dalam keadan
normal fungsi irama sirkadian mengatur siklus biologi irama tidurbangun, dimana
sepertiga waktu untuk tidur dan dua pertiga untuk bangun/aktivitas. Siklus irama

sirkadian ini dapat mengalami gangguan, apabila irama tersebut mengalami


peregseran. Menurut beberapa penelitian terjadi pergeseran irama sirkadian antara
onset waktu tidur reguler dengan waktu tidur yang irreguler (bringing irama
sirkadian).
Perubahan yang jelas secara organik yang mengalami gangguan irama
sirkadian adalah tumor pineal. Gangguan irama sirkadian dapat dikategorikan dua
bagian:
1. Sementara (acut work shift, Jet lag)
2. Menetap (shift worker)
Keduanya dapat mengganggu irama tidur sirkadian sehingga terjadi perubahan
pemendekan waktu onset tidur dan perubahan pada fase REM.
Berbagai macam gangguan tidur gangguan irama sirkadian adalah sebagai berikut:
a. Tipe fase tidur terlambat (delayed sleep phase type)
Yaitu ditandai oleh waktu tidur dan terjaga lebih lambat yang diinginkan.
Gangguan ini sering ditemukan dewasa muda, anak sekolah atau pekerja sosial.
Orang-orang tersebut sering tertidur (kesulitan jatuh tidur) dan mengantuk pada
siang hari (insomnia sekunder).
b. Tipe Jet lag
Ialah menangantuk dan terjaga pada waktu yang tidak tepat menurut jam
setempat, hal ini terjadi setelah berpergian melewati lebih dari satu zone waktu.
Gambaran tidur menunjukkan sleep latensnya panjang dengan tidur yang terputusputus.
c. Tipe pergeseran kerja (shift work type)
Pergeseran kerja terjadi pada orang yang secara teratur dan cepat mengubah
jadwal kerja sehingga akan mempengaruhi jadwal tidur. Gejala ini sering timbul
bersama-sama dengan gangguan somatik seperti ulkus peptikum. Gambarannya
berupa pola irreguler atau mungkin pola tidur normal dengan onset tidur fase
REM.
d. Tipe fase terlalu cepat tidur (advanced sleep phase syndrome)
Tipe ini sangat jarang, lebih sering ditemukan pada pasien usia lanjut,dimana onset
tidur pada pukul 6-8 malam dan terbangun antara pukul 1-3 pagi. Walaupun pasien
ini merasa cukup untuk waktu tidurnya. Gambaran tidur tampak normal tetapi
penempatan jadwal irama tidur sirkadian yang tdk sesuai.
e. Tipe bangun-tidur beraturan
f. Tipe tidak tidur-bangun dalam 24 jam.
C. Lesi susunan saraf pusat (neurologis)
Sangat jarang. Les batang otak atau bulber dapat mengganggu awal atau
memelihara selama tidur, ini merupakan gangguan tidur organik. Feldman dan wilkus
et al menemukan fase tidur pada lesi atau trauma daerah ventral pons, yang mana fase
1 dan 2 menetap tetapi fase REM berkurang atau tidak ada sama sekali. Penderita
chroea ditandai dengan gangguan tidur yang berat, yang diakibatkan kerusakan pada
raphe batang otak. Penyakit seperti Gilles de la Tourettes syndrome, parkinson,

khorea, dystonia, gerakan-gerakan penyakit lebih sering timbul pada saat pasien tidur.
Gerakan ini lebih sering terjadi pada fase awal dan fase 1 dan jarang terjadi pada fase
dalam. Pada dememsia sinilis gangguan tidur pada malam hari, mungkin akibat
diorganisasi siklus sirkadian, terutama perubahan suhu tubuh. Pada penderita stroke
dapat mengalami gangguan tidur, bila terjadi gangguan vaskuler didaerah batang otak
epilepsi seringkali terjadi pada saat tidur terutama pada fase NREM (stadium )
jarang terjadi pada fase REM.
D. Gangguan kesehatan, toksik
Seperti neuritis, carpal tunnel sindroma, distessia, miopati distropi, low back
pain, gangguan metabolik seperti hipo/hipertiroid, gangguan ginjal akut/kronik, asma,
penyakit, ulkus peptikus, gangguan saluran nafas obstruksi sering menyebabkan
gangguan tidur seperti yang ditunjukkan mioklonus nortuknal.
E. Obat-obatan
Gangguan tidur dapat disebabkan oleh obat-obatan seperti penggunaan obat
stimulan yang kronik (amphetamine, kaffein, nikotine), antihipertensi, antidepresan,
antiparkinson, antihistamin, antikholinergik. Obat ini dapat menimbulkan terputusoutus fase tidur REM.
2. PARASOMNIA
Yaitu merupakan kelompok heterogen yang terdiri dari kejadian-kejadian
episode yang berlangsung pada malam hari pada saat tidur atau pada waktu antara
bangun dan tidur. Kasus ini sering berhubungan dengan gangguan perubahan tingkah
laku danaksi motorik potensial, sehingga sangat potensial menimbulkan angka
kesakitan dan kematian, Insidensi ini sering ditemukan pada usia anak berumur 3-5
tahun (15%) dan mengalami perbaikan atau penurunan insidensi pada usia dewasa
(3%).
Ada 3 faktor utama presipitasi terjadinya parasomnia yaitu:
Peminum alkohol
Kurang tidur (sleep deprivation)
Stress psikososial
Kelainan ini terletak pada aurosal yang sering terjadi pada stadium transmisi
antara bangun dan tidur. Gambaran berupa aktivitas otot skeletal dan perubahan
sistem otonom. Gejala khasnya berupa penurunan kesadaran (konfuosius), dan
diikuti aurosal dan amnesia episode tersebut. Seringkali terjadi pada stadium 3
dan 4.
Gangguan tidur berjalan (slepp walkin)/somnabulisme
Merupakan gangguan tingkah laku yang sangat komplek termasuk adanya
automatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuk apintu, menutup pintu,
duduk ditempat tidur, menabrak kursi, berjalan kaki, berbicara. Tingkah laku berjalan
dalam beberapa menit dan kembali tidur. Gambaran tipikal gangguan tingkah laku ini

didapat dengan gelombang tidur yang rendah, berlangsung 1/3 bagian pertama malam
selama tidur NREM pada stadium 3 dan 4. Selama serangan, relatif tidak memberikan
respon terhadap usaha orang lain untuk berkomunikasi dengannya dan dapat
dibangunkan susah payah. Pada gambaran EEG menunjukkan irama campuran
terutama theta dengan gelombang rendah. Bahkan tidak didapatkan adanya
gelombang alpha.
Gangguan teror tidur (slee teror)
Ditandai dengan pasien mendadak berteriak, suara tangisan dan berdiri
ditempat tidur yang tampak seperti ketakutan dan bergerak-gerak. Serangan ini terjadi
sepertiga malam yang berlangsung selama tidur NREM pada stadium 3 dan 4.
Kadang-kadang penderita tetap terjaga dalam keadaan terdisorientasi, atau sering
diikuti tidur berjalan. Gambaran teror tidur mirip dengan teror berjalan baik secara
klinis maupun dalam pemeriksaan polisomnografy. Teror tidur mungkin
mencerminkan suatu kelainan neurologis minor pada lobus temporalis. Pada kasus ini
sering kali terjadi perubahan sistem otonomnya seperti takhicardi, keringat dingin,
pupil dilatasi, dan sesak nafas.
Gangguan tidur berhubungan dengan fase REM
Ini meliputi gangguan tingkah laku, mimpi buruk dan gangguan sinus arrest.
Gangguan tingkah laku ini ditandai dengan atonia selama tidur (EMG) dan
selanjutnya terjadi aktifitas motorik yang keras, episode ini sering terjadi pada larut
malam (1/2 dari larut malam) yang disertai dengan ingat mimpi yang jelas. Paling
banyak ditemukan pada laki-laki usia lanjut, gangguan psikiatri atau dengan janis
penyakit-penyakit degenerasi, peminum alkohol. Kemungkinan lesinya terletak pada
daerah pons atau juga didapatkan pada kasus seperti perdarahan subarakhnoid.
Gambaran menunjukkan adanya REM burst dan mioklonik potensial pada rekaman
EMG.
IV. DIAGNOSA ETIOLOGI
Sebelum mencari diagnosa penyebab suatu gangguan tidur, sebaiknya ditentukan terlebih
dahulu jenis dan lamanya gangguan tidur (duration of sleep disorder), dengan mengetahui
jenis dan lamanya gangguan tidur, selain untuk membantu mengidentifikasi penyebabnya,
juga dapat memberikan pengobatan yang adekuat.
A. Pada tahun 1984, The International Institute of Health membuat suatu konsensus
pengelompokan gangguan tidur berdasarkan lamanya gangguan yang terdiri dari:
1. Transient yaitu jika gangguan tidurnya kurang dari 7 hari
2. Short term yaitu jika gangguan tidurnya menetap lebih dari 7 hari dan kurang dari 3
minggu. Kedua gangguan tersebut biasanya berhubungan dengan stress yang akut seperti
perubahan kehidupan sosial, peningkatan emosional, faktor lingkungan, faktor sistemik,
kelainan gangguan kesehatan, desinkronisaso irama sirkadian
3. Long term yaitu jika gangguan tidur menetap lebih dari 3 minggu. Biasanya berhubungan
dengan gangguan tidur primer, gangguan psikiatri, gangguan kesehatan, gangguan psikologi.

B. Pada tahun 1990, American Sleep Disorders Association membuat reklasifikasi untuk
mencari kemungkinan penyebab gangguan tidur menjadi 4 kelompok yaitu:
1. Dissomnia, misalnya: ganguan intrisik, gangguan ekstrisik, gangguan irama sirkadian
2. Parasomnia, misalnya: Gangguan aurosal, gangguan bangun-tidur, berhubungan fase
REM
3. Gangguan kesehatan/psikiatri, misalnya: gangguan mental, gangguan neurologi,
gangguan kesehatan
4.. Gangguan yang tidak terklasifikasi
VI. PENATALAKSANA UMUM
a. Pendekatan hubungan antara pasien dan dokter, tujuannya:
- Untuk mencari penyebab dasarnya danpengobatan yang adekuat
- Sangat efektif untuk pasien gangguan tidur kronik
- Untuk mencegah komplikasi sekunder yang diakibatkan oleh penggunaan obat
hipnotik,alkohol, gangguan mental
- Untuk mengubah kebiasaan tidur yang jelek
b. Konseling dan Psikoterapi
Psikotherapi sangat membantu pada pasien dengan gangguan psikiatri seperti
(depressi, obsessi, kompulsi), gangguan tidur kronik. Dengan psikoterapi ini kita dapat
membantu mengatasi masalah-masalah gangguan tidur yang dihadapi oleh penderita
tanpa penggunaan obat hipnotik.
c. Sleep higiene
- Tidur dan bangunlah secara reguler/kebiasaan
- Hindari tidur pada siang hari/sambilan
- Jangan mengkonsumsi kafein pada malam hari
- Jangan menggunakan obat-obat stimulan seperti decongestan
- Lakukan latihan/olahraga yang ringan sebelum tidur
- Hindari makan pada saat mau tidur, tapi jangan tidur dengan perut kosong
- Segera bangun dari tempat bila tidak dapat tidur (15-30 menit)
- Hindari rasa cemas atau frustasi
- Buat suasana ruang tidur yang sejuk, sepi, aman dan enak
4. Pendekatan farmakologi
Dalam mengobati gejala gangguan tidur, selain dilakukan pengobatan secara kausal, juga
dapat diberikan obat golongan sedatif hipnotik. Pada dsarnya semua obat yang mempunyai
kemampuan hipnotik merupakan penekanan aktifitas dari reticular activating system (ARAS)
diotak. Hal tersebut didapatkan pada berbagai obat yang menekan susunan saraf pusat, mulai
dari obat anti anxietas dan beberapa obat anti depresi. Obat hipnotik selain penekanan
aktivitas susunan saraf pusat yangdipaksakan dari proses fisiologis, juga mempunyai efek
kelemahan yang dirasakan efeknya pada hari berikutnya (long acting) sehingga mengganggu

aktifitas sehari-hari. Begitu pula bila pemakain obat jangka panjang dapat menimbulkan over
dosis dan ketergantungan obat. Sebelum mempergunakan obat hipnotik, harus terlebih dahulu
ditentukan jenis gangguan tidur misalnya, apakah gangguan pada fase latensi panjang
(NREM) gangguan pendek, bangun terlalu dini, cemas sepanjang hari, kurang tidur pada
malam hari, adanya perubahan jadwal kerja/kegiatan atau akibat gangguan penyakit
primernya. Walaupun obat hipnotik tidak ditunjukkan dalam penggunaan gangguan tidur
kronik, tapi dapat dipergunakan hanya untuk sementara, sambil dicari penyebab yang
mendasari. Dengan pemakaian obat yang rasional, obat hipnotik hanya untuk mengkoreksi
dari problema gangguan tidur sedini mungkin tanpa menilai kondisi primernya dan harus
berhati-hati pada pemakaian obat hipnotik untuk jangka panjang karena akan menyebabkan
terselubungnya kondisi yang mendasarinya serta akan berlanjut tanpa penyelesaian yang
memuaskan.
Jadi yang terpenting dalam penggunaan obat hipnotik adalah mengidentifikasi dari problem
gangguan tidur sedini mungkin tanpa menilai kondisi primernya danharus berhati-hati pada
pemakain obat hipnotik untuk jangka panjang karena akan menyebabkan terselubungnya
kondisi yang mendasarinya serta akan berlanjut tanpa penyelesaian yang memuaskan.
Jadi yang terpenting dalam penggunaan obat hipnotik adalah mengidentifikasi penyebab yang
mendasarinya atau obat hipnotik adalah sebagai pengobatan tambahan. Pemilihan obat
hipnotik sebaiknya diberikan jenis obat yang bereaksi cepat (short action) dgnmembatasi
penggunaannya sependek mungkin yang dapat mengembalikan pola tidur yang normal.
Lamanya pengobatan harus dibatasi 1-3 hari untuk transient insomnia, dan tidak lebih dari 2
minggu untuk short term insomnia. Untuk long term insomnia dapat dilakukan evaluasi
kembali untuk mencari latar belakang penyebab gangguan tidur yang sebenarnya. Bila
penggunaan jangka panjang sebaiknya obat tersebut dihentikan secara berlahan-lahan untuk
menghindarkan withdraw terapi.