Anda di halaman 1dari 12

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


DEPARTEMEN PROSTODONSIA
SEMINAR PROSTODONSIA
Khamis, 25 Agustus 2014
TEORI DAN PRAKTEK DALAM APLIKASI TEKNIK PROSTODONSIA
DI KLINIK GIGI SWASTA DI INDIA: SATU SURVEI
Theoretical versus practical application of prosthodontic techniques in private
dental clinics in India: A survey
Gurminder Singh, Ramandeep Singh Gambhir, Rina Singh, Harpreet Kaur
European J of Prosthodontics;Jan-Apr 2014; Vol.2, Issue 1

Pembimbing,

Siti Wahyuni,drg.
NIP. 19790615 200601 2 001

Penyaji:

SITI AISHAH
080600129
VIDYAVATI
080600130
LOOI YUET CHING 080600133
NUR ADILA
080600170
FAZIRUL FAZRI
080600173

Teori dan praktikum dalam aplikasi teknik prostodonsia di praktek gigi swasta
di India: Satu survei
Gurminder Singh, Ramandeep Singh Gambhir, Rina Singh, Harpreet Kaur
ABSTRAK
Tujuan: Untuk mengetahui berbagai teknik prostodonsia yang digunakan oleh
praktisi gigi swasta dibandingkan dengan teknik yang diajarkan kepada mereka di
fakultas kedokteran gigi. Bahan dan Metode: Sebuah survei dilakukan untuk
menentukan teknik prostodonsia yang digunakan oleh praktisi gigi swasta di India.
Kuesioner yang mempunyai pertanyaan tentang pembuatan gigi tiruan penuh, gigi
tiruan sebagian lepasan dan gigi tiruan sebagian cekat disediakan dan diisikan oleh
praktisi gigi swasta. Sebanyak 700 orang subjek berpartisipasi dalam penelitian akhir.
(tingkat respons yaitu 70%). Hasil: Sebanyak 80,4% dokter gigi melakukan seluruh
perawatan prostodontik sendiri. Sebanyak 61,7% dokter gigi membuat model studi
sebelum perawatan. 85% dokter gigi mengalami kesulitan selama pembuatan gigi
tiruan penuh, gigi tiruan sebagian lepasan dan gigi tiruan sebagian cekat.
Kesimpulan: Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa responden tidak
mengikuti teknik dan prosedur yang diajarkan di fakultas kedokteran gigi dimana
teknik dan prosedur tersebut dianggap penting dalam keberhasilan perawatan
prostodontik. Dokter gigi perlu melanjutkan program pendidikan dalam bidang
kedokteran gigi untuk meningkatkan keterampilan mereka.
KATA KUNCI: Fakultas kedokteran gigi, praktisi gigi swasta, prostodonsia, teknik
____________________________________________________________________
PENDAHULUAN

Prostodonsia didefinisikan sebagai cabang kedokteran gigi yang berhubungan dengan


pemulihan dan pemeliharaan fungsi mulut, kenyamanan, penampilan dan kesehatan pasien
dengan merestorasi gigi asli dan mengganti gigi yang hilang dengan bahan artifisial. 1
Prostodonsia merupakan cabang kedokteran gigi yang berhubungan dengan rehabilitasi mulut
pasien oleh dokter gigi dengan pembuatan gigi tiruan penuh, gigi tiruan sebagian lepasan,
gigi tiruan sebagian cekat dan protesa maksilofasial. Dokter gigi harus menyadari
biocompatibility dan bioacceptability dari gigi tiruan serta teknik yang digunakan dalam
perawatan.
Memelihara apa yang ada lebih penting daripada mengganti apa yang sudah hilang. 2
Pernyataan ini menunjukkan bahwa gigi tiruan yang dibuat oleh dokter gigi tidak hanya
mengganti struktur yang hilang tetapi memelihara apa yang ada. Banyak penulis dan buku
teks telah menjelaskan teknik prostodonsia supaya memberi panduan kepada operator dan
memberikan perawatan yang optimal, namun mereka mungkin memiliki pendapat yang
berbeda tentang teknik tersebut. Dengan kata lain, masing-masing fakultas kedokteran gigi
dan dosen-dosen memiliki filosofi tersendiri dalam perawatan pasien. Teknik yang diajarkan
atau yang dipelajari kadang-kadang tidak dilakukan dalam praktek. Berbagai penelitian telah
dilakukan tentang perbedaan prosedur prostodontik yang dilakukan oleh praktisi gigi swasta
dan teknik yang diajarkan di fakultas kedokteran gigi. 3-7 Sebuah survei menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan prosedur pembuatan gigi tiruan penuh di fakultas kedokteran gigi dengan
dokter gigi umum.7 Pada penelitian ini, rencana pelajaran yang ditentukan oleh Dental
Council of India (DCI) diambil sebagai patokan dan semua lulusan dokter gigi dianggap telah
mengetahui prosedur prostodontik yang ideal.8
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berbagai teknik prostodonsia yang
digunakan oleh praktisi gigi swasta, untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh praktisi
gigi swasta dalam perawatan prostodontik dan untuk membandingkan teknik yang diajarkan
dan teknik yang digunakan oleh praktisi gigi swasta.
BAHAN DAN METODE
Sebuah survei direncanakan untuk menentukan teknik prostodontik yang diterapkan
oleh praktisi gigi swasta India dan untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh para
praktisi selama berbagai tahapan gigi tiruan lengkap, gigi tiruan sebagian lepasan dan gigi
tiruan sebagian cekat dan untuk membandingkan teknik yang diajarkan kepada mereka dan
teknik diikuti oleh praktisi.
Pelaksanaan Survei

Untuk melakukan survei, suatu kuesioner pretest dipersiapkan untuk diisi oleh praktisi
gigi swasta. Kuesioner itu berisi pertanyaan yang berkaitan dengan gigi tiruan penuh, gigi
tiruan sebagian tetap, dan gigi tiruan sebagian lepasan. Tidak ada versi standar dari kuesioner,
tapi itu dirancang khusus di departemen dari prostodonsia untuk survei ini. Kuesioner ini
diuji pada 50 praktisi gigi swasta. Perawatan gigi tiruan sebagian lepasan dibagi menjadi gigi
tiruan sebagian akrilik dan gigi tiruan sebagian logam.
Bagian gigi tiruan lengkap kuesioner mengandungi dua diagram edentulus dari
maksila dan mandibula area basal seat di mana responden diminta untuk menggambar
sebagai berikut: Lokasi di mana spacer disediakan, daerah dimana stopper jaringan vertikal
disediakan, dan daerah di mana perforasi dibuat.
Ukuran Sampel
Sebanyak 1.000 praktisi gigi swasta dari empat kota-kota besar India (New Delhi,
Chandigarh, Bangalore, dan Pune) dihubungi melalui kunjungan pribadi dan juga melalui
pos. Direktori praktisi gigi swasta diperoleh dari cabang Indian Dental Association di empat
kota yang dipilih. Setiap praktisi yang kelima dari setiap direktori telah dimasukkan dalam
studi dengan systemic random sampling.Praktisi yang sibuk dengan prakteknya dan tidak
dapat mengisi formulir pada kunjungan tersebut diminta untuk mengirimkan kuesioner lewat
pos dengan amplop disertai alamat sendiri.
Dari 1000 praktisi gigi swasta, hanya 700 yang memberi respon terhadap survey ini.
Praktisi yang tidak memberikan respon tidak dimasukkan dalam studi ini. Informed Consent
didapatkan dari semua praktisi gigi swasta dan para praktisi telah dijanjikan bahwa informasi
yang terkumpul akan disimpan sebagai rahasia

Analisis Statistik
Oleh karena penelitian ini merupakan studi deskriptif simple berkaitan dengan nomor
dan presentase, hanya Microsoft Excel digunakan untuk menghitung hasilnya dan tidak ada
perangkat statistik lain yang digunakan. hasilnya diolah dalam bentuk kalimat, tabel dan
grafik.
HASIL
Hasil survei yang terpilih berguna untuk menggambarkan kondisi pada masa kini di
dalam praktek prostodonsia swasta di berbagai klinik gigi yang terletak di kota-kota besar di
India.

Dari 700 orang, sebanyak 563 orang ( 80,4%) dari praktisi gigi swasta melaporkan
bahwa mereka melakukan perawatan prostodontik dengan sendirinya. Total dari 70 orang
(10%) memiliki prostodontis yang berkunjung ke klinik mereka untuk melakukan perawatan
terhadap pasien yang membutuhkan gigi tiruan dan 67 orang (9,6%) praktisi gigi swasta
melakukan suatu kasus prostodontik dengan sendirinya dan akan memanggil prostodontis
untuk suatu kasus gigi tiruan yang kompleks seperti gigi tiruan sebagian logam dan gigi
tiruan implan.
Total dari 670 orang dari praktisi gigi swasta menanggapi pertanyaan tentang
melakukan studi sebelum memulai suatu perawatan dan hanya sebanyak 413 orang ( 61,7%)
yang membuat suatu model studi.
Pembuatan Gigi Tiruan Penuh
Praktisi gigi swasta yang menanggapi berkenaan dengan teknik pencetakan yang
diikuti oleh mereka adalah sebanyak 660 orang dari 700 orang. Mayoritas daripada praktisi
gigi swasta yang mengikuti teknik pencetakan ganda adalah sebanyak 560 orang (85%)
dibanding dengan yang mengikuti teknik pencetakan tunggal yaitu sebanyak 140 orang
(15%) (Tabel 1).

Total dari 455 orang ( 81,2%) subjek menanggapi pertanyaan tentang menyediakan
spacer di dalam daerah basis gigi tiruan dari sebanyak 560 subjek yang mempraktekkan
teknik pencetakan ganda. Setengah dari responden (50%) menyediakan spacer pada daerah
mid raphe palatal yang mana 190 orang (41,7%) menyediakan spacer di atas daerah puncak
linggir dan sebanyak 38 orang (8,3%) menyediakan spacer pada daerah lain. Pada daerah
spacer mandibula, Sebanyak 247 orang (54,3%) praktisi gigi swasta dari 455 orang
menyediakan spacer pada puncak anterior dan selebihnya pada daerah premolar dan molar
(Gambar 1).

Total dari 204 praktisi gigi swasta menanggapi tentang ketentuan dari pembuatan
stopper sendok cetak fisiologis rahang atas dan rahang bawah adalah pada daerah premolar
dan molar. Lobang retensi sendok cetak fisiologis rahang atas pada midpalatal raphe, daerah
rugae, dan papila insisivus dilakukan oleh 343 orang (62,2%) praktisi gigi swasta dari total
560 orang praktisi gigi swasta. Total dari 217 orang (38,8%) praktisi gigi swasta
menyediakan lobang retensi pada daerah puncak linggir. Pada sendok cetak mandibula,
sebanyak 217 orang (100%) praktisi gigi swasta membuat lobang retensi dan semuanya
adalah pada puncak linggir mandibula.
Sebanyak 660 orang subjek menanggapi pertanyaan tentang metode yang digunakan
untuk mencatat relasi vertikal rahang sewaktu pembuatan gigi tiruan penuh. Mayoritas dari
praktisi gigi swasta ( 67,2%) mengikuti teknik Niswonger. Teknik kombinasi dan
konvensional masing-masing diikuti sebanyak 25% dan 4,6% oleh praktisi gigi swasta.
(Gambar2).

Total dari 240 orang (36,4%) menanggapi tentang masalah yang dihadapi sewaktu
pembuatan gigi tiruan penuh. Dan sebanyak 104 orang (43,3%) menghadapi masalah dengan
pencatatan relasi rahang, 30 orang (12,5%) menghadapi masalah dalam mendapatkan retensi
dan sebanyak 22 orang (9,2%) melaporkan prosedur ini memakan waktu.

Pembuatan gigi tiruan sebagian cekat


Sebanyak 95,8% dari praktisi gigi swasta melakukan pembuatan gigi tiruan sebagian
cekat. Sebanyak 598 orang (89,2%) membuat sendiri dimana 72 orang (10,8%) mempunyai
spesialis yang berkunjung ke klinik mereka untuk pembuatan gigi tiruan. Sebanyak 492 orang
dari 670 orang praktisi gigi swasta melakukan retraksi gingiva sebelum preparasi mahkota.
Berbagai jenis pelapis ( akrilik dan porselain) diberikan dan berbagai jenis semen mahkota
yang berbeda digunakan oleh praktisi gigi swasta (Tabel 2).

Instruksi pasca perawatan setelah gigi tiruan cekat diberikan secara lisan oleh 595
orang (80,7%) dari praktisi gigi swasta, sementara sebanyak 75 orang (11,2%) darinya
memberikan instruksi dalam bentuk tulisan. Dari 310 orang responden yang menghadapi
masalah sewaktu pembuatan protesa sebagian cekat, sebanyak 87 orang (28,2%) menghadapi
masalah gigi sensitif sewaktu preparasi, sementara 86 orang (27,7%) mengalami traumatik
oklusi. Fraktur pelapis atau terlepasnya gigi tiruan merupakan masalah yang dihadapi oleh 20
orang (6,4%) praktisi gigi swasta, sementara 18 orang darinya merasakan bahwa seleksi
warna gigi merupakan masalah utama.

Pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan


Sebanyak 675 orang dari praktisi gigi swasta menanggapi pertanyaan tentang
pembuatan gigi tiruan lepasan. Sebanyak 480 orang (71,1%) hanya membuat gigi tiruan
sebagian akrilik, 10 orang (1,5%) membuat perawatan gigi tiruan sebagian logam dan
sebanyak 185 orang (27,4%) membuat kedua-dua perawatan gigi tiruan sebagian akrilik dan
gigi tiruan sebagian logam.

Total dari 195 orang praktisi gigi swasta melakukan perawatan gigi tiruan sebagian
logam. Tabel 3 menggambarkan tentang berbagai prosedur seperti survei model, passen
kerangka logam, dan instruksi pasca perawatan yang diberikan oleh praktisi gigi swasta.
Sebanyak 115 orang dari praktisi gigi swasta menanggapi tentang masalah yang
dihadapi sewaktu pembuatan gigi tiruan sebagian logam. Sebanyak 52 orang (45,2%)
melaporkan kekurangan dalam kerja lab sebagai masalah utama, sebanyak 33 orang (28,7%)
melaporkan biaya tinggi dan sebanyak 20 orang (17,4%) melaporkan kurang koordinasi
antara dokter gigi dan lab.
DISKUSI
Para praktisi gigi swasta yang tidak menanggapi kuesioner dihubungi untuk kedua
kalinya, tetapi tidak ada dari mereka yang setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian oleh
karena itu ukuran sampel yang final adalah 700.
Menurut DCI silabus untuk diakui perguruan tinggi gigi di India, mahasiswa tingkat
sarjana mereka menghabiskan lebih dari 30% dari karir akademik mereka dalam
pengembangan prostodontik, mulai dari tahun pertama ke tahun terakhir mempelajari
berbagai aspek prostodontik. Meskipun dari teoritis mereka mempelajari prostodontik secara
umum, secara klinis mereka dilatih terutama dengan gigi tiruan lepasan, yaitu gigi tiruan
penuh lepasan konvensional dan gigi tiruan akrilik sebagian
Seperti telah disebutkan, literatur menunjukkan bahwa ada perbedaan besar antara
teknik prostodontik diajarkan dalam kurikulum sarjana di lembaga dan institusi gigi yang
diakui diikuti oleh beberapa praktisi swasta. Teknik prostodontik yang berbeda-beda
disebutkan oleh berbagai penulis dan buku semua teknik ini diterima secara universal.
Telah didokumentasikan dalam beberapa penelitian bahwa untuk membuat cetakan
yang akurat dan untuk mencapai objektif pencetakan, perlu mengambil dua kali cetakan
(awal dan akhir) tetapi dalam penelitian ini masih 15% dari praktisi mengikuti teknik
pencetakan tunggal. Hal ini juga dilaporkan dalam banyak penelitian bahwa cetakan
compound dalam membuat cetakan awal namun hasil penemuan penelitian ini mendukung
bahwa 71% praktisi menggunakan alginat daripada cetakan compound.
Beberapa studi telah menyarankan penggunaan spacer yang memadai pada seluruh
permukaan yang ditutupi

gigi tiruan dengan stopper yang bertentangan dengan hasil

penemuan penelitian karena masih 18,8% praktisi tidak memberikan spacer.

Telah dilaporkan oleh berbagai penulis bahwa cara terbaik untuk membuat posterior
palatal seal adalah dengan kombinasi metode tetapi dalam penelitian ini masih 88.2% dari
praktisi
mengikuti metode fisiologis. Selain itu, terdapat banyak masalah diberi oleh praktisi selama
pembuatan gigi tiruan lengkap. Sebagian besar masalah berhubungan langsung dengan teknik
yang diterapkan dan keahlian praktisi serta pengetahuan dalam subjek. Kekurangan dalam
salah satu ini akan memberikan produk akhir yang kurang memuaskan.
Sensitivitas gigi adalah salah satu masalah yang dihadapi oleh praktisi selama
preparasi gigi untuk gigi tiruan cekat sebagian. Pasien tertentu memiliki gigi sangat sensitif,
dan itu menimbulkan kesulitan untuk memberi anestesi yang secukupnya kepada pasien
selama perawatan. Gigi seperti itu sebaiknya diobati menggunakan semen yang tidak
mengiritasi pulpa. Sementara sebagian besar praktisi menggunakan seng fosfat untuk
sementasi, semen ionomer kaca resin-modified dan semen asam benzoat ortho-ethoxy adalah
pilihan yang baik untuk pasien sperti ini.
Penting untuk membuat model studi sebelum pembuatan gigi tiruan

sebagian

lepasan. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa hanya 13,6% dari praktisi membuat
model studi yang bertentangan dengan pernyataan di atas. Teknisi laboratorium tidak efisien
dalam mendesain kerangka gigi tiruan sebagian lepasan karena mereka tidak memiliki dasar
pengetahuan biologi dari struktur mulut sehingga tidak dibolehkan untuk mendesain kerangka
gigi tiruan sebagian lepasan. Namun menurut penemuan studi ini, sebagian besar praktisi gigi
(74%) menggunakan teknisi laboratorium untuk mendesain kerangka mereka. Kasus yang
mirip dilaporkan dalam penelitian lain di Alberta.
Telah dilaporkan bahwa survei untuk model diagnostik adalah wajib untuk pembuatan
model gigi tiruan sebagian. Tapi hanya 30% dari para praktisi dalam penelitian ini yang
melakukan survei. Sebagian besar masalah yang dihadapi praktisi selama perawatan gigi
tiruan sebagian lepasan yang berkaitan dengan sikap

dan empati terhadap pasien serta

kurangnya pengetahuan yang tepat dan keahlian untuk pengobatan yang diperlukan.
Survei ini dilakukan di empat kota besar di India, di mana sebagian besar kedokteran
gigi modern dipraktekkan. Survei menegaskan teknik yang digunakan oleh para praktisi
swasta di kota-kota ini dan dapat dikatakan dari hasil bahwa beberapa praktisi swasta di kotakota modern yang masih menggunakan teknik pintas dan tidak tepat untuk rehabilitasi
prostodontik pasien yang merupakan kekuatan utama survei.
Penelitian ini memiliki beberapa kelemahan dan pengaruh pada keakuratan hasil .
Misalnya, tidak dapat diketahui dengan pasti seberapa akurat laporan pribadi dari

penggunaan, apakah teknik sering atau kadang-kadang digunakan oleh karena tidak memiliki
informasi tentang teknik yang dilakukan oleh yang bukan responden, ini juga dapat
mempengaruhi hasil sampai batas tertentu.
KESIMPULAN
Sampel dari praktisi gigi swasta menunjukkan kesempatan untuk menentukan
berbagai teknik prostodontik yang diikuti oleh mereka dan untuk mengetahui masalah yang
dihadapi oleh mereka sewaktu merawat subjek prostodontik. Untuk pembuatan gigi tiruan
yang ideal, hal ini diperlukan bahwa praktisi mengikuti prosedur dan metode yang telah
disebutkan dalam buku-buku teks standar, dikutip oleh berbagai penulis dan diajarkan dalam
kurikulum sarjana. Satu kesimpulan yang mungkin adalah bahwa ada pemisahan antara
kurikulum prosthodontik sarjana dan praktek umum kedokteran gigi. Mayoritas praktisi
swasta menggunakan prosedur pendek dan banyak dari mereka mengikuti metode mereka
sendiri yang nyaman untuk pengobatan masalah prostodontik. Hampir semua dari mereka
membuat perawatan gigi tiruan sebagian cekat, bahkan mereka tidak dilatih secara klinis. Ada
banyak perbedaan antara teknik-teknik yang diterapkan dan teknik-teknik yang sedang diikuti
oleh para praktisi. Masalah yang dihadapi oleh para praktisi selama berbagai tahapan
perawatan prostodontik dapat dihindari dan dapat dikaitkan dengan kurangnya pengetahuan
tentang bahan dan teknik dan karena tindakan berbagai metode yang tidak sesuai. Salah satu
masalah yang dialami oleh para praktisi adalah sensitivitas gigi yang dapat dihindari selama
preparasi gigi dengan melakukan persiapan berupa anestesi lokal.
Masalah lain adalah bahwa Porselin yang kemungkinan fraktur dapat dihindari
dengan mengikuti pedoman yang disebutkan dalam buku teks untuk persiapan gigi dan
pembuatan gigi tiruan dan memberikan petunjuk perawatan yang benar kepada pasien.
Kurangnya retensi juga adalah salah satu masalah yang dihadapi selama pembuatan gigi
tiruan lengkap dan dapat dihindari dengan membuat cetakan awal dengan bahan cetakan yang
sesuai, diikuti oleh cetakan akhir untuk mendapatkan rincian jaringan lunak.
Melanjutkan pada program pendidikan gigi di bidang yang dapat menekankan resiko
cara pintas perawatan dan menekankan pentingnya teknik yang dapat membantu untuk
meningkatkan efektivitas praktisi klinis dan kualitas perawatan yang diberikan kepada pasien.
Ini mungkin juga akan diperlukan untuk menekankan dasar prinsip-prinsip prostodontik
dalam pengajaran kurikulum sarjana.
REFERENSI
1. Blarcom V, Clifford W. The glossary of prosthodontic terms. J Prosthet Dent
1999;81:44-106.

2. Carlsson GE, Omar R. The future of complete dentures in oral rehabilitation. A


critical review. J Oral Rehabil 2010;37:143-56.
3. Hyde PT, McCord JF. Survey of prosthodontic impression procedures for complete
dentures in general dental practice in the United Kingdom. J Prosthet Dent 1999;81:295-9.
4. Petropoulos VC, Rashedi B. Complete denture education in U.S. dental schools. J
Prosthodont 2005;14:191-7.
5. Rashedi B, Petropoulos VC. Preclinical complete dentures curriculum survey. J
Prosthodont 2003;12:37-46.
6. Harrison A, Huggett R, Murphy WM. Complete denture construction in general
dental practice: An update of the 1970 survey. Br Dent J 1990;169:159-63.
7. Clark RK, Radford DR, Juszczyk AS. Current trends in complete denture teaching
in British dental schools. Br Dent J 2010;208:e10.
8. Kadagad P, Tekian A, Pinto PX, Jirge VL. Restructuring an undergraduate dental
curriculum to global standards-a case study in an Indian dental school. Eur J Dent Educ
2012;16:97-101.
9. Wieder M, Faigenblum M, Eder A, Louca C. An investigation of complete denture
teaching in the UK: Part 1. A survey of undergraduate teaching. Br Dent J 2013;215:177-81.
10. Bachhav VC, Aras MA. A simple method for fabricating custom sectional
impression trays for making definitive impressions in patients with microstomia. Eur J Dent
2012;6:244-7.
11. Haney SJ, Nicoll R, Mansueto M. Functional impressions for complete denture
fabrication. A modified jump technique. Tex Dent J 2010;127:377-84.
12. Batista AU, Carreiro Ada F, Souza AA, Filho JN, de Almeida EO. Dynamic
functional impression technique for severely resorbed alveolar ridges. Eur J Prosthodont
Restor Dent 2011;19:160-2.
13. de Souza e Silva ME, de Magalhes CS, Ferreira e Ferreira E. Complete
removable prostheses: From expectation to (dis) satisfaction. Gerodontology 2009;26:143-9.
14. McCord JF, Grant AA. Impression making. Br Dent J 2000;188:484-92.
15. Futris SC. Prerequisites for trouble-free fully functional dentures. Dent Today
2012;31:116-8.
16. Bindhoo YA, Thirumurthy VR, Kurien A. Complete mucostatic impression: A new
attempt. J Prosthodont 2012;21:209-14.
17. Chen MS. Reliability of the fovea palatine for determining the posterior border of
the maxillary denture. J Prosthet Dent 1980;43:133-7.

18. Rashedi B, Petropoulos VC. Current concepts for determining the postpalatal seal
in complete dentures. J Prosthodont 2003;12:265-70.
19. Hill EE, Lott J. A clinically focused discussion of luting materials. Aust Dent J
2011;56 Suppl 1:67-76.
20. Lechner SK, Thomas GA. Removable partial denture design: Importance of
clinical variables. Eur J Prosthodont Restor Dent 1994;2:127-9.
21. Avrampou M, Kamposiora P, Papavasiliou G, Pissiotis A, Katsoulis J,
Doukoudakis A. Design of removable partial dentures: Asurvey of dental laboratories in
Greece. Int J Prosthodont 2012;25:66-9.
22. Wolfaardt JF, Tan HK, Basker RM. Removable partial denture design in Alberta
dental practices. J Can Dent Assoc 1996;62:637-44.