Anda di halaman 1dari 1

Penanganan Nyeri Pada Syok Hipovolemik Karena Perdarahan

Manajemen nyeri yang efektif melibatkan penggunaan yang sesuai alat penilaian
nyeri, terutama ketika menangani pasien yang tidak dapat berkomunikasi secara efektif
(orang dengan perubahan tingkat kesadaran atau bahasa hambatan, mereka yang
perkembangan tertunda, anak-anak atau orang tua, dll).
Ada dua kategori utama dari manajemen nyeri:
Teknik Non-farmakologis
- Menginformasikan kepada pasien
- Reassurance
- Distraction
- Posturing
- Positioning
- Heat or cold therapy
- Splinting
Farmakologi
- Parasetamol, methoxyflurane, GTN, morfin, fentanyl, ketamin, lignocaine.
- Pertimbangkan untuk memberikan kombinasi terapi farmakologi.
Manajemen nyeri tidak akan mencegah sebuah diagnosis dan oleh karena itu, harus
dilaksanakan untuk semua pasien.
Pada syok hipovolemik, pereda nyeri perlu diberikan untuk meringankan penderitaan
pasien dan juga efek yang menguntungkan pada patofisiologi syok hipovolemik dimana
mengurangi sekresi katekolamin sehingga mengurangi afterload. Bantuan ventilator mungkin
diperlukan pada pasien dengan gangguan ventilasi. Campuran 50% nitrous oksida dan 50%
oksigen (Entonox) dapat diberikan sebelum pasien mencapai rumah sakit, dan dilengkapi
dengan penambahan morfin 5 mg, 10 mg nalbuphine, atau ketamin 25-50 mg dengan
diazepam 5 - 10 mg atau midazolam 5 mg intravena hingga efek analgesia tercapai.

Hubungan Keterlambatan Manajemen Nyeri dengan Penyembuhan Luka


The International Association for the Study of Pain (IASP) mendefinisikan nyeri
sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan.
Telah diketahui bahwa luka yang berhubungan dengan nyeri dapat berdampak negatif
terhadap proses penyembuhan luka, yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien.
Penelitian mengungkapkan bahwa stress dapat memperlama proses penyembuhan
luka. Lebih lagi, banyak studi telah menunjukkan dampak stress terhadap penyembuhan luka
baik dari psikologi maupun fisiologi. Sebagai contoh, banyak studi menunjukkan manajemen
stress seperti teknik relaksasi dan pendekatan emosional dana mempercepat penyembuhan
luka dibanding dengan grup kontrol. Sedangkan stress selama penyembuhan luka operasi
dapat berperan terhadap rendahnya sitokin proinflamasi pada cairan luka setelah operasi.