Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan anak merupakan hasil interaksi antara faktor
genetika dan lingkungan. Faktor post natal yang mempengaruhi kualitas tumbuh
kembang salah satunya adalah faktor gizi dimana pada usia bayi yang berperan adalah
air susu ibu (ASI), terutama ASI eksklusif. Yang dimaksud dengan ASI eksklusif atau
lebih tepat pemberian ASI secara eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja tanpa
tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa
tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi, dan
tim.
Pemberian ASI eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu setidaknya selama 4
bulan, tetapi bila mungkin sampai 6 bulan. Setelah bayi berumur 6 bulan, ia harus
mulai diperkenalkan makanan padat, sedangkan ASI dapat diberikan sampai bayi
berusia 2 tahun.
Riset terbaru World Health Organization (WHO) pada tahun 2006 menyebutkan
bahwa 42% penyebab kematian balita di dunia adalah pneumonia sebanyak 58%
terkait dengan malnutrisi, malnutrisi sering terkait dengan kurangnya asupan ASI.
Berdasarkan penelitian WHO 90% tahun 2006 pemberian ASI di dunia hingga usia
enam bulan terbukti menyelamatkan 1,3 juta anak di dunia tiap tahunnya. Tapi
kenyataannya kurang dari 40% ibu di seluruh dunia yang memberi ASI eksklusif pada
bayinya hingga enam bulan pertama seperti yang dianjurkan WHO(Chan,2009).
Pada Kepmenkes RI No.450/MENKES/IV/2004 tentang pemberian ASI secara
eksklusif pada bayi ditetapkan bahwa pemberian ASI eksklusif bagi bayi lahir sampai
dengan berumur enam bulan. Namun pada kenyataannya masih terdapat sebagian ibu
yang menyusui bayinya tidak secara eksklusif yaitu memberikan makanan tambahan
sebelum bayinya berumur enam bulan. Hasil survey yang dilaksanakan pada tahun
2006 oleh Nutrition and Health Surveillance System (NSS) kerjasama degan
Balitbangkes dan Hellen Keller International

di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya,

Semarang dan Makassar) dan 8 pedesaan (Sumatera Barat, Lampung, Banten, Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan)

menunjukkan bahwa cakupan ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotana berkisar 1-13%
sedangkan di pedesaan 2-13%(www.depkes.go.id,2007).
Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Lampung pada tahun 2002 jumlah bayi 0-4
bulan yang diberi ASI eksklusif 68.572 orang atau 42,83% dari 159-987 orang.
Sedangkan tahun 2003 jumlah bayi 0-6 bulan yang diberi ASI eksklusif sebesar
29,54% target tahun 2003 adalah 19,7%, pada tahun 2004 sebesar 34,53% dari
165.656 bayi, (Dinkes Provinsi Lampung,2004). Sedangkan untuk wilayah Tanjung
Karang Pusat jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif sebanyak 69,4% dari 2404 bayi
(Dinkes Kota Lampung,2004).
Pemberian ASI eksklusif dapat menurunkan resiko bayi mengidap berbagai
penyakit seperti radang paru-paru, diare, infeksi / peradangan telinga, asma, kencing
manis, overweight, dan beberapa infeksi lainnya yang disebabkan oleh kuman (Harms
way, 2002). Bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif mempunyai kemungkinan lebih
besar menderita kekurangan gizi, obesitas, kanker, jantung, hipertensi dan diabetes.
(Amiruddin dan Rostia, 2006).
Keyakinan tentang menyusui bayi khususnya di kota-kota besar kelihatannya
sudah mulai luntur. Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar terlihat adanya
tendensi penurunan pemberia ASI yang dikhawatirkan akan meluas ke pedesaan.
Hasil Riskesdas 2007, terjadi penurunan pemberian ASI pada bayi 0-5 bulan. Data
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan tahun 2002
pemberian ASI masih 40% dan pada Riskesdes tahun 2007 turun menjadi 32%.
Berdasarkan hasil Riskesdes tahun 2010, pemberian ASI pada bayi dibawah 6
bulan belum memuaskan. Pemberian ASI pada umur 0-1 bulan 45,4%, 2-3 bulan
38,3%, dan 4-5 bulan 31%. Secara keseluruhan cakupan pemberian ASI eksklusif di
Indonesia tahun 2010 hanya 20%, jauh dari target yang ditetapkan yaitu 80%. Dari
hasil Riskesdas , jenis makanan prelaktal yang paling banyak diberikan adalah susu
formula 71,3% (Riskesdas tahun 2010).
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004,
ditemukan berbagai alasan ibu-ibu menghentikan pemberian ASI eksklusif bayinya,
diantaranya produksi ASI kurang (32%), ibu bekerja (16%), ingin dianggap modern

(4%), masalah pada puting susu (28%), pengaruh iklan susu formula (16%), dan
pengaruh orang lain terutama suami(4%) (Depkes RI 2005).
Alasan lain seorang ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya karena
masih merebaknya mitos bahwa menyusui akan membuat payudara menjadi tidak
indah lagi serta membuat badan menjadi gemuk. Mitos ini sanggup membuat para ibu
tidak mau atau berhenti menyusui. Mereka takut ditinggalkan suaminya sebagaimana
hasil survey Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) pada tahun 1995 tehadap
ibu-ibu se-Jabotabek (Ardiningsih, 2004).
Faktor lainnya yang menghambat pemberian ASI eksklusif adalah pengalaman
keluarga dalam pemberian ASI eksklusif, pengalaman ibu (jarak, lam menyusui dan
cara menyusui), sikap ibu, suami dan keluarga terhadap menyusui, sikap tenaga
kesehatan yang membantu ibu berpengaruh terhadap pengambilan keputusan
menyusukan bayinya atau tidak. Sementara kemampuan untuk secara mandiri dalam
mengambil keputusan juga tak kalah pentingnya. Selain itu status ekonomi juga sangat
menentukan ibu untuk memberikan ASI, semua faktor ini merupakan resiko yang
berpengaruh

terhadap

pemberian

ASI

eksklusif.

Faktor-faktor

inilah

yang

menyebabkan pemberian ASI eksklusif di Indonesia cukup rendah (Depkes, 2009).


Faktor keberhasilan dalam menyusui adalah menyusui secara dini dengan posisi
yang benar, teratur dan eksklusif. Dalam hal ini peran petugas kesehatan (bidan) dan
kader sangatlah penting untuk menolong ibu menyusui, mengatasi kesulitankesulitannya sehingga penyelenggaraan laktasi dapat berjalan dengan baik. Agar dapat
terlaksananya pemberian ASI eksklusif dibutuhkan informasi yang lengkap mengenai
manfaat dari ASI dan menyusui serta bagaimana melakukan manajemen laktasi.
Sesuai dengan pelaksanaan manajemen laktasi yang dibagi dalam tiga periode
tahapan kegiatan dimulai pada saat masa kehamilan (antenatal) meliputi pemeriksaan
payudara, pemantauan berat badan dan pemberian Komunikasi Informasi dan Edukasi
(KIE), periode berikutnya adalah pada saat segera setelah melahirkan meliputi
membantu kontak langsung ibu dan bayi serta ibu mulai menyusui bayinya pada 30
menit setelah kelahiran, dilanjutkan dengan periode pasca persalinan (neonatal)
meliputi pemberian KIE tentang cara menyusui yang baik dan benar (Depkes,2002).