Anda di halaman 1dari 5

A.

SITUASI KONDISI KLIEN KRONIS


Ketika orang mengalami penyakit akut terpencil atau masalah kesehatan dan mencari perawatan,
rencana perawatan klien sering fokus pada pemahaman dan persiapan untuk tes diagnostik, medis dan
bedah intervensi, dan pemulihan kegiatan. Penyakit akut adalah terbatas dengan serangan, pengobatan,
dan penyembuhan tahapan, dan kembali ke klien mereka biasa dengan gaya hidup sederhana, jika ada
perubahan yang diperlukan. ketika orang mengalami penyakit kronis namun, rencana perawatan harus
beralih dari fokus pada obat untuk fokus pada penyakit dan perubahan gaya hidup. tidak ada fase
penyembuhan selesai, dan perubahan gaya hidup yang pasti terjadi sebagai penyakit berlangsung. klien
dengan penyakit kronis dan keluarganya harus belajar untuk beradaptasi terhadap perubahan berbagi
aspek kehidupan, antara lain:
1 .Identitas
2. Peran
3. Relationship
4. Kemampuan
5. Pola prilaku
Tahap Perjalanan Penyakit Kronis
Sebagai penyakit yang menuntut perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, Penyakit kronis melalui
tahapan, sebagai berikut:
1. Progresif
Tingkat kemampuan meningkat dengan perode sembuh yang minimal. Adaptasi terhadap penyakit dan
tuntutan perubahan peran sangat dibutuhkan.
a. Penyakit yang sangat progresif memerlukan peningkatan adaptasi dengan periode waktu yang singkat
Contoh: Penyakit kanker yang tidak berespon terhadap pengobatan.
b. Penyakit progresif yang lamban memerlukan stamina yang lebih besar dalam menghadapi penyakitnya
yang berkembang secara lambat.
Contoh: Emfisema, Diabetes Mellitus
2. Konstan/ Menetap
Setelah injuri akut seperti dtroke atau injury spinal cord akan diikuti dengan periode stabilitas fisik dan
adaptasi terhadap penurunan fungsi adaptasi atau keterbatasan. Secara umum periode stabilitas dan
kebutuhan akan perawatan dapat diperkirakan.
3. Kambuh/ Episodic
Periode kambuh tidak dapat dipredikasi, menyebabkan ketegangan pada klien dan keluarga. Seperti
migraine, multiple selerosis mempunyai periode yang bervariasi dengan tanda dan gejala yang minimal
sampai dengan tidak ada. Gaya hidup normal menjadi terganggu dengan munculnya periode akut
dimana membutuhkan perawatan yang seringkali menyebabkan perubahan peran keluarga.

Prinsip Komunikasi pada Usia Lansia


Diperlukan pendekatan individual tentang kemampuan kognitif , tingkat orientasi, dan penurunan sensori.
Pengkajian kognitif pada lansia, antara lain:
1. Pilih waktu yang tepat,
2. Ruangan cukup penerangan,
3. Intonasi suara dipertahankan,
4. Bilamenggunakan kaca mata atau alat Bantu dengar, anjurkan untuk dipakai,
5. Duduk ditempat yang bias dilihat,
6. Tanyakan pertanyaan dengan lambat dan tunggu respon,
7. Tes tidak akurat bila dilaksanakan pada saat neri atau mendapat obat sedative.

B. TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PASIEN KRONIS


Area intervensi dan peran Komunikasi antara lain:
1. Mengenal, mengakui dan menerima emosi klien dan keluarga terhadap status fisik dan kebutuhan
pengobatan
Cara yang terpenting adalah melalui komunikasi saat mengobservasi dan bekerja dengan klien dan
keluarga, perawat harus belajar tentang perasaan dan reaksi mereka merupakan kunci intervensi
komunikasi adalah mendengar
Tahapan mendengar yang terapeutik, antara lain:
a. Menyatakan bahwa anda mendengar, seperti pernyataan sederhana bahwa anda mendengar mereka,
memberi kesempatan untuk berbicara dan mengemukakan hal yang dipikirkan.
b. Menyatakan isi atau kandungan dari apa yang telah dikatakan, seperti mengulang kembali, memberi
kesempatan pada klien untuk klarifikasi, dan melanjutkan atau menggali lebih dalam.
c. Menyatakan kembali emosi yang telah diperlihatkan dengan cara merefleksikan kembali emosi yang
telah diekspresikan seperti merespon terhadap tingkat emosional dapat memberikan hasil yang baik dan
biasanya memfasilitasi ekspresi perasaan.
d. Menggali informasi lebih banyak dengan cara menunjukan bahwa anda tertarik atau ingin mengetahui
lebih jelas tentang hal-hal yang ingin dikatakan atau kebutuhan atau keinginan.

2. Bekerja dengan klien dan keluarga untuk mengidentifikasi pemahaman tentang sakit dan keterlibatan
di dalam perwatan serta harapan mereka terhadap petugas kesehatan.
Sering diasumsikan bahwa seseorang dengan sakit kronik dan keluarganya. Mengerti akan proses
penyakit dan pengobatan karena mereka telah hidup lama dengan kondisi tersebut menjadi asumsi yang
tidak dibenarkan sehingga tujuan yang diharapkan perawat tidak sesuai dengan tujuan klien dan
keluarga. Pada perencanaan harus dibuat bersama dan didiskusikan sehingga didapat gambaran tentang
pemahaman klien, kemampuan untuk menerima proses penyakit, dampak penyakit serta kemampuan
yang diharapkan untuk berfungsi
Jika klien dan keluarga mengalami shock atau denial perlu dilakukan pendekatan dengan fokus, antara
lain:
a. Support terhadap emosi mereka
b. Sharing dan menguatkan informasi mendasar tentang sakit dan perawatan rutin, seperti:
1) Mengulang informasi
2) Menulis informasi
3) Secara bertahap menambah detail dan kedalaman penjelasan
Biasanya mereka akan memperlihatkan kesiapannya melalui pertanyaan-pertanyaan dan
keingintahuannya tentang apa saja yang telah dilakukan dengan melihat terhadap kemungkinan adanya
kesempatan untuk menolong mereka lebih memahami apa yang terjadi dan tujuan intevensi yang
dilakukan, seperti:
a) Marah terhadap apa yang terjadi mungkin diarahkan kepada staff
Yang harus dilakukan perawat adalah menerima keluhan dan klarifikasi apa yang menyebabkan klien
dan keluarga marah dan hindari perilaku nonverbal yang konfrontasi.
b) Bagaimana interprestasi dan reaksi klien terhadap tanda dan gejala yang dialaminya dapat menjadi
petunjuk terhadap pemahaman dan reaksi terhadap penyakit. Hal-hal yang harus diperhatikan perawat
adalah:

Hati-hati melakukan pemeriksan fisik


Observasi terhadap respon fisik klien
Contoh: Pucat, nadi meningkat, tekanan darah meningkat, berkeringat, meringis, kesulitan tidur.
Observasi respon emosional klien
Contoh: Menarik diri, Perlakuan iritabel.
Gali bagimana biasanya mereka mengekspresikan bila rasa nyeri dan stress timbul. Contoh: Apakah
cenderung menahan diri atau hanya dirinya yang tahu, apakah mereka mengekspresikan emosinya
ketika nyeri dan stress terjadi.
Jika pengobatan dan perawatan tidak dapat mengurangi keluhan mungkin nyeri merupakan bagian dari
masalah
Ketika klien mengalami kehilangan fungsi fisik atau peran keluarga, kehilangan tersebut dapat
diekspresikan sebagai nyeri
Jika nyeri menjadi kronik dan merupakan fokus utama klien maka masalah dapat berkembang
menyangkut keluarga dan sosial, pekerjaan, farmakologik dan dimensi interpersonal
Keberhasilan penanganan memerlukan pengkajian yang lengkap dari multidisiplin untuk tiap dimensi,
diikuti oleh intervensi multidisiplin yang tepat dan konsisten. Dalam hl ini membutuhkan komunikasi yang
jelas, konsisten dan terkoordinasi dengan klien dan keluarga.
3. Bekerja untuk menyamakan harapan klien dan professional
Hal-hal yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi harapan klien adalah:
a. Sharing informasi tentang proses penyakit dan penjelasan mengenai penanganan terapi, medikasi dan
perubahan-perubahan yang mungkin terjadi
b. Menetapkan keperawatan rutin yang tepat dimana klien dapat melaksanakannya
c. Dorong klien dan keluarga untuk bertanya dan berpartisipasi dalam membuat keputusan

4. Koordinasi kebutuhan perawatan dan pengobatan dengan kemampuan dan tingkat energi serta
keluarga
Penyakit kronis dapat menurunkan energi klien secara fisik, mental dan emosional. Kekhawatiran
financial dapat menjadi stressor utama yang dapat mempengaruhi mental dan emosi. Jika kelelahan
menjadi kronik dan berdampak pada kesehatan dan kemampuan secara umum untuk melakukan aktifitas
yang diharapkan. Dengan mengetahui bahwa perawat memperhatikan kebutuhan mereka akan
mengajarkan mereka untuk mengevaluasi secara periodic.
5. Suport strategi koping yang positif dan penggunaan sumber-sumber multidisiplin yang dibutuhkan.
Peran kunci perawat bekerja dengan klien dan keluarga adalah membantu mereka dapat mengatasi
stress dengan sukses dengan strategi yang difokuskan pada:
a. Pencegahan atau menurunan stress
b. Meningkatkan kemapuan untuk menghadapi stress

Cara Berkomunikasi pada Lansia


Berikut ini cara-cara berkomunikas pada lansia, antara lain:
1. Perkenalkan diri dan ulangi setiap waktu,
2. Bicara pelan dan jelas dan beri waktu berespon,
3. Gunakan bahasa yang sederhana,
4. Ikuti respon pasien walaupun lambat dan jangan memberikan informasi berlebihan.

C. . INTERVENSI PADA PENDERITA KRONIS


Bantuan yang diberikan kepada klien dan keluarga ditekankan pada kebutuhan fisik dan psikososial dan
kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Kebutuhan dan perubahan kemampuan selalu berubah
dipengaruhi oleh usia dan rasa berduka yang disebabkan oleh penyakit yang dihubungkan dengan
beberapa hal, antara lain:
1. Kehilangan,
2. Pola keyakinan,
3. Tujuan personal,
4. Perubahan peran,
5. Faktor financial,
6. Metoda koping,
7. Tingkat pengetahuan,
8. Support system.
Rencana keperawatan efektif diperlukan kebebasan, terbuka, komunikasi tanpa henti dengan klien dan
keluarga sebagai pusat kesehatan dalam keperawatan (Weaver dan Wilson, 1994).
Intervensi pada klien dan keluarga dihubungkan dengan issue yang pada pengkajiannya perlu
mengidentifikasi Kemampuan fungsional dan psikososial, serta kekuatan dan kelemahan. Hal penting
yang harus diketahui oleh klien dan keluarga sebagai dampak dari perubahan penyakit pada masa
transisi. Adapun faktor-faktor yang harus diidentifikasi adalah
1. Apakah arti transisi bagi klien dan keluarga?
2. Apa harapan klien dan keluarga terhadap adanya perubahan?
3. Bagaimana status fisik dan emosional klien dan keluarga?
4. Apakah klien dan keluarga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk melewati
masa transisi?
5. Apakah lingkungan mendukung?
6. Bagaimana kebenaran perancanaan yang dibuat untuk membantu pasien dan keluarga dalam bekerja
melewati masa transisi?

KOMUNIKASI TERAPEUTIK
PENDAHULUAN
Komunikasi mempunyai banyak sekali makna dan sangat bergantung pada konteks pada saat
komunikasi dilakukan. Bagi beberapa orang, komunikasi merupakan pertukaran informasi diantara dua
orang atau lebih, atau dengan kata lain; pertukaran ide atau pemikiran. Metodenya antara lain: berbicara
dan mendengarkan atau menulis dan membaca, melukis, menari, bercerita dan lain sebagainya.
Sehingga dapat dikatakan bahwa segala bentuk upaya penyampaian pikiran kepada orang lain, tidak
hanya secara lisan (verbal) atau tulisan tetapi juga gerakan tubuh atau gesture (non-verbal), adalah
komunikasi.
Komunikasi merupakan suatu proses karena melalui komunikasi seseorang menyampaikan dan
mendapatkan respon. Komunikasi dalam hal ini mempunyai dua tujuan, yaitu: mempengaruhi orang lain
dan untuk mendapatkan informasi. Akan tetapi, komunikasi dapat digambarkan sebagai komunikasi yang
memiliki kegunaan atau berguna (berbagi informasi, pemikiran, perasaan) dan komunikasi yang tidak
memiliki kegunaan atau tidak berguna (menghambat/blok penyampaian informasi atau perasaan).
Keterampilan berkomunikasi merupakan keterampilan yang dimiliki oleh seseorang untuk membangun
suatu hubungan, baik itu hubungan yang kompleks maupun hubungan yang sederhana melalui sapaan
atau hanya sekedar senyuman. Pesan verbal dan non verbal yang dimiliki oleh seseorang
menggambarkan secara utuh dirinya, perasaannya dan apa yang ia sukai dan tidak sukai. Melalui
komunikasi seorang individu dapat bertahan hidup, membangun hubungan dan merasakan kebahagiaan.
Effendy O.U (2002) dalam Suryani (2005) menyatakan lima komponen dalam komunikasi yaitu;
komunikator, komunikan, pesan, media dan efek. Komunikator (pengirim pesan) menyampaikan pesan
baik secara langsung atau melalui media kepada komunikan (penerima pesan) sehingga timbul efek atau
akibat terhadap pesan yang telah diterima. Selain itu, komunikan juga dapat memberikan umpan balik
kepada komunikator sehingga terciptalah suatu komunikasi yang lebih lanjut.
Keterampilan berkomunikasi merupakan critical skill yang harus dimiliki oleh perawat, karena komunikasi
merupakan proses yang dinamis yang digunakan untuk mengumpulkan data pengkajian, memberikan
pendidikan atau informasi kesehatan-mempengaruhi klien untuk mengaplikasikannya dalam hidup,
menunjukan caring, memberikan rasa nyaman, menumbuhkan rasa percaya diri dan menghargai nilainilai klien. Sehingga dapat juga disimpulkan bahwa dalam keperawatan, komunikasi merupakan bagian
integral dari asuhan keperawatan. Seorang perawat yang berkomunikasi secara efektif akan lebih
mampu dalam mengumpulkan data, melakukan tindakan keperawatan (intervensi), mengevaluasi
pelaksanaan dari intervensi yang telah dilakukan, melakukan perubahan untuk meningkatkan kesehatan
dan mencegah terjadinya masalah- masalah legal yang berkaitan dengan proses keperawatan.
Proses komunikasi dibangun berdasarkan hubungan saling percaya dengan klien dan keluarganya.
Komunikasi efektif merupakan hal yang esensial dalam menciptakan hubungan antara perawat dan klien.
Addalati (1983), Bucaille (1979) dan Amsyari (1995) menegaskan bahwa seorang perawat yang
beragama, tidak dapat bersikap masa bodoh, tidak peduli terhadap pasien, seseorang (perawat) yang
tidak care dengan orang lain (pasien) adalah berdosa. Seorang perawat yang tidak menjalankan
profesinya secara profesional akan merugikan orang lain (pasien), unit kerjanya dan juga dirinya sendiri.
Komunikasi seorang perawat dengan pasien pada umumnya menggunakan komunikasi yang berjenjang
yakni komunikasi intrapersonal, interpersonal dan komunal/kelompok. Demikian pula ditegaskan dalam
Poter dan Perry (1993) bahwa komunikasi dalam prosesnya terjadi dalam tiga tahapan yakni komunikasi
intrapersonal (terjadi dalam diri individu sendiri), interpersonal (interaksi antara dua orang atau kelompok
kecil) dan publik (interaksi dalam kelompok besar).