Anda di halaman 1dari 14

Perkembangan Arsitektur Rumah Tradisional Suku Minahasa part 2(perkembangannya)

Berikut tambahan dari yang pertama atau bisa disebut juga perkembangan atau perubahan rumah
tradisional suku Minahasa dari jaman dahulu hingga sekarang.
PENGARUH SISTEM KEKERABATAN DAN KEPERCAYAAN PADA ARSITEKTUR TRADISIONAL
Rumah adat Minahasa merupakan rumah panggung yang terdiri dari dua tangga didepan rumah.
Menurut kepercayaan nenek moyang Minahasa peletakan tangga tersebut dimaksudkan apabila ada
roh jahat yang mencoba untuk naik dari salah satu tangga maka roh jahat tersebut akan kembali
turun di tangga yang sebelahnya.
PERKEMBANGAN ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL MINAHASA
Arsitektur rumah tradisional Minahasa dapat dibagi dalam periode sebelum gempa bumi tahun 1845
dan periode pasca gempa bumi 1845-1945. Sesuai Mamengko (2002), sebelum 1845 adalah masa
Tumani, sebelum kedatangan bangsa-bangsa barat di Minahasa, masyarakat telah membuat rumah
yang besar di atas tiang-tiang tinggi besar, rumah dihuni 10-20 keluarga batih. Dibangun secara
gotong-royong/ mapalus (lihat gambar 1).

Karakteristik konstruksinya, rangka atapnya adalah gabungan bentuk pelana dan limas, konstruksi
kayu/ bambu batangan, diikat dengan tali ijuk pada usuk dari bambu, badan bangunan
menggunakan konstruksi kayu dan sistem sambungan pen, kolong bangunan terdiri dari 16-18 tiang
penyangga dengan ukuran 80-200 cm (ukuran dapat dipeluk oleh dua orang dewasa) dengan tinggi
tingginya 3-5 cm, tangga dari akar pohon besar atau bambu Karakteristik ruang dalam rumah, hanya
terdapat satu ruang bangsal untuk semua kegiatan penghuninya. Pembatas territorial adalah dengan
merentangkan rotan atau tali ijuk dan menggantungkan tikar (Graafland,1898). Orientasi rumah
menghadap ke arah yang ditentukan oleh Tonaas yang memperoleh petunjuk dari Empung Walian
Wangko (Tuhan).
Konstruksi rumah tradisional Minahasa tahun 1845-1945 (gambar 2)., mempunyai karakteristik yang
hampir sama dengan sebelumnya, yaitu atap bentuk pelana atau gabungan antara bentuk pelana
dan limas, demikian juga pada kerangka badan bangunan rumah yang terdiri dari kayu dengan
sambungan pen, dan kolong rumah terdiri dari 16-18 tiang penyanggah. Perbedaanya hanya tiang
penyanggah berukuran lebih kecil dan lebih pendek dari masa sebelumnya, yaitu sebesar 30/30 cm
atau 40/40 cm, tinggi 1,5-2,5 meter.
Karakteristik ruang dalam rumah masa 1845-1945 adalah berbeda dengan sebelumnya, karena
sudah terdapat beberapa kamar, seperti badan rumah terdepan berfungsi sebagai ruang tamu/
ruang setup emperan, ruang tengah/ pores difungsikan untuk menerima kerabat dekat, dan ruang
tidur untuk orang tua dan anak perempuan, ruang tengah belakang tempat lumbung padi (sangkor).
Ruang masak terpisah pada bangunan lainnya. Fungsi loteng/ soldor adalah sama dengan masa
sebelumnya yang diperuntukkan menyimpan hasil panen.

Perubahan Fisik Rumah Tradisional Minahasa


Material rangka atap yang dipakai adalah kayu, dan untuk penutup/ pelapis atap digunakan daun
rumbia. Perubahan bentuk dan konstruksi atap yang terdapat di Desa Tonsealama terdapat 72,7%,
dan di Desa Rurukan terdapat 88,9%. Perubahan fisik rumah tradisional Minahasa nampak pada
perubahan konstruksi dan material, sebagai berikut:
1) Perubahan konstruksi atap kasau di Desa Tonsealama menjadi konstruksi atap peran dengan kuda
kuda berdiri, perubahan dilakukan setelah 30-40 tahun pembangunan ( pada waktu daya tahan kayu
menurun sesuai dengan umur konstruksi kayu).

Material konstruksi atap rumbia diganti dengan atap seng. Perubahan material konstruksi atap di
Desa Tonsealama, dilakukan sejak tahun 1920 sampai saat ini, dan di Desa Rurukan perubahan
dilakukan sejak 1932 sampai saat ini. Sesuai penuturan penghuni rumah, umur atap rumbia adalah
10-15 tahun, dan saat ini material atap rumbia sulit diperoleh dan kualitasnya menurun karena masa
pakainya hanya 1-3 tahun.
2) .Rangka badan rumah tetap, tetapi perubahan nampak pada pengisi konstruksi dinding dan
konstruksi jendela. Perubahan konstruksi dinding terjadi setelah bangunan rumah berumur 70

tahun. Material konstruksi dinding terpasang horisontal dirubah dengan memasang secara vertikal
(khususnya di Desa Tonsealama). Konstruksi jendela 2 sayap diubah menjadi jendela kaca nako/
jalusi (di Desa Tonsealama dan Desa Rurukan).

3) Perubahan konstruksi kolong rumah terdapat di Desa Rurukan dan Tonsealama, yaitu perubahan
pada peran bantalan bawah yang telah diabaikan, akibat dari pengaruh umur bangunan, kayu lapuk
dan hancur. Dampaknya nampak pada struktur rumah yang labil, terutama bila beban hidup yang
diterima besar. Perubahan juga nampak pada batu alas watulanei yang sudah tenggelam dalam
tanah dan diganti dengan beton cor. Perubahan tiang kolong kayu diganti dengan tiang beton,
sehingga tidak memerlukan elemen bantalan bawah, skor dan batu alas.
Tinggi kolong rumah tetap dipertahankan 1,5-2,5 meter, karena kolong rumah dimanfaatkan untuk
kegiatan sehari-hari. Namun demikian beberapa rumah tradisional Minahasa di Desa Rurukan telah
merubah tinggi kolong rumah yang sesuai dengan ukuran dan kualitas kayu.
4) Perubahan elemen tangga ditinjau dari posisi/ perletakan tangga dan jumlah anak tangga. Di Desa
Tonsealama masih terdapat (54,5%) rumah tradisional Minahasa yang mempertahankan posisi 2
buah tangga di depan rumah, terletak di samping kiri dan kanan depan rumah, terletak segaris
berlawanan arah, dengan jumlah anak tangga ganjil. Posisi letak tangga di Desa Rurukan berbeda,
terdapat 66,7% rumah tradisional yang masih mempertahankan masing masing 1 buah tangga yang
terletak di depan dan di belakang rumah, pada posisi samping kiri atau kanan rumah, posisi
berlawanan arah dan jumlah anak tangga ganjil. Adapun material kayu untuk tangga tetap
dipertahankan di Desa Rurukan, tetapi 54,5% rumah tradisional Minahasa di Desa Tonsealama telah
mengganti tangga kayu menjadi tangga beton.

5) Perubahan fungsi dan pola ruang. (1) Ruang Loteng. Ruang loteng pada rumah tradisional
Minahasa periode 18451945 memiliki fungsi antara lain sebagai kamar tidur anak lakilaki, tempat
menyimpan hasil kebun. Fungsi ini kemudian berkembang menjadi tempat menjemur pakaian di
musim hujan, menyimpan barangbarang atau gudang. Sejak listrik masuk desa ruang loteng tidak
difungsikan lagi. (2) Ruang Kolong. Di desa Tonsealama
72.7% dan di desa Rurukan 33.3% telah mengalami perubahan. Lancarnya arus transportasi dan
mobilisasi penduduk dari desa ke desa menimbulkan iklim preventif. Di Tonsealama ada yang
menjadikan tempat menjual makanan, disewakan untuk menitipkan bendi/delman atau disewakan.
Di desa Rurukan disewakan untuk menyimpan kuda pacu. (3) Fungsi kamar tidur tidak mengalami
perubahan. (4) Ruang tengah belakang. Di ruang ini tidak lagi ditempatkan sankor atau lumbung
padi, tetapi hanya difungsikan untuk ruang makan atau ruang keluarga atau ruang belajar.
(6) Dapur. Terjadi penegasan fungsi dapur. Fungsi dapur menjadi lebih khusus sebagai tempat
memasak saja di dapur kering dan tempat mencuci peralatan dapur dan bahan untuk dimasak di
dapur basah. (7)Pola rumah tradisional Minahasa di desa Tonsealama berbeda dengan di desa
Rurukan. Di desa Tonsealama, denah awalnya simetris, sama dengan bentuk asli rumah tradisional
Minahasa. Di desa Rurukan sejak didirikannya, denah awal rumah telah asimetris. Di desa
Tonsealama terdapat 72.7% rumah dan di desa Rurukan hanya 11,1 % yang pola tatanan ruang
awalnya sama dengan bentuk asli, 88.9% lainnya telah berubah. Kamar tidur tambahan diletakkan di
depan atau di belakang pada salah satu sisi letak kamar tidur yang ada. Perubahan lain adalah
perubahan perletakan dapur. Saat didirikan letak dapur terpisah dari rumah utama/induk. Sekarang
dapur ditempatkan di dalam rumah utama/induk berdampingan dengan ruang makandan dapur
sabua dijadikan dapur basah.
Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Perubahan Fisik dan Perubahan Penggunaan Ruang Dalam
Rumah Tradisional Minahasa
Beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan fisik konstruksi rumah tradisional Minahasa adalah;
1)Faktor status kepemilikan rumah dan lahan mempengaruhi kualitas perawatan fisik rumah, sesuai
Turner (1976), tanpa adanya jaminan kepastian tentang status kepemilikan rumah dan lahan,
penghuni rumah tidak merasa aman untuk menginvestasikan dananya pada rumah tempat

tinggalnya. Akibatnya kayu lapuk, dan diganti seadanya telah mempengaruhi sistim konstruksi
rumah tradisionalnya 2)Faktor ekonomi penghuni mempengaruhi perubahan material konstruksi
rumah. Penggunaan material-material baru pada rumah tinggal menjadi suatu kebanggaan tersendiri
bagi penghuninya.
Adapun faktor faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan ruang dalam rumah adalah; 1)
Faktor kebutuhan ruang, karena bagi keluarga di Desa Tonsealama dan Rurukan, rumah tidak hanya
untuk pemenuhan kebutuhan fisiologis dan kebutuhan rasa aman saja, tetapi telah meningkat pada
kebutuhan untuk bersosialisasi. Ruang tidur dipindahkan pada satu sisi bangunan, untuk
memperoleh ruang tamu yang luas untuk dapat beribadah bersama keluarga dan tetangga di
lingkungannya (aktivitas beribadah kolom). 2) Faktor perkembangan teknologi juga mempengaruhi
perubahan fisik rumah, karena pengolahan hasil produksi padi, jagung sudah mempergunakan mesin
pemipil dan mesin pemilah, sehingga penghuni rumah tidak membutuhkan lagi ruang penyimpanan
di loteng atau sangkor.

Rumah Adat Minahasa


Rumah adat MINAHASA

Asal Usul Suku Minahasa

Menurut fakta- fakta penyelidikan kebudayaan dunia dan benda- benda purbakala. Di tanah
Minahasa sendiri kaum pendatang mempunyai ciri seperti: Kaum Kuritis (berambut keriting),Kaum
Lawangirung (berhidung pesek) dan Kaum Malesung/ Minahasa yang menurunkan suku-suku
:Tonsea, Tombulu, Tompakewa, Tolour, Bantenan (Pasan,Ratahan),Tonsawang, Bantik (sekitar
tahun 1590).Suku Minahasa atau Malesung mempunyai pertalian dengan suku bangsa Filipina dan
Jepang, yang berakar pada bangsa Mongol didataran dekat Cina. Hal ini nyata tampak dalam bentuk
fisik seperti mata, rambut, tulang paras, bentuk mata, dll.
Tingkatan atau status social
Golongan Makasiow (pengatur ibadah yang disebut Walian/ Tonaas) hingga saat ini istilah yang
dipakai adalah 2 X 9 ( 9 orang tonaas yang menempati posisi antara Sang penguasa dengan Surga
dan Bumi, Baik tidak Baik, dan semua hal tentang keseimbangan Golongan Makatelu pitu (pengatur/
pemerintah dengan gelar Patuan atau 3 X 7 Teterusan/ kepala desa dan pengawal desa disebut
Waranei ( 7 orang pengatur/pemerintah) Seiring waktu, jumlah penduduk bertambah, tempat
tinggal mulai padat dan lahan terbatas, maka keturunan Toarlumimuut berpencar tumani (membuka
lahan baru)untuk kelangsungan taranak mereka serta Golongan Pasiyowan Telu (rakyat).

Sejak awal bangsa Minahasa tiada pernah terbentuk kerajaan atau mengangkat seorang raja sebagai
kepala pemerintahan Kepala pemerintah adalah kepala keluarga yang gelarnya adalah Paedon Tua
atau Patuan yang sekarang kita kenal dengan sebutan Hukum Tua.
Sistem kekerabatan suku minahasa (kota Manado)
Kota Manado secara hukum adat merupakan wilayah dari Tanah Minahasa, dimana masyarakatnya
sebagian besar berasal dari Suku Minahasa yakni Sub Suku Tombulu, Tonsea, Tontemboan atau
Tompakewa, Toulour, Tonsawang, Pasan atau Ratahan, Ponosakan, dan Bantik. Ada juga masyarakat
pendatang dari luar negeri, seperti Bangsa Cina yang telah kawin mawin dengan orang ManadoMinahasa dan keturunannya disebut Cina Manado, Bangsa Portugis dan Spanyol yang keturunannya
disebut Orang Borgo Manado, Bangsa Belanda yang keturunannya disebut Endo Manado serta
Bangsa Arab, Jepang, dan India dimana perkawinan mereka bersifat endogam.Disamping itu, ada
pula penduduk Kota Manado yang berasal dari Suku Sangihe Talaud, Bolaang Mongondouw,
Gorontalo serta daerah lainnya dari seluruh Indonesia yang telah sekian lama menetap.
Sistem Kepercayaan
Masyarakat Kota Manado masih memiliki kepercayaan lama, yakni kepercayaan kepada dewa-dewa
yang menghuni alam sekitar, seperti Opo Empung (Tuhan), Opo nenek moyang, Opo kerabat,
mahluk-mahluk penghuni gunung, sungai, mata air, hutan, bawah tanah, pantai dan laut, hujan, dan
mata amgin. Selain itu ada juga kepercayaan yang berhubungan dengan mahluk halus lainnya,
seperti mukur, pontianak, setang mangiung-ngiung, pok-pok, panunggu, jin, dan lulu.
Perkampungan
Pola perkampungan dari tiap-tiap kelurahan di wilayah Kota Manado pada umumnya terletak diatas
tanah dataran, baik dataran tinggi maupun dataran rendah secara berkelompok padat. Kelurahan
yang satu dengan kelurahan yang lainnya sambung-menyambung menjadi satu kesatuan mengikuti
jalan raya maupun memanjang mengikuti jalan-jalan kecil dan juga lorong-lorong.
Luas Minahasa pada jaman ini adalah dari pantai likupang, Bitung sampai ke muara sungai
Ranoyapo ke gunung Soputan, gunung Kawatak dan sungai Rumbia Wilayah setelah sungai
Ranoyapo dan Poigar, Tonsawang, Ratahan, Ponosakan adalah termasuk wilayah kerajaan Bolaang
Mongondow.

-Letak & Orientasi

Pengaruh system kekerabatan&kepercayaan pada rumah adat minahasa


Rumah adat Minahasa merupakan rumah panggung yang terdiri dari dua tangga didepan rumah.
Menurut kepercayaan nenek moyang Minahasa peletakan tangga tersebut dimaksudkan apabila ada
roh jahat yang mencoba untuk naik dari salah satu tangga maka roh jahat tersebut akan kembali
turun di tangga yang sebelahnya.

Material yang digunakan pada WALEWANGKO


Bahan material yang dipergunakan umumnya adalah kayu dari jenis pohon yang diambil dari hutan,
yaitu kayu besi, linggua, jenis kayu cempaka utan atau pohon wasian, jenis kayu nantu, dan kayu
maumbi. Kayu besi digunakan untuk tiang, kayu cempaka untuk dinding dan lantai rumah, kayu
nantu untuk rangka atap. Bagi masyarakat strata ekonomi rendah menggunakan bambu petung/
bulu jawa untuk tiang, rangka atap dan nibong untuk lantai rumah, untuk dinding dipakai bambu
yang dipecah.Arsitektur rumah tradisional Minahasa dapat dibagi dalam periode sebelum gempa
bumi tahun 1845 dan periode pasca gempa bumi 1845-1945.
Sistem ruang dan karakteristik ruang dalam rumah
Terdapat satu ruang bangsal untuk semua kegiatan penghuninya. Pembatas territorial adalah
dengan merentangkan rotan atau tali ijuk dan menggantungkan tikar. Orientasi rumah menghadap
ke arah yang ditentukan oleh Tonaas yang memperoleh petunjuk dari Empung Walian Wangko
(Tuhan).
Karakteristik ruang dalam rumah masa 1845-1945 berbeda dengan sebelumnya, karena sudah
terdapat beberapa kamar, seperti badan rumah terdepan berfungsi sebagai ruang tamu/ ruang
setup emperan, ruang tengah/ pores difungsikan untuk menerima kerabat dekat, dan ruang tidur
untuk orang tua dan anak perempuan, ruang tengah belakang tempat lumbung padi (sangkor).
Ruang masak terpisah pada bangunan lainnya. Fungsi loteng/ soldor adalah sama dengan masa
sebelumnya yang diperuntukkan menyimpan hasil panen (gambar 3 dan gambar 4).
Rumah adat Minahasa 1900

Sangkor adalah tempat menyimpan lumbung padi dibagian belakang rumah.

Teras depan atau Ruang paling depan (setup) berfungsi untuk menerima tamu terutama bila
diadakan upacara keluarga, juga tempat makan tamu.

Pores adalah untuk seluruh kegiatan pemilik rumah

Ada 2 kamar tidur

Rumah dengan material penutup atap rumbia (bahan ijuk)

Sesuai penuturan penghuni rumah, umur atap rumbia adalah 10-15 tahun, dan saat ini material atap
rumbia sulit diperoleh dan kualitasnya menurun karena masa pakainya hanya 1-3 tahun.
Karakteristik konstruksi Atap:

Rangka atapnya adalah gabungan bentuk pelana dan limas.

Atapnya berupa konstruksi kayu/ bambu batangan yang diikat dengan tali ijuk pada usuk

dari bambu.

Badan bangunan menggunakan konstruksi kayu dan sistem sambungan pen.

Jenis jenis atap dengan bahan seng

PONDASI :
Seperti yang terdapat pada rumah panggung di Indonesia umumnya, bagian pondasi(kolong)
bangunan tetap menggunakan material batu, beton maupun kayu/kayukelapa itu sendiri dengan
dimensi yang tergantung volume bangunan yangdipikulnya. Takikan pada pondasi beton bisa diganti
dengan ikatan tulangan betontersebut.

Konstruksi awal. Sambungan Tiang penyanggah dengan Kancingan dobel

Perubahan pondasi pada masa kini :

Konstruksi kolom tidak lagi ada kancingan bawah dan rumah tidak diletakkan di atas
watulinei diganti dengan beton cor.

Konstruksi kolom tidak lagi ada kancingan bawah/Bantalan bawah

Tiang:

Kolong bangunan terdiri dari 16-18 tiang penyangga.

Ukuran 80-200 cm (ukuran dapat dipeluk oleh dua orang dewasa).

Tinggi tiangnya 3-5 cm.

Tiang tangga terbuat dari akar pohon besar atau bambu.

Tiang (thn 1845-1945)

Tiang penyanggah berukuran lebih kecil dan lebih pendek, , yaitu sebesar 30/30 cm atau

40/40 cm.

Tinggi 1,5-2,5 meter

Tangga:

Menurut kepercayaan nenek moyang Minahasa peletakan tangga tersebut dimaksudkan


apabila ada roh jahat yang mencoba untuk naik dari salah satu tangga maka roh jahat
tersebut akan kembali turun di tangga yang sebelahnya.

Setiap anak tangga mengartikan tingkatan jumlah harta untuk mempelai wanita.

Ornamen:

Ornamen hiasan banyak sekali menggunakan warna merah yang mengartikan bahwa
keberanian.

Ornamen ada yang berbentuk naga di samping kanan dan kiri rumah,mengartikan arti tak
gentar tidak takut.

Ornamen Naga berasal dari negara Cina begitu pun warana merah yang identik dengan Cina.

Semoga berguna:)