Anda di halaman 1dari 3

Sejak jaman dahulu masyarakat Indonesia sudah mengenal dan menggunakan

tumbuhan berkhasiat obat sebagai salah satu upaya penanggulangan masalah kesehatan yang
dihadapi. Hal ini telah dilakukan jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obatobatan modern menyentuh masyarakat. Pengetahuan tentang tumbuhan obat merupakan
warisan budaya bangsa secara turun temurun (Muhlisah, 2002). Pencarian obat baru dapat
dimulai dari isolasi dan identifikasi kandungan utama dari bahan alam. Kulit buah manggis
(G. mangostana L.) telah digunakan dalam obat tradisional untuk mengatasi gangguan
pernafasan (Wahyuono et. al., 1999). Selain itu, secara tradisional kulit buah manggis selain
sebagai obat diare juga digunakan sebagai obat sariawan dengan cara kulit buah ditambah air
dan direbus kemudian digunakan sebagai obat kumur (Sastroamidjoyo, 2001).
Manggis merupakan salah satu buah yang digemari oleh masyarakat Indonesia.
Tanaman manggis berasal dari hutan tropis yang teduh di kawasan Asia Tenggara, yaitu hutan
belantara Indonesia. Pohon manggis dapat tumbuh di dataran rendah sampai di ketinggian di
bawah 1.000 m dpl. Pertumbuhan terbaik dicapai pada daerah dengan ketinggian di bawah
500-600 m dpl. (Prihatman, 2000) Pemanfaatan kulit buah manggis sebenarnya sudah
dilakukan sejak lama. Kulit buah manggis secara tradisional digunakan pada berbagai
pengobatan di Negara India, Myanmar Sri langka, dan Thailand. Secara luas, masyarakat
Thailand memanfaatkan kulit buah manggis untuk pengobatan penyakit sariawan, disentri,
cystitis, diare, gonorea, dan eksim. (Mardiana,.2012)
Pada beberapa tahun ini, produksi buah manggis mulai meningkat, diikuti dengan
kenaikan jumlah buah yang diekspor. Menurut Badan Pusat Statistik (2010), Indonesia telah
memproduksi buah manggis sebanyak 84.538 ton, sedangkan porsi buah manggis yang dapat
dikonsumsi hanya 20-30%, dan sisanya berupa kulit sehingga terhitung sebanyak 59 67 ribu
ton kulit manggis terbuang. Produksi buah manggis di provinsi Jawa Timur mencapai 11.238
ton dan sisanya berupa kulit sebesar 7.800-8.900 ton belum teraplikasikan secara maksimal
Menurut Tambunan (1998) dan Subroto (2008) kulit buah manggis mempunyai sifat
sebagai anti-aging, menurunkan tekanan darah tinggi, menurunkan berat badan, antivirus juga
antibakteri. Kulit batang manggis juga dimanfaatkan untuk mengatasi nyeri perut, sedang
akarnya untuk mengatasi haid yang tidak teratur. Kandungan kimia pada akar, kulit batang
dan kulit buah manggis adalah saponin, disamping itu akar dan batangnya juga mengandung
flavonoid dan polifenol, serta kulit buah manggis juga mengandung tanin, flavonoid,
steroid/triterpenoid dan kuinon serta unsur natrium, kalium, magnesium, kalsium, besi, zink
dan tembaga. Kulit kayu, kulit buah dan lateks kering manggis mengandung sejumlah zat
warna kuning yang berasal dari dua metabolit sekunder yaitu mangostin dan p-mangostin.

Mangostin merupakan komponen utama sedangkan kadar (3- mangostin lebih kecil dan
1,3,6,7-tetrahidroksi- 2,8-di (3-metil-2butenil) ksanton yang diberi nama a-mangostanin dari
kulit buah manggis. Senyawa golongan xanthone adalah metabolit sekunder yang terdapat
dalam manggis yang dapat diisolasi dari buah, kulit batang, daun, dan kulit buah manggis.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa xanthone memiliki aktivitas antioksidan,
antiinflamasi, antialergi, antibakteri, antifungi, antitumor, dan antivirus (Pedraza, et al., 2008;
Suksamrarn, et al., 2006).
Dari hasil penelitian uji aktivitas antibakteri yang dilakukan oleh Masniari
Poeloengan dari Balai Besar Penelitian Veteriner dan Praptiwi dari Bidang Botani, Pusat
Penelitian Botani-LIPI. Hasil penelitian uji aktivitas antibakteri kandungan kulit buah
manggis ini memberikan sebuah gambaran umum tentang kandungan dan bagaimana cara
kerja dari berbagai zat yang ada didalamnya dalam menghambat laju pertumbuhan bakteri.
Contohnya dijelaskan bahwa zat Tanin dapat menghambat pertumbuhan kuman dan bahkan
dapat berfungsi sebagai anti-mikroba pada konsentrasi tinggi. Atau juga bagaimana peran zat
aktif bernama Saponin yang dapat memecahkan sel kuman. Berdasarkan hasil penelitian
tersebuat didapatkan pula, penentuan nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) ekstrak
kulit buah manggis terhadap bakteri Gram Positif menunjukkan bahwa KHM ekstrak kulit
buah manggis terhadap S.epidermidis adalah 2%. Oleh sebab itu penggunaan konsentrasi
ekstrak lebih dari 2% dapat menghambat pertumbuhan S. epidermidis.
Staphylococcus aureus adalah bakteri kokus, gram positif, tampak seperti anggur
cluster bila dilihat melalui mikroskop dan memiliki besar, bulat, kuning keemasan koloni,
sering kali dengan hemolisis ketika tumbuh pada lempeng agar darah. Penampilan emas
adalah etimologi akar dari nama bakteri : aureus berarti emas dalam bahasa latin. Beberapa
diaantaranya tergolong flora normal pada kulit dan selaput mukosa manusia, menyebabkan
penanahan, abses, dan berbagai infeksi dan bahkan bahan septikimia fatal. S. aureus
mengandung polisakarida dan protein yang berfungsi sebagai antigen dan merupakan
substansi penting di dalam struktur dinding sel, tidak membentuk spora, dan tidak
membentuk flagel (Jawetz, E, 2005).
Infeksi oleh jenis kuman ini yang terutama menimbulkan penyakit pada manusia.
Setiap jaringan ataupun alat tubuh dapat diinfeksi olehnya dan menyebabkan timbulnya
penyakit dengan tanda-tanda yang khas, yaitu peradangan, nekrosis dan pembentukan abses.
Infeksinya dapat berupa furunkel yang ringan pada kulit sampai berupa suatu piemia yang
fatal. Kecuali impetigo, umumnya kuman ini menimbulkan penyakit yang bersifat sporadic
bukan epidemik. (FKUI, 1994). Staphylococcus aureus hidup sebagai saprofit didalam

saluran- saluran pengeluaran lender dari tubuh manusia dan hewan seperti hidung, mulut dan
tenggorokan dan dapat dikeluarkan pada saat bersin. Bakteri ini juga sering terdapat pada
pori-pori dan permukaan kulit, kelenjar keringat dan saluran usus. Staphylococcus aureus
juga dapat menyebabkan bermacam-macam infeksi seperti jerawat, bisul, meningitis,
pneumonia, dan mastitis pada manusia dan hewan (H.Imam Supardi,1999)
Staphylococcus aureus merupakan penyebab terjadinya infeksi yang bersifat piogenik.
Bakteri ini dapat masuk kedalam kulit melalui folikel-folikel rambut, muara kelenjar keringat
dan luka-luka kecil. Staphlococcus aureus mempunyai sifat menghemolisa eritrosit, memecah
manitol menjadi asa, staphylococcus aureus merupakan salah satu Staphylococcus yang
mempunyai kemampuan besar menimbulkan penyakit. Manusia merupakan pembawa
Staphylococcus aureus dalam hidung sebanyak 40-50%, juga bisa ditemukan di
baju,seprei,dan benda- benda lainnya di lingkungan sekitar manusia.(Jawetz,E,1996).
Pada umumnya dalam pengobatan penyakit infeksi dari Staphylococcus aureus seperti
bisul dilakukan secara topikal, sistemik ataupun tindakan fisik (Wasiaatmadja, 2001).
Masyarakat sering menggunakan obat antibiotik, namun pemakaian antibiotik secara
berlebihan dan kurang terarah dapat mengakibatkan terjadinya resistensi pada beberapa
antibiotik tertentu yang dapat menyebabkan kegagalan dalam pengobatan penyakit tersebut.
Para peneliti baru-baru ini menunjukkan Lexa protein bakteri kemungkinan besar memainkan
peran kunci dalam akuisisi mutasi bakteri. Patogen resisten Staphylococcus aureus adalah
salah satu patogen resisten utama. Ditemukan pada selaput lendir dan kulit sekitar sepertiga
dari populasi sangat sesuai dengan resisten antibiotik. Merupakan bakteri pertama di mana
resistensi penisilin ditemukan-di tahun 1947, hanya empat tahun setelah obat mulai
diproduksi secara massal. Methicillin kemudian menjadi antibiotik pilihan, tapi sejak tahun
1947 digantikan oleh oksasilin karena toksisitas ginjal yang signifikan. MRSA (MethicillinResistant Staphylococcus Aureus) pertama kali terdeteksi di Inggris pada 1961 dan sekarang
"cukup umum" di rumah sakit. MRSA bertanggung jawab untuk 37% kasus fatal keracunan
darah di Inggris pada tahun 1999, naik dari 4% pada tahun 1991. Setengah dari semua infeksi
Staphylococcus di AS resisten terhadap penisilin, methicillin, tetrasiklin dan eritromisin. Oleh
karena itu untuk mengatasinya infeksi dari bakteri Staphylococcus Aureus diperlukan bahan
alami salah satunya kulit buah manggis sebagai alternatif pengobatan.
Dari data diatas penulis ingin meneliti aktivitas antibakteri dari ekstrak kulit buah
manggis (Garcinia mangostana Linn) dengan berbagai konsentrasi terhadap pertumbuhan
bakteri Staphylococcus aureus.