Anda di halaman 1dari 8

Sistem Drainase

TUGAS I
Sistem Drainase

Tuliskan 4 perbedaan di antara sistem drainase dan sistem irigasi!


Sistem Irigasi :
-

Menyediakan, memberi air ke lahan

Sistem saluran dari besar ke kecil

Kualitas harus memenuhi syarat kebutuhan

Muka air saluran lebih tinggi dari muka tanah

Sistem Drainase :
-

Membuang kelebihan air dari lahan

Sistem saluran dari kecil ke besar

Kualitas tergantung pemakaian / akumulasi limbah

Muka air saluran lebih rendah dari muka tanah

Sistem Drainase

Tuliskan apa yang dimaksudkan dengan sistem drainase lahan pertanian.

Drainase lahan pertanian didefinisikan sebagai pembuatan dan pengoperasian


suatu sistemdimana aliran air dalam tanah diciptakan sedemikian rupa sehingga
baik genangan maupun kedalaman air-tanah dapat dikendalikan sehingga
bermanfaat bagi kegiatan usaha-tani. Definisi lainnya: drainase lahan pertanian
adalah suatu usaha membuang kelebihan air
secara alamiah atau buatan dari permukaan tanah atau dari dalam tanah untuk
menghindari pengaruh yang merugikan terhadap pertumbuhan tanaman. Pada
lahan bergelombang drainase lebih berkaitan dengan pengendalian erosi,
sedangkan pada lahan rendah (datar) lebih berkaitan dengan pengendalian banjir
(flood control).
Tujuan Drainase lahan pertanian adalah reklamasi (pembukaan) lahan dan
pengawetan tanah untuk pertanian, menaikkan produktivitas tanaman dan
produktivitas lahan (menaikkan intensitas tanam dan memungkinkan diversifikasi
tanamanan) serta mengurangi ongkos produksi. Tujuan tersebut di atas dicapai
melalui dua macam pengaruh langsung dan sejumlah besar pengaruh tidak
langsung. Pengaruh langsung terutama ditentukan oleh kondisi hidrologi,
karakteristik hidrolik tanah, rancangan sistim drainase yakni : a. Penurunan muka
air tanah di atas atau di dalam tanah, b. Mengeluarkan sejumlah debit air dari
sistim. Pengaruh tak-langsung ditentukan oleh iklim, tanah, tanaman, kultur teknis
dan aspek sosial dan lingkungan. Pengaruh tak-langsung ini dibagi kedalam
pengaruh berakibat positif dan yang berakibat negatif (berbahaya).
Sumber :
http://www.google.co.id/#hl=id&q=definisi+drainase+lahan+pertanian&oq=definisi+drainase+lah
an+pertanian&aq=f&aqi=&aql=&gs_sm=e&gs_upl=232l25280l4l25946l78l50l0l13l0l10l4331l4355
6l2.5.1.1.1.1.7.6.4.7l35l0&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.&fp=7e0e859c3fecefc&biw=1280&bih=697

http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/pdf/Topik%209%20Kuliahdrainase%20permukaan-dkk.pdf

Sistem Drainase

Cetak 3 artikel, berita atau informasi yang menunjukkan kerusakan akibat


sistem drainase yang buruk.

Sistem Drainase di Wilayah Bogor Tengah Paling Buruk


31 May 2011
Sukabumi, Warta Kota
KSistem drainase Kota Bogor tidak berfungsi dengan baik sehingga pada saat
hujan ruas Jalan tergenang alr yang akhirnya berdampak pada kerusakan badan
Jalan.
"Penataan kurang tepat menyebabkan fungsi drainase tidak berjalan baik." kata
Ketua Forum Pemerhati Jasa Konstruksi dan Pembangunan (FPJKP) Kota Bogor.
Thorlq Nasution, di Bogor, Ja\va Barat, Senin.
Thorlq mencontohkan sistem pembuatan drainase saat Ini menggunakan sistem
Uulct yakni membuat beton dengan cetakan dibeli sudah Jadi.
Dengan sistem udlct para pelaku Jasa konstruksi tinggal memasangkan saja
dinding betonyang sudah di cetak Jadi.
Sistem Ini sangat tidak efektif karena ukuran cetakan dibuat sama, sementara
ukuran drainase yang ada tidak sama, karena pengaruh topografi tidak rata.
Selain Itu, lanjut Thorlq, buruknya fungsi sistem drainase akibat tidak berjalannya
sistem pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah. "Kurangnya pengawasan
membuat para pelaku Jasa konstruksi bekerja tidak profesional," katanya seperti
dikutip Antara.
Thoriq menyebutkan hampir sebagian besar drainase di Kota Bogor tidak
berfungsi dengan baik. Kawasan paling buruk kualitas drainasenya terdapat di
wilayah Bogor Tengah, seperti Pajajaran. Stasiun Bogor, Pasar Anyar.

Sistem Drainase

"Sebagian lagi berada di wilayah Bogor Barat seperti Jalan Sumem, Bogor Timur,
dan Jalan Sholis Iskandar." katanya.
Thoriq mengatakan pemerintah harus mengeluarkan kebijakan untuk
memperbaiki sistem drainase. Jika tidak kondisi kerusakan Jalan dan banjir di
Kota Bogor akan terus terjadi.
Selanjutnya pemerintah harus memiliki data baku sebagai acuan para pengembang
dan masyarakat yang Ingin membangunan harus menyesuaikan dengan data yang
ada. "Sebenarnya Jika sistem drainase kita dibangun secara baik, kita bisa
terbebas dari banjir, karena letak Kota Bogor sangat diuntungkan dengan adanya
Uga sungai besar (Ciliwung. Cisadane dan Clpakancllan anak sungai Cisadane)."
KataThorlq.
Setiap hujan turun Jalan-jalan di Kota Bogor tergenang alr seperti di Jalan
Pajajaran. Jalan Kapten Muslihat Jalan Sumem. Jalan Sindang Barang dan masih
banyak lagi, (wit)

Sumber:
http://bataviase.co.id/node/693431

Sistem Drainase

Buruk Sistem Drainase di Garut


11 Mar 2010
Banyak Jalan yang tidak Memiliki Drainase
GARUT, (PR).Kondisi sistem drainase yang buruk menjadi penyebab terjadinya banjir di
sejumlah wilayah di Kabupaten Garut. Curah hujan yang tinggi tidak mampu
tertampung drainase dan melimpas ke jalan serta menggenangi rumah warga. Hal
itu diakui Bupati Garut Aceng H.M. Fikri, ketika ditemui pada acara Pameran
Ketahanan Pangan di Jln. Otista, Rabu (10/3). "Kenapa genangan air ada, karena
drainase tidak lancar dan tidak berfungsi secara optimal," katanya.
Berita "PR" sebelumnya, ratusan rumah di Desa Ganda-mekar, Kec. Kadungora,
Kab. Garut dilanda banjir setinggi satu meter, Selasa (9/3) malam. Banjir juga
melanda ruas jalan sepanjang Kec. Leles-Kec. Kadungora setinggi lebih dari 50
senti meter.
Selain itu, longsoran tanah menimbun ruas jalan di perbatasan Kab. Garut-Kab.
Bandung di Kp. Cibonteng dan empat rumah di kawasan tersebut rusak akibat
terseret longsoran tanah. Aceng mengakui, lebih dari setengah ruas jalan di Kab.
Garut tidak dilengkapi sistem drainase yang memadai. Total panjang ruas jalan di
Kab. Garut mencapai 828,43 km, sebagian besar ruas jalan di wilayah selatan
Kab. Garut bahkan tidak dilengkapi sistem drainase.
Tidak semua ruas jalan di Kab. Garut ada sistem drainasenya. Kalaupun ada, tidak
berfungsi optimal karena mengalami kerusakan atau, bahkan tersumbat sampah
sehingga jalan air tidak lancar," ucap Aceng. Dia mengaku, faktor pemeliharaan
yang minim menjadi penyebab saluran drainase yang ada tidak berfungsi Optimal.
"Kendalanya di pemeliharaan dengan anggaran yang minim. Sekalipun drainase
bagus kalau pemeliharaan tidak optimal maka tetap saja terjadi banjir," ujarnya.
Minimnya fungsi drainase juga berdampak terhadap kualitas jalan di Kab. Garut.

Sistem Drainase

Misalnya, ruas jalan di seputar wilayah Kec. Singajaya tidak memiliki drainase,
sehingga air yang turun dari bukit akan langsung melimpas ke jalan dan
menyebabkan lapisan hot mix rusak. Mulai beres-beres
Sementara itu, pemantauan "PR" di lapangan, warga korban banjir di Desa
Gandamekar sudah mulai membenahi kediaman mereka yang semalaman
digenangi banjir setinggi satu meter. Wilayah tersebut meliputi RW 5 Kp. Cihuni
Girang dan RW 3-9-10 Kp. Kaledong.
Menurut Camat Kadungora Dadang Purwana, masyarakat sudah mulai berbenah
rumah sejak Selasa (9/3) malam, setelah air mulai surut. "Mereka tidak lagi
menunda-nunda pekerjaan membersihkan rumah, langsung dikerjakan begitu air
mulai surut," katanya.
Dadang mengaku, area tersebut berada pada dataran yang agak cekung sehingga
air yang meluap dari saluran drainase maupun jalan serta-merta akan masuk dan
menggenangi permukiman warga. "Sekitar seminggu lalu, kejadian serupa sempat
berlangsung. Akan tetapi, airnya tidak setinggi semalam. Mungkin, karena curah
hujan juga tinggi sehingga volume air juga meningkat," ujarnya.
Selain itu, Madrasah Diniah Muhammadiyah Cihuni yang mengalami kerusakan
pada ruang kelas akibat ambrol menyebabkan kegiatan belajar-mengajar para
siswa dialihkan ke masjid setempat. "Hal itu dilakukan untuk menghindari korban
jiwa jika terjadi kerusakan susulan di kelas tersebut," ucapnya. (A-158)"

Sumber :
http://bataviase.co.id/node/127375

Sistem Drainase

800 Km Drainase Buruk

06/06/2011 10:58:44 WIB

Oleh : Admin Dinas Pekerjaan Umum


Bin
Bisa jadi banjir di sejumlah titik kota metropolis
karena buruknya sistem drainase (saluran air).
Pasalnya, dar 2.000 Km panjang drainase di
Palembang hanya sekitar 70 persen yang
berfungsi baik. Sisanya berfungsi kurang baik.
Bisa jadi banjir di sejumlah titik kota metropolis
karena buruknya sistem drainase (saluran air).
Pasalnya, dar 2.000 Km panjang drainase di

Palembang hanya sekitar 70 persen yang berfungsi baik. Sisanya berfungsi kurang
baik.
Tidak berfungsinya sejumlah drainase tersebut disebabkan oleh adanya
penumpukan sampah. Juga sedimentasi akibat penumpukan lumpur di dasar
drainase. Pada beberapa lokasi endapan lumpurnya mencapai 40 persen dari total
kedalaman drainase.
Dicontohkan, jika kedalaman drainase sekitar satu meter, maka endapannya bisa
mencapai sekitar 40 cm. Tingginya endapan tadi mengakibatkan air sulit
mengalir. Kalaupun mengalir, karena daya tampungnya jauh berkurang, air
akhirnya meluap, menggenang atau mengakibatkan terjadinya banjir disekitar titik
tersebut. Kondisi ini diperparah dengan adanya sejumlah drainase yang
mengalami kerusakan.
Secara fisik, 40 persen dari total panjang drainase atau sekitar 800 Km kondisinya
buruk karena mengalami kerusakan. Karena dinding penahan yang roboh atau
amblas.

Sistem Drainase

Begitu mengetahui ada drainase yang rusak, maka akan langsung dperbaiki. Dari
Dinas PU Bina Marga juga melakukan pemeliharaan rutin sehingga kalaupun
terjadi kerusakan tidak akan terlalu parah.
Namun kadang upaya tersebut kurang mendapat dukungan masyarakat. Tingkat
kesadaran warga menjadi kebersihan lingkungan, khususnya kebersihan drainase
masih sangat rendah. Banyak yang membuang limbah rumah tangga langsung ke
drainase tanpa terlebih dahulu dipilah. Malahan, sejumlah warga malah sengaja
membuang sampah ke saluran air atau anak sungai.
Terjadinya genangan air atau banjir juga tidak lepas kontribusi dari sejumlah ruko
(rumah toko) atau pusat pertokoan baru yang mendirikan bangunan tanpa
mematuhi aturan dan ketentuan yang berlaku. Bangunan tersebut tidak dilengkapi
dengan drainase yang sesuai dengan debit banjir atau kapasitas daya tampung air
di kawasan tersebut. Padahal, seharusnya jika bangunan yang didirikan besar,
harus diimbangi dengan saluran air yang besar pula.
Pemkot terus membenahi segala sesuatu termasuk fasilitas umum, sarana dan
prasarana yang belum bagus. Untuk mewujudkan itu, akan dianggarkan dana
sekitar Rp. 50 milyar melalui APBD Perubahan 2011 untuk perbaikan dan
pembangunan infrastruktur. Seperti drainase, trotoar dan jalan.
Dana itu diambil dari total perolehan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Bangunan
(BPHTB) tahun lalu yang mencapai sekitar Rp. 158 milyar. Anggaran tersebut
akan dimasukkan dalam pos Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga.
Sumber : Sriwijaya Post
Sumber :
http://dpubmpsda.palembang.go.id/?nmodul=berita&bhsnyo=id&bid=38