Anda di halaman 1dari 7

Aplikasi Radiofarmasi Sebagai Radioimunoterapi

Pada Penyakit Kanker

DISUSUN OLEH :
EVA ERNAWATI (1143050053)
VIKI SAPUTRA (1143050050)

Aplikasi Radiofarmasi Sebagai Radioimunoterapi Pada


Penyakit Kanker
Radiofarmasi adalah adalah penggunaan senyawa radioaktif dalam pengobatan
penyakit. Salah satu aplikasi radiofarmasi adalah sebagai radioimunoterapi.
Radioimunoterapi adalah metode penanganan kanker dengan memanfaatkan reaksi
spesifik antigen dan antibodi. Radioisotop dengan jenis radiasi yang mematikan sel
ditumpangkan ke antibodi yang bereaksi secara spesifik dengan tumor-associated
antigen. Setelah dimasukkan ke dalam tubuh, antibodi akan terikat ke dalam antigen
yang ada di sel kanker dan sel tersebut akan dimatikan oleh radiasi yang
dipancarkan radioisotop.
Dunia medis erat kaitannya dengan diagnosis dan pengobatan (terapi) suatu
penyakit. Untuk mengetahui jenis dan adanya penyakit, dilakukan dengan cara
mendiagnosis penyakit yang diderita seseorang. Bila sudah diketahui penyakitnya,
pengobatan pun bisa dilakukan dengan tepat dan lebih cepat
Berbagai cara dan teknologi diterapkan. Ada yang menggunakan obat-obatan
herbal, kimia, hingga ke sinar dari radioaktif. Untuk masalah pada tulang, selama ini
teknologi yang umum digunakan adalah Sinar X untuk rontgen. Namun, kini ada
teknologi diagnosis dan terapi untuk tulang dengan menggunakan sinar gama dan
materi bermuatan (alfa dan beta). Penggunaannya melalui aliran darah, baik dengan
oral, injeksi, maupun diisap.

Sampai saat ini, radioimunoterapi telah digunakan untuk pengobatan beberapa jenis
kanker, antara lain pengobatan limfoma, kanker prostat, dan melanoma. Ada
beberapa jenis radioantibodi yang telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan
Makanan Amerika Serikat (FDA, Food and Drug Administration), diantaranya adalah
Zevalin dan Bexxar. Zevalin adalah antibodi monoklonal anti-CD20 yang ke dalamnya
telah diikatkan radioisotop pemancar beta Yttrium-90. Sedangkan Bexxar adalah
antibodi monoklonal anti-CD20 yang ke dalamnya telah dimuati dengan radioisotop
Iodium-131. Kedua radioantibodi ini digunakan untuk penanganan kanker limfoma.
a. Penggunaan radioimunoterapi pada pengobatan limfoma atau leukima.
dengan menginjeksikan antiCD20 yang dilabel dengan radioaktif. Mula-mula
pasien dipersiapkan sedemikian rupa, yaitu dengan diberi infus antibodi yang
tidak dilabel radioaktif. Kemudian pasien akan menerima antibodi yang
dilabel radioaktif dalam dosis yang rendah. Antibodi yang berlabel radioaktif
ini akan beredar di dalam tubuh dan akan menghampiri sel limfoma B dan
limfosit B normal.
Antibodi membawa radioaktif pada sel limfoma dan terjadi pembunuhan sel
kanker yang terlokalisasi serta sedikit limfosit B normal

b. Penggunaan radioimunoterapi pada pengobatan kanker prostat.


dengan melabel antibodi monoklonal dari kanker prostat. Antibodi
monoklonal pada kanker prostat disebut anti-PSMA (Prostat-Specific
Membran Antigen) mAb. J591 adalah anti-PSMA mAb yang belum dilabel
dengan radioaktif. Radioaktif yang digunakan untuk melabel J591 adalah

177

Lu dan

90

Y. Dalam jurnal penelitian, pasien kanker prostat dibagi dalam

beberapa kelompok lalu diberi 177Lu-J591 dan 90Y-J591 berbagai dosis selama
2-4 bulan. Hasilnya, pemberian berulang 177Lu-J591 (30-60 mCi/m2) atau 90YJ591 (17.5 mCi/m2) dapat ditoleransi pasien dengan trombocitopenia.
Meskipun pemberian tunggal dosis besar dipertimbangkan dapat membunuh
sel kanker dalam fraksi besar.

c. Radioimunoterapi yang digunakan dalam pengobatan melanoma.


menggunakan antibodi monoklonal 6D2.
Pada melanoma yang menjadi target radioimunoterapi adalah melanin.
Penelitian yang dilakukan pada mencit, menggunakan 6D2 mAb yang dilabel
188

Re. untuk mengetahui efikasinya

188

Re-6D2 mAb dibandingkan dengan

kemoterapi yang menggunakan dacarbazine. Hasil penelitian tersebut


menunjukkan 188Re-6D2 mAb lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan
tumor pada mencit. Selain itu, pengobatan melanoma dengan dacarbazine
yang diikuti radioimunoterapi lebih efektif daripada terapi tunggal.
Penggunaan radiofarmasi untuk terapi mungkin membuat orang awam khawatir
pada efek sampingnya. Namun, Mutalib menjelaskan, jumlah radioaktif gama yang
dimasukkan ke aliran darah itu sangat kecil dan radi-asinya akan hilang seiring
selesainya ia bertugas. Masa paruh radioaktif untuk terapi itu sekitar dua hari.
Sedangkan untuk diagnosis, waktu paruhnya sekitar dua hingga enam jam. sistem ini
sudah dirancang sedemikian rupa sehingga tak memberikan efek farmakologis di
tubuh. Ini berbeda dengan obat yang memberikan efek samping. "Toksisitasnya ada
pada tingkat aman untuk terapi radiofarmasi, dan sudah kita uji toksisitas.
Tingkatnya adalah di bawah LD (lethal dosis) 50,"

Selain tak ada efek farmakologis, radiofarmaka juga memiliki efek fisiolo-gis. Jika
dengan kemoterapi, pasien akan mengalami beberapa efek fisiolo-gis, seperti mual,
rambut rontok, kulit menghitam, dan lain-lain.
Sedangkan radiofarmaka, menurut dia, tak memberikan efek seperti kemoterapi dan
pengaruhnya sangat minimal.Bila menjalani radiofarmasi, pasien tak perlu dibius
karena radiasinya yang kecil. Alat deteksinya purvsangat sensitif sehingga radioaktif
yang digunakan pun cukup hanya dalam jumlah sedikit.
Di beberapa negara, pemanfaatan nuklir di bidang kesehatan terus berkembang
pesat. Skala ekonominya telah mencapai angka yang menjanjikan. Di Amerika
Serikat dilaporkan telah mencapai 49 milyar dollar AS per tahun pada tahun 1998,
atau sekitar 5% dari total belanja kesehatan nasional negara tersebut yang sebesar
987 milyar dollar AS. Sedang di Jepang, pemanfaatan radiasi nuklir memiliki skala
ekonomi 12 milyar dollar AS per tahun, atau setara dengan 4,3% dari total belanja
kesehatan yang sebesar 279 milyar dollar AS. Potensi ekonomi yang tersimpan di
dalam layanan kesehatan berbasis teknologi nuklir ini diprediksi akan mendoorong
berbagai pihak untuk mengembangkannya di tanah air.

Kesimpulan

Sediaan radiofarmasi merupakan suatu faktor penunjang yang sangat penting dalam
kedokteran nuklir, karna sediaan radiofarmasi banyak dipakai untuk tujuan diagnosis
ataupun terapi.
Penggunaan radiofarmasi untuk terapi biasanya terdapat efek samping. Namun,
jumlah radioaktif gama yang dimasukkan ke aliran darah itu sangat kecil dan
radiasinya akan hilang seiring selesainya ia bertugas.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2004.

Radioimunotherapy

As

Treatment

For

Lymphoma.

http://www.leukemia.org/attachments/National/br_1098118596.pdf
Nurhadi, R. 2008. Menyongsong Era Baru Kedokteran Nuklir di Indonesia.
http://beritaiptek.istecs.org/menyongsong-era baru-kedokteran-nuklir-di-indonesia/
diakses tanggal 1 Juni 2010.
www.google.com