Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kencur (Kaempferia galanga

L) sebagai salah satu tanaman obat

memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan. Salah satu alasan


pengembangannya

adalah

beragam dan cukup tinggi

kandungan
sehingga

bahan aktifnya

mampu

yang

mencegah

dan

mengobati berbagai penyakit. Berdasarkan penelitian Inayatullah


(1997) tanaman kencur mempunyai kandungan kimia minyak atsiri
2,4- 3,9% yang terdiri atas etil - p- metoksisinamat 30% (EPMS).
EPMS merupakan turunan sinamat yang dapat berfungsi sebagai tabir
surya.Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, formulasi gel tabir
surya ekstrak etanol kencur dengan basis HPMC (1%), NaCMC (2%)
dan Carbopol (3%) menghasilkan sediaan gel dengan sifat fisik (pH
& viskositas) yang memuaskan. Namun demikian sediaan gel
yang dihasilkan memiliki bau ekstrak kencur yang dominan yang
dapat mengurangi kenyamanan pemakainya (S iswanto, 2010).
Oleh

karena

itu

perlu

dikembangkan

ekstrak etanol kencur dalam

sediaan

formulasi
krim

tipe

tabir
m/a.

surya
Bentuk

sediaan krim lebih mudah digunakan dan penyebarannya di kulit


juga lebih baik, sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih

menggunakan produk kosmetik dalam bentuk krim dibandingkan


sediaan lainnya. Selain itu formulasi ekstrak kencur ke dalam
bentuk krim dapat mengurangi bau khas kencur sehingga lebih
menyenangkan bagi konsumen. Untuk membentuk suatu krim m/a
dapat digunakan kombinasi emulgator seperti Tween 80 dan Span
80

yang mempunyai nilai HLB

surfaktan

nonionic

tinggi.

dan digunakan

dalam

Span 80 merupakan
konsentrasi

1-10%.

Sebagai zat pengemulsi Span 80 digunakan dalam kombinasi


dengan

zat

pengemulsi

hidrofilik.

Tween

80

merupakan

surfaktanm nonionic yang bersifat hidrofil dan digunakan sebagai zat


pengemulsi tipe m/a dalam konsentrasi 1 -15% (Rowe et al, 2003)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kulit sebagai lapisan pembungkus tubuh senantiasa mengalami


pengaruh lingkungan luar, baik berupa sinar matahari, iklim maupun
faktor-faktor kimiawi dan mekanisme kulit tidak saja harus menghilangkan
pengaruh panas matahari, tetapi juga harus dapat mengatasi pengaruh
bagian sinar matahari (Rostamailis, 2005).
Penyinaran matahari mempunyai 2 efek, baik yang menguntungkan
maupun yang merugikan, tergantung dari frekwensi dan lamanya sinar
matahari mengenai kulit, intensitas sinar matahari serta sensitifitas
seseorang (Ditjen POM, 1985).
Efek Yang Bermanfaat
Penyinaran matahari yang sedang, secara psikologi dan fisiologi
menimbulkan rasa nyaman dan sehat. Dapat merangsang peredaran
darah, serta meningkatkan pembentukan hemoglobin. Sinar matahari
dapat

mencegah

atau

megobati

penyakit

ritketsia

karena

7-

dehidrokolesterol (provitamin D3) yang terdapat pada epidermis dan


diaktifkan menjadi vitamin D3 (Diten POM, 1985).
Sinar matahari dapat membantu pengobatan tuberculosis, misalnya
pada tuberculosis kelenjar dan tulang, dapat juga untuk mengobati
penyakit kulit, misalnya psoriasis. Berpengaruh baik pada system saraf
otonom dan mengurangi berbagai infeksi. Pembentukan melanin akan
bertambah, dan kulit menjadi lebih tebal sehingga dapat berfungsi sebagai

pelindung tubuh alami terhadap sengatan matahari selanjutnya (Ditjen


POM, 1985).
Efek Yang Merugikan
Penyinaran matahari mempunyai efek yang merugikan. Penyinaran
matahari yang singkat pada kulit dapat menyebabkan kerusakan
epidermis sementara, gejalanya biasanya disebut sengatan surya. Sinar
matahari menyebabkan eritema ringan hingga luka bakar yang nyeri pada
kasus yang lebih parah. Penyinaran yang lama akan menyebabkan
perubahan degeneratif pada jaringan pengikat dalam korium. Keadaan
tersebut menyebabkan kulit akan menebal, kehilangan kekenyalan
sehingga kulit kelihatan keriput, ini disebabkan karena kulit kehilangan
kapasitas ikat-air (Ditjen POM, 1985).
Penyinaran matahari terdiri dari berbagai spektrum dengan panjang
gelombang yang berbeda, dari inframerah yang terlihat hingga spektrum
ultraviolet. Sinar ultraviolet dengan panjang gelombang 400-280 nm dapat
menyebabkan sengatan surya dan perubahan warna. Penyinaran
ultraviolet dengan panjang gelombang diatas 330 nm dapat menyebabkan
kulit menjadi kecoklatan. Eritema timbul bersamaan dengan warna coklat
kulit. Pada panjang gelombang antara 334,2 366,3 nm efektif dalam
pembentukan warna coklat dengan sedikit eritema. Pada panjang
gelombang 295 315 nm tidak segera terlihat efeknya, tetapi setelah
beberapa jam akan timbul eritema. Setelah beberapa hari eritema akan
berkurang, terbentuklah warna kecoklatan. Pada penyinaran dengan

panjang gelombang 250 270 nm, akan timbul eritema yang sangat
ringan, yang menghilang dalam beberapa hari tanpa menimbulkan warna
kecoklatan (Ditjen POM, 1985).
Panjang gelombang sinar ultraviolet dapat dibagi menjadi 3 bagian :
1. Ultraviolet A (UV A) yaitu sinar dengan panjang gelombang antara 400
315 nm dengan efektivitas tetinggi pada 340 nm, dapat menyebabkan
warna coklat pada kulit tanpa menimbulkan kemerahan dalam bentuk
leuko yang terdapat pada lapisan atas.
2. Ultraviolet B (UV B) yaitu sinar dengan panjang gelombang antara 315
280 nm dengan efektivitas tertinggi pada 297,6 nm, merupakan
daerah eritemogenik, dapat menimbulkan sengatan surya dan terjadi
reaksi pembentukan melanin awal.
3. Ultraviolet C (UV C) yaitu sinar dengan panjang gelombang di bawah
280 nm, dapat merusak jaringan kulit, tetapi sebagian besar telah
tersaring oleh lapisan ozon dalam atmosfer (Ditjen POM, 1985).
Secara alami kulit sudah berusaha melindungi dirinya beserta
organ-organ di bawahnya dari bahaya sinar UV matahari, antara lain
dengan membentuk butir-butir pigmen kulit (melanin) yang sedikit banyak
memantulkan kembali sinar matahari. Jika kulit terpapar sinar matahari,
misalnya ketika seseorang brjemur, maka timbul dua tipe reaksi melanin :
1. Penambahan melanin dengan cepat ke permukaan kulit.
2. Pembentukan tambahan melanin baru.

Jika pembentukan tambahan melanin itu berlebihan dan terus


menerus, noda hitam pada kulit dapat terjadi. Ada dua cara perlindungan
kulit, yaitu :
1. Perlindungan secara fisik, misalnya memakai payung, topi lebar, baju
lengan panjang, celana panjang, serta pemakaian bahan-bahan kimia
yang melindungi kulit dengan jalan memantulkan sinar yang mengenai
kulit, misalnya Titan dioksida, Zinc oksida, kaolin, kalsium karbonat,
magnesium karbonat, talkum, silisium dioksida dan bahan-bahan
lainnya

sejenis

yang

sering

dimasukkan

dalam

dasar

bedak

(foundation) atau bedak.


2. Pelindungan secara kimiawi dengan memakai bahan kimia (Tranggono.
2007).
Faktor perlindungan kulit secara alami terhadap sengatan surya
ialah dengan penebalan stratum korneum dan pigmentasi kulit. Pada
percobaan perlindungan kulit menunjukkan adanya kecepatan mitotik
setelah penyinaran dari sel epidermis yang menyebabkan penebalan
stratum korneum dalam waktu 4 7 hari, sehingga dapat menahan
penyinaran yang menyebabkan eritema (Ditjen POM, 1985).
Perlindungan terhadap sengatan surya juga disebabkan melanin
yang terbentuk dalam sel basal kulit setelah penyinaran ultraviolet B akan
berpindah ke stratum korneum di permukaan kulit, kemudian teroksidasi
oleh sinar ultraviolet A. jika kulit mengelupas, butir melanin akan lepas,

sehingga kulit kehilangan pelindung terhadap sinar matahari (Ditjen POM,


1985).
Nyeri akan timbul pada kulit yang tidak terlindung setelah
penyinaran matahari. Pigmentasi maksimum dapat tercapai lebih kurang
100 jam penyinaran (Ditjen POM, 1985).
Sediaan tabir surya adalah sediaan kosmetika yang digunakan
untuk maksud membaurkan atau menyerap secara emisi gelombang
ultraviolet dan inframerah, sehingga dapat mencegah terjadinya gangguan
kulit karena cahaya mahatari (Ditjen POM, 1985).
Perlu dilakukan pengkajian formulasi sediaan tabir surya terhadap
efesiensi

sebagai

tabir

spektrofotometri terhadap

surya.

Pengujian

kadar, kepekatan

daya

absorpsi

larutan, dan

secara
panjang

gelombang. Untuk mengetahui efektivitas bahan tabir surya dilakukan


pengujian menggunakan spektrofotometri (Ditjen POM, 1985).
Bahan aktif tabir surya bekerja dengan dua mekanisme yaitu
penghambatan fisik (physical bloker), antara lain TiO2, ZnO, kaolin,
CaCO3, MgO, dan penyerap kimia (chemical absorber) meliputi anti UV A
misalnya turunan benzophenon antara lain oksibenson, dibenzoilmetan,
serta anti UV B yaitu turunan salisilat, turunan para amoni benzoic acid
(PABA) misalnya oktil dimetil PABA, turunan sinamat (sinoksat, etil heksil
parametoksisinamat) dan lain-lain (Purwanti dkk, 2005).
Untuk mengoptimalkan kemampuan dari tabir surya sering
dilakukan kombinasi antar tabir surya fisik dan tabir surya kimia, bahkan

ada yang menggunakan beberapa macam tabir surya dalam satu sediaan
kosmetika (Wasitaatmadja, 1997).
Kemampuan menahan sinar ultraviolet dari tabir surya dinilai dalam
faktor proteksi sinar (Sun Protecting Factor/SPF) yaitu perbandingan
antara dosis minimal yang diperlukan untuk menimbulkan eritema pada
kulit yang diolesi oleh tabir surya dengan yang tidak. Nilai SPF ini berkisar
antara 0 sampai 100 (Wasitaatmadja, 1997). Sediaan tabir surya
dikatakan dapat memberikan perlindungan apabila memiliki nilai SPF 2 8
(Shaat, 1990).
Pathak membagi tingkat kemampuan tabir surya sebagai berikut :
1. Minimal, bila SPF antara 2-4, contoh salisilat, antranilat.
2. Sedang, bila SPF antara 4-6, contoh sinamat, bensofenon.
3. Ekstra, bila SPF antara 6-8, contoh derivate PABA.
4. Maksimal, bila SPF antara 8-15, contoh PABA.
5. Ultra, bila SPF lebih dari 15, contoh kombinasi PABA, non-PABA dan
fisik. (Wasitaatmadja, 1997)
Penentuan nilai SPF dapat ditentukan secara in vitro dengan
menggunakan spektrofotometer (Petro, 1981). Metode SPF merupakan
metode resmi Amerika Serikat. FDA (Food Drug Administration)
mensyaratkan produk tabir surya harus mencantumkan nilai SPF-nya,
untuk memberikan arahan pada konsumen mengenai kekuatan relatif dari
produk tersebut (Shaat, 1990). Jika suatu body lotion mengandung SPF
15 berarti krim tersebut akan meneruskan sinar matahari seperlima belas

saja. Krim dengan SPF 60 hanya meneruskan seperenam puluh sinar


matahari ke kulit. Oleh karena itu, makin besar nilai SPF maka makin
efektif fungsinya sebagai tabir surya. Krim tabir surya dapat dioleskan di
seluruh bagian tubuh yang terbuka, terutama wajah, tetapi jangan sampai
terkena bagian mata. Krim inipun dapat digunakan setiap hari sebagai
alas bedak (Indarti, 2005).
Faktor protektif terhadap sinar (SPF) menunjukkan kelipatan
peningkatan toleransi terhadap kontak dengan sinar matahari dengan
penggunaan produk ini tanpa menimbulkan eritema. Dengan perkataan
lain, SPF 8 akan mengizinkan orang yang biasa menderita eritema setelah
berkontak 20 menit untuk bertahan 160 menit terhadap sinar matahari
(Landow K., 1984).
Tabir surya dapat dibuat dalam berbagai bentuk sediaan, misalnya
bentuk larutan air atau alkohol, emulsi, krim, dan semi padat, yang
merupakan sediaan lipid non-air, gel, dan aerosol (Ditjen POM, 1985).
Syarat-syarat bagi preparat kosmetik tabir surya yaitu :
1. Enak dan mudah dipakai.
2. Jumlah yang menempel mencukupi kebutuhan.
3. bahan aktif dan bahan dasar mudah bercampur.
4.

Bahan

dasar

keembaban kulit.

harus

dapat

mempertahankan

kelembutan

dan

6. Tidak toksik, tidak mengiritasi, dan tidak menyebabkan sensitisasi.


Bentuk-bentuk preparat susnscreen dapat berupa :
1. Preparat anhydrous
2. Emulsi (m/a, a/m)
3. Preparat tanpa lemak
(Tranggono, 2007)
Basis yang dapat dicuci dengan air adalah emulsi minyak di dalam
air, dan dikenal sebagai Krim. Basis vanishing cream termasuk dalam
golongan ini (Lachman, 1994). Basis krim (vanishing cream) disukai pada
penggunaan sehari-hari karena memiliki keuntungan yaitu setelah
pemakaian tidak menimbulkan bekas, memberikan efek dingin pada kulit,
tidak berminyak serta memiliki kemampuan penyebaran yang baik (Ansel,
1985). Vanishing cream mengandung air dalam persentase yang besar
dan asam stearat. Setelah pemakaian krim, air menguap meninggalkan
sisa berupa selaput asam stearat yang tipis (Ansel, 1989). Humektan
(gliserin, propylenglikol, sorbitol 70%) sering ditambahkan pada vanishing
cream dan emulsi m/a untuk mengurangi penguapan air dari permukaan
basis (Banker, 1792).
Vanishing cream, sebagai emulgatornya berfungsi garam-garam
natrium, kalium, dan ammonium dari asam stearat serta trietanolamin
stearat. Untuk membuatnya digunakan komponen alkali dan asam stearat
dalam suatu perbandingan tertentu sehingga terbentuk 15 20 %
senyawa garam. Dengan penambahan gliserol (10%) sebagai bahan

pembuat lunak, dinilai kilau mutiara sediaan ini menjadi cemerlang. Krim
stearat bereaksi alkali lemak (pH 7,2 sampai 8,4). Akan tetapi reaksi
alkalinya tidak boleh berlebihan. Sebab alkalisasi kulit

sehat akan

terhalangi secara sempurna dalam waktu singkat dan pH lingkungan kulit


akan tercapai kembali atau bahkan lebih rendah lagi (Voigt, 1995).
Hilangnya krim ini dari kulit atau pakaian dipermudah oleh emulsi
minyak di dalam air yang terkandung di dalamnya. Krim dapat digunakan
pada kulit dengan luka yang basah, karena bahan pembawa minyak di
dalam air cenderung untung menyerap cairan yang dikeluarkan luka
tersebut. Basis yang dapat dicuci dengan air akan membentuk suatu
lapisan tipis semipermiabel, setelah air menguap pada tempat yang
digunakan (Lachman, 1994).
Umumnya suatu emulsi dianggap tidak stabil secara fisik jika : (a)
fase dalam atau fase terdispersi pada pendiaman cenderung untuk
membentuk agregat dari bulatan-bulatan, (b) jika bulatan-bulatan atau
agregat dari bulatan naik ke permukaan atau turun ke dasar emulsi
tersebut akan mebentuk suatu lapisan pekat dari fase dalam, dan (c) jika
semua atau sebagian dari cairan fase dalam tidak teremulsikan dan
membentuk suatu lapisan yang berbeda pada permukaan atau pada
dasar emulsi, yang merupakan hasil bergabungnya bulatan-bulatan fase
dalam. Disamping itu suatu emulsi mungkin sangat dipengaruhi oleh
kontaminasi dan pertumbuhan mikroba serta perubahan fisika dan kimia
lainnya (Ansel, 1989). Emulsi dikatakan pecah jika partikel halus yang

terdispersi secara spontan bersatu membentuk partikel yang lebih besar


atau berkoalesensi, dan akhirnya terpisah menjadi 2 fase (Ditjen POM,
1985).
Kosmetik yang berisi Alpha Hydroxy Acid (AHA) secara luas
digunakan. Kosmetik ini dapat melindungi konsumen yang sensitif
terhadap sinar matahari terutama sinar ultraviolet (Anonim, 2002). AHA
umumnya terdapat pada

bahan alami seperti buah-buahan, sari tebu,

susu dan sebagainya yang mengandung asam. Sejauh ini dikenal lima
jenis AHA, yaitu glycolic (asam glikolat), lactic (asam laktat), citric (asam
sitrat) serta malic dan tartaric (Anonim, 2001).
AHA sering disebut sebagai zat anti-penuaan dan mampu
mengelupas kulit mati tanpa digosok, mengurangi keriput, dan membuat
kulit lebih segar. Zat ini juga melembabkan kulit di bawahnya dan
merangsang terbentuknya sel-sel baru (Indarti, 2005). AHA berkerja
dengan cara meluruhkan (mengelupaskan) lapisan paling luar pada kulit
yang terdiri dari tumpukan sel-sel kulit mati. Hal ini dikenal dengan istilah
proses eksfoliasi. Efek dari proses ini adalah terlihat lebih segar dan
kenyal. Selain itu, hilangnya tumpukkan sel kulit mati ini mengakibatkan
berkurangnya penyumbatan pada pori-pori kulit, sehingga memperkecil
timbulnya jerawat serta memudahkan tersebrapnya bahanperawatan kulit
lainnya. Manfaat lain adalah meningkatkan tampilan tekstur kulit sehingga
kulit tampak lebih haluys (yang disebabkan karena bahan AHA ini
mempercepat terjadinya peluruhan sel kulit mati yang terjadi secara

alami). Juga penggunaan produk AHA membuat kulit wajah tampak lebih
cerah (Anonim, 2001).
Jika kulit banyak terkena sinar matahari, maka penggunaan AHA
dapat secara perlahan-lahan menghilangkan sebagian tanda dari
kerusakan kulit tersebut, sehingga yang terlihat adalah warna kulit lebih
rata karena menipisnya bercak-bercak noda kulit akibat sengatan matahari
tersebut (Anonim, 2001).
Sampai kini belum ada hasil penelitian yang mengindikasikan
adanya efek samping penggunaan AHA. Hanya pada beberapa orang,
timbul efek seperti gatal dan raa panas pada kulit setelah menggunakan
produk AHA. Hal ini terjadi pada umumnya orang yang memang peka atau
alergi terhadap bahan AHA (Anonim, 2001).
Kulit yang tidak terlindungi oleh lapisan asam (acid barrier)
cenderung menjadi besar, karena permukaan lapisan tanduk menjadi
tidak rata. Tidak adanya lapisan asam memungkinkan pertumbuhan
kuman-kuman secara tidak terhambat. Sehingga kemungkinan terjadinya
infeksi melalui kulit menjadi lebih besar. Hal ini disebabkan karena
penguapan melalui lapisan tanduk tanpa lapisan asam menjadi lebih
mudah, maka terjadi dehidrasi dengan akibat bahwa sifat lembut dan sifat
kenyal lapisan tanduk dan bagian epidermis lebih dalam berkurang.
(Rostamailis, 2005).
Daerah beriklim tropis seperti di Indonesia mendapatkan sinar
matahari yang intensitasnya 20% lebih besar dibandingkan daerah lain.

Dengan demikian, efek negatif yang ditimbulkan sinar UV pada kulit juga
lebih besar. Beberapa efek negatif yang dapat timbul akibat sinar UV
antara lain sunburn (terbakar matahari), pigmentasi, inflamasi kulit,
penuaan kulit, sampai dengan penyakit kanker kulit Harry, 1982). Untuk
memperoleh perlindungan secara total terhadap sinar ultraviolet maka
dilakukan kombinasi dari bahan tabir surya. Diketahui bahwa kombinasi
bahan tabir matahari Oksibenson sebagai anti UV-A, dan Padimate0
sebagai anti UV-B dengan komposisi (3:7) %bib adalah yang paling
optimal. Tabir surya yang bersifat broad spectrum (tabir surya kombinasi
yang menyerap UV-A dan UV-B) memiliki keuntungan berupa rendahnya
tingkat fotosensitisasi (Widianingsih dan Lumintang, 2002; Shaath, 1990;
Bare! 2001).
Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin banyaknya
orang yang beranggapan bahwa cantik identik dengan kulit putih maka
saat ini banyak dikembangkan produk kosmetika yang tidak hanya
memiliki satu fungsi saja dan sudah menjadi tren di negara tropis untuk
menggunakan kosmetika pencerah kulit yang dikombinasikan dengan
tabir surya agar kulit nampak lebih cerah, bersih dan cantik namun tetap
terlindung dari paparan sinar matahari (Zulkamain,2003).
Sinar matahari memberikan banyak sekali manfaat bagi kehidupan.
Di samping efek yang menguntungkan tersebut, sinar matahari juga
mempunyai efek yang sangat merugikanbagi kulit, terutama spektrum
sinar ultravioletnya yang dapat menyebabkan eritema (kemerahan) pada

kulit, pigmentasi yang berlebihan, penebalan sel tanduk, dan aging


(penuaan kulit). Pada kasus yang lebih parah, sengatan matahari yang
berlebihan dapat menyebabkan kelainan kulit mulai dari dermatitis ringan
sampai kanker kulit (Depkes RI, 1985; Kligman, 1985; Kreps dan
Goldenberg, 1972; Harry, 1952).
Kulit merupakan pembungkus elastis yang melindungi tubuh dari
pengaruh lingkungan luar yang dapat menyebabkan kerusakan fisik,
termasuk pancaran radiasi sinar matahari terutama sinar ultraviolet
(Harahap, 1990).
Secara alami, kulit mempunyai perlindungan terhadap sengatan
sinar matahari yaitu dengan penebalan stratum corneum dan pigmentasi
kulit. Jika penyinaran matahari terjadi secara berlebihan, jaringan
epidermis kulit tidak cukup mampu melawan efek negatif tersebut,
sehingga diperlukan perlindungan baik secara fisik dengan menutupi
tubuh misal menggunakan payung, topi, atau baju panjang, dan secara
kimia dengan menggunakan kosmetika tabir surya (Depkes RI, 1985;
Kligman, 1985; Kreps dan Goldenberg, 1972; Harry, 1952).
Berdasarkan mekanisme kerjanya, bahan aktif tabir surya dibagi
menjadi 2, yaitu mekanisme fisika (pengeblok fisik) misalnya TiO2, ZnO,
CaCO3, dan kaolin, serta mekanisme kimia (penyerap kimiawi) misalnya
senyawa turunan para amino benzoic acid (PABA), turunan benzofenon,
turunan sinamat, turunan salisilat (Backer dan Brick, 1963).

Selain bahan-bahan sintetis, bahan aktif tabir surya juga dapat


diperoleh dari bahan alam yaitu tumbuhan yang mempunyai kandungan
seperti bahan sintetis, misalnya tanaman kencur (Kaempferia galanga L.).
Tanaman ini mempunyai kandungan kimia antara lain minyak atsiri 2,4
3,9% yang terdiri atas etil para metoksi sinamat (30%), kamfer, borneol,
sineol, dan pentadekan. Adanya kandungan etil para metoksi sinamat
dalam kencur yang merupakan senyawa turunan sinamat berfungsi
sebagai pengeblok kimia antiultraviolet B yang berguna sebagai tabir
surya (Inayatullah, 1997; Jani, 1993).
Dalam formulasi, suatu sediaan farmasi harus memenuhi kriteria
umum yaitu stabil, baik secara kimia maupun fisika serta efektif dan aman
dipakai. Stabilitas obat merupakan suatu periode di mana obat dalam
kemasan tertentu yang disimpan dengan cara dan suhu yang sesuai
mempunyai kadar yang konstan, yaitu jika pada penentuan kadar dengan
metode analisis yang spesifik menghasilkan kadar minimal 90% dari kadar
yang ditetapkan dalam label/ etiket. Selain itu sediaan harus berbentuk
seperti semula, yaitu tidak ada perubahan bentuk, rasa, dan perubahan
lain yang dapat ditentukan secara fisika atau kimia (Tjiang, 1978).
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diketahui stabilitas kimiawi
senyawa etil para metoksi sinamat (EPMS) yang diisolasi dari rimpang
kencur dan diformulasikan dalam sediaan krim tabir surya.

PREFORMULASI
Kencur
Kaempferia galanga aromanya khas dengan rasa yang pahit bila
dikonsumsi mentah-mentah menjadikan tanaman ini kebanyakan dijadikan
bumbu dasar yang dapat digunakan pada beberapa jenis masakan seperti
nasi goreng dan lain-lain. Namun tahukah kamu bahwa kencur memiliki
banyak manfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti
radang lambung, radang anak telinga, influenza pada bayi, masuk angin,
sakit kepala, batuk, menghilangkan darah kotor, diare, memperlancar
haid, mata pegal, keseleo, dan kelelahan.
Radiasi matahari yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan
pada kulit, baik berupa eritema, pigmentasi, dan menyebabkan gangguan
pada kulit. Keadaan tersebut dapat dicegah dengan menggunakan produk
tabir surya yang mengandung zat aktif protektor tunggal maupun
campuran yang dapat mencegah transmisi sinar matahari terutama
terhadap sinar ultra violet pada daerah panjang gelombang 200-400 nm.
Meskipun secara alamiah kulit manusia sudah memiliki sistem
perlindungan radiasi matahari tersebut, tetapi tidak cukup efektif bila
kontak berlebihan, sehingga diperlukan perlindungan tambahan. Dalam
bidang kosmetika sebagai perlindungan tambahan digunakan senyawa
tabir surya. Namun kenyataannya senyawa tabir surya yang terbuat dari
bahan sintesis seringkali memberikan dampak negatif pada kulit, terutama
iritasi yang berlanjut ke arah infeksi.

Kencur merupakan salah satu tanaman obat tradisional Indonesia


yang kaya akan kandungan senyawa senyawa bahan alam, salah satu
diantaranya adalah etil p-metoksisinamat yang merupakan kandungan
utama dalam tanaman ini. Senyawa ini menunjukkan aktivitas tabir surya
tetapi tidak memenuhi persyaratan karena sebagian besar larut dalam air
dan menimbulkan iritasi.
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan senyawa etil pmetoksisinamat sebagai bahan baku pembuatan senyawa tabir surya
yang meliputi rendemen hasil percobaan, % T eritema dan % T
pigmentasi. Etil p-metoksisinamat disintesis menjadi senyawa tabir surya
(oktil p-metoksisinamat) melalui tahapan hidrolisis, pembentukan klorida
asam dan alkoholisis. Oktil p-metoksisinamat merupakan senyawa tabir
surya yang paling sering digunakan karena menimbulkan resiko alergi
kecil dan dalam pemakaian menggunakan konsentrasi yang rendah.
Untuk mengetahui aktivitas senyawa tersebut sebagai senyawa tabir
surya, dilakukan uji aktivitas secara in vitro. Efektivitas senyawa tabir
surya dapat dinyatakan dalam persentase transmisi eritema dan
pigmentasi secara spektrometri.
Pada uji efektivitas gel tabir surya dari ekstrak kencur 2% dan
ekstrak kencur 3%. Sediaan gel dengan konsentrasi 100 ppm, serapannya
diukur dengan spektrofotometer UV-Vis, dan dihitung persentase nilai
transmisi eritema dan persentase transmisi pigmentasi, kemudian sediaan

digolongkan termasuk kategori sunblock, proteksi ultra, suntan, atau fast


taming.
Berdasarkan data hasil pengamatan, pada ekstrak kencur 2%
diperoleh persentase transmisi eritema 0,112% dan persen transmisi
pigmentasi adalah 0,7982%. Pada ekstrak kencur 3%, persentase
transmisi ritema yang diperoleh adalah 8,54% dan persentase transmisi
pigmentasi adalah 50,81%. Berdasarkan data ekstrak kencur 2%, nilai
%Te dan %Tp tidak masuk ke dalam rentang kategori penilaian efektivitas,
tetapi bila dilihat data dari ekstrak kencur 3% maka dapat disimpulkan,
bahwa kencur termasuk ke dalam kategori suntan dengan %Te antara 6
12 % dan %Tp antara 45 86 %.
Kencur merupakan tanaman rumput kecil yang tumbuh subur di
daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan
tidak terlalu banyak air. Tanaman ini tunbuh dan berkembang pada musim
tertentu yaitu pada musim penghujan, juga dapat ditanam dalam pot atau
di kebun yang cukup sinar matahari dan tidak terlalu basah.
Kandungan kimia yang terdapat di dalam rimpang kencur adalah
pati (4,14%), mineral (13,73%), dan minyak astiri (0,02%) berupa sineol,
asam metal kanil dan penta dekaan, asam cinnamic, ethyl aster, asam
sinamic, borneol, kamphene, paraeumarin, asam anisic, alkaloid, dan
gom.

FORMULASI
Formula Krim Tabir Surya ( 100 gram )

Formula

Formula

Formula

Kelompok 1

Kelompok 2

Kelompok 3

Ekstrak

daun

singkong Ekstrak daun singkong 1,5%

Asam salisilat 3% (*)

1,5%

Asam stearat 10 %

Asam stearat 10%

Asam stearat 12,5%

Cera alba 2%

Cera alba 2%

Cera alba 2%

Vaselin album 8%

Vaselin album 8%

Vaselin album 8%

Adeps lanae 1%

Adeps lanae 1%

Adeps lanae 1%

BHA 0,01%

BHA 0,01%

BHA 0,01%

BHT 0,02%

BHT 0,02%

BHT 0,02%

TEA 1,2%

TEA 1,2%

TEA 1,2%

Propilen glikol 7%

Propilen glikol 7%

Propilen glikol 7%

Metil paraben 0,1%

Metil paraben 0,1%

Metil paraben 0,1%

Propel paraben 0,05%

Propel paraben 0,05%

Propel paraben 0,05%

Parfum qs

Parfum qs

Parfum qs

Air suling ad 100%

Air suling ad 100%

Air suling ad 100%

B. Formula Gel Tabir Surya ( 100 gram )


Formula

Formula

Formula

Kelompok 4

Kelompok 5

Kelompok 6

Ekstrak kencur 2%

Ekstrak kencur 2%

Ekstrak kencur 3%

Na CMC 3%

Na CMC 2%

Gelatin 5%

Propilen glikol 5%

Propilen glikol 5%

Gilserin 2%

Nipagin 0,2%

Nipagin 0,2%

Nipagin 0,2%

Parfum qs

Parfum qs

Parfum qs

Air ad 100%

Air ad 100%

Air ad 100%

PROSEDUR KERJA
a.

Pembuatan ekstrak daun singkong dan ekstrak kencur

1. Daun singkong dan kencur dicuci sampai bersih dengan air mengalir..
2. Setelah itu ditiriskan sambil dilakukan sortasi basah.
3. Bahan-bahan yang telah disortasi basah, dirajang untuk memperkecil
ukuran partikel.
4. Daun singkong dan kencur yang telah dirajang dimasukkan ke dalam
erlenmeyer, kemudian ditambahkan etanol 96% sampai bahan
terendam semua.

5. Kemudian dimaserasi selama 1 hari, setelah itu disaring dengan kapas


dan disaring dengan kertas saring sampai diperoleh filtrat yang
bersih.(filtrat 1)
6. Ampasnya diberi etanol 96% dan dimaserasi kembali selama 1 hari.
Setelah itu filtrat disaring dengan kapas dan disaring dengan kertas
saring, sampai diperoleh filtrat yang bersih.(filtrat 2)
7.

Filtrat 1 dan filtrat 2 digabung dan dikentalkan dengan vakum


rotavaporator sampai diperoleh ekstrak kental.

b.

Pembuatan krim tabir surya

1. Fase minyak (asam stearat, cera alba, vaselin album, adeps lanae,
propil paraben, BHA, dan BHT) dilebur diatas penangas air pada suhu
70 0C sampai semua bahan lebur.
2. Pada saat yang bersamaan, fase air (aquades) dipanaskan pada suhu
50

ditambahkan

metil

paraben

hingga

larut,

kemudian

ditambahkan TEA dan propilen glikol. Campuran fase air dipanaskan


kembali hingga suhu 70 0C.
3. Fase minyak dan fase air dicampurkan dalam mortar panas, digerus
kuat sampai terbentuk massa krim (basis) putih seperti susu.
4. Setelah dingin ( 40 0C) ditambahkan ekstrak etanol daun singkong
sedikit demi sedikit ke dalam basis samil diaduk terus sampai
homogen.
5. Sediaan krim yang sudah jadi ditambahkan parfum, diaduk hingga
homogen, dan dimasukkan ke dalam wadah yang telah diberi etiket.

c.

Pembuatan gel tabir surya

1. Na-CMC dikembangkan dengan air panas 20 kalinya di dalam mortar.


2.

Setelah mengembang digerus sampai terbentuk mucilago lalu


ditambah gelatin, digerus, ditambahkan propilenglikol/ gliserin, sambil
terus digerus, nipagin dilarutkan terlebih dahulu dengan air panas ad
larut baru dimasukkan ke dalam mortar, dan ekstrak kencur
dimasukkan ke dalam mucilago (massa gel) dan di gerus sampai
homogen.

3. Air diad-kan sampai 20 gram dan ditambah parfum.


UJI EVALUASI SEDIAAN
Evaluasi SediaanUji Organoleptis
Pemeriksaan

untuk

pengolesan

dan

kekerasan

sediaan

pemeriksaan organoleptis meliputi pemeriksaan warna, bau, dan


homogenitas sediaan. Sediaan dinyatakan stabil, apabila bau,warna dan
homogenitas secara visual sama setelah selesai pembuatan
dan berdasarkan pengamatan secara visual tidak ditumbuhi jamur.
Uji Pengukuran pH
Pengukuran

pH

menggunakan

alat

pH

stick.

pH

stick

dicelupkan kedalam sediaan krim. Didiamkan sesaat warna yang


timbul sesuaikan dengan warna pada alat. Pengukurandilakukan pada
suhu ruang selama 4 minggu setiap 1 minggu sekali (Jufri et al, 2006).
Uji Homogenitas Krim

krim ditimbang 10 mg dioleskan pada plat kaca, lalu digosokan


dan diraba. Bila homogen maka massa krim tidak tersisa bahan
padatnya atau teksturnya rata.
Uji Daya Menyebar Krim
Krim ditimbang 1 g, lalu diletakan diatas plat kaca, biarkan
selama satu menit,d i a m e t e r s e b a r k r i m d i u k u r , k e m u d i a n
d i t a m b a h k a n 5 0 g b e b a n k e m u d i a n d i d i a m k a n selama satu
menit lalu diukur sebarnya. Hal tersebut dilakukan berulang
sampai didapatdiameter sebar yang konstan. Replikasi dilakukan
sebanyak 3 kali.
Uji Daya Lengket Krim
10 mg krim ditimbang, lalu dioleskan pada plat kaca dengan
luas

2,5

menyatu,

cm 2.

kedua p l a t

ditekan

dengan

ditempelkan
beban

sampai

pelepasan

80

plat
gr

u n t u k pengujian. W aktu dicatat sampai kedua plat saling


lepas. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali.
UJI EVALUASI AKTIVITAS SEDIAAN
A. Uji Iritasi
Uji ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui adanya efek iritasi primer
berupa eritema dan edema pada produk sediaan pemutih yang
menggunakan prinsip kerja sebagai skin lightening pada kulit.
Penelitian ini dilakukan dengan metode uji iritasi primer. Hewan uji
yang digunakan adalah tikus betina dengan waktu eksperimen selama

24 dan 72 jam untuk kulit tidak terluka dan untuk kulit terluka
eksperimen juga dilakukan selama 24 dan 72 jam pada tikus yang
sama. Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok, 4 kelompok untuk
peringkat dosis menggunakan kencur cream, dan 1 kelompok untuk
kontrol normal. Analisis hasil dilakukan secara kualitatif yaitu
pengamatan gejala toksik berupa iritasi primer pada kulit normal dan
kulit yang dilukai, dan analisis kuantitatif berupa perhitungan indeks
iritasi primer.
B. PERSENTASE TRANSMISI PIGMENTASI
Nilai serapan (A) yang diperoleh dari 3 replikasi dihitung nilai
transmisinya (T), nilai transmisi pigmentasi (Tp) di hitung dengan cara
mengalikan nilai transmisi

(T) dengan faktor efektifitas pigmentasi

(Fp) pada panjang gelombang 322,5-372,5, selanjutnya dihitung


berdasarkan rumus % Tp.
A

= - log T

= Inv log A

Tp

= T x Fp

Ket : A = absorban
T = Transmitan
Te = Transmisi eritema
Fp = Faktor efektifitas pigmentasi

C. Sun protection factors (SPF)


Ditentukan nilai SPF dengan menghitunf luas AUC dari nilai
serapan pada 290-400 nm dengan interval 2 nm Nilai AUC
[AUC] =

x (dpa-b)

Aa

= Absorbansi pada a nm

Ab

= Absorbansi pada b nm

Dpa-b = Selisih a dan b


Nilai total AUC dihitung dengan menjumlahkan semua nilai
AUC pada tiap . Nilai SPF masing-masing konsentrasi ditentukan
menggunakan rumus :

Log SPF =

x Fp

Keterangan :
n = terbesar (dengan A 0,05 untuk ekstrak dan A 0,01
untuk sediaan
1 = terkecil 290 nm
n-1 = interval aktivitas eritemogenik
Fp = Faktor pengenceran (Fp = 1 untuk ekstrak, Fp = 5 untuk
sediaan)

DAFTAR PUSTAKA
1. Anief, Muhammad. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM
press
2. Anief, Muhammad. 1993. Farmaseutika Dasar. Yogyakarta : UGM
press.
3. Ansel, Howard.1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi
IV. Jakarta : UI press.
4. Harjasaputra, Purwanto, dkk. 2002. Data Obat di Indonesia.
Jakarta : Grafidian Medipress.
5. Panitia Farmakope Indonesia. 1978. Farmakope Indonesia. Edisi
III. Jakarta : Depatemen Kesehatan RI.
6. Panitia Farmakope Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi
IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
7. Reynold, James E F. 1982. Martindale The Extra
Pharmacopoeia. Twenty Eight edition. London : The
Pharmaseutical Press.
8. Waide, Ainley, and Waller, Paul J. 1994. Handbook of
Pharmaseutical Exipients. Second edition. Washington :
American Pharmaseutical Association
9. Depkes RI. 1993. Kodeks Komestika Indonesia Edisi 2. Jakarta

Anda mungkin juga menyukai