Anda di halaman 1dari 11

RESUME

URGENSI PEMBENTUKAN CYBER LAW DAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN


EKONOMI DI INDONESIA

Disusun Oleh :
Kelompok 4

Riswandi
Pamela Rizki Merdekawati
Ni AgengDjohar
Sofiani Auliya Rahmaan
Kristina Rasnawua Fau
Andiani Apriliani
Faya Adiyati Putri

110110120167
110111020183
110110120185
110110120204
110110120218
110110120222
110110120227

Diajukan untuk memenuhi tugas


mata kuliah Cyber Law, dibawah bimbingan:
Dr. Sigid Suseno. S.H.,M.H.
Enni Soerjati, S.H., M.H.

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2014

URGENSI PEMBENTUKAN CYBER LAW DAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN


EKONOMI DI INDONESIA

A. MEDIA CYBER SEBAGAI MEGA TREND


Teknologi informasi dan komunikasi merupakan ujung tombak komunikasi
yang menjadikan lahirnya suatu dunia baru yang disebut dusun global (global village),
yang didalamnya dihuni oleh warga negara yang disebut warga jaringan (netizent).
Penggabungan komputer dengantelekomunikasi melahirkan suatu fenomena yang
mengubah model konfigurasi komunikasi konvensional, dengan melahirkan suatu
kenyataan dalam dimensi ketiga yang dikenal sebagai kenyataan maya (virtual reality)
yang melahirkan suatu format masyarakat lainnya.
Kemajuan dan perkembangan teknologi ini pada akhirnya akan mengubah
tatanan organisasi dan hubungan sosial kemasyarakatan. Mereka yang sudah menikmati
manfaat teknologi tersebut terbukti telah mengalami peningkatan ekonomi. Selain
mempermudah manusia dalam menjalankan akivitasnya, di sisi lain juga bahwa
perkembangan teknologi ini menimbulkan berbagai permasalahan seperti munculnya
berbagai kejahatan baru yang dikenal sebagai cybercrime. Selain itu, perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi ini telah mengakibatkan semakin derasnya lalu
lintas informasi. Seperti dalam dunia ekonomi, khususnya perdagangan yang mendapat
imbas dari kehadiran media komunikasi yang cepat sehingga aktivitas bisnis di
berbagai negara cenderung meningkat termasuk di Indonesia.
Untuk menfasilitasi tercapainya pertumbuhan dan pembangunan ekonomi
khususnya Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan seperti yang tertuang
dalam TAP MPR RI No. IV/MPR/1999 tentang GBHN tahun 1999-2004, yang berisi
ketentuan mengenai pengembangan peraturan perundang-undangan yang mendukung
kegiatan perekonomian dalam mengahadapi era perdagangan bebas tanpa merugikan
kepentingan

nasional.

Selain

itu

disebutkan

pula

mengenai

pengembangan

perekonomian yang berorientasi global sesuai kemajuan teknologi dengan membangun


keutungan komparatif.

Sekalipun dampak kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dapat


berakibat negatif, akan tetapi tidak menjadikan harus dihindari. Namun tergantung
bagaimana cara kita mengoptimalkannya agar kemajuan teknologi inforkasi dan
komunikasi ini menjadi memberikan kemudahan-kemudahan.
Dewasa ini banyak Negara yang terlibat dengan globalisasi perdagangan sedang
berusaha keras untuk menyiapkan kerangka kebijakan bagi pembangunan disektor
teknologi informasi, mengingat ketidak tersediaan peraturan tersebut dapat berakibat
pada terganggunya iklim perekonomian dan proses pembangunan ekonomi. Lebih
lanjut, hal ini akan menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia hingga
saat ini belum memiliki undang-undang yang mengatur masalah pemanfaatan teknologi
informasi. Sementara aktivitas warga Negara telah selangkah lebih maju dengan
berkecimpung dibidang teknologi informasi. Hal ini tentu menimbulkan ketidak
jelasan, terlebih aktivitas di sector ekonomi.
Di Indonesia transaksi e-commerce menunjukan tren yang akan terus naik dengan
pesat. Yang menarik adalah ternyata alasan yang menyebabkan transaksi e-commerce
di Indonesia sangat kecil dibandingkan dengan nilai transaksi di dunia bukan terletak
pada rendahnya faktor pendukung. Infrastruktur ini antara lain Payment Gateway,
Lembaga Sertifikasi (Certification Authority) dan aturan hukum yang engatur masalah
transaksi elektronik
Akibat belum tersedianya undang-undang yang mengatur bidang teknologi
informasi, khususnya mengenai perdagangan dengan media elektronik (e-commerce),
Indonesia telah kehilangan potensi e-commerce miliaran USD pertahun karena banyak
pelaku usaha enggan melakukan transaksi dan pembayaran secara elektronik jika suatu
Negara belum memiliki cyber law.
Tanpa ada undang-undang dibidang teknologi informasi maka kekuatan hukum
akan menjadi melemah jika terjadi penyalahgunaan, padahal biaya yang dikeluarkan
untuk transaksi e-commerce tergolong sangat besar
Oleh karena itu, untuk lebih mengoptimalkan penggunaan sarana teknologi
informasi dalam setiap aspek, kehidupan manusia disamping sekaligus salah satu upaya
bagi terciptanya percepatan pembangunan ekonomi nasional, maka kebtuhan akan

terbentuknya undang-undang teknologi informasi (cyberlaw) merupakan sesuatu yang


tidak dapat ditunda-tunda lagi pelaksanaan

B. TEKNOLOGI INFORMASI : MENANTI REGULASI


pengaturan teknologi informasi yang sifatnya menyeluruh pada umumnya akan
memuat segala permasalahan yang berkaitan dengan pemanfaatannya, seperti masalah
hukum, ekonomi, kelembagaan, penyelesaian sengketa, dsb. Atas sifatnya yang
komprehensif, pengaturan teknologi informasi akan mempermudah dilaksanakannya
pengembangan sekaligus evaluasi terhadap pemanfaatan teknologi tersebut
untuk menentukan apakah suatu persoalan perlu dibentuk suatu kebijakan atau
tidak memang bukan hal yang mudah untuk dilakukan, karena hal ini memerlukan
pengkajian yang sangat mendalam, menyangkut, aspek sosiologis, filosofis, yuridis,
dsb.
Faktor pendorong perlunya dibentuk undang-undang, antaralain:
1. Kondisi faktual menunjukan hampir disetiap kehidupan manusia telah dipengaruhi
oleh aktivitas pemanfaatan Teknologi Informasi, ironis apabila terhadap aktivitas
yang sedemikian kompleks belum ada perundang-undanganyang mengaturnya.
2. Peraturan yang ada mampu menjawab persoalan yang timbul dibidang TI
3. Adanya kekhawatiran dari sebaguan kalangan (khususnya yang berkecimpyng
dalam dunia bisnis) perihal tidak adanya jaminan hukum dalam beraktivitas
melalui teknologi informasi apabila peraturan yang dimaksud belum dibentuk.
4. Indonesia sebagai salah satu bagian dari masyarakat dunia tidak dapat menghindar
untuk tidak membenahi perangkat hukumnya di bidang TI agar tidak dikucilkan
dunia internasional
5. Persaingan dalam memperebutkan invstasi asing sudah semakin ketat

C. KEBIJAKAN TEKNOLOGI INFORMASI DI INDONESIA


Pada tahun 1993 / 1994 pernah ada Instruksi Presiden yang isinya mengaharuskan
setiap instansi pemerintah untuk menggunakan personal komputer produk dalam

negeri. Instruksi presiden ini menjadi kurang efektif ketika harga komputer branded
(bermerek) turun mendekati kompiter hasil rakitan dalam negeri.
Tonggak yang paling mendasar dalam pengembangan sektor teknologi informasi
sebenarnya terjadi ketika pada masa pemerintahan presiden Habibie terbentuk Undangundang no. 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi yang mulai berlaku sejak 8
september 1999, dengan beberapa peraturan pelaksanaannya seperti Peraturan
Pemerintah Nomor 52 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan telekomunikasi, peraturan
pemerintah no. 53 tahun 2000 tentang Frekuensi dan Orbit Satelit.
Melalui Undang-undang no. 36 tahun 1999, telekomunikasi Indonesia memasuki
sejarah baru, sektor ini resmi meninggalkan privilege monopolinya untuk bertransisi ke
era kompetisi. Kompetitor baru pun dapat masuk menjadi operator jaringan maupun
jasa di sektor ini. Namun, mengubah budaya ternyata tidaklah mudah, setelah undang
undang tentang Telekomunikasi Tahun 1999 diberlakukan PT. Telkom tetaplah si anak
manis. Akibatnya muncul banyak pihak meminta dibentuknya badan regulasi
independen. Pada tanggal 11 juli 2003 akhirnya pemerintah mengeluarkan Keputusan
Menteri Perhubungan no. 31 tahun 2003 tentang penetapan Badan Regulasi
Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang diklaim sebagai lembaga independen.
Keputusan Menteri Perhubungan no. 31 tahun 2003 tersebut ternyata juga tidak
memberi wewenang eksekutor kepada BRTI, sehingga sangat dipertanyakan efektivitas
BRTI dalam mengawal kompetisi telekomunikasi.
Presiden KH Abdurahman Wahid pun telah banyak memberikan perhatian
terhadap bidang ini diantaranya dengan mengeluarkan instruksi presiden no. 1 / 2001
tentang penggunaan lahan bekas lapangan terbang Kemayoran sebagai wilayah
pengembangan telematika. Selanjutnya pendirian Badan Koordinasi Otimatisasi
Administrasi Negara (BAKOTAN) yang menjadi cikal bakal konsep Nusantara 21.
Tugas utama BAKOTAN adalah sebagai institusi yang mengordinasikan segala upaya
peningkatan kualitas pelayanan administrasi negara melalui penggunaan teknologi
informasi. Kemudian Presiden KH Abdurahman Wahid mengeluarkan Keputusan
presiden no. 50 tahun 2000 yang menunjuk Wakil presiden sebagai ketua TKTI dengan
anggota semua menteri yang memimpin departemen ataupun menteri negara.
Kemudian dikeluarkan pula Intruksi Presiden No. 6 tahun 2001 tentang Kerangka
Kebijakan pengembangan dan Pendayagunaan Teknologi Telematika Indonesia.

Kebijakan pemerintah ini berisikan arahan untuk dijadikan acuan dan landasan
berbagai kalangan dalam pengembangan dan pendayagunaan Telematika di Indonesia
yang meliputi :
1. Teknologi

telematika

untuk

mempersatukan

bangsa

dan

memberdayakan

masyarakat
2. Teknologi telematika dalam masyarakat dan untuk masyrakat
3. Pengembangan infrastruktur nasional
4. Peran sektor swasta dan iklim usaha
5. Peningkatan kapasitas dan teknologi Telematika
6. Pengembangan E-Government atau Government On-Line
7. Peningkatan dan penguatan Tim Koordinasi Telematika Indonesia.
Selain itu pemerintahpun telah menjadi inisiator bagi proyek berbasis teknologi
informasi untuk mengoptimalkan teknologi ini bagi pembangunan nasional, seperti :
pembuatan nasional information technologi framework, dsb.

D. PERMASALAHAN

HUKUM

DALAM

PEMANFAATAN

TEKNOLOGI

INFORMASI
Pemanfaatan teknologi informasi selain menghasilkan banyak manfaat bagi
kehidupan manusia, juga berdampak pada munculnya permasalahan yang memerlukan
penanganan yang serius, seperti sosial, ekonomi, keamanan, hukum, dan sebagainya.
Perkembangan hukum di Indonesia selalu menunjukkan ketertinggalan, yang
disebabkan banyaknya peraturan yang merupakan peninggalan penjajah yang masih
tetap digunakan maupun yang dibuat sekarang, dari sisi materi atau substansi tidak
mampu mengimbangi perkembangan zaman yang semakin cepat. Sehingga ketika
muncul permasalahan dan diajukan ke pengadilan, hakim mengalami kesulitan dalam
memutuskan.
Permasalahan

yang berkaitan

dengan

pemanfaatan

teknologi

informasi

diantaranya :
1. Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)
Karakteristik teknologi informasi yang sangat cepat dan mudah melahirkan inovasi
baru serta sama sekali berbeda dengan produk yang sifatnya konvensional. Basri

Arief berpendapat bahwa persoalan pelanggaran hak cipta di internet belum dapat di
antisipasi oleh UU No. 14 Tahun 1997 tentang Hak Cipta dan UU No. 15 Tahun
2001 tentang Merek yang tidak bisa menjangkau dunia maya. Contohnya kasus
mustika-ratu.com yang diduga didaftarkan oleh perusahaan kompetitornya.
2. Perlindungan Konsumen
Masuknya internet dalam dunia perdagangan atau bisnis merenggangkan kedekatan
para pihak dalam transaksi, karena masing-masing pihak yang tidak mengenal satu
sama lain, ketidak jelasan barang yang ditawarkan, kepastian bahwa barang yang
dikirim sesuai dengan yang dipesan dan sebagainya. Undang-undang perlindungan
konsumen yang masih berbasis pada sesuatu yang sifatnya fisik belum dapat
menjangkau permasalahan dalam dunia maya.
3. Perbankan
Adanya transaksi perbankan melalui media internet memudahkan konsumen dalam
bertransaksi. Munculnya kasus typosite klikbca.com adalah salah satu kasus bahwa
perlu adanya perlindungan terhadap aktivitas perbankan yang memakai internet.
4. Privacy
Di Indonesia, masalah privacy belum menjadi masalah besar, berbeda dengan di
luar negeri, dimana identitas pribadi seseorang dilindungi dengan baik. Privacy
berkaitan dengan masalah defarmation atau pencemaran nama baik, yaitu tindakan
yang merusak reputasi atau privasi seseorang yang menyebabkan kerugian
diantaranya merusak reputasi perusahaan atau lembaga.
5. Electronic Commerce
Transaksi perdagangan melalui media elektronik atau electronic commerce
menimbulkan berbagai masalah hukum seperti keabsahan dokumen yang dibuat,
tandatangan digital, kekuatan mengikat dari kontrak, pembayaran transaksi dan
sebagainya. Dalam operasionalnya, e-commerce dapat berbentuk Business to
Business atau Business to Consumers.

E. SIGNIFIKASI PEMBENTUKAN CYBER LAW TERHADAP PERCEPATAN


PEMBANGUNAN EKONOMI
Hukum harus difungsikan sebagai a tool of social engineering agar pembangunan
ekonomi benar-benar berjalan sesuai dengan garis kebijakan yang diamanatkan oleh Undangundang Dasar 1945. Sebagai a tool of social engineering hukum seharusnya berdiri di

depan pembangunan, sebab jika tidak demikian persoalan ketidakpastian hukum akan selalu
muncul mengiringi perkembangan perekenomian kita. Dalam menghadapi era teknologi
informasi yang semakin cepat tanpa dibatasi waktu dan wilayah hukum Indonesia jauh
tertinggal.
Pengembangan sektor hukum diharapkan mampu mampu memberikan kontribusi
pada percepatan pembangunan ekonomi. Padahal kondisi umum di Indonesia belum
mendukung kesiapan Indonesia dalam menghadapi persaingan global sebagaimana
dinyatakan dalam Garis-haris Besar Haluan Neagara bab II perihal Kondisi Umum, yang di
sebutkan Pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi belum
dimanfaatkan secara berarti dalam kegiatan ekonomi, sosial dan budaya, sehingga belum
memperkuat kemampuan Indonesia dalam menghadapi Kerjasama dan persaingan global
Pengaruh hukum terhadap percepatan pembanguna ekonomi di Indonesia memegang
peranan yang strategis, melalui perangkat hukum segala aktifitas ekonomidalam berbagai
perwujudannya, memiliki

dasar keabsahan

(legalitas). Melalui

perangkat

hukum,

perlindungan dalam beraktifitas menjadi sangat terjamin. Segala aktivitas perekonomian yang
dijalankan tanpa memiliki dasar hukum yang kuat akan mudah memunculkan berbagai
masalah, yang mana masalah tersebut apabila dihitung secara ekonomi akan memunculkan
biaya yang tinggi.
Kehendak untuk mengadakan adanya iklim perdagangan internasional yang aman dan
jelas bagi masyarakat internasional dan menciptakan liberalisasi perdagangan yang
berkelanjutan di bidang penannaman modal, tenaga kerja, jasa untuk mendorong peningkatan
angka pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di seluruh dunia, sudah dimulai sejak
bedirinya GATT melalui serangkaian perundingan yang membawa kearah terbentuknya
world trade organization (WTO).
Keamanan dan kejelasan dalam bertransaksi tidak dapat diabaikan dalam menjamin
kesinambungan transaksi, terlebih lagi di era globalisasi sekarang dimana transaksi-transaksi
perdagangan sudah tidak lagi dibatasi oleh perbedaan jarak, waktu, bangsa, dll.
Salah satu instrumen yang dapat dipakai untuk menjamin adanya keamanan dan
kejelasan dalam bertransaksi adalah instrumen hukum, terlebih dalam penerapannya disertai
dengan sanksi yang tegas. Banyak contoh kasus dimana perjanjian-perjanjian bisnis yang
dibuat di Indonesia antara pengusaha Indonesia dengan mitra asingnya berakhir dengan

sengketa. Sengketa antara PT. Telkom dengan Aria West Internasional (AWI) merupakan
salah satu contohnya. Perbedaan penafsiran antara kedua perusahaan tersebut menimbulkan
keguncangan terhadap perekonomian nasional.
Pembangunan ekonomi pada hakikatnya merupakan serangkaian kegiatan yang
terjalin dari setiap bagian yang bekerja sama mendukung satu sama lain. Pembangunan
perundang-undangan sebagai salah satu bagian dalam elemen pendukung aktivitas
pembanguan ekonomi dapat memberikan kontribusi yang signifikan tehadap percepatan
pembangnan ekonomi.
Adapun pengaruh pembentukan undang-undang teknologi informasi tersebut adlah
sebagai berikut :
1. Jaminan kepastian dan keamanan dalam berusaha
Di negara-negara berkembang sepertia Indonesia, kepastian dan keamanan dalam
berusaha merupakan prioritas utama, ketakutan terjadinya nasionalisasi seperti yang
pernah terjadi sebelumnya merupakan pengalama buruk yang sedapat mungkin di
hndarkan oleh perusahaan-perusahaan yang menanamkan investasinya di Indonesia.
Oleh karena itu, diharapkan melalui pembentukan Undang-Undang teknologi
informasi jaminan kepastian dan keamanan dalam berusaha menjadi lebih
terwujudkan.
2. Memasuki era teknologi informasi, perekonomian yang sifatnya konvensional sedikit
demi sedikit dapat di hindarkan. Kenyataan ini telah diterapkan dalam perdagangan
saham di lantai bursa, pertemuan fisik antara pihak tidak akan dijumpai, perjanjian
tidak lagi dibuat atas sehelai kertas, tanda tangan pun tidak lagi berbentuk tulisan
tangan. Karena kecenderungan telah mengarah pada fenomena virtual.
3. Perlindungan terhadap Hak-hak prbadi baik perorangan maupun perusahaan yang
selama ini belum diatur dalam perundang-undangan yang ada dapat menjadi faktor
pendorong dalam masuknya investasi asing. Oleh karena itu, diharapkan pengaturan
tentang hak-hak pribadi masuk dalam salah satu ketentuannya.
4. Aktifitas ekonomi baik yang sifatnya domestik maupun internasional selalu dihantui
dengan munculnya sengketa. Masalahnya adalah bagaimana kedudukan alat bukti
dalam transaksi dengan internet yang banyak berbentuk kode dan serba digital dapat
dipersamakan dengan alat bukti yang selama ini dikenal. Disinilah peranan undang-

undang teknologi informasi yang akan memberikan kepastian terhadap bukti-bukti


tersebut.
5. Penentuan yurisdiksipun rentan memunculkan masalah. Masing-masing pihak selalu
ingin agar setiap sengketa yang muncul dapat diselesaikan dinegaranya sendiri, denga
harapan akan lebih menguntungkan pihaknya. Undang-undang tekonolgi informasi
dapat memberikan kejelasan mengenai masalah penentuan yurisdiksi.
6. Bidang perpajakan merupakan hal yang sangat penting diperhatian ketika akan
melakukan suau kegiatan usaha, pajak merupakan suatu kewajiban bagi pelaku usaha.
Dalam transaksi dengan internet dimungkinkan terjadinya pengenaan pajak secara
berganda karena subjek pajak dinegaranya telah dipungut pajal sedangkan dinegara
lainpun dikenakan pajak atas transaksi yang dilakukannya. Aspek pajak pun
memerlukan kejelasan pengaturan dari UU Teknologi informasi, sehingga jangan
sampai terjadi pelaku usaha dalam bidang teknologi informasi mengurngkan niatnya
untuk berinvestasi di Indonesia karena ketidakjelasan pengaturan perpajakan.
Agar pembentukan perangkat perundang-undangan tentang teknologi informasi
mampu mengarahkan segala aktivitas dan transaksi di dunia cyber sesuai dengan standar etik
dan hukum yang disepakati maka proses pembuatannya diupayakan sebagai berikut :
1. Menetapkan prinsip-prinsip dengan pengemban teknologi informasi, antara lain
sebagai berikut :
a. Melibatkan berbagai unsur terkait: pemerintah, swasta, profesional, dan
perguruan tinggi;
b. Menggunakan pendekatan yang moderat (jalan tengah) untuk mensintesiskan
antara prinsip-prinsip hukum konvensional dan norma-norma hukum yang
baru terbentuk;
c. Memperhatikan keunikan dari dunia maya (cyberspace);
d. Mendorong adanya kerjasam internasional mengingat sifat internet yang
beroperasi secara virtual dan luntas batas;
e. Menempatkan sektor swasta sebagai leader dalam persoalan-persoalan yang
menyangkut industri dan perdagangan;
f. Pemerintah harus mengambil peran dan tanggung jawab yang jelas untuk
persoalan yang menyangkut kepentingan publik;
g. Aturan hukum yang akan dibentuk tidak bersifat restriktif, melainkan harus
bersifat direktif, dan futuristik.

2. Melakukan pengkajian terhadap perundang-undangan nasional yang memiliki kaitan


langsung maupun tidak langsung dengan munculnya persoalan-persoalan hukum
akibat dari transaksi internet. Contohnya, tuntutan akan perubahan pada Undangundang Tentang Perlindungan Konsumen.

F. KESIMPULAN
Kebutuhan akan lahirnya undang-undang mengenai teknologi Informasi
(Cyberlaw) yang diharapkan mengatur pemanfaatan teknologi Informasi secara
komprehensif merupakan hal yang tidak dapat ditunda-tunda lagi.
Kondisi faktual dala kehidupan masyarakat Indonesia telah membuktikan bahwa
ketiadaan undang-undang berakibat pada munculnya berbagai bentuk kekhawatiran
dalam menjalan aktifitas secara virtual, seperti kerahasiaan, kepastian, keamanan, dsb.
Membiarkan kekhawatiran ini terus berlangsung sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan perekonomian di Indonesia, baik secara mikro maupun makro.
Pengalaman di negara-negara maju menunjukkan adanya suatu hubungan yang
signifikan antara pemanfaatan teknologi informasi yang optimal dengan percepatan
pembangunan ekonomi. Pada akhirnya pembangunan ekonomi akan bermuara pada
peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Pengalaman di negara-negara maju dapat dijadikan sebagai cerminan bagi negara
kita untuk sesegera mungkin membentuk undang-undang Teknologi informasi
mengingat besarnya pengaruh pembentukan undang-undang tersebut terhadap
percepatan pembangunan ekonomi.